Profil IT Leader Jim Fowler: Pakai Konsep Horizontal IT untuk Percepat Transformasi Digital di GE

Jim Fowler: Pakai Konsep Horizontal IT untuk Percepat Transformasi Digital di GE

Jim Fowler (CIO, General Electric).

Ketika sebuah perusahaan yang usianya mencapai lebih dari 120 tahun, seperti GE, masih tegak berdiri di tengah era yang penuh dengan perubahan seperti saat ini tentu orang akan berdecak kagum.

GE adalah satu-satunya perusahaan dalam daftar asli Dow Jones Industrial Average (DJIA) yang masih eksis hingga kini. Sebagai informasi, DJIA pertama kali dirilis pada tahun 1896 dan mencantumkan dua belas nama perusahaan di dalamnya.

“GE adalah perusahaan berumur 120 tahun dan bisa bertahan karena memunyai pemimpin-pemimpin hebat, seperti Jeff Immelt, yang dapat melihat apa yang akan terjadi,” kata Jim Fowler (Chief Information Officer, GE) memuji mantan CEO GE itu.

Menurutnya, para pemimpin GE mampu meniti gelombang inovasi baru dan mentransformasi bisnis secara internal sebelum dilumat oleh kekuatan-kekuatan di luar GE. “Peran kami di sini hanyalah membantu [para pemimpin GE],” ucap Jim seperti dikutip dari ComputerWeekly.com.

Namun salah satu pemenang Forbes CIO Innovation Awards tahun 2017 ini tentu sekadar merendah. Pada kenyataannya, TI adalah aset penting bagi GE dalam mewujudkan visi Jeff Immelt yakni menempatkan GE di deretan sepuluh perusahaan software terbaik di dunia. Dengan software, GE akan mengevolusi produk dan layanan yang mereka tawarkan ke pelanggan.

Ketika ditanya Forbes mengenai peran Jim Fowler, Jeff Immelt menjelaskan, “Kami melakukan transformasi TI yang masif di GE dan kami membutuhkan seorang CIO tipe baru dan Jim adalah orang yang tepat untuk memimpin transformasi.”

Immelt pun menekankan peran penting Jim dengan berkata, “Saat berada di tengah diskusi tentang bagaimana mendorong pendapatan dan produktivitas di GE, saya ingin Jim ada di samping saya untuk membuat keputusan tentang itu.”

Menurut Immelt, pekerjaan CIO sudah beranjak dari sekadar menekan biaya dan helpdesk. Mereka kini menuntut sebuah posisi dalam pembuatan keputusan. “Ketika saya harus mendorong terciptanya produktivitas layanan bernilai miliaran dolar dan kualitas pelanggan yang lebih baik, Jim dan divisi Digital Technology adalah bagian terpenting dalam proses,” tukasnya.

Terapkan Horizontal IT

Mau tak mau, suka tak suka, korporasi industri seperti GE akan berkecimpung dalam bisnis informasi. “Mesin pesawat jet terbaru buatan GE Aviation menghasilkan data dalam hitungan terabyte dari setiap penerbangan. Lokomotif yang kami buat sebenarnya adalah data center bergerak,” ujar Jim.

Untuk menjadi digital industrial company, GE akan sangat bertumpu pada data dan analytics, serta aneka teknologi terkini seperti machine learning, artificial intelligence, dan Internet of Things sebagai value bagi pelanggan. Tak pelak, divisi TI pun berperan penting dalam transformasi digital GE.

Sebagai “mesin” transformasi GE, tentu divisi TI pun harus bertransformasi terlebih dahulu. “Kami bertransformasi dari back office administrator menjadi productivity maker,” jelas pria yang berpengalaman selama lima belas tahun memimpin organisasi TI di berbagai unit bisnis GE, seperti GE Capital, GE Aviation, Intelligent Platforms, Power Generation Services, dan Power & Water.

TI tidak lagi hanya merupakan sebuah “piston” dalam “mesin”’ penggerak setiap unit bisnis. TI kini harus menjadi engine bagi seluruh unit bisnis GE dengan cara kerja horizontal. “Kami beranjak dari vertical business silos, dan sekarang beroperasi secara horizontal guna membantu setiap lini dalam perusahaan,” imbuh Jim.

