Tags Posts tagged with "CIO"

CIO

Acara iCIO Exchange yang diadakan iCIO Community untuk mendengarkan resep sukses transformasi digital Telkom Group.

Transformasi digital adalah sebuah keniscayaan bagi perusahaan di era modern ini. Pasalnya, tidak ada satu sektor bisnis pun yang saat ini bisa dilepaskan dari peran penting teknologi informasi dan digital.

Namun, tidak semua perusahaan sudah mengerti dan mampu merencanakan strategi serta menerapkan eksekusi yang jitu dalam proses transformasi digital. Sehingga akan lebih baik bagi mereka untuk belajar dan menimba ilmu dari pemimpin teknologi lainnya yang lebih berpengalaman.

Salah satu dari perusahaan lokal yang terbukti sukses menggelar transformasi digital adalah PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk. atau Telkom.

Keberhasilan transformasi digital di Telkom ditandai dengan peningkatan pesat pada bisnis data, internet, dan TI selama tahun 2016 sebesar 31,5% dibandingkan 2015. Pemasukan dari bisnis ini mencapai Rp 42,99 triliun serta memberi kontribusi sebesar 37,0% dari total pendapatan Telkom tahun 2016.

Kontribusi pendapatan Telkom sepanjang 2016 sendiri didukung bisnis voice dan SMS seluler sebesar Rp54,48 triliun, lalu diikuti bisnis data, internet, & IT service sebesar Rp42,99 triliun, fixed line Rp7,54 triliun, interkoneksi Rp4,15 triliun, serta network and other telco services sebesar Rp7,17 triliun.

“Kesuksesan transformasi digital di Telkom bisa dicapai karena kami melihat inisiatif ini tidak semata-mata tentang teknologi, namun yang lebih fundamental adalah bagaimana kami juga melakukan transformasi proses bisnis, budaya kerja, fokus pada berbagai aktivitas yang benar-benar mampu memberikan nilai tambah serta komitmen untuk menghadirkan pengalaman terbaik bagi pelanggan,” papar Abdus Somad Arief (CTO dan CIO, Telkom Group).

Resep sukses transformasi digital di Telkom itulah yang diceritakan Abdus Somad kepada para CIO dan pemimpin teknologi yang tergabung dalam iCIO Community. Melalui program iCIO Exchange, para anggota iCIO Community bisa mendengar dan mendiskusikan berbagai tantangan dan kesuksesan strategi dari berbagai organisasi dalam menjawab tuntutan bisnis.

Melalui iCIO Exchange ini diharapkan para anggota iCIO Community dapat memperoleh referensi dan best practice terkait transformasi digital yang menuntut perubahan paradigma menyeluruh dari sebuah organisasi. Bukan semata melakukan digitalisasi proses bisnis, melainkan juga perubahan budaya kerja yang lebih fokus pada inisiatif dan aktivitas yang menghadirkan nilai tambah sehingga bisa menghadirkan pengalaman pelanggan yang terbaik.

“Atas nama iCIO Community, saya ingin menyampaikan penghargaan kepada Telkom karena telah berkenan berbagi pengalaman terkait transformasi digital yang sedang dan terus dilakukannya. Perjalanan dan pengalaman transformasi digital Telkom untuk mendorong perusahaan merealisasikan tujuan bisnisnya dapat menjadi benchmark bagi para CIO dalam menghadapi tantangan yang serupa,” ujar Agus Wicaksono (Chairman, iCIO Community).

Ingin mendengarkan pengalaman para CIO dan pemimpin teknologi dalam mengelola TI di perusahaannya? InfoKomputer secara rutin menggelar acara CIO Forum dan CIO Sharing yang mempertemukan para pemimpin teknologi untuk berdiskusi terkait topik-topik IT enterprise terhangat. Jika Anda tertarik, silakan kirimkan e-mail ke alamat: redaksi@infokomputer.com.

Marcy Klevorn (VP & CIO, Ford).

Pernahkah Anda membayangkan apa jadinya kalau produsen mobil ternama Ford mencoba memasuki layanan cloud dan robotika?

Jawabannya ada di kepala Chief of Information Officer (CIO) sekaligus Wakil Presiden Ford, Marcy Klevorn. Wanita berusia 57 tahun ini yakin Ford akan bertahan dengan masuk ke dua sektor itu, tanpa melupakan mobil sebagai produk utamanya. “Teknologi informasi mengantar Ford kepada business values,” kata Marcy.

Keputusan Marcy tentu saja didasarkan atas pertimbangan matang, setidaknya menyadari kenyataan pahit, bahwa persaingan di industri otomotif saat ini tidaklah mudah. Ia juga memahami keruhnya pasar mobil yang disebabkan oleh kemerosotan ekonomi global sejak tahun 2000, hingga mencapai puncaknya pada 2008-2010.

Krisis industri otomotif adalah bagian dari lesunya situasi keuangan global. Krisis ini menghantam produsen mobil di Eropa dan Asia. Namun yang sangat terpukul adalah produsen Amerika Serikat (AS) dan Kanada. Industri otomotif juga diperlemah oleh naiknya harga bahan bakar minyak, yang terkait dengan krisis energi 2003-2008. Hal tersebut berdampak pada turunnya angka penjualan mobil jenis SUV (sport utility vehicles) dan truk pickup yang haus bahan bakar.

Masalahnya, General Motors, Chrysler, termasuk Ford sangat sedikit membuat mobil-mobil berharga murah sekaligus hemat bahan bakar. Akhirnya Pemerintah AS menggelontorkan dana talangan (bailout) bagi beberapa perusahaan mobil AS, namun tidak untuk Ford. Ford sendiri menjatuhkan keputusannya dengan menerima dana pinjaman (loan) dari Pemerintah AS untuk memulihkan dirinya.

Bertahannya Ford dari guncangan, bagi Marcy, sesungguhnya bertumpu pada keberaniannya dalam mengubah budaya dan cara pandang perusahaan, termasuk tentu saja para karyawannya. Baginya itu yang teramat penting, bukan terobosan teknologinya.

CIO Non-Programer

Walaupun menjabat sebagai CIO sejak Januari 2015, latar belakang pendidikan Marcy bukanlah sistem informasi. Marcy lulus dari Universitas Michigan di bidang administrasi bisnis dan memulai berkiprah di perusahaan telekomunikasi AS, AT&T sebagai tenaga penjualan. Uniknya, selama bekerja di sana ia kerap bersentuhan dengan Ford. Maklumlah, Ford adalah salah satu konsumen AT&T.

Marcy sebenarnya memiliki ketertarikan amat kuat terhadap teknologi komputer. Itulah sebabnya ketika kuliah, ia mengambil kursus ilmu komputer dan meminati bidang pemrograman. Ketika bekerja di AT&T, ia juga mengikuti kursus singkat telekomunikasi selama enam bulan. Selama belajar itu, ia justru merasa bahwa bidang pemasaran kurang menantang jika dibandingkan cara mencapai solusi bisnis melalui penerapan teknologi tepat guna.

Tatkala “ditarik” oleh Ford pada tahun 1983, ia ditempatkan di divisi layanan telekomunikasi. Kemudian pada 2003-2006, Marcy bertanggung jawab menangani soal manajemen informasi data untuk kepentingan manajerial dan kepemimpinan, manajemen perputaran produk, serta divisi infrastruktur dan strategi untuk lingkup AS dan Eropa. Pada tahun 2006 itulah, Marcy berperan besar dalam perubahan infrastruktur manajemen teknologi informasi Ford.

