Profil IT Leader Kyle Nel: Pakai Komik Sebagai Media Inovasi Teknologi

Kyle Nel: Pakai Komik Sebagai Media Inovasi Teknologi

Kyle Nel (Executive Director, Lowe Innovation Lab).

Pada sekitar tahun 2013, perusahaan home improvement asal AS, Lowe, membentuk unit khusus yang disebut Innovation Lab. Unit ini memiliki tugas yang tak mudah, yaitu memimpin inovasi dengan cara menguji dan memanfaatkan teknologi terbaru.

Sosok penting yang membentuk dan kemudian memimpin unit Innovation Lab adalah Kyle Nel. Ia merupakan lulusan University of Wisconsin-Madison yang memiliki hasrat tersendiri di bidang social scientist.

“Saya sangat suka mempelajari perilaku manusia, bagaimana mereka bertindak secara individu maupun kelompok,” kata Kyle. Hal inilah yang menjelaskan mengapa Kyle menempuh cara yang unik untuk mendorong inovasi di Innovation Lab, yaitu menggunakan komik.

“Karena pada dasarnya, manusia adalah makhluk naratif,” Kyle mengungkapkan alasannya. Semua orang senang mendengarkan cerita, entah melalui buku yang dibaca atau film yang ditonton. Dengan masuk sebagai cerita, inovasi memiliki kedekatan secara emosional sehingga bisa lahir secara natural.

Cerita dan Konflik

Agar komik tersebut menjadi narasi yang menarik, Kyle pun menugaskan penulis fiksi ilmiah sungguhan untuk mengarang cerita.

“Kami kumpulkan semua market research, tren teknologi, serta pain point customer, lalu menyerahkannya kepada penulis agar bisa dirangkai menjadi cerita,” ungkap Kyle yang bekerjasama dengan SciFutures untuk project ini. Sang pembuat komik kemudian menggambarkan kehidupan di masa depan, lengkap dengan karakter dan konflik yang terjadi.

Dari cerita dan konflik di komik tersebut, inovasi pun bisa tergambar lebih mudah. Tim di dalam Innovation Lab pun kemudian bisa membangun konsep produk dan layanan seperti yang tergambar di komik tersebut.

Produk pertama yang lahir dari project ini adalah HoloRoom. Ini adalah ruang simulasi berukuran 6 x 6 meter yang memberikan gambaran customer saat ingin melakukan renovasi.

Saat masuk ke ruangan ini dan menggunakan virtual reality headset, customer akan mendapatkan animasi yang menggambarkan kondisi ruangan rumah mereka saat diisi produk-produk dari Lowe. Customer pun cukup melakukan zoom untuk melihat lebih dekat atau melakukan swipe untuk mengganti barang dengan produk yang lain.

HoloRoom pertama kali dipasang di dua toko Lowe di Toronto, dan terbukti berhasil. Customer menyukai HoloRoom karena mengatasi pain point mereka selama ini, yaitu memilih produk yang sesuai dengan bayangan mereka. Tak mengherankan jika kemudian Lowe bermaksud memasang HoloRoom di empat titik lain di Kanada.

Setelah itu, pada tahun 2016, Innovation Lab mulai mengembangkan LoweBot. Ini adalah semacam robot yang akan membantu customer menemukan produk yang mereka cari. Customer cukup mengatakan apa yang mereka butuhkan dan LoweBot akan menuntun customer ke lorong tempat barang itu tersedia.

Selain untuk customer, LoweBot juga membantu petugas toko dengan cara melakukan pengecekan inventori. Berkat keberadaan LoweBot, petugas toko pun bisa berfokus melayani pengunjung di level yang lebih sulit.

Produk inovatif lainnya yang muncul dari Lowe Innovation Lab adalah printer 3D yang digunakan di International Space Station. Printer ini digunakan astronot untuk mencetak perangkat atau komponen yang rusak saat digunakan di ruang angkasa.

Kyle Nel dan Paul Ramsay (CIO Lowe) saat memperkenalkan HoloRoom di salah satu gerai Lowe di Toronto.

Memberi Keyakinan

Inovasi yang lahir dari Lowe Innovation Lab memang terlihat keren, namun cerita di baliknya terbilang panjang. Dari imajinasi yang lahir dari komik sampai produk inovatif itu muncul, terdapat rangkaian proses yang melelahkan.

“Mulai dari membuat animasi dari lima ratus toilet yang dipasarkan di Lowe sampai mengintegrasikan konten VR ke legacy system,” cerita Kyle yang bekerja di bawah pengawasan CIO Lowe, Paul Ramsay.

Namun Kyle menganggap, semua kerja keras tersebut sepadan dengan hasil yang didapat. Setidaknya, Lowe kini dikenal sebagai perusahaan retail yang progresif dan cepat mengadopsi teknologi terbaru.

“Kami sebagai perusahaan besar sebenarnya harus memiliki peluang yang sama untuk berinovasi dengan teknologi baru, setidaknya dibanding startup yang saat ini sedang memulai bisnisnya di garasi mereka,” Kyle menegaskan keyakinannya.

Inovasi “liar” yang dikejar Kyle dan tim Innovation Lab memang tetap harus berhadapan dengan manajemen yang terbiasa dengan cara kerja lama yang penuh kehati-hatian. Untuk meyakinkan manajemen ini, Kyle selalu mengingatkan soal tantangan di masa depan yang tak bisa ditebak.

“Sosok yang menentukan strategi bisnis biasanya adalah mereka yang sudah lama berkecimpung di industri dan terbukti berhasil,” sebut Kyle. “Namun, masa depan akan berbeda dengan masa lalu dan kini. Untuk bisa berhasil di masa depan, strategi tidak bisa hanya dibuat oleh mereka yang berhasil di model bisnis yang lama,” lanjutnya.

Beruntung, Lowe memiliki manajemen yang mau mengakomodasi inovasi liar Kyle, termasuk cara bertutur via komik. Kyle pun yakin, menyuntikkan inovasi melalui komik dan storytelling juga bisa berlaku di perusahaan lain. “Penelitian neuroscience membuktikan, cerita yang humanis akan melepaskan oxytocin, enzim di otak yang membangkitkan empati,” ungkap Kyle.

Jika cerita itu dikaitkan dengan misi perusahaan, karyawan akan mendapatkan motivasi untuk berbuat sesuatu yang memiliki arti. “Di Lowe, misi itu adalah membuat orang mencintai tempat tinggal mereka; dan itu jauh lebih berharga dari semua produk dan layanan yang bisa kami berikan,” tukas Kyle.

Comments

comments