Tags Posts tagged with "aplikasi lokal"

aplikasi lokal

Aplikasi Ayo Mudik.

Menjelang hari raya Lebaran tahun 2017, masyarakat Indonesia akan disibukkan dengan aktivitas rutin, yaitu mudik ke kampung halaman.

Untuk membantu para pemudik tahun ini, terutama yang menggunakan moda transportasi darat seperti bus, mobil, dan motor, Pemerintah melalui Menteri Komunikasi dan Informatika, Menteri Perhubungan, dan kepala lembaga lainnya meluncurkan aplikasi “Ayo Mudik” yang tersedia di platform Android.

Aplikasi “Ayo Mudik” memberi ketersediaan informasi mengenai jalur mudik, fasilitas yang ada di sepanjang jalur mudik, serta informasi titik kemacetan yang berpotensi memperpanjang durasi perjalanan mudik.

Lewat aplikasi ini, pemudik bisa mengetahui informasi lokasi posko mudik, pos polisi, posko kesehatan, SPBU, bengkel, masjid, ATM, info bencana, serta info lalu lintas terkini.

Konten dan informasi di dalam aplikasi “Ayo Mudik” didukung oleh berbagai kementerian dan lembaga terkait, yaitu Kementerian Perhubungan, Kementerian Kominfo, Kementerian Kesehatan, Kementerian ESDM, BMKG, Pertamina, Jasa Marga, Kepolisian RI, perusahaan telekomunikasi, serta perusahaan penyedia jasa dan produk internet.

Lahirnya aplikasi mudik resmi dari Pemerintah ini dilatarbelakangi kondisi tahun-tahun sebelumnya, akses informasi mutakhir dan lengkap untuk para pemudik masih sulit untuk diperoleh karena tidak terintegrasi dengan baik.

“Kita ingin ada aplikasi daya dukung mudik yang terpadu dengan nama Ayo Mudik. Pengembangannya dilakukan oleh tim pengembang Indonesia yang bertalenta, Kudo, dalam waktu kurang dari satu bulan,” kata Menkominfo Rudiantara dalam siaran pers, Kamis (13/6).

“Kami sangat senang bisa membantu Kementerian Komunikasi dan Informatika RI dalam menciptakan aplikasi terpadu ini. Besar harapan kami, aplikasi ini dapat membantu masyarakat Indonesia pada kesempatan mudik tahun ini,” imbuh Albert Lucius (CEO dan Co-Founder, Kudo).

Aplikasi “Ayo Mudik” sudah tersedia di Google Play Store dan siap diunduh oleh para pemudik agar perjalanan mudik lebih menjadi aman dan nyaman.

Richard Kartawijaya. [Foto: Abdul Aziz/InfoKomputer]

Pada tahun 2001, Indonesia diundang mengikuti APICTA (Asia Pasifik ICT Alliance) Awards di Malaysia. Sebagai pengurus Aspiluki (Asosiasi Peranti Lunak Telematika Indonesia), Richard Kartawijaya langsung bergerak mencari aplikasi yang bisa mengikuti acara tersebut.

“Targetnya kita cari dua puluh [karya], lalu diseleksi sehingga bisa kita bawa lima sampai enam karya ke sana,” kenang Richard. Namun ternyata, hanya enam aplikasi yang bisa ditemukan. Setelah diseleksi pun, hanya dua yang layak untuk berangkat.

Cerita Richard tersebut sedikit banyak bisa menggambarkan dunia aplikasi Indonesia kala itu. Ketika dunia TI Indonesia belum berkembang, aplikasi buatan anak bangsa pun agak susah didapat.

Namun situasinya kini jauh berbeda. Berbagai lomba aplikasi muncul, termasuk INAICTA (lomba skala nasional yang pemenangnya akan dibawa ke APICTA Awards).

“Tahun 2012, jumlah karya yang masuk INAICTA 2100 buah, dan lebih dari 30 karya bisa kita bawa ke APICTA di Brunei,” cerita Richard. Hasilnya pun tidak mengecewakan. “Indonesia meraih dua Winner Award dan beberapa Merit Award,” kata dia.

Tidak cuma jumlah peserta yang meningkat, namun juga teknologi yang digunakan. “Tahun 2001, teknologinya masih sangat sederhana,” ujar Richard. Namun aplikasi generasi sekarang sudah menggunakan teknologi terbaru, seperti tim dari UGM yang membuat aplikasi untuk terapi disleksia menggunakan XBox Kinect.

Richard berharap, berbagai lomba aplikasi ini akan mendorong perkembangan dunia TI Indonesia lebih tinggi lagi. Apalagi, efektivitas lomba cukup terbukti.

Salah satu aplikasi yang dibawa ke Malaysia di tahun 2001 itu adalah Zahir, yang namanya kini menjulang di ranah TI Indonesia. Lulusan INAICTA yang lain, seperti Agate atau Pesona Edu, juga berhasil menancapkan eksistensinya di Indonesia.

“Karya-karya anak bangsa di dunia ICT perkembangannya luar biasa,” tutup Richard.

PicMix dan Camera360 bekerjasama.

PicMix dan Camera360 bekerjasama.

Aplikasi PicMix adalah salah satu aplikasi buatan Indonesia yang sukses dipakai jutaan orang di seluruh dunia. Diluncurkan pada tahun 2012 dengan konsep aplikasi editor foto, PicMix kini dikenal sebagai media sosial fotografi dan konten visual yang berbasis minat dan komunitas.

