Tags Posts tagged with "CIO"

CIO

Ash Crick (Global Head of Labs, Data Intelligence and Content Technology, iflix).

Kendati menggiurkan dan menawarkan pertumbuhan, pasar berkembang atau emerging market tak mudah ditaklukkan. Bagaimana cara penyedia layanan video on demand, iflix, untuk selalu berada di posisi terdepan?

“Boleh dibilang, kami telah memilih pasar paling menantang untuk membangun sebuah layanan TV internet, yakni  emerging market,” ujar Ash Crick (Global Head of Labs, Data Intelligence and Content Technology, iflix). Tantangan datang misalnya dalam bentuk koneksi internet yang seringkali tak cukup memadai untuk menggelar sebuah layanan televisi berbasis internet. Atau dukungan infrastruktur pembayaran elektronik di kawasan berkembang yang belum sekokoh di negara maju.

“Sepengetahuan saya, hanya ada beberapa preseden di dunia ini untuk tantangan seperti yang kami hadapi, tetapi justru itu yang menjadikannya menarik,” cetus pria yang baru saja melepas jabatannya sebagai Chief Technology Officer iflix itu.

Tak pelak, selain konten yang menarik, teknologi dan inovasi pun menjadi garda terdepan untuk mengakselerasi bisnis iflix. “Konten adalah raja [di mata penyedia konten], tapi teknologilah yang dapat membuat perbedaan besar dalam menyajikan pengalaman pelanggan [yang menyenangkan],” tandas veteran di bidang teknologi dengan pengalaman selama 25 tahun merentang karier di Australia, Inggris, dan Asia Tenggara ini. Teknologi pula yang akan memampukan iflix hadir dengan cepat di rumah jutaan pelanggan di puluhan negara.

Invisible yang Terbaik

Berbicara tentang teknologi di balik layanan iflix, Ash melihat kondisi pasar sebagai faktor paling berpengaruh pada jenis teknologi yang ia terapkan. Misalnya untuk di negara-negara maju, teknologi, seperti VR (Virtual reality), HDR (High Dynalmic Range), UHD (Ultra High Definition), dan resolusi 4K, akan menunjang penghantaran layanan video on demand yang mumpuni.

“Namun fokus kami adalah pasar berkembang. We eat, breathe, and sleep emerging markets. Kami membangun produk dan melakukan scaling terhadap sistem kami, khusus untuk pasar berkembang,” tandasnya.

Perhatian Ash saat ini lebih tertuju kepada hal-hal, seperti otomatisasi bisnis, kemampuan menghantarkan konten video dengan bandwidth dan kualitas internet terbatas, otomatisasi subtitle translation, payment reach, dan aneka perubahan yang bersifat disruptif tetapi signifikan terhadap cara pelanggan berinteraksi dengan produk iflix.

“Menurut kami, teknologi terbaik adalah teknologi yang paling invisible bagi pelanggan. Yang penting teknologi itu bekerja dengan baik,” jawab Ash seraya mengungkapkan bahwa hampir seluruh layanan iflix sudah berjalan di atas cloud.

Tiga Pilar Inovasi

Selain teknologi, iflix juga sangat mengedepankan inovasi untuk meraih kesuksesan jangka panjang. Ash Crick memaparkan tiga pilar dalam pendekatan inovasi yang diterapkan iflix. Pilar pertama adalah tim Labs yang khusus mengeksplorasi teknologi, model-model bisnis, dan metode baru untuk meningkatkan kualitas layanan dan mendorong ekspansi bisnis. “This is the spark, inilah awalnya,” tandasnya.

Tim ini tak boleh kalah cepat dari perubahan yang terjadi di luar sana. “Pilihannya hanya terus bergerak maju atau kami akan membuang semua [konsep yang tidak berjalan] begitu saja,” imbuh lelaki yang mengaku selalu terobsesi untuk menemukan ide-ide dan mencicipi pengalaman baru.

Pilar berikutnya adalah tim Engineering. Tim ini bertugas mewujudkan ide dan konsep yang diberikan tim Labs. Tangan dingin tim ini pula yang telah menghasilkan produk dan layanan iflix yang bingkas (resilience) dan berwawasan masa depan.

Pilar terakhir ditopang oleh tim Data. “Tim Data kami terlibat dalam setiap tahap. Tugas mereka adalah memastikan kami mengukur hal yang tepat untuk kami pelajari, beradaptasi, dan berevolusi dengan cepat,” jelas Ash Crick.

