Profil IT Executive IPO Cloudera di Bawah Tangan Dingin Tom Reilly

IPO Cloudera di Bawah Tangan Dingin Tom Reilly

Tom Reilly (CEO, Cloudera). [Kredit: IDG Connect]

Setelah absen dalam dua tahun terakhir, perusahaan teknologi kini kembali melakukan initial public offering (IPO). Menyusul Snapchat yang telah melakukan IPO pada awal Maret lalu, Cloudera telah resmi melantai di bursa saham Nasdaq pada 28 April silam.

Dengan IPO, Cloudera mampu meraup modal dari publik hingga sebesar US$4,1 miliar. Mereka juga akan siap bersaing dengan perusahaan lainnya, seperti IBM, Oracle, Pivotal, Terada, dan MapR Technologies.

Pada hari penjualan perdana, saham Cloudera dibuka dengan harga US$15. Saat ini, harga tersebut berada di posisi US$17,30 dengan market cap sekitar US$2,27 miliar.

Masuknya Cloudera ke bursa saham dalam waktu kurang dari sepuluh tahun sejak pertama didirikan pada tahun 2008 adalah buah dari tangan dingin Tom Reilly, sang CEO yang menjabat mulai tahun 2013.

Visi Reilly

Tom Reilly adalah salah seorang dari sekian banyak pelaku teknologi informasi yang sangat optimistis dengan potensi Big Data di masa depan. Bagi Reilly, keterhubungan manusia dalam tingkatan sangat tinggi (hyperconnected) berkat adanya internet, baru terjadi dalam waktu 5 – 7 tahun belakangan.

“Keterhubungan itu menciptakan peluang yang luar biasa atau ancaman bagi perusahaan tradisional,“ kata Reilly sebagaimana dikutip dari Forbes pada April tahun lalu.

Reilly menambahkan, jikalau ingin mentransformasi bisnisnya dalam dunia yang saling terhubung seperti sekarang, perusahaan harus siap menerima dan menerapkan banyak ide baru.

Ia mencontohkan, di masa depan, perusahaan pembuat mobil yang tidak menambahkan fitur koneksi internet pada produknya mencerminkan sebuah langkah mundur. “Jadi, perusahaan pembuat mobil akan berubah menjadi perusahaan manajemen data,” tegas Reilly yang pernah sebagai pejabat tinggi di IBM itu.

Keterhubungan itu dipandang oleh Reilly memunculkan beragam masalah yang tidak sederhana dan dalam jumlah besar. Ia mencontohkan, kajian tentang pelanggan (customer insight), termasuk produk barang dan jasa, yang ditopang oleh analisis data akan memperkecil risiko bisnis.

“Industri seperti itulah yang menjadi sasaran kami. Perusahaan tidak mungkin mengandalkan solusi lawas untuk berbagai masalah baru dewasa ini, karena sudah melibatkan seperangkat data yang kompleks. Di situlah peranti lunak Hadoop berperan sangat besar,” kata Reilly yang mengklaim ada sekitar 20 ribu perusahaan di seluruh dunia yang memanfaatkan jasa Cloudera.

Inovatif dengan Hadoop

Cloudera adalah perusahaan spesialis Big Data yang memanfaatkan peranti lunak open source, Hadoop, yang dikembangkan Apache sejak 2011. Hadoop membantu pengguna untuk menangani berbagai data berukuran masif, menganalisisnya, dan menggunakannya dalam proses pengambilan keputusan secara real time.

Ditambah fitur library pada Hadoop, proses distribusi data besar antarkomputer dimungkinkan berlangsung lebih cepat dan efisien. Semua dilakukan menggunakan model pemrograman yang sederhana, dengan skalabilitas hampir tak terbatas.

Cloudera adalah pengembang pertama yang menawarkan Hadoop dalam bentuk paket produk. Cloudera CDH (yang memuat semua komponen open source) misalnya adalah distro Hadoop yang sangat populer. Terkenal cepat berinovasi pada inti program Hadoop, Cloudera tercatat sebagai perusahaan pertama yang menawarkan SQL di dalam Hadoop, lengkap dengan query engine Impala. Cloudera juga mengizinkan pengguna untuk mengintegrasikan antarmuka dan sistem keamanan Hadoop dengan aplikasi third party tertentu.

