Arsip Harian: Aug 21, 2017

Intel Core Generasi ke-8 Dirilis, Laptop Tipis Bisa Usung Prosesor Quad-Core

Lini prosesor Intel Core generasi ke-8.

Selama ini, prosesor quad-core hanya bisa ditemukan di model laptop berukuran besar, misalnya laptop bisnis dan gaming. Namun, berkat prosesor Intel Core generasi ke-8 yang baru saja dirilis, laptop tipis sekelas ultrabook dan 2-in-1 sekalipun bisa saja mengusung empat inti komputasi.

Pada hari Senin (21/8), Intel resmi mengumumkan empat varian prosesor Core generasi ke-8 seri U yang ditujukan untuk penggunaan di laptop berdesain tipis.

Keempat tipe prosesor itu meliputi, dari base clock terendah sampai tertinggi: Core i5-8250U, Core i5-8350U, Core i7-8550U, dan Core i7-8650U. Keempatnya sama-sama menyematkan empat core dan delapan thread dengan base clock mulai 3,4 GHz sampai 4,2 GHz.

Berbekal peningkatan jumlah core itu, ditambah perbaikan arsitektur, desain, dan teknologi pemrosesan, prosesor Intel Core generasi ke-8 seri U diklaim mampu mendongkrak kinerja laptop hingga 40 persen ketimbang generasi ke-7.

Saking drastisnya lompatan kinerja tersebut, Intel menyebut bahwa pencapaian ini sangat unik dan cuma terjadi “sekali dalam satu dekade”.

Daftar spesifikasi prosesor Intel Core generasi ke-8 seri U.

Masih Membawa Arsitektur Lama

Uniknya, lini prosesor Intel Core generasi ke-8 adalah pertama kalinya Intel menggabungkan lebih dari satu arsitektur dan fabrikasi dalam satu generasi yang sama.

Biasanya, setiap generasi prosesor Intel ditandai dengan penggunaan arsitektur baru atau fabrikasi baru, misalnya Skylake untuk generasi ke-6 dan Kaby Lake untuk generasi ke-7.

Akan tetapi, prosesor generasi ke-8 rilisan awal ini belum membawa arsitektur masa depan Intel, Coffee Lake, melainkan versi pembaruan (refresh) dari Kaby Lake serta masih memakai fabrikasi 14 nm+. Namun, seperti dilansir PC World, arsitektur Coffee Lake dan Cannon Lake dengan fabrikasi 10 nm nantinya juga tetap bakal dimasukkan ke dalam generasi ke-8.

Intel belum mengumumkan harga resmi prosesor Core generasi ke-8. Mereka hanya menjelaskan bahwa empat prosesor ini dijadwalkan tersedia dalam beberapa ke depan, di dalam sejumlah laptop komersial yang kemungkinan akan meluncur pada ajang IFA 2017 di Berlin, awal September.

Apa Smartphone Paling Laris di Kuartal Kedua Tahun Ini?

Siapa pun pasti penasaran untuk mengetahui smartphone paling laris pada kuartal kedua tahun ini. Percuma saja pabrikan smartphone membuat smartphone canggih dengan fitur mutakhir jika tidak laku di pasaran.

Ternyata, smartphone Samsung dan Apple iPhone masih mendominasi penjualan smartphone global pada kuartal kedua pada 2017.

Perusahaan analisis Strategy Analytics mengungkapkan ada tiga smartphone yang paling laris pada kuartal kedua tahun ini adalah iPhone 7, iPhone 7s Plus, dan Samsung Galaxy S8.

iPhone 7 yang merupakan smartphone paling laris di dunia dengan total pengapalan 16,9 juta unit dan iPhone 7 Plus dengan pengapalan 15,1 juta unit. Kolaborasi seri iPhone 7 menguasai pangsa pasar smartphone global sebesar 8,9 persen, seperti dikutip Phone Arena.

Samsung Galaxy S8 dan S8+.

Samsung berhasil mengapalkan Galaxy S8 sebanyak 10,2 juta unit dengan pangsa pasar sebesar 2,8 persen. Posisi keempat dan kelima, ada Galaxy S8 Plus dengan pengapalan sebanyak 9 juta unit dan Xiaomi Redmi 4A sebanyak 5,5 juta unit.

Sementara itu, total pengapalan smartphone pada kuartal kedua 2017 mencapai 360,4 juta unit, naik dari 341,5 juta unit dari periode yang sama tahun lalu.