Agar lebih memanjakan para penggunanya, PicMix baru-baru ini mengumumkan kerja sama dengan aplikasi editor foto paling populer asal Tiongkok, Camera360. Kerja sama ini memungkinkan PicMix untuk memakai dan menggunakan software development kit (SDK) berupa aneka tool dan filter khas Camera360 di dalam aplikasinya.

“Melalui kerja sama dengan Camera360, kami akan membawa pengalaman photo editing pada PicMix ke tingkat berikutnya dan kami juga akan menggandeng komunitas PicMix. Para pengguna PicMix akan dapat mencoba tool dan filter dari Camera360,” papar Calvin Kizana (Founder & CEO, PicMix).

“Untuk Camera360, kami akan terlibat dengan komunitas PicMix dan mendapatkan target pasar yang luas untuk produk, filter, serta fitur-fitur fotografi yang unik dalam pasar pengguna smartphone di Indonesia. Ini adalah kerja sama yang berharga bagi kedua belah pihak,” imbuh Xu Hao (Founder & CEO, Camera360).

Dengan berbagai produk, fitur, dan filter aplikasi yang berfokus di bidang fotografi, Camera360 telah mencapai lebih dari 700 juta pengguna di seluruh dunia, dengan hampir 3.000 foto yang diunggah para penggunanya setiap detik.

Camera360 dan PicMix sama-sama didukung oleh Gobi Partners, investor terkemuka dalam pasar Tiongkok dan ASEAN yang berinvestasi pada perusahaan teknologi tahap awal.

Kerja sama ini berfokus pada dedikasi perusahaan dalam menciptakan sinergi pasar antara Tiongkok dan Asia Tenggara demi membantu pertumbuhan perusahaan.

ari-sudrajat-clean-messaging-3

Pada bulan Februari lalu, Ari Sudrajat bersama rekannya Anton Nasser mempromosikan aplikasi lokal Clean Messaging di gelaran Mobile World Congress (MWC) 2016 Barcelona, Spanyol.

Apa yang kita lakukan jika mendapatkan SMS spam? Mungkin banyak di antara kita yang akan mengomel, menghapus SMS, atau memblokir nomor pengirim. Tapi, bagaimana jika kita sudah melakukan semuanya berulang kali?  

“Saya sering mendapat SMS spam, begitu juga dengan semua orang yang saya kenal. Semuanya sering mendapat SMS spam, tapi mereka tidak bisa melakukan apa-apa,” papar R. Ari Sudrajat (CEO dan Founder CleanMessaging.com) kepada InfoKomputer. Ari pun menilai jika masalah SMS spam sangat besar dan mendasar.

Hingga akhirnya, Ari memutuskan untuk membawa masalah SMS spam ini ke ranah bisnis. “Secara bisnis, kami berpikir ini seperti jualan air mineral, semua orang butuh dan market-nya besar sekali,” tutur Ari yang mengaku tertarik menjadi entrepreneur karena mewarisi minat sang nenek yang memiliki usaha bakery.

Selepas lulus kuliah, Ari sempat bekerja di perusahaan TI. Namun, setelah tiga tahun bekerja di sana, alumnus Jurusan Teknik Kelautan, ITB ini bersama beberapa temannya lantas memutuskan mendirikan perusahaan TI yang diberi nama PT Braincode Solution yang bergerak di bidang mobile content provider. Melalui bisnis ini, hampir seluruh provider telekomunikasi di Indonesia menjadi kliennya. Tak hanya itu, Ari juga mendirikan PT Makmur Sukses Untung yang menaungi Clean Messaging, aplikasi pemblokir SMS Spam.

Seperti anak-anak lainnya, Ari melalui masa kecilnya dengan banyak bermain. Hanya saja Ari mengaku sering berpindah-pindah kota karena mengikuti orang tuanya yang bekerja sebagai PNS. “Jadi sering pindah sekolah juga,” ujarnya.

Masa SMA mungkin bisa disebut menjadi cikal bakal kariernya saat ini. Ari menyebut awalnya tertarik dengan dunia TI adalah saat berkenalan dengan pemrograman BASIC saat mengikuti kegiatan ekstrakurikuler di sekolahnya. “Jadi awalnya tertarik dari situ bahwa banyak masalah yang bisa kita selesaikan dengan TI,” ujar Ari.

Ari menjelaskan, aplikasi Clean Messaging karyanya ini tidak hanya bisa digunakan di Indonesia, namun juga bisa dinikmati oleh pengguna Android di seluruh dunia. Pengguna tinggal mengakses Play Store dengan kata kunci clean messaging, lalu perhatikan hasil tampilan dengan nama Clean Messaging: Block SMS Spam.

Hingga saat ini Clean Messaging terbagi menjadi dua versi, yakni versi gratis dan berbayar. Jika pilih yang berbayar, pengguna akan dikenai biaya US$19,90 atau setara dengan Rp249 ribu. Harga tersebut cukup standar jika dibandingkan dengan teknologi tinggi dan tampilan yang cukup menarik. (InfoKomputer menyediakan kode voucher gratis untuk versi Pro. Caranya? Baca artikel ini sampai selesai.)

Patenkan Fitur

ari-sudrajat-clean-messaging-1

Ari memutuskan untuk membawa masalah SMS spam ini ke ranah bisnis. “Secara bisnis, kami berpikir ini seperti jualan air mineral, semua orang butuh dan market-nya besar sekali,” tuturnya.

