Fitur Botika: Cara Cepat Membangun Chatbot

Botika: Cara Cepat Membangun Chatbot

“Produk chatbot Botika dibangun di atas Natural Language Processing (NLP) yang dapat memahami percakapan Bahasa Indonesia sehari-hari” Ditto Anindito, CEO Botika

Penggunaan chatbot kini semakin populer. Sebut saja Telkomsel yang memiliki Veronika atau BCA dengan Vira. Chatbot diyakini dapat meningkatkan layanan yang lebih personal kepada konsumen sekaligus meningkatkan efisiensi. Pasalnya chatbot bisa diakses dengan mudah di platform digital, tersedia 24×7, serta dapat menjawab pertanyaan mendasar tanpa perlu melibatkan manusia. Tak heran jika Business Insider memperkirakan, 80% perusahaan akan mengadopsi chatbot di tahun 2020.

Jika perusahaan Anda tertarik memanfaatkan chatbot, Botika adalah salah satu pilihan. Perusahaan asal Jogjakarta ini menawarkan layanan implementasi chatbot untuk berbagai platform, mulai dari Facebook Messenger, Line, Telegram, sampai situs perusahaan. Produk chatbot mereka dibangun di atas Natural Language Processing (NLP) yang dapat memahami percakapan Bahasa Indonesia sehari-hari.

Menurut Ditto Anindita (CEO Botika), saat ini konsumen yang telah berinteraksi dengan chatbot Botika mencapai 5,7 juta orang. Angka ini diperoleh dari semua platform dan partner yang ditangani Botika, termasuk produk pertama mereka, Botika Travel. Botika Travel ini bisa menangani semua aspek pemesanan tiket, mulai dari pencarian jadwal, pemesanan, sampai tiket yang siap digunakan.

Untuk memulai implementasi chatbot, hal mendasar yang harus ditentukan adalah menentukan kebutuhannya. “Apakah info produk, customer service, atau transaksi” cerita Ditto. Setelah itu, akan dilihat user journey dari konsumen. “Mereka akan mulai dari mana dengan menu apa saja, lalu proses apa proses selanjutnya” cerita Ditto. Dari masukan tersebut, chatbot bisa langsung diprogram dan diimplementasikan sambil dievaluasi keefektifannya secara reguler.

Ketika berdiri di September 2016, Botika sebenarnya lebih menyasar social commerce alias penjual perorangan yang berjualan secara online. Namun belakangan, mereka justru mendapatkan klien perusahaan besar yang ingin mengefisiensikan layanan pelanggannya. “Dari yang sebelumnya call center, kini ditandemkan dengan chatbot” tambah Ditto. Petugas call center hanya perlu menjawab pertanyaan yang tidak dapat dijawab chatbot.

Beberapa contoh klien Botika adalah XL Axiata yang menggunakan chatbot untuk layanan pelanggandan Bank Bukopin untuk pelayanan TI internal.

Penilaian kinerja chatbot biasanya dihitung melalui tingkat kepuasan konsumen. “Contohnya di akhir sesi, konsumen akan ditanya, berapa tingkat kepuasan Anda” ujar Ditto. Ada pula evaluasi internal dengan melihat chat history dan menganalisa apakah kualitas chatbot sudah memuaskan. Proses analisa ini bisa lebih komperehensif karena percakapan dari seluruh kanal sendiri akan dikirim ke server Botika.

Selain menjadi layanan konsumen, chatbot sebenarnya bisa digunakan untuk mendata preferensi konsumen. Preferensi ini bisa menjadi alat pemasaran yang efektif. “Jadi ketika seorang pelanggan menanyakan pulsa, di chat berikutnya kita bisa menawarkan paket pulsa” tamba Ditto. Chatbot juga bisa digunakan untuk melihat sentimen konsumen terhadap perusahaan. “Contohnya jika kata-kata yang digunakan kasar, berarti sentimennya negatif” tambah Ditto.

Nah, tertarik menggunakan chatbot?

Comments

comments