12 | September | 2017 | InfoKomputer Online

Arsip Harian: Sep 12, 2017

Facebook Uji Coba Fitur Instant Video yang Bebas Kuota

 

Facebook sedang menguji fitur terbaru Instant Video untuk perangkat Android yang memungkinkan pengguna bisa menonton video setiap saat tanpa perlu membuang-buang data untuk mengunduhnya terlebih dulu.

Sebelumnya, Facebook telah meluncurkan fitur Instant Articles yang memungkinkan loading berita semakin cepat dan ringan. Konsep dan mekanismenya sama, hanya saja platform Instant Videos lebih hemat data ketika memutar konten video.

Fitur Instan Video memungkinkan pengguna untuk mengunduh berbagai video Facebook ketika tersambung ke Wi-Fi. Adapun video yang telah terunduh dengan Wi-Fi akan ditandai dengan ikon berbentuk petir. Pengguna bisa memutar video itu tanpa khawatir dengan sisa kuota data yang dimiliki.

Fitur itu dapat mendongkrak angka penonton dan memperbaiki pengalaman pengguna dalam menonton video tanpa harus menunggu waktu loading yang lama karena buffering seperti dikutip Engadget.

Facebook ingin membuat ekosistem videonya semakin solid dan meningkatkan pengalaman penggunanya. Fitur itu juga memungkinkan pengguna untuk melihat konten-konten video populer.

Studi eMarketer menunjukkan keterikatan pengguna Instagram meningkat 53 persen untuk konten-konten video. Kini pengguna Facebook tak ubahnya content creator di YouTube yang bisa meraup duit dari iklan. Facebook membagi 55 persen pendapatan iklan yang disisipkan ke video-video para content creator.

Belum ada indikasi, apakah Facebook akan meluncurkan fitur itu secara luas.

Lulus Uji Militer, Ultrabook Premium Asus B9440 Bidik Eksekutif Muda

Setelah merilis beberapa seri Asus ZenBook dan VivoBook anyarnya beberapa waktu lalu, kali ini Asus meresmikan kehadiran tipe ultrabook premium yang sama-sama ditujukan untuk consumer. Hanya saja model yang satu ini membidik segmen eksekutif.

Adalah Asus B9440, ultrabook 14 inci dengan body 13 inci yang diklaim paling ringan dengan berat hanya 1,05Kg untuk segmen pengguna profesional ataupun eksekutif muda. Ultrabook ini mengandalkan prosesor Intel Core generasi ke-7 KabyLake yakni Core i7-7500U, yang bekerja pada kecepatan 2,7GHz dan dapat mencapai 3,5GHz dalam frekuensi Max Turbo. Sistem operasi Windows 10 Pro 64-bit hadir menopang tugas-tugas penggunanya.

Asus mendesain laptop ini dengan sangat kompak. Asus B9440 menggunakan bezel hanya setebal 5,4 milimeter yang mengelilingi layar. Saking tipisnya, laptop yang memiliki layar 14 inci ini seolah-olah justru seperti laptop 13 inci dan memberikan kesan bezelless.

Dari sisi layar, laptop beresolusi Full HD 1920×1080 ini juga menawarkan sudut pandang yang luas, hingga 178 derajat berkat teknologi IPS yang didukung. Berikut display jenis matte anti-glare yang melindungi dari cahaya silau yang kemungkinan hadir dari arah belakang, sehingga lebih nyaman di mata.

Yang tak kalah penting, Asus B9440 menggunakan struktur engsel yang unik hingga kemiringan 7o, serta true comfort keyboard yang lebih nyaman untuk pergelangan tangan dan mengurangi kelelahan saat mengetik. Keyboardnya pun tahan cipratan air dan berfitur backlit, sehingga bermanfaat pada penggunaan di tempat yang kurang cahaya.

Galip Fu (Country Marketing Manager, Asus Indonesia) menjelaskan baterai yang tertanam pada laptop ini, yakni jenis Lithium-ion Polymer dengan rating 48Wh mendukung teknologi fast charging. “Pengguna dapat mengisi baterai tersebut hingga kapasitas 50 persen hanya dalam waktu 30 menit saja,” tambah Galip.