Begitu pengguna menginstal aplikasi Clean Messaging, semua SMS spam akan langsung diproses secara otomatis. Pengguna tidak perlu menandai nomor mana yang termasuk spam, seperti halnya di aplikasi lain sejenis. Ari menilai, spammer selalu berganti nomor HP, sehingga jika sekarang pengguna memblokir nomor A, besok ia akan tetap terkena spam lagi. Ini karena spammer sudah berganti nomor baru.

Alasan itulah yang mendorong Ari menciptakan aplikasi pemblokir SMS spam Clean Messaging yang diklaim berbeda dengan aplikasi sejenis. Clean Messaging menawarkan beberapa fitur canggih, mulai dari auto pop up reply, support Android Wear, sampai “proximity sensor” yang memungkinkan orang bisa mengangkat HP ke dekat telinga sehingga otomatis menelepon.

Namun Ari menyebut, beberapa fitur telah ditambahkan. Misalnya fitur pengenalan nomor-nomor asing yang tidak ada di phonebook. Walhasil, selain bisa memblokir SMS spam, pengguna juga bisa mengetahui nomor siapa yang menelepon.  

Ari menyebut, selain spam, teknologi Clean Messaging juga bisa mengenali iklan. “Jadi misalkan hari ini provider mengirimkan SMS tentang pembelian paket internet Anda, itu akan masuk ke SMS biasa. Tapi kalau provider mengirimkan SMS iklan seperti: ‘diskon 10% untuk pembelian … ‘ dan sejenisnya, SMS ini pun akan masuk sebagai spam,” jelas Ari.

Ari menyebut, layanan sejenis sudah ada, tapi hasilnya mengecewakan. Bahkan Google juga sudah menyediakan antispam sejak Android KitKat. Hanya saja, pengguna harus secara manual menentukan mana yang termasuk kategori SMS spam dan mana yang bukan. Hal ini menurut Ari bakal memberikan celah karena banyak SMS spam yang lolos.

Hingga saat ini, Ari menyebut belum ada satu pun teknologi yang bisa melakukan itu, bahkan Google sekalipun. “Teknologi ini sedang dalam proses kami patenkan,”cetusnya.  

Satu-satunya Startup Indonesia di MWC 2016

Versi awal Clean Messaging resmi dikeluarkan pada bulan November 2015 lalu, dan hingga artikel ini kami tulis [Mei 2016. red] sudah diunduh sebanyak 22.232 kali. Tanpa ragu, Ari pun menargetkan Clean Messaging dapat mencapai dua juta pengguna hingga akhir 2016.

Clean Messaging hingga saat ini menggunakan beberapa model bisnis, mulai pendapatan dari iklan, pembelian in-app purchase dan versi pro, kerja sama dengan vendor smartphone, kerja sama dengan mobile network operator untuk menghentikan SMS spam di jaringan mereka, dan masih banyak lagi.

Tampilan aplikasi penangkal SMS Spam buatan lokal, Clean Messaging.

Tampilan aplikasi penangkal SMS Spam buatan lokal, Clean Messaging.

Penerima penghargaan dari majalah Business Week sebagai 3rd Asia’s Best Entrepreneur under 30 Year pada 2008 ini mengaku lebih suka berkecimpung di B2C (Business To Consumer) ketimbang B2B (Business To Business). Ia beralasan karena bisnisnya lebih sederhana dan tidak ada birokrasi yang merepotkan.

“Selama produk yang kita buat disukai oleh masyarakat, maka akan dapat revenue. Jadi kita bisa fokus pada bagaimana membuat produk yang disukai konsumen,” ujarnya.

Pada bulan Februari lalu, Ari bersama rekannya Anton Nasser hadir di gelaran akbar Mobile World Congress (MWC) 2016 yang diadakan di Barcelona, Spanyol.

“Kami memamerkan teknologi yang kami miliki di MWC Barcelona. Hasilnya bagus sekali, ada beberapa pihak yang tertarik bekerja sama, ada juga yang tertarik untuk investasi pada perusahaan kami. Semuanya sedang kami jajaki,” pungkas pria yang memiliki motto “jangan pernah menyerah” ini.

Kode Voucher Gratis

Clean Messaging bekerjasama dengan InfoKomputer akan memberikan kode voucher untuk aplikasi Clean Messaging versi Pro selama 2 (dua) tahun senilai Rp108.000.

Caranya, unduh aplikasi Clean Messaging versi gratis, lalu pilih menu “Remove Ads/Pro Version”, masukkan kode “IK2016” (tanpa tanda kutip) ke bagian “Insert your friend’s code/Voucher Code”, dan tekan tombol OK. Kode voucher ini terbatas digunakan oleh 1.000 pembaca.

Kinaryosih, model sekaligus aktris Indonesia (paling kiri) didaulat sebagai brand Ambassador aplikasi chatting ASIK! yang diluncurkan pada Kamis (6/10).

Kinaryosih, model sekaligus aktris Indonesia (paling kiri) didaulat sebagai brand Ambassador aplikasi chatting ASIK! yang diluncurkan pada Kamis (6/10).

Imbas perkembangan industri digital dan kemajuan teknologi adalah munculnya aplikasi-aplikasi baru, salah satunya adalah aplikasi chatting.