Marcy diangkat sebagai Direktur TI Ford Eropa pada 2011. Baru pada tahun 2015, Marcy diangkat sebagai CIO menggantikan Nick Smither. Dialah CIO wanita pertama di Ford yang menakhodai lebih dari 11 ribu karyawan. Sebagai catatan, dari hasil penelitian Korn/Ferry International seperti dikutip dari Wall Street Journal, hanya ada sembilan belas persen wanita yang menduduki posisi CIO di perusahaan-perusahaan kelas wahid di AS.

Walaupun awalnya Marcy merasa agak gamang mengurusi kompleksitas teknologi informasi, namun ia cepat mempelajari situasi dan beradaptasi. Sampai akhirnya, ia memahami bahwa sesungguhnya teknologi informasi adalah ilmu tentang relasi antarmanusia, membangun kepercayaan, dan mengutamakan mencari kesepahaman, hingga berubah menjadi pencarian solusi.

Cara berpikir seperti itu ia ramu dari pengalamannya sebagai staf pemasaran di AT&T, tidak peduli apakah masalah yang dihadapi kecil atau besar.

Kolaborasi Bersama Pivotal

Langkah baru Ford ke bisnis cloud dibuktikan dengan berkolaborasi dengan Pivotal pada Juni 2016, sekaligus menyuntikkan dana segar senilai US$182,2 juta. Dengan dana sebesar itu, Marcy ditempatkan sebagai salah satu anggota Dewan Komisaris Pivotal, sekaligus menginisiasi pendirian laboratorium penelitian baru di AS, seperti di Dearborn, Detroit, dan Ann Arbot, termasuk di luar negeri seperti di Inggris.

Pivotal sendiri adalah perusahaan asal AS yang didirikan oleh Paul Maritz dan kawan-kawan. Pivotal mengembangkan CloudFoundry, sebuah peranti lunak platform as a service (PaaS) open source yang menyediakan layanan cloud, developer framework, dan layanan aplikasi.

Pivotal yang berdiri pada tahun 1990-an mengembangkan metodologi baru yang turut memengaruhi budaya pengembangan peranti lunak bagi perusahaan seperti Google, Twitter, dan eBay. Pivotal mengklaim “mengubah arah” kebijakan perusahaan-perusahaan besar dunia untuk bermigrasi ke teknologi cloud, seperti Allstate, Comcast, Humana, Mercedes-Benz, General Electric, Lockheed-Martin, Bakrie Telecom, dan Ford.

Di BMW misalnya, Pivotal dibayar untuk membuat analisis big data dengan tujuan menghasilkan prediksi tentang rentang waktu perawatan mobil produksi perusahaan mobil asal Jerman itu. Berkat Pivotal pula, Mercedes-Benz berhasil mengembangkan aplikasi yang bisa saling menghubungkan antarmobil kelas mewah buatan perusahaan itu.

Aplikasi Cerdas FordPass

Kepada www.cio.com, Marcy mengatakan, di Ford ia sedang membangun bimodal of information technology. Ini merupakan sebuah konsep yang menangani dua model distribusi teknologi informasi yang terpisah. Satu model berfokus pada stabilitas dan satu model lagi berfokus pada kelincahan (agility).

Salah satu penerapan konkret Ford dalam memberikan nilai tambah pada perusahaan adalah dengan merilis FordPass. Ini merupakan sebuah aplikasi mobile, yang tersedia di Android dan iOS, bagi pengguna mobil buatan Ford dan non-Ford.

Diluncurkan pada April 2016, dengan berkolaborasi bersama Pivotal, FordPass memungkinkan pengguna mobil melihat peta tempat parkir yang tersedia, lengkap dengan informasi tarif, sistem reservasi, dan pembayaran otomatis. Kemudian, dari jarak jauh, pengguna dapat menghidupkan, mematikan, atau mengunci mobil. Aplikasi ini juga menyediakan fitur car-sharing. Tujuannya, meminjamkan mobil Anda kepada pengguna lain. Ya, mirip seperti Grab dan Uber saat ini.

Ilustrasi robot Ford.

Selain di Pivotal, Ford juga berinvestasi dalam pengembangan teknologi robotika, seperti iRobot Ava 500, yang terlihat dalam satu adegan wawancara dalam film Snowden (2016). Robot ini difungsikan khusus untuk melakukan komunikasi jarak jauh secara audio visual. Ketika diperintah dari jarak jauh, robot akan bergerak menemui orang yang ingin diajak berbincang.

Misalnya, Anda adalah seorang manajer yang sedang berada di luar kota, tetapi Anda perlu “bertemu” dengan karyawan Anda yang sedang berada di kantin kantor. Setelah Anda memilih lokasi kantin yang dimaksud pada ponsel Anda, robot akan menghampiri karyawan yang dimaksud dan menampilkan wajah Anda di layar monitor.

Di benak Marcy, versi iRobot Ava berikutnya akan memegang peranan penting untuk meningkatkan pengalaman pelanggan (customer experiences) dan para calon pembeli mobil Ford. Kelak Anda dapat melihat mobil keluaran terbaru Ford di dealer secara langsung dari rumah dengan mengendalikan iRobot. Atau lebih hebat lagi, secara virtual Anda bisa menyaksikan proses pembuatan mobil itu di pabriknya, layaknya Anda berjalan-jalan langsung di sana.

Marcy Klevorn membuktikan kepada dunia bahwa meskipun memiliki latar belakang ilmu nonteknis, ia berhasil menyuntikkan teknologi di Ford. Bagi Marcy, kunci pemberdayaan teknologi informasi perusahaan adalah melakukan komunikasi secara mendalam dengan para karyawan divisi TI. Tujuannya, mengetahui secara pasti bahwa memang merekalah orang dengan kompetensi untuk menjalankan tugas-tugasnya.

Marcy menyebut itu sebagai tindakan komunikasi yang intensif, sambil menyimpulkan bahwa TI sejatinya adalah sebuah people business.

Video demo kolaborasi antara Ford Robot dan DJ Yoda:

Danny Natalies (IT Head, Atma Jaya). [Foto: Abdul Aziz/InfoKomputer]

Ketika tawaran tersebut datang, Danny Natalies tak kuasa menolak. Meski sedang meniti karier di salah satu perusahaan ternama, Danny memutuskan untuk menerima tawaran kembali ke almamaternya.

Dosen dan Rektor Unika Atma Jaya pada saat itu secara khusus memanggil Danny kembali ke kampus untuk memperbaiki dan implementasi sistem TI di Atma Jaya. “Waktu kuliah, kebetulan saya sudah membantu sebagai asisten mahasiswa di kampus,” kenang Danny.

Sempat ada keraguan di awal, namun Danny memutuskan untuk menerima tawaran tersebut. Ia merasa pengalamannya membantu beberapa perusahaan melakukan modernisasi sistem TI akan menjadi bekal berharga untuk membantu almamaternya.

Akan tetapi, sejak awal Danny wanti-wanti kepada manajemen untuk tidak berharap banyak di awal periode kerjanya. “Karena saya harus mempelajari tiap domain dan proses di dalam lingkungan kerja ini,” Danny mengungkapkan alasannya.

Apalagi tanggung jawab Danny dalam hal TI menyangkut seluruh unit, proses dan banyak orang. “Tim TI kami melayani seluruh unit di Atma Jaya dan beberapa fungsi bahkan harus diberikan pelayanan hingga lintas unit bisnis, baik universitas, rumah sakit, dan kantor yayasan itu sendiri,” jelas Danny.

Lokasinya pun saat ini tersebar di tiga lokasi yang berbeda yaitu Semanggi (kampus utama), Pluit (Fakultas Kedokteran dan Rumah Sakit) dan BSD, Serpong (kampus baru Atma Jaya).