“Dalam pengujian kami, laptop ini sanggup bertahan dua kali lipat lebih baik saat terjatuh dan dapat menerima tekanan 20 persen lebih tinggi dibanding laptop umumnya. Laptop Asus B9440 ini telah lulus dengan nilai sempurna uji militer US-MILSTD 810G,” pungkas Galip.

Dari segi keamanan, laptop Asus B9440 ini juga telah memiliki fitur fingerprint yang dapat mendeteksi sidik jari pemilik laptop sehingga tidak perlu lama-lama mengetik login dengan username dan password.

Di Indonesia, laptop ini sudah tersedia di kisaran harga Rp24.999.000.

Orang Mulai Antre Beli iPhone 8 dan iPhone X

iPhone memang memiliki daya magis yang luar biasa. Belum diluncurkan resmi, para penggemar Apple atau Apple Fanboy mulai mengantre untuk membeli iPhone 8 di depan Apple Store, Sydney, Australia.

Luke Hopewell, jurnalis asal Australia, mengunggah foto dua orang Apple Fanboy yang sedang mengantre untuk mendapatkan iPhone 8 pertama kalinya. Salah seorang Apple Fanboy di antaranya terlihat membawa kursi taman, tengah menggunakan MacBook di atas paha dan memegang iPhone di tangan kirinya. Sedangkan satu Fanboy lainnya sedang berdiri.

Padahal, Apple kabarnya baru akan membuka pemesanan iPhone 8 dan iPhone X pada 15 September dan baru menjualnya pada 22 September, seperti dikutip BGR. Artinya, bisa jadi kedua orang itu harus menunggu selama sepuluh hari sebelum mendapatkan iPhone terbaru.

Rumornya, Apple akan meluncurkan tiga smartphone sekaligus yaitu iPhone 8, 8 Plus dan X di Steve Jobs Theatre, Apple Park Campus, Cupertino, California, Amerika Serikat pada 12 September pukul 10.00 pagi waktu setempat.

iPhone X menjadi edisi iPhone paling spesial dan menawarkan desain yang berbeda untuk memperingati 10 tahun kehadiran iPhone. iPhone X akan mengusung layar OLED dengan fitur keamanan Face ID untuk menggantikan Touch ID.

iPhone X merupakan smartphone premium pertama Apple yang hadir dengan layar nyaris tanpa bingkai (bezel-less). Sedangkan iPhone 8 dan 8 Plus merupakan versi peningkatan dari iPhone 7 dan 7s yang hadir tahun lalu.

Dalam kesempatan itu, Apple juga akan meluncurkan Apple Watch Series 3 yang terkoneksi LTE dan Apple TV yang mendukung 4K.

Tagar #KomenBaik Mendominasi Instagram Usai Ajang Worldwide InstaMeet ke-16

Akhir pekan lalu, ribuan pengguna Instagram atau Instagrammer di seluruh dunia bertemu dan berkolaborasi bersama dalam Worldwide InstaMeet (WWIM) ke-16.

Di Indonesia, para Instagrammer mengangkat keunikan masing-masing wilayah, mulai dari tempat bersejarah hingga pemandangan alam, untuk saling berbagi dan menyebarkan pesan positif melalui tema #KindComments atau #KomenBaik.

Diadakan di lebih dari 15 kota, InstaMeet di Indonesia mengangkat keindahan alam Indonesia, tempat-tempat bersejarah dan kreativitas komunitas yang menginspirasi. Otentisitas dan positivisme merupakan beberapa pesan utama yang dibagikan selama kegiatan berlangsung.

Beberapa keseruan WWIM’16 yang diadakan di Indonesia, bisa dinikmati di link berikut: www.curatedinstagram.wordpress.com/2017/09/11/wwim16-indonesia-highlights/

Kota Link
Jakarta https://instagram.com/p/BY3Ze9Whrdp/
Bromo/Asia https://instagram.com/p/BY4eMrLDTar/
Aceh https://instagram.com/p/BY3jA3lhk1R/
Medan https://instagram.com/p/BY4fN_bjZQe/
Pekanbaru https://instagram.com/p/BY3XeXoBzUf/
Tasikmalaya https://instagram.com/p/BY2saxWH5qY/
Tebing Tinggi https://instagram.com/p/BY4ogPUHY8H/
Bandung https://instagram.com/p/BY3ivpPHF_A/
Sumedang https://instagram.com/p/BY4tI0rl0sY/
Surakarta https://instagram.com/p/BY3gMCUjTTf/
Semarang https://instagram.com/p/BY3LNugAgSS/
Pare https://instagram.com/p/BY3kKUHFko9/
Makassar https://instagram.com/p/BY21mTkgnZ1/
Dumai https://instagram.com/p/BY3WIWfA2Ec/
Morotai https://instagram.com/p/BY3zU0JhO9t/
Manado https://instagram.com/p/BY4RtlGl6Xi/

