Tags Posts tagged with "CIO"

CIO

Jim Fowler (CIO, General Electric).

Ketika sebuah perusahaan yang usianya mencapai lebih dari 120 tahun, seperti GE, masih tegak berdiri di tengah era yang penuh dengan perubahan seperti saat ini tentu orang akan berdecak kagum.

GE adalah satu-satunya perusahaan dalam daftar asli Dow Jones Industrial Average (DJIA) yang masih eksis hingga kini. Sebagai informasi, DJIA pertama kali dirilis pada tahun 1896 dan mencantumkan dua belas nama perusahaan di dalamnya.

“GE adalah perusahaan berumur 120 tahun dan bisa bertahan karena memunyai pemimpin-pemimpin hebat, seperti Jeff Immelt, yang dapat melihat apa yang akan terjadi,” kata Jim Fowler (Chief Information Officer, GE) memuji mantan CEO GE itu.

Menurutnya, para pemimpin GE mampu meniti gelombang inovasi baru dan mentransformasi bisnis secara internal sebelum dilumat oleh kekuatan-kekuatan di luar GE. “Peran kami di sini hanyalah membantu [para pemimpin GE],” ucap Jim seperti dikutip dari ComputerWeekly.com.

Namun salah satu pemenang Forbes CIO Innovation Awards tahun 2017 ini tentu sekadar merendah. Pada kenyataannya, TI adalah aset penting bagi GE dalam mewujudkan visi Jeff Immelt yakni menempatkan GE di deretan sepuluh perusahaan software terbaik di dunia. Dengan software, GE akan mengevolusi produk dan layanan yang mereka tawarkan ke pelanggan.

Ketika ditanya Forbes mengenai peran Jim Fowler, Jeff Immelt menjelaskan, “Kami melakukan transformasi TI yang masif di GE dan kami membutuhkan seorang CIO tipe baru dan Jim adalah orang yang tepat untuk memimpin transformasi.”

Immelt pun menekankan peran penting Jim dengan berkata, “Saat berada di tengah diskusi tentang bagaimana mendorong pendapatan dan produktivitas di GE, saya ingin Jim ada di samping saya untuk membuat keputusan tentang itu.”

Menurut Immelt, pekerjaan CIO sudah beranjak dari sekadar menekan biaya dan helpdesk. Mereka kini menuntut sebuah posisi dalam pembuatan keputusan. “Ketika saya harus mendorong terciptanya produktivitas layanan bernilai miliaran dolar dan kualitas pelanggan yang lebih baik, Jim dan divisi Digital Technology adalah bagian terpenting dalam proses,” tukasnya.

Terapkan Horizontal IT

Mau tak mau, suka tak suka, korporasi industri seperti GE akan berkecimpung dalam bisnis informasi. “Mesin pesawat jet terbaru buatan GE Aviation menghasilkan data dalam hitungan terabyte dari setiap penerbangan. Lokomotif yang kami buat sebenarnya adalah data center bergerak,” ujar Jim.

Untuk menjadi digital industrial company, GE akan sangat bertumpu pada data dan analytics, serta aneka teknologi terkini seperti machine learning, artificial intelligence, dan Internet of Things sebagai value bagi pelanggan. Tak pelak, divisi TI pun berperan penting dalam transformasi digital GE.

Sebagai “mesin” transformasi GE, tentu divisi TI pun harus bertransformasi terlebih dahulu. “Kami bertransformasi dari back office administrator menjadi productivity maker,” jelas pria yang berpengalaman selama lima belas tahun memimpin organisasi TI di berbagai unit bisnis GE, seperti GE Capital, GE Aviation, Intelligent Platforms, Power Generation Services, dan Power & Water.

TI tidak lagi hanya merupakan sebuah “piston” dalam “mesin”’ penggerak setiap unit bisnis. TI kini harus menjadi engine bagi seluruh unit bisnis GE dengan cara kerja horizontal. “Kami beranjak dari vertical business silos, dan sekarang beroperasi secara horizontal guna membantu setiap lini dalam perusahaan,” imbuh Jim.

Sebagai konsekuensinya, pengembangan aplikasi dan sistem pun harus dilakukan secara horizontal. “Kami harus membangun aplikasi sedemikian rupa agar dapat berjalan di berbagai unit bisnis GE,” ungkap Jim Fowler seperti dikutip dari Biz Journals. Dengan cara ini, pengembangan solusi dan sistem yang independen dan redundan dapat dihindari.

Contohnya, tim Development dalam divisi TI GE yang disebut GE Digital Technology, melakukan refactoring terhadap aplikasi SmartOutage yang awalnya dikembangkan oleh GE Power. Dengan proses refactoring tersebut, aplikasi SmartOutage dikembangkan menjadi aplikasi mobile field service FieldVision yang dapat dimanfaatkan oleh unit bisnis lain di lingkungan GE.

Contoh inovasi horizontal IT lainnya adalah menyediakan Digital Hub yang dapat diakses oleh karyawan GE di seluruh dunia. Data, advanced analytics, dan koneksi dengan beragam unit bisnis di berbagai belahan dunia diharapkan akan memampukan mereka menciptakan aplikasi.

“Mentransformasi TI untuk sepenuhnya menjadi horizontal IT function adalah sebuah evolusi penting terutama ketika kami mempertimbangkan cara-cara kerja baru yang lebih efisien di lingkungan perusahaan,” ujar sarjana sains lulusan Miami University ini.

Transformasi tersebut mampu menciptakan produktivitas senilai US$730 juta pada tahun 2016, dan sebanyak 70 persen di antaranya datang dari GE Aviation dan GE Power. Lebih dari lima puluh persen produktivitas itu berasal dari optimalisasi unit bisnis yang menyelenggarakan field service. GE menargetkan pencapaian produktivitas senilai US$1 miliar dengan memanfaatkan teknologi digital.

Jim Fowler (CIO, General Electric).

Tiga Cara Percepat IT Delivery

Untuk menghantarkan layanan TI yang lebih cepat, Jim Fowler melakukannya dengan tiga cara. Pertama, divisi TI menerapkan model organisasi yang lebih flat dan terdiri atas beberapa tim kecil. Setiap tim bertanggung jawab atas proyek-proyek kecil untuk mengembangkan produk dalam waktu sembilan puluh hari. Setiap tim memfokuskan pada satu pekerjaan yang akan mereka kelola sepanjang lifecycle-nya.

Langkah kedua adalah menciptakan workforce. “Artinya, tenaga kerja kami haruslah karyawan GE. Saat ini kami memiliki 5.000 profesional TI yang bekerja untuk GE dan 14.000 kontraktor. Para kontraktor itu juga orang-orang hebat tetapi sumbangsih mereka terhadap kesuksesan perusahaan tidaklah sebesar lima ribu orang tadi,” cetus pria yang mengaku sangat menyukai teknologi baru ini seperti dikutip dari CIO.com.

Strategi ini selaras dengan visi GE untuk membangun kapabilitas sebagai digital industrial company. Saat pertama kali Jim menjadi CIO, 75 persen pekerjaan TI diserahkan kepada pihak ketiga (outsourcing) dan sebagian besar staf TI hanya ditugasi mengelola project. Outsourcing tentu tidak sesuai dengan visi membangun kapabilitas karena modal pengetahuan bagi TI untuk menciptakan nilai bisnis malah diserahkan ke orang lain.

Staf TI yang masih melakukan pemrograman dengan COBOL tentunya tidak cocok disebut sebagai agile workforce yang dibutuhkan GE di masa depan. Oleh karena itu, langkah ketiga yang ditempuh Jim adalah melakukan retraining.

Proses retraining ditempuh antara lain dengan re-platforming, mengubah platfrom sebagian besar aplikasi agar dapat berjalan di cloud. GE mengirim sepuluh orang dari area teknologi yang berbeda ke technology center GE yang ada di wilayah pantai Barat Amerika. Selama tiga minggu tim kecil yang dinamai the ninja team akan melakukan porting satu aplikasi ke cloud.

“Mereka berlatih dengan para developer kami, dan sekembalinya dari sana, mereka menjadi pemilik aplikasi yang sudah di-re-platform itu,” kata Jim. Selain sebagai sebuah latihan ulang, cara ini juga dapat membangkitkan mentalitas agile yang sangat memperhatikan technology ownership. Di saat yang sama, GE dapat memastikan kekayaan intelektual tetap aman berada di lingkungan perusahaan.

Hampir satu dekade ini, InfoKomputer mengulas topik cloud computing. Teknologi, bisnis, dan implementasinya makin solid dan menuju keniscayaan. Akan tetapi, para pemimpin TI Indonesia masih menghadapi beberapa ganjalan.

Dengan semakin besarnya porsi public cloud di ranah enterprise, strategi hybrid akan menjadi pilihan organisasi bisnis, tentu saja bagi perusahaan yang sudah memiliki infrastruktur on premise dan atau private cloud.

Survei RightScale 2017 The State of Cloud Report menemukan bahwa 85 persen respondennya telah menerapkan strategi multi cloud (menggunakan beberapa private atau public cloud), dan 58 persen di antaranya menjalankan hybrid.

Strategi hybrid rupanya bukan lagi sesuatu yang asing bagi para pemimpin TI Indonesia. Dalam acara InfoKomputer CIO Forum yang digelar bersama Multipolar dan HPE pada medio Juli lalu, terungkap bahwa penerapan cloud dan strategi hybrid telah dilakukan pemimpin TI beberapa perusahaan dalam berbagai tingkatan.

Misalnya Bank Muamalat. Selain mengandalkan sumber daya komputasi yang bersumber dari data center, bank yang ingin memasang target menjadi The Best Islamic Bank dan Top 10 Bank di Indonesia ini juga menggunakan public cloud, khususnya untuk area development.

Dengan cloud, menurut Saladin Effendi (CIO, Bank Mualamat), ia dpat menyediakan sepuluh lingkungan yang berbeda untuk sepuluh product development dengan cepat.  “Ngapain saya beli mesin development? Ngapain saya beli lisensi? Penyedia layanan yang lakukan refresh dan sebagainya, kami tinggal pakai. Begitu lambat tinggal komplain,” ujar Saladin.

Perusahaan asuransi Tokio Marine, juga sudah menerapkan komputasi awan. “Personally, kami juga punya cloud, tapi untuk development,” tutur Anton Pranayama (GM IT & BPM, PT Asuransi Tokio Marine Indonesia). Ia beralasan, karena workload development yang cukup tinggi, perusahaan memilih untuk tidak investasi pada hardware yang ujung-ujungnya idle.

Dari sektor finansial lainnya, PT Suzuki Finance Indonesia (SFI), mengaku juga sudah memanfaatkan cloud meskipun baru di area aplikasi non critical. “Misalnya website dan mobile system yang dipakai internal dan rekanan dealer kami. Masih manageable secara sekuriti tapi kami bisa dapatkan efisiensi dari infrastruktur mobile system ini. Saat peak, kami tinggal on the fly request ke (cloud) provider untuk dinaikkan,” papar Budi Pranoto (GM IT, PT Suzuki Finance Indonesia).

Atma Jaya yang bergerak di bidang pendidikan dan kesehatan malah sudah meletakkan 60 – 70 persen workload komputasinya di cloud.  “Saya nggak terlalu percaya pada teknologi on premise maupun full public cloud, jadi saya ambil jalan tengah, yaitu hybrid,” Danny Natalies (Chief Information Officer, Atma Jaya) mengungkapkan strategi yang ia pilih.

Bagaimana pembagiannya? Infrastruktur dan sistem on premise masih ia andalkan untuk menyimpan data-data yang berkategori sensitif dan menjalankan  transaksi yang sifatnya idle. Sedangkan semua layanan yang bisa diakses melalui internet dan jumlah user-nya cukup besar akan ia “lempar” ke cloud.

Sebelum memanfaatkan cloud, Atma Jaya terbiasa belanja computing power berdasarkan asumsi kebutuhan sumber daya tertinggi. “Termasuk future computing power yang kami butuhkan,” cerita Danny. Namun kini, Danny akan menghitung computing power di level idle-nya saja dan selisih deltanya ia taruh semua di cloud.

Sebagai perusahaan berlabel low cost carrier, biaya tentu menjadi faktor penting dalam operasional maskapai penerbangan AirAsia. Dengan cost efficiency sebagai salah satu tawarannya, bisa ditebak jika maskapai yang dikomandani Tony Fernandez ini pun menerapkan komputasi awan.