Menyusun Quick Win

Tahun pertama sebagai IT Head Atma Jaya pun Danny gunakan untuk melihat permasalahan TI yang ada di organisasi. Ternyata permasalahan yang muncul cukup banyak, mulai dari infrastruktur jaringan, sistem akademik, HR, finansial, sampai digital library.

Melihat hal itu, Danny pun menetapkan prioritas. Sistem pertama yang diperbaiki adalah sistem akademik. “Karena sistem ini menyentuh banyak orang,” sebutnya. Pembenahan sistem akademik akan menjadi quick win yang diharapkan dapat membuat tiap orang di organisasi percaya akan keefektifan pembenahan di sistem TI.

Sistem akademik Atma Jaya kala itu memang banyak masalah. Saat awal semester, misalnya, mahasiswa akan kesulitan mengisi KRS (Kartu Rencana Studi) karena sistem sering down. Sistem akademik tersebut juga dibangun menggunakan open source yang kini sudah ditinggalkan pengguna. Belum lagi platform database yang digunakan sudah tertinggal jauh versinya dan sudah tidak ada dukungan layanan purnajual dari prinsipal pemilik produk.

Danny dan tim pun mulai membenahi satu per satu masalah tersebut. Untuk mengetahui jumlah concurrent user sesungguhnya, Danny menggunakan pendekatan nonteknis. “Saya gunakan sistem antrean untuk mendistribusikan beban,” kata dia.

Dari pendekatan ini, didapat jumlah concurrent user yang kemudian digunakan untuk memprediksi kebutuhan dari sisi hardware. Danny melihat, saat itu solusi tercepat meningkatkan kapasitas transaksi adalah dengan meningkatkan computing power.

Sedangkan untuk pembenahan software, Atma Jaya saat ini memperbarui kembali sistem akademik ke solusi yang sudah jadi, yaitu Oracle. “Inisiasinya akhir tahun lalu [2015. red] dan bulan Juni kemarin [2016. red] sudah berjalan,” ungkap Danny.

Beberapa persoalan memang muncul, namun transformasi besar yang dilakukan Atma Jaya itu terbilang berjalan mulus. Tidak heran jika kini kepercayaan manajemen terhadap tim IT Atma Jaya membumbung tinggi. Tahun ini, ada tujuh inisiatif di bidang TI yang harus diselesaikan Danny dan tim. “Saya sampai turun berat badan 23 kilogram,” ucap Danny sambil tertawa lebar.

Menghemat Pengeluaran

Seluruh pembenahan ini tentu saja membutuhkan investasi. Namun mengingat Atma Jaya adalah institusi di bawah naungan keuskupan, Danny merasa memiliki tanggung jawab moral untuk berhati-hati saat melakukan investasi TI. Itulah sebabnya mengapa untuk hardware, ia memilih infrastruktur TI jenis hyperconverged. “Pertimbangan utama adalah kebutuhan kami terpenuhi, harga masuk akal, serta layanan purna jual yang jelas,” ungkap Danny.

Hyperconverged adalah jenis infrastruktur TI yang telah mengintegrasikan server, storage, dan network ke dalam satu kesatuan. Karena datang dalam satu boks siap pakai, hyperconverged bisa langsung digunakan perusahaan tanpa harus melakukan pengujian kompatibilitas seperti ketika perusahaan menggunakan infrastruktur tradisional.

“Jika saya bisa punya satu gadget yang bisa buat telekomunikasi, bekerja, dan menonton film, buat apa saya beli telepon sendiri, komputer sendiri, atau home theater sendiri?” Danny memberi analogi.

Hyperconverged juga membuat kebutuhan SDM lebih sederhana. “Sebelumnya saya harus cari satu orang yang mengerti server, satu orang yang mengerti storage, satu orang yang mengerti network,” cerita Danny menggambarkan kerumitan di infrastruktur tradisional. Dengan hyperconverged, kebutuhan SDM praktis cuma satu. “Orang ini memang harus serba-bisa, namun tidak perlu sedalam orang-orang spesialis ini,” tukasnya.

Yang tak kalah penting, hyperconverged juga sangat efisien dari sisi harga. Danny menggambarkan, pemilihan hyperconverged dapat menekan biaya hingga 50 – 60% dibanding mengadopsi teknologi infrastruktur konvensional. Selain itu, seluruh lisensi penggunaan teknologi di dalam hyperconverged sudah disatukan, sehingga tidak perlu lagi membeli satu per satu.

Meski lebih terjangkau, solusi hyperconverged tetap menawarkan performa yang dibutuhkan. “Kami sudah melakukan PoC (Proof of Concept. red) dengan case study yang menyerupai kondisi sebenarnya,” cerita Danny.

Contohnya adalah bagaimana sistem harus bisa melayani 3.000 concurrent transaction atau bagaimana sistem memproses transaksi penjurnalan 10 ribu per hari dengan waktu tunggu entry tak lebih dari 2 detik. “Dan hasilnya tidak ada drop performance-nya,” ujar Danny.

“Tim TI kami melayani seluruh unit di Atma Jaya dan beberapa fungsi bahkan harus diberikan pelayanan hingga lintas unit bisnis, baik universitas, rumah sakit, dan kantor yayasan itu sendiri,” jelas Danny.

Antara HC dan Cloud

Untuk solusi hyperconverged ini, Danny memilih produk dari Dell EMC VXRail. “Kami melakukan beauty contest ke empat produk dan akhirnya kami memilih VXRail,” ungkapnya. Salah satu alasannya adalah disertakannya vSphere ke dalam paket. “Padahal vSphere itu ‘kan lumayan mahal,” kata Danny. Sebagai informasi, vSphere adalah aplikasi milik VMware yang berfungsi mengelola virtual machine dan biasanya dibandrol dengan harga US$3500 per CPU.

Pertimbangan lain adalah VXRail merupakan produk dari perusahaan sebesar EMC (yang kini menjadi bagian dari Dell). “Sebagai customer, saya merasa lebih secure dengan nama-nama besar ini,” tambah Danny. Perusahaan sebesar Dell dan EMC pasti akan memiliki komitmen penuh terhadap produknya, termasuk memberikan layanan purna jual yang lebih terjamin.

Setelah merasakan keunggulan hyperconverged, Danny mengaku akan terus mengadopsi solusi ini ke depannya. “Apalagi hyperconverged mendukung thin provisioning, jadi ketika ingin menambah compute power, misalnya, ke depannya bisa mudah ditambahkan,” kata Danny. Sistem hyperconverged ini akan dipadukan dengan cloud computing, seperti rencana Danny menempatkan DRC Atma Jaya di cloud.

Setelah selesai membenahi sistem akademik dan ERP, sederet tugas besar sudah berjajar di hadapan Danny dan tim IT-nya. Contohnya implementasi smart identity management, workflow automation, sampai integrasi tiga kampus.

Namun Danny memiliki strategi tersendiri untuk menjawab sederet tantangan ini. “Kami selalu libatkan business user sejak awal rencana kegiatan tersebut diinisiasi,” tuturnya. Tujuannya untuk meningkatkan rasa memiliki business user terhadap project tersebut, yang berujung pada kesuksesan implementasi.

Mewujudkan Data Center Modern

Kisah Atma Jaya yang mengadopsi hyperconverged ternyata selaras dengan tren di dunia belakangan ini. Lembaga riset Gartner memperkirakan, pasar hyperconverged akan meningkat 79% dan mencapai angka US$2 miliar di tahun 2016 ini.

VXRail sebagai solusi milik EMC praktis memiliki posisi strategis di segmen ini. Pasalnya hyperconverged sangat erat kaitannya dengan virtualisasi, sementara VMware adalah sister company dari EMC dan sama-sama berada di naungan Dell. “Kami memiliki tim bersama untuk pengembangan dan pengujian yang menjamin solusi VXRail fully compatible dengan aplikasi VMware,” ungkap Herry Yanto (Senior Sytems Engineer, EMC Indonesia).

