Find Us On Social Media :

Metode E-Voting Terbukti Bisa Tekan Biaya Pemilu dan Lebih Akurat

By Adam Rizal, Jumat, 29 Juni 2018 | 13:30 WIB

Ilustrasi e-voting

Indonesia telah menggelar Pilkada 2018 serentak di 171 daerah di seluruh Indonesia. Pilkada kali ini akan memiliki 17 gubernur-wakil gubernur, 115 bupati-wakil bupati, dan 39 walikota-wakil walikota.

Sayangnya, Pemerintah mengeluarkan anggaran yang besar untuk menggelar pesta demokrasi Pilkada dan Pilpres 2019, terutama untuk mencetak surat suara dan mendistribusikannya.

Padahal, penggunaan metode e-voting dapat menekan pengeluaran anggaran yang besar tersebut dan Komisi Pemilihan Umum (KPU) tidak perlu mencetak surat suara yang banyak dan mendistribusikannya ke daerah-daerah pemilih di Indonesia.

Amerika Serikat (AS), Belanda, Islandia, Brazil, India, dan Filipina sudah membuktikan penggunaan metode pemilihan secara elektronik atau e-voting sangat efisien dan dan dapat menghemat anggaran pemerintah.

Pierre Michel Chéry (Haiti Priorise) mengungkapkan dampak positif penerapan e-voting untuk pemilihan umum di Haiti yang terbukti sangat efisien. "Pengeluaran pemilu dapat dihemat hingga 1.2 miliar gourdes atau setara Rp250 miliar," katanya seperti dikutip Huffington Post.

Biaya pembelian mesin pemilihan elektronik senilai 1,1 triliun gourdes atau setara Rp242 miliar. Biaya itu sudah termasuk membeli mesin pemilihan, sebelas ribu mesin, termasuk perangkat keras, perangkat lunak, dan biaya operatornya.

Untungnya, KPU Haiti dapat menghemat biaya percetakan surat suara senilai 880 juta gourdes atau sekitar Rp188 miliar dan pengelolaan pusat tabulasi senilai 271 juta gourdes atau sekitar Rp58 miliar. Belum lagi, penghematan biaya transportasi yang digunakan untuk pendistribusian surat suara.

Berkat e-voting, KPU dapat menghitung hasil perhitungan suara dengan cepat karena mesin pemilihan elektronik langsung terhubung ke server, baik regional maupun nasional.

Mesin DS-2000

Pada pemilihan Presiden AS 2016, misalnya, KPU setempat menggunakan mesin pemindai surat suara canggih bernama DS-2000 yang dapat menghitung surat suara dengan akurat dan sangat sulit dicurangi.

Dalam pemilu AS 2016 memang masih memakai surat suara tetapi surat suara hanya untuk dipindai di mesin DS-2000 yang hasilnya langsung dicatat secara online.

"Kemudian, di akhir pemilu, teknologi besutan perusahaan elektronik ES&S akan mengeluarkan tabulasi jumlah pemilih secara keseluruhan di suatu wilayah," tulis laman Techrepublic.

Selain DS-2000, ada juga teknologi lain yang juga digunakan dalam pemilu AS 2016. Bedanya, mesin ini dibuat khusus untuk orang berkebutuhan khusus (difabel).

Menariknya, tiap difabel disediakan mesin berbeda. Ada mesin dengan huruf braile untuk mereka yang tuna netra. Bagi difabel tangan dan kaki bisa menggunakan semacam sedotan dengan cara dihisap atau ditiup.