“Semua server kami ada di Malaysia, dan di sna pun sudah kami tempatkan di Azure dan AWS. Namun untuk Indonesia, kami masih gunakan on premise, data center di Jakarta dan DRC di Denpasar, Bali,” cerita Reza Sugiarto (ICT Network  & Security Manager, PT AirAsia Indonesia).

Namun tahun ini, menurut Reza, AirAsia akan memindahkan Disaster Recovery Center-nya ke cloud. Meski data center utama tetap on premise, langkah ini setidaknya mengurangi kompleksitas berbagai aspek pekerjaan TI,  misalnya dalam hal maintenance dan menjaga availability.

Di barisan organisasi bisnis yang sudah mengaplikasikan cloud computing juga ada PT Eka Bogainti. Beberapa kali server DNS mati sehingga melumpuhkan kerja situs web dan mobile app Hoka-Hoka Bento, Johan Sutrisno (Head of IT, PT Eka Bogainti) memutuskan untuk beralih ke cloud.

Cloud memang tidak bisa dihindari, jadi perlahan-lahan kami pindahkan ke cloud, kalau cost-nya masih manageable dan reasonable,” tutur Johan yang juga memindahkan SMTP server ke cloud.

Ganjalan Keamanan Sampai Reliabilitas Koneksi

Perjalanan ke “awan” sudah dimulai, tetapi untuk sepenuhnya memercayai cloud—apalagi public cloud—para pemimpin TI Indonesia agaknya belum “sampai hati”. Ganjalan apa yang mereka hadapi?

Di awal perkenalannya, cloud diganjal isu keamanan. Ternyata hingga kini pun, keamanan data masih menjadi pertanyaan utama (calon) pengguna cloud, ditambah isu regulasi dan kedaulatan data. PT Asuransi Tokio Marine Indonesia masih enggan menggunakan cloud untuk menopang aktivitas production sebelum benar-benar aman dari sisi teknologi dan regulasi.

Alasan regulasi juga diungkapkan oleh Budi Pranoto. “Untuk core system kami agak susah bergerak karena ada regulasi yang memastikan data harus ada di Indonesia. Namun bertahap kami akan lihat situasi dari sisi regulasi seberapa fleksibel,” jelas Budi.

Bagi Saladin Effendi, infrastruktur teknologi sebenarnya ibarat jalanan, yang di mana-mana materialnya sama. Platform teknologi informasi untuk perbankan, otomotif, manufaktur, dan sebagainya tentu tidak jauh berbeda.  “Semua menjadi commonality. Namun kami harus tetap berdiskusi dengan supervisor kami, dalam hal ini OJK. Sambil saya memilah-milah mana yang bisa di-cloud-kan,” jelasnya.

Saladin Effendi (CIO, Bank Mualamat).

Bahkan di antara perusahaan startup yang umumnya penganut berat cloud pun, ada yang tetap memercayai infrastruktur on premise. “Semakin besar perusahaan, kami juga ternyata membutuhkan on premise, karena kalau ada something wrong dengan yang di luar, perusahaan kami kan nggak mungkin tutup,” ujar Halga Tamici (Chief Technology Officer, Rajamobil.com).

Menurutnya, dari hasil observasi terhadap arsitektur teknologi perusahaan, minimal database Rajamobil.com harus berada di Indonesia.

Tantangan lain yang dihadapi organisasi bisnis terkadang datang dari jajaran manajemen. “Again perubahan baru akan terjadi kalau ada keputusan. Dan yang harus berani mendobrak itu ya C-levelnya,” cetus Pardjo Yap (Head of IT, ACA). Urusan dengan top management ini biasanya menyangkut hitung-hitungan investasi.

Sejak awal, cloud digadang-gadang mampu meningkatkan efisiensi biaya. Namun setiap perusahaan harus berhitung cermat dulu untuk bisa meraih manfaat tersebut. “Karena pertimbangan benefit dan risk,  pro dan cons dari cloud, Enseval lebih milih on premise. Soalnya dari sisi cost effective-nya, cloud belum terlihat lebih tinggi dibanding on premise. Dan belum ada kebutuhan juga,” jelas Gunawan (DBA & Infrastructure Manager IT, PT Enseval Putra Mega Trading).

Gunawan menambahkan bahwa hanya 2 – 3 persen dari workload Enseval yang ada di cloud. Namun ia tak menampik fakta bahwa tren saat ini dan ke depan mengarahkan organisasi bisnis  ke komputasi awan.

Hoka-Hoka Bento pun sempat mempertimbangkan mengalihkan Contact Center-nya ke cloud untuk menjamin reliabilitas, kecepatan, dan pertumbuhan data. Namun apa daya hasil hitung-hitungan biayanya, menurut Johan Sutrisno, sulit mendapat lampu hijau dari jajaran manajemen.

“Hal itu yang menjadi obstacle saya dalam arti untuk pindah ke teknologi cloud. Tapi juga menjadi tantangan bagi saya agar bagaimana caranya agar Contact Center tetap reliable dalam segala kondisi,” imbuhnya.

Pertimbangan lain yang dipikirkan perusahaan, khususnya di Indonesia adalah masalah koneksi internet. “Mungkin cloud dijamin reliabilitasnya. Tapi begitu kita ngomong koneksi internet, bisa ada yang kepacul dan sebagainya, itu tidak ada jaminan” tanda Johan. Dengan kata lain, Johan melibat masalah reliabilitas di cloud menyangkut banyak sisi yang harus tetap dipertimbangkan.

Pendekatan Holistik

Sedangkan IBS Group (perusahaan broker asuransi) sudah mempertimbangkan implementasi cloud sejak empat tahun lalu. Namun setelah mempertimbangkan banyak hal, pendekatan on-premise dianggap masih lebih tepat.

Concern kami adalah segala sesuatu yang di cloud seharusnya Zero IT intervention,” ungkap Faisal Yahya (Head of Information Technology IBS Group). Hal ini menjadi sulit bagi IBS Group yang memiliki banyak aplikasi legacy yang butuh pengelolaan tersendiri.

Dari pengalaman itu, Faisal memberi saran bagi para CIO untuk melihat arsitektur TI perusahaan dengan seksama sebelum beralih ke cloud. “Aplikasi yang rigid atau legacy, sebaiknya ditaruh di on-premise, sementara yang lebih portable dipindah ke cloud,” ujar Faisal. Implementasi cloud juga jangan dilihat semata-mata karena faktor cost. “Kita juga harus memperhitungkan cost dan risk,” tambah Faisal.

Saran yang sama juga diutarakan Gunawan (Enseval). “Kami melihat secara holistik terkait kebutuhan on-premise dan cloud”  ungkap Gunawan. Soal pengurangan capex yang digadang-gadang menjadi keunggulan cloud, misalnya, harus dihitung lebih detail. “Karena bukan berarti dalam lima tahun, uang yang keluar akan lebih murah [ketika menggunakan cloud],” ujar Gunawan.

Model aplikasi juga jadi bahan pertimbangan Gunawan. Jika load dari aplikasi itu bisa diprediksi dan penambahannya tidak signifikan, Gunawan lebih menyarankan on-premise. “Kalau selisih 30%, seharusnya bisa diatasi. Jika tidak, berarti sizing di awal kurang tepat” tambah Gunawan.

Namun bukan berarti Enseval tidak tertarik ke cloud. “Kalau kita bisa manage dan maintain teknologi, sumber daya, mengoptimalisasi aplikasi, apalagi aplikasi sendiri yang tahu kita sendiri, on-premise lebih masuk akal” tambah Gunawan. Baru ketika tidak ada kemampuan di sana, Enseval akan mulai mengadopsi cloud.

Sedangkan Reza Sugiarto memilih menyiapkan terlebih dulu langkah yang diperlukan. Salah satunya adalah menyiapkan people dan juga ITIL. “Sebelum saya jalankan ITIL, saya harus inspeksi dulu secara COBIT itu bagaimana” ungkap Reza. Hal ini untuk mengantisipasi ketika ada kendala implementasi di cloud. “Karena ketika semua managed service atau cloud, dalam 1, 3, atau 4 tahun ke depan pasti ada masalah” tambah Reza.

Sedangkan Pardjo Yap (ACA) mengingatkan, adopsi cloud bisa jadi muncul akibat kefrustrasian perusahaan terhadap tim TI. “Mengurus orang in-house-nya bikin sakit kepala, time delivery-nya pun lama,” Pardjo mencontohkan. Ketika kemudian muncul managed service atau cloud, perusahaan memiliki opsi teknis untuk mengatasi masalah internal yang sebenarnya nonteknis. “Jadi sebenarnya people yang menjadi kunci,” tambah Pardjo.

Sebelum Melangkah ke Cloud

Dari diskusi seru di InfoKomputer CIO Forum, ada tiga kesimpulan utama yang bisa ditarik, yaitu:

1. Ke Arah Hybrid Cloud

Semua CIO yang hadir di acara ini sepakat, cloud adalah pilihan menarik. Akan tetapi, tidak semua aplikasi atau workload yang cocok untuk pindah ke cloud. Hal inilah yang membuat komposisi hybrid cloud akan lebih mendominasi

2. Kendala Menuju Cloud

Bagi institusi keuangan, tantangan terbesar untuk mengadopsi cloud adalah soal regulasi. Sementara bagi industri lain, masalah security, legacy application, serta availability koneksi menjadi pertimbangan tersendiri.

3. Sebelum Melangkah ke Awan

Pastikan perusahaan memiliki pandangan 360 derajat atas infrastruktur TI-nya terlebih dahulu. Semua faktor harus diperhitungkan, mulai dari perhitungan biaya, jenis aplikasi yang cloud-ready, kematangan framework, sampai kesiapan people. Dan karena karakteristik setiap perusahaan berbeda, sebenarnya tidak ada yang benar atau salah dalam melangkah menuju cloud.

Para peserta InfoKomputer CIO Forum bersama Multipolar dan HPE.

Strategi Menuju Hybrid Cloud

Meski menawarkan berbagai keuntungan, solusi cloud sebenarnya tidak untuk semua perusahaan. Pada beberapa kasus, memiliki infrastruktur on-premise justru lebih menjawab kebutuhan perusahaan.

Pendapat ini diungkapkan Chew Eng Lai (Director Data Center Hybrid Cloud, HPE). Eng Lai mengambil contoh salah satu customer HPE yang memutuskan memindahkan infrastruktur TI-nya dari cloud ke on-premise. “Perusahaan tersebut memindahkan 138 VM dari cloud ke on-premise dalam waktu dua bulan” ungkap pria asal Malaysia ini.

Transisi tersebut dilakukan setelah melakukan banyak pertimbangan. Salah satunya adalah pengalaman down-nya layanan cloud yang mengakibatkan terhentinya layanan. Dengan mengadopsi on-premise, setidaknya kontrol penuh terhadap infrastruktur TI bisa dilakukan.

Pertimbangan penting lain adalah soal biaya. Ketika mengadopsi cloud, biaya yang dikeluarkan tidak cuma soal infrastruktur TI, namun juga bandwidth. Belum lagi jika memperhitungkan penurunan harga hardware untuk data center yang selalu terjadi. “Setiap kuartal, harga storage selalu turun 5 – 15%,” Eng Lai mencontohkan.

Ketika perusahaan memiliki memiliki data center on-premise, penurunan harga itu bisa langsung dirasakan. Namun ketika menggunakan cloud, hal itu menjadi kurang terasa karena penyedia layanan cloud jarang memberikan penurunan harga.

Dua faktor di atas, ditambah alasan nonteknis—seperti data sovereignty dan security—yang membuat Eng Lai yakin on-premise akan tetap diadopsi banyak perusahaan.

Lebih Fleksibel

Ketika pendekatan on-premise dan cloud sama-sama menawarkan kelebihan, perusahaan sebenarnya bisa mendapatkan manfaat optimal dengan menggabungkan keduanya. Hal inilah yang menjelaskan mengapa hybrid cloud kini menjadi pilihan menarik. Lembaga riset IDC memperkirakan, 70% perusahaan di Asia Tenggara akan mengambil pendekatan hybrid.

Pertanyaan besarnya adalah, bagaimana mewujudkan infrastruktur hybrid yang ideal? Salah satu langkah yang bisa dilakukan adalah membangun private cloud terlebih dahulu. Private cloud ini memiliki kemudahan dan kecepatan layaknya seperti public cloud. Private cloud juga memiliki workload yang dengan mudah dipindahkan ke cloud.

Yohan Gunawan (Group Head Infrastructure Hardware, Multipolar).