Solusi VXRail juga dirancang untuk memudahkan implementasi hybrid cloud. EMC telah menyertakan software khusus yang sudah dibundel ke dalam solusi VXRail. “Software ini memungkinkan hyperconvered ini ‘berbicara’ langsung ke cloud,” tambah Herry. Artinya, perusahaan bisa dengan mudah memindahkan sebagian beban dari hyperconverged ke cloud.

Dan hal ini tidak terbatas pada solusi vCloud Air milik VMware. “Bisa juga untuk AWS, Microsoft Azure, atau Google Cloud,” pungkasnya.

Kharim Siregar (IT Director, BTPN).

Pasar tengah menanti kehadiran generasi millennial, satu generasi yang sangat fasih teknologi dan memiliki sederet karakter unik. Dengan jumlahnya yang diprediksi akan mendominasi populasi penduduk usia produktif di Indonesia dalam waktu 5 – 10 tahun lagi, organisasi bisnis tentu tak bisa menutup mata terhadap kehadiran mereka.

PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional, Tbk. (BTPN) melihat fenomena tersebut sebagai bagian dari dampak teknologi digital di seluruh sendi kehidupan. Teknologi digital mengubah dunia dengan sangat cepat dan membuat hidup lebih mudah.

Dulu kita harus mengingat nomor telpon agar bisa berkomunikasi dengan orang lain. Sekarang ada aplikasi chatting yang dapat membantu kita berkomunikasi tanpa harus mengingat nomor telpon. Saat ini ada aneka aplikasi transportasi yang memudahkan kita memesan moda transportasi maupun mencari alamat. “Ini norma baru, serba simpel,” komentar Kharim Siregar (IT Director, BTPN).

Mengakomodasi berbagai perubahan akibat teknologi digital, termasuk kehadiran generasi millennial yang identik dengan generasi melek teknologi, BTPN melakukan berbagai inovasi di sisi layanan perbankan maupun organisasi.

“Salah satunya dengan mengembangkan platform life finance yang cerdas dan mampu menjawab kebutuhan generasi saat ini yang menginginkan cara lebih mudah dan simpel untuk mengelola keuangan dan kehidupan mereka. Aplikasi tersebut adalah Jenius,” papar Kharim.

[BACA: BTPN Luncurkan Aplikasi Jenius, Bisa Buka Rekening Bank dari Smartphone]

Dewasa ini, layanan digital banking telah menjadi bagian dalam bisnis keuangan dan teknologi memainkan peran penting di dalamnya. “Kami berusaha mengadaptasi dan mengembangakan teknologi digital mobile—Android dan iOS—terkini pada Jenius, agar proses digitalisasi perbakan dapat dimulai dari sejak awal,” jelasnya.

Aplikasi Jenius dari BTPN memungkinkan nasabah membuka dan memiliki rekening bank tanpa harus datang ke kantor bank.

Melalui aplikasi yang ditujukan untuk konsumen segmen urban dan melek teknologi (consumer class) ini, pengguna dapat membuka rekening, mengatur limit kartu, blokir dan buka blokir kartu, serta manajemen keuangan secara swalayan dengan menggunakan smartphone berbasis Android maupun iOS.

Layanan berbasis digital mensyaratkan kecepatan. “Organisasi teknologi informasi (TI) pun dituntut harus memiliki kecepatan. Untuk itu organisasi TI di BTPN mengadopsi pendekatan dalam pengembangan aplikasi dengan konsep agile dan scrum dalam layanan digitalnya,” jelas Kharim.

Konsep agile dan scrum dijalankan dengan membentuk tim kecil lintas bagian yang independen sehingga tim pengembang dan proses menjadi lebih lincah. Selain itu, kecepatan pengembangan produk perbankan ini juga menuntut perubahan pola pikir atau mindset yang fundamental dalam organisasi TI.

Secara keseluruhan, BTPN juga secara perlahan menyesuaikan budaya perusahaan dengan perkembangan yang terjadi di dunia kerja, khususnya di industri perbankan. “Transformasi perusahaan dilakukan seiring dengan perkembangan usaha dan tantangan industri, misalnya dengan perubahan struktur organisasi dan cara kerja di masing-masing unit bisnis,” tandas Kharim.

Para pemenang iCIO Awards dan juri (ki-ka): Herry Abdul Azis (Staf Ahli Bidang Teknologi Kemenkominfo), Hasnul Suhaimi (Ex-CEO XL Axiata), Iwan Djuniardi (Direktur Transformasi Teknologi Informasi dan Komunikasi, Direktorat Jenderal Pajak, Kementerian Keuangan), Rita Mas’Oen (Direktur Operasional & Teknologi Informasi, PT Bank CIMB Niaga Tbk.), Kharim Indra Gupta Siregar (Direktur Teknologi Informasi, PT BTPN), Agus Wicaksono (Chairman, iCIO Community), dan Harry Surjanto (Founder dan Penasihat, iCIO Community).

Di era transformasi digital, posisi chief information officer (CIO) memiliki peran yang sentral dalam pengambilan keputusan dan menentukan arah kebijakan perusahaan. CIO adalah jabatan untuk kepala teknologi informasi dalam sebuah perusahaan dan berperan dalam menyediakan data dan insight dengan memanfaatkan teknologi untuk memberi sumbangsih kepada para pengembangan bisnis perusahaan.

iCIO Community, perkumpulan chief information officer (CIO) dan eksekutif senior di bidang teknologi informasi dan komunikasi (TIK) organisasi di Indonesia, mengumumkan pemenang iCIO Awards 2017. iCIO Awards merupakan program penghargaan kepada para CIO dan staf senior TI yang telah terbukti mampu menghadirkan value terbaik TIK untuk mendorong kinerja organisasi.

Gelar iCIO Awards 2017 berhasil disabet oleh Iwan Djuniardi (Direktur Transformasi Teknologi Informasi dan Komunikasi, Direktorat Jenderal Pajak, Kementerian Keuangan) sebagai The Most Innovative CIO, Rita Mas’Oen (Direktur Operasional & Teknologi Informasi, PT Bank CIMB Niaga Tbk) sebagai The Most Influential CIO, dan Kharim Indra Gupta Siregar (Direktur Teknologi Informasi, PT BTPN) sebagai The Most Intelligent CIO.

“iCIO Community dengan bangga memberikan anugerah iCIO Awards 2017 kepada ketiga CIO. Mereka dinilai dewan juri sebagai CIO yang berhasil memadukan knowledge, skills, dan leadership dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sehingga terbukti berhasil menghadirkan value terbaik TI untuk menunjang kinerja perusahaan,” ujar Agus Wicaksono (Chairman of iCIO Community).

Sebagai salah satu CIO terbaik tahun 2017 versi iCIO Community, Iwan Djuniardi mengatakan bahwa penghargaan ini akan memacu kinerja Dirjen Pajak (DJP) di masa depan. Solusi big data dan machine learning ia anggap akan mampu meningkatkan kinerja dan pelayanan DJP, termasuk berkontribusi meningkatkan pendapatan pajak negara.

“Saya tidak menyangka ada perwakilan pemerintah yang memenangi penghargaan ini dan bisa bersaing dengan instansi swasta. Ini adalah anugerah yang luar biasa,” ujarnya.

Sedangkan Rita Mas’Oen mengungkapkan rasa syukurnya telah terpilih sebagai pemenang penghargaan ini. Rita pun mengaku bahwa ia dan timnya telah melakukan berbagai perombakan dalam bidang TI di CIMB Niaga, terutama sejak merger di antara kedua bank itu (Bank CIMB asal Malaysia dan Bank Niaga asal Indonesia).

