18 | September | 2017 | InfoKomputer Online

Arsip Harian: Sep 18, 2017

Facebook Bikin Pusat Informasi untuk Respons Krisis

Facebook meluncurkan pusat informasi yang memungkinkan masyarakat bisa mengumpulkan lebih banyak informasi mengenai permasalahan dan krisis termasuk Pemeriksaan Keamanan, Bantuan Komunitas dan Pengumpulan Dana untuk mendukung pemulihan setelah krisis dalam satu tempat.

Nowak (Product Director Social Facebook) mengatakan Facebook telah mengembangkan sejumlah perangkat untuk merespon krisis. Ketika terjadi krisis, orang menggunakan Facebook untuk memberitahu teman-teman dan keluarga tentang keadaan mereka.

“Pusat Informasi memungkinkan pengguna Facebook memahami dan membagikan informasi serta membantu komunitas untuk memulihkan keadaan,” katanya dalam siaran persnya, Senin.

Nowak mengatakan Facebook juga memperkenalkan tautan untuk artikel, video, dan foto yang diposting secara publik oleh komunitas Facebook. Pengguna pun dapat mengakses Respon Krisis di Facebook dalam beberapa minggu mendatang dari homepage di dekstop atau tombol menu di ponsel mereka.

Pemeriksaan Keamanan: sebuah cara mudah yang memungkinkan teman-teman dan keluarga Anda mengetahui bahwa Anda berada dalam keadaan aman. Fungsinya akan tetap sama seperti yang sudah ada saat ini dan akan ditampilkan di bagian atas dari laman krisis jika Anda sedang berada di area yang sedang terkena krisis.

“Kami akan mulai menyertakan tautan untuk artikel, foto, video dari postingan publik, sehingga orang mempunyai akses untuk informasi lebih lanjut mengenai sebuah krisis di suatu tempat,” ujarnya.

Pengaktifan Pemeriksaan Keamanan dan informasi krisis juga akan muncul di linimasa untuk membantu memberikan detil tambahan mengenai sebuah krisis.

“Kami harap pembaruan ini akan terus memberikan orang-orang informasi yang membantu mereka untuk tetap aman dan membantu komunitas untuk melakukan pemulihan keadaaan,” pungkasnya.

Gandeng Timex, BlackBerry Berencana Luncurkan Smartwatch

Smartwatch BlackBerry

BlackBerry akan mencoba peruntungannya dalam pasar smartwatch, menyusul pertumbuhan pasar jam tangan pintar terus meningkat setiap tahunnya. BlackBerry pun menggandeng Timex yang merupakan produsen jam tangan ternama asal Amerika Serikat.

Kerjasama itu menyangkut sejumlah lisensi paten termasuk portofolio kekayaan intelektual milik Blackberry seperti komunikasi nirkabel, infrastruktur jaringan, sistem operasi, termasuk keamanan.

Jerald Gnuschke (Senior Director of Intellectual Property Licensing BlackBerry) mengatakan kerja sama itu memungkinkan kedua perusahaan ternama fokus untuk membuka peluang di pasar komunikasi mobile.

“Kerja sama ini menandakan kekuatan portofolio paten milik BlackBerry dan memungkinkan kami untuk fokus peluang lisensi paten lebih lanjut di pasar komunikasi mobile,” katanya seperti dikutip Phone Arena.

Sebelumnya, BlackBerry telah menggandeng TCL untuk memproduksi smartphone.

Biaya Produksi iPhone X Tak Sampai Separuh Harga Jualnya

Apple telah resmi meluncurkan iPhone terbaru iPhone 8, iPhone 8 Plus, dan iPhone X pada pekan lalu. Di antara ketiga iPhone yang dirilis bersamaan, iPhone X merupakan seri yang paling diunggulkan.

Apple pun membanderol iPhone X untuk memori internal 64 GB senilai 999 dolar AS atau sekitar Rp13 juta seperti dikutip GSM Arena.