Menurut Multipolar, mewujudkan private cloud bisa dilakukan dengan menggunakan hyperconverged infrastructure. “Hyperconverged adalah solusi yang menggabungkan computing power, storage, hypervisor, dan manajemen,” ungkap Yohan Gunawan (Group Head Infrastructure Hardware, Multipolar). Karena datang dalam satu perangkat siap pakai, hyper-converged menawarkan kecepatan implementasi dan kemudahan pengelolaan.

“Contohnya untuk deploy sebuah virtual machine, kita cuma butuh lima klik dalam satu menit” ungkap Yohan mencontohkan. Begitu pula untuk update firmware. Berbeda dengan data center tradisional yang dibayang-bayangi isu interoperability, update firmware di hyperconverged relatif bisa dilakukan dengan cepat tanpa rasa was-was. Kelebihan lain dari hyperconverged adalah di sisi people. “Hyperconverged cukup dikelola orang TI dengan kemampuan generalist, bukan specialist,” tambah Multipolar.

Ketika faktor kecepatan, manajemen, dan people tersebut disatukan, hyperconverged diklaim akan menurunkan biaya. Yang tak kalah penting, hyperconverged menawarkan infrastruktur on-premise yang memiliki karakter seperti public cloud. Kalaupun kemudian kebutuhan terus meningkat dan perusahaan memutuskan untuk menggunakan public cloud, workload yang ada di hyperconverged bisa langsung dipindahkan.

Contohnya adalah Helion CloudSystem yang memudahkan workload yang ada di hyperconverged untuk berpindah ke public cloud seperti Microsoft Azure atau AWS (dan sebaliknya). “Intinya kami ingin menyediakan infrastruktur yang berada di on-premise namun dengan fleksibilitas untuk pindah ke cloud,” ungkap Eng Lai.

Cornel Hugroseno (IT Director, PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk.). [Foto: Abdul Aziz/InfoKomputer]

Digitalisasi adalah sebuah keniscayaan. Namun kapan teknologi digital sepenuhnya dijadikan landasan, itu masih menjadi pertanyaan.

“Saya melihatnya sekarang ini, market baru menjajaki [teknologi] digital. Pelanggan masih mencoba-coba untuk transaksi secara digital,” ujar Cornel Hugroseno (IT Director, PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk.). Kontribusi pasar konvensional masih lebih signifikan, menurut Cornel, meskipun pergeseran ke arah digital sudah terjadi.

Di saat pelanggan masih menjajaki di masa transisi ini, penyandang gelar Sarjana Teknik Informatika dari Universitas Gajah Mada itu melihat adanya sebuah peluang baru bagi perusahaan pembiayaan seperti Adira Finance. Yakni peran sebagai “penengah” antara pelaku bisnis dan konsumen.

Cornel Hugroseno melihat dewasa ini, bisnis trading white goods, seperti handphone, televisi, lemari es, dan lain-lain, via platform digital kian digemari konsumen. Berkembangnya sektor bisnis ini di kancah online tak lepas dari peran perusahaan pembiayaan.

Saat masih ragu dengan transaksi online/digital, konsumen tentu enggan membayar jika barang belum berada di tangan. Penjual pun demikian, mereka tidak akan melepas barang bila belum ada pembayaran.

Di sinilah perusahaan pembiayaan atau kredit memainkan peran. Setelah menyurvei kelayakan konsumen, perusahaan pembiayaan akan melunasi pembayaran barang ke penjual dan konsumen membayar secara kredit kepada perusahaan pembiayaan. “Dengan begitu, proses yang sebelumnya penuh keraguan menjadi penuh kepastian, dengan adanya lembaga kredit,” jelas Cornel.

Konsekuensi Digitalisasi

Dengan digitalisasi, pelanggan dan perusahaan dapat terhubung kapan saja dan di mana saja. Konsekuensinya, pelanggan akan lebih bebas mengutarakan harapan dan keinginannya. Pelanggan pun menaruh harapan besar bahwa kebutuhan dan keinginan mereka dapat dipenuhi perusahaan dengan cepat.

Konsekuensi lain dari digitalisasi adalah lebih banyak orang dapat terhubung dengan perusahaan. “Dulu, kami hanya diakses oleh orang yang mencari kredit motor atau mobil. Dulu, ‘etalase’ kami hanya untuk orang yang ingin beli kendaraan bermotor. Sekarang, etalase kami bisa dilihat semua orang. Nah, kalau begitu, mengapa kami tidak menjual semua jenis produk melalui berbagai kanal?” papar Cornel seraya menyebut pembiayaan umrah dan traveling sebagai dua penawaran terbaru Adira Finance.

Menghadapi kedua tantangan tersebut, menurut Cornel Hugroseno, harus ada tiga komponen yang mau tidak mau harus dimiliki untuk membangun solusi digital untuk pelanggan: agility, security, dan analytics.

Agile bukan hanya cepat, tetapi juga lincah dan gampang menyesuaikan diri,” jelas Cornel. Agility akan mengakomodasi kebutuhan dan keinginan pelanggan yang kerap berubah dan bertambah.

Secara teknis, agility dapat diwujudkan misalnya dengan memanfaatkan komputasi awan atau cloud computing. Menurut Cornel, cloud adalah teknologi yang sangat memudahkan, lebih ekonomis, dan scalable, meskipun masih ada isu regulasi yang kadang membuat perusahaan ragu melangkah ke awan.

Kecepatan dan kelincahan juga dapat dicapai dengan mengutamakan platform. “Dulu kami membangun fitur, dan tidak peduli dengan platform,” ucap Cornel. Namun transformasi digital mengharuskan perusahaan bergerak cepat. Walhasil, tool, aplikasi, dan solusi teknologi yang siap pakai atau commercial off the shelf tetapi configurable lebih disukai. “Inilah mengapa kemudian kami putuskan Adira ke depan tidak lagi membangun fitur tapi membangun platform,” imbuhnya.

Komponen analytics dibutuhkan ketika perusahaan membangun kompetensi multi product multi channel. Memiliki aneka produk yang dijual melalui berbagai kanal, perusahaan harus mengetahui produk dan kanal mana yang paling menguntungkan, dan menentukan produk dan kanal apa yang paling cocok untuk pelanggan.

Analytics digunakan untuk membangun sistem yang lebih efisien dalam mengelola banyak produk, banyak channel, dan customer yang begitu luas,” jelas pria kelahiran Solo, Jawa Tengah ini.

Sementara itu, akses dan interaksi perusahaan dengan basis pelanggan maupun mitra yang lebih luas, melalui aneka kanal, mengharuskan perusahaan lebih cermat menjaga keamanan informasinya. Security atau keamanan informasi disebut Cornel sebagai tantangan utama di era digital.

“Saat ini, TI juga dituntut menjadi growth driver artinya teknologi harus bisa membawa perusahaan itu mengalami growth atau pertumbuhan [bisnis],” ungkap Cornel.

TI Sebagai “Growth Driver”

Dengan pengalaman selama hampir tiga puluh tahun merentang karier di bidang teknologi informasi (TI), Cornel Hugroseno telah menyaksikan pergeseran peran TI di perusahaan. Dimulai dari peran merapikan dan mengefisiensikan data, mengelola informasi, dan menjadi tulang punggung untuk mewujudkan operational excellence, kini TI dituntut menjalani peran baru.

“Meski namanya masih IT, sebenarnya sudah berubah menjadi interaction technology,” jelasnya. TI kini menjadi media interfacing antarpelaku bisnis dan antarpelanggan. TI membangun koneksi antara perusahaan dengan komponen-komponen dalam ekosistem bisnis. Berkat teknologi, pelanggan kini dapat menjumpai layanan Adira di toko-toko retail, bahkan kedai-kedai kecil!

“Sekarang, TI sudah tidak cukup hanya jadi enabler. Saat ini, TI juga dituntut menjadi growth driver artinya teknologi harus bisa membawa perusahaan itu mengalami growth atau pertumbuhan [bisnis],” ungkap Cornel.

Ketika Adira Finance meluncurkan program “Sahabat Setia Selamanya” bagi pelanggan sebagai bagian dari upaya menjalin hubungan jangka panjang sekaligus meningkatkan bisnis, bagaimana divisi TI memampukan interaksi dan mendorong pertumbuhan?

Berbekal database pelanggan yang cukup lengkap dan kemampuan analytic, Adira Finance dapat memberikan penawaran dan layanan yang mengacu pada total life cycle atau siklus kehidupan pelanggan. “Jadi pada waktu anak pelanggan mencapai umur sekolah menengah atas, misalnya, kami mengirimkan penawaran ke pelanggan sekiranya si anak butuh kendaraan,” tutur Cornel.  

Adira Finance juga menggandeng komunitas untuk memberdayakan kedai-kedai sebagai outlet. Kedai-kedai tersebut dibekali teknologi dan konektivitas agar dapat melayani pembayaran cicilan kredit Adira, pembelian pulsa telepon, pembayaran tagihan listrik, dan lain-lain. Dengan cara ini, menurut Cornel, perusahaan juga berupaya menciptakan shared value bersama pelanggan.

Inisiatif lain yang dibuat Divisi Teknologi Informasi untuk memampukan Adira Finance menjadi sahabat setia pelanggan antara lain membangun aplikasi bernama Akses Adira. Aplikasi Android ini diharapkan dapat memudahkan masyarakat memperoleh berbagai macam informasi proses pembiayaan di Adira Finance. “Kami membangun aplikasi Akses Adira agar semua orang bisa mengakses informasi kapan saja dan di mana saja,” ujar Cornel Hugroseno mengakhiri pembicaraan.

John Berns (Senior Vice President, Head of Data Science, Lazada) mengungkapkan beberapa hal yang penting diperhatikan agar pelaku bisnis dapat meraih kesuksesan dalam menerapkan machine learning.

Machine learning bukan lagi sebatas jargon teknologi. Penggunanya kini terus bertambah, mulai dari startup sampai korporasi. Untuk menuai manfaatnya secara optimal, dibutuhkan tidak hanya teknologi yang mumpuni.

Dalam sebuah wawancara khusus dengan Majalah InfoKomputer,  John Berns (Senior Vice President, Head of Data Science, Lazada), mengungkapkan beberapa hal yang penting diperhatikan agar pelaku bisnis dapat meraih kesuksesan dalam menerapkan machine learning.

“Pertama adalah dukungan dari jajaran manajemen. Mereka harus diyakinkan untuk berinvestasi,” ucap John Berns. Untuk menerapkan machine learning, perusahaan harus membangun sistem yang mampu “menangkap” data sesuai kebutuhan. Perusahaan mungkin sudah memiliki banyak data untuk diolah, tetapi bukan data yang dapat menghasilkan nilai seperti diinginkan perusahaan.

Hal kedua adalah jajaran manajemen harus memberi peluang untuk gagal dan siap menerima kegagalan. Apa maksudnya? Machine learning adalah bagian dari data science dan science bukan sulap. “Science is about exploration, Anda tidak begitu saja mendapatkan hasil seperti yang Anda inginkan,” papar sarjana electrical engineering lulusan Southern Illinois University, AS itu.

Data science dan machine learning melibatkan proses dengan siklus yang sifatnya berulang (iterative). “Anda buat hipotesis, Anda coba, belajar. Kemudian ada hipotesis baru lagi, coba, belajar, begitu seterusnya,” ujar John Berns seraya memberi satu contoh “kegagalan” yang pernah ia alami.

Opportunity to Fail

Saat itu, John dan timnya akan mengoptimalkan conversion rate untuk meningkatkan presentase pengunjung Lazada.com yang terkonversi menjadi pelanggan membayar. Indonesia sebagai pasar terbesar Lazada menjadi arena uji coba pertama. “Kami buat algoritma [machine learning]-nya, lalu kami coba [di Indonesia]. Hasilnya fantastis! Kami dapat memperoleh kenaikan 8 sampai 10 persen conversion rate,” ceritanya.

Dengan hasil yang menggembirakan itu, tak ayal John Berns dan timnya segera menggelar uji coba terhadap algoritma yang sama ke semua pasar Lazada. Hasilnya? “Indonesia meningkat 8 sampai 10 persen, Malaysia tidak ada kenaikan, Thailand tidak ada kenaikan, Vietnam malah turun enam persen, Singapura tidak ada perubahan,” tandas John.

