Profil IT Leader Cornel Hugroseno: Mewujudkan Digitalisasi di Adira Finance

Cornel Hugroseno: Mewujudkan Digitalisasi di Adira Finance

Cornel Hugroseno (IT Director, PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk.). [Foto: Abdul Aziz/InfoKomputer]

Digitalisasi adalah sebuah keniscayaan. Namun kapan teknologi digital sepenuhnya dijadikan landasan, itu masih menjadi pertanyaan.

“Saya melihatnya sekarang ini, market baru menjajaki [teknologi] digital. Pelanggan masih mencoba-coba untuk transaksi secara digital,” ujar Cornel Hugroseno (IT Director, PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk.). Kontribusi pasar konvensional masih lebih signifikan, menurut Cornel, meskipun pergeseran ke arah digital sudah terjadi.

Di saat pelanggan masih menjajaki di masa transisi ini, penyandang gelar Sarjana Teknik Informatika dari Universitas Gajah Mada itu melihat adanya sebuah peluang baru bagi perusahaan pembiayaan seperti Adira Finance. Yakni peran sebagai “penengah” antara pelaku bisnis dan konsumen.

Cornel Hugroseno melihat dewasa ini, bisnis trading white goods, seperti handphone, televisi, lemari es, dan lain-lain, via platform digital kian digemari konsumen. Berkembangnya sektor bisnis ini di kancah online tak lepas dari peran perusahaan pembiayaan.

Saat masih ragu dengan transaksi online/digital, konsumen tentu enggan membayar jika barang belum berada di tangan. Penjual pun demikian, mereka tidak akan melepas barang bila belum ada pembayaran.

Di sinilah perusahaan pembiayaan atau kredit memainkan peran. Setelah menyurvei kelayakan konsumen, perusahaan pembiayaan akan melunasi pembayaran barang ke penjual dan konsumen membayar secara kredit kepada perusahaan pembiayaan. “Dengan begitu, proses yang sebelumnya penuh keraguan menjadi penuh kepastian, dengan adanya lembaga kredit,” jelas Cornel.

Konsekuensi Digitalisasi

Dengan digitalisasi, pelanggan dan perusahaan dapat terhubung kapan saja dan di mana saja. Konsekuensinya, pelanggan akan lebih bebas mengutarakan harapan dan keinginannya. Pelanggan pun menaruh harapan besar bahwa kebutuhan dan keinginan mereka dapat dipenuhi perusahaan dengan cepat.

Konsekuensi lain dari digitalisasi adalah lebih banyak orang dapat terhubung dengan perusahaan. “Dulu, kami hanya diakses oleh orang yang mencari kredit motor atau mobil. Dulu, ‘etalase’ kami hanya untuk orang yang ingin beli kendaraan bermotor. Sekarang, etalase kami bisa dilihat semua orang. Nah, kalau begitu, mengapa kami tidak menjual semua jenis produk melalui berbagai kanal?” papar Cornel seraya menyebut pembiayaan umrah dan traveling sebagai dua penawaran terbaru Adira Finance.

Menghadapi kedua tantangan tersebut, menurut Cornel Hugroseno, harus ada tiga komponen yang mau tidak mau harus dimiliki untuk membangun solusi digital untuk pelanggan: agility, security, dan analytics.

Agile bukan hanya cepat, tetapi juga lincah dan gampang menyesuaikan diri,” jelas Cornel. Agility akan mengakomodasi kebutuhan dan keinginan pelanggan yang kerap berubah dan bertambah.

Secara teknis, agility dapat diwujudkan misalnya dengan memanfaatkan komputasi awan atau cloud computing. Menurut Cornel, cloud adalah teknologi yang sangat memudahkan, lebih ekonomis, dan scalable, meskipun masih ada isu regulasi yang kadang membuat perusahaan ragu melangkah ke awan.

Kecepatan dan kelincahan juga dapat dicapai dengan mengutamakan platform. “Dulu kami membangun fitur, dan tidak peduli dengan platform,” ucap Cornel. Namun transformasi digital mengharuskan perusahaan bergerak cepat. Walhasil, tool, aplikasi, dan solusi teknologi yang siap pakai atau commercial off the shelf tetapi configurable lebih disukai. “Inilah mengapa kemudian kami putuskan Adira ke depan tidak lagi membangun fitur tapi membangun platform,” imbuhnya.

