Fitur Enterprise Dilema Penerapan Komputasi Awan, Apakah Hybrid Cloud Jadi Jawaban?

Dilema Penerapan Komputasi Awan, Apakah Hybrid Cloud Jadi Jawaban?

Hampir satu dekade ini, InfoKomputer mengulas topik cloud computing. Teknologi, bisnis, dan implementasinya makin solid dan menuju keniscayaan. Akan tetapi, para pemimpin TI Indonesia masih menghadapi beberapa ganjalan.

Dengan semakin besarnya porsi public cloud di ranah enterprise, strategi hybrid akan menjadi pilihan organisasi bisnis, tentu saja bagi perusahaan yang sudah memiliki infrastruktur on premise dan atau private cloud.

Survei RightScale 2017 The State of Cloud Report menemukan bahwa 85 persen respondennya telah menerapkan strategi multi cloud (menggunakan beberapa private atau public cloud), dan 58 persen di antaranya menjalankan hybrid.

Strategi hybrid rupanya bukan lagi sesuatu yang asing bagi para pemimpin TI Indonesia. Dalam acara InfoKomputer CIO Forum yang digelar bersama Multipolar dan HPE pada medio Juli lalu, terungkap bahwa penerapan cloud dan strategi hybrid telah dilakukan pemimpin TI beberapa perusahaan dalam berbagai tingkatan.

Misalnya Bank Muamalat. Selain mengandalkan sumber daya komputasi yang bersumber dari data center, bank yang ingin memasang target menjadi The Best Islamic Bank dan Top 10 Bank di Indonesia ini juga menggunakan public cloud, khususnya untuk area development.

Dengan cloud, menurut Saladin Effendi (CIO, Bank Mualamat), ia dpat menyediakan sepuluh lingkungan yang berbeda untuk sepuluh product development dengan cepat.  “Ngapain saya beli mesin development? Ngapain saya beli lisensi? Penyedia layanan yang lakukan refresh dan sebagainya, kami tinggal pakai. Begitu lambat tinggal komplain,” ujar Saladin.

Perusahaan asuransi Tokio Marine, juga sudah menerapkan komputasi awan. “Personally, kami juga punya cloud, tapi untuk development,” tutur Anton Pranayama (GM IT & BPM, PT Asuransi Tokio Marine Indonesia). Ia beralasan, karena workload development yang cukup tinggi, perusahaan memilih untuk tidak investasi pada hardware yang ujung-ujungnya idle.

Dari sektor finansial lainnya, PT Suzuki Finance Indonesia (SFI), mengaku juga sudah memanfaatkan cloud meskipun baru di area aplikasi non critical. “Misalnya website dan mobile system yang dipakai internal dan rekanan dealer kami. Masih manageable secara sekuriti tapi kami bisa dapatkan efisiensi dari infrastruktur mobile system ini. Saat peak, kami tinggal on the fly request ke (cloud) provider untuk dinaikkan,” papar Budi Pranoto (GM IT, PT Suzuki Finance Indonesia).

Atma Jaya yang bergerak di bidang pendidikan dan kesehatan malah sudah meletakkan 60 – 70 persen workload komputasinya di cloud.  “Saya nggak terlalu percaya pada teknologi on premise maupun full public cloud, jadi saya ambil jalan tengah, yaitu hybrid,” Danny Natalies (Chief Information Officer, Atma Jaya) mengungkapkan strategi yang ia pilih.

Bagaimana pembagiannya? Infrastruktur dan sistem on premise masih ia andalkan untuk menyimpan data-data yang berkategori sensitif dan menjalankan  transaksi yang sifatnya idle. Sedangkan semua layanan yang bisa diakses melalui internet dan jumlah user-nya cukup besar akan ia “lempar” ke cloud.

Sebelum memanfaatkan cloud, Atma Jaya terbiasa belanja computing power berdasarkan asumsi kebutuhan sumber daya tertinggi. “Termasuk future computing power yang kami butuhkan,” cerita Danny. Namun kini, Danny akan menghitung computing power di level idle-nya saja dan selisih deltanya ia taruh semua di cloud.

Sebagai perusahaan berlabel low cost carrier, biaya tentu menjadi faktor penting dalam operasional maskapai penerbangan AirAsia. Dengan cost efficiency sebagai salah satu tawarannya, bisa ditebak jika maskapai yang dikomandani Tony Fernandez ini pun menerapkan komputasi awan.

“Semua server kami ada di Malaysia, dan di sna pun sudah kami tempatkan di Azure dan AWS. Namun untuk Indonesia, kami masih gunakan on premise, data center di Jakarta dan DRC di Denpasar, Bali,” cerita Reza Sugiarto (ICT Network  & Security Manager, PT AirAsia Indonesia).