Sinar Mas Land Digital Hub: Ambisi Menghadirkan Silicon Valley di Indonesia

Ilustrasi Sinar Mas Land Digital Hub.

Di tahun 1939, David Packard dan William Hewlett mendirikan sebuah perusahaan elektronik di Palo Alto, California. Perusahaan yang menjadi cikal bakal Hewlett-Packard itu didirikan di sebuah garasi kecil yang agak tersembunyi. Bertahun-tahun kemudian, garasi kecil ini kemudian dianggap sebagai tempat kelahiran Lembah Silikon (Silicon Valley). Banyak orang yang kini bersepakat bahwa Silicon Valley merupakan kiblat teknologi Amerika Serikat, bahkan dunia.  

Lembah Silikon sendiri merupakan julukan terhadap sebuah kawasan di bagian selatan Teluk San Francisco, Negara Bagian California, Amerika Serikat. Kata “lembah” (valley) merujuk kepada Lembah Santa Clara di wilayah Santa Clara. Sementara kata “silikon” pada awalnya merujuk kepada banyaknya pembuat chip yang berada di kawasan tersebut.

Kini di kawasan tersebut, terdapat banyak markas besar perusahaan teknologi, termasuk kantor pusat 39 perusahaan yang masuk ke dalam daftar Fortune 1000, selain ribuan perusahaan rintisan (startup). Di lokasi ini, pengembangan dan pembuatan sirkuit terintegrasi berbasis silikon (seperti microprocessor dan microcomputer) serta aneka produk teknologi lainnya dilakukan. Sampai tahun 2013, tercatat ada seperempat juta orang yang bekerja di kawasan ini.

Karena popularitas dan pengaruh yang dihasilkannya, banyak negara yang lalu berlomba menyediakan kawasan serupa. Tujuannya, mendorong perkembangan teknologi informasi di negaranya. Hal ini dilakukan dengan cara menyediakan wadah untuk menampung perusahaan rintisan, khususnya yang berkaitan dengan teknologi.

Di Indonesia sendiri, lembaga riset CHGR (Center for Human Genetic Research) memprediksi bisnis startup digital di Indonesia akan bertumbuh 6,5 kali lipat di tahun 2020. Jika dikaitkan dengan kondisi saat ini dengan 2.000 startup, artinya akan ada 13.000 startup di tahun tersebut. Angka ini termasuk yang tertinggi untuk kawasan regional.

Berangkat dari kondisi di atas, ada keinginan dari beberapa kalangan untuk menyiapkan semacam “rumah” dengan tujuan menampung ribuan startup itu nantinya. Ini ditambah dengan inisiatif Pemerintah RI yang akan mendorong digital economy atau sharing economy serta banyaknya generasi millennial yang mulai mengambil peran. Semua hal ini makin menguatkan keperluan akan adanya wadah atau rumah untuk menampungnya.

Rumah bagi Startup

Menurut Irawan Harahap (Project Leader Digital Hub, Sinar Mas Land), aneka hal itulah yang mendorong pihak Sinar Mas Land (SML) untuk membangun Digital Hub. Irawan menyatakan bahwa kawasan ini nantinya akan berfungsi sebagai “rumah” bagi banyak startup yang bermunculan di Indonesia.

Ia menyatakan bahwa, sebelum membangun Digital Hub, Sinar Mas Land sudah melihat terlebih dulu latar belakang yang mendasari hal ini. Menurutnya, kebutuhan akan adanya co-working space saat ini sudah mulai meningkat sehingga diperlukan adanya semacam tempat untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Irawan Harahap (Project Leader Digital Hub, Sinar Mas Land).

Irawan menambahkan selain itu, banyak pengembang properti yang menawarkan untuk menjadikan BSD seperti Lembah Silikonnya Indonesia. Inilah yang kemudian mendorong dibangunnya Digital Hub di BSD.

Menurut Irawan, saat ini kawasan Digital Hub sendiri masih berupa lahan kosong. Namun demikian, jika kawasan ini sudah siap dipakai, pihaknya mengharapkan kawasan ini akan dihuni oleh tenant/komunitas teknologi layaknya Sillicon Valley California Amerika Serikat.   

Irawan menjelaskan bahwa untuk mengembangkan kawasan ini, Sinar Mas Land (SML) sudah menunjuk NBBJ sebagai arsitek utama.