Mengelola Peternakan Sapi dari Awan

Ilustrasi peternakan sapi Chitale Dairy.

Maharashtra yang terletak di sebelah barat India mungkin menjadi tempat terakhir yang bakal dilirik ketika berbicara tentang implementasi teknologi terkini. Namun, siapa menyangka kalau negara bagian kedua terpadat penduduknya di India itu sukses menerapkan inisiatif berbasis cloud “Cows to Cloud” dan meraih manfaat berupa peningkatan kualitas ternak dan produksi susu?

Cerita kesuksesan itu datang dari Chitale Dairy, sebuah pabrik penghasil susu yang berlokasi di Palus, sebuah kota kecil di jantung Maharashtra. Menghasilkan 400 ribu liter susu per hari dan aneka produk olahan susu sapi, seperti cream, mentega, dan yogurt, peternakan milik keluarga Chitale ini menjadi basis bagi pasar produk-produk susu dan olahannya di Maharashtra.

Chitale Dairy mengelola sekitar 200 ribu ekor sapi. Namun dari jumlah itu, hanya seribu ekor yang ada di lingkungan peternakan. Sisanya dimiliki dan dipelihara di 10 ribu peternakan kecil yang tersebar di Maharashtra dan dikelola secara remote oleh Chitale Dairy.

Peternak tradisional pada umumnya memelihara hewan ternak di tanah miliknya dan sulit memperoleh akses informasi kesehatan ternak. Hal tersebut berpengaruh pada produksi dan kualitas susu sapi yang rendah, pengembangbiakan serta pengelolaan kesehatan hewan ternak yang kurang baik.

Padahal, jika dapat meningkatkan kesehatan hewan ternaknya, para petani dapat memperoleh susu yang lebih berkualitas dengan jumlah yang lebih banyak. Sapi yang lebih produktif akan memampukan para petani mengoptimalkan penggunaan lahan ternaknya. Mereka tidak perlu memelihara sapi dalam jumlah besar untuk meningkatkan produksi susu.

Ketika lahan peternakan bisa dioptimalkan, petani berpeluang memperoleh pendapatan tambahan dengan menanam tanaman pangan di lahan yang tersisa. Dengan pendapatan tambahan ini, para peternak dapa membiayai pendidikan anaknya. Berbekal pendidikan yang lebih baik, generasi muda di Maharashtra akan mendapat berbagai peluang baru.

Padukan Cloud dan SMS

Penerapan teknologi dalam bisnis ternak sebenarnya bukan hal baru bagi Chitale Dairy. Komputerisasi pertama kali diperkenalkan di lingkungan peternakan pada tahun 1984 oleh ayah dari dari Vishwas Chitale (CEO, CTO Chitale Dairy) dan manfaat nyatanya langsung dirasakan.

Untuk meningkatkan produksi susu dan kualitas ternak, Chitale Dairy dan para peternak satelitnya membutuhkan data, terutama data kesehatan setiap hewan ternak. Untuk itu, Chitale berupaya memberi kemudahan bagi para peternak untuk mengakses data tersebut melalui cloud.

Kemudahan akses ini dikemas dalam sebuah program yang diberi nama “Cows to Cloud”. Chitale Dairy memanfaatkan komputasi awan untuk memberi notifikasi tentang kesehatan dan potensi pengembangbiakan hewan ternak kepada para peternak di seluruh kawasan Maharashtra.

Petugas memeriksa data sapi-sapi di peternakan yang dikelola Chitale Dairy.

Bagaimana data tentang kondisi sapi dapat disimpan di cloud? Untuk mengoneksikan sapi ke cloud, Chitale Dairy memasang tag Radio-Frequency Identification (RFID) pada setiap hewan ternak. Setidaknya ada lebih dari 50 ribu ekor sapi milik para peternak satelit yang dipasangi tag RFID.