Namun, berapa sih yang Apple keluarkan untuk membeli iPhone X?

Menurut laporan investigasi iChunt asal Tiongkok, biaya produksi iPhone X hanya 412,75 dolar AS atau sekitar Rp5,4 juta, berarti sekitar 59 persen lebih murah dibandingkan harga ritel.

Tentunya, komponen iPhone X yang paling mahal adalah layar OLED Super Retina 5,8 inci buatan Samsung. Apple harus membayar 86 dolar atau sekitar Rp1 jutaan untuk satu unit panel layar, lebih mahal dibandingkan komponen lainnya.

Selain itu, biaya chip prosesor TSMC A11 Bionic yang mengusung pabrikasi 10nm senilai 26 dolar AS dan modem Qualcomm yang ada di atasnya berbanderol 18 dolar AS.

Apple pun menghabiskan biaya 25 dolar AS untuk sensor 3D Face ID, 45 dolar AS untuk memori NAND Toshiba 256 GB, dan 24 dolar AS untuk RAM 3 GB.

Namun, ongkos produksi itu belum final karena Apple akan menambahkan biaya tambahan lainnya seperti logistik, pengembangan peranti lunak, dan lain sebagainya.

Pindah ke Grab, Bos LINE Indonesia Akan Pimpin GrabPay

Grab mengumumkan perekrutan Ongki Kurniawan sebagai Managing Director GrabPay di Indonesia.

Grab mengumumkan perekrutan Ongki Kurniawan sebagai Managing Director GrabPay di Indonesia. Sebelumnya, Ongki memimpin LINE Indonesia selaku Managing Director dan juga pernah menjabat posisi Chief Digital Services Officer dan Chief Information Officer (CIO) di XL Axiata.

Oleh Grab, Ongki ditugasi untuk membantu GrabPay dalam membangun kemitraan yang kuat di seluruh ekosistem, mempercepat integrasi Kudo dengan Grab, dan melanjutkan perluasan pasar online Kudo serta jaringan mitra bisnis kecilnya.

Seperti diketahui, Grab telah mengakuisisi Kudo pada Mei 2017 dan memanfaatkannya sebagai ujung tombak pengembangan bisnis berbasis transaksi nontunai ke berbagai wilayah di Indonesia. Kudo diharap dapat membawa lebih banyak masyarakat memasuki ekonomi digital dengan memberi akses ke pembayaran online melalui agen offline.

“Visi GrabPay untuk membawa seluruh masyarakat memasuki ekonomi digital adalah salah satu cara untuk membantu mewujudkan target Indonesia menjadi negara dengan ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara dan saya berharap dapat menjadi bagian dari perjalanan tersebut,” ungkap Ongki dalam keterangan pers.

Sebagai bagian dari tim kepemimpinan di Indonesia, Ongki secara langsung berada di bawah Jason Thompson, Head of GrabPay. Sementara itu, Grab Indonesia akan tetap dipimpin oleh Ridzki Kramadibrata selaku Managing Director.

“Pemahaman mendalam Ongki terhadap pasar Indonesia akan membantu kami dalam mengubah GrabPay menjadi platform pembayaran mobile yang paling relevan dan paling banyak digunakan di Indonesia,” kata Jason Thompson (Head of GrabPay).

Ke depan, Ongki bakal bekerja dengan 150 engineer lokal di pusat R&D Grab di Jakarta serta jaringan mitra yang luas untuk membangun solusi pembayaran terbaik bagi konsumen dan UKM Indonesia serta dapat memberikan diferensiasi di industri pembayaran Indonesia yang tergolong baru dan masih terfragmentasi.

Grab juga berencana untuk memperluas penggunaan GrabPay pada lebih dari 1.000 merchant, seperti di industri makanan dan minuman, retail, dan hiburan, pada kuartal keempat tahun 2017.

Jim Fowler: Pakai Konsep Horizontal IT untuk Percepat Transformasi Digital di GE

Jim Fowler (CIO, General Electric).