Namun, banyaknya aplikasi chatting yang beredar tak ayal membuat banyak pengguna kebingungan mana yang harus dipilih. Belum lama ini, perusahaan pengembang aplikasi PT Asik App Indo memperkenalkan aplikasi chatting yang diklaim berbeda dengan aplikasi chatting lainnya.

ASIK!, demikian layanan chatting ini dinamai, menawarkan multilayanan melalui satu aplikasi. Layanan yang ditawarkan pun mayoritas berkaitan dengan gaya hidup penggunanya. “ASIK! Bukan aplikasi chat biasa. Aplikasi kami bisa digunakan untuk membuat event, project, juga gold coin. Kami optimistis dengan kelebihan kami,” ujar Sean Mak (CEO PT Asik App Indo) dalam konferensi pers yang diadakan hari Kamis (6/10) di Jakarta.

Selain fitur chatting, ASIK! juga menawarkan ASIK! Channel Partner sebagai fitur komunitas dan ASIK! Zone sebagai fitur media sosial.

asik-app

Uniknya, ASIK! mengklaim sebagai satu-satunya aplikasi di dunia yang memberikan penghargaan berupa koin emas bagi pengguna. Syaratnya, pengguna harus rajin chatting menggunakan aplikasi ASIK!. Tak heran jika ASIK! lebih membidik pengguna perempuan sebanyak 60 persen.

Sean pun berharap aplikasi yang dikembangkan di Malang dan Batam ini mampu bersaing dengan aplikasi lainnya secara global.

Pada peluncuran tahap kedua ASIK! di bulan Desember mendatang, pengguna dijanjikan akan dapat merasakan fitur isi pulsa, membayar tagihan, berbelanja di supermarket hingga minimarket, bahkan membayar taksi melalui ASIK! Pay. Pengguna pun dapat menikmati sajian musik dan tayangan berkualitas melalui ASIK! Music dan ASIK! TV.

Saat ini aplikasi ASIK! sudah dapat diunduh per 6 Oktober 2016 di Google Play dan akan segera rilis di Apple StoreSelama dua bulan ke depan, aplikasi yang menargetkan pengguna di rentang usia 15 – 35 tahun ini juga akan memberikan jutaan koin emas yang dapat digunakan untuk berbelanja di dalam aplikasi ASIK!.

mobile-apps-lokal

Kini sudah makin banyak pengembang lokal yang menghasilkan aplikasi menarik. Kreativitas mereka selayaknya patut diapresiasi karena mampu bersaing dan tidak kalah dengan pengembang asing. Bahkan, beberapa di antaranya telah menghasilkan aplikasi yang mendapatkan penghargaan pada kompetisi bertaraf Internasional.

Jika Anda memiliki ide aplikasi yang bermanfaat bagi masyarakat, segera ikuti kompetisi Indosat Ooredoo Wireless Innovation Contest (IWIC) ke-10. Informasi lebih lanjut, kunjungi http://iwic.indosatooredoo.com

Sebagai pengguna, kita pun perlu mendukung karya mereka. Salah satunya dengan menggunakan aplikasi tersebut. Dari sekian banyak aplikasi asal Indonesia yang sudah mendunia, berikut adalah sebagian di antaranya yang termasuk kategori aplikasi mobile game:

Save The Hamsters (http://www.solitestudio.net/savethehamsters-underground.php)

Pengembang: Solite Studio

Sistem: Windows Phone, Windows 8/8.1

Aplikasi karya sekelompok mahasiswa Universitas Trunojoyo, Madura, ini berhasil menjadi juara kedua dalam kompetisi tahunan yang diselenggarakan Microsoft, Imagine Cup 2013, di Rusia.

Secara garis besar, Save The Hamsters merupakan cara belajar matematika yang diselipi dengan animasi yang menarik bagi anak-anak. Pengguna mesti mengendalikan karakter hamster untuk mencapai tujuan menggunakan perhitungan matematika. Permainan edukasi ini pun diunduh oleh 250 ribu pengguna hanya dalam waktu dua bulan.

Icon Pop Song (http://alegrium.com)

Pengembang: Alegrium

Sistem: Android, iOS

Icon Pop Song merupakan game besutan Alegrium, pengembang asal Jakarta, yang sebelumnya telah meluncurkan seri game tersebut yang terdiri dari Icon Pop Quiz, Icon Pop Mania, dan Icon Pop Brand.

Pertama dirilis untuk sistem iOS pada acara Game Developers Gathering (GDG) 2013, aplikasi ini akan menguji kemampuan pengguna dalam menebak lagu-lagu populer internasional. Nama Alegrium sempat menjadi sorotan saat musisi Korea Selatan, PSY, menggunakan icon wajahnya yang ada di Icon Pop Quiz sebagai foto profil akun Twitter-nya.

Ninja Fishing (http://www.menaragames.com)

Pengembang: Menara Games

Sistem: Android, iOS

Menara Games adalah pengembang asal Bandung yang telah menelurkan berbagai judul game. Salah satunya Ninja Fishing, game iOS dan Android yang dipasarkan melalui Gamenauts. Game ini telah dimainkan oleh lebih dari 16 juta orang di seluruh dunia.

Cara mainnya yang simpel tapi mengasyikkan (memancing ikan, lalu membelahnya dengan pedang katana) membuat Ninja Fishing ditanggapi positif oleh sejumlah media internasional. Bahkan, WIRED menyebut game ini lebih adiktif daripada Angry Birds.

