Wujudkan Smart City, Singapura akan Pasang 100 Ribu CCTV Canggih di Jalanan

Ilustrasi CCTV di Singapura

Singapura akan memasang kamera pengawas (CCTV) di 100 ribu lebih tiang lampu jalanan kota Singapura. Tentunya, kamera-kamera CCTV itu mengusung software berbasis kecerdasan buatan (AI).

Salah satu teknologi canggih CCTV-nya mampu merekam dan mengenali dengan jelas wajah orang-orang di tengah kerumunan. Bahkan, Pemerintah Singapura telah menunjuk GovTech untuk bertanggung jawab atas proyek tersebut.

“Sebagai uji coba, kami menguji berbagai jenis sensor pada tiang lampu termasuk kamera yang dapat mendukung kemampuan pengenalan wajah, kata juru bicara GovTech seperti dikutip Reuters.

Jaringan pengawasan video seperti itu sudah umum di kota-kota besar dunia, seperti London atau New York. Namun, teknologi kamera CCTV Singapura dapat menganalisa wajah warga mirip dengan implementasi CCTV di Tiongkok

Susul Tiongkok

Kementerian Keamanan Publik Tiongkok dan Isvision sedang mengembangkan proyek teknologi sensor wajah untuk mendeteksi wajah secara akurat dan mengungkapkan identitas seluruh warga Tiongkok yang berjumlah 1,3 miliar jiwa.

Isvision merupakan perusahaan teknologi asal Shanghai yang memenangkan tender itu dan enggan merinci progres perkembangan proyek tersebut. Isvision mengklaim teknologi sensor wajahnya mampu mengenali satu dari 1,3 miliar wajah warga Tiongkok hanya dalam tiga detik dengan tingkat akurasi 88 persen.

Isvision akan membangun system, database, dan memasang jaringan kamera-kamera berbasis cloud di setiap sudut kota-kota di Tiongkok termasuk sinyal lalu lintas, kereta bawah tanah, dan sarana publik lainnya. Tentunya, kecanggihan fitur itu akan memicu kekhawatiran terkait privasi pengguna.

Apalagi, Apple dan perusahaan teknologi lainnya harus tunduk kepada aturan yang diterapkan pemerintah Tiongkok terkait virtual private network (VPN).

Clare Garvie (Pengacara Privasi asal Inggris) mengatakan pemberlakuan teknologi sensor wajah itu akan berdampak buruk kepada warga Tiongkok. Misal, ada tahanan yang dipenjara selama bertahun-tahun karena kejahatan yang tidak pernah mereka lakukan karena hasil pengujian DNA yang cacat.

“Teknologi pengenalan wajah ini berisiko salah mengidentifikasikan orang sebagai penjahat. Apalagi, para penegak hukum di Tiongkok cenderung menciduk ‘orang-orang yang menarik perhatian pemerintah’,” katanya seperti dikutip TheNextWeb.

Tiongkok beralasan inovasi pengenal wajah itu akan melindungi warganya dari tindakan kriminal.

Comments

comments