Ketika sebuah perusahaan yang usianya mencapai lebih dari 120 tahun, seperti GE, masih tegak berdiri di tengah era yang penuh dengan perubahan seperti saat ini tentu orang akan berdecak kagum.

GE adalah satu-satunya perusahaan dalam daftar asli Dow Jones Industrial Average (DJIA) yang masih eksis hingga kini. Sebagai informasi, DJIA pertama kali dirilis pada tahun 1896 dan mencantumkan dua belas nama perusahaan di dalamnya.

“GE adalah perusahaan berumur 120 tahun dan bisa bertahan karena memunyai pemimpin-pemimpin hebat, seperti Jeff Immelt, yang dapat melihat apa yang akan terjadi,” kata Jim Fowler (Chief Information Officer, GE) memuji mantan CEO GE itu.

Menurutnya, para pemimpin GE mampu meniti gelombang inovasi baru dan mentransformasi bisnis secara internal sebelum dilumat oleh kekuatan-kekuatan di luar GE. “Peran kami di sini hanyalah membantu [para pemimpin GE],” ucap Jim seperti dikutip dari ComputerWeekly.com.

Namun salah satu pemenang Forbes CIO Innovation Awards tahun 2017 ini tentu sekadar merendah. Pada kenyataannya, TI adalah aset penting bagi GE dalam mewujudkan visi Jeff Immelt yakni menempatkan GE di deretan sepuluh perusahaan software terbaik di dunia. Dengan software, GE akan mengevolusi produk dan layanan yang mereka tawarkan ke pelanggan.

Ketika ditanya Forbes mengenai peran Jim Fowler, Jeff Immelt menjelaskan, “Kami melakukan transformasi TI yang masif di GE dan kami membutuhkan seorang CIO tipe baru dan Jim adalah orang yang tepat untuk memimpin transformasi.”

Immelt pun menekankan peran penting Jim dengan berkata, “Saat berada di tengah diskusi tentang bagaimana mendorong pendapatan dan produktivitas di GE, saya ingin Jim ada di samping saya untuk membuat keputusan tentang itu.”

Menurut Immelt, pekerjaan CIO sudah beranjak dari sekadar menekan biaya dan helpdesk. Mereka kini menuntut sebuah posisi dalam pembuatan keputusan. “Ketika saya harus mendorong terciptanya produktivitas layanan bernilai miliaran dolar dan kualitas pelanggan yang lebih baik, Jim dan divisi Digital Technology adalah bagian terpenting dalam proses,” tukasnya.

Terapkan Horizontal IT

Mau tak mau, suka tak suka, korporasi industri seperti GE akan berkecimpung dalam bisnis informasi. “Mesin pesawat jet terbaru buatan GE Aviation menghasilkan data dalam hitungan terabyte dari setiap penerbangan. Lokomotif yang kami buat sebenarnya adalah data center bergerak,” ujar Jim.

Untuk menjadi digital industrial company, GE akan sangat bertumpu pada data dan analytics, serta aneka teknologi terkini seperti machine learning, artificial intelligence, dan Internet of Things sebagai value bagi pelanggan. Tak pelak, divisi TI pun berperan penting dalam transformasi digital GE.

Sebagai “mesin” transformasi GE, tentu divisi TI pun harus bertransformasi terlebih dahulu. “Kami bertransformasi dari back office administrator menjadi productivity maker,” jelas pria yang berpengalaman selama lima belas tahun memimpin organisasi TI di berbagai unit bisnis GE, seperti GE Capital, GE Aviation, Intelligent Platforms, Power Generation Services, dan Power & Water.

TI tidak lagi hanya merupakan sebuah “piston” dalam “mesin”’ penggerak setiap unit bisnis. TI kini harus menjadi engine bagi seluruh unit bisnis GE dengan cara kerja horizontal. “Kami beranjak dari vertical business silos, dan sekarang beroperasi secara horizontal guna membantu setiap lini dalam perusahaan,” imbuh Jim.