[BACA: Machine Learning: Saat Komputer Memecahkan Masalah Penting]

Hasil tersebut tentu mengundang pertanyaan jajaran manajemen Lazada. “Saya katakan kepada mereka bahwa ini bukan kegagalan. Dari hasil tersebut, kita belajar apa yang berhasil atau bisa dilakukan untuk Indonesia. Tetapi kita juga jadi tahu bahwa setiap negara berbeda, setiap pasar memiliki persepsi, kebutuhan, ketertarikan, dan cara berpikir yang berbeda,” ujar pria yang telah malang melintang di bidang teknologi selama lebih dari 25 tahun itu.

Hasil yang kurang memuaskan di uji coba algoritma pertama itu tentu harus dikompensasi. Menurut John, ia dan timnya segera membuat versi lain dari algoritma tersebut dan melakukan serangkaian uji coba lagi.

Setelah melakukan testing yang memakan waktu dua sampai empat bulan, tim Data Science Lazada akhirnya menuai hasil yang memuaskan: peningkatan conversion rate sebesar 4-8% di lima negara dan 8-10% di Indonesia.

Gudang Lazada Indonesia yang terletak di kawasan Cililitan, Jakarta Timur.

Machine Learning di Berbagai Lini

Didukung tim Data Science yang berkekuatan 20 orang, di antaranya ada 9 data scientist dan 6 data engineer, Lazada menerapkan data science dan machine learning di hampir semua area dalam proses bisnisnya. John Berns memaparkan salah satu contoh pemanfaatan machine learning untuk melakukan proses  quality checking.

Dari awalnya hanya memiliki 1,5 juta item produk, pada tahun ini Lazada menawarkan 30 juta item yang semuanya harus melalui tahap quality checking terlebih dahulu. “Kami harus melakukan quality checking terhadap setiap produk. Apakah gambarnya sudah bagus? Apakah nama produknya sudah tepat? Produknya lebih tepat masuk ke kategori apa? Dan ada banyak hal lain yang harus kami cek, and it’s time consuming,” ungkap pendiri komunitas BigDataSG itu.

Selain menyita banyak waktu, proses quality checking yang awalnya dilakukan secara manual itu juga melibatkan cukup banyak orang sehingga biaya untuk proses ini menjadi tinggi.

“Lalu kami mulai memanfaatkan machine learning untuk melakukan quality checking. Sembilan puluh persen dari produk tersebut dapat diklasifikasikan secara otomatis, dan sepuluh persen kami pilih untuk top 3 choices [secara manual]. Dan 98 persen dari waktu dapat digunakan untuk [memilih] tiga pilihan teratas tadi,” jelas John.

[BACA: Cara Lazada Manfaatkan Big Data]

Pemanfaatan machine learning lainnya misalnya dalam proses ordering. Misalnya untuk memeriksa apakah alamat pengiriman dan format e-mail yang dimasukkan pelanggan sudah benar.

Machine learning juga dapat dimanfaatkan untuk melakukan risk scoring (sebagai upaya pencegahan terjadinya fraud), verifikasi pesanan agar pelanggan mematuhi syarat dan ketentuan yang ditetapkan Lazada, prediksi delivery time, serta pemilihan rute transportasi dan transportation carrier untuk proses pengiriman barang secara optimal.

Beberapa proses di sistem backend Lazada pun telah didukung oleh machine learning. “Misalnya di sisi security, untuk memeriksa login dan firewall records, mendeteksi jika ada upaya-upaya hacking, dan memeriksa inventory level,” John menambahkan.

“Kami dapat menjalankan banyak hal dalam business process tanpa bantuan manusia,” ujar John Berns.

Berbicara tentang manfaat dan keuntungan yang diperoleh dari machine learning, menurut John, machine learning adalah optimalisasi.

Dengan machine learning, organisasi dapat meningkatkan efisiensi dan mengambil keputusan yang lebih baik tentang berbagai aspek proses bisnis. Keputusan ini secara langsung maupun tidak langsung berdampak terhadap pelanggan.   

“Kami dapat menjalankan banyak hal dalam business process tanpa bantuan manusia. Kami bisa lakukan scaling. Kami dapat lakukan proses sepuluh sampai ribuan kali  dengan tahap-tahap yang tetap sama,” ujar pria yang pernah menjadi solutions architect khusus untuk platform big data Hadoop.

Kemampuan scaling sangat penting bagi Lazada sebagai technology platform company yang bisnisnya sedang tumbuh pesat namun sumber daya manusianya tidak mungkin ditambah secara linear.

Data Science Adalah Rantai

Kesuksesan membangun kemampuan machine learning dan data science tentu tak lepas dari dukungan sumber daya manusia yang andal. Sementara itu, pada kenyataannya mencari SDM yang andal untuk bidang tersebut masih cukup sulit.

A good data scientist is hard to find. Semua orang bisa menuliskan [kemampuan di bidang] data science dalam resume-nya. Mengambil kursus dua minggu tiba-tiba mengaku dirinya data scientist. Ada orang bergelar PhD di bidang statistik komputasi dan bekerja selama tiga tahun, lalu bilang ia data scientist. Memang ada berbagai persepsi yang berbeda,” ujar John.

[BACA: Machine Learning Dorong Kolaborasi Manusia dan Mesin]

Namun yang membuat seseorang boleh disebut the best data scientist, menurutnya, adalah ketika orang tersebut memiliki sense of data. Data scientist yang baik tidak hanya mengetahui data-data  penting untuk memperoleh insight tertentu. Namun ia juga tahu ketika ada keping-keping data yang hilang dari kumpulan data yang tersedia untuk menggali sebuah insight.

“Misalnya begini, Anda ingin memprediksi orang-orang yang berpotensi mengidap diabetes. Kemudian Anda diberikan dua fitur, yakni tinggi dan berat badan untuk melakukan prediksi. Data scientist yang baik akan tahu bahwa dari dua fitur itu ia bisa menghitung BMI (Body Mass Index. red), dan BMI lebih akurat untuk memprediksi potensi diabetes,” John memberi ilustrasi.

Data science bukan domainnya data scientist saja. Para ilmuwan data ini tidak mungkin bekerja sendirian. Membekali seorang data scientist dengan laptop dan database lalu berharap keajaiban datang bukanlah langkah yang tepat untuk membangun kemampuan data science dalam organisasi.

Data science adalah sebuah rantai, Anda tidak mungkin hanya memiliki satu mata rantai dan tak mengindahkan yang lain,” imbuhnya. Data scientist membutuhkan support network, seperti dukungan manajemen, dukungan data engineer untuk memberinya data yang tepat, kesempatan untuk gagal, dan infrastruktur big data.

Memulai karier teknologinya di bidang software dan menghabiskan hampir tujuh tahun terakhir kariernya menekuni big data, John Berns menolak dirinya disebut sebagai seorang data scientist. Menurut John, ia adalah seorang data engineer. “Data scientist melakukan hal yang berbeda [dengan yang saya kerjakan] dan mereka jauh lebih smart daripada saya,” ujarnya setengah bergurau di pengujung wawancara.

Ash Crick (Global Head of Labs, Data Intelligence and Content Technology, iflix).

Kendati menggiurkan dan menawarkan pertumbuhan, pasar berkembang atau emerging market tak mudah ditaklukkan. Bagaimana cara penyedia layanan video on demand, iflix, untuk selalu berada di posisi terdepan?

“Boleh dibilang, kami telah memilih pasar paling menantang untuk membangun sebuah layanan TV internet, yakni  emerging market,” ujar Ash Crick (Global Head of Labs, Data Intelligence and Content Technology, iflix). Tantangan datang misalnya dalam bentuk koneksi internet yang seringkali tak cukup memadai untuk menggelar sebuah layanan televisi berbasis internet. Atau dukungan infrastruktur pembayaran elektronik di kawasan berkembang yang belum sekokoh di negara maju.

“Sepengetahuan saya, hanya ada beberapa preseden di dunia ini untuk tantangan seperti yang kami hadapi, tetapi justru itu yang menjadikannya menarik,” cetus pria yang baru saja melepas jabatannya sebagai Chief Technology Officer iflix itu.

Tak pelak, selain konten yang menarik, teknologi dan inovasi pun menjadi garda terdepan untuk mengakselerasi bisnis iflix. “Konten adalah raja [di mata penyedia konten], tapi teknologilah yang dapat membuat perbedaan besar dalam menyajikan pengalaman pelanggan [yang menyenangkan],” tandas veteran di bidang teknologi dengan pengalaman selama 25 tahun merentang karier di Australia, Inggris, dan Asia Tenggara ini. Teknologi pula yang akan memampukan iflix hadir dengan cepat di rumah jutaan pelanggan di puluhan negara.

Invisible yang Terbaik

Berbicara tentang teknologi di balik layanan iflix, Ash melihat kondisi pasar sebagai faktor paling berpengaruh pada jenis teknologi yang ia terapkan. Misalnya untuk di negara-negara maju, teknologi, seperti VR (Virtual reality), HDR (High Dynalmic Range), UHD (Ultra High Definition), dan resolusi 4K, akan menunjang penghantaran layanan video on demand yang mumpuni.

“Namun fokus kami adalah pasar berkembang. We eat, breathe, and sleep emerging markets. Kami membangun produk dan melakukan scaling terhadap sistem kami, khusus untuk pasar berkembang,” tandasnya.

Perhatian Ash saat ini lebih tertuju kepada hal-hal, seperti otomatisasi bisnis, kemampuan menghantarkan konten video dengan bandwidth dan kualitas internet terbatas, otomatisasi subtitle translation, payment reach, dan aneka perubahan yang bersifat disruptif tetapi signifikan terhadap cara pelanggan berinteraksi dengan produk iflix.

“Menurut kami, teknologi terbaik adalah teknologi yang paling invisible bagi pelanggan. Yang penting teknologi itu bekerja dengan baik,” jawab Ash seraya mengungkapkan bahwa hampir seluruh layanan iflix sudah berjalan di atas cloud.

Tiga Pilar Inovasi

Selain teknologi, iflix juga sangat mengedepankan inovasi untuk meraih kesuksesan jangka panjang. Ash Crick memaparkan tiga pilar dalam pendekatan inovasi yang diterapkan iflix. Pilar pertama adalah tim Labs yang khusus mengeksplorasi teknologi, model-model bisnis, dan metode baru untuk meningkatkan kualitas layanan dan mendorong ekspansi bisnis. “This is the spark, inilah awalnya,” tandasnya.

Tim ini tak boleh kalah cepat dari perubahan yang terjadi di luar sana. “Pilihannya hanya terus bergerak maju atau kami akan membuang semua [konsep yang tidak berjalan] begitu saja,” imbuh lelaki yang mengaku selalu terobsesi untuk menemukan ide-ide dan mencicipi pengalaman baru.

Pilar berikutnya adalah tim Engineering. Tim ini bertugas mewujudkan ide dan konsep yang diberikan tim Labs. Tangan dingin tim ini pula yang telah menghasilkan produk dan layanan iflix yang bingkas (resilience) dan berwawasan masa depan.

Pilar terakhir ditopang oleh tim Data. “Tim Data kami terlibat dalam setiap tahap. Tugas mereka adalah memastikan kami mengukur hal yang tepat untuk kami pelajari, beradaptasi, dan berevolusi dengan cepat,” jelas Ash Crick.

Selain ditopang tiga pilar tersebut, proses inovasi juga melibatkan jajaran pimpinan iflix. “Mereka membangun interaksi yang kuat dengan para engineer kami, dan keterlibatan [jajaran pimpinan] ini terbukti merupakan cara yang tepat untuk mendorong outcome yang inovatif dengan cepat,” papar sang pemimpin inovasi di iflix ini.

Terobsesi Teknologi

Berada di lingkungan kerja dan diberi tugas menggarap pasar yang dinamis tak membuat Ash Crick merasa gamang. Selain bekal pengalaman panjang di bidang teknologi, Ash mengaku dirinya termasuk orang yang selalu penasaran dengan hal-hal baru.

“Mungkin bagi orang lain, saya terkesan cepat bosan. Ada benarnya juga, tapi [dengan rasa penasaran itu] saya memperoleh banyak pengalaman luar biasa,” ungkapnya. Di antara pengalaman yang luar biasa itu adalah kesempatan berada di satu panggung dengan salah satu gitaris terbaik dunia, Tommy Emmanuel (gitaris fingerstyle asal Australia) dan menjadi World Champion Freestyle Skydiver.

Aksi Ash Crick saat melakukan sky diving.

Tanpa ia sadari, semua pengalaman tersebut terakumulasi dan membentuk cara pandang Ash Crick tentang pekerjaannya dari persepektif sosial, intelektual, dan kompetisi.