Data dari setiap ekor sapi, misalnya profil darah dan genetis, kebutuhan nutrisi, dan produksi susu, dikumpulkan dan dikirimkan setiap harinya secara otomatis ke data center milik Chitale Dairy. Data-data tersebut akan diolah dan diinterpretasikan oleh para ahli ternak dan dokter hewan di kantor pusat Chitale Dairy. Selanjutnya, informasi tentang kesehatan, pakan, dan pengembangbiakan ternak dikomunikasikan kepada para peternak.

Nah uniknya, salah satu ujung tombak dari teknologi cloud itu adalah short messaging system (SMS). Berbagai informasi tentang kondisi hewan ternak tersebut disampaikan ke peternak yang jumlahnya ribuan melalui pesan SMS. Peternak yang memiliki hanya lima maupun seratus ekor sapi sama-sama dapat mengakses informasi kesehatan hewan peliharaannya melalui situs web, SMS, atau menelepon langsung ke call center Chitale Dairy.

“Sangat efektif biaya dan mudah,” ujar Vishwas Chitale mengomentari pemanfaatan teknologi SMS dalam program Cows to Cloud ini. Setiap peternak memiliki telepon seluler. SMS karena itu adalah teknologi messaging paling sederhana yang pasti terpasang di telepon genggam.

Menurut Vishwas, cloud computing digunakan untuk membantu Chitale Dairy melakukan scaling terhadap sumber daya komputasi agar dapat menjangkau lebih banyak peternak. “Konsep ‘Cows to Cloud’ dicetuskan, di mana informasi dari setiap ekor sapi dapat tersedia di cloud dan dapat diakses melalui web maupun SMS oleh para peternak kami,” imbuhnya.

Di balik program “Cows to Cloud”, ada teknologi VMware yang membantu Chitale Dairy mentransfer data dari sapi ke cloud dan juga memindahkan lebih dari 25 aplikasi yang tergolong business-critical ke private cloud. Teknologi VMware tersebut sudah dilengkapi dengan fitur automated operations management, disaster recovery, dan software-defined security.

Selain mengembangkan sistem berbasis teknologi, Chitale juga menyediakan layanan veterinary care gratis. Tujuannya, agar para peternak dapat meningkatkan kualitas ternak dan memperoleh akses yang memadai terhadap tenaga ahli di bidang peternakan.

Selain menyediakan teknologi dan layanan gratis, Chitale Dairy juga memperhatikan komponen edukasi. Peternakan Chitale menawarkan kelas-kelas gratis kepada para peternak maupun karyawannya. Tujuannya adalah menginspirasi dan membekali para wirausahawan dengan kemampuan untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga dan masyarakat.

Chitale Dairy menggunakan solusi VMware untuk mengelola data yang dihasilkan oleh sapi-sapi milik para peternak.

Tingkatkan Produktivitas, Hijaukan Negeri

Berkat kemudahan memperoleh data yang dibutuhkan peternak untuk mengelola hewan-hewan ternaknya secara optimal, average yield setiap sapi dapat ditingkatkan.

Dengan sapi yang lebih produktif, peternak Maharashtra dapat mengurangi ketergantungan mereka terhadap jumlah sapi sampai sepuluh kali lipat. Dampak berikutnya adalah berkurangnya biaya untuk mengelola sapi dalam jumlah lebih besar demi mendapatkan tingkat produksi susu yang sama.

Berkurangnya jumlah sapi berarti berkurang pula luas area lahan ternak. Artinya, peternak berpeluang memanfaatkan lahan yang tak terpakai untuk menanam tanaman pangan.

Untuk menggarap peluang ini, Chitale telah menyiapkan program lainnya yang dinamai “Fields to Farms”. Program tersebut akan membantu peternak menanam dan mendistribusikan hasil pertanian melalui sistem koperasi sehingga pendapatan peternak/petani pun meningkat.

Pemanfaatan tanah untuk lahan pertanian juga diharapkan akan membuat India—setidaknya negara bagian Maharashtra—menjadi lebih hijau. Sementara itu, dengan kesehatan sapi yang lebih terjaga, kualitas susu yang dihasilkan pun akan menjadi lebih baik. Ini pada gilirannya akan meningkatkan kesehatan masyarakat.