Alasan SML menunjuk NBBJ (lembaga arsitek terkemuka dari Amerika Serikat) ialah karena NBBJ dinilai sudah mengerti co-working space seperti apa yang diinginkan generasi millenial. NBBJ juga dikenal berpengalaman dalam merancang properti perusahaan teknologi seperti gedung Amazon, Bill & Melinda Gates Foundation, Google, dan Facebook di Tiongkok.

Terbagi dalam Beberapa Kategori

Menurut Irawan, komunitas digital yang nantinya menempati Digital Hub ini dibagi menjadi beberapa kategori.

Yang pertama adalah technology leader, yakni perusahaan-perusahaan teknologi yang sudah mapan seperti Huawei, MyRepublic, dan Apple. Yang kedua adalah membuat ekosistem startup. Untuk ekosistem ini, sudah ada SaleStock dan Orami. Yang ketiga menurut Irawan adalah membuat co-working space. Sementara yang keempat mengundang institusi kreatif serta sekolah-sekolah TI, seperti GeekFarm dan Purwadhika yang sudah lebih dulu hadir di sana.

Agar Digital Hub lebih dikenal khalayak luas, berbagai strategi marketing juga ditempuh SML. Di antaranya saat gelaran Indonesia e-commerce & Indonesia fintech pada beberapa waktu lalu, SML turut mengambil bagian menjadi sponsor. Selain itu saat gelaran Hackathon, Sinar Mas Land juga tampil sebagai sponsor, selain mengundang Autodesk, yang memiliki komunitas Autocad dan 3D printer. “Sampai dua-tiga tahun ke depan, event-nya akan kita kencengin buat mempromosikan Digital Hub kita ini,” ujar Irawan.

Seleksi Penyewa

Sosialisasi mengenai Digital Hub bisa dibilang sudah dilakukan sejak tahun lalu. Ini terbukti dengan sudah “parkir”-nya beberapa perusahaan teknologi di kawasan Green Office Park, BSD.  Tujuannya agar ketika kawasan Digital Hub tersebut selesai dibangun, sudah ada komunitas yang siap menghuninya.

Namun, bukan berarti semua tenant bisa “parkir” di sana. Irawan menyebut bahwa pihaknya tetap memilah tenant yang potensial untuk masuk. Nantinya, Digital Hub di BSD akan memiliki sekitar 30-40 gedung. Dalam setiap gedung ini, akan terdapat ratusan tenant.

Untuk berbagai tenant yang saat ini sudah bermukim, seperti Geekfarm dan Purwadhika, Irawan menyebut SML juga menemui kendala dalam membawa komunitas yang sudah berjalan dengan baik di suatu tempat kemudian memindahkannya ke BSD.

Untuk mengatasi itu, sebagai solusinya SML memberikan insentif untuk mereka. Misalnya dengan memberikan investasi dan mendongkrak dari sisi marketing agar mampu mengakomodir pasar yang lebih luas lagi.

Ilustrasi Sinar Mas Land Digital Hub.

Dua Tahap Pengembangan

Irawan menyebutkan, sebagai proyek yang baru, Digital Hub yang dibangun di lahan seluas 26 hektar ini akan dibangun dalam dua fase, yakni kawasan 13 hektar pertama dan kawasan 13 hektar kedua.

Namun saat ini, Irawan menjelaskan Sinar Mas Land akan berfokus pada sisi utara kawasan ini terlebih dulu. Lahan tersebut, dituturkan Irawan sedang mengalami tahap grading dan sedang dipasangi saluran untuk kabel, air dan pipa.

“Nanti baru dibentuk lot-lotnya sesuai dengan masterplan kita,” ujar Irawan. Ia mengimbuhkan bahwa lahan yang dibangun nantinya akan terbagi dalam beberapa area, masing-masing memiliki luas 3.000 m2, 5.000 m2, dan sekitar 1 hektar.

Groundbreaking Digital Hub telah diadakan pada pertengahan Mei 2017. Proyek ini akan menelan investasi sekitar hingga Rp7 triliun dengan pembangunan yang akan dilakukan secara bertahap. Rencananya, gedung pertama Digital Hub akan selesai pada kuartal kedua tahun 2019.

Untuk model bisnisnya, Irawan menyebut gedung-gedung tersebut nantinya disewakan, namun ada juga tanah yang dijual dan dibangun sesuai persyaratan dan kebutuhan penyewa.