Sebagai konsekuensinya, pengembangan aplikasi dan sistem pun harus dilakukan secara horizontal. “Kami harus membangun aplikasi sedemikian rupa agar dapat berjalan di berbagai unit bisnis GE,” ungkap Jim Fowler seperti dikutip dari Biz Journals. Dengan cara ini, pengembangan solusi dan sistem yang independen dan redundan dapat dihindari.

Contohnya, tim Development dalam divisi TI GE yang disebut GE Digital Technology, melakukan refactoring terhadap aplikasi SmartOutage yang awalnya dikembangkan oleh GE Power. Dengan proses refactoring tersebut, aplikasi SmartOutage dikembangkan menjadi aplikasi mobile field service FieldVision yang dapat dimanfaatkan oleh unit bisnis lain di lingkungan GE.

Contoh inovasi horizontal IT lainnya adalah menyediakan Digital Hub yang dapat diakses oleh karyawan GE di seluruh dunia. Data, advanced analytics, dan koneksi dengan beragam unit bisnis di berbagai belahan dunia diharapkan akan memampukan mereka menciptakan aplikasi.

“Mentransformasi TI untuk sepenuhnya menjadi horizontal IT function adalah sebuah evolusi penting terutama ketika kami mempertimbangkan cara-cara kerja baru yang lebih efisien di lingkungan perusahaan,” ujar sarjana sains lulusan Miami University ini.

Transformasi tersebut mampu menciptakan produktivitas senilai US$730 juta pada tahun 2016, dan sebanyak 70 persen di antaranya datang dari GE Aviation dan GE Power. Lebih dari lima puluh persen produktivitas itu berasal dari optimalisasi unit bisnis yang menyelenggarakan field service. GE menargetkan pencapaian produktivitas senilai US$1 miliar dengan memanfaatkan teknologi digital.

Jim Fowler (CIO, General Electric).

Tiga Cara Percepat IT Delivery

Untuk menghantarkan layanan TI yang lebih cepat, Jim Fowler melakukannya dengan tiga cara. Pertama, divisi TI menerapkan model organisasi yang lebih flat dan terdiri atas beberapa tim kecil. Setiap tim bertanggung jawab atas proyek-proyek kecil untuk mengembangkan produk dalam waktu sembilan puluh hari. Setiap tim memfokuskan pada satu pekerjaan yang akan mereka kelola sepanjang lifecycle-nya.

Langkah kedua adalah menciptakan workforce. “Artinya, tenaga kerja kami haruslah karyawan GE. Saat ini kami memiliki 5.000 profesional TI yang bekerja untuk GE dan 14.000 kontraktor. Para kontraktor itu juga orang-orang hebat tetapi sumbangsih mereka terhadap kesuksesan perusahaan tidaklah sebesar lima ribu orang tadi,” cetus pria yang mengaku sangat menyukai teknologi baru ini seperti dikutip dari CIO.com.

Strategi ini selaras dengan visi GE untuk membangun kapabilitas sebagai digital industrial company. Saat pertama kali Jim menjadi CIO, 75 persen pekerjaan TI diserahkan kepada pihak ketiga (outsourcing) dan sebagian besar staf TI hanya ditugasi mengelola project. Outsourcing tentu tidak sesuai dengan visi membangun kapabilitas karena modal pengetahuan bagi TI untuk menciptakan nilai bisnis malah diserahkan ke orang lain.

Staf TI yang masih melakukan pemrograman dengan COBOL tentunya tidak cocok disebut sebagai agile workforce yang dibutuhkan GE di masa depan. Oleh karena itu, langkah ketiga yang ditempuh Jim adalah melakukan retraining.

Proses retraining ditempuh antara lain dengan re-platforming, mengubah platfrom sebagian besar aplikasi agar dapat berjalan di cloud. GE mengirim sepuluh orang dari area teknologi yang berbeda ke technology center GE yang ada di wilayah pantai Barat Amerika. Selama tiga minggu tim kecil yang dinamai the ninja team akan melakukan porting satu aplikasi ke cloud.

“Mereka berlatih dengan para developer kami, dan sekembalinya dari sana, mereka menjadi pemilik aplikasi yang sudah di-re-platform itu,” kata Jim. Selain sebagai sebuah latihan ulang, cara ini juga dapat membangkitkan mentalitas agile yang sangat memperhatikan technology ownership. Di saat yang sama, GE dapat memastikan kekayaan intelektual tetap aman berada di lingkungan perusahaan.

Comments

comments