Komponen analytics dibutuhkan ketika perusahaan membangun kompetensi multi product multi channel. Memiliki aneka produk yang dijual melalui berbagai kanal, perusahaan harus mengetahui produk dan kanal mana yang paling menguntungkan, dan menentukan produk dan kanal apa yang paling cocok untuk pelanggan.

Analytics digunakan untuk membangun sistem yang lebih efisien dalam mengelola banyak produk, banyak channel, dan customer yang begitu luas,” jelas pria kelahiran Solo, Jawa Tengah ini.

Sementara itu, akses dan interaksi perusahaan dengan basis pelanggan maupun mitra yang lebih luas, melalui aneka kanal, mengharuskan perusahaan lebih cermat menjaga keamanan informasinya. Security atau keamanan informasi disebut Cornel sebagai tantangan utama di era digital.

“Saat ini, TI juga dituntut menjadi growth driver artinya teknologi harus bisa membawa perusahaan itu mengalami growth atau pertumbuhan [bisnis],” ungkap Cornel.

TI Sebagai “Growth Driver”

Dengan pengalaman selama hampir tiga puluh tahun merentang karier di bidang teknologi informasi (TI), Cornel Hugroseno telah menyaksikan pergeseran peran TI di perusahaan. Dimulai dari peran merapikan dan mengefisiensikan data, mengelola informasi, dan menjadi tulang punggung untuk mewujudkan operational excellence, kini TI dituntut menjalani peran baru.

“Meski namanya masih IT, sebenarnya sudah berubah menjadi interaction technology,” jelasnya. TI kini menjadi media interfacing antarpelaku bisnis dan antarpelanggan. TI membangun koneksi antara perusahaan dengan komponen-komponen dalam ekosistem bisnis. Berkat teknologi, pelanggan kini dapat menjumpai layanan Adira di toko-toko retail, bahkan kedai-kedai kecil!

“Sekarang, TI sudah tidak cukup hanya jadi enabler. Saat ini, TI juga dituntut menjadi growth driver artinya teknologi harus bisa membawa perusahaan itu mengalami growth atau pertumbuhan [bisnis],” ungkap Cornel.

Ketika Adira Finance meluncurkan program “Sahabat Setia Selamanya” bagi pelanggan sebagai bagian dari upaya menjalin hubungan jangka panjang sekaligus meningkatkan bisnis, bagaimana divisi TI memampukan interaksi dan mendorong pertumbuhan?

Berbekal database pelanggan yang cukup lengkap dan kemampuan analytic, Adira Finance dapat memberikan penawaran dan layanan yang mengacu pada total life cycle atau siklus kehidupan pelanggan. “Jadi pada waktu anak pelanggan mencapai umur sekolah menengah atas, misalnya, kami mengirimkan penawaran ke pelanggan sekiranya si anak butuh kendaraan,” tutur Cornel.  

Adira Finance juga menggandeng komunitas untuk memberdayakan kedai-kedai sebagai outlet. Kedai-kedai tersebut dibekali teknologi dan konektivitas agar dapat melayani pembayaran cicilan kredit Adira, pembelian pulsa telepon, pembayaran tagihan listrik, dan lain-lain. Dengan cara ini, menurut Cornel, perusahaan juga berupaya menciptakan shared value bersama pelanggan.

Inisiatif lain yang dibuat Divisi Teknologi Informasi untuk memampukan Adira Finance menjadi sahabat setia pelanggan antara lain membangun aplikasi bernama Akses Adira. Aplikasi Android ini diharapkan dapat memudahkan masyarakat memperoleh berbagai macam informasi proses pembiayaan di Adira Finance. “Kami membangun aplikasi Akses Adira agar semua orang bisa mengakses informasi kapan saja dan di mana saja,” ujar Cornel Hugroseno mengakhiri pembicaraan.

Comments

comments