Dipimpin oleh Tom Reilly, Cloudera juga mengambil langkah akuisisi terhadap beberapa perusahaan untuk menguatkan produk inti mereka, di antaranya adalah Gazzang, Sense.io, dan Xplain.io

Saat ini, Cloudera melisensikan peranti lunaknya kepada lebih dari 825 perusahaan. Sejumlah 75 – 80 persen pendapatan Cloudera ditopang oleh lisensi itu. Selebihnya, yakni sebanyak 15 – 25 persen, didapat Cloudera dari layanan profesional dan sisanya (sebanyak 5 – 10 persen) didapat dari pelatihan.

Tom Reilly (CEO, Cloudera). [Kredit: YouTube Elastica]

Pasar Big Data

Dunia modern mengalami ledakan data selama rentang satu dekade belakangan ini. Ada sekitar 2,5 exabyte (2,5 miliar gigabyte) data yang terbentuk setiap hari di setiap sektor.

Bursa Saham New York menghasilkan lalu lintas data sekitar satu terabyte setiap hari. Data yang sangat besar juga berlalu-lalang di antara 5 miliar ponsel (termasuk 1,75 miliar ponsel cerdas). Belum lagi menyinggung YouTube, yang besaran total unggahan videonya mencapai durasi 48 jam setiap menit. Facebook dan Twitter menampung lebih dari sepuluh terabyte data setiap harinya.

Yang menarik adalah sebanyak 90 persen data yang ada hari ini terbentuk dalam tiga tahun belakangan. Sekitar 80 persen data adalah data yang tak terstruktur, seperti tulisan di blog (yang sangat sulit dianalisis) tetapi menyimpan potensi sebagai acuan pengambilan keputusan dalam bisnis.

Pada Oktober 2016, International Data Corporation (IDC) memprediksi, secara global pangsa pasar Big Data pada 2020 akan melaju di angka US$203 miliar. Industri perbankan diharapkan menjadi konsumen terbesar layanan ini, sedangkan perusahaan teknologi informasi dan layanan bisnis akan berperan sebagai penggenjot investasi teknologinya.

Namun demikian, berperan serupa dengan industri perbankan, industri telekomunikasi, manufaktur dan pemerintah, dalam kurun waktu itu, diprediksi akan menganggarkan sekitar lima puluh persen dananya untuk Big Data. Sementara itu, industri telekomunikasi, asuransi, dan transportasi akan turut meramaikan pasar.

Cermin potensi Big Data juga dapat merujuk pada initial public offering (IPO) Hortonworks pada tahun 2014. Dalam waktu dua hari setelah IPO, sentimen pasar sangat positif terhadap perusahaan bernilai US$1 miliar itu.

Namun demikian, sentimen itu tidak menunjukkan secara umum bahwa perusahaan emiten memang sangat bermutu, kecuali bagi investor yang benar-benar memahami produk Big Data itu sendiri. Barangkali itulah yang ada di pikiran Warren Buffett. Pada tahun 2016, dia memborong 63,9 juta lembar saham IBM, gara-gara Big Blue itu sukses menggenjot penjualan produk Big Data.

Berdasarkan data dari Statista, pangsa pasar Big Data saat ini masih dipimpin IBM dengan pendapatan mencapai US$1,5 miliar. Mengikuti di belakang adalah Hewlett-Packard dan SAP dengan pendapatan masing-masing sekitar US$1 miliar.

Berdasarkan hasil kajian IDG Enterprise pada Juli 2015, sebagai sebuah tujuan, penerapan Big Data di perusahaan akan meningkatkan mutu customer relationship hingga 55 persen. Implementasi Big Data juga akan mengalihkan fokus perusahaan pada pengolahan data hingga 53 persen.

Comments

comments