Berita Inilah Alasan Indonesia Larang Transaksi Bitcoin

Inilah Alasan Indonesia Larang Transaksi Bitcoin

new currency – bitcoin on white laptop keyboard

Mata uang digital Bitcoin menuai pro dan kontra di berbagai negara, ada negara yang melarang dan mengizinkan penggunaannya. Nilai mata uang Bitcoin pun sungguh spektakuler dengan kenaikan 486 persen dibanding dengan harganya pada awal tahun ini.

Bitcoin kembali memecah rekor terbaru USD 5.856 atau sekitar Rp79 juta. Angka itu sudah jauh di atas level rekor Bitcoin pada pertengahan Agustus 2017 yang mencapai US$ 4.139 atau Rp55 juta. Jadi, nilai kapitalisasi jumlah seluruh bitcoin yang beredar tercatat USD 97 milyar.

Kemudian, bagaimana Indonesia menyikapi tren dan peredaran Bitcoin di dunia maya?

Agus Martowardojo (Gubernur Bank Indonesia) melarang masyarakat bertransaksi pembayaran dengan bitcoin karena bitcoin bukan alat pembayaran yang sah di Indonesia.

“Dalam satu tahun ini, kami menjelaskan bahwa bitcoin bukanlah alat pembayaran di Indonesia,” katanya dalam ajang Pertemuan Tahunan Dana Moneter Indonesia (IMF) dan Bank Dunia 2017, di Washington DC, Amerika Serikat seperti dikutip dari berbagai sumber.

Agus menjelaskan BI baru menganggap Bitcoin sebagai inovasi belaka dan tidak menyetujuinya sebagai alat pembayarannya karena sebuah alat pembayaran harus memenuhi sejumlah persyaratan seperti harus mampu memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat.

“Kami lihat dari aspek keamanan, apakah aman Bitcoin untuk sistem pembayaran di Indonesia. Apakah Bitcoin akan patuh kepada regulasi anti pencucian uang dan tidak menjadi pembiayaan terorisme,” papar Agus.

BI juga harus memastikan sistem pembayaran yang diperbolehkan di Indonesia tidak menimbulkan risiko sistemik yang mengancam sistem keuangan nasional.

“Kami mempersilakan adanya eksperimen-eksperimen untuk teknologi alat pembayaran. Namun, eksperimen itu harus tetap terjaga dan tidak berdampak kepada masyarakat luas pada saat produk atau jasa tersebut tidak stabil dan tidak aman,” pungkasnya.

Negara Lainnya

Tiongkok berencana mencabut pelarangan penggunaan mata uang Bitcoin dan menyebabkan nilai Bitcoin meningkat tajam. Padahal, Tiongkok melarang perdagangan mata uang digital itu pada bulan lalu dengan cara menutup beberapa bursa besar.

Faktor pendukung lainnya, bank investasi global asal Amerika Serikat (AS) Goldman Sachs akan meluncurkan operasi perdagangan baru yang berfokus pada mata uang digital.

Namun, bitcoin masih menghadapi tantangan berupa kritik dari berbagai negara dan para pemimpin bisnis dunia. Bank sentral Rusia akan menutup website bursa yang menawarkan cryptocurrency.

“Pembeli cryptocurrency bisa terlibat aktivitas yang melanggar hukum,” kata Vladimir Putin (Presiden Rusia) seperti dikutip CNBC.

Selain itu, Jamie Dimon (CEO, JPMorgan Chase) mengatakan bitcoin sebagai “penipuan” dan digunakan untuk transaksi kejahatan ilegal.

Comments

comments