Keluarga Chitale membangun bisnisnya di atas sebuah motto: “Give back to the community what you gain”, berikan kembali apa yang sudah diperoleh kepada masyarakat.

Seperti pebisnis lainnya, Chitale Dairy pun berkontribusi terhadap kesejahteraan masyarakat dengan memberi bantuan pada sekolah-sekolah dan membangun infrastruktur. Namun, transformasi ekonomi lokal yang sesungguhnya diciptakan Chitale Dairy melalui hal yang tak terduga: meningkatkan kesehatan dan produktivitas sapi.

Video Studi Kasus Chitale Dairy:

https://www.youtube.com/watch?v=XplO8MCocAE

Bos Apple: iPhone Bukan Hanya untuk Orang Kaya

Tim Cook (CEO Apple) memaparkan keunggulan iphone 7 di Bill Graham Civic Auditorium, San Francisco, AS.

iPhone bisa memberikan kesan prestis dan mengangkat citra pemiliknya, mengingat harga iPhone yang terbilang mahal. Apalagi, Apple akan meluncurkan smartphone flagship terbarunya iPhone 8 atau iPhone X besok.

Namun, produk Apple yang identik dengan harga mahal langsung dibantah oleh Tim Cook (CEO Apple) dalam wawancaranya dengan Fortune.

“Jika kalian melihat seluruh lini produk kami, kalian bisa membeli iPad di bawah harga USD 300. Kalian juga bisa membeli iPhone dengan rentang harga yang sama, tergantung modelnya,” kata Cook.

Cook mengatakan Apple telah memproduksi 1 miliar produk, berarti Apple tidak memproduksi perangkat hanya untuk orang-orang kaya. “Jadi, produk kami bukan untuk orang kaya saja,” tegasnya.

Sebagai informasi, iPhone resmi paling murah yang diproduksi Apple saat ini adalah iPhone SE dengan harga US$399 (sekitar Rp6 jutaan). Tetapi, konsumen masih bisa menemukan iPhone generasi lawas, seperti iPhone 5, 5s, 5c, 6, dan 6s dengan harga mulai Rp1,5 jutaan sampai Rp5 jutaan.

Cook mengatakan bahwa Apple telah mengubah dunia dengan memproduksi perangkat yang memungkinkan penggunanya melakukan hal-hal yang tidak dapat mereka lakukan.

Cook juga membantah Apple mengambil untung yang besar dari penjualan produk-produknya karena masih banyak perusahaan selain Apple yang lebih besar mengambil untungnya.

“Ada banyak perusahaan yang mengambil margin jauh lebih besar dari kami. Kami mematok harga sesuai value produk kami karena kami selalu membuat produk yang benar-benar berkualitas,” ujarnya.

Beredar rumor, harga iPhone 8 atau iPhone X akan sangat mahal, bahkan mencapai USD 1.000 (sekitar Rp13 jutaan) karena iPhone generasi terbaru itu mengusung layar OLED dan fitur AR. Investor pun menanggapi positif peluncuran iPhone 8, menyusul saham Apple naik 1,81% hari ini menjadi $ 161,50.

Nicholas Negroponte: Pencetus Gagasan Desain dan Multimedia Berbasis Teknologi

Nicholas Negroponte (Founder & Chairman of One Laptop per Child Association).

Nicholas Negroponte telah menjadi pembawa kabar di era digital, dan menjadi penulis buku terlaris Being Digital (1995). Buku ini berisi tentang pertumbuhan dan masa depan teknologi. Pendiri dan chairman emeritus dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) Media Lab ini adalah sosok penting di balik berdirinya lembaga nirlaba One Laptop Per Child (OLPC).

Negroponte dilahirkan pada 1 Desember 1943 dan merupakan seorang warga negara Amerika Serikat. Namun ia memiliki darah Yunani dari ayahnya, Dimitri John, yang merupakan raja kapal Yunani. Ia adalah adik John Negroponte (mantan wakil Menteri Dalam Negeri AS). Saudara kandungnya yang lain adalah Michael Negroponte, salah satu pemenang Emmy Awards. Saudara sekandung lainnya, George Negroponte, adalah seorang seniman dan Presiden Drawing Center (2002 – 2007).