Namun tahun ini, menurut Reza, AirAsia akan memindahkan Disaster Recovery Center-nya ke cloud. Meski data center utama tetap on premise, langkah ini setidaknya mengurangi kompleksitas berbagai aspek pekerjaan TI,  misalnya dalam hal maintenance dan menjaga availability.

Di barisan organisasi bisnis yang sudah mengaplikasikan cloud computing juga ada PT Eka Bogainti. Beberapa kali server DNS mati sehingga melumpuhkan kerja situs web dan mobile app Hoka-Hoka Bento, Johan Sutrisno (Head of IT, PT Eka Bogainti) memutuskan untuk beralih ke cloud.

Cloud memang tidak bisa dihindari, jadi perlahan-lahan kami pindahkan ke cloud, kalau cost-nya masih manageable dan reasonable,” tutur Johan yang juga memindahkan SMTP server ke cloud.

Ganjalan Keamanan Sampai Reliabilitas Koneksi

Perjalanan ke “awan” sudah dimulai, tetapi untuk sepenuhnya memercayai cloud—apalagi public cloud—para pemimpin TI Indonesia agaknya belum “sampai hati”. Ganjalan apa yang mereka hadapi?

Di awal perkenalannya, cloud diganjal isu keamanan. Ternyata hingga kini pun, keamanan data masih menjadi pertanyaan utama (calon) pengguna cloud, ditambah isu regulasi dan kedaulatan data. PT Asuransi Tokio Marine Indonesia masih enggan menggunakan cloud untuk menopang aktivitas production sebelum benar-benar aman dari sisi teknologi dan regulasi.

Alasan regulasi juga diungkapkan oleh Budi Pranoto. “Untuk core system kami agak susah bergerak karena ada regulasi yang memastikan data harus ada di Indonesia. Namun bertahap kami akan lihat situasi dari sisi regulasi seberapa fleksibel,” jelas Budi.

Bagi Saladin Effendi, infrastruktur teknologi sebenarnya ibarat jalanan, yang di mana-mana materialnya sama. Platform teknologi informasi untuk perbankan, otomotif, manufaktur, dan sebagainya tentu tidak jauh berbeda.  “Semua menjadi commonality. Namun kami harus tetap berdiskusi dengan supervisor kami, dalam hal ini OJK. Sambil saya memilah-milah mana yang bisa di-cloud-kan,” jelasnya.

Saladin Effendi (CIO, Bank Mualamat).

Bahkan di antara perusahaan startup yang umumnya penganut berat cloud pun, ada yang tetap memercayai infrastruktur on premise. “Semakin besar perusahaan, kami juga ternyata membutuhkan on premise, karena kalau ada something wrong dengan yang di luar, perusahaan kami kan nggak mungkin tutup,” ujar Halga Tamici (Chief Technology Officer, Rajamobil.com).

Menurutnya, dari hasil observasi terhadap arsitektur teknologi perusahaan, minimal database Rajamobil.com harus berada di Indonesia.

Tantangan lain yang dihadapi organisasi bisnis terkadang datang dari jajaran manajemen. “Again perubahan baru akan terjadi kalau ada keputusan. Dan yang harus berani mendobrak itu ya C-levelnya,” cetus Pardjo Yap (Head of IT, ACA). Urusan dengan top management ini biasanya menyangkut hitung-hitungan investasi.

Sejak awal, cloud digadang-gadang mampu meningkatkan efisiensi biaya. Namun setiap perusahaan harus berhitung cermat dulu untuk bisa meraih manfaat tersebut. “Karena pertimbangan benefit dan risk,  pro dan cons dari cloud, Enseval lebih milih on premise. Soalnya dari sisi cost effective-nya, cloud belum terlihat lebih tinggi dibanding on premise. Dan belum ada kebutuhan juga,” jelas Gunawan (DBA & Infrastructure Manager IT, PT Enseval Putra Mega Trading).

Gunawan menambahkan bahwa hanya 2 – 3 persen dari workload Enseval yang ada di cloud. Namun ia tak menampik fakta bahwa tren saat ini dan ke depan mengarahkan organisasi bisnis  ke komputasi awan.

Hoka-Hoka Bento pun sempat mempertimbangkan mengalihkan Contact Center-nya ke cloud untuk menjamin reliabilitas, kecepatan, dan pertumbuhan data. Namun apa daya hasil hitung-hitungan biayanya, menurut Johan Sutrisno, sulit mendapat lampu hijau dari jajaran manajemen.

“Hal itu yang menjadi obstacle saya dalam arti untuk pindah ke teknologi cloud. Tapi juga menjadi tantangan bagi saya agar bagaimana caranya agar Contact Center tetap reliable dalam segala kondisi,” imbuhnya.

