Fitur Enterprise Mengelola Peternakan Sapi dari Awan

Mengelola Peternakan Sapi dari Awan

Ilustrasi peternakan sapi Chitale Dairy.

Maharashtra yang terletak di sebelah barat India mungkin menjadi tempat terakhir yang bakal dilirik ketika berbicara tentang implementasi teknologi terkini. Namun, siapa menyangka kalau negara bagian kedua terpadat penduduknya di India itu sukses menerapkan inisiatif berbasis cloud “Cows to Cloud” dan meraih manfaat berupa peningkatan kualitas ternak dan produksi susu?

Cerita kesuksesan itu datang dari Chitale Dairy, sebuah pabrik penghasil susu yang berlokasi di Palus, sebuah kota kecil di jantung Maharashtra. Menghasilkan 400 ribu liter susu per hari dan aneka produk olahan susu sapi, seperti cream, mentega, dan yogurt, peternakan milik keluarga Chitale ini menjadi basis bagi pasar produk-produk susu dan olahannya di Maharashtra.

Chitale Dairy mengelola sekitar 200 ribu ekor sapi. Namun dari jumlah itu, hanya seribu ekor yang ada di lingkungan peternakan. Sisanya dimiliki dan dipelihara di 10 ribu peternakan kecil yang tersebar di Maharashtra dan dikelola secara remote oleh Chitale Dairy.

Peternak tradisional pada umumnya memelihara hewan ternak di tanah miliknya dan sulit memperoleh akses informasi kesehatan ternak. Hal tersebut berpengaruh pada produksi dan kualitas susu sapi yang rendah, pengembangbiakan serta pengelolaan kesehatan hewan ternak yang kurang baik.

Padahal, jika dapat meningkatkan kesehatan hewan ternaknya, para petani dapat memperoleh susu yang lebih berkualitas dengan jumlah yang lebih banyak. Sapi yang lebih produktif akan memampukan para petani mengoptimalkan penggunaan lahan ternaknya. Mereka tidak perlu memelihara sapi dalam jumlah besar untuk meningkatkan produksi susu.

Ketika lahan peternakan bisa dioptimalkan, petani berpeluang memperoleh pendapatan tambahan dengan menanam tanaman pangan di lahan yang tersisa. Dengan pendapatan tambahan ini, para peternak dapa membiayai pendidikan anaknya. Berbekal pendidikan yang lebih baik, generasi muda di Maharashtra akan mendapat berbagai peluang baru.

Padukan Cloud dan SMS

Penerapan teknologi dalam bisnis ternak sebenarnya bukan hal baru bagi Chitale Dairy. Komputerisasi pertama kali diperkenalkan di lingkungan peternakan pada tahun 1984 oleh ayah dari dari Vishwas Chitale (CEO, CTO Chitale Dairy) dan manfaat nyatanya langsung dirasakan.

Untuk meningkatkan produksi susu dan kualitas ternak, Chitale Dairy dan para peternak satelitnya membutuhkan data, terutama data kesehatan setiap hewan ternak. Untuk itu, Chitale berupaya memberi kemudahan bagi para peternak untuk mengakses data tersebut melalui cloud.

Kemudahan akses ini dikemas dalam sebuah program yang diberi nama “Cows to Cloud”. Chitale Dairy memanfaatkan komputasi awan untuk memberi notifikasi tentang kesehatan dan potensi pengembangbiakan hewan ternak kepada para peternak di seluruh kawasan Maharashtra.

Petugas memeriksa data sapi-sapi di peternakan yang dikelola Chitale Dairy.

Bagaimana data tentang kondisi sapi dapat disimpan di cloud? Untuk mengoneksikan sapi ke cloud, Chitale Dairy memasang tag Radio-Frequency Identification (RFID) pada setiap hewan ternak. Setidaknya ada lebih dari 50 ribu ekor sapi milik para peternak satelit yang dipasangi tag RFID.

Data dari setiap ekor sapi, misalnya profil darah dan genetis, kebutuhan nutrisi, dan produksi susu, dikumpulkan dan dikirimkan setiap harinya secara otomatis ke data center milik Chitale Dairy. Data-data tersebut akan diolah dan diinterpretasikan oleh para ahli ternak dan dokter hewan di kantor pusat Chitale Dairy. Selanjutnya, informasi tentang kesehatan, pakan, dan pengembangbiakan ternak dikomunikasikan kepada para peternak.