Sebagai konsekuensinya, pengembangan aplikasi dan sistem pun harus dilakukan secara horizontal. “Kami harus membangun aplikasi sedemikian rupa agar dapat berjalan di berbagai unit bisnis GE,” ungkap Jim Fowler seperti dikutip dari Biz Journals. Dengan cara ini, pengembangan solusi dan sistem yang independen dan redundan dapat dihindari.

Contohnya, tim Development dalam divisi TI GE yang disebut GE Digital Technology, melakukan refactoring terhadap aplikasi SmartOutage yang awalnya dikembangkan oleh GE Power. Dengan proses refactoring tersebut, aplikasi SmartOutage dikembangkan menjadi aplikasi mobile field service FieldVision yang dapat dimanfaatkan oleh unit bisnis lain di lingkungan GE.

Contoh inovasi horizontal IT lainnya adalah menyediakan Digital Hub yang dapat diakses oleh karyawan GE di seluruh dunia. Data, advanced analytics, dan koneksi dengan beragam unit bisnis di berbagai belahan dunia diharapkan akan memampukan mereka menciptakan aplikasi.

“Mentransformasi TI untuk sepenuhnya menjadi horizontal IT function adalah sebuah evolusi penting terutama ketika kami mempertimbangkan cara-cara kerja baru yang lebih efisien di lingkungan perusahaan,” ujar sarjana sains lulusan Miami University ini.

Transformasi tersebut mampu menciptakan produktivitas senilai US$730 juta pada tahun 2016, dan sebanyak 70 persen di antaranya datang dari GE Aviation dan GE Power. Lebih dari lima puluh persen produktivitas itu berasal dari optimalisasi unit bisnis yang menyelenggarakan field service. GE menargetkan pencapaian produktivitas senilai US$1 miliar dengan memanfaatkan teknologi digital.

Jim Fowler (CIO, General Electric).

Tiga Cara Percepat IT Delivery

Untuk menghantarkan layanan TI yang lebih cepat, Jim Fowler melakukannya dengan tiga cara. Pertama, divisi TI menerapkan model organisasi yang lebih flat dan terdiri atas beberapa tim kecil. Setiap tim bertanggung jawab atas proyek-proyek kecil untuk mengembangkan produk dalam waktu sembilan puluh hari. Setiap tim memfokuskan pada satu pekerjaan yang akan mereka kelola sepanjang lifecycle-nya.

Langkah kedua adalah menciptakan workforce. “Artinya, tenaga kerja kami haruslah karyawan GE. Saat ini kami memiliki 5.000 profesional TI yang bekerja untuk GE dan 14.000 kontraktor. Para kontraktor itu juga orang-orang hebat tetapi sumbangsih mereka terhadap kesuksesan perusahaan tidaklah sebesar lima ribu orang tadi,” cetus pria yang mengaku sangat menyukai teknologi baru ini seperti dikutip dari CIO.com.

Strategi ini selaras dengan visi GE untuk membangun kapabilitas sebagai digital industrial company. Saat pertama kali Jim menjadi CIO, 75 persen pekerjaan TI diserahkan kepada pihak ketiga (outsourcing) dan sebagian besar staf TI hanya ditugasi mengelola project. Outsourcing tentu tidak sesuai dengan visi membangun kapabilitas karena modal pengetahuan bagi TI untuk menciptakan nilai bisnis malah diserahkan ke orang lain.

Staf TI yang masih melakukan pemrograman dengan COBOL tentunya tidak cocok disebut sebagai agile workforce yang dibutuhkan GE di masa depan. Oleh karena itu, langkah ketiga yang ditempuh Jim adalah melakukan retraining.

Proses retraining ditempuh antara lain dengan re-platforming, mengubah platfrom sebagian besar aplikasi agar dapat berjalan di cloud. GE mengirim sepuluh orang dari area teknologi yang berbeda ke technology center GE yang ada di wilayah pantai Barat Amerika. Selama tiga minggu tim kecil yang dinamai the ninja team akan melakukan porting satu aplikasi ke cloud.