Pertimbangan lain yang dipikirkan perusahaan, khususnya di Indonesia adalah masalah koneksi internet. “Mungkin cloud dijamin reliabilitasnya. Tapi begitu kita ngomong koneksi internet, bisa ada yang kepacul dan sebagainya, itu tidak ada jaminan” tanda Johan. Dengan kata lain, Johan melibat masalah reliabilitas di cloud menyangkut banyak sisi yang harus tetap dipertimbangkan.

Pendekatan Holistik

Sedangkan IBS Group (perusahaan broker asuransi) sudah mempertimbangkan implementasi cloud sejak empat tahun lalu. Namun setelah mempertimbangkan banyak hal, pendekatan on-premise dianggap masih lebih tepat.

Concern kami adalah segala sesuatu yang di cloud seharusnya Zero IT intervention,” ungkap Faisal Yahya (Head of Information Technology IBS Group). Hal ini menjadi sulit bagi IBS Group yang memiliki banyak aplikasi legacy yang butuh pengelolaan tersendiri.

Dari pengalaman itu, Faisal memberi saran bagi para CIO untuk melihat arsitektur TI perusahaan dengan seksama sebelum beralih ke cloud. “Aplikasi yang rigid atau legacy, sebaiknya ditaruh di on-premise, sementara yang lebih portable dipindah ke cloud,” ujar Faisal. Implementasi cloud juga jangan dilihat semata-mata karena faktor cost. “Kita juga harus memperhitungkan cost dan risk,” tambah Faisal.

Saran yang sama juga diutarakan Gunawan (Enseval). “Kami melihat secara holistik terkait kebutuhan on-premise dan cloud”  ungkap Gunawan. Soal pengurangan capex yang digadang-gadang menjadi keunggulan cloud, misalnya, harus dihitung lebih detail. “Karena bukan berarti dalam lima tahun, uang yang keluar akan lebih murah [ketika menggunakan cloud],” ujar Gunawan.

Model aplikasi juga jadi bahan pertimbangan Gunawan. Jika load dari aplikasi itu bisa diprediksi dan penambahannya tidak signifikan, Gunawan lebih menyarankan on-premise. “Kalau selisih 30%, seharusnya bisa diatasi. Jika tidak, berarti sizing di awal kurang tepat” tambah Gunawan.

Namun bukan berarti Enseval tidak tertarik ke cloud. “Kalau kita bisa manage dan maintain teknologi, sumber daya, mengoptimalisasi aplikasi, apalagi aplikasi sendiri yang tahu kita sendiri, on-premise lebih masuk akal” tambah Gunawan. Baru ketika tidak ada kemampuan di sana, Enseval akan mulai mengadopsi cloud.

Sedangkan Reza Sugiarto memilih menyiapkan terlebih dulu langkah yang diperlukan. Salah satunya adalah menyiapkan people dan juga ITIL. “Sebelum saya jalankan ITIL, saya harus inspeksi dulu secara COBIT itu bagaimana” ungkap Reza. Hal ini untuk mengantisipasi ketika ada kendala implementasi di cloud. “Karena ketika semua managed service atau cloud, dalam 1, 3, atau 4 tahun ke depan pasti ada masalah” tambah Reza.

Sedangkan Pardjo Yap (ACA) mengingatkan, adopsi cloud bisa jadi muncul akibat kefrustrasian perusahaan terhadap tim TI. “Mengurus orang in-house-nya bikin sakit kepala, time delivery-nya pun lama,” Pardjo mencontohkan. Ketika kemudian muncul managed service atau cloud, perusahaan memiliki opsi teknis untuk mengatasi masalah internal yang sebenarnya nonteknis. “Jadi sebenarnya people yang menjadi kunci,” tambah Pardjo.

Sebelum Melangkah ke Cloud

Dari diskusi seru di InfoKomputer CIO Forum, ada tiga kesimpulan utama yang bisa ditarik, yaitu:

1. Ke Arah Hybrid Cloud

Semua CIO yang hadir di acara ini sepakat, cloud adalah pilihan menarik. Akan tetapi, tidak semua aplikasi atau workload yang cocok untuk pindah ke cloud. Hal inilah yang membuat komposisi hybrid cloud akan lebih mendominasi

2. Kendala Menuju Cloud

Bagi institusi keuangan, tantangan terbesar untuk mengadopsi cloud adalah soal regulasi. Sementara bagi industri lain, masalah security, legacy application, serta availability koneksi menjadi pertimbangan tersendiri.

3. Sebelum Melangkah ke Awan

Pastikan perusahaan memiliki pandangan 360 derajat atas infrastruktur TI-nya terlebih dahulu. Semua faktor harus diperhitungkan, mulai dari perhitungan biaya, jenis aplikasi yang cloud-ready, kematangan framework, sampai kesiapan people. Dan karena karakteristik setiap perusahaan berbeda, sebenarnya tidak ada yang benar atau salah dalam melangkah menuju cloud.

