Profil Vitalik Buterin: “Anak Ajaib” di Balik Popularitas Ethereum

Vitalik Buterin: “Anak Ajaib” di Balik Popularitas Ethereum

Vitalik Buterin (CEO, Ethereum).

Usianya baru 23 tahun, tetapi kejeniusannya membuat Vitalik Buterin dikenal sebagai salah satu developer blockchain kelas wahid saat ini.

Pada tahun 2016, Fortune menempatkan Vitalik di peringkat ke-31 sebagai orang muda berpengaruh di bawah usia 40 tahun. Pengakuan tersebut didapat Vitalik berkat perannya sebagai perancang Ethereum, platform blockchain open source dan mata uang virtual (MUV) terbesar ke-2 dunia setelah Bitcoin.

Mirip seperti Bitcoin, Ethereum dibangun berdasarkan teknologi blockchain. Namun fungsi keduanya berbeda. Sejak awal, fungsi Bitcoin difokuskan pada transaksi MUV sehingga sangat sulit dikembangkan untuk keperluan lain. Sementara Ethereum diposisikan sebagai platform yang memudahkan developer membangun aplikasi berbasis blockchain.

Ethereum memang tetap bisa digunakan sebagai alat transaksi MUV, namun tetap fleksibel untuk aplikasi lain yang berbasis blockchain. Beberapa contoh aplikasi yang memanfaatkan platform Ethereum adalah Augur (platform untuk memprediksi pasar), Weifund (platform crowdfunding), sampai Provenance (platform supply chain).

Tertarik Komputer Sejak Kecil

Masa kecil Vitalik sangat menarik. Ia tidak banyak menghabiskan waktunya bergaul dengan anak-anak lain seusianya. Ia tumbuh besar bersama kakek dan neneknya, sementara kedua orangtuanya menempuh studi ilmu komputer di sebuah universitas di Moskow beberapa tahun sebelum Uni Soviet pecah.

Salah satu mainan favorit Vitalik adalah Lego. Jikalau anak-anak biasa menggunakan lego untuk membuat miniatur menara, hewan, atau manusia, Vitalik justru membuat angka-angka. Ketika sang ayah, Dmitry Vitalik, memperkenalkannya komputer pada usia 4 tahun, Vitalik langsung tertarik dan menjadikan Excel sebagai mainan kegemarannya.

Setelah bercerai dengan istrinya, Dmitry pindah ke Toronto, Kanada pada tahun 1999. Vitalik menyusul beberapa bulan kemudian. Perkenalan Vitalik dengan Bitcoin berawal di tahun 2011 ketika ayahnya selalu bercerita tentang Bitcoin yang akan mengubah sistem keuangan dunia. Meski awalnya tidak tertarik, lama-kelamaan Vitalik kecil penasaran dengan Bitcoin.

Setelah memahami secara mendalam potensi Bitcoin khususnya blockchain, Vitalik akhirnya mencari jalan mendapatkan Bitcoin.

Awalnya ia menulis beberapa artikel terkait TI di sebuah situs dengan bayaran berupa Bitcoin yang di masa itu masih setara $US5. Situs itu kemudian tutup, sehingga Vitalik mengalihkan tulisannya di forum pemerhati Bitcoin. Ketika semakin banyak orang tertarik dengan tulisannya, Vitalik bersama seorang programmer Romania, Mihai Alisie, mendirikan Bitcoin Magazine pada September 2011.

Vitalik Buterin (CEO, Ethereum).

Popularitas Melejit

Pada periode 2011 – 2013, popularitas Bitcoin melejit. Nilainya berkembang dari US$1 menjadi US$1.000 dalam waktu dua tahun. Melihat peluang besar Bitcoin, Vitalik pun memutuskan untuk drop-out dari tempatnya kuliah di Waterloo University. Berbekal tabungan bitcoin yang ia miliki, Vitalik pun berkesempatan berkeliling dunia dan bergabung dengan berbagai proyek terkait Bitcoin dan blockchain.

Sekali waktu, ketika dia tinggal bersama kelompok musik lokal di sebuah flat di Barcelona, ia mengalami sebuah peristiwa yang kelak menambah ilham bagi pengembangan Ethereum.

Selama dua bulan di sana, dia memperhatikan setiap orang sangat bertanggung jawab terhadap tugas mereka untuk memasak makan malam dan siang. Tetapi seiring berjalannya waktu, kebanyakan dari mereka justru malas untuk menyelesaikan tugasnya.

“Itu yang menyadarkan saya, jika Anda tidak memiliki insentif ekonomi atau seperangkat aturan untuk memaksa orang melakukan sesuatu yang sangat sederhana, pekerjaan itu tak pernah selesai,” katanya kepada Fortune.