“Mereka berlatih dengan para developer kami, dan sekembalinya dari sana, mereka menjadi pemilik aplikasi yang sudah di-re-platform itu,” kata Jim. Selain sebagai sebuah latihan ulang, cara ini juga dapat membangkitkan mentalitas agile yang sangat memperhatikan technology ownership. Di saat yang sama, GE dapat memastikan kekayaan intelektual tetap aman berada di lingkungan perusahaan.

Trump Boikot Tiongkok Beli Pabrik Komponen AS

Presiden AS Donald Trump Presiden AS melarang perusahaan investasi asal Tiongkok, Canyon Bridge Capital Partner, untuk membeli pabrik semikonduktor Lattice Semiconductor di Oregon, Portland, dengan nilai akuisisi mencapai USD1,3 miliar.

Ternyata, Canyon Bridge Capital Partner menerima pendanaan dari pemerintah Tiongkok. Hal itu wajar karena banyak perusahaan teknologi di negara tersebut yang pada awal pendiriannya memang menerima pendanaan dari pemerintah setempat.

Namun, Trump memboikot proses akuisisi itu untuk melindungi perusahaan teknologi negaranya dari serbuan pihak asing dan terkait permasalah keamanan negara.

“Kami mempunyai bukti yang cukup kuat. Pembelian oleh perusahaan asing bisa menjadi celah yang mengancam keamanan nasional Amerika Serikat,” kata Trump seperti dikutip CBN.

Lattice Semiconductor adalah pabrikan produk semikonduktor untuk perangkat teknologi yang bisa diperintah melalui proses pemrograman. Lattice Semiconductor bediri sejak 1983 dengan jumlah pekerja sebanyak 1.000 orang dan telah mengantongi pendapatan tahunan sebanyak USD300 juta.

Pemerintah AS bisa membayangkan jika perangkat yang memiliki chip Lattice dibobol dan sistem keamanannya dikendalikan oleh pihak tidak bertanggung jawab.

Tak hanya AS, pemerintah Jerman juga pernah menjegal perusahaan asal Tiongkok untuk mengakuisisi pembuat chipset Aixtron SE. Huawei sebagai perusahaan teknologi besar asal Tiongkok pun mengalami penolakan yang sama.

Tiongkok memang gencar mengakuisisi atau menyuntikkan dana ke perusahaan teknologi di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat dan negara-negara di Eropa. Bahkan, Uber berhasil dicaplok kompetitornya, Didi Chuxing.

Facebook Uji Aplikasi Video Chat Grup Bonfire

Ilustrasi Facebook

Facebook sedang menguji aplikasi video chat grup mandiri Bonfire yang memungkinkan pengguna melakukan video chat dengan beberapa orang sekaligus. Saat ini Bonfire hanya bisa digunakan oleh para pengguna perangkat berbasis sistem operasi (OS) iOS di Denmark.

Aplikasi Bonfire merupakan sebuah aplikasi standalone yang menyasar anak muda yang senang berkomunikasi via video chat. Yang membedakan antara Bonfire dengan Messenger dan WhatsApp adalah kemampuan Bonfire untuk menggunakan filter saat melakukan panggilan video chat.

“Kami tertarik dengan cara semua orang menggunakan teknologi dan cara kami membuat pengalaman yang hebat. Saat ini kami menjalankan pengujian kecil di Denmark untuk sebuah aplikasi bernama Bonfire,” kata Perwakilan Facebook seperti dikutip GSM Arena.

Sepintas, apikasi Bonfire mirip dengan aplikasi Houseparty yang saat ini sedang populer di kalangan remaja. Aplikasi itu memungkinkan pengguna melakukan video call dan membagikan gambar dari Bonfire ke jejaring sosial Instagram, Facebook dan Messenger.