Selain ditopang tiga pilar tersebut, proses inovasi juga melibatkan jajaran pimpinan iflix. “Mereka membangun interaksi yang kuat dengan para engineer kami, dan keterlibatan [jajaran pimpinan] ini terbukti merupakan cara yang tepat untuk mendorong outcome yang inovatif dengan cepat,” papar sang pemimpin inovasi di iflix ini.

Terobsesi Teknologi

Berada di lingkungan kerja dan diberi tugas menggarap pasar yang dinamis tak membuat Ash Crick merasa gamang. Selain bekal pengalaman panjang di bidang teknologi, Ash mengaku dirinya termasuk orang yang selalu penasaran dengan hal-hal baru.

“Mungkin bagi orang lain, saya terkesan cepat bosan. Ada benarnya juga, tapi [dengan rasa penasaran itu] saya memperoleh banyak pengalaman luar biasa,” ungkapnya. Di antara pengalaman yang luar biasa itu adalah kesempatan berada di satu panggung dengan salah satu gitaris terbaik dunia, Tommy Emmanuel (gitaris fingerstyle asal Australia) dan menjadi World Champion Freestyle Skydiver.

Aksi Ash Crick saat melakukan sky diving.

Tanpa ia sadari, semua pengalaman tersebut terakumulasi dan membentuk cara pandang Ash Crick tentang pekerjaannya dari persepektif sosial, intelektual, dan kompetisi.

“Tetapi saya selalu tertarik pada teknologi,” ungkap pria yang di usia tujuh tahun telah membuat program untuk komputer TRS-80. Hati pemegang gelar Bachelor of Engineering dan Bachelor of Science dari University of Melbourne, Australia itu telah tertambat pada kekuatan komputasi sebagai pemberi solusi tantangan dunia nyata. Tak mengherankan jika lelaki yang pernah menjadi Specialist Consultant IBM ini senantiasa merasa tertantang untuk mencari solusi teknis paling simpel untuk memecahkan tantangan bisnis

Berada di iflix, ia merasa sangat beruntung karena digaji untuk melakukan hal-hal yang disukainya dan dapat berkontribusi untuk membuat hidup pelanggan menjadi berbeda. “Memadukan hiburan, inovasi, dan teknologi, serta sebuah cita-cita untuk menyajikan hiburan berkelas dunia kepada satu miliar orang adalah sesuatu yang membuat saya bersemangat bangun tidur setiap hari,” ujarnya setengah berkelakar.

Tampaknya, perannya di iflix tidak akan membuat Ash Crick berniat cepat-cepat mencari tantangan dan pengalaman baru. Terutama setelah iflix baru-baru ini menyabet penghargaan dari Frost & Sullivan sebagai 2016 Asia Pacific Video on Demand Company of the Year. Menurutnya, prestasi ini hanyalah sebuah awal dari rencana ekspansi masif iflix pada tahun ini.

Bersama CTO yang baru, Emmanuel Frenehard, Ash Crick akan membawa layanan iflix hadir di seluruh dunia dan mengubah cara orang mengkonsumsi hiburan.

Leonardo Koesmanto (Head of Digibank, DBS Indonesia). [Foto: Abdul Aziz/InfoKomputer]

Mencari pekerja dengan wawancara? Itu sudah biasa. Yang tidak biasa adalah mencari pekerja dengan menyelenggarakan hackathon alias lomba membuat aplikasi. Hal itu dilakukan DBS Singapura untuk menjaring seratus tenaga kerja potensial di bank terbesar di Asia Tenggara tersebut. Mereka yang berhasil membuat aplikasi menarik dan inovatif bisa langsung bergabung sebagai karyawan DBS.

Kisah di atas bisa menjadi contoh keseriusan DBS dalam melakukan transformasi ke dunia digital. Dalam konteks yang lebih luas, keseriusan DBS bisa dilihat dari pembentukan entitas baru yang disebut Digital Bank (atau sering disebut Digibank). Di Indonesia, Digibank dipimpin Leonardo Koesmanto, sosok yang memiliki perjalanan panjang di dunia teknologi dan perbankan.

Dalam implementasinya secara global, DBS mengambil beberapa pendekatan terkait Digibank. Di beberapa negara, Digibank berfungsi lebih sebagai e-channel dari layanan perbankan DBS yang telah ada. Namun di beberapa negara lain, Digibank menjadi perusahaan sendiri yang siap bersaing dengan perbankan lain, termasuk DBS sendiri. Sementara di Indonesia, Digibank menjadi divisi tersendiri namun didukung oleh organisasi yang ada di DBS Indonesia.