Proses Penjurian

Para pemenang iCIO Awards 2017 dipilih oleh dewan juri yang terdiri dari: Hasnul Suhaimi (Executive Coach dan Mantan CEO XL Axiata); Hendra Godjali (Managing Partner-Advisory Service, Ernst & Young Indonesia), Prihadiyanto (Managing Director, Accenture Indonesia), Arif Budisusilo (Pemimpin Redaksi, Bisnis Indonesia), dan Richardus Eko Indrajit (Kepala Asosiasi Perguruan Tinggi Informatika dan Komputer/APTIKOM).

Dalam proses penjurian, ketiga pemenang sudah melewati empat fase yaitu fase pertama screening application, fase kedua ranking, fase ketiga interview, dan fase terakhir adalah keputusan dewan juri.

Hasnul Suhaimi (Executive Coach dan Ketua Dewan Juri iCIO Awards 2017) mengumumkan pemenang iCIO Awards di panggung CTI IT Infrastructure Summit 2017.

Hasnul Suhaimi (Executive Coach dan Ketua Dewan Juri iCIO Awards 2017) mengatakan pertumbuhan teknologi sangat cepat berubah dan CIO memegang peran penting dalam perusahaan yang dulunya berada di back-end menjadi front-end.

“Posisi CIO berada di depan dan merekan harus membuat inovasi yang bisa berdampak kepada keuntungan perusahaan,” katanya dalam pengumuman pemenang iCIO Awards 2017 di tengah konferensi CTI IT Infrastructure Summit 2017 di Ballroom Ritz-Carlton Pacific Place, Jakarta, Rabu (8/3).

Tidak ketinggalan, Rudiantara (Menteri Komunikasi dan Informatika RI) ikut mengapresiasi ajang iCIO Awards 2017.

“Penghargaan ini merupakan bentuk dedikasi dan inovasi untuk bapak dan ibu (para pememang iCIO Awards 2017). Para pemenang juga bisa menjadi inspirasi dan IT leader untuk kemajuan perusahaan dan bangsa. Selamat!” ujarnya.

Mark Ridley (Programme Lead, Centre for Innovation at Accenture).

Kita kerap mendengar cerita seseorang yang dicibir setelah mengatakan sesuatu yang melawan kelaziman. Ia dinilai tak masuk akal, bahkan mengada-ada. Itu pernah terjadi pada Mark Ridley, ketika ia menjabat sebagai CIO Reed.co.uk, situs lowongan kerja nomor satu di Inggris. Kini ia berlabuh sebagai Programme Lead di Centre for Innovation di Accenture dan tetap bersikukuh bahwa keahlian berkomunikasi memegang peran utama di dalam bisnis, namun sayangnya kerap kali dilupakan.

Bicara soal komunikasi, Ridley memang ahlinya. Tahun 2011, Ridley mengatakan memberikan usul nyeleneh kepada dewan direksi perusahaan itu: sebaiknya divisi TI dihilangkan saja dari struktur perusahaan Reed Global. Sebagai gantinya, semua aplikasi—mulai dari HR, Finance, sampai CRM—dipindahkan ke cloud.

Ridley punya alasan tersendiri mengapa ia mengusulkan hal itu. Ridley berpikir, dengan bermigrasi sepenuhnya ke cloud, maka kinerja perusahaan akan lebih praktis dan efisien. Karyawan dan staf manajemen cukup mengakses sistem teknologi melalui peramban dengan perangkat mobile-nya. Meski dengan nada ragu, pihak manajemen akhirnya menyetujui usul Ridley tersebut.

Satu demi satu, Ridley melakukan migrasi ke cloud. Setelah sukses pindah ke cloud, tanggung jawab pengelolaan aplikasi itu diserahkan kepada unit yang menggunakannya. Ridley awalnya mengira resistensi karyawan atas perubahan ini akan besar. Namun pada kenyataannya, perubahan ini justru diterima dengan hangat oleh karyawan.

Hal ini tidak lepas dari usia rata-rata karyawan Reed yang berkisar di angka 27 tahun. “Mereka berada di sebuah usia yang lebih sadar teknologi peranti bergerak dan punya rasa ingin tahu teknologi-teknologi baru,” ungkap Ridley.

Dengan sistem baru ini, perusahaan juga dapat meningkatkan produktivitas karyawan. “Reed bisa mengimplementasikan aplikasi baru untuk karyawan, sembari memastikan bahwa semua aplikasi dapat berjalan dengan baik di perangkat mobile,” tambah Ridley.

Karena mengandalkan sistem cloud, maka sistem keamanan benar-benar berbeda dan komprehensif harus diterapkan, mulai dari perangkat keras para karyawan hingga data center. Bagi Ridley, sistem baru ini harus melindungi data, aplikasi, dan penggunanya. Keamanan adalah prioritas paling utama dalam ekologi sistem seperti, sehingga harus dirancang sedari awal, bukan menjadi determinan di titik akhir.

Karena alasan itu, Ridley pun memanfaatkan fitur VMware AirWatch sebagai end-to-end solution bagi IT jenis baru yang diadopsi Reed.

Pentingnya Komunikasi

Ridley bergabung di Reed.co.uk pada November 2007 sebagai pengembang aplikasi dan secara cepat naik pangkat sebagai direktur teknologi. Dan, walaupun tidak berkutat sebagai pengembang lagi di perusahan itu, dia memanfaatkan banyak waktunya untuk belajar untuk mengembangkan perusahaan agar lebih maju.

Dalam perjalanan kariernya di bidang teknologi, Ridley melihat banyak perusahaan sering kali menghindari perubahan. “Perubahan menimbulkan stres. Itu fakta yang terjadi di bisnis maupun biologis,” ungkap Ridley. Namun belajar dari pengalamannya di Reed, Ridley justru melihat perubahan itu harus terus dilakukan perusahaan.

“Saya memfokuskan banyak waktu saya membuat perubahan menjadi sebuah kultur di reed.co.uk. Seiring waktu, kami akhirnya memiliki kemampuan untuk bertahan dari efek perubahan karena tidak pernah berhenti melakukan perubahan,” ujar Ridley mengungkapkan filosofinya.

Bagi Ridley, kisah transformasi cloud di atas sejatinya bukanlah kisah teknologi dan ekonomi semata. Kisah ini lebih jauh lagi adalah mengenai orang-orang dan kebudayaan. Membawa banyak orang ke dalam perubahan memerlukan kebudayaan, di mana kekeliruan sama-sama diterima dan ditantang, dipandang sebagai bagian dari komitmen untuk berani dan bereksperimen secara kreatif.

Untuk menyokong perubahan ini dan segala bentuk percobaannya, Ridley sangat menyakini bahwa ia dan perusahaan memerlukan solusi teknologi yang memberikan nuansa kebebasan untuk mencoba banyak hal baru dalam sistem informasi dan secara umum, agar perusahaan dapat berkembang lebih baik di masa depan.

Ridley menegaskan dalam wawancara di computing.co.uk pada 2014 silam, “Tatkala kami bekerjasama bersama tim pemasaran untuk memesan sesuatu, maka prosesnya akan berjalan lebih efisien. Dengan demikian biaya produksi dialihkan ke bagian itu, karena perannya sangat penting. Orang-orang di dalam divisi pemasaran adalah orang yang benar-benar memahami faedah tertinggi sebuah perubahan.”

