Fitur SimpliDOTS Mempercepat Proses Distribusi Barang dengan Sistem Online

SimpliDOTS Mempercepat Proses Distribusi Barang dengan Sistem Online

SimpliDOTS menawarkan sistem distribusi online yang memiliki fitur tracking dan terintegrasi.

Indonesia adalah negara kepulauan dengan wilayah yang sangat luas. Jumlah penduduk yang besar di Indonesia otomatis menghasilkan kebutuhan yang besar pula. Latar belakang inilah yang pada akhirnya menuntut sistem distribusi yang canggih.

Di sinilah peran SimpliDOTS yang hadir sebagai upaya membantu Indonesia untuk menjadi negara yang lebih maju dengan mempercepat proses distribusi barang. SimpliDOTS didirikan oleh Jowan Kosasih dan Hendy Sumanto. Idenya sendiri berasal dari masalah yang banyak dialami oleh perusahaan-perusahaan distributor di Indonesia.

Jowan Kosasih (Co-Founder SimpliDOTS) mengungkapkan jika nama SimpliDOTS sendiri berasal dari kata “Simpli” yang berasal dari kata simple, yaitu bagaimana membuat proses yang panjang menjadi lebih singkat. Sementara kata “DOTS” berasal dari kependekan “Distribution Online Tracking System” yang berarti sistem distribusi online yang memiliki fitur tracking dan terintegrasi.

Dengan kata lain, ide SimpliDOTS berasal dari masalah yang banyak dialami oleh perusahaan-perusahaan distributor di Indonesia. “Masalah yang ingin kami selesaikan adalah meningkatkan efisiensi dan efektivitas perusahaan distributor di Indonesia,” tutur Hendy Sumanto (Co-Founder SimpliDOTS). “Saya juga sebagai pendiri mempunyai latar belakang keluarga dari bidang distribusi sehingga timbul keinginan mengatasi masalah-masalah yang selama ini dihadapi perusahaan distributor khususnya di Indonesia,” imbuhnya.

Sasar B2B

Jowan dan Hendy mulai membangun aplikasi SimpliDOTS pada pertengahan 2016 silam dan meluncurkannya di awal 2017. Keduanya pun mengaku menggunakan dana pribadi untuk mengembangkan SimpliDOTS. Namun belakangan, SimpliDOTS sudah menggunakan dana dari pendapatan jasa yang dibayarkan oleh tujuh kliennya. Saat ini bahkan sudah ada sepuluh perusahaan yang sedang berada dalam tahap penjajakan.

Jowan menyebut, SimpliDOTS tidak seperti startup kebanyakan yang lebih menyasar B2C. “Kami sedikit berbeda dengan startup kebanyakan yang lebih menyasar B2C, kami lebih menyasar segmen B2B yang jarang tersentuh,” ujarnya.

Target inilah yang lantas membuat startup asal Medan, Sumatera Utara ini mengusung metode pemasaran via sales forces, referrals, word of mouth, advertisement & exhibition.

Jowan menjelaskan, sebagai sistem berbasis cloud yang scalable dan mudah dikembangkan, SimpliDOTS menawarkan banyak fitur, di antaranya: Mobile app for ordering with up-to-date promo and stock data, debt collection and delivery, Web backoffice, Route management and employee position tracking, Big data mining and analysis, serta Support online/offline capability.

Jika dibandingkan dengan layanan sejenis, Hendy menyebut SimpliDOTS memiliki keunikan. “Kami dapat [memberi] info produk dan promo secara realtime melalui aplikasi mobile, order dapat diantar di hari yang sama dengan mobile ordering, mengukur kinerja karyawan dengan system tracking, sales target dan system report yang mudah dimengerti pemilik bisnis,” jelas Hendy.

Meskipun belum genap berusia satu tahun sejak diluncurkan, bukan berarti SimpliDOTS tidak menemui tantangan.

Tantangan yang kerap mereka hadapi adalah meyakinkan pelanggan untuk berpindah ke sistem SimpliDOTS. Pasalnya, kebanyakan pengguna sudah menggunakan sistem lama sehingga enggan untuk berpindah karena berbagai alasan, di antaranya sebagai sistem warisan orang tua. “Memberikan edukasi kepada pelanggan baru, juga legacy system yang sudah dipakai sebelumnya oleh perusahaan distributor yang kadang menjadi kendala bagi klien untuk pindah,” tukas Jowan.

Tim di balik SimpliDOTS yang berkantor di Medan.

Program Indigo Batch 1 2017

Sekitar bulan April lalu, SimpliDOTS mulai melakukan pendaftaran program Indigo Batch 1 2017. Kemudian sekitar awal Mei, SimpliDOTS dihubungi kembali oleh pelaksana program pembinaan startup Telkom tersebut untuk maju ke babak selanjutnya. “Syukurnya sekitar tanggal 22 Mei kami dihubungi kembali untuk ikut tahap selanjutnya, yaitu Business Model Validation,”  tutur Jowan.

Jowan bercerita jika seleksi yang dijalani SimpliDOTS berupa pitching di depan para dewan juri dengan waktu sekitar sepuluh menit dan syukurnya dari sekitar 35 besar Batch 1, kami lolos ke tahap selanjutnya,” jelas Jowan.

Sebelumnya, Jowan menyebut SimpliDOTS juga pernah mengikuti kompetisi The Nextdev 2016 dan masuk delapan puluh besar nasional. Selain itu, SimpliDOTS juga menjadi peserta di Clapham Startupfest 2017 dan meraih penghargaan khusus Best Pitcdeck.

Berbagai perbaikan pun terus dilakukan SimpliDOTS, seperti terus mengembangkan fitur seperti Akunting System, Sales Gamification, Sales Predictive, Warehouse Management, serta e-Wallet. “Prinsip yang kami anut adalah terus berusaha untuk memberikan fitur-fitur terbaik dari permintaan banyak klien,” pungkas Jowan.

Comments

comments