Jaringan Serat Optik Sendiri

Dalam hal akses data, Sinar Mas Land sungguh menyadari akan adanya kebutuhan data para startup nantinya. Itulah sebabnya, Sinar Mas Land menggelar jaringan serat optik sendiri. Namun demikian, Irawan menyebut pihaknya tetap membuka akses ke service provider lain. “Kebutuhan data mereka sangat tinggi, kecepatan, sekuriti kita tawarkan 2 – 3 redundancy, sehingga jika internet yang satu down, masih ada backup-nya,” urai Irawan.

Sementara itu untuk data center, kawasan ini untuk sementara tetap menggunakan milik sendiri, yaitu Teknovatus yang juga terletak di BSD. Namun nantinya, BSD akan menawarkan data center tersebut ke berbagai tenant yang ada. Irawan mengungkapkan juga bahwa pada hal ini tidak berarti SML akan menutup diri terhadap data center dari penyedia lainnya. Ia menyatakan bahwa ada beberapa perusahaan data center yang akan membuat data center di sana.

Groundbreaking Sinar Mas Land Digital Hub, 19 Mei 2017.

Dilirik Apple

Selain aneka perusahaan dan startup dalam negeri, perusahaan TI mancanegara pun mulai melirik proyek Digital Hub Sinar Mas Land ini. Salah satunya adalah Apple.

Langkah Apple yang akan membangun pusat riset di Indonesia ini dilakukan untuk memenuhi aturan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) yang telah ditetapkan Pemerintah RI. Dalam aturan ini, pihak produsen bisa memilih berbagai cara untuk bisa menjual produknya di Indonesia. Sebagai langkah untuk memasarkan produk terbarunya yaitu iPhone 7 dan iPhone 7 Plus di tanah air, akhirnya Apple memilih untuk berinvestasi dengan membangun pusat riset di Indonesia.

Meskipun langkah Apple membangun pusat riset ini sedikit banyak dilakukan karena “terpaksa” (untuk memenuhi persyaratan dalam kebijakan TKDN tersebut), niat Apple ini diharapkan bisa menjadi stimulus bagi sesama perusahaan teknologi. Dengan langkah Apple ini, diharapkan berbagai perusahaan baik dari dalam maupun dari luar negeri bisa ikut meramaikan kawasan ini.

Memang, Apple belum akan menempati kawasan Digital Hub tersebut. Ini karena Apple akan menunggu proyek Digital Hub tersebut siap terlebih dulu. Setelah proyek tersebut siap ditempati, barulah Apple akan membangun sendiri pusat inovasinya di BSD City yang rencananya akan memiliki konsep seperti Silicon Valley.

Sambil menunggu, Apple dikabarkan akan menggunakan gedung Green Office Park di BSD Tangerang sebagai pusat risetnya. Pusat riset ini nantinya akan berfokus mengembangkan berbagai aplikasi. Apple sendiri dijadwalkan baru akan merampungkan pusat riset tersebut dan mulai mengoperasikannya di akhir tahun 2017.

Untuk membangun pusat riset ini, Apple diperkirakan akan merogoh koceknya antara Rp550 miliar sampai Rp700 miliar. Setelah ini, Apple juga direncanakan akan membangun dua pusat riset tambahan sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat bersama Pemerintah RI. Namun, belum diketahui lokasi serta kapan pusat riset lainnya ini akan dibangun.

Cornel Hugroseno: Mewujudkan Digitalisasi di Adira Finance

Cornel Hugroseno (IT Director, PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk.). [Foto: Abdul Aziz/InfoKomputer]
Digitalisasi adalah sebuah keniscayaan. Namun kapan teknologi digital sepenuhnya dijadikan landasan, itu masih menjadi pertanyaan.

“Saya melihatnya sekarang ini, market baru menjajaki [teknologi] digital. Pelanggan masih mencoba-coba untuk transaksi secara digital,” ujar Cornel Hugroseno (IT Director, PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk.). Kontribusi pasar konvensional masih lebih signifikan, menurut Cornel, meskipun pergeseran ke arah digital sudah terjadi.

Di saat pelanggan masih menjajaki di masa transisi ini, penyandang gelar Sarjana Teknik Informatika dari Universitas Gajah Mada itu melihat adanya sebuah peluang baru bagi perusahaan pembiayaan seperti Adira Finance. Yakni peran sebagai “penengah” antara pelaku bisnis dan konsumen.

