Find Us On Social Media :

Ericsson Prediksi Pelanggan 5G Capai 1,5 Miliar pada 2024

By Adam Rizal, Jumat, 21 Desember 2018 | 16:00 WIB

Ilustrasi Ericsson 5G

Pada akhir tahun 2024, pelanggan jaringan 5G diramalkan akan mencapai 40 persen dari total seluruh pengguna internet mobile secara global atau sekitar 1,5 miliar.

Perkiran pertumbuhan angka dari nol yang dikemukakan Ericsson ini tergolong cukup cepat, mengingat ekosistem perangkat 5G baru akan mulai terbentuk di tahun 2019 mendatang.

Berdasarkan data dari Ericsson Mobility Report, jaringan 5G di akhir tahun 2018 ini memang masih belum berjalan secara signifikan. Ekosistem perangkat yang mampu berjalan dengan kecepatan 5G pun masih sangat minim.

Namun, 2019 akan menjadi titik awal di mana jaringan 5G akan mulai menggurita. Wilayah Amerika Utara ditengarai akan menjadi kawasan yang mengadopsi 5G paling cepat dan luas.

Menurut Ronni Nurmal, VP Network Services Ericsson Indonesia, Amerika Utara memang menjadi kawasan yang pertama kali mengadopsi jaringan 5G. Karena itulah penetrasi 5G di wilayah tersebut akan lebih cepat dari wilayah lain.

Kemudian "Amerika Utara selalu menjadi kiblat karena memang yang pertama mengadopsi 5G. Eropa berada sedikit di belakang. Berikutnya akan masuk ke Asia bagian utara seperti Jepang dan China," ungkap Ronni dalam acara Ericsson Mobility Report.

Sementara, untuk wilayah Asia Tenggara, dalam beberapa tahun ke depan jaringan 4G LTE diperkirakan masih tetap menjadi yang dominan. Pasalnya jaringan 5G sendiri diprediksi baru akan mulai digelar pada 2021 mendatang.

"Untuk Asia Tenggara, LTE akan tumbuh lebih besar dan mencapai sekitar 63 persen di 2024. Jaringan 5G juga akan berkembang tapi tidak akan secepat di Amerika Utara," kata Ronni.

"Smartphone baru akan keluar pada kuartal kedua dan kuartal ketiga 2019. Akhir 2019 diprediksi akan ada launching besar untuk device dan jaringan. Kemudian di tahun 2020 masih dalam tahap perkembangan karena masih baru," lanjutnya.

Menurut Ronni, dalam beberapa tahun ke depan jaringan 5G akan banyak digunakan sebagai penunjang koneksi Internet of Things (IoT). Dalam kurun waktu enam tahun ke depan, diprediksi akan ada sebanyak 4 miliar perangkat yang IoT yang lahir.