Profil IT Executive Herfini Haryono: Memimpin Indosat Ooredoo Jadi Partner Transformasi Digital

Herfini Haryono: Memimpin Indosat Ooredoo Jadi Partner Transformasi Digital

Herfini Haryono (Chief of Enterprise and Wholesale, Indosat Ooredoo). [Foto: Abdul Aziz/InfoKomputer]

Melayani 85 juta pelanggan tanpa henti bukanlah hal yang mudah. Namun, itulah keseharian yang dihadapi tim Indosat Ooredoo selama ini. Selama 24/7, Indosat Ooredoo harus memastikan semua pelanggan mereka mendapatkan pengalaman komunikasi tanpa masalah.

Ada banyak hal yang mereka lakukan, termasuk melakukan transformasi ke digital sejak tahun 2002. “Bisa dibilang, industri telekomunikasi adalah industri vertikal pertama yang go-digital,” ungkap Herfini Haryono.

Berbekal pengalaman tersebut, Indosat Ooredoo pun mulai mengembangkan mimpi membantu perusahaan lainnya di Indonesia dalam melakukan transformasi digital. “Misi kami adalah menjadi preferred digital partner connecting business across Indonesia,” ungkap Herfini.

Tugas Besar

Misi itulah yang kini menjadi tanggung jawab Herfini di dalam posisinya sebagai Chief of Enterprise and Wholesale Indosat Ooredoo, yang juga sering disebut Indosat Ooredoo Business.

Ini merupakan sebuah tugas yang tak mudah. Namun, wanita lulusan TU Braunschweig, Jerman, ini yakin timnya memiliki kapabilitas untuk mewujudkan mimpi ini. “Kalau kita lihat, pengalaman Indosat Ooredoo dalam membentuk sistem sejak awal 2000-an adalah sesuatu yang istimewa dan tidak banyak perusahaan yang mampu melakukannya,” ungkap Herfini.

Solusi yang ditawarkan Indosat Ooredoo sendiri adalah produk-produk yang disebutnya sebagai communication plus. “Strategi yang kami pilih adalah solusi IT yang merupakan kepanjangan tangan dari telekomunikasi itu sendiri,” jelas wanita yang pernah sukses memindahkan 100 juta pelanggan ke sistem charging billing baru ini.

Contohnya adalah solusi terkait data center, seperti managed data center, cloud, atau DRC. “Karena kami sebagai perusahaan telekomunikasi juga memiliki data center dan telah terbukti always-on,” ungkap Herfini menggambarkan pengalaman Indosat di bidang data center.

Contoh lain adalah terkait security. Herfini melihat Indosat Ooredoo memiliki kemampuan untuk mengelola security seputar connectivity, router, sampai IP Management. “Kalau dari lingkup ini saja, market-nya saya kira sangat besar karena semua perusahaan membutuhkan hal ini,” tambah Herfini.

Sektor lain yang sedang dilirik Indosat Ooredoo adalah terkait Machine-to-Machine (M2M) dan Internet of Things. Contohnya adalah vehicle tracking bagi perusahaan yang ingin memonitor keberadaan armadanya. Contoh lain adalah implementasi LBS Simcard yang bisa digunakan untuk mengelola petugas lapangan agar dapat bekerja secara efektif.

Konsolidasi dan Kerja Sama

Akan tetapi, Herfini menyadari dibutuhkan waktu untuk “berganti wajah” dari perusahaan telekomunikasi ke penyedia solusi TI. Hal ini tidak hanya berlaku di sisi eksternal, namun juga internal. Karena itu, sederet langkah telah dan akan terus dilakukan untuk mendukung transformasi di sisi internal ini.

Contohnya adalah menarik tim TI yang selama ini berada di balik infrastruktur Indosat untuk bergabung di tim bisnis ini. Sebagian tim Product Development juga dikembangkan menjadi IT expert dengan mengantongi berbagai sertifikasi di dunia TI.