“Tetapi saya selalu tertarik pada teknologi,” ungkap pria yang di usia tujuh tahun telah membuat program untuk komputer TRS-80. Hati pemegang gelar Bachelor of Engineering dan Bachelor of Science dari University of Melbourne, Australia itu telah tertambat pada kekuatan komputasi sebagai pemberi solusi tantangan dunia nyata. Tak mengherankan jika lelaki yang pernah menjadi Specialist Consultant IBM ini senantiasa merasa tertantang untuk mencari solusi teknis paling simpel untuk memecahkan tantangan bisnis

Berada di iflix, ia merasa sangat beruntung karena digaji untuk melakukan hal-hal yang disukainya dan dapat berkontribusi untuk membuat hidup pelanggan menjadi berbeda. “Memadukan hiburan, inovasi, dan teknologi, serta sebuah cita-cita untuk menyajikan hiburan berkelas dunia kepada satu miliar orang adalah sesuatu yang membuat saya bersemangat bangun tidur setiap hari,” ujarnya setengah berkelakar.

Tampaknya, perannya di iflix tidak akan membuat Ash Crick berniat cepat-cepat mencari tantangan dan pengalaman baru. Terutama setelah iflix baru-baru ini menyabet penghargaan dari Frost & Sullivan sebagai 2016 Asia Pacific Video on Demand Company of the Year. Menurutnya, prestasi ini hanyalah sebuah awal dari rencana ekspansi masif iflix pada tahun ini.

Bersama CTO yang baru, Emmanuel Frenehard, Ash Crick akan membawa layanan iflix hadir di seluruh dunia dan mengubah cara orang mengkonsumsi hiburan.

Leonardo Koesmanto (Head of Digibank, DBS Indonesia). [Foto: Abdul Aziz/InfoKomputer]

Mencari pekerja dengan wawancara? Itu sudah biasa. Yang tidak biasa adalah mencari pekerja dengan menyelenggarakan hackathon alias lomba membuat aplikasi. Hal itu dilakukan DBS Singapura untuk menjaring seratus tenaga kerja potensial di bank terbesar di Asia Tenggara tersebut. Mereka yang berhasil membuat aplikasi menarik dan inovatif bisa langsung bergabung sebagai karyawan DBS.

Kisah di atas bisa menjadi contoh keseriusan DBS dalam melakukan transformasi ke dunia digital. Dalam konteks yang lebih luas, keseriusan DBS bisa dilihat dari pembentukan entitas baru yang disebut Digital Bank (atau sering disebut Digibank). Di Indonesia, Digibank dipimpin Leonardo Koesmanto, sosok yang memiliki perjalanan panjang di dunia teknologi dan perbankan.

Dalam implementasinya secara global, DBS mengambil beberapa pendekatan terkait Digibank. Di beberapa negara, Digibank berfungsi lebih sebagai e-channel dari layanan perbankan DBS yang telah ada. Namun di beberapa negara lain, Digibank menjadi perusahaan sendiri yang siap bersaing dengan perbankan lain, termasuk DBS sendiri. Sementara di Indonesia, Digibank menjadi divisi tersendiri namun didukung oleh organisasi yang ada di DBS Indonesia.

Meski memiliki beberapa bentuk, Digibank sebenarnya mewakili satu pesan: DBS siap melakukan transformasi. “CEO kami (Piyush Gupta. red) ingin mentransformasikan bank ini menjadi digital,” ungkap pria yang akrab dipanggil Leo ini.

Hal ini tidak lepas dari arah masa depan perbankan yang mengarah ke digital. Kompetitor DBS pun bukan lagi bank-bank konvensional, namun perusahaan teknologi yang memiliki data. “Jadi kompetitor kita ke depan adalah perusahaan non-bank seperti Google atau Alibaba,” tambah pria yang memimpin tiga puluh orang di dalam timnya tersebut.

Inilah yang menjelaskan mengapa output yang diharapkan dari Digibank bukan sekadar produk, melainkan lebih kepada perubahan kultur perusahaan. “Produk bisa dibilang efek dari perubahan kultur dan mindset itu,” jelas Leo. Ketika cara berpikirnya sudah digital, Leo yakin produk yang dihasilkan pun akan sarat dengan nuansa digitalnya.

Menjawab Keinginan

Perubahan mindset tersebut bisa dilihat dari pendekatan Digibank dalam membuat produk atau layanan. “Di Digibank, kami mendesainnya berbasis customer centric dan menggunakan pendekatan jobs to be done,” cerita Leo.

Prosesnya diawali dengan melihat apa yang ingin dicapai konsumen, lalu Digibank akan melihat bagaimana kebutuhan tersebut bisa dijawab dengan teknologi digital. “Jadi pola berpikirnya bukan bagaimana saya bisa save cost dengan melakukan digitalisasi,” tambah Leo.

Perubahan mendasar lain juga bisa dilihat dari strategi DFNO (Design for No Ops) yang dilakukan Digibank. “Jadi saat mendesain sebuah produk atau solusi, kami sengaja merancangnya agar scalable dan tidak membutuhkan tenaga operasional,” ujar Leo.

Otomatisasi ini menjadi penting mengingat skalabilitas tidak mungkin terjadi ketika sebuah produk membutuhkan tenaga operasional untuk berfungsi. “Karena ketika customer tambah banyak, kita harus menambah orang,” ujar Leo mengungkapkan alasannya.

Untuk produk sendiri, Digibank menyesuaikan dengan perkembangan yang ada. Ketika saat ini eranya mobile apps, Digibank pun merilis apps untuk platform iOS maupun Android. Melalui apps ini, nasabah bisa melakukan transfer dana, pembayaran, pengaturan anggaran, sampai penyimpanan di deposito.

Yang juga menarik adalah keberadaan fasilitas Virtual Assistant. Fasilitas berbasis machine learning ini memungkinkan nasabah meminta bantuan terkait layanan perbankan, seperti mengurus permohonan deposito atau mengingatkan untuk membayar tagihan tiap bulannya. “Fasilitas ini juga bisa menjadi customer service karena 80% pertanyaan nasabah pada dasarnya sama,” ungkap Leo.

Di masa depan, berbagai teknologi pun siap ditanamkan di mobile apps ini. Sekarang ini, Digibank sedang menimbang kemungkinan penggunaan biometrik, seperti sidik jari atau retina mata, sebagai sarana autentikasi nasabah. Mulai dipikirkan pula cara nasabah melakukan transaksi hanya dengan mengetikkan pesan di media sosial atau messaging apps.

Pendek kata, berbagai fitur bisa ditambahkan di mobile apps tersebut. Namun proses itu akan dilakukan secara bertahap karena Digibank mengambil pendekatan incremental ala startup. “Ketika launch, produk kita mungkin tidak 100% seperti yang kita inginkan. Namun secara reguler, kita akan terus melakukan perbaikan,” ungkap Leo.

Pendekatan bertahap ini diyakini sesuai dengan perilaku konsumen digital saat ini yang terbiasa dengan konsumsi model bite size.

“Sekarang ini penetrasi telepon seluler di Indonesia sudah lebih dari 100%. Jika layanan perbankan kami sudah mencapai handphone, kami pun bisa mencapai masyarakat yang lebih luas,” ungkap Leo.

Perubahan Menyeluruh

Ketika layanan sudah mengarah ke digital, peluang DBS menggapai konsumen pun kian meluas.

“Sekarang ini penetrasi telepon seluler di Indonesia sudah lebih dari 100%. Jika layanan perbankan kami sudah mencapai handphone, kami pun bisa mencapai masyarakat yang lebih luas,” ungkap Leo dengan yakin. Apalagi, masyarakat Indonesia tergolong terbuka dalam menjajal hal-hal baru seputar teknologi. Jika suka, mereka akan terus menggunakannya.

“Jadi tantangan bagi kami lebih kepada memastikan konsumen mau mencoba dan menyukai produk kita,” tambah Leo. Tantangan lain adalah memastikan layanan digital tersebut aman digunakan mengingat keamanan menjadi isu penting di industri perbankan.

Selain di sisi konsumen, tantangan juga harus dihadapi DBS secara internal. Dengan sebaran di tujuh belas negara di dunia, DBS harus memastikan seluruh organisasi memiliki gerak seragam dalam melakukan transformasi digital. Untuk mencapai hal tersebut, DBS pun menerapkan kebijakan transformasi secara menyeluruh. “Jadi secara end-to-end, kita konversi ke digital,” ungkap Leo.

Salah satunya contohnya adalah pelatihan ke karyawan tidak cuma terkait perbankan seperti risk management atau credit management, namun juga soal blockchain dan agile. Pelatihan berbasis komputer (computer-based training) pun mulai dialihkan ke mobile apps dengan pendekatan bite size. “Jadi kalau hari ini belajar satu paragraf, besok bisa lanjut satu paragraf lagi,” lanjut Leo.

Dengan semua transformasi digital yang dilakukan, Leo berharap DBS bisa dikenal sebagai pionir di dunia digital perbankan. Bank pun menjadi sesuatu yang tak kasatmata atau invisible karena berada di belakang dari kegiatan perbankan yang dilakukan nasabah. “Jadi ‘bank’ adalah sesuatu yang kita lakukan, bukan sebuah tempat kita pergi,” ungkap Leo menceritakan mimpi besarnya.

Zack Hicks (CEO Toyota Connected & CIO Toyota Motors North America).

Connected car kian menemukan momentumnya. Berkaca dari prediksi Business Insider, diperkirakan akan ada 94 juta connected car di tahun 2021. Jika dibandingkan dengan angka 21 juta connected car yang ada di tahun 2016, berarti terjadi kenaikan sebesar 36% per tahunnya.

Potensi besar inilah yang bisa menjelaskan mengapa pabrikan mobil kini berlomba membuat platform di atas connected car tersebut. Salah satunya adalah Toyota yang pada April tahun kemarin membuat divisi baru bernama Toyota Connected. Visi Toyota Connected cukup ambisius, yaitu memanfaatkan data untuk memberikan pengalaman lebih menyenangkan saat berkendara.

“Mobil yang ada saat ini dan di masa depan akan menghasilkan banyak data,” ungkap Zackhery Hicks. “Sudah saatnya kita memanfaatkan data tersebut untuk membuat mobil dan pengalaman berkendara yang lebih baik,” tambah Zack menggambarkan misi Toyota Connected.

Pengalaman Menyenangkan

Zack Hicks sendiri adalah sosok yang dipercaya menjadi CEO Toyota Connected. Tugas memimpin divisi baru ini tidak lepas dari pengalaman pria berusia 53 tahun ini di bidang teknologi. Selama ini, Zack yang telah bekerja selama 21 tahun di Toyota merupakan CIO Toyota Motors North America (TMNA). Dengan tugas rangkapnya sekarang, Zack memiliki tugas besar mewujudkan pemanfaatan data bagi kenyamanan pengendara.

Zack pun memberikan beberapa contoh pemanfaatan data untuk kepentingan pengendara. Contoh paling sederhana adalah mobil bisa mengetahui pola bepergian pengguna, seperti pagi saat menuju kantor dan sore saat pulang ke rumah. Sistem di mobil juga bisa terhubung ke kalender pengendara, sehingga bisa mengetahui kegiatan pengendara di hari itu. “Jadi saat pengendara naik ke mobil, ia tidak perlu lagi memprogram tujuannya. Sistem di mobil sudah tahu persis ke mana ia harus menuju,” ungkap Zack.

Sistem navigasi pintar ini juga bisa dikembangkan ke berbagai kemungkinan. Contohnya, sistem bisa menyarankan rute terbaik untuk menuju tempat tujuan. Jika terdeteksi pengendara akan terlambat sampai tujuan, sistem akan menawarkan pengendara untuk menelepon atau melakukan panggilan Skype.

Potensi Toyota Connected akan kian besar ketika pengguna memasukkan akun media sosialnya ke sistem. “Jika pengguna memasukkan akun LinkedIn, kami bisa mengetahui alamat kantor atau ketika pengguna pindah kerja,” ungkap Zack.

Sistem Toyota Connected juga bisa menganalisis status Facebook pengguna sehingga mengetahui hobi dan kebiasaan orang tersebut. “Contohnya ketika pengguna ternyata adalah memiliki hobi naik sepeda, kami bisa menawarkan mobil dengan fasilitas rak sepeda,” cerita Zack.

Untuk menjalankan inisiatif tersebut, Toyota Connected akan digawangi seratus karyawan. Mayoritas karyawan adalah data scientist yang akan merancang sistem yang bisa menggabungkan berbagai data tersebut.