Cornel Hugroseno melihat dewasa ini, bisnis trading white goods, seperti handphone, televisi, lemari es, dan lain-lain, via platform digital kian digemari konsumen. Berkembangnya sektor bisnis ini di kancah online tak lepas dari peran perusahaan pembiayaan.

Saat masih ragu dengan transaksi online/digital, konsumen tentu enggan membayar jika barang belum berada di tangan. Penjual pun demikian, mereka tidak akan melepas barang bila belum ada pembayaran.

Di sinilah perusahaan pembiayaan atau kredit memainkan peran. Setelah menyurvei kelayakan konsumen, perusahaan pembiayaan akan melunasi pembayaran barang ke penjual dan konsumen membayar secara kredit kepada perusahaan pembiayaan. “Dengan begitu, proses yang sebelumnya penuh keraguan menjadi penuh kepastian, dengan adanya lembaga kredit,” jelas Cornel.

Konsekuensi Digitalisasi

Dengan digitalisasi, pelanggan dan perusahaan dapat terhubung kapan saja dan di mana saja. Konsekuensinya, pelanggan akan lebih bebas mengutarakan harapan dan keinginannya. Pelanggan pun menaruh harapan besar bahwa kebutuhan dan keinginan mereka dapat dipenuhi perusahaan dengan cepat.

Konsekuensi lain dari digitalisasi adalah lebih banyak orang dapat terhubung dengan perusahaan. “Dulu, kami hanya diakses oleh orang yang mencari kredit motor atau mobil. Dulu, ‘etalase’ kami hanya untuk orang yang ingin beli kendaraan bermotor. Sekarang, etalase kami bisa dilihat semua orang. Nah, kalau begitu, mengapa kami tidak menjual semua jenis produk melalui berbagai kanal?” papar Cornel seraya menyebut pembiayaan umrah dan traveling sebagai dua penawaran terbaru Adira Finance.

Menghadapi kedua tantangan tersebut, menurut Cornel Hugroseno, harus ada tiga komponen yang mau tidak mau harus dimiliki untuk membangun solusi digital untuk pelanggan: agility, security, dan analytics.

Agile bukan hanya cepat, tetapi juga lincah dan gampang menyesuaikan diri,” jelas Cornel. Agility akan mengakomodasi kebutuhan dan keinginan pelanggan yang kerap berubah dan bertambah.

Secara teknis, agility dapat diwujudkan misalnya dengan memanfaatkan komputasi awan atau cloud computing. Menurut Cornel, cloud adalah teknologi yang sangat memudahkan, lebih ekonomis, dan scalable, meskipun masih ada isu regulasi yang kadang membuat perusahaan ragu melangkah ke awan.

Kecepatan dan kelincahan juga dapat dicapai dengan mengutamakan platform. “Dulu kami membangun fitur, dan tidak peduli dengan platform,” ucap Cornel. Namun transformasi digital mengharuskan perusahaan bergerak cepat. Walhasil, tool, aplikasi, dan solusi teknologi yang siap pakai atau commercial off the shelf tetapi configurable lebih disukai. “Inilah mengapa kemudian kami putuskan Adira ke depan tidak lagi membangun fitur tapi membangun platform,” imbuhnya.

Komponen analytics dibutuhkan ketika perusahaan membangun kompetensi multi product multi channel. Memiliki aneka produk yang dijual melalui berbagai kanal, perusahaan harus mengetahui produk dan kanal mana yang paling menguntungkan, dan menentukan produk dan kanal apa yang paling cocok untuk pelanggan.

Analytics digunakan untuk membangun sistem yang lebih efisien dalam mengelola banyak produk, banyak channel, dan customer yang begitu luas,” jelas pria kelahiran Solo, Jawa Tengah ini.

Sementara itu, akses dan interaksi perusahaan dengan basis pelanggan maupun mitra yang lebih luas, melalui aneka kanal, mengharuskan perusahaan lebih cermat menjaga keamanan informasinya. Security atau keamanan informasi disebut Cornel sebagai tantangan utama di era digital.

“Saat ini, TI juga dituntut menjadi growth driver artinya teknologi harus bisa membawa perusahaan itu mengalami growth atau pertumbuhan [bisnis],” ungkap Cornel.
TI Sebagai “Growth Driver”

Dengan pengalaman selama hampir tiga puluh tahun merentang karier di bidang teknologi informasi (TI), Cornel Hugroseno telah menyaksikan pergeseran peran TI di perusahaan. Dimulai dari peran merapikan dan mengefisiensikan data, mengelola informasi, dan menjadi tulang punggung untuk mewujudkan operational excellence, kini TI dituntut menjalani peran baru.