Ramen Chain (https://www.touchten.com)

Pengembang: Touchten Games

Sistem: iOS, Android

Ramen Chain adalah “lanjutan” dari game populer besutan Touchten sebelumnya, Sushi Chain. Gameplay-nya mirip, yakni menyajikan pesanan konsumen dalam durasi waktu terbatas. Game ini banyak disukai karena grafisnya yang menarik dengan latar belakang lima kota besar di dunia.

Dalam waktu singkat sejak dirilis pada Oktober 2013, Ramen Chain menempati #1 Free App di Singapura, Indonesia, dan Filipina. Saking populernya, game ini pernah dijiplak oleh pengembang pseudonim yang mengunggah versi bajakan game ini di Google Play Store.

Jika Anda memiliki ide aplikasi yang bermanfaat bagi masyarakat, segera ikuti kompetisi Indosat Ooredoo Wireless Innovation Contest (IWIC) ke-10. Informasi lebih lanjut, kunjungi http://iwic.indosatooredoo.com

mobile-apps-lokal

Kini sudah makin banyak pengembang lokal yang menghasilkan aplikasi menarik. Kreativitas mereka selayaknya patut diapresiasi karena mampu bersaing dan tidak kalah dengan pengembang asing. Bahkan, beberapa di antaranya telah menghasilkan aplikasi yang mendapatkan penghargaan pada kompetisi bertaraf Internasional.

Jika Anda memiliki ide aplikasi yang bermanfaat bagi masyarakat, segera ikuti kompetisi Indosat Ooredoo Wireless Innovation Contest (IWIC) ke-10. Informasi lebih lanjut, kunjungi http://iwic.indosatooredoo.com

Sebagai pengguna, kita pun perlu mendukung karya mereka. Salah satunya dengan menggunakan aplikasi tersebut. Dari sekian banyak aplikasi asal Indonesia yang sudah mendunia, berikut adalah sebagian di antaranya yang termasuk kategori aplikasi penyunting foto (photo editor):

PicMix (http://picmix.it)

Pengembang: Inovidea Magna Global

Sistem: Android, BlackBerry, Windows Phone, iOS

Saat pertama kali muncul, PicMix langsung menarik perhatian karena sengaja menyasar pasar pengguna BlackBerry. Pada waktu itu, belum ada aplikasi fotografi yang mumpuni di BlackBerry seperti halnya di iOS/Android.

PicMix disukai banyak orang karena punya fitur yang sangat lengkap. Tidak hanya memberi efek filter dan berbagi foto dengan teman, aplikasi ini juga bisa memuat beberapa foto dalam satu bingkai. Berbagai stiker lucu juga disediakan secara gratis. Versi terbaru PicMix bahkan sudah mendukung editing video. Selain itu, sering diadakan kontes berhadiah menarik dengan aplikasi ini.

Saat artikel ini ditulis, lebih dari 26 juta pengguna PicMix sudah terdaftar dari seluruh dunia.

PicStory (http://ristomobile.com)

Pengembang: Risto Mobile

Sistem: Blackberry, Android

Tingginya pengguna BlackBerry di tanah air rupanya menjadi salah satu alasan Risto Mobile, pengembang asal Jakarta, untuk menghadirkan aplikasi penyunting foto ini.

PicStory memiliki konsep di mana pengguna bisa membuat cerita dari kumpulan gambar atau foto yang ada di gallery. Dengan segala kelebihannya, PicStory berhasil menjadi pemenang dalam kompetisi BlackBerry Hackathon 2011 di Jakarta. Untuk meluaskan pengguna, Risto Mobile kemudian juga menghadirkannya untuk platform Android.

cupslice feature

Fitur aplikasi lokal Cupslice.

Cupslice (http://www.cupslice.com)

Pengembang: Abdur Rabbi Arrasul Sayaf

Sistem: Android

Satu lagi aplikasi karya anak bangsa yang mencuri perhatian publik global. Cupslice, aplikasi editor foto yang berada di bawah inkubator Ideabox dari Indosat Ooredoo, berhasil menjadi satu dari lima belas aplikasi Android terbaik untuk mengedit foto berdasarkan situs Android Authority.

Dikembangkan oleh Abdur Rabbi Arrasul Sayaf atau dipanggil Aif, Cupslice adalah aplikasi editor foto yang dapat mempercantik hasil foto lewat smartphone dengan berbagai fitur. Bukan hanya filter, melainkan juga ratusan stiker dekorasi dan tipografi berisi ungkapan-ungkapan yang populer dan up-to-date.

Ada juga beberapa alat pengaturan foto dasar seperti bingkai, warna dan penyesuaian saturasi, hitam dan putih, kolase, serta kecerahan dan kontras.

Meme Lens (http://www.creacle.com/portfolio/meme-lens/)

Pengembang: Creacle Studio

Sistem: Windows Phone

Meme Lens merupakan aplikasi besutan pengembang asal Yogyakarta yang dipromosikan langsung oleh Nokia. Aplikasi ini merupakan salah satu pemenang Lumia Apps Olympiad di tahun 2012.

Aplikasi unik dan lucu ini memungkinkan penggguna memotret seseorang dan mengganti wajah (kepala) orang tersebut dengan tampilan bernuansa komik meme dengan memanfaatkan teknologi Face Recognition di perangkat mobile.

Aplikasi ini banyak diminati dan telah diunduh oleh 500 ribu pengguna sejak dirilis di Windows Phone Store pada awal 2013. Tapi, berdasarkan informasi di situsnya, aplikasi ini sedang dikembangkan lebih lanjut. Mungkin untuk dipublikasikan di platform selain Windows Phone.

