Fitur Enterprise Strategi Scalable Development ala Bukalapak untuk Tingkatkan Produktivitas

Strategi Scalable Development ala Bukalapak untuk Tingkatkan Produktivitas

Bukalapak.com sebagai salah satu situs di Indonesia yang mewadahi kegiatan transaksi jual beli barang secara online tak ingin ketinggalan memanfaatkan momentum meningkatnya minat dan kepercayaan masyarakat terhadap e-commerce.

Bukalapak pun menyajikan platform yang memudahkan konsumen atau pelapak untuk berinteraksi dan bertransaksi secara aman dan nyaman.

Salah satu bagian yang terkait dengan pengembangan platform tersebut adalah Development. Kepada InfoKomputer, Ibrahim Arief (Vice President of Engineering, Bukalapak) memaparkan bagaimana perusahaan startup yang dikomandani Achmad Zaky itu mengelola para engineer-nya selaras pertumbuhan bisnis perusahaan.

Mencari Model Sustainable

Sampai dengan akhir tahun 2015 lalu, Bukalapak masih menerapkan pendekatan software development seperti yang lazim dianut oleh perusahaan-perusahaan software house di Indonesia. “Which is ada divisi khusus untuk frontend, backend, dan UI. Dan pas ada pekerjaan, ada PM (Product Manager. red) yang assigned untuk setiap pekerjaan itu,” jelas Ibrahim.

Menurutnya, ketika ukuran tim Development belum terlalu besar, misalnya terdiri atas 20 – 30 engineer, pendekatan tersebut masih bisa diterapkan. Namun seiring perkembangan dan kompleksitas tim, model seperti ini tidak akan sustainable lagi.

Ibrahim mencontohkan, misalnya ada satu pekerjaan yang “dilempar” ke satu tim yang berkekuatan seratus orang engineer. “Malah akan terjadi banyak interference satu sama lain. Akan ada overhead karena mungkin ada engineer yang tidak kerja atau nunggu kerjaan baru,” jelasnya.  

Proses development aplikasi dan software pun ternyata mengenal Law of Diminishing Returns atau hukum kenaikan hasil yang makin berkurang, yakni hukum dalam ekonomi yang menjelaskan tentang proporsi input yang tepat untuk mendapatkan output maksimal. Di Bukalapak, hal itu berakibat pada turunnya kecepatan dan produktivitas proses development.

Ibrahim Arief (Vice President of Engineering, Bukalapak).

Terinspirasi Spotify

Melihat kebutuhan pengembangan tim selaras kebutuhan bisnis, Ibrahim Arief dan jajaran manajemen Bukalapak pun mencari pendekatan yang lebih scalable sehingga pertumbuhan tim Development bisa tetap linear dengan kecepatan, kelincahan, dan produktivitas.

“Awal 2016, kami mulai mengadopsi konsep atau model Product Squad, terinspirasi dari Spotify,” cerita Ibrahim. Tim Development terbagi atas beberapa tim kecil atau squad yang sifatnya cross-functional dan independen. Setiap squad bertugas menangani satu vertical slice tertentu dari Bukalapak. Setiap tim kecil ini terdiri atas 5 — 6 engineer (backend, frontend, QA, dan mobile), data scientist, UI/UX, dan dipimpin oleh satu orang dedicated Product Manager (PM).

“Contoh, kami memunyai dedicated product team yang khusus menangani product discoverability, untuk mengurusi cara-cara agar customer dapat dengan cepat dan mudah memperoleh produk terbaik yang mereka inginkan. Tim ini mengembangkan, misalnya, search engine dan recommendation engine. Mereka juga menangani 500 juta search query dan document setiap bulannya,” papar Ibrahim memberi contoh vertical slice.

Ada pula slice yang khusus mengurusi fitur untuk para pelapak di Bukalapak. Menurut Ibrahim, tim ini secara terus menerus akan mengembangkan fitur-fitur yang akan meningkatkan efektivitas maupun kenyamanan para pelapak dalam berjualan.

Ada squad yang fokusnya menangani functional improvement yang dampaknya langsung dirasakan customer Bukalapak, ada pula tim kecil yang mengurusi perbaikan/peningkatan yang sifatnya nonfungsional. “Misalnya melakukan refactoring arsitektur inti Bukalapak,” jelas Ibrahim.

Tim yang disebut core squad ini bertugas memikirkan bagaimana arsitektur inti dapat mengakomodasi roadmap Bukalapak. Contohnya, squad ini membuat fitur dynamic image resizing yang dibutuhkan oleh tim-tim lainnya. “Semua tim/squad dapat memanfaatkan hasil kerja core squad itu,” tandas Ibrahim.  