Sementara di sisi infrastruktur, Toyota menggandeng Microsoft dan menggunakan Azure Cloud Technology sebagai basis teknologi pengolahan data. Untuk semua investasi ini, Toyota menggelontorkan dana US$5,5 juta sebagai tahap awal pengembangan.

Teknologi di Latar Belakang

Akan tetapi, tantangan Toyota Connected memang tidak melulu soal teknologi. Ketika privasi kini menjadi isu penting, pengguna harus diyakinkan agar setuju aktivitas berkendaranya direkam. Untuk itu, Zack memastikan Toyota Connected akan memiliki aturan yang jelas soal itu. “Konsumen nantinya akan disodori pilihan yang jelas untuk masuk atau tidak ke program ini,” ungkap Zack.

Toyota juga akan merahasiakan data personal pengguna dan tidak menyebarkannya ke pihak ketiga. “Tidak ada konsumen yang mau naik ke mobil untuk kemudian dibombardir dengan iklan,” ungkap Zack menyampaikan alasannya.

Untuk menjamin hal tersebut, Toyota berkomitmen untuk bekerja sama dengan pihak berwenang yang akan memonitor penggunaan data konsumen tersebut. “Bagian penting dari komitmen ini adalah bersikap setransparan mungkin mengenai pilihan opt-in dan opt-out serta bagaimana kami memanfaatkan data,” tambah Zack.

Akan tetapi, Zack yakin konsumen akan rela datanya dianalisis jika dapat memberikan manfaat yang mereka butuhkan. Saat ini, konsumen mengandalkan aplikasi navigasi di smartphone karena dapat memberikan informasi terkait rute terbaik. “Konsep [Toyota Connected] pada dasarnya sama, namun akan jauh lebih baik,” janji Zack.

Yang tak kalah penting, Zack menganggap inisiatif Toyota Connected ini adalah bagian dari usaha bersama membuat teknologi berada di latar belakang kehidupan manusia. Atau dalam istilah Zack, membebaskan konsumen dari tyranny of technology. “Kita sering melihat keluarga sedang makan bersama di sebuah restoran namun perhatian mereka tertuju kepada smartphone masing-masing. Itu adalah tirani teknologi,” ungkap Zack.

Dengan Toyota Connected, ketergantungan akan gadget ini diharapkan akan berkurang. “Kami akan memberikan jawaban yang dibutuhkan pada saat yang tepat,” janji Zack.

Ilustrasi kecerdasan pada sistem mobil pintar Toyota Connected.

Cerdasnya Mobil di Masa Depan

Berikut adalah beberapa contoh pemanfaatan data yang bisa menambah kenyamanan pengguna mobil Toyota.

  1. Mendeteksi Keselamatan Jalan. Sistem pengereman di mobil Toyota bisa memberi peringatan ketika sistem ABS tidak berfungsi akibat salju. Data ini bisa disebar ke mobil lain agar bisa menghindari jalan tersebut.
  2. Rekomendasi Restoran. Berbekal status media sosial pengguna, Toyota bisa mengetahui makanan favorit pengguna (misalkan seafood). Ketika pengendara tersebut menuju sebuah area, sistem di mobil bisa merekomendasikan restoran seafood baru di area tersebut yang mendapat review bagus di media sosial.
  3. One-on-One Relationship. Toyota akan membangun banyak aplikasi, namun tidak semua aplikasi akan ditawarkan ke konsumen. Berbekal hobi atau preferensi pengguna, Toyota hanya akan menampilkan aplikasi yang relevan. Dengan begitu, tercipta hubungan yang lebih personal.

Jeremy King ( Chief Technology Officer & Senior Vice President @WalmartLabs).

Cerita transformasi digital Walmart mungkin akan berbeda jika Jeremy King bersikeras mengabaikan tawaran Walmart.

Pada awalnya, King memang tak ingin mengindahkan panggilan telpon dari recruiter Walmart pada suatu hari di tahun 2011. Pasalnya, engineer yang kondang di Silicon Valley karena prestasinya membangun infrastruktur eBay ini sudah kerap “dirayu” perusahaan pencari tenaga kerja.

Melihat kegigihan recruiter itu yang terus menerus menghubunginya, Jeremy King pun luluh hatinya dan menjawab tawaran sang recruiter. “Saya bilang begini, ‘kenapa bukan CEO-nya saja yang telepon—biarkan ia bicara dengan saya, mungkin saya akan tertarik’,” cerita Chief Technology Officer (CTO) & Senior Vice President @WalmartLabs itu seperti dikutip dari Fast Company.

King mengaku saat itu dirinya cuma pura-pura sedikit pongah. Lagipula mana mungkin pemimpin tertinggi dari retailer terbesar di Amerika sudi menelepon seorang engineer seperti dirinya?

Tak disangka, Walmart kemudian malah mengatur sebuah video conference agar CEO Walmart saat itu, Mike Duke, bisa mewawancarai langsung Jeremy King yang saat itu masih menjadi CTO LiveOps, pengembang software call center berbasis cloud.

Berbicara selama 45 menit dengan Mike Duke, pemegang gelar bachelor of science dalam bidang information systems dari San Jose State University itu menyebut tawaran Walmart sangat menarik.

Bawa Silicon Valley ke Walmart

Proses rekrutmen itu terbilang tak biasa. Tugas dan harapan yang diletakkan Walmart di pundak Jeremy King juga ternyata luar biasa.

Walmart boleh mengklaim dirinya sebagai rajanya retail di dunia nyata. Namun di dunia maya, pada lima tahun yang lalu, Walmart sekadar penantang saja. Bisnis digitalnya masih jauh ketinggalan dari dua rival terdekatnya saat itu, yakni Amazon dan Staples. Situs e-commerce Walmart tampil biasa-biasa saja, mesin pencarinya tidak intuitif. Walhasil bisnis digital itu seperti berjalan di tempat, bahkan cenderung tertinggal dari para pesaingnya.

Tak puas dengan kondisi tersebut, CEO Mike Duke mengambil langkah berani, yakni melakukan transformasi digital. Sejak lama, Walmart dikenal memiliki proses bisnis yang kaku tapi efektif. Dengan transformasi digital, toko retail yang dibangun oleh Sam Walton ini akan diarahkan menjadi sebuah perusahaan yang berkarakter seperti wirausaha, penuh dengan eksperiman, dan fleksibel. Atmosfer bisnis ala Silicon Valley ingin diciptakan Mike Duke di Bentonville, Arkansas.

Walmart menganggap Jeremy King orang yang tepat untuk mengorkestrasi inisiatif perubahan besar-besaran yang mengombinasikan kekuatan baru e-commerce, customer experience yang berbeda, dan kekuatan supply chain, satu keunggulan yang dimiliki Walmart sejak dahulu.

Ilustrasi e-commerce Walmart. [Kredit: marketmadhouse.com]

Terapkan In-House Innovation

Mengepalai @WalmartLabs, Jeremy King menerapkan prinsip bahwa setiap perusahaan adalah perusahaan teknologi (every company is a tech company).

Menurutnya, perusahaan dari berbagai sektor industri mulai berbondong-bondong beralih ke model “build” atau pendekatan in-house innovation. Perusahaan menciptakan dan mengembangkan sendiri teknologi yang mereka gunakan. Dikotomi masa lalu antara perusahaan pengembang teknologi dan perusahaan pengguna teknologi pun pada akhirnya akan makin tergerus.

Peran inilah yang dimainkan @WalmartLabs untuk mendukung kesuksesan bisnis Walmart. “Tentu saja, Walmart tidak sendirian menerapkan pendekatan in-house innovation ini. Perusahaan seperti Procter & Gamble dan Starbucks juga telah menghabiskan waktu beberapa tahun terakhir ini untuk menjadi organisasi yang technology-driven,” tulis Jeremy King dalam blog @WalmartLabs.

Menurut King, perusahaan tidak dapat mempertaruhkan pertumbuhan bisnis dengan bergantung pada vendor. “Anda tidak bisa meng-outsource inovasi. Inovasi adalah sesuatu yang seharusnya Anda miliki,” tandas King.

Di sisi lain, perubahan besar ini juga akan mencetuskan karakter kewirausahaan (enterpreneurship) dalam perusahaan dan mendorong pengembangan teknologi yang sesuai tujuan perusahaan.

Berbekal prinsip tersebut, pria yang juga menjabat CTO Walmart Store Inc. ini memulai proses transformasi dengan membangun ulang (rebuilding) teknologi untuk meraih kecepatan dan skalabilitas dengan platform open source.

“Kami menggunakan teknologi untuk melayani pelanggan dengan cara-cara baru—mulai dari membangun platform teknologi yang kuat sampai dengan mempertemukan online experience dengan toko-toko fisik yang kami miliki,” ujar Jeremy King, seperti dikutip dari PRWeb.

Andalkan Open Source

Melalui proyek bernama Pangaea yang dimulai pada tahun 2012, Jeremy King dan timnya melakukan perombakan besar-besaran terhadap berbagai hal, mulai dari cara kerja dan tampilan situs web Walmart hingga software transaksi, database, server, dan tool untuk mengelola semua itu di data center. Walmart juga membangun infrastruktur cloud dan data center baru, bahkan membuat search engine sendiri.

Jeremy King menginginkan mesin pencari yang kemampuannya lebih dari sekadar menampilkan item yang dicari pelanggan. Ia menginginkan search engine yang dapat memberikan rekomendasi terpersonalisasi (personalized recommendation) agar pelanggan tertarik membeli lebih banyak barang.

Untuk itu, mesin pencari tersebut harus memunyai kemampuan mengaitkan hasil pencarian dengan pelanggan, berdasarkan interaksi sebelumnya. Dan mesin pencari bernama Polaris berhasil dirampungkan tim @WalmartLabs dalam waktu sembilan bulan.

Walmart juga mengembangkan sendiri tool pengeloaan hybrid cloud. Dengan cloud controller bernama OneOps ini, para engineer dapat dengan mudah memindahkan aplikasi dari cloud internal ke eksternal, atau sebaliknya.

“Seiring pertumbuhan bisnis, kami membutuhkan teknologi ini untuk berinovasi dan melakukan scale up,” cetus King seperti dikutip dari ETCIO.com. OneOps juga dirilis ke komunitas open source sehingga perusahaan lain dapat memanfaatkannya agar terhindar dari vendor lock-in.

Kuncinya pada Integrasi

Ada sebuah pelajaran menarik yang didapat Jeremy King. Berpengalaman selama tujuh tahun di eBay, ia mengaku awalnya menyepelekan kompleksitas supply chain Walmart.

“Saya sangat akrab dengan sisi digital retail, tetapi ternyata Walmart lebih dari sekadar situs web. Walmart adalah persimpangan antara [retail] digital dan fisik, dan saya benar-benar meremehkan kompleksitas supply chain. Saya merekrut banyak pegawai eBay dan kami sering menyepelekan supply chain,” kenangnya.

Di Walmart, adalah sangat kritis untuk memahami ke mana paket harus bergerak di dalam gudang dan mengantarkannya ke toko dan pelanggan. Walhasil, jumlah karyawan yang bekerja di divisi supply chain dan divisi digital sama banyaknya.

Dengan eksistensi Walmart di dunia maya dan nyata, Jeremy King dan tim @WalmartLabs harus memastikan customer experience yang benar-benar mulus (seamless) antara perangkat mobilepick up, pencarian, dan delivery ke rumah pelanggan atau belanja di toko, kemampuan navigasi, dan lain-lain. Integrasi adalah kuncinya.“Kami memiliki ribuan toko di seluruh dunia dan kami harus mengintegrasikannya dengan perangkat mobile dan desktop. This is critical to our success!” tegasnya.

Ilustrasi aplikasi belanja Walmart. [Kredit: geomarketing.com]

Integrasi toko fisik dengan mobile diperoleh, antara lain, melalui kemampuan in-store mapping. Integrasi yang lebih kompleks bisa dilihat pada aplikasi Savings Catcher. Aplikasi ini memiliki kemampuan comparative intelligence untuk membandingkan harga di toko-toko retail lain, misalnya Target dan Walgreens.

Dengan aplikasi ini, pelanggan dapat memindai bon belanjanya di Walmart. Lalu, jika ternyata pelanggan membayar lebih mahal daripada harga di toko lain untuk barang yang sama, pelanggan akan menerima kartu eGift.