Sayangnya, Facebook enggan memberikan rincian informasi mengenai aplikasi tersebut.

ERP, Andalan Pelindo III untuk Jaga Arus Logistik

Ilustrasi CRM ERP Business Intelligence Software Internet of things. (Kredit: Thinkstockphotos]

PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) atau lebih dikenal sebagai Pelindo III adalah salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang jasa layanan operator terminal pelabuhan. Saat ini, Pelindo III memiliki 17 kantor cabang dan mengelola 43 pelabuhan yang berlokasi di 7 provinsi, yakni Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.

Adapun usaha-usaha yang dijalankan oleh Pelindo III meliputi sembilan bidang, yakni penyediaan dan/atau pelayanan jasa terminal peti kemas (curah cair, curah kering, dan Ro-Ro), bongkar muat barang, dermaga untuk pelaksanaan kegiatan bongkar muat barang dan peti kemas, serta dermaga untuk bertambat, fasilitas naik turun penumpang dan/atau kendaraan. Bidang lainnya meliputi gudang/tempat penimbunan barang/alat bongkat muat/peralatan pelabuhan, bahan bakar dan pelayanan air bersih, serta pusat distribusi dan konsolidasi barang.

Dengan wilayah Indonesia yang berupa jajaran kepulauan membentang dari Sabang sampai Merauke, pelabuhan memainkan peran yang sangat penting. Pelabuhan menjadi jembatan penghubung antarpulau maupun antarnegara untuk mewujudkan keberlangsungan dan kelancaran arus distribusi logistik.

Oleh karenanya, Pelindo III berkomitmen memberi layanan jasa pelabuhan yang prima untuk menjaga arus logistik nasional, maupun demi memacu integrasi logistik.

Hadapi Tantangan Silo dan Proses Manual

Upaya mewujudkan komitmen tersebut dirasakan jajaran manajemen Pelindo III menjadi agak tersendat karena beberapa hal.

Pertama, sistem informasi yang dioperasikan Pelindo III masih terpisah-pisah (silo) dan belum sepenuhnya terintegrasi. Sebagian besar area back office masih bergantung pada aplikasi spreadsheet. Kalaupun ada beberapa aplikasi yang telah disiapkan, user tidak memanfaatkannya secara optimal karena alasan fungsionalitas kurang sesuai kebutuhan dan kurangnya kepercayaan user terhadap sistem.   

Untuk mendistribusikan dan mengomunikasikan data, file berformat spreadsheet dan dokumen lainnya dikirimkan melalui e-mail atau dalam bentuk hardcopy. Walhasil, perusahaan mengalami kesulitan untuk mencari sumber data yang paling update dan benar, terutama ketika data harus dikompilasi untuk kebutuhan analisis dan pelaporan. Belum lagi ketika dokumen atau file hilang, rekam jejak atas pekerjaan yang sudah dilakukan pun ikut hilang.

Proses pembuatan laporan secara manual dengan sumber data yang tidak terintegrasi menimbulkan masalah inefisiensi waktu, biaya, dan sumber daya. Akibat proses yang dilakukan secara manual, human error dan duplikasi juga kerap terjadi sehingga memengaruhi kualitas laporan yang dihasilkan.  

PT Pelindo III memilihi solusi ERP (Enterprise Resource Planning) untuk membangun sumber data tunggal yang terintegrasi, memfasilitasi komunikasi lintas departemen yang efektif, dan meminimalkan sistem serta beban kerja yang tidak perlu.

Pilih Off-The-Shelf ERP

Menyadari pesatnya pertumbuhan bisnis dan jangkauan pasar perusahaan, Pelindo III merasa makin sulit mengatasi banyaknya sumber data tanpa bantuan teknologi yang terpercaya. Solusi ERP (Enterprise Resource Planning) dipilih untuk membangun sumber data tunggal yang terintegrasi, memfasilitasi komunikasi lintas departemen yang efektif, dan meminimalkan sistem serta beban kerja yang tidak perlu.