Arah yang dituju Indosat Ooredoo Business ini sebenarnya mirip seperti yang selama ini dilakukan Lintasarta, salah satu anak perusahaan Indosat Ooredoo. Terkait hal ini, Herfini sudah memiliki strategi. Nantinya Indosat Ooredoo akan bertindak sebagai desainer dari solusi yang ditawarkan ke pasar, sedangkan Lintasarta berperan sebagai pelaksana di lapangan.

“Lintasarta akan diposisikan sebagai IT factory dari Indosat Ooredoo karena secara economics of scale-nya memungkinkan,” tambah Herfini.

Agar bisa menghasilkan solusi yang tepat, Indosat Ooredoo pun aktif menjalin kerja sama. Salah satunya dengan IBM melalui kerja sama senilai US$200 juta yang diresmikan pada tahun 2016 kemarin. Melalui kerja sama ini, keduanya bersepakat membangun sistem berbasis solusi IBM di atas infrastruktur Indosat Business.

Salah satu implementasi awal kerja sama ini adalah pembangunan command center dan Security Operation Center (SOC) terintegrasi yang bisa dimanfaatkan pelanggan IBM maupun Indosat Ooredoo.

Langkah lain yang dilakukan adalah aktif berkomunikasi dengan perusahaan dari berbagai industri. “Kami mencoba mendengar kebutuhan bisnis mereka, apa saja yang menjadi pain point mereka selama ini,” ujar Herfini.

Akan tetapi, Herfini pun menyadari kalau Indosat Ooredoo memiliki keterbatasan dalam menawarkan solusi. “Pertanyaan yang sering kami dapat adalah apakah Indosat Ooredoo akan masuk ke level lebih dalam seperti aplikasi? Saya kira belum, setidaknya untuk saat ini,” ujar wanita yang pernah menjadi CIO Telkomsel ini.

“Pemain di IT services mungkin banyak, namun size-nya relatif kecil dibanding Indosat Ooredoo,” ungkap Herfini Haryono.

Pembenahan Menyeluruh

Saat ini, bisnis B2B menyumbang sebesar dua puluh persen dari revenue total Indosat Ooredoo (yang menurut laporan keuangan 2016, mencatat angka Rp29,2 triliun).

Ketika ditanya target di masa mendatang, “Pak Alex (Alexander Rusli, CEO Indosat) mimpinya ke 40 – 50%,” ujar Herfini sambil tertawa lebar. Target ini didasari pemikiran, kompetitor di industri ini tidak banyak. “Pemain di IT services mungkin banyak, namun size-nya relatif kecil dibanding Indosat Ooredoo,” ungkap Herfini.

Meskipun begitu, Herfini mengaku masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikannya untuk bisa mewujudkan mimpi tersebut. “Tantangan kami adalah legacy Indosat sudah sangat kuat sebagai perusahaan telekomunikasi,” aku Herfini.

Diperlukan waktu untuk mengomunikasikannya ke customer terkait perubahan ini. Herfini sendiri menargetkan, dalam tiga tahun ke depan, wajah baru Indosat Ooredoo ini sudah dikenal oleh para customer. “Jadi mereka yang mencari kami, tidak lagi kami yang mendekati mereka,” tambah Herfini.

Faktor krusial yang harus dilakukan adalah pembenahan di sisi internal Indosat Ooredoo sendiri. “Kalau tadinya orang sales kita nyaman berjualan cellular services, sekarang mereka juga harus jualan router,” ungkap Herfini mencontohkan. Karena itu, pembenahan di sisi skills dan business process menjadi perhatian khusus Herfini saat ini.

Selain itu, hari-hari Herfini banyak dihabiskan untuk melakukan brainstorming dan coaching terhadap timnya. Melalui pertemuan tersebut, ia pun mencoba menularkan etos kerja yang selama ini ia yakini dan lakukan. “Saya selalu menekankan pentingnya komitmen untuk menyelesaikan pekerjaan,” ungkap Herfini.

Comments

comments