Indriatmo Aprilan Heriyanto (General Manager IT, PT Trans Retail Indonesia). [Foto: Abdul Aziz/InfoKomputer]

Ini sebuah tip yang cukup unik untuk menambah semangat kerja karyawan: sering-seringlah “cuci mata” di lorong barang-barang elektronik di toko. “Dulu kakak saya pernah menasehati saya begitu,” cerita Indriatmo Aprilan Heriyanto seraya tertawa kecil. Aktivitas itu mungkin hampir setiap hari kini bisa ia lakukan berhubung kantornya berada dalam satu gedung yang sama dengan pasar swalayan Carrefour.

Namun pria yang bertugas mengurusi IT Development dan Project Management di Trans Retail Indonesia ini bukan sekadar berkantor dekat pasar swalayan tersebut. Ia juga diberi amanat untuk mengajak lebih banyak pelanggan datang dan berbelanja di jaringan pertokoan milik Trans Retail yang mengusung label Carrefour dan Transmart.

“Kami melihat bahwa pelanggan kami masih memiliki preferensi untuk datang ke toko kami dibandingkan membeli secara online. Oleh karena itu, prioritas kami justru membuat toko kami menjadi lebih nyaman bagi seluruh anggota keluarga atau biasa kami sebut sebagai sebuah family destination,” papar Indriatmo mengenai strategi TRI.

Strategi ini mungkin terkesan “melawan” arus. Ketika retailer berbondong-bondong membangun, memindahkan, atau mengekspansi tokonya ke platform digital, Trans Retail justru giat mengembangkan super center, sebuah konsep baru dan modern dalam berbelanja yang menggabungkan hypermarket, entertainmet, serta food & fashion.

“Bukan berarti kami tidak mau ke sana. Kami ingin mempunyai e-commerce yang bisa melayani jalur-jalur bisnis yang ada di CT Corp,” tandas bapak satu putri ini mengenai transformasi ke dunia digital. Menurutnya, diskusi tentang kehadiran toko online ini masih berlangsung sangat intensif di tingkat CT Corp, holding company yang menaungi Trans Retail.

Mampukan Model Bisnis Baru

Saat perusahaan ingin merambah dunia maya atau menambah gerai di dunia nyata, tugas orang TI sebenarnya tetap sama, di antaranya adalah menyediakan sistem bisnis yang dapat memudahkan pelayanan pelanggan. Setahun pertama karier Indriatmo di bisnis retail ini diisi dengan mengembangkan sistem yang akan memampukan Trans Retail melakukan model bisnis baru.

Untuk menjadi destinasi favorit keluarga, selain menyediakan bahan kebutuhan sehari-hari, Trans Retail terus melengkapi jaringan pertokoannya dengan layanan-layanan baru, antara lain department store dan tempat penjualan handphone.

“Yang kami lakukan adalah membantu mengubah business process, model bisnis yang tadinya sifatnya grocery menjadi seperti department store,” jelas sarjana statistik lulusan Institut Pertanian Bogor itu.

Perubahan jenis produk di department store relatif lebih cepat daripada di toko kebutuhan sehari-hari (grocery). Hal itu mengharuskan Indriatmo dan timnya mengembangkan sistem yang dapat menangkap perubahan-perubahan tersebut secara lebih fleksibel.

Melihat jumlah transaksi yang sangat masif dengan detail transaksi yang cukup banyak, Trans Retail juga memerlukan pengelolaan dan pengolahan data yang andal. Kemampuan itu juga harus disertai sistem untuk membantu bisnis melakukan analisis bisnis dengan lebih baik dan akurat.

“Oleh karena itu, kami memulai project Data Warehouse sejak April tahun 2015 lalu dan masih berjalan,” cerita Indriatmo. Insight yang datang dari proses analisis data itu diharapkan akan bermanfaat, antara lain untuk price management, pengelolaan inventory, dan ketersediaan barang.  

Transisi Tak Ubah Misi

Retail adalah sebuah dunia baru bagi Indriatmo Heriyanto yang sebelumnya berkecimpung di kancah teknologi informasi perbankan selama 22 tahun. “Transisi dari industri perbankan ke retail merupakan pengalaman yang tidak terlupakan,” kenangnya.

Banyak hal-hal detail yang sebelumnya tidak menjadi perhatian Indriatmo dalam pengembangan TI justru harus menjadi perhatian utama di industri retail. Ia mencontohkan layanan di kasir yang tak sesederhana perkiraannya. “Prosesnya sangat detail,” imbuh pria yang gemar bermain gitar ini.

“Yang kami lakukan adalah membantu mengubah business process, model bisnis yang tadinya sifatnya grocery menjadi seperti department store,” jelas Indriatmo. [Foto: Abdul Aziz/InfoKomputer]

Berkaca dari pengalaman setahun terakhir ini, menurut Indriatmo, tantangan yang ia hadapi saat ini adalah mencari solusi teknologi yang dapat membantu perusahaan meraih manfaat yang harus terukur dengan baik secara finansial.

“Karena ada aspek cost & benefit yang cukup rigid di bisnis retail. Pertimbangan cost & benefit atas kebutuhan bisnis yang terkait TI berbanding terbalik dengan waktu implementasi yang diharapkan oleh bisnis. Kalau kita mau cepat, biaya akan tinggi. Kalau kita mau efisien cost-nya, kita harus ‘rela’ untuk agak ketinggalan sedikit dari kompetitor,” paparnya panjang lebar.

Sementara itu, perbankan adalah sektor yang sangat diatur oleh pihak pengawas. Banyak proses yang harus memenuhi aturan (comply) dan banyak hal yang harus bisa diaudit oleh pihak pengawas. “Bahkan pada suatu keadaan, pemenuhan aturan atau compliance lebih utama daripada biaya yang timbul atas pemenuhan aturan tersebut,” ujar pria yang pernah menduduki posisi Head of IT Division di Bank Muamalat itu.

Pengalaman di dunia perbankan maupun pelajaran baru dari bisnis retail tidak banyak mengubah misi Indriatmo Heriyanto sebagai orang TI: membantu bisnis dalam hal apa pun. Khususnya saat ini di Trans Retail Indonesia, ia ingin selalu hadir untuk membantu bisnis mengimplementasikan model bisnis baru dalam waktu yang cepat dengan biaya yang rendah.

Dengan model-model bisnis baru, mungkin bukan hanya karyawan yang makin rajin menelusuri setiap lorong barang-barang elektronik di jaringan pertokoan milik Trans Retail. Akan tetapi, akan lebih banyak pelanggan memilih super center Carrefour dan Transmart sebagai tujuan belanja dan jalan-jalan keluarga.

Yessi Natalia (IT Head, Lion Group). [Foto: Abdul Aziz/InfoKomputer]

Yessi Natalia (IT Head, Lion Group). [Foto: Abdul Aziz/InfoKomputer]

Lelah karena harus sering begadang saat berkarier di bidang konsultasi teknologi informasi (TI), Yessi Natalia pun menjajal bidang penerbangan. Namun, sekarang sarjana teknik elektro lulusan Universitas Indonesia ini malah harus bersiaga selama 24 jam.

“Kalau ditanya kapan airline nggak sibuk? Rasanya nggak ada ya, karena kami harus siaga selama 24 jam,” ujar IT Head, Lion Group ini. Sistem reservasi, ticketing, check-in, sampai pengaturan kru dan jadwal pesawat, serta pengaturan spare part pesawat harus selalu dalam kondisi berjalan dengan baik.

Oleh karena itu, Yessi dan timnya termasuk salah satu tim yang deg-degan apabila ada masalah di lapangan, semisal terjadi penundaan penerbangan atau antrean panjang di counter check- in. “Itu termasuk salah satu tantangan bagi kami. Target kami adalah mengejar on-time performance atau OTP kalau bisa seratus persen,” tandas Yessi.

