Find Us On Social Media :

Pembobolan Rekening Ilham Bintang Ungkap Celah Keamanan SIM Card

By Adam Rizal, Sabtu, 18 Januari 2020 | 17:30 WIB

Tangkapan CCTV di gerai Indosat Bintaro Jaya Xchange. Si penipu yang mengaku sebagai Ilham Bintang terlihat berkonsultasi dengan karyawan customer service

Nomor subscriber identity module (SIM) atau kartu seluler Indosat milik pendiri media Cek dan Ricek, Ilham Bintang, dicuri orang tidak dikenal. Akibatnya, ratusan juta uang dalam rekeningnya turut ludes terkuras.

Pakar siber dari Vaksincom, Alfons Tanujaya, melihat kasus yang menimpa Ilham Bintang sebagai kesalahan dari pihak operator. Menurut dia, di era digital dan semua perangkat terkoneksi, nilai sebuah SIM Card sama dengan menjaga sebuah password. Keamanan informasi sensitif tidak hanya menjadi tanggung jawab pribadi, tetapi juga operator yang menyimpan informasi berharga pelanggan.

“Ini bobolnya dari provider, tapi masalahnya tidak sesederhana itu. It’s complicated. Pemerintah turut andil karena orang dengan mudah bikin KTP-el palsu,” kata Alfons dikutip dari Cyberthreat.id.

Alfons mengingatkan bahwa SIM Card adalah faktor otentikasi utama sehingga pengguna maupun provider telekomunikasi harus ekstra hati-hati. Si penipu adalah seorang yang lebih berani dan lebih pintar. Terbukti dari tangkapan CCTV.

“Soal fotocopy KTP elektronik di gerai, itu sebenarnya kalau di provider lain sama. Kita cuma diminta memperlihatkan (KTP) saja, enggak ada yang minta fotocopy-nya. Nah, ini prosedur bakunya belum jelas," ujarnya.

Ilham yang sedang berada di luar negeri ketika penipu beraksi punya dua kemungkinan terkait penggunaan SIM cardnya. Pertama, mengaktifkan kartu Indonesia yang tentu saja harganya mahal. Kedua, menggunakan kartu provider milik provider di Australia.

“Ini si penipu mengetahui kalau korban sedang berada di luar negeri,” tegas Alfons.

“Makanya dia datang ke gerai (Indosat). Ketika diminta melakukan SIM Swapping, artinya tidak terdeteksi. Logikanya, sebuah pertukaran SIM pasti bikin kartu korban tidak aktif," ujarnya.

Alfons menilai operator telekomunikasi harus memiliki sistem dan prosedur baku mengenai peraturan, pertukaran SIM card di gerai maupun customer service. Berkaca dari kasus penipuan yang menimpa Ilham Bintang, kesalahan terbesar bersumber dari operator karena dengan mudahnya melakukan pertukaran SIM tanpa kroscek dengan teliti.

“Prosedur harus lebih ketat untuk mengganti SIM card ini,” ujarnya.

Ia menuturkan, ketika seorang mendatangi customer service untuk melakukan pertukaran SIM, maka operator punya hak penuh untuk melakukan cross-check dan verifikasi.

Apakah cross-check itu melalui jejak telepon, jejak SMS, sehingga tidak sembarangan main ganti kartu tanpa ada tujuan jelas.