Tambah dan Pecah Squad

Dari awalnya memiliki hanya 2 — 3 squad, Bukalapak secara bertahap menambah jumlah product squad-nya hingga saat ini mencapai tujuh belas untuk menangani tujuh belas slice. Penambahan jumlah slice atau squad bergantung pada beberapa hal. “Kami identifikasi kira-kira bagian mana yang perlu banyak inovasi, improvement, dan punya potensi growth yang lebih besar lagi,” ujar Ibrahim seraya memasukkan growth hacking sebagai salah satu pertimbangan lainnya.

Ketika satu squad menangani bagian yang dipandang cukup besar dan mencapai critical mass, kemungkinannya adalah squad tersebut akan dipecah lagi.  Umumnya Bukalapak akan menempatkan para engineer baru untuk bergabung dengan berbagai squad baru tersebut.

Nantinya, jumlah squad atau slice akan makin banyak, entah sebagai hasil penambahan squad  baru maupun pemecahan squad yang ada. “Saat ini kami memiliki 110 orang engineer dan target kuartal [pertama tahun 2017] ini saja 150 engineer,” imbuh Ibrahim.

Seperti halnya yang dilakukan Spotify, Bukalapak juga memberi kebebasan dan kepercayaan tinggi kepada setiap squad. Misalnya setiap tim kecil itu boleh langsung melakukan deployment ke production di bawah monitoring setiap PM-nya.

Untuk memudahkan proses development dengan model Product Squad ini, Bukalapak menggunakan beberapa tool pendukung. Misalnya Altassian JIRA untuk mengorganisasi backlog dan perencanaan apa yang akan dikerjakan squad dalam jangka waktu tertentu. Bukalapak juga mengotomatisasi proses pengumpulan data yang terintegrasi dengan cara kerja squad.

Dari sisi teknis, kode dalam dalam code base Bukalapak sudah dirancang secara modular sehingga penerapan model Product Squad ini tidak menimbulkan masalah.

“Yang lain adalah berkaitan dengan kultur, kami adakan weekly meeting untuk membahas hasil-hasil eksperimen yang berjalan di production,” imbuh Ibrahim.

Menurutnya, Bukalapak menganut budaya eksperimen dan growth hacking yang kuat. Setiap fitur baru akan melalui proses eksperimen untuk mengukur dampak fitur tersebut terhadap berbagai KPI dan metrik dari Bukalapak. Berbagai A/B test dan eksperimen dijalankan untuk memperoleh hasil pengukuran yang objektif.

Suasana kerja di kantor Bukalapak. [Kredit: Dok. Bukalapak]

Tingkatkan Kecepatan Pengembangan

Penerapan model Product Squad ini terbukti dapat meningkatnya kecepatan development dan scaling bisa lebih linear. Kecepatan development yang tinggi itu pun dapat merefleksikan kelincahan (agility) dari tim Development Bukalapak.

Dalam enam bulan terakhir sejak Bukalapak merombak proses development, Ibrahim Arief melihat jumlah improvement meningkat 106 persen. “Sekarang ini kami bisa melakukan sampai 400 improvement per bulan,” tandasnya. Sementara itu, kenaikan jumlah product engineer mencapai 50 persen. Oleh karenanya Ibrahim berkesimpulan, dengan perombakan tersebut, scaling dari sisi produktivitas (jumlah improvement per engineer) bahkan bisa lebih tinggi daripada linear scaling.

“Hal lain adalah long term maintainability. Karena kami punya satu squad yang fokus menangani satu slice, kami bisa maintain code base-nya untuk jangka waktu lama. Kelangsungan knowledge-nya tetap terjaga. Product development continuity ini penting sekali bagi Bukalapak,” tandasnya. Nuansa kolaboratif antar-squad pun lebih kental terlihat.

Dan hal yang lebih penting adalah metode scalable development berbasis model Product Squad ini memampukan Bukalapak menyajikan sebuah platform dengan aneka fitur, yang memudahkan pelanggan dan pelapak berinteraksi serta bertransaksi secara aman dan nyaman.

“Yang paling membanggakan kami adalah metrik di mana kami sudah bisa membantu 1,3 juta UKM di seluruh Indonesia untuk naik kelas, inilah core mission Bukalapak,” ungkap Ibrahim memungkasi wawancara.

Comments

comments