Sebagai informasi, OTP merupakan barometer kinerja perusahaan penyedia layanan transportasi publik. Di bisnis airline, OTP adalah ketepatan waktu penerbangan yang harus dilaporkan secara berkala ke Departemen Perhubungan.

OTP Juga Target TI

Divisi TI Lion Group pun tak terlepas dari tugas mewujudkan OTP dengan nilai terbaik. Tugas itu dijalankan dengan menjaga dan memastikan keseluruhan sistem berjalan dengan baik. “Pertama, tugas kami adalah menyediakan link yang andal. Untuk kota-kota besar, apalagi yang frekuensi penerbangannya tinggi, kami harus menyediakan dua, atau kalau perlu tiga, link,” papar Yessi.

Hal kedua yang harus ia lakukan adalah memastikan sistem di server tidak down. “Dan kami harus menciptakan sistem-sistem yang sekiranya dapat memperlancar proses, misalnya membuat sistem web check-in untuk mengurangi antrean di bandara,” imbuhnya.

Saat ini, menurut Yessi, Lion Air sedang dalam proses mengimplementasikan sistem kios untuk check-in. Selain di bandar udara, kios-kios tersebut juga rencananya akan dipasang di pusat perbelanjaan dan gedung perkantoran.

“Lumayan sekali kalau penumpang sudah checkin melalui web atau kios, meski mereka masih harus antre bagasi. Paling tidak, bisa dikurangi prosesnya. Berkurang tiga puluh detik saja jika dikalikan berapa banyak penumpang, itu akan berpengaruh sekali,” tandas Yessi seraya menambahkan bahwa edukasi sangat diperlukan agar calon penumpang mau memanfaatkan sistem-sistem itu.

Menurut si sulung dari tiga bersaudara ini, belum banyak maskapai yang memanfaatkan perangkat serbaguna, seperti kios tersebut. “Karena harga mesinnya cukup mahal dan harus kompatibel dengan sistem yang sudah berjalan. Dan di tahap pertama kami harus taruh orang dulu untuk membantu penumpang [mengoperasikannya],” jelasnya. Tantangan lainnya adalah menjaga mesin-mesin itu agar kondisinya selalu siap digunakan pelanggan.

Tantangan Rute Baru

Mengingat Lion Group yang cukup agresif membuka rute-rute baru, baik di wilayah domestik maupun luar negeri, tantangan berikutnya yang harus siap ditaklukkan Yessi adalah menyiapkan jaringan dan sistem di lokasi baru dengan cepat.

Yessi dan timnya umumnya diberi waktu sekitar dua minggu untuk memasang sistem dan jaringan di lokasi baru. “Pernah juga kami harus setup sistem di lokasi baru dalam waktu hanya satu minggu,” cerita Yessi. Padahal lokasi tersebut belum disinggahi pesawat sehinga timnya harus menempuh jalan darat dengan kondisi yang kurang bagus selama delapan jam.

Selain waktu, terutama saat harus memasang sistem di lokasi yang terhitung agak terpencil, Yessi harus mampu menghadapi tantangan ketersediaan link.

Di sisi lain, link umumnya bukan tantangan dalam pembukaan rute baru di luar negeri. Namun tim TI  harus memastikan kompatibilitas dan mengkoneksikan sistem di lokasi tersebut dengan sistem milik Lion Group. Saat ini Lion Group mengoperasikan Malindo Air di Malaysia dan Thai Lion Air di Thailand.     

Banyak Belajar

“Kalau ditanya kapan airline nggak sibuk? Rasanya nggak ada ya, karena kami harus siaga selama 24 jam,” ujar IT Head, Lion Group ini.

“Kalau ditanya kapan airline nggak sibuk? Rasanya nggak ada ya, karena kami harus siaga selama 24 jam,” ujar IT Head, Lion Group ini.

Yessi Natalia mengaku tidak bosan dengan teknologi informasi di dunia penerbangan. Dunia kerja yang dinamis membuatnya tetap menikmati pekerjaan yang telah ditekuni Yessi selama tujuh tahun itu.

Kesempatan belajar ia peroleh dari berbagai project yang ditanganinya. “Dan setiap project itu topiknya sepertinya selalu berbeda dari waktu ke waktu,” imbuh Yessi. Walhasil, bukan hanya pelajaran teknologi yang ia dapat, proses dan seluk beluk bisnis penerbangan pun makin ia pahami.

Salah satu project yang tak terlupakan bagi Yessi adalah tugas pertamanya di Lion Air, yakni sistem pembelian tiket di agen perjalanan. Sebelum terlibat dalam project tersebut, Yessi sempat menghabiskan waktu tiga bulan di bagian call center untuk mempelajari proses reservasi, ticketing, pengaturan kru call center, dan tentu saja, sistemnya.

Sistem pembelian ini sangat berpengaruh pada bisnis Lion Group mengingat pelanggan di Indonesia cenderung lebih suka membeli tiket di agen ketimbang membeli langsung di website milik maskapai. “Pembelian via agen tersebut bisa mencapai 80 persen [dari keseluruhan pembelian tiket],” jelas Yessi.

Saat ini ada sekitar tujuh ribu agen perjalanan yang bekerja sama dengan Lion Group.

Berbagi Resep

Yang menarik adalah meski harus siaga 24 jam, Yessi Natalia ternyata masih bisa menikmati waktu kerja yang lebih fleksibel. “Karena semua sistem itu juga bisa dikelola secara remote, asalkan saya bisa pastikan sistem berjalan dengan baik. Tapi kalau ada hal yang urgent saya juga harus siap dipanggil kapan saja,” ujarnya seraya tertawa kecil.

Berbagi kunci suksesnya menapaki tangga karier di bidang TI, penggemar kuliner khas Indonesia ini memiliki dua resep khusus.

Pertama, be excellent in every aspect. Dalam segala hal, berikan lebih dari apa yang diminta. “Kalau bos minta skala enam kita harus bisa berikan skala delapan atau bahkan sembilan. Jangan pas-pasan. Dengan begitu, orang akan melihat bahwa kita bekerja sepenuh hati, bukan sekadar karena diminta,” cetus Yessi. Kedua adalah integritas, yang makin sulit dicari saat ini.  

Yessi Natalia agaknya masih akan terus menambah “jam terbangnya” di bisnis penerbangan.  Rencana masa depan atau beralih pekerjaan saat ini belum ia bayangkan. “Karena IT is a never-ending story bagi saya,” ujar Yessi mengakhiri wawancara.

Felix Tjhai (IT Director, Four Seasons Hotel Jakarta). [Foto: Abdul Aziz/InfoKomputer]

Felix Tjhai (IT Director, Four Seasons Hotel Jakarta). [Foto: Abdul Aziz/InfoKomputer]

Awalnya, semasa duduk di bangku sekolah menengah. Felix Tjhai membayangkan teknologi informasi sebagai bidang yang sarat dengan aktivitas coding dan testing. Namun dalam rentang kariernya selama dua belas tahun di TI, ia menyadari bahwa dirinya berada di arena yang lebih luas daripada itu. “Scoop TI sangat besar, dan itu menjadi tantangan bagi saya,” ujar pria yang kini menduduki posisi IT Director, Four Seasons Hotel Jakarta itu.

Kian luasnya cakupan TI, khususnya di sektor perhotelan, tak lepas dari perubahan-perubahan yang terjadi.  Bisnis hotel masa kini, menurut Felix, tidak semata-mata berkutat dengan kamar yang bagus dan fasilitas yang lengkap. “Tetapi juga service orientation. Bagaimana kami mengenal tamu-tamu kami, itu yang terpenting,” ucapnya tegas.