“Meski namanya masih IT, sebenarnya sudah berubah menjadi interaction technology,” jelasnya. TI kini menjadi media interfacing antarpelaku bisnis dan antarpelanggan. TI membangun koneksi antara perusahaan dengan komponen-komponen dalam ekosistem bisnis. Berkat teknologi, pelanggan kini dapat menjumpai layanan Adira di toko-toko retail, bahkan kedai-kedai kecil!

“Sekarang, TI sudah tidak cukup hanya jadi enabler. Saat ini, TI juga dituntut menjadi growth driver artinya teknologi harus bisa membawa perusahaan itu mengalami growth atau pertumbuhan [bisnis],” ungkap Cornel.

Ketika Adira Finance meluncurkan program “Sahabat Setia Selamanya” bagi pelanggan sebagai bagian dari upaya menjalin hubungan jangka panjang sekaligus meningkatkan bisnis, bagaimana divisi TI memampukan interaksi dan mendorong pertumbuhan?

Berbekal database pelanggan yang cukup lengkap dan kemampuan analytic, Adira Finance dapat memberikan penawaran dan layanan yang mengacu pada total life cycle atau siklus kehidupan pelanggan. “Jadi pada waktu anak pelanggan mencapai umur sekolah menengah atas, misalnya, kami mengirimkan penawaran ke pelanggan sekiranya si anak butuh kendaraan,” tutur Cornel.  

Adira Finance juga menggandeng komunitas untuk memberdayakan kedai-kedai sebagai outlet. Kedai-kedai tersebut dibekali teknologi dan konektivitas agar dapat melayani pembayaran cicilan kredit Adira, pembelian pulsa telepon, pembayaran tagihan listrik, dan lain-lain. Dengan cara ini, menurut Cornel, perusahaan juga berupaya menciptakan shared value bersama pelanggan.

Inisiatif lain yang dibuat Divisi Teknologi Informasi untuk memampukan Adira Finance menjadi sahabat setia pelanggan antara lain membangun aplikasi bernama Akses Adira. Aplikasi Android ini diharapkan dapat memudahkan masyarakat memperoleh berbagai macam informasi proses pembiayaan di Adira Finance. “Kami membangun aplikasi Akses Adira agar semua orang bisa mengakses informasi kapan saja dan di mana saja,” ujar Cornel Hugroseno mengakhiri pembicaraan.

Jeff Immelt, Kandidat Terkuat CEO Uber yang Baru

Jeff Immelt (Mantan CEO General Electric)

Saat ini kursi nomor satu Uber masih kosong sepeninggal Travis Kalanick (Pendiri dan Mantan CEO Uber) yang mengundurkan beberapa hari lalu. Kini Dewan direksi Uber pun sedang mencari sosok yang tangguh dan berpengalaman untuk menjabat posisi CEO Uber yang baru.

Menurut sumber internal, saga pencarian CEO Uber yang baru kemungkinan akan segera selesai karena sebagian besar anggota dewan direksi setuju untuk memilih Jeff Immelt (Mantan Chairman General Electric) sebagai CEO Uber yang baru.

Immelt sendiri bukan orang baru di dunia teknologi. Ia merupakan mantan CEO General Electric yang baru turun dari jabatannya pada 1 Agustus 2017 lalu. Sekarang Immelt menjabat sebagai ketua dewan perusahaan di General Electric.

Para dewan direksi Uber melihat Immelt sosok yang pas untuk mengisi kursi Uber satu karena memiliki segudang pengalaman memimpin perusahaan besar.

Meskipun demikian, keputusan itu bisa saja berubah karena tidak ada satu pun kandidat perempuan seperti yang diharapkan oleh sebagian orang. Sumber itu menyebutkan pemilihan CEO Uber akan terjadi dalam 2 minggu ke depan.

Penunjukan itu bisa saja terjadi bahkan jika tidak semua anggota dewan setuju untuk memilih salah satu kandidat.

Arianna Huffington (salah seorang dewan direksi Uber ) sangat pendukung pemilihan Immelt. Beberapa anggota dewan Uber lainnya termasuk Benchmark masih belum memiliki kandidat favorit walaupun anggota dewan direksi setuju bahwa Uber harus memiliki CEO baru secepatnya untuk mengatasi berbagai banyak masalah Uber.