Creacle sendiri telah merilis berbagai aplikasi lainnya, seperti Sambung Kata, Mad Race, dan Virtual Pet.

Jika Anda memiliki ide aplikasi yang bermanfaat bagi masyarakat, segera ikuti kompetisi Indosat Ooredoo Wireless Innovation Contest (IWIC) ke-10. Informasi lebih lanjut, kunjungi http://iwic.indosatooredoo.com

Tiga aplikasi asal Indonesia, yakni Kaskus, BaBe, dan JalanTikus, menjadi sorotan dalam salah satu presentasi Google I/O 2016.

Tiga aplikasi asal Indonesia, yakni Kaskus, BaBe, dan JalanTikus, menjadi sorotan dalam salah satu presentasi Google I/O 2016.

Konferensi Google I/O 2016 di Mountain View, California, pekan lalu menghasilkan sejumlah pengumuman penting, seperti Android N, perangkat VR Daydream, dan sejumlah aplikasi berkirim pesan baru dari Google.

Namun, sebagai acara yang berfokus pada para pengembang, Google I/O 2016 juga dimanfaatkan untuk memperkenalkan beberapa fitur mutakhir dalam pemrograman web dan aplikasi mobile. Contohnya penyediaan teknologi Progressive Web Apps (PWA), Accelerated Mobile Page (AMP), dan Push Notification untuk situs web.

Yang menarik, tiga aplikasi asal Indonesia ternyata sudah mendapat kesempatan untuk menerapkan teknologi-teknologi terbaru itu pada kontennya. Mereka adalah JalanTikus, BaBe, dan Kaskus. Walhasil, nama mereka bersanding dengan nama-nama tenar lainnya, seperti AliExpress, The Washington Post, Booking.com, dan Walgreens sebagai deretan situs dan aplikasi sorotan pada Google I/O 2016 kali ini.

Rahul Roy-Chowdury (Director of Product Management Chrome, Google) pada presentasi di panggung maupun tulisan blog-nya secara khusus menyebut JalanTikus dan BaBe sebagai contoh penerapan teknologi PWA pada situsnya.

“Kami sangat bangga bahwa JalanTikus bisa menjadi featured site di ajang Google I/O 2016 dan kebanggaan ini juga milik seluruh bangsa Indonesia. Kami harap dengan pencapaian ini, situs dan konten kami akan lebih dikenal dan disukai oleh masyarakat karena mampu memberikan user experience yang lebih baik dan inovasi yang tidak ada hentinya,” ujar Weihan Liew (CEO, JalanTikus).

Apa Itu PWA dan AMP?

Masyarakat saat ini lebih suka menggunakan smartphone dibandingkan PC sebagai sarana browsing. Selain format tampilan yang berbeda untuk mobile, kebiasaan serta alur interaksi dengan aplikasi atau situs mobile akan berbeda dengan apa yang didapatkan di situs desktop.

PWA dan AMP adalah terobosan baru dalam memberikan pengalaman terbaik bagi sebuah mobile web. Dengan menggunakan sistem caching yang disimpan di peramban, pengguna dapat dengan mudah membaca artikel yang ada di suatu situs. Keuntungannya adalah akses yang lebih cepat (bisa diproses dalam hitungan kurang dari 1 detik), memakan kuota data yang lebih ringan, dan kaya akan fitur yang mirip dengan fitur pada aplikasi mobile.

Di antara berbagai keunggulan teknologi PWA dan AMP, keuntungan yang paling besar adalah pengguna tetap bisa mengakses situs meskipun sedang tidak terhubung ke internet.

Situs JalanTikus.com menjadi contoh pengguna teknologi PWA pada presentasi Google I/O 2016.

Situs JalanTikus.com menjadi contoh pengguna teknologi PWA pada presentasi Google I/O 2016.

“Dalam dua tahun terakhir, Google terus melihat dan mempelajari cara masyarakat Indonesia dan India dalam menggunakan internet. Dan seketika kami terkejut melihat mereka sering mematikan paket data demi menghemat kuota internet.” jelas Rahul Roy-Chowdury.

“Dari fenomena inilah, akhirnya kami, tim Google Chrome, mencoba berbagai hal dan inovasi baru untuk menghadirkan pengalaman terbaik bagi para pengguna, termasuk membuat teknologi PWA serta AMP yang menghadirkan fitur dan pengalaman terbaik pada mobile web, dengan tampilan dan fitur yang hampir sama dengan aplikasi mobile, meskipun pada hakikatnya PWA adalah sebuah website biasa,” pungkasnya.

Pratama Persadha (Chairman CISSReC) ketika menemui Menkominfo Rudiantara dalam membahas UU ITE, September 2015 [Foto: Dok. CISSReC]

Pratama Persadha (Chairman CISSReC) ketika menemui Menkominfo Rudiantara dalam membahas UU ITE, September 2015 [Foto: Dok. CISSReC]

Jika ancaman blokir terhadap pelaku layanan OTT asing yang enggan membentuk BUT (Badan Usaha Tetap) di Indonesia jadi direalisasikan, pemerintah diharapkan bisa mengalihkan dukungan kepada para pengembang aplikasi dan layanan OTT lokal.

Melalui keterangan pers, Pratama Persadha (Chairman CISSReC/Communication and Information System Security Research Display) menyatakan bahwa dukungan pemerintah bisa makin mendorong dan menguatkan munculnya aplikasi media sosial dan OTT lokal sebagai alternatif layanan OTT asing.

