Senja Lazuardy: Mendunia dengan Augmented Reality

Pembahasan tentang teknologi augmented reality (AR) semakin seksi akhir-akhir ini. Khususnya setelah Apple dan Google memamerkan framework AR-nya masing-masing, ARKit di iOS dan ARCore di Android. Bermodal kedua platform itu, para pengembang diyakini akan lebih cepat dan mudah dalam membuat aplikasi-aplikasi berfitur AR untuk perangkat mobile.

Bicara soal meningkatnya pamor AR, tentu saja tidak bisa dilepaskan dari peran penting “Pokemon GO”, mobile game besutan Niantic Labs dan Nintendo. Sejak dirilis dua tahun lalu, permainan ini sudah merebut hati jutaan pengguna di seluruh dunia dan sekaligus memperkenalkan contoh aplikasi AR kepada masyarakat.

Sejatinya, teknologi AR (dan saudaranya, virtual reality/VR) sudah dikenal sejak tahun 1930-an. Beberapa tahun lalu pun, Google pernah mencoba mengadopsi AR lewat peranti Google Glass. Tetapi, mengapa baru sekarang ini platform AR dihadirkan bagi khalayak secara luas oleh Apple dan Google?

“Menurut saya, alasannya karena perkembangan teknologi, baik spesifikasi hardware maupun kinerja sistem pada smartphone itu sendiri, sudah mulai mendukung fungsi-fungsi yang ada pada teknologi AR,” kata Senja Lazuardy (Co-Founder & IT Director, Slingshot Group). “Saya juga meyakini, banyaknya smartphone yang menggunakan dual camera akan mempercepat penerapan AR,” tukasnya.

Ia pun menjelaskan bahwa teori di balik ARKit dan ARCore sebetulnya bukan hal baru di dunia AR, yaitu menggunakan metode Parallel Tracking and Mapping (PTAM) atau Simultaneous Localization and Mapping (SLAM).

Metode PTAM bekerja dengan cara mengenali bidang datar. Dengan satu kamera, smartphone perlu digerakkan untuk mengenali dua titik yang berbeda dan menunjukkan bidang datar. Sedangkan dengan dua kamera, smartphone bisa mengenali bidang datar tanpa harus digerakkan sehingga hasil proyeksinya pun lebih cepat dan real-time.

Penggunaan dua kamera atau lebih nantinya juga akan mengembangkan metode AR menjadi environment-based tracking yang mampu mendeteksi kedalaman objek secara tiga dimensi. “Contohnya kamera depan yang dipakai Apple di iPhone X,” tukas alumnus Universitas Al-Azhar Indonesia ini.

Senja menambahkan, sebenarnya Google telah memiliki teknologi berbasis environment-based tracking pada project Tango yang lebih canggih daripada ARCore karena mengandalkan tiga kamera. Produknya pun bisa dilihat pada Lenovo Phab 2 Pro dan Asus Zenfone AR. “Tapi, teknologi ini terpaksa ditarik mundur demi menarik pasar yang lebih besar [dengan ARCore],” imbuhnya.

Bukan Cuma Mobile Game

Senja memang terdengar begitu fasih memaparkan seluk-beluk teori dan praktik pemanfaatan teknologi AR. Pasalnya, ia bisa digolongkan sebagai tokoh veteran dalam industri AR di Indonesia.

Pada tahun 2009, Senja Lazuardy dan beberapa rekannya mendirikan sebuah perusahaan digital yang berfokus pada pengembangan solusi berbasis teknologi AR, yakni AR&Co. Saat itu, AR masih jauh dari pembicaraan banyak orang. “Dulu, kami memang perlu usaha besar untuk menjelaskan konsep AR. Seiring waktu, sekarang teknologi ini lebih mudah diterima pelanggan,” tukasnya.

Dalam delapan tahun, bisnis AR&Co mengalami pertumbuhan yang cukup pesat sampai melahirkan dua unit bisnis baru, DAV yang menggarap bisnis digital advertising dan Mindstores yang menawarkan konsep toko virtual. Saat ini, AR&Co, DAV, dan Mindstores tergabung ke dalam Slingshot Group.