“Kami tahu tidak akan ada kandidat yang sempurna tapi semua orang telah lelah. Uber membutuhkan seseorang yang memiliki kemampuan untuk mendorong kita maju ke depan,” ujar salah satu narasumber seperti dikutip TechCrunch.

Salah satu tugas CEO Uber yang baru adalah memilih posisi eksekutif di Uber yang kini banyak kosong karena ditinggal kepala eksekutifnya dan fenomena itu sangat melemahkan moral karyawannya.

Immelt pun tidak akan gentar berhadapan dengan Kalanick dan menyelesaikan berbagai permasalahan Uber.

“Ia (Immelt) bukanlah orang yang bisa dipaksa dan itu merupakan salah satu karakteristik terbaiknya. Kami tahu Immelt bukanlah pengusaha dinamis layaknya Travis tetapi ia menenangkan berbagai masalah,” ujar Sumber yang sama.

Bos SpaceX Minta PBB Larang Penggunaan Robot Pembunuh

Tidak ada yang tahu, robot bisa saja menjadi tentara pembunuh yang mematikan di masa depan. Meskipun, robot bisa digunakan untuk menjaga keamanan dan kemaslahatan umat manusia tetapi robot bisa juga digunakan untuk membunuh manusia untuk kepentingan tertentu.

Elon Musk (CEO SpaceX dan Tesla), Mustafa Suleyman (Pendiri Google DeepMind) dan bersama 114 ahli kecerdasan buatan (AI) dan robot terkemuka lainnya mengirimkan surat dan meminta PBB untuk melarang pengembangan dan penggunaan robot pembunuh di masa depan.

Dalam surat peringatannya, penggunaan senjata otonom bisa mendorong terjadinya revolusi ketiga dalam peperangan.

“Senjata otonom yang mematikan bisa menyebabkan peperangan dalam skala yang lebih besar dan lebih cepat dari yang bisa manusia mengerti,” tertulis dalam surat tersebut seperti dikutip dari CNET.

“Senjata itu bisa menjadi alat penebar teror dan digunakan oleh teroris. Penjahat bisa saja meretas senjata itu untuk digunakan secara salah. Kita tidak punya waktu lama untuk bertindak karena begitu kotak Pandora ini terbuka, akan sulit untuk ditutup,” sambungnya.

Kelompok itu menerbitkan sebuah catatan singkat yang dikeluarkan oleh Future of Life Institute. Teks itu dipublikasikan untuk memulai pembukaan International Joint Conference on Artificial Intelligence (IJCAI 2017) di Melbourne, Australia.

Review Conference of Convention on Conventional Weapons PBB telah sepakat untuk meluncurkan diskusi formal mengenai larangan senjata otonom dan 19 dari negara-negara anggota telah mendukung pelarangan robot pembunuh secara langsung.

Senjata otonom mematikan merujuk kepada robot, pesawat tidak berawak, senapan mesin otonom, tank, dan bentuk persenjataan lainnya yang dikendalikan oleh AI di medan perang di masa depan.

Musk sangat optimis dengan pengembangan dan penggunaan teknologi seperti tenaga surya, eksplorasi luar angkasa dan mobil listrik. Namun, Musk sangat khawatir dengan potensi berbahaya dari kecerdasan buatan (AI).

Pada 2014, Musk mengungkapkan bahwa dia khawatir AI yang tidak terkendali akan menimbulkan ancaman pada manusia layaknya dalam film The Terminator. Belum lama ini, Musk bahkan sempat beradu dengan CEO Facebook, Mark Zuckerberg.

Demi Buah Hati, Bos Facebook Ambil Cuti Dua Bulan

Mark Zuckerberg (CEO dan Pendiri Facebook) mengumumkan rencana cutinya selama dua bulan untuk mempersiapkan dan menyambut kelahiran anaknya yang kedua.

“Ketika Max lahir, Saya cuti dua bulan. Saya selalu bersyukur bisa menghabiskan banyak waktu dengan Max di awal kehidupannya. Putri kedua kami segera datang dan aku kembali berencana cuti dua bulan,” tulis Zuck di akun Facebook resminya.