Ia mencontohkan keberanian pemerintah Tiongkok memblokir Facebook dan Google yang disebabkan mereka sudah mempersiapkan layanan sejenis, seperti Weibo dan QQ. Jadi, saat Facebook dan Google tak sanggup untuk mematuhi regulasi di Tiongkok, masyarakat tidak serta-merta menjadi tertinggal dalam kegiatan berinternet.

“Pemerintah juga harus melihat provider [jasa telekomunikasi] yang sebagian besar pemasukannya didapat dari penjualan paket data. Dengan adanya layanan dan aplikasi alternatif buatan lokal, diharapkan konsumsi data tetap stabil bila memang pemblokiran jadi dilakukan,” tukasnya.

Sekarang ini sudah tersedia beberapa layanan media sosial buatan anak bangsa, seperti Kaskus, Kompasiana, Mindtalk, Sebangsa, dan sebagainya. Ada pula aplikasi instant messaging yang cukup populer, misalnya Catfiz Messenger.

Jika dibandingkan dengan Facebook, Twitter, dan WhatsApp, jumlah penggunanya memang belum seberapa. Tapi, dengan dukungan dan bantuan promosi dari pemerintah, aplikasi-aplikasi lokal ini berpotensi digunakan lebih luas lagi oleh pengguna internet di tanah air.

“Provider besar tanah air bisa ikut berinvestasi dan membesarkan aplikasi anak bangsa. Jangan sampai peristiwa matinya Koprol setelah dibeli Yahoo terulang kembali. Pemerintah tentunya harus ikut membantu,” imbau Pratama.

Selain itu, dengan sikap tegas pada perusahaan teknologi asing, pemerintah bisa membangun fondasi kuat untuk menjaga kedaulatan informasi dan cyber di Indonesia.

“Pemain asing mudah mendapatkan data kita; salah satu pintu masuknya lewat media sosial. Jadi, ini bagian integral dari penguatan kedaulatan sebuah bangsa. Bukan membatasi, tapi kita ingin menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Yang tidak taat regulasi bisa angkat kaki,” terang mantan Ketua Tim TI Kepresidenan itu.

narenda wicaksono dicoding 2

Narenda Wicaksono (Founder, Dicoding). [Foto: Abdul Aziz/InfoKomputer]

Bagi Narenda Wicaksono, setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk sukses. Meskipun pernah mengecap pengalaman bekerja di dua perusahaan ternama, Microsoft dan Nokia, tidak membuat Narenda terlena di zona nyaman. Setelah empat tahun bekerja pada raksasa software dari negeri Paman Sam, Narenda lantas hijrah ke perusahaan perangkat seluler Nokia.

Saat bergabung dengan Microsoft, Narenda mungkin bisa dibilang beruntung. Disebut beruntung karena ia menjadi karyawan termuda yang direkrut Microsoft pada saat itu. Terlebih lagi ia tidak melalui jalur umum, di mana karyawan yang melamar ke perusahaan. Ia bercerita, sebenarnya waktu itu lebih tertarik untuk mendirikan perusahaan startup. Namun karena kondisi perekonomian keluarga sedang kurang baik, ia menerima tawaran untuk bekerja di Microsoft.

Di Microsoft, Narenda menjabat posisi sebagai Developer Relations atau Technical Evangelist. Di posisi tersebut, Narenda bertugas mengurusi para profesional TI dan developer agar tetap update dengan teknologi terbaru Microsoft. “Pada waktu itu, selama empat tahun saya mengurusi technical audience se-Indonesia,” ungkap alumnus Teknik Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) ini kepada InfoKomputer.

Setelah empat tahun menjadi karyawan Microsoft, Narenda pun “dibajak” oleh Nokia. Ia menyebut peristiwa ini berlangsung jauh sebelum adanya akuisisi Nokia oleh Microsoft. Narenda menyebut bahwa pengalaman bekerja di Nokia lebih menarik. Pasalnya, tugas yang ia emban lebih berfokus ke mobile developer yang memang menciptakan produk. Pada saat bergabung di Nokia, ia pun menemukan fakta bahwa sebanyak 60 – 70% orang Indonesia adalah pengguna ponsel Nokia, mulai dari Symbian hingga Java pada saat itu.

Ironisnya, saat Narenda mendatangi para developer yang hebat, rata-rata mereka tidak tertarik dengan Nokia. Padahal ketika di Microsoft, Narenda sukses menjaring 120 ribu developer.  Ia menyimpulkan, hal ini terjadi mungkin karena Nokia masih disangsikan. Ia pun merasa usahanya sia-sia. “Akhirnya saya putuskan, daripada saya buang energi, lebih baik saya create developer-nya,” ujar pencinta kopi ini.

Narenda lantas mendatangi kampus-kampus di seluruh Indonesia, mencari mahasiswa yang niat memiliki passion menjadi developer. Dalam kurun waktu dua tahun, usahanya pun membuahkan hasil dan mulai bermunculan berbagai developer dari seluruh Indonesia. Bapak dua anak ini mengungkapkan, dirinya justru tidak terlalu tertarik menggarap pasar di Jakarta. Ia beralasan karena karakter orang Jakarta yang berbeda.

Developer kalau sudah diracuni uang akan berbeda,” ujarnya. Ia pun lebih senang dengan developer yang lahir secara organik dan bukan karena dukungan dari luar negeri. Hal ini pula yang memicunya untuk menerapkan sistem point & rewards bagi para developer.