Semasa sekolah, Negroponte kerap berpindah-pindah sekolah. Ia bersekolah di tempat berbeda, mulai dari Buckley School di New York City, Le Rosey di Switzerland, dan The Choate School (sekarang Choate Rosemary Hall) di Wallingford, Connecticut. Ia sendiri lulus pada tahun 1961.

Saat SMA, Negroponte sangat pandai di bidang seni dan matematika. Selanjutnya, Negroponte belajar di MIT sebagai mahasiswa sarjana dan pascasarjana di bidang arsitektur.

“Setelah empat tahun berkuliah di jurusan arsitektur, saya menyadari persimpangan antara seni dan matematika adalah komputer, jadi saya segera beralih ke desain dengan bantuan komputer,” ujar Negroponte. Menurutnya, itu yang mengubahnya sehingga berkutat dengan komputer, grafis, dan kemudian ke Lab Media.

Penelitiannya kala itu berfokus pada isu-isu desain menggunakan komputer. Negroponte lantas meraih gelar master di bidang arsitektur di MIT pada tahun 1966. Meskipun Negroponte memiliki karier akademis yang baik, sebenarnya ia memiliki disleksia dan kesulitan untuk membaca.

Meneliti Interaksi Manusia dan Komputer

Negroponte bergabung dengan MIT pada tahun 1966. Beberapa bulan kemudian ia mulai membagi waktunya untuk mengajar di MIT dan menjadi dosen tamu di Yale, Michigan, dan Universitas of California, Berkeley.

Dalam waktu setahun kemudian, pada 1967 Negroponte mendirikan Architecture Machine Group di MIT. Ini merupakan sebuah kombinasi laboratorium dan think tank yang mempelajari pendekatan baru terhadap interaksi manusia dengan komputer.

Pada 1985, bersama Jerome B Wiesner, Negroponte mendirikan Media Lab di MIT. Saat itu, Negroponte menduduki posisi direktur dan mengembangkan laboratorium tersebut ke laboratoriun sains komputer unggulan untuk media baru dan taman bermain berteknologi tinggi. Ini ia lakukan demi menyelidiki interaksi manusia dengan komputer.

Kemudian di tahun 1992, Negroponte terlibat dalam penciptaan Wired Magazine sebagai investor pertama. Dari tahun 1993 sampai 1998, ia berkontribusi menyumbangkan berbagai gagasannya.

Kumpulan tulisannya kemudian ia bukukan menjadi buku berjudul Being Digital (terbit pada 1995). Di buku tersebut, Negroponte membuat prediksi tentang bagaimana menggabungkan dunia interaktif, dunia hiburan, dan dunia informasi. Negroponte percaya bahwa komputer dapat membawa hidup manusia menjadi lebih baik. Pada akhirnya Being Digital menjadi buku terlaris dan sempat dibukukan ke dalam dua puluh bahasa.

Kemudian pada 1980, Negroponte meramalkan bahwa teknologi kabel seperti telepon akan menjadi tidak aman karena menggunakan gelombang udara dan bukan kabel serat optik.

Bill Gross (CEO of Idealab), Jim Oswald (XPRIZE), Nicholas Negroponte (Founder & Chairman of One Laptop per Child Association). [Kredit: Flickr/XPRIZE Foundation]
Memulai Inisiatif One Laptop Per Child

Sejak pertengahan tahun 2000-an, beberapa pakar teknologi di negara maju seperti Amerika mulai memikirkan bagaimana caranya untuk memperluas penyebaran perangkat komputer murah dan tahan banting ke negara berkembang di seluruh dunia.

Atas prakarsa Nicholas Negroponte-lah maka berdirilah satu yayasan sosial yang dinamakan “One Laptop per Child” (OLPC/Satu Laptop per Anak). OLPC merupakan lembaga nirlaba yang terkenal menciptakan dan mendistribusikan jutaan perangkat pendidikan berkualitas dan murah kepada anak-anak di negara berkembang.