Untuk mengembangkan aplikasi semacam itu, Jeremy King dan timnya harus mengintegrasikan data transaksi hasil penjualan di toko fisik dan e-commerce. Dan inilah pertama kalinya, Walmart memperoleh gambaran yang kohesif tentang aktivitas pribadi yang dilakukan oleh 250 juta pelanggannya di dunia maya.

 

Ilustrasi transformasi digital. [Kredit: progressivegrocer.com]

Sebagai negara dengan jumlah penduduk yang besar, ekonomi Indonesia sangat dipengaruhi sektor konsumsi masyarakat. Dalam hal ini, kita layak merasa optimistis. Dua lembaga riset, AC Nielsen dan Danareksa Research Institute, memaparkan kalau indeks kepercayaan masyarakat di tahun ini menunjukkan sentimen positif.

Survei Nielsen, misalnya, menunjukkan Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) Indonesia naik terus pada tahun 2016 dan menembus angka 122 pada kuartal ketiga. Indeks ini menduduki posisi tiga terbaik di Asia Pasifik, hanya kalah dari India dan Filipina. Tak mengherankan jika Bappenas memperkirakan, perekonomian Indonesia bisa tumbuh antara 5,1 – 5,3% di tahun ini.

Sinyal positif ini tentu saja menjadi kabar bagus bagi perusahaan Indonesia. Meski begitu, bukan berarti tantangan menjadi lebih mudah. Tsunami teknologi digital membuat setiap perusahaan kini harus memiliki strategi yang tepat dan cepat untuk menjawab persaingan. Jika tidak, perusahaan-perusahaan era digital akan lebih gesit dalam menangkap peluang yang ada.

Hal inilah yang menjelaskan mengapa para CIO yang kami wawancarai menunjuk inisiatif terkait digital yang makin dalam pada tahun ini. Salah satu contohnya adalah Kalbe Farma yang menggunakan pendekatan bimodal agar bisa cepat menjawab dinamika pasar. Contoh lain adalah PT KAI yang akan berencana memberikan layanan lebih beragam bagi konsumennya yang kian digital-minded.

Pendek kata, digital akan menjadi bagian penting dari setiap gerak perusahaan saat ini. Pertanyaan besarnya, siapkah perusahaan Anda melakukan transformasi digital yang lebih dalam?

Dino Bramanto, Corporate IT Director, PT Kalbe Farma Tbk. Foto : Abdul Aziz

Dino Bramanto (Corporate IT Director, PT Kalbe Farma Tbk.)

Industri Farmasi Hadapi Tantangan Produktivitas dan Efisiensi  

Memasuki tahun 2017, Dino Bramanto (Corporate IT Director, PT Kalbe Farma Tbk.) melihat pengelolaan biaya atau cost masih menjadi tantangan besar bagi industri farmasi di Indonesia. Pasalnya, meskipun industri farmasi Indonesia tercatat sebagai yang terbesar di Asia Tenggara dan tahun lalu menduduki peringkat 23 besar di tingkat dunia, presentase impor bahan baku obatnya masih cukup tinggi.

Untuk mengimbanginya, perusahaan farmasi, termasuk Kalbe Farma tentu harus mampu meningkatkan efisiensi dan produktivitas di segala lini. Menurut Dino Bramanto, di sinilah teknologi informasi (TI) berperan.

“Kalbe terus melakukan upaya-upaya tersebut dengan secara berkelanjutan melakukan pembenahan dan implementasi dan roll out ERP (enterprise resource planning) dan aplikasi-aplikasi pendukung dalam business process yang ada di seluruh grup perusahaan. Ini adalah bagian dari IT Blue Print Group Kalbe,” papar pria yang telah menghabiskan lebih dari dua puluh tahun kariernya di bidang teknologi itu.

Dino dan timnya juga berupaya meningkatkan efisiensi dan produktivitas dengan mendukung mobilitas karyawan. Pertumbuhan perusahaan dan jumlah karyawan pada umumnya mengharuskan perusahaan menambah atau memperluas area kerja.

“Guna mengurangi pertambahan space kantor, di tahun 2017 ini kami mencoba menerapkan konsep mobility untuk beberapa divisi sebagai uji coba,” ujar Dino menjawab tantangan tersebut.

Selain itu, teknologi juga diharapkan dapat membantu bisnis memperoleh informasi yang akurat dalam rangka pengambilan keputusan strategis maupun untuk menunjang aktivitas operasional perusahaan. Untuk itu, pengembangan analytics dan business intelligence masih akan tercantum di agenda TI PT Kalbe Farma Tbk.

Tantangan lain yang tak kalah pentingnya bagi Dino Bramanto adalah memanfaatkan peluang dan momentum dari e-commerce. “Tahun lalu, Kalbe Group mulai secara khusus memisahkan bisnis konvensional dan bisnis berbasis digital. Kami melakukan kerjasama dengan pihak-pihak yang kami anggap dapat memberikan nilai tambah dan sinergi dalam hal ini,” jelas Dino.

Pada tahun ini, Kalbe Group akan melakukan relaunching bisnis berbasis digital dengan harapan bisnis digital dapat memberikan kontribusi positif dan meningkatkan bisnis perusahaan. Untuk itu, dari sisi TI, Kalbe juga memisahkan antara tim TI  digital dan nondigital (konvensional).

“Agar kami bisa lebih gesit dan responsif. Istilahnya, kita bergerak dengan cara ‘bimodal‘. Kalbe juga memanfaatkan teknologi cloud dalam mendukung inisiatif ini sehingga kecepatan dan fleksibilitas juga bisa didapat,” tandas pria penyuka fotografi ini.

Tantangan yang lebih umum, menurut Dino, adalah kejahatan maya atau cybercrime. Ia memastikan Kalbe Group akan terus mengembangkan kemampuan untuk mengantisipasi adanya gangguan keamanan yang datang dari dunia maya, terutama karena berbagai gangguan itu yang makin hari makin bervariasi wujudnya.

Debbie Nova (IT Director, Coca-Cola Amatil Indonesia). Foto: Shinta Meliza

Debbie Nova (IT Director, Coca-Cola Amatil Indonesia)

Meningkatkan Efisiensi dan Kolaborasi

Sebagai institusi bisnis yang telah beroperasi selama 25 tahun di Indonesia, Coca-Cola Amatil Indonesia (CCAI) sudah memahami betul mengenai kondisi pasar yang selalu dinamis.

“Kami terus berevolusi dan berkembang secara berkesinambungan dengan kemajuan pasar, selera konsumen, serta kemajuan teknologi,” ungkap Debbie Nova (IT Director Coca-Cola Amatil Indonesia). Hal itu diwujudkan dalam dua hal utama, yaitu pembangunan fasilitas seperti lini produksi dan mega distribution center serta pembangunan sumber daya manusia.

Dalam dua hal tersebut, Debbie melihat peran TI sangat besar. Di sisi fasilitas, misalnya, TI berperan untuk mendorong terciptanya efektivas dan efisiensi. “Utamanya sebagai enabler untuk revenue generator dalam menunjang pertumbuhan bisnis serta mengembangkan efisiensi,” tambah Debbie.

Saat ini, CCAI mengoperasikan 37 lini produksi di 8 pabrik dan 3 mega distribution center (Medan, Cibitung, dan Semarang). Mereka juga melayani 700 ribu outlet pelanggan, termasuk 350 ribu kulkas (display fridge) dalam berbagai model yang tersebar di berbagai titik di Indonesia.

Dengan cakupan yang masif tersebut, peran TI menjadi krusial dalam mendorong bisnis CCAI. Hal ini terlihat dari inisiatif CCAI di tahun ini dalam hal supply chain. “Kami akan melanjutkan memberikan visibility terhadap demand dan supply dari proses supply chain,” ungkap Debbie.

Hal lain yang menjadi fokus CCAI adalah melengkapi tim sales di lapangan dengan informasi yang cepat dan akurat. “Hal ini akan menunjang mereka dalam memberikan layanan kepada pelanggan dan pengambilan keputusan untuk pertumbuhan penjualan,” tambah Debbie.

Untuk menunjang kinerja perusahaan, CCAI pun sangat serius dalam mengembangkan potensi SDM. Yang menjadi salah satu fokus adalah memperluas connectivity yang menghubungkan semua karyawan di perusahaan lewat bantuan teknologi.

Sebagai bagian dari Coca-Cola Amatil Group yang tersebar di enam negara, CCAI melihat komunikasi antarkaryawan menjadi sangat penting. “Kami percaya engagement driven success dan keberagaman pasar, kultur, dan tantangan di Amatil Group merupakan peluang yang ingin kami manfaatkan,” tambah Debbie.

Perluasan connectivity ini dilakukan melalui penggabungan intranet yang tadinya terpisah-pisah per negara. Selain itu, Amatil Group sejak tahun lalu telah mengadopsi Workplace by Facebook—platform sosial khusus korporasi. Melalui platform ini, komunikasi serta kolaborasi bisa diwujudkan dalam media yang lebih luas dan akrab dengan pengguna.

Subhan Novianda (Group IT Head, PT Puninar SaranaRaya).

Subhan Novianda (Group IT Head, PT Puninar Sarana Raya)

Mewujudkan Logistics on Cloud

Kondisi ekonomi global dan beberapa faktor di luar negeri kemungkinan besar masih akan memengaruhi bisnis logistik Indonesia, terutama untuk logistik global. Namun kondisi di dalam negeri pun menghadirkan cukup banyak tantangan bagi pebisnis logistik, seperti Puninar Logistics.

Subhan Novianda (Group IT Head, PT Puninar Sarana Raya) menyebut layanan logistik telah mengalami “komoditasi”. “Maksudnya jasa logistik semakin murah karena semakin banyak perusahaan logistik [bermain di sana],” ujar Subhan. Tak pelak, sektor logistik pun menjadi kawasan red ocean alias sarat kompetisi, bahkan hiperkompetisi.  

Dalam persaingan bisnis, Puninar juga harus berhadapan dengan model-model bisnis baru yang ditawarkan logistics startup. “Di mana mereka melakukan on-demand logistics, seperti Go-Box, Kargoku, dan Kargo.co.id,” jelas Subhan, seraya menambahkan kondisi infrastruktur Indonesia menjadi salah satu dalam daftar tantangan yang harus dihadapi perusahan logistik di nusantara ini.  

Namun syukurlah perekonomian Indonesia terus tumbuh dan memutar roda bisnis logistik. Subhan juga melihat kini makin banyak perusahaan sudah menyadari keutungan mengalihkan logistics operation-nya ke pihak ketiga. “Selain mempermudah internal operation, [outsourcing logistic] juga dapat mengurangi biaya dan memindahkan resiko,” ujar Subhan memaparkan alasan perusahaan memilih layanan outsourcing logistik.

Bagaimana teknologi informasi menjawab tantangan maupun menjemput peluang tersebut? TI, menurut Subhan, membantu bisnis sebagai pendukung aktivitas operasional dan business enabler. Misalnya dengan melakukan otomatisasi proses, mengurangi biaya operasi, dan memudahkan kontrol serta monitoring terhadap aktivitas operasional. “Bahkan TI memungkinkan adanya sebuah layanan baru,” imbuh Subhan.

Namun secara umum, tugas TI Puninar saat ini adalah mendorong logistics business transformation. “Yang ujungnya bisa berupa proses baru yang lebih baik atau layanan baru yang diterima pelanggan,” tandas Subhan.

Salah satu wujud transformasi tersebut adalah merealisasikan “Logistics-on-Cloud”, yakni dengan mengimplementasikan ERP Cloud, Transportation Management System-on Cloud, dan Warehouse Management System-on-Private Cloud.

“Kami juga memindahkan data center ke private cloud,” jelas Subhan. Menurutnya, langkah beralih ke cloud ini akan membantu perusahaan meningkatkan kelincahan (agility), fleksibilitas, dan mengurangi biaya capital expenditure.

Dewi Aryani (Kepala Divisi Teknologi Informasi, PT Asuransi Jasa Indonesia (Persero)).

Dewi Aryani (Kepala Divisi Teknologi Informasi, PT Asuransi Jasa Indonesia (Persero))

Mengatasi Tantangan Integrasi

Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) optimis pertumbuhan premi asuransi umum akan tumbuh sebesar 10-15% pada tahun 2017, seiring optimisme Pemerintah RI yang memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih tinggi, yakni 5-5,4%. Ini tentu menjadi peluang besar bagi perusahan asuransi umum, seperti PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) untuk mengembangkan pasar dan produk.