Untuk itu, Four Seasons kini sedang mengembangkan teknologi yang memampukan para staf hotel bisa memperoleh informasi terbaru tentang preferensi atau profil tamu secara cepat dan mudah. “Namun informasi tersebut tidak hanya mudah diakses, tetapi juga harus aman, karena kami tidak mau data-data preferensi atau tamu sampai bocor ke publik,” tandas sarjana information technology lulusan Universitas Bina Nusantara ini. Oleh karenanya, data privacy menjadi salah satu perhatian utama hotel saat ini.   

Kemudahan memperoleh informasi juga siap dihadirkan Felix Tjhai dan timnya untuk owning company atau pemilik hotel. “Untuk owning company, kami akan merilis hotel dashboard sehingga mereka dapat melihat performa hotel, misalnya melihat daily revenue. Dan mereka bisa mengaksesnya lewat perangkat mobile,” Felix memaparkan.

Selain memfokuskan strategi yang berorientasi pada pelanggan untuk mewujudkan kepuasan pelanggan (customer satisfaction), menurut Felix Tjhai, Four Seasons juga tengah mengembangkan sistem berbasis aplikasi mobile. Hal ini tentu tak lepas dari gaya hidup masyarakat masa kini yang tak pernah jauh dari gadget, di mana saja, termasuk ketika mereka berada di kamar hotel.

Sebisa mungkin teknologi dapat mendekatkan para tamu tidak hanya saat mereka berada di lingkungan hotel. “Bahkan sebelum mereka tiba di hotel. Dengan mobile apps, kami mempermudah tamu untuk request kebutuhan mereka sebelum mereka tiba di hotel, sampai mereka check out,” ujar pehobi renang dan bulu tangkis ini.

Menurut Felix, Four Seasons termasuk salah satu hotel berbintang lima yang mengedepankan sistem aplikasi. Ada sekitar 30 sampai 40 aplikasi di backend maupun front end yang mendukung kinerja bisnis hotel Four Seasons. “Dan kami banyak memakai aplikasi berbasis cloud,” imbuh Felix.

Ikuti Arahan Kantor Pusat, Tetap Diharapkan Berinovasi

Mungkin ada yang menganggap kerja orang TI di hotel yang merupakan bagian dari jaringan hotel global tidak sulit karena tinggal mengikuti arahan kantor pusat. Namun justru di sini letak salah satu tantangan yang dihadapi Felix Tjhai.  

“Setiap pekerjaan pasti ada tantangan. Tantangan terberat yang kadang saya hadapi adalah bagimana kami sebagai man in the middle yang menjembatani keputusan dari corporate office (kantor pusat,red.) dengan owning company,” katanya.

Tidak semua teknologi, sistem, maupun standar yang ditunjuk atau yang dibuat oleh kantor pusat bisa dijalankan di lokal. Untuk itu, ia dan timnya harus jeli melihat kebutuhan user (tamu, staf, dan owning company) secara geografis, dan cermat menghitung return on investment (ROI) dari setiap inisiatif teknologi yang diagendakan kantor pusat.

Di sisi lain, meskipun terikat dengan arahan kantor pusat Four Seasons di Toronto, Kanada, Felix Tjhai tetap diberi kesempatan untuk berinovasi. “Kami diharapkan untuk bisa berinovasi,” ia menjelaskan seraya menambahkan bahwa setiap inovasi dan inisiaif itu harus memperoleh persetujuan dulu dari kantor pusat agar tidak melanggar standar-standar yang sudah ditetapkan secara global. Dan bukan tidak mungkin jika suatu saat ada inisiatif lokal yang justru diangkat ke tingkat global.

Karier dan Peran Signifikan TI di Hotel

“Dengan mobile apps, kami mempermudah tamu untuk request kebutuhan mereka sebelum mereka tiba di hotel, sampai mereka check out,” ujar Felix.

“Dengan mobile apps, kami mempermudah tamu untuk request kebutuhan mereka sebelum mereka tiba di hotel, sampai mereka check out,” ujar Felix.

Merasa tengah berada di arena permainan yang besar, Felix Tjhai belum berniat melabuhkan kariernya ke bidang selain perhotelan. “Untuk saat ini sih [saya] belum [ingin pindah] karena masih banyak hal yang bisa saya pelajari di hotel ini, karena scoop-nya yang besar,” ujarnya.

Kesibukan pria yang gemar menyantap ayam goreng ini sepertinya akan terus bertambah karena bisnis hotel, khususnya yang berbintang lima, mulai memahami peran signifikan teknologi bagi bisnis. Bahkan, beberapa pengelola hotel menurut Felix tidak lagi menganggap TI sebagai cost center, melainkan penunjang kinerja dan pendapatan hotel.  

Karier di sektor perhotelan, termasuk karier TI, menurut Felix Tjhai akan makin menjanjikan seiring perkembangan bisnis hotel di Indonesia. “Di Tiongkok, bisa buka dua puluh sampai tiga puluh hotel per tahun! Di sini pun peluangnya kurang lebih sama, ada beberapa 5 star hotel yang akan dibuka di Indonesia,” jelasnya bersemangat.

Dengan teknologi yang makin berperan di lingkungan hotel, makin besar pula harapan Felix Tjhai untuk dapat senantiasa mewujudkan visi pribadinya. “Saya punya gol bahwa tamu atau siapa pun bisa kami support dengan TI dan (TI) terutilisasi dengan baik,” katanya.

Kepuasan pelanggan dan membuat sesuatu yang memorable bagi pelanggan menjadi barometer Felix Tjhai dalam memberikan layanan melalui TI.  

icio_community

iCIO Community menggelar Executive Leadership Forum dengan mengundang puluhan CIO dan jajaran dewan direksi lainnya dari berbagai sektor industri serta pemerintah guna membahas fenomena ekonomi digital berikut peluang dan tantangannya.

iCIO Executive Leadership Forum 2017 mengusung tema “Unlock the Full Potential of Digital Economy” untuk membantu industri memaksimalkan potensi ekonomi digital sebagai penentu inovasi dan pertumbuhan bisnis melalui kolaborasi dari beberapa aspek seperti teknologi digital, dukungan kebijakan dan utilisasi data.

Acara seminar dan diskusi ini didukung oleh para profesional industri, pakar bisnis serta pemerintah sebagai pembicara kunci, di antaranya Menteri Keuangan Sri Mulyani, Handry Satriago (CEO General Electrics Indonesia), dan Derianto Kusuma (Co-founder Traveloka).

“Melalui event ini, kami ingin menjembatani komunikasi antara pemerintah dan pelaku bisnis lintas industri untuk dapat saling bertukar pikiran maupun berinovasi dalam mengembangkan ekonomi digital.  Didukung pula oleh kemitraan iCIO dengan perguruan tinggi, kita ingin memperkuat kolaborasi antara tiga pilar ini, sejalan dengan penerapan yang oleh para pakar disebut sebagai triple helix for innovation,” ujar Agus Wicaksono (Chairman iCIO Community).

 

Lembaga riset Gartner  memprediksi pada 2018, koneksi menjadi ekonomi baru yang mendorong organisasi untuk meningkatkan investasi pada aset dan sistem fisik sebanyak 30%. Kehadiran teknologi digital di mana semua perangkat terkoneksi mampu meningkatkan nilai produk dan layanan yang sifatnya tradisional melalui pemanfaatan data, konten, algoritma, analisis, serta hubungan antar pelaku ekonomi dalam sebuah ekosistem digital.

Ke depannya CIO, Chief Data Officer dan Chief Digital Officer semakin dituntut untuk mampu mengidentifikasi sumber potensial dari nilai digital, asset digital yang sudah ada, produk dan jasa, serta value dari tiap komponen tersebut.