Pada tahun 2000, Negroponte mengundurkan diri sebagai Direktur Media Lab saat Walter Bender mengambil alih sebagai Direktur Eksekutif. Namun, Negroponte tetap memegang peran sebagai Ketua Laboratorium. Ketika Frank Moss diangkat sebagai Direktur Laboratorium Media Lab pada tahun 2006, Negroponte mengundurkan diri sebagai ketua Media Lab untuk lebih fokus kepada pekerjaannya di One Laptop Per Child, yakni laptop seharga 100 dolar AS.

Pada bulan November 2005, pada Konferensi Tingkat Tinggi Dunia mengenai Masyarakat Informasi yang diadakan di Tunisia, Negroponte meluncurkan konsep komputer laptop seharga 100 dolar AS tersebut. Proyek tersebut ia namakan The Children’s Machine yang dirancang untuk siswa di negara berkembang. Namun, harganya kini mengalami peningkatan menjadi 180 dolar AS.

Negroponte adalah investor berhati malaikat dan telah berinvestasi di lebih dari 30 perusahaan startup selama 30 tahun terakhir, termasuk Zagats, Wired, Ambient Devices, Skype, dan Velti. Ia pun menduduki beberapa posisi penting, termasuk Motorola dan Velti. Dia juga menjadi salah satu dewan penasehat TTI/Vanguard.

Pada bulan Agustus 2007, ia diangkat ke sebuah komite khusus beranggotakan lima orang. Komite ini bertujuan memastikan integritas jurnalistik dan editorial yang terus berlanjut dan independensi Wall Street Journal serta publikasi dan layanan Dow Jones & Company lainnya.

Gara-gara Badai Irma, Aplikasi Ini Diunduh 1 Juta Orang dalam Sehari

Badai Irma sempat memorak-porandakan kawasan Amerika Serikat dan sekitarnya pada pekan lalu. Namun, badai Irma juga membawa berkah bagi aplikasi walkie-talkie Zello yang langsung diunduh 1 juta orang dalam satu hari ketika badai Irma melanda.

Bahkan, aplikasi itu berada di puncak nomor satu aplikasi paling favorit di Apple App Store, menggeser YouTube, Facebook, dan Snapchat. Hingga kini, pengguna aplikasi Zello sudah mencapai 100 juta pengguna.

Zello pun harus menambah 18 server untuk melayani lonjakan pengguna ini.

“Kami melihat banyak orang yang mengunduh Zello sebagai persiapan badai Irma. Ada lebih dari 1 juta orang yang tergabung di hari terakhir dan sebagian besar berasal dari Puerto Riko dan Florida,” kata Alexey Gavrilov (Pendiri Zello) dalam postingannya seperti dikutip Tech Crunch.

Kenapa Zello tiba-tiba populer?

Zello diluncurkan tahun 2012 sebagai aplikasi chat dan berkirim pesan.

Tetapi, cara kerja Zello berbeda dengan aplikasi pesan lainnya karena pengguna tidak perlu menghubungi nomor telepon atau mengirim teks. Pengguna cukup menyentuh dan memegang tombol “echo” untuk berbicara satu sama lain hingga 2.000 orang sekaligus, mirip fungsi perangkat walkie-talkie.

Zello juga tersedia untuk banyak platform, termasuk iOS, Android, BlackBerry OS, Windows 8, Windows 10, dan Windows PC.

Tetapi, Zello memperingatkan bahwa aplikasinya akan menghabiskan banyak daya baterai karena harus bekerja dengan jaringan Wi-Fi dan seluler.

Aplikasi walkie-talkie yang mampu mengirimkan pesan suara seperti Zello diyakini lebih ampuh digunakan dalam situasi bencana. Pasalnya, para pengguna bisa saling mengirim pesan ke kelompok yang lebih besar dan kanal-kanal publik dan tidak terbatas teks.

 

 

 

Xiaomi Mi Note 3 Punya Kamera Ganda, Berapa Harganya?

Xiaomi Mi Note 3

Xiaomi resmi meluncurkan Xiaomi Mi Note 3 di Beijing University of Technology, Tiongkok, sekaligus menggantikan Mi Note 2 yang telah memulai debutnya pada tahun lalu.

Mirip Mi 6, Xiaomi Mi Note 3 memiliki bezel tebal di bagian atas dan bawah dengan punggung yang melengkung serta menawarkan pemindai sidik jari pada bagian depan.