Melalui mekanisme ini, developer mendapat kesempatan menyelesaikan tantangan pembuatan aplikasi, lalu akan memperoleh point dengan jumlah tertentu sesuai aplikasi yang dikembangkan. Point yang diperoleh dapat ditukarkan dengan rewards. Karena itulah, ia lebih berfokus menggarap pasar di Madura, Semarang, Yogyakarta, Malang, dan Surabaya.

Keluar dari Zona Nyaman

Setelah sekitar empat tahun bergabung di Nokia, Narenda lantas ditawari posisi yang lebih menggiurkan. “Puncaknya terjadi ketika saya akan dipindah ke Malaysia untuk mengurusi negara-negara lain juga,” ujar Narenda. “Biarpun gaji naik, tapi tidak menarik [karena] bagi saya comfort zone itu berbahaya,” imbuh Narenda.

“Akhirnya saya memutuskan keluar dari zona nyaman dan membuat Dicoding,” ujar Narenda. Dicoding sendiri merupakan startup yang fokus mengumpulkan para developer dan menjadi jembatan antara developer dan partner. Impiannya delapan tahun lalu untuk membuat startup pun terwujud.

Mimpinya sederhana saja. “Kami ingin memastikan lahirnya developer yang membuat produk baru. Di Indonesia ada lima ratus ribu lulusan TI dan hampir semua universitas memiliki jurusan TI. Namun, berapa banyak dari mereka yang memiliki kemampuan untuk membuat produk,” tukas Narenda.

Masalah Developer

Di Indonesia ada lima ratus ribu lulusan TI dan hampir semua universitas memiliki jurusan TI. Namun, berapa banyak dari mereka yang memiliki kemampuan untuk membuat produk,” tukas Narenda.

“Di Indonesia ada 500 ribu lulusan TI dan hampir semua universitas memiliki jurusan TI. Namun, berapa banyak dari mereka yang memiliki kemampuan untuk membuat produk?” tukas Narenda.

Setelah resmi mendirikan Dicoding di awal 2015, Narenda pun bertekad menjaring sebanyak mungkin developer yang memiliki mimpi untuk meraih sukses paling besar. Namun demikian, ia tak menampik jika developer juga memiliki masalah.

Masalah developer di antaranya adalah ide, akses, standar, dan discoverability. Developer tidak tahu standar membuat produk itu seperti apa, demikian pula dengan discoverability-nya, dan cara promosinya jika produk sudah jadi.

Setelah mengetahui permasalahan para developer dan berbekal jaringan yang luas saat masih bergabung dengan Microsoft dan Nokia, ia pun menjalin kerjasama dengan beberapa partner, seperti Intel, IBM, Nokia, serta organisasi-organisasi untuk membantu developer agar mereka memiliki ide. Pasalnya, jika para developer tersebut mampu membuat produk, tapi tidak ada yang mempromosikan, hasilnya akan sia-sia saja.

Contohnya pun sudah ada. Narenda pun menyinggung para developer yang lebih memilih hijrah ke luar negeri. Biasanya mereka tergolong developer yang super jago. Sementara yang ada pada level menengah akan lebih memilih tinggal di dalam negeri namun memilih lahan di non-TI seperti perbankan atau perusahaan minyak yang menawarkan gaji besar.

Di Dicoding, model bisnisnya sederhana, yakni “jika partner punya ide, SDK, mereka bisa terkoneksi dengan kita dan developer,” jelas Narenda. Partner pun memiliki pilihan, setelah produk/aplikasi yang dipesan selesai dibuat, bisa ditentukan apakah akan menjadi milik dia atau milik developer.

Sebagai “jembatan” antara developer dan partner, Dicoding pun menyelenggarakan Dicoding Academy yang bertujuan untuk membantu developer-developer yang masih baru agar mereka tahu apa saja yang harus dilakukan untuk menciptakan sebuah produk. Narenda menuturkan, pihaknya lebih menyukai melakukan penjaringan the right developer dibanding mementingkan kuantitas. “Karena kalau cuma mementingkan kuantitas, itu gampang saja,” imbuhnya.

Alasan itu pula yang membuatnya amat menyayangkan jika semua developer tidak memiliki kapabilitas mumpuni. “Semua punya stempel developer, namun yang punya capability tidak banyak,” tukas Narenda. Di sinilah harus ada yang memberikan iklim investasi yang fair supaya semua memiliki kesempatan sukses yang sama.

Dicoding sendiri untuk saat ini hanya memiliki lima pegawai, termasuk Narenda. Masing-masing tinggal di Jakarta, Bandung, Surabaya, Tulungagung, dan Malang. “Karena kami tidak memiliki kantor, maka bekerjanya remote semua,” ungkap Narenda. Ia menjelaskan, masing-masing memiliki tugas yang berbeda, mulai dari coding, testing, hingga operasional.

“Kami memiliki empat ratus lima puluh aplikasi yang di-trigger dengan Dicoding. Masing-masing lantas diinstal dan diuji satu per satu,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa justru di sinilah letak tantangannya, yakni membuat strategi bagaimana suatu aplikasi mendapat exposure dan bisa diunduh oleh konsumen.

TERBARU

Hati-hati, malware bisa menyebar via perangkat lunak bajakan, baik yang diunduh via internet maupun yang dipasang via CD atau DVD.