Profil IT Executive Jensen Huang: Visi Membawa Nvidia Jadi Raja di Dunia AI

Jensen Huang: Visi Membawa Nvidia Jadi Raja di Dunia AI

Jensen Huang (CEO, Nvidia).

Masa kecil yang berat sering kali membentuk pribadi yang kuat. Cerita Jensen Huang ini bisa menjadi contoh.

Ketika terjadi kerusuhan sosial di tanah kelahirannya, Taiwan, Huang kecil dibawa kedua orang tuanya hijrah ke Thailand. Namun karena kehidupan di negara baru tersebut tak jua membaik, orang tuanya pun mengirim Huang dan sang kakak ke keluarga pamannya yang baru saja bermigrasi ke AS.

Di AS, jalan hidup Huang kembali berliku. Gara-gara bahasa Inggris yang terbatas, paman Huang secara tak sengaja mengirim Huang dan kakaknya ke sekolah untuk anak bermasalah di pedalaman Kentucky. Di sana, Huang remaja harus bergaul dengan anak bermasalah, termasuk rekan sekamarnya yang mantan anggota geng berusia tujuh belas tahun. Seusai jam sekolah, Huang pun mengerjakan tugas membersihkan semua kamar mandi di asramanya yang terdiri dari tiga lantai.

Akan tetapi, Huang menunjukkan kedewasaan pribadinya. Ia berhasil mengajarkan rekan sekamarnya untuk membaca. Huang juga mampu menunjukkan bakatnya bermain tenis meja hingga berhasil meraih posisi ketiga di turnamen AS Open Junior. Yang tak kalah penting, Huang tumbuh menjadi remaja yang cerdas.

Ia berhasil meraih gelar sarjana Teknik Elektro dari Oregon State University sebelum kemudian melanjutkan pendidikan S2 di Stanford University pada tahun 1992. Setelah lulus kuliah, Huang sempat bekerja di LSI Logic dan AMD sebelum akhirnya mengambil keputusan besar.

Pada Januari 1993, tepat saat ia berusia tiga puluh tahun, Huang bersama dua sahabatnya mendirikan Nvidia. Ia pun ditunjuk sebagai CEO sampai sekarang, ketika Nvidia menjadi perusahaan teknologi dengan nilai pasar mencapai US$59,1 miliar dan disebut-sebut sebagai “The New Intel”.

Memanfaatkan Momentum

Cerita mengenai Nvidia berawal di sebuah restoran mungil di San Jose, California. Saat makan malam, Huang bersama dua sahabatnya, Chris Malachowsky dan Curtis Priem, melihat potensi besar di bidang kartu grafis.

Kala itu, di tahun 1993, pasar kartu grafis sebenarnya belum terbentuk. Namun ketiganya merasa yakin peluang besar menanti. Hal ini dikisahkan Malachowsky kepada Forbes. “Kami melihat kesempatan besar itu datang, dan kami akan menjadi salah satu pionir,” cerita Malachowsky mengungkapkan keyakinan mereka kala itu.

Saat pertama kali muncul, Nvidia harus bersaing dengan nama-nama besar seperti ATI dan 3Dfx. Pada awalnya memang berat, namun peruntungan berubah setelah Nvidia berhasil membuat Riva 128 di tahun 1995. Berkat performa dan harga Riva 128 yang ekonomis, Nvidia berhasil mendapatkan momentum. Sejak saat itu, Nvidia menjadi pemain penting di dunia kartu grafis. Per tahun 2016, Nvidia menguasai 70,5% pangsa pasar discrete graphic card.

Akan tetapi, bukan kartu grafis yang membuat citra Nvidia melambung seperti sekarang, melainkan cip hasil produksinya. Cip pada kartu grafis pada dasarnya adalah sekumpulan prosesor yang jumlahnya bisa mencapai ratusan. Tiap prosesor bekerja secara paralel sehingga mampu memproses data dalam jumlah besar secara bersamaan. Selain cocok untuk mengerjakan tampilan grafis, cara kerja paralel ini ternyata juga dibutuhkan di area yang sedang naik daun, yaitu artificial intelligence (AI).

Kini, raksasa teknologi yang berfokus di dunia AI seperti Google, Microsoft, Facebook, dan Amazon pun berlomba membeli cip dari Nvidia. Belum lagi startup yang fokus AI—yang jumlahnya diperkirakan mencapai tiga ribuan di seluruh dunia—juga membangun aplikasinya di atas platform Nvidia.

Jensen Huang dan istrinya, Lori, mendanai pembangunan pusat engineering di Stanford University yang diberi penghormatan dengan nama dirinya.

Potensi Nvidia pun tidak cuma di bidang AI. Di industri otomotif, cip Nvidia digunakan sebagai platform mobil cerdas dan mobil tanpa supir (driverless car). Hampir semua produsen otomotif terkemuka, mulai dari Toyota, Tesla, Audi, Honda, Mercedes Benz, dan BMW kini menggunakan platform Nvidia. Kebutuhan akan cip Nvidia di tahun ini juga meningkat sebesar 59% di industri data center.

Pendek kata, konsumen Nvidia kini berasal dari berbagai industri. “Sepanjang sejarah Nvidia, belum pernah kami memiliki pangsa pasar sebesar ini,” ungkap Huang.

Kunci sukses Nvidia terletak pada kejelian sang CEO mengubah produk dari graphics processor menjadi general-purpose processor. “Kami telah mengembangkan teknologi GPU accelerated computing sejak sepuluh tahun lalu,” tambah Huang.

Momentumnya kian pas karena Intel, yang selama ini menjadi pemimpin pasar prosesor, mengalami kesulitan mengembangkan prosesor yang mampu menjawab kebutuhan tersebut. “Ketika aplikasi membutuhkan computing power yang lebih besar, GPU accelerated computing menjadi jawaban,” ungkap Huang. “Teknologi kami mampu meningkatkan performa 20-30 kali lipat, bukan cuma 20-30%,” tambah Huang lagi.

Persaingan Memanas

Mengingat teknologi AI akan terus berkembang, masa depan Nvidia pun terbilang cerah. Meski begitu, Nvidia tetap harus bersiap menghadapi pesaing yang juga tergiur pasar ini. Intel misalnya, berjanji akan merilis prosesor khusus AI pada akhir tahun ini. Sementara Microsoft sedang mengembangkan prosesor FPGA (Field-programmable gate arrays) yang diharapkan bisa menjadi inti layanan cloud Azure.

Yang terakhir adalah Google yang baru saja merilis Tensor Processing Unit (TPU) generasi kedua. Tidak seperti prosesor Nvidia, TPU ini memang tidak bisa dibeli perusahaan lain. Akan tetapi Google berencana menyewakan TPU sebagai bagian dari layanan Google Cloud.

Huang sendiri mengaku tidak terlalu khawatir dengan sepak terjang para pesaingnya. Apalagi Nvidia telah mengembangkan arsitektur baru, Maxwell dan Pascal, yang akan memasukkan perbaikan khusus untuk AI. Huang bahkan mengklaim, Pascal P40 yang sedang dikembangkan Nvidia akan memiliki performa tiga belas kali lipat dibanding arsitektur sebelumnya.

Dalam konteks yang lebih luas, Huang justru yakin kompetisi yang terjadi akan membawa kebaikan bagi semua pihak. “AI adalah kekuatan besar yang akan mengubah sejarah manusia. Setiap usaha untuk mengakselerasi perkembangan AI sehingga bisa digunakan siapa saja adalah perkembangan yang sangat menggembirakan,” ujar Huang.

Comments

comments