Hebatnya, jajaran klien Slingshot Group tidak hanya berasal dari dalam negeri, tetapi juga luar negeri, seperti Vietnam, Spanyol, Nigeria, dan Amerika Serikat. Beberapa nama mentereng yang pernah menjadi pelanggan mereka antara lain Caltex, Dutch Lady, Disney, Telkom Indonesia, Nestle Dancow, Alfamart, dan WWF Indonesia.

Bahkan, Slingshot Group sudah mengharumkan nama Indonesia di ajang AR World Expo tahun 2015  dan 2016. Acara bergengsi itu diadakan di Silicon Valley setiap tahun dan  disebut-sebut sebagai “Piala Oscar” di industri AR.

“Di tahun 2015, kami menang karena aplikasi kampanye calon presiden Nigeria, Muhammadu Buhari. Setiap pengguna mengarahkan ponsel ke logo partai pendukungnya, akan muncul konten kampanye terkait capres itu,” papar Senja. Kampanye berbasis teknologi itu terbukti sukses meraih atensi dari generasi muda dan mendukung kemenangan Buhari mengalahkan capres petahana.

Implementasi AR di Nigeria membantu Muhammadu Buhari memenangkan pilpres di Nigeria

Studi kasus lainnya dicontohkan pada pengalaman Slingshot Group mengembangkan aplikasi AR untuk Saldana, penerbit ensiklopedia anak-anak di Spanyol. Ada empat aplikasi untuk empat buku dengan tema berbeda: Dinosaurs, Human Body, Animals, dan Civil. Aplikasi ini menampilkan konten interaktif yang menyuguhkan pengalaman baru kepada anak-anak.

“Memang saat ini di pikiran banyak orang, AR itu hanya untuk keperluan game dan marketing. Padahal, lebih dari itu, bisa dimanfaatkan untuk pendidikan, engineering, dan lain-lain,” ucap Senja. “Cuma di pasar Indonesia masih sulit melakukan hal itu,” sambungnya.

Tantangan Teknis dan Nonteknis

Setiap hari bergulat dengan urusan riset, Senja mengaku tidak asing lagi dengan berbagai perangkat AR, seperti Microsoft HoloLens dan Google Glass. Ia pun kian memahami tantangan teknis dan nonteknis yang dihadapi dalam pengembangan solusi digital berbasis AR.

Dari sisi teknis, kendala utama terletak pada keterbatasan field of view (FoV) atau luasan pandang antara dunia nyata dan dunia maya. “Tujuan riset ini pastinya agar kita bisa berinteraksi senyata mungkin dengan objek virtual,” ia berkata. “Tapi, sekarang perangkatnya masih sebatas kacamata,” lanjutnya.

Kacamata AR yang ada di pasaran saat ini pun masih memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Misalnya kacamata AR dengan layar smartphone. Tampilannya memang lebih luas, tetapi kurang terlihat nyata. Sedangkan kacamata AR dengan lensa optikal (transparan) tampak lebih realistis, namun ruang display terbatas.

“Yang masih ditunggu wujudnya adalah Magic Leap dengan teknologi virtual retina display. Jadi, objek virtual itu diproyeksikan langsung ke retina mata kita. Otomatis, FoV-nya tidak terbatas,” tutur Senja.

Sementara itu, tantangan dari sisi nonteknis adalah harga perangkat AR yang masih mahal sehingga sulit terjangkau oleh masyarakat umum. Misalnya, HoloLens dan Google Glass dibanderol lebih dari US$3.000 atau Rp40 jutaan. Selain itu, belum banyak aplikasi AR yang cukup menarik dan mampu menjadi nilai tambah tersendiri bagi pengguna.

Senja berharap, dengan dukungan ARKit dan ARCore di smartphone, adopsi aplikasi AR dapat melesat dalam beberapa tahun ke depan.

Comments

comments