“Yang menjadi isu hangat adalah dukungan teknologi informasi untuk pencapaian target itu,” ujar Dewi Aryani (Kepala Divisi Teknologi Informasi, Jasindo). Menurut Dewi, hampir semua tender memprasyaratkan adanya aplikasi online untuk proses business-to-business-nya, terutama untuk mempemudah proses administrasi.

Artinya tim TI Jasindo harus menyiapkan infrastruktur, memastikan keandalan sistem, dan mengembangkan aplikasi. “Contohnya, AP1, AP2, dan ASDP sudah minta kami buatkan aplikasi untuk klaim. Bahkan Pegadaian menginginkan mulai dari proses akseptasi, mulai dari permintaan application form atau Surat Permintaan Penutupan Asuransi sudah by system,” jelas Dewi.

Tantangan integrasi sistem juga agaknya akan dihadapi oleh Jasindo. “Misalnya, kalau line of business kendaraan bermotor, maka kami harus siap mengintegrasikan sistem Jasindo dengan leasing dan mungkin buat aplikasinya juga,” imbuh Dewi Aryani.

Aturan skema gross split untuk bagi hasil pada kontrak kerja sama migas atau production sharing contract yang akan diterapkan SKK Migas juga sedikit banyak akan berpengaruh pada Jasindo, yang memiliki pangsa pasar cukup besar di sektor migas.

Lagi-lagi, Dewi dan timnya harus menyiapkan integrasi sistem yang andal ke setiap Kontraktor Kontrak Kerja Sama (K3S) Migas. “Kalau kami nggak bisa fulfil itu, kami nggak bisa dapat project-nya,” tandas Dewi.

Integrasi sistem juga menjadi perhatian utama jika isu strategis berupa pembentukan holding perusahan asuransi umum direalisasikan pada tahun ini. “Terutama di sistem ERP ketika kami harus mengonsolidasikan laporan, harus bisa ditarik semua,” jelas perempuan yang berpengalaman menangani bisnis di kantor cabang ini.

Menghadapi tantangan tersebut, Dewi Aryani bersyukur karena timnya telah melakukan re-engineering terhadap core application Jasindo sehingga lebih modular dan adaptif terhadap kebutuhan multiplatform.

“Kami sudah menggunakan ESB atau enterprise service bus sehingga nggak harus coding lagi ketika harus terhubung dengan platform yang berbeda,” papar Dewi seraya menyebutkan data warehouse dan implementasi CRM sebagai PR-nya di tahun ini.

M. Kuncoro Wibowo (Direktur Komersial & Teknologi Informasi, PT Kereta Api Indonesia/KAI). [Foto: Abdul Aziz/InfoKomputer]

Kuncoro Wibowo (Managing Director Commercial & Information Technology KAI)

TI Jadi Garda Terdepan KAI

Setelah melakukan transformasi teknologi informasi secara besar-besaran sehingga dapat menyuguhkan layanan yang modern dan aktivitas operasional yang efisien, PT Kereta Api Indonesia (KAI) terus menggeliat. Era digital kini menjadi perhatian perusahaan yang telah berusia 71 tahun itu.

“Tantangan kami tahun ini adalah penumpang yang mostly sudah digital. Keinginan mereka untuk mendapatkan tiket secara real time, keinginan mendapatkan layanan yang mungkin tidak pernah terpikirkan oleh kita sebelumnya,” ujar M. Kuncoro Wibowo (Direktur Komersial & Teknologi Informasi, PT KAI) seraya menyebut tantangan digitalisasi itu sebagai sangat luar biasa.

Kendati PT KAI merupakan satu-satunya penyelenggara layanan railway di Indonesia, persaingan dengan moda transportasi lain tetap menjadi tantangan. Gebrakan berupa layanan baru PT KAI yang mungkin belum pernah ada sebelumnya di sektor transportasi adalah door to door service. Kalau selama ini penumpang diantar kereta api dari stasiun ke stasiun, “Nantinya kami akan antar penumpang dari rumah ke rumah!” jelas Kuncoro penuh semangat.

Bagaimana caranya? Di sinilah teknologi informasi memainkan perannya. Melalui aplikasi, selain memesan tiket,  penumpang kereta api dapat melakukan pre order taksi, makanan, porter, hotel/akomodasi, bahkan pre order oleh-oleh. “Jadi istilahnya penumpang tinggal bawa badan,” imbuh Kuncoro.

Entertainment on train juga akan tersedia melalui pemasangan Wi-Fi hotspot di gerbong-gerbong kereta. “Harapan kami, perjalanan jarak jauh penumpang akan menyenangkan, nyaman, santai, dan cerita,” ujarnya.

Mengomandani divisi Komersial, Kuncoro Wibowo juga menghadapi tantangan di angkutan barang. Namun, kali ini PT KAI tidak perlu reinventing the wheel karena best practice dalam membuat sistem untuk angkutan penumpang dapat dijadikan acuan. Langkah yang akan ditempuh Kuncoro antara lain memudahkan tracking barang dengan menggunakan teknologi barcode.

“Kami juga akan membuat aplikasi angkutan barang untuk [pengangkutan] batubara di Sumatra Selatan. Saya rasa ini penting sekali untuk manajemen karena selama ini kami belum dapatkan data host to host,” jelas Kuncoro.  

Ada dua proyek TI yang cukup besar di tahun ini, yaitu membangun data warehouse untuk memenuhi kebutuhan data analytics; dan membangun data center kedua PT KAI yang rencananya akan berlokasi di Surabaya. Dengan dukungan TI, PT KAI berharap dapat merealisasikan target pendapatan 2017 sebesar Rp6,3 triliun dari angkutan barang dan Rp5,2 triliun dari angkutan penumpang.

Achmad Royhan, VP Information Technology, Citilink Indonesia.

Achmad Royhan (Vice President of Information Technology, Citilink)

Melanjutkan Peran Digital

Giatnya Pemerintah RI membangun infrastruktur, termasuk di sektor transportasi udara, membuka peluang tersendiri bagi industri penerbangan.

Hal ini diakui Achmad Royhan (Vice President of Information Technology, Citilink) yang menganggap infrastruktur dan transparansi dari regulator menjadi tantangan sekaligus peluang di tahun 2017 ini. “Bila regulator dan operator bekerjasama memperkecil gap tersebut, akan terjadi persaingan usaha yang kompetitif di industri ini,” ungkap pria lulusan Stikom Surabaya ini.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Royhan menunjuk perlunya setiap stakeholder untuk duduk bersama. “Kita harus terbuka membahas potensi masa depan dari industri airline ini,” tambah Royhan. Setelah itu, semua strategi didokumentasikan dan dilacak perkembangannya. “Tentunya dengan melibatkan CIO, bukan hanya CEO atau COO,” tambah Royhan.

Selain di sisi strategi, Royhan juga melihat tantangan Citilink saat ini adalah melanjutkan strategi digital sebagai core of business. Ada tiga fokus utama Citilink di bidang digital, yaitu channel integration dan mobile-first, digital platform dan product, serta business intelligence (BI).

Tiga fokus ini yang kemudian membentuk prioritas tim TI Citilink di tahun 2017 ini. “Kami akan fokus pada perluasan distribution channel, customer experience, serta penggunaan data pada seluruh elemen kerja di Citilink,” pungkas Royhan.

Sandra Ng (Group Vice President, Practice Group, IDC Asia Pacific), dalam acara VMware CIO Leadership Forum 2017 di Singapura. [Foto: Liana T/InfoKomputer]

SINGAPURA, InfoKomputer – Transformasi digital bukan sekadar mendigitalisasi korporasi. Transformasi digital adalah mengubah cara perusahaan dan organisasi beroperasi, berinteraksi, dan berinovasi. Dan satu-satunya cara untuk menjadi yang terdepan dalam transformasi digital adalah dengan menjadi digital native enterprise.

“Pada dasarnya, digital native adalah seseorang yang lahir dan dibesarkan di era teknologi digital, sehigga ia begitu akrab dengan komputer, internat, dan digital tool. Dan digital native enterprise adalah enterprise yang jajaran eksekutif maupun karyawannya memercayai, berpikir, dan bertindak seperti seorang digital native,” papar Sandra Ng (Group Vice President, Practice Group, IDC Asia Pacific).

Untuk menjadi sebuah digital native enterprise, karakter digital native harus tertanam dalam DNA perusahaan. Dan bertransformasi menjadi digital native enterprise disebut Sandra Ng sebagai cara untuk meraih posisi terdepan di era ekonomi digital. Bagaimana caranya?

Dalam acara CIO Leadership Forum 2017 yang digelar VMware di Singapura tanggal 3 – 4 Mei 2017 lalu, Sandra mengemukakan digital native enterprise framework yang dapat membantu perusahaan mengakselerasi perjalanan transformasi digitalnya.

[BACA: VMware Ingin Patahkan 5 Mitos di Dunia TI]

Framework yang disusun oleh IDC ini mencakup enam elemen. Elemen pertama mengharuskan perusahaan memahami perubahan model bisnis, “Ada perubahan business model dalam setiap digital disruption yang terjadi,” ungkap wanita yang telah berkecimpung selama 20 tahun di bidang konsultasi teknologi ini.

Sampai dengan tahun 2020 nanti, separuh dari top 1000 perusahaan di Asia akan menggantungkan kesuksesan bisnisnya pada kemampuan menciptakan produk, layanan dan pengalaman yang dimampukan (digitally-enabled) dan ditingkatkan secara digital (digitally-enhanced).

Elemen kedua adalah memahami strategi dan visi transformasi digital, serta mengukur tingkat kematangan organisasi dalam menjalankan transformasi digital.

Di bagian ini, Sandra Ng menyarankan para pemimpin TI memerhatikan sepuluh teknologi akselerator transformasi digital: cloud, mobility, big data analytics, social, IoT, next generation security, 3D printing, VR/AR, cognitive AI, dan robotics. Sementara dari sisi kemahiran, ada macam mastery yang sebaiknya dikembangkan: leadership mastery, relationship mastery, information mastery, operational mastery, dan talent mastery.

Elemen ketiga mengharuskan perusahaan memerhatikan struktur organisasi untuk mendukung transformasi digital. Idealnya, the dream team untuk transformasi digital harus mencakup CEO, CTO, CDO, COO, CIO, dan CFO.

Khususnya untuk CIO, Sandra menekankan bahwa perjalanan menuju digital native enterprise membutuhkan pemimpin TI yang mampu berpikir strategis. Strategic CIO tidak hanya mampu melakukan modernisasi terhadap departemen maupun lingkungan TI perusahaan, tetapi juga dapat menjadi penasihat bagi jajaran manajemen, khususnya tentang teknologi-teknologi terkini.

Inovasi adalah elemen penting dalam transformasi digital dan untuk menjadi digital native enterprise, perusahaan harus mampu menciptakan portofolio inovasi yang berimbang. Di era digital ini, inovasi seringkali diasosiasikan dengan disruptive innovation padahal ini yang paling susah diimplementasikan. Oleh karena itu Sandra menyarankan perusahaan untuk tidak hanya fokus pada inovasi disruptif.

Elemen keempat berbunyi perusahaan harus dapat menyeimbangkan antara inovasi yang bersifat incremental (optimalisasi atau peningkatan produk dan layanan yang sudah ada, dan pengalaman pelanggan); adaptif (inovasi untuk merespon perubahan yang datang dari pelanggan atau pasar); dan disruptif (inovasi untuk mengembangkan produk, layanan, dan pengalaman baru).

Mengenai elemen kelima, Sandra Ng mengatakan bahwa pengembangan produk atau product development juga harus dibenahi ketika sebuah perusahaan bercita-cita menjadi perusahaan berjiwa digital native. Dengan atribut yang berbeda antara pengembangan produk tradisional dan digital, proses tersebut akan sangat sangat berbeda.

Satu contoh saja, pengembangan produk tradisional mempertimbangkan fitur, harga dan ketersediaan sebagai fokus kompetitif. Sementara untuk produk digital, value untuk pelanggan menjadi lebih penting daripada tiga hal tersebut.

Elemen keenam adalah inisiatif dan storyboard bagi para CIO dalam memimpin transformasi digital. Ada lima langkah dalam storyboard tersebut. Dua langkah pertama sangat penting diperhatikan oleh para pemimpin TI: membuktikan departemen TI sebagai organisasi yang kredibel dalam mengelola TI dan menunjukkan kontribusi nyata departemen TI pada kinerja dan pertumbuhan bisnis

TERBARU

Cisco menggandeng organisasi kepolisian internasional terbesar di dunia INTERPOL untuk berbagi intelijen ancaman atau threat intelligence