Fitur Enterprise Edge Computing Atasi Kelemahan Cloud

Edge Computing Atasi Kelemahan Cloud

Foto: Thinkstockphotos

Cloud computing telah banyak dibahas oleh masyarakat teknologi informasi (TI) selama dua dekade belakangan ini. Kini peran dan manfaatnya sudah tak dipertanyakan lagi. Cloud telah diterapkan oleh sebagian besar enterprise di dunia.

Dalam konteks jaringan IoT, cloud menjadi sarana pengumpul dan penyimpanan sejumlah besar data yang berasal dari peranti sensor dan peralatan atau mesin-mesin lainnya yang menghasilkan data. Data kemudian diolah dan dianalisa yang hasilnya adalah informasi yang bermanfaat bagi penggunanya.

Cloud menjadi semakin pintar karena dilengkapi dengan fitur kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dan machine learning (ML) untuk menganalisis data.

Tetapi ada satu kelemahan cloud computing yang bahkan tidak dapat ditoleransi untuk aplikasi tertentu, yaitu latency. Bila diterjemahkan secara bebas, latency adalah waktu yang dibutuhkan oleh cloud untuk memberikan informasi balik ke penguna atau ke peranti tertentu.

Misalnya, cloud yang mengumpulkan data dari suatu mesin pengolah bahan kimia eksplosif. Akan sangat berbahaya jika cloud terlambat memberikan informasi kepada alat pencegah ledakan ketika terdeteksi adanya anomali pada jalannya mesin. Pada kondisi seperti ini kita membutuhkan fitur low latency dari komputasi cloud, yaitu respon yang instan dari cloud.

Fitur low latency ada kalanya sulit dicapai karena memang posisi cloud yang tidak dapat didekatkan ke sumber data. Juga masalah bandwidth yang rendah di wilayah pelosok, tempat di mana peranti IoT berada. Jawaban untuk masalah itu adalah edge computing.

Apa itu Edge Computing?

Edge computing dapat mendekatkan infrastruktur komputasi ke sumber data. Hal ini memungkinkan pengumpulan data dan analisis dilaksanakan secara lokal di dekat sumber data. Informasi hasil analisis data disampaikan ke pengguna atau ke mesin lain secara instan.

Konsekuensi dari adanya infrastruktur edge computing tersebut adalah koneksi ke internet atau ke pusat tidak harus terus-menerus. Di dunia industri, pemanfaatan teknologi edge computing sangat penting, terutama pada kasus konektivitas yang rendah karena lokasi mesin atau peranti IoT yang jauh dari infrastruktur cloud. Low latency pada sektor industri juga diperlukan misalnya dalam  interaksi antara mesin penghasil data dengan mesin lain yang harus melaksanakan aksi.

Infrastruktur edge computing tersebut diberi kemampuan komputasi, penyimpanan, dan layanan network untuk mengumpulkan dan analisis data secara lokal. Sedangkan peranti edge dapat berupa peranti komputasi yang berdiri sendiri atau peranti peranti pengumpul data yang dilengkapi dengan fitur komputasi, penyimpanan, dan layanan network.

Edge vs Cloud

Dari sisi arsitektur, edge termasuk golongan distributed computing. Infrastruktur edge terdistribusi dan berada di berbagai tempat yang dekat dengan peranti pengumpul data. Kebalikannya, cloud computing merupakan arsitektur yang terpusat.

Dalam kasus sekarang ini, pada kondisi tertentu, fungsi edge computing memang dapat menggantikan cloud. Namun secara umum, antara edge dan cloud computing akan beroperasi secara berdampingan. Masing-masing komputasi tersebut memiliki peran yang penting dan saling mengisi.

Edge computing akan mengolah data yang dibutuhkan untuk aksi atau respon cepat. Sedangkan data lainnya yang perlu dianalisis lebih lanjut atau membutuhkan daya komputasi besar akan dikirim ke cloud. Dengan demikian tidak semua data dikirim ke cloud sehingga mengurangi beban jaringan dan menghindari potensi bottleneck di layanan pusat. Mengirim semua data ke pusat tidaklah praktis dan efisien.

Contohnya adalah autonomous car (mobil swakemudi). Mobil ini dipasangi ratusan sensor dan data yang dihasilkan tidak seluruhnya dikirim ke cloud. Data-data yang berkaitan dengan respon cepat seperti fungsi rem, akan diolah oleh sistem di dalam mobil. Sedangkan data lainnya yang berasal dari sensor kinerja mesin mobil misalnya, akan dikirim ke cloud untuk analisis lebih lanjut.

Dua Jenis Edge

Ada dua cara yang dapat dilakukan untuk membuat edge berkemampuan cloud, yaitu dengan menginstalasi software di edge yang mengemulasi layanan cloud atau dengan “memperpanjang” cloud ke banyak lokasi point-of-presence (PoP).

Model pertama, pengguna menginstalasi edge software pada hardware khusus atau hardware yang sudah ada yang telah memberikan layanan lain. Peranti yang menjalankan software tersebut bisa berprosesor ARM dengan konsumsi daya listrik rendah.

Peranti dengan software tersebut menangani komunikasi machine-to-machine (M2M) selain menyimpan data dari sensor-sensor yang ada. Arsitektur edge computing seperti ini disebut device edge; dalam hal ini pengguna memiliki hardware sendiri yang menjalankan edge software. Contoh  edge software adalah AWS Green Grass dan Microsoft Azure IoT Edge.

Model kedua adalah cloud edge, yakni berupa ekstensi atau perpanjangan dari public cloud. Ektensi dari public cloud tersebut tersedia dalam bentuk yang dapat didistribusikan ke berbagai lokasi edge. Berbeda dengan device edge, cloud edge dimiliki dan dipelihara oleh provider public cloud.

Untuk distribusi cloud edge ke pelanggan/pengguna, public cloud provider dapat memanfaatkan tower BTS (base transciever station) milik operator telekomunikasi seluler. BTS dapat dilengkapi dengan data center mini sebagai ekstensi dari public cloud.

Kini edge computing baru pada tahap awal. Para peneliti memperkirakan edge computing akan semakin berkembang seiring dengan kebutuhan untuk memanfaatkannya. Perkembangan IoT juga menjadi pendorong dari pemanfaatan edge computing. Para vendor pun sudah melihat peluang yang besar darinya.

Comments

comments