Fitur Belajar dari Keberhasilan Alibaba di Single’s Day

Belajar dari Keberhasilan Alibaba di Single’s Day

Alibaba berhasil mencatat hasil mengesankan di hari belanja online Single’s Day tahun ini. Mereka membukukan GMV (Gross Merchandise Volume, atau total nilai transaksi) sekitar US$25,3 milyar atau Rp.329 trilyun dalam hari belanja berdurasi 24 jam tersebut. Angka ini meningkat 39% dibanding tahun lalu dan menjadi hari belanja terbesar di dunia saat ini. Sebagai perbandingan, acara sejenis Black Friday di AS “cuma” mencatat transaksi sebesar US$3 milyar.

Bagi Anda yang belum tahu, Single’s Day awalnya hanyalah hari tidak resmi yang dirayakan mahasiswa di China bagi mereka yang belum memiliki pasangan. Tanggal 11 November (atau 11.11) dipilih karena menggambarkan kesendirian sekaligus keinginan untuk bertemu pasangan. Namun sejak tahun 2009, Alibaba menjadikan hari “jomblo” ini sebagai hari belanja online yang ditunggu konsumen Tiongkok.

Ada banyak alasan mengapa Single’s Day menjadi hari belanja online yang masif. Salah satunya adalah acara pembukaan yang ditayangkan langsung di televisi dan selalu menghadirkan selebriti terkenal. Jika tahun lalu David Beckham, tahun ini Alibaba mengundang musisi

Pharell dan petenis Maria Sharapova. Acara berdurasi empat jam ini juga berlangsung interaktif. Contohnya program Watch Now-Buy Now yang memungkinkan pemirsa membeli produk yang ditampilkan.

Tahun lalu, setidaknya 400 juta konsumen Tiongkok menyaksikan langsung acara tersebut.

Integrasi O2O

Namun di balik seremoni meriah tersebut, Alibaba juga berhasil membuat strategi pemasaran yang jitu untuk Single’s Day. Termasuk tahun ini, ketika Alibaba mencoba mewujudkan konsep baru yang mereka sebut “New Retail”. Konsep ini menggabungkan konsep belanja online dan offline yang terintegrasi, sehingga memudahkan konsumen mendapatkan produk yang mereka inginkan.

Sebagai contoh, Alibaba membuka 60 kios sementara (pop-up store) di 52 mal di 12 kota di China. Di toko fisik ini, tersedia berbagai fasilitas berbasis teknologi yang memudahkan konsumen berbelanja. Misalnya magic mirror yang memungkinkan konsumen mencoba secara virtual produk yang mereka incar. Jika cocok, konsumen tinggal memindai QR Code produk tersebut dan melakukan pembayaran menggunakan Alipay.

Pop-up store L’oreal memiliki fasilitas Magic Mirror yang memungkinkan konsumen menjajal kosmetik secara virtual. Jika tertarik membeli, konsumen cukup membayarnya menggunakan Alipay

Alibaba juga melibatkan 100 ribu toko retail fisik dari berbagai brand, seperti Gap, Levis, atau L’oreal, untuk menjadi Smart Stores. Di toko tersebut, Alibaba menyediakan layar berukuran besar yang memuat produk-produk yang tidak ada di toko tersebut namun bisa dibeli secara online.

Layar tersebut juga bisa menampilkan informasi terkait produk yang tersedia di toko. Konsumen cukup mendekatkan produk yang ditaksir ke ke layar tersebut. Setelah itu, menggunakan identifikasi berbasis gelombang radio, layar tersebut akan menampilkan informasi produk dari halaman resmi produk tersebut di Tmall (situs online Alibaba). Informasi seperti stok yang tersedia, program diskon, sampai ulasan pengunjung lain akan tersedia di layar, sehingga bisa membantu konsumen memutuskan pembelian.

Alibaba juga melibatkan 600 ribu toko retail kecil untuk terlibat dalam hari belanja online ini. Toko retail ini diberikan software dan mobile apps gratis sehingga bisa menerima pembelian barang yang tersedia di Tmall. Mereka juga diberi informasi mengenai produk yang populer sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya transaksi.

Menurut Michael Evans, President Alibaba, integrasi O2O ini menjadi penting mengingat masih banyaknya toko retail konvensional di China. “Kami menemukan hanya 18 persen toko retail di China yang sudah online, sementara sisanya masih berlangsung secara offline” ungkap Evans. Melalui pendekatan “New Retail” ini, Alibaba ingin mengintegrasikan dunia online dan offline ini ke seluruh proses bisnis toko retail, mulai dari pengelolaan stok, logistik, sampai pembayaran.

Jika integrasi ini berhasil, Alibaba akan memiliki pondasi yang kokoh untuk menguasai bisnis retail di China yang nilainya mencapai US$4886 milyar tersebut.

Comments

comments