Para peserta InfoKomputer CIO Forum bersama Multipolar dan HPE.

Strategi Menuju Hybrid Cloud

Meski menawarkan berbagai keuntungan, solusi cloud sebenarnya tidak untuk semua perusahaan. Pada beberapa kasus, memiliki infrastruktur on-premise justru lebih menjawab kebutuhan perusahaan.

Pendapat ini diungkapkan Chew Eng Lai (Director Data Center Hybrid Cloud, HPE). Eng Lai mengambil contoh salah satu customer HPE yang memutuskan memindahkan infrastruktur TI-nya dari cloud ke on-premise. “Perusahaan tersebut memindahkan 138 VM dari cloud ke on-premise dalam waktu dua bulan” ungkap pria asal Malaysia ini.

Transisi tersebut dilakukan setelah melakukan banyak pertimbangan. Salah satunya adalah pengalaman down-nya layanan cloud yang mengakibatkan terhentinya layanan. Dengan mengadopsi on-premise, setidaknya kontrol penuh terhadap infrastruktur TI bisa dilakukan.

Pertimbangan penting lain adalah soal biaya. Ketika mengadopsi cloud, biaya yang dikeluarkan tidak cuma soal infrastruktur TI, namun juga bandwidth. Belum lagi jika memperhitungkan penurunan harga hardware untuk data center yang selalu terjadi. “Setiap kuartal, harga storage selalu turun 5 – 15%,” Eng Lai mencontohkan.

Ketika perusahaan memiliki memiliki data center on-premise, penurunan harga itu bisa langsung dirasakan. Namun ketika menggunakan cloud, hal itu menjadi kurang terasa karena penyedia layanan cloud jarang memberikan penurunan harga.

Dua faktor di atas, ditambah alasan nonteknis—seperti data sovereignty dan security—yang membuat Eng Lai yakin on-premise akan tetap diadopsi banyak perusahaan.

Lebih Fleksibel

Ketika pendekatan on-premise dan cloud sama-sama menawarkan kelebihan, perusahaan sebenarnya bisa mendapatkan manfaat optimal dengan menggabungkan keduanya. Hal inilah yang menjelaskan mengapa hybrid cloud kini menjadi pilihan menarik. Lembaga riset IDC memperkirakan, 70% perusahaan di Asia Tenggara akan mengambil pendekatan hybrid.

Pertanyaan besarnya adalah, bagaimana mewujudkan infrastruktur hybrid yang ideal? Salah satu langkah yang bisa dilakukan adalah membangun private cloud terlebih dahulu. Private cloud ini memiliki kemudahan dan kecepatan layaknya seperti public cloud. Private cloud juga memiliki workload yang dengan mudah dipindahkan ke cloud.

Yohan Gunawan (Group Head Infrastructure Hardware, Multipolar).

Menurut Multipolar, mewujudkan private cloud bisa dilakukan dengan menggunakan hyperconverged infrastructure. “Hyperconverged adalah solusi yang menggabungkan computing power, storage, hypervisor, dan manajemen,” ungkap Yohan Gunawan (Group Head Infrastructure Hardware, Multipolar). Karena datang dalam satu perangkat siap pakai, hyper-converged menawarkan kecepatan implementasi dan kemudahan pengelolaan.

“Contohnya untuk deploy sebuah virtual machine, kita cuma butuh lima klik dalam satu menit” ungkap Yohan mencontohkan. Begitu pula untuk update firmware. Berbeda dengan data center tradisional yang dibayang-bayangi isu interoperability, update firmware di hyperconverged relatif bisa dilakukan dengan cepat tanpa rasa was-was. Kelebihan lain dari hyperconverged adalah di sisi people. “Hyperconverged cukup dikelola orang TI dengan kemampuan generalist, bukan specialist,” tambah Multipolar.

Ketika faktor kecepatan, manajemen, dan people tersebut disatukan, hyperconverged diklaim akan menurunkan biaya. Yang tak kalah penting, hyperconverged menawarkan infrastruktur on-premise yang memiliki karakter seperti public cloud. Kalaupun kemudian kebutuhan terus meningkat dan perusahaan memutuskan untuk menggunakan public cloud, workload yang ada di hyperconverged bisa langsung dipindahkan.

Contohnya adalah Helion CloudSystem yang memudahkan workload yang ada di hyperconverged untuk berpindah ke public cloud seperti Microsoft Azure atau AWS (dan sebaliknya). “Intinya kami ingin menyediakan infrastruktur yang berada di on-premise namun dengan fleksibilitas untuk pindah ke cloud,” ungkap Eng Lai.

Comments

comments