Pengembangan sistem ERP sebenarnya sudah masuk sebagai salah satu inisiatif dalam Master Plan Teknologi Informasi Pelindo III tahun 2015 – 2019.  Namun saat itu Pelindo III dihadapkan pada dua pilihan: mengembangkan ERP yang saat itu telah dimiliki bernama SIUK atau mengimplementasikan aplikasi ERP off-the-shelf yang telah banyak digunakan perusahaan dunia.

Dengan mempertimbangkan beberapa faktor, khususnya reliabilitas, kesempatan memperbaiki proses bisnis dengan mengadopsi proses bisnis best practice kelas dunia, serta waktu pengembangan, steering committee sepakat untuk memilih mengimplementasikan aplikasi ERP off-the-shelf.

Langkah pertama yang ditempuh perusahaan yang berkantor pusat di Surabaya ini untuk memulai implementasi ERP adalah melakukan kajian standardisasi proses bisnis back-office dan membuat rencana proses bisnis standar. Di tahap ini, Pelindo III menggandeng Ernst & Young Indonesia.

Tahap selanjutnya adalah proses window shopping dan beauty contest di mana para pemilik business process atau Business Process Owner (BPO) dari berbagai unit fungsi mendapat pemaparan solusi ERP dari beberapa vendor teknologi yang diundang Pelindo III. Sebelumnya, Pelindo III juga mengirimkan RFI kepada setiap vendor terkait fungsionalitas solusinya yang diselaraskan dengan kebutuhan bisnis Pelindo III.

Berdasarkan hasil beauty contest dan jawaban dari RFI tadi, steering committee dan seluruh BPO duduk bersama untuk memilih solusi ERP yang paling sesuai dengan kebutuhan Pelindo III dan menentukan timeline implementasinya. Namun hasil pertemuan tersebut bukanlah keputusan final karena harus dilakukan kembali kepada jajaran Direksi Pelindo III untuk mendapatkan arahan serta keputusan lebih lanjut.

Berdasarkan hasil window shopping, evaluasi fungsionalitas sesuai kebutuhan, pertimbangan dari beberapa kriteria lain, dan penilaian dari para BPO maupun jajaran Direksi,  Pelindo III akhirnya menjatuhkan pilihan kepada solusi ERP dari SAP.

SAP ERP go live secara serentak di kantor pusat Pelindo III dan tujuh belas kantor cabangnya pada tanggal 1 Januari 2017.

Manfaat Standardisasi Sampai Otomatisasi

Setelah melalui beberapa tahap implementasi yang dimulai dengan kick off pada bulan Maret 2016, SAP ERP pun go live secara serentak di kantor pusat Pelindo III dan tujuh belas kantor cabangnya pada tanggal 1 Januari 2017 lalu.

Bersama mitra lokal SAP, Perdana Consulting, Pelindo III mengaplikasikan sistem ERP yang cukup komprehensif. Beberapa modul diimplementasikan untuk menangani berbagai aspek dalam proses bisnis: SAP Financial Accounting (SAP FI), SAP Controlling (SAP CO), SAP Business Planning & Consolidation (SAP BPC), SAP Human Capital Management (SAP HCM), SAP Material Management (SAP MM), SAP Plant Maintenance (SAP PM), SAP Project System (SAP PS), dan SAP Financial Supply Chain Management – Cash Management (SAP FMCM-CM).

Seperti yang diharapkan, Pelindo III dapat meraih manfaat berupa sistem informasi yang terintegrasi dan terstandardisasi untuk seluruh unit kerja. Selain mengumpulkan data dalam satu single source of truth, sistem terintegrasi juga memampukan Pelindo III memproses dan menyediakan data dari front office maupun back office secara real time. Kecepatan proses pelaporan pun dapat ditingkatkan.

Perubahan proses bisnis yang mengiring implementasi ERP ini memungkinkan perusahaan melakukan otomatisasi terhadap berbagai proses. Dengan demikian, sumber daya manusia yang ada dapat dioptimalkan untuk melakukan fungsi lain.