Keadaan tersebut mirip seperti ekosistem Bitcoin saat ini. Jumlah pengguna Bitcoin yang makin banyak tidak diikuti skala jaringan yang bertambah. Bitcoin tak lagi sanggup menangani tujuh transaksi setiap detik. Sebagai perbandingan, sistem milik perusahaan keuangan Visa dapat memproses lebih dari dari seribu transaksi per detik.

Bagi Vitalik, kekurangan teknologi Bitcoin ini mengurangi potensi adopsi MUV secara mainstream.

Vitalik kemudian mengajukan ide ini kepada rekan-rekannya sesama programmer untuk platform blockchain yang lebih universal. Pada platform tersebut, semua orang bisa membuat token, MUV, atau bahkan aplikasi sendiri. Banyak yang tidak setuju dan sebagian lagi menganggap ide itu tidak menarik. “Ketika itu saya berpikir, saya kerjakan saja sendiri jika mereka tidak mau,” katanya.

Vitalik pun menulis secara lengkap ide-idenya dalam sebuah white paper dan mengirimkannya kepada rekan sesama programmer yang dapat menerima ide itu. Akhirnya 30 orang mengajaknya berbincang lebih dalam, dengan antusiasme yang lebih banyak daripada yang pernah dia bayangkan. Banyak orang menyukai idenya. Pada awal 2014, dia dan sebuah grup pengembang mulai membangun Ethereum.

Pengembangan Ethereum semakin cepat karena mendapat sokongan dari seorang entrepreneur asal Kanada, Joseph Lubin. Lubin pula yang memasok dana jutaan dollar untuk pengembangan Etherum melalui sebuah yayasan. Salah satu metode yang dilakukan Lubin adalah melalui sistem crowdfunding ICO (Initial Coin Offering).

Dalam proses ICO ini, perusahaan atau organisasi membuat sebuah token yang dijual kepada para investor dengan harga murah. Mirip seperti IPO (Initial Public Offering), ICO menawarkan produk (dalam hal ini token Ethereum) yang nilainya berpotensi naik karena hukum pasar.

Pada ICO tersebut, token Ethereum dijual di harga US$0,3. Tak perlu menunggu lama, terkumpullah 31 ribu Bitcoin atau di tahun itu setara dengan US$12,4 juta.

Ilustrasi Ethereum. [Foto: Flickr/bkeychain.com]

Potensi di Masa Depan

Fleksibilitas yang ditawarkan Ethereum pun mulai didengar berbagai perusahaan yang ingin mengembangkan sistem berbasis blockchain. Tahun lalu, Samsung dan IBM meluncurkan proyek uji coba untuk perangkat IoT menggunakan jaringan berbasis Ethereum. Di awal tahun ini, 11 bank besar, seperti Wells Fargo, Barclays, dan HSBC, juga membuat proyek uji coba menggunakan Ethereum.

“Kelebihan dari Ethereum adalah konsepnya yang terbuka, fleksibel, dan bisa dikustomisasi untuk berbagai kebutuhan,” ungkap Mark Russinovich (CTO, Microsoft Azure), yang juga mulai bereksperimen menggunakan Etherum.

Akan tetapi, kustomisasi ini juga yang bisa menjadi titik lemah Ethereum. Komponen penting dari Ethereum adalah smart contract, sebuah kode komputer yang otomatis akan berjalan ketika kondisi spesifik terpenuhi. Karena berada di blockchain, smart contract ini akan berjalan sesuai yang diprogramkan tanpa ada celah untuk dipengaruhi pihak ketiga.

Namun karena smart contract pada dasarnya adalah sebuah program komputer, kualitasnya sangat tergantung pada kemampuan programmer yang membuatnya. Jika smart contract memiliki bugs yang bisa dieksploitasi, nilai utama Ethereum sebagai sistem yang aman pun menjadi sirna. Hal ini telah terjadi saat Decentralized Autonomous Organizations (DAO) yang dibangun di atas platform Ethereum, mengalami kebobolan dan rugi US$150 juta.

Kasus ini pun membuat banyak pihak skeptis terhadap Ethereum. Namun, Vitalik mengaku tidak terlalu khawatir. “Saya tetap merasa tenang meski ada masalah [di Ethereum] karena saya akan terus mencoba mengatasinya,” ungkap Vitalik.

Ia juga yakin masa depan Ethereum—dan teknologi blockchain—akan cerah. “Keunggulan utama teknologi blockchain adalah keamanannya, namun orang akan sulit mempercayai sesuatu yang baru,” ucap Vitalik. “Itu paradoks yang tidak bisa diubah, dan saya harus menerima hal tersebut,” imbuhnya.

Comments

comments