Strategi Penerapan Hybrid IT

Artikel ini adalah sumbangan dari komunitas InfoKomputer. Jika Anda memiliki pemikiran yang ingin dibagi ke audience InfoKomputer, silakan kirim tulisan Anda ke redaksi[at]infokomputer.com. 

Penulis: Faisal Yahya, Head of Information Technology IBS Group

Penempatan infrastruktur IT di lokasi pihak ketiga (off-premise), atau biasa di sebut dengan cloud computing merupakan sebuah terobosan bagi pemetaan infrastruktur IT dalam beberapa tahun terakhir. Pemikiran akan availabilitas sistem (up-time) hingga penurunan biaya modal (capex) menjadi pendorong adopsi cloud computing. Efektifitas penggunaan dalam kaitan skalabilitas computing power dan storage merupakan keuntungan lain yang akan di rasakan dalam penggunaan jangka panjang

Namun pada prakteknya, ditemukan banyak kendala adopsi cloud, khususnya bila terkait dengan legacy application atau bahkan penggunaan mainframe yang hingga kini masih banyak di pergunakan oleh perusahaan. Perbandingan cost dan benefit-nya pun akan terasa semakin kecil jika infrastruktur cloud tersebut hanya di akses dari dalam oleh internal perusahaan.

Pada kasus ini, penggunaan on-premise untuk infrastruktur tersebut akan menjadi opsi yang lebih cocok dipilih.

Lahirnya Hybrid IT

Kondisi ini memicu penggabungan kedua konsep ini. Rancangan dualisme antara cloud computing (atau off-premise) dan IT infrastruktur jaringan lokal (on-premise) akhirnya melahirkan istilah “Hybrid IT”‘. Hybrid IT di sini berbeda dengan istilah hybrid cloud yang menggabungkan penggunaan dari public dan private cloud.

Pada Hybrid IT, keunggulan dan kelemahan masing-masing dipadukan untuk melahirkan ‘breed‘ yang lebih baik. Potensi resiko yang dapat terjadi karena penerapan cloud computing ditekan dengan penggabungan on-premise. Hal ini khususnya ditujukan untuk aplikasi internal yang digunakan oleh karyawan sehari-hari dan tidak memerlukan akses dari luar.

Di sisi lain, ketika biaya akuisisi serta operasional semakin tinggi, ditambah peningkatan permintaan atas computing-power dan storage, dapat dijawab dengan cloud computing. Misalnya, aplikasi web yang menyimpan file berupa gambar atau video dalam ukuran besar bisa terbantu dengan penerapan Content-Distributed-Network (CDN) yang tentunya sudah berbasis cloud. Pendekatan cloud juga berpengaruh positif untuk infrastruktur yang memerlukan up-time yang tinggi karena diakses sebagian besar oleh client ataupun remote-worker.

Di sisi lain, ketika biaya akuisisi serta operasional semakin tinggi, ditambah peningkatan permintaan atas computing-power dan storage, dapat dijawab dengan cloud computing.

Istilah Hybrid IT sebenarnya bukan merupakan istilah baru dalam dunia IT. Hal ini didukung survei yang dilakukan “The Hybrid Hive” di tahun 2016 atas lebih dari 1.000 pengambil keputusan IT pada tujuh negara. Survei tersebut menunjukkan, terdapat 40% atau setidaknya 400 perusahaan telah mempergunakan Hybrid IT. Hal ini tidak terlepas dari rangkaian proses transformasi digital atas proses traditional yang secara kontinu mulai di kurangi. Hal ini juga diperkuat oleh 79% responden yang menyatakan bahwa Hybrid IT adalah sebuah perkembangan yang tidak dapat dihindari, apalagi jika optimalisasi capex menjadi driving-factor paling utama.

Mengapa Hyrid IT?

Di samping mengurangi potensi resiko, penggunaan Hybrid IT dapat menurunkan biaya operasional perusahaan. Penurunan biaya semakin optimal melalui strategi dan perencanaan yang matang. Konsep pay-as-you-go pada dapat membantu menekan biaya operasional.

Amazon Elastic-Compute-Cloud (Amazon EC2), misalnya, memberikan fleksibilitas kepada pelanggan untuk memilih kapasitas CPU, Memory, Operating System, Networking Capacity, dan Access Control. Hewlett Packard dengan solusi HPE Flexible Capacity memberikan nilai kompetitif lain, seperti tagihan mengacu pada kapasitas yang dipergunakan (capacity used) dan bukan kapasitas yang di sediakan (capacity deployed). Bahkan semua ini bisa di lihat dalam satu kesatuan tagihan (invoice).

Penerapan cloud juga bisa menekan time-to-market dari sebuah sistem ke titik paling optimal. Delay yang disebabkan delivery saat akuisisi hardware tidak lagi menjadi sebuah keterbatasan. Teknologi snapshot dan clone pada virtualisasi di cloud akan mempermudah pengujian sebuah sistem sambil meminimalkan resiko gangguan. Penerapan on-premise juga dapat dijalankan untuk main-frame, legacy application, atau sistem aplikasi lainnya yang belum cocok untuk berjalan di cloud.

Penerapannya pun tidak statis, dalam arti tidak selamanya aplikasi yang diletakkan di cloud tetap akan seperti itu seterusnya, dan begitu pula sebaliknya. Tentu saja semua keuntungan ini bisa di tingkatkan secara kontinu melalui perencanaan dan strategi yang matang dalam menentukan penempatan infrastrukturnya.

Meski menawarkan berbagai kelebihan, hybrid IT tetap memiliki tantangan yang harus diantisipasi.