Xiaomi Mi Note 3 mengusung layar Full HD 5,5 inci dengan resolusi 1920 x 1080 pixel dan aspek rasio 16: 9, prosesor Snapdragon 660, RAM 6 GB dan dua opsi penyimpanan (64 GB dan 128 GB), serta tambahan selot kartu microSD.

Smartphone itu juga mengusung sistem operasi Android 7.1 Nougat dengan MIUI 9 serta baterai 3.050 mAh dengan Quick Charging 3.0 dan USB Type-C, seperti dikutip Gizmo China.

Xiaomi Mi Note 3 menawarkan konfigurasi kamera ganda dengan lensa utama 12 megapixel f1.8 dan sebuah lensa telephoto sudut lebar 12 megapixel f2.6 serta fitur optical zoom 2X.

Selain itu, Xiaomi Mi Note 3 memiliki kamera depan 16 megapixel yang memiliki fitur Beautify untuk menghasilkan selfie yang lebih alami. Xiaomi Mi Note 3 juga memiliki metode unlocking melalui pengenalan wajah berbasis AI yang bisa membuka kunci ponsel dengan melakukan selfie

Xiaomi Mi Note 3 hadir dalam tiga varian. Mi Note 3 varian pertama menawarkan RAM 6 GB dan memori internal 64 GB dengan pilihan warna hitam dan harganya RMB 2.499 atau sekitar Rp5 juta.

Dua varian lainnya hadir dengan RAM 6 GB dan penyimpanan 128 GB. Satu-satunya perbedaan antara kedua varian itu dalam pilihan warna. Xiaomi Mi Note 3 biru dibanderol RMB 2.999 atau sekitar Rp6 juta sedangkan varian warna hitam dibanderol dengan harga RMB 2.899 atau sekitar Rp5,8 juta.

Xiaomi Mi Mix 2 Tawarkan Bodi Keramik, Snapdragon 835, dan RAM 8 GB

Xiaomi Mi Mix 2

Xiaomi resmi meluncurkan smartphone flagship-nya, Xiaomi Mi Mix 2, yang tetap mengandalkan layar tanpa bingkai alias bezel-less di Beijing University of Technology, Tiongkok.

Mi Mix 2 masih mengandalkan bodi keramik untuk menampilkan kemewahan dan memiliki layar 5,9 inci dengan aspek rasio layar 18:9 dari yang sebelumnya 17:9.

Mi Mix 2 menjadi smartphone pertama yang mengusung layar definisi tinggi (high definition) dengan rasio 18:9 dengan resolusi layar 1080 x 2160 pixel. Xiaomi Mi MiX 2 dirancang berdasarkan konsep orisinal besutan Philippe Starck, desainer asal Perancis. Namun, sekarang layar Mi Mix 2 lebih besar 11,9 persen dibandingkan Mi Mix.

Smartphone itu mengusung chipset Snapdragon 835, RAM 6 GB atau 8 GB dan media penyimpanan mulai dari 64 GB, 128 GB, hingga 256 GB.

“Mi Mix 2 telah berevolusi sebuah desain dan teknologi yang telah melalui proses pengkajian tingkat tinggi, tanpa mengesampingkan fitur-fitur impresif lainnya,” kata Lei Jun (CEO, Xiaomi) seperti dikutip Slashgear.

Xiaomi Mi Mix 2

Xiaomi Mi Mix 2 mengusung kamera 12 megapixel dengan sensor Sony IMX386 terbaru dan stabilisasi optik 4-axis (OIS) yang dapat mengurangi efek gerak, sehingga gambar dan video tetap tajam.

Smartphone teranyar Xiaomi ini memiliki dua varian desain berdasarkan balutan bodi, yakni logam dan keramik. Sayangnya, kameranya sendiri belum mengikuti tren kamera ganda alias dual-camera.

Xiaomi Mi Mix 2 dibanderol mulai RMB 3.299 atau setara Rp6,6 juta untuk model dengan RAM 6 GB dan memori internal 64 GB. Untuk model 6GB + 128 GB dibanderol RMB 3.599 atau sekitar Rp7,2 juta dan model 6 GB + 256 GB dibanderol RMB 3.999 atau sekitar R 8 juta. Sedangkan edisi khusus unibody 8 GB + 128 GB dibanderol Rp11 juta.

Review Smartphone