Max adalah anak pertama Zuck sapaan akrab Zuckerbeg dan istrinya Priscilla Chan yang lahir pada 2015. Facebook sendiri memiliki kebijakan untuk memberikan waktu cuti Parental Leave yang lumayan lama atau sekitar empat bulan untuk karyawannya yang bersalin.

“Di Facebook, kami menawarkan empat bulan cuti kelahiran karena studi mengungkapkan orang tua yang menghabiskan waktu bersama bayi mereka, akan sangat bagus untuk keluarga. Saya yakin Facebook akan tetap ada ketika saya kembali,” ujar Zuck seperti dikutip The Verge.

Selama Zuck cuti, Facebook akan dipegang oleh Sheryl Sandberg (Chief Operating Officer Facebook) dan David Wehner (Chief Financial Officer).

Pada tahun ini, Facebook mengalami perkembangan luar biasa, menyusul harga sahamnya melonjak lebih dari 40 persen. Total kekayaan Zuckerberg pun mencapai USD 70,1 miliar, berdasarkan data Forbes.

Parental Leave belakangan menjadi topik hangat di kalangan raksasa teknologi Silicon Valley yang berlomba menyediakan tempat kerja nyaman untuk para tenaga kerja berbakat.

Gandeng Comcast, Apple Bikin Layanan Streaming Film

Perkembangan layanan film streaming sangat berkembang pesat. Apple pun menggandeng Comcast untuk membuat layanan film streaming premium video on demand (PVOD) untuk konsumen.

Kedua perusahaan itu pun sudah berdiskusi dengan studio Hollywood terkait dengan rencana tersebut termasuk pembagian keuntungan untuk bioskop.

Nantinya, Apple dan Comcast pun dapat menyiarkan film yang masih diputar di bioskop. Film yang akan disiarkan pertama kali adalah film yang telah tayang di bioskop selama dua minggu.

Comcast memiliki Studio Universal dan Warner mendukung ide tersebut. Sejumlah studio besar kecuali Disney berupaya menutupi hasil pendapatan dari layanan film streaming seperti Netflix dari hasil penjualan DVD.

Disney pun berencana membuat film streaming sendiri pada 2019 seperti dikutip Phone Arena.

Rencananya, Apple akan menjual layanan film streaming itu senilai USD30 atau sekitar Rp400 ribu hingga USD50 atau sekitar Rp666 ribu perfilm.

Namun seorang analis Michael Pachter meragukan layanan PVOD Apple dan Comcast itu akan terwujud karena akan mendapatkan pertentangan dari dari pihak bioskop. Pachter meragukan studio film akan setuju terkait penyewaan digital tanpa kesepakatan dengan pihak ekshibitor.

Game Tekken Siap Beraksi untuk Smartphone Android dan iOS

Game fenomenal “berantem” Tekken akan hadir dalam versi mobile untuk Android dan iOS yang sebelumnya hanya hadir untuk PC dan konsol game. Syaratnya, smartphone Anda harus memiliki sistem operasi Android 4.4 dan RAM lebih besar dari 1 GB.

“Tekken, waralaba game fighting yang paling sukses di dunia telah hadir ke perangkat mobile!. Bergabung dengan Paul, Kazuya, Xiayou, Law, Panda, Nina, dan semua petarung terkenal lainnya,” tulis Bandai Namco seperti dikutip Ubergizmo.

Nantinya, pemain Tekken versi mobile dapat memilih satu dari total 100 karakter yang bisa dimainkan dan masing-masing karakter itu memiliki kemampuan bela diri yang berbeda-beda. Bahkan, ada 20 gerakan spesial unik yang bisa di-upgrade dan dibuka oleh pemain. Uniknya, game itu juga menghadirkan sistem pertarungan online.

Anda pun bisa memilih tiga orang jagoan dalam satu pertandingan. Mirip dengan Mortal Kombat X, Anda bisa memilih tiga jagoan Anda untuk bertanding secara bergantian dalam pertarungan.

Tak hanya itu, game Tekken versi mobile itu juga menawarkan sejumlah mode permainan.

Saat ini pengguna iOS asal Kanada sudah mendapatkan pra-tinjau Tekken versi mobile. Namun, pengguna iOS dari negara lain baru bisa melakukan pra-registrasi saja, belum bisa menjajalnya.

Game Tekken pertama kali hadir pada 1994 untuk konsol Playstation. Bandai Namco membuat berbagai sekuel Tekken yang bisa dimainkan di Xbox 360, Xbox ONe, Wii U dan PC.

Review Smartphone