Fitur Enterprise Internet of Trains: Agar Kereta Tak Lagi Datang Terlambat

Internet of Trains: Agar Kereta Tak Lagi Datang Terlambat

Kereta api di Jerman.

Dengan sepeda motor menderu, pria tersebut melaju. Tujuannya adalah stasiun kereta, untuk menjemput sahabat karib yang lama tak bersua. Lampu merah ia terjang, meski membuat pak polisi datang menghadang.

Namun ia tidak peduli. Waktu seperti tak mau menunggu, karena kereta akan datang pukul satu. Akhirnya ia sampai stasiun pukul setengah dua, namun tak ada kereta di sepenglihatan mata. Ia itu pun bertanya kepada penjaga, kereta datang pukul berapa. “Biasanya, kereta terlambat dua jam sudah biasa,” jawab penjaga.

Cerita di atas merupakan nukilan lagu Iwan Fals berjudul “Kereta Tiba Pukul Berapa”. Melalui lagu keluaran tahun 1983 tersebut, Iwan Fals berhasil menangkap kondisi perkeretaapian kala itu: kereta yang selalu datang terlambat. Untungnya, saat ini jadwal kedatangan kereta sudah jauh membaik. Setidaknya jika mengacu pada musim Lebaran kemarin, rata-rata keterlambatan kedatangan kereta api cuma sekitar sepuluh menit.

Sebenarnya, melesetnya jadwal keberangkatan dan kedatangan kereta tidak cuma merugikan konsumen. Operator kereta api juga mengalami kerugian karena biaya operasional yang meningkat. Di luar negeri, operator kereta api bisa dikenai denda—bahkan pencabutan izin operasi—jika gagal datang tepat waktu.

Karena itu, mewujudkan kereta api yang selalu tepat waktu adalah impian semua operator kereta api. Hal inilah yang coba diwujudkan Siemens dengan menggunakan pendekatan Internet of Trains.

Monitor Kondisi

Internet of Trains pada dasarnya adalah penerapan Internet of Things (IoT) di industri perkeretaapian. Melalui pendekatan ini, beragam sensor digunakan untuk memonitor setiap aktivitas dari kereta. Contohnya sensor untuk memantau temperatur mesin, vibrasi rel, buka-tutupnya pintu, sampai foto di luar kereta. Data ini kemudian dipadukan dengan data eksternal seperti perkiraan cuaca.

Semua data ini digunakan untuk menilai tiga hal. Yang pertama adalah asset availability, yaitu memastikan kereta dan lokomotif selalu dalam keadaan siap beroperasi. Ketika sensor bisa menangkap kinerja mesin, sistem bisa melakukan prediksi yang lebih presisi terkait waktu yang tepat untuk melakukan perawatan (atau biasa disebut predictive maintenance).

Kemampuan melakukan perawatan prediktif akan berguna di banyak hal. Yang utama adalah meningkatkan tingkat availability karena berkurangnya downtime yang tidak direncanakan. Jeda antar perawatan juga lebih fleksibel (termasuk menggunakan kereta di atas normal) jika sensor tidak menemukan urgensi untuk melakukan perawatan. Biaya perawatan juga bisa ditekan karena teknisi mengetahui persis bagian mana yang perlu mendapat perbaikan. Semua faktor ini tidak saja meningkatkan performa layanan, namun juga meningkatkan revenue operator.

Manfaat kedua pemanfaatan Internet of Trains adalah meningkatkan efisiensi energi, baik di sisi internal maupun eksternal gerbong. Di sisi internal, sensor yang ditempatkan di setiap komponen penting kereta akan mampu mendeteksi komponen mana yang menimbulkan inefisiensi. Sementara di sisi ekternal, sensor akan memastikan tidak ada hambatan di lintasan kereta sehingga kereta bisa melaju dengan kecepatan optimal.

Terakhir, manfaat ketiga adalah meningkatkan utilisasi aset. Berkat data dari sensor, sistem bisa merencanakan lalu lintas kereta secara lebih presisi yang berarti meningkatkan volume penumpang maupun barang.

Gerhard Kress (Mobility Data Services Director, Siemens).

Pilihan Menarik

Konsep Internet of Trains Siemens ini pun menunjukkan efektivitasnya. Gerhard Kress (Mobility Data Services Director, Siemens), menunjuk contoh keberhasilan solusi ini di Rusia. “Sejak diperkenalkan tahun lalu, hanya ada sembilan keterlambatan kereta dari Moskow ke St. Petersburg. Padahal dalam sehari, ada enam belas keberangkatan di jalur ini,” jelas Kress menggambarkan contoh sukses Raililink.

Kereta yang hampir selalu tepat waktu membuat konsumen kini memilih kereta sebagai cara alternatif bepergian di luar pesawat terbang. Hal inilah yang menjelaskan mengapa tiket kereta untuk jalur Moskow-St. Petersburg selalu habis terpesan, sehingga pihak operator memutuskan untuk menyediakan kereta tambahan.

Kemampuan melakukan predictive maintenance juga memiliki peran besar bagi efisiensi operator. Hal ini bisa dilihat dari kisah operator kereta Jerman, Deutsche Bahn, yang memanfaatkan sensor untuk memonitor bantalan, gearbox, serta komponen mesin lainnya. “Selama tujuh bulan sejak diimplementasikan, sensor kami selalu berhasil menangkap potensi failure yang terjadi di semua komponen tersebut,” ungkap Kress.

Dengan keunggulan tersebut, model bisnis yang ditawarkan Siemens kepada operator kereta api pun berubah. “Kami bisa menawarkan layanan yang benar-benar baru dengan memasukkan up-time guarantee, risk-sharing model, serta performance-based contract,” ungkap Kress. Ia pun yakin, pemanfaatan IoT ini akan menimbulkan perubahan besar di industri perkeretaapian. “Jika IoT dipadukan dengan automation, konsumen akan mendapatkan pelayanan terbaik dari industri kereta api,” sebut Kress.

Meneropong ke depan, Krebb melihat potensi pengembangan IoT adalah dengan mengumpulkan data dari sensor kamera. Foto yang ditangkap kamera tersebut digunakan untuk mendeteksi perubahan komponen internal kereta, seperti tingkat keausan kampas rem. Kamera juga bisa digunakan untuk menangkap kondisi kabel dan lintasan kereta api. “Hal seperti ini sangat mungkin dilakukan dan sedang kami usahakan implementasinya,” tambah Kress.

Ketika dikombinasikan, semua data dari sensor ini akan membentuk apa yang disebut digital twin—jembatan antara kondisi nyata dan data digital. “Kita akan bisa melihat kondisi secara menyeluruh dari setiap aktivitas operasional kereta, mulai dari infrastruktur sampai kondisi komponen terkecil. Hal inilah yang sedang kami bangun dan kembangkan satu per satu,” papar Kress.

Jika teknologi ini bisa diimplementasikan di Indonesia, bukan tidak mungkin semua kereta akan tiba dan berangkat tepat waktu. Dan tidak ada lagi yang mengeluhkan terlambatnya kereta seperti lagu “Kereta Tiba Pukul Berapa”.

Comments

comments