Nah uniknya, salah satu ujung tombak dari teknologi cloud itu adalah short messaging system (SMS). Berbagai informasi tentang kondisi hewan ternak tersebut disampaikan ke peternak yang jumlahnya ribuan melalui pesan SMS. Peternak yang memiliki hanya lima maupun seratus ekor sapi sama-sama dapat mengakses informasi kesehatan hewan peliharaannya melalui situs web, SMS, atau menelepon langsung ke call center Chitale Dairy.

“Sangat efektif biaya dan mudah,” ujar Vishwas Chitale mengomentari pemanfaatan teknologi SMS dalam program Cows to Cloud ini. Setiap peternak memiliki telepon seluler. SMS karena itu adalah teknologi messaging paling sederhana yang pasti terpasang di telepon genggam.

Menurut Vishwas, cloud computing digunakan untuk membantu Chitale Dairy melakukan scaling terhadap sumber daya komputasi agar dapat menjangkau lebih banyak peternak. “Konsep ‘Cows to Cloud’ dicetuskan, di mana informasi dari setiap ekor sapi dapat tersedia di cloud dan dapat diakses melalui web maupun SMS oleh para peternak kami,” imbuhnya.

Di balik program “Cows to Cloud”, ada teknologi VMware yang membantu Chitale Dairy mentransfer data dari sapi ke cloud dan juga memindahkan lebih dari 25 aplikasi yang tergolong business-critical ke private cloud. Teknologi VMware tersebut sudah dilengkapi dengan fitur automated operations management, disaster recovery, dan software-defined security.

Selain mengembangkan sistem berbasis teknologi, Chitale juga menyediakan layanan veterinary care gratis. Tujuannya, agar para peternak dapat meningkatkan kualitas ternak dan memperoleh akses yang memadai terhadap tenaga ahli di bidang peternakan.

Selain menyediakan teknologi dan layanan gratis, Chitale Dairy juga memperhatikan komponen edukasi. Peternakan Chitale menawarkan kelas-kelas gratis kepada para peternak maupun karyawannya. Tujuannya adalah menginspirasi dan membekali para wirausahawan dengan kemampuan untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga dan masyarakat.

Chitale Dairy menggunakan solusi VMware untuk mengelola data yang dihasilkan oleh sapi-sapi milik para peternak.

Tingkatkan Produktivitas, Hijaukan Negeri

Berkat kemudahan memperoleh data yang dibutuhkan peternak untuk mengelola hewan-hewan ternaknya secara optimal, average yield setiap sapi dapat ditingkatkan.

Dengan sapi yang lebih produktif, peternak Maharashtra dapat mengurangi ketergantungan mereka terhadap jumlah sapi sampai sepuluh kali lipat. Dampak berikutnya adalah berkurangnya biaya untuk mengelola sapi dalam jumlah lebih besar demi mendapatkan tingkat produksi susu yang sama.

Berkurangnya jumlah sapi berarti berkurang pula luas area lahan ternak. Artinya, peternak berpeluang memanfaatkan lahan yang tak terpakai untuk menanam tanaman pangan.

Untuk menggarap peluang ini, Chitale telah menyiapkan program lainnya yang dinamai “Fields to Farms”. Program tersebut akan membantu peternak menanam dan mendistribusikan hasil pertanian melalui sistem koperasi sehingga pendapatan peternak/petani pun meningkat.

Pemanfaatan tanah untuk lahan pertanian juga diharapkan akan membuat India—setidaknya negara bagian Maharashtra—menjadi lebih hijau. Sementara itu, dengan kesehatan sapi yang lebih terjaga, kualitas susu yang dihasilkan pun akan menjadi lebih baik. Ini pada gilirannya akan meningkatkan kesehatan masyarakat.

Keluarga Chitale membangun bisnisnya di atas sebuah motto: “Give back to the community what you gain”, berikan kembali apa yang sudah diperoleh kepada masyarakat.

Seperti pebisnis lainnya, Chitale Dairy pun berkontribusi terhadap kesejahteraan masyarakat dengan memberi bantuan pada sekolah-sekolah dan membangun infrastruktur. Namun, transformasi ekonomi lokal yang sesungguhnya diciptakan Chitale Dairy melalui hal yang tak terduga: meningkatkan kesehatan dan produktivitas sapi.

Video Studi Kasus Chitale Dairy:

Comments

comments