Di sisi bisnis, manfaat yang lebih spesifik datang berupa peningkatan kolektabilitas pendapatan melalui sentralisasi informasi saldo piutang. Cost of Goods Sold (COGS) dapat dikalkulasi secara lebih akurat menggunakan berbagai perspektif karena manajemen memiliki decision support system.

Berbagai manfaat tersebut diharapkan Pelindo III akan meningkatkan ketahanan dan pertumbuhan bisnis, tetapi proses bisnis dapat tetap berjalan secara efektif dan efisien.

Aplikasi Ini Tawarkan Sewa Boneka Seks Wonder Woman

Boneka seks Wonder Woman

Perusahaan baru asal Tiongkok meluncurkan aplikasi Touch yang memungkinkan pengguna menyewa boneka seks sesuai keinginan mereka.

Perusahaan yang bermarksa di Fujian, Tiongkok bagian tenggara meluncurkan layanan penyewaan boneka seks itu lantaran merebaknya perusahaan yang menawarkan sharing economy di Tiongkok.

Uniknya, koleksi boneka seks Touch terdiri dari beberapa karakter, mulai dari pelajar, pelayan, perawat, termasuk Wonder Woman. Bahkan, para pelanggan bisa melakukan kustomisasi warna kulit dan gaya rambut boneka tersebut.

Tentunya, perusahaan itu juga akan mengganti bagian penting boneka seks itu secara berkala sehingga terjamin kehigenisan dan kebersihannya seperti dikutip Daily Mail.

Jasa sewanya, Anda bisa memberikan uang deposito 8 ribu yuan atau setara Rp16 juta dengan biaya sewa perharinya mencapai Rp600 ribu. Nantinya, perusahaan itu akan mengirimkan boneka seks tersebut ke rumah pelanggan.

Aplikasi Touch menyasar pekerja kelas menengah yang berumur 20 hingga 35 tahun. Saat ini pengguna aplikasi Touch sudah mencapai 53 juta dan 45 persen di antaranya berumur 20 tahun.

Microsoft Akan Luncurkan Chatbot di Negara dengan 100 Juta Penduduk

Microsoft kenalkan teknologi buatan Tay

Microsoft telah meluncukan layanan chatbot di beberapa negara, dimulai di Tiongkok pada tiga tahun lalu. Setelah itu, Microsoft meluncurkan chatbot di Jepang, AS dan India.

“Kami akan meluncurkan chatbot kami sendiri di negara dengan 100 juta penduduk,” kata Harry Shum (Wakil Presiden Microsoft AI dan Research Group) seperti dikutip Geekwire.

Kunci ide chatbot adalah komputer harus mampu berbicara dengan manusia sehingga setiap orang bisa berbicara dengan AI. Hal itu menggambarkan ambisi besar Microsoft di sektor kecerdasan buatan (AI) termasuk computer vision, pengena berbicara dan kecerdasan buatan.

Divisi Microsoft AI memiliki lebih dari 5.000 orang untuk mewujudkan mimpi Satya Nadella (CEO Microsoft) dan menciptakan teknologi AI.

Meskipun demikian, upaya Microsoft dalam membuat chatbot menemukan kesalahan seperti chatbot “Tay” di Amerika Serikat (AS).

Shum mengatakan chatbot memadukan AI dalam IQ dan EQ serta membuat mesin tidak hanya cerdas dan menghubungkan pengguna secara emosional.

Meskipun pengembangan chatbot Microsoft terus meningkat, Shum mencatat Microsoft dan sisa industri teknologi masih membutuhkan waktu untuk mengembangkan kecerdasan buatan.

“Saya ingin menekankan bahwa kami masih baru di dalam era AI. Spesifikasi komputer saat ini memiliki kemampuan yang mampu menjalankan tugas spesifik,” pungkasnya.

Review Smartphone