Meski memiliki beberapa bentuk, Digibank sebenarnya mewakili satu pesan: DBS siap melakukan transformasi. “CEO kami (Piyush Gupta. red) ingin mentransformasikan bank ini menjadi digital,” ungkap pria yang akrab dipanggil Leo ini.

Hal ini tidak lepas dari arah masa depan perbankan yang mengarah ke digital. Kompetitor DBS pun bukan lagi bank-bank konvensional, namun perusahaan teknologi yang memiliki data. “Jadi kompetitor kita ke depan adalah perusahaan non-bank seperti Google atau Alibaba,” tambah pria yang memimpin tiga puluh orang di dalam timnya tersebut.

Inilah yang menjelaskan mengapa output yang diharapkan dari Digibank bukan sekadar produk, melainkan lebih kepada perubahan kultur perusahaan. “Produk bisa dibilang efek dari perubahan kultur dan mindset itu,” jelas Leo. Ketika cara berpikirnya sudah digital, Leo yakin produk yang dihasilkan pun akan sarat dengan nuansa digitalnya.

Menjawab Keinginan

Perubahan mindset tersebut bisa dilihat dari pendekatan Digibank dalam membuat produk atau layanan. “Di Digibank, kami mendesainnya berbasis customer centric dan menggunakan pendekatan jobs to be done,” cerita Leo.

Prosesnya diawali dengan melihat apa yang ingin dicapai konsumen, lalu Digibank akan melihat bagaimana kebutuhan tersebut bisa dijawab dengan teknologi digital. “Jadi pola berpikirnya bukan bagaimana saya bisa save cost dengan melakukan digitalisasi,” tambah Leo.

Perubahan mendasar lain juga bisa dilihat dari strategi DFNO (Design for No Ops) yang dilakukan Digibank. “Jadi saat mendesain sebuah produk atau solusi, kami sengaja merancangnya agar scalable dan tidak membutuhkan tenaga operasional,” ujar Leo.

Otomatisasi ini menjadi penting mengingat skalabilitas tidak mungkin terjadi ketika sebuah produk membutuhkan tenaga operasional untuk berfungsi. “Karena ketika customer tambah banyak, kita harus menambah orang,” ujar Leo mengungkapkan alasannya.

Untuk produk sendiri, Digibank menyesuaikan dengan perkembangan yang ada. Ketika saat ini eranya mobile apps, Digibank pun merilis apps untuk platform iOS maupun Android. Melalui apps ini, nasabah bisa melakukan transfer dana, pembayaran, pengaturan anggaran, sampai penyimpanan di deposito.

Yang juga menarik adalah keberadaan fasilitas Virtual Assistant. Fasilitas berbasis machine learning ini memungkinkan nasabah meminta bantuan terkait layanan perbankan, seperti mengurus permohonan deposito atau mengingatkan untuk membayar tagihan tiap bulannya. “Fasilitas ini juga bisa menjadi customer service karena 80% pertanyaan nasabah pada dasarnya sama,” ungkap Leo.

Di masa depan, berbagai teknologi pun siap ditanamkan di mobile apps ini. Sekarang ini, Digibank sedang menimbang kemungkinan penggunaan biometrik, seperti sidik jari atau retina mata, sebagai sarana autentikasi nasabah. Mulai dipikirkan pula cara nasabah melakukan transaksi hanya dengan mengetikkan pesan di media sosial atau messaging apps.

Pendek kata, berbagai fitur bisa ditambahkan di mobile apps tersebut. Namun proses itu akan dilakukan secara bertahap karena Digibank mengambil pendekatan incremental ala startup. “Ketika launch, produk kita mungkin tidak 100% seperti yang kita inginkan. Namun secara reguler, kita akan terus melakukan perbaikan,” ungkap Leo.

Pendekatan bertahap ini diyakini sesuai dengan perilaku konsumen digital saat ini yang terbiasa dengan konsumsi model bite size.

“Sekarang ini penetrasi telepon seluler di Indonesia sudah lebih dari 100%. Jika layanan perbankan kami sudah mencapai handphone, kami pun bisa mencapai masyarakat yang lebih luas,” ungkap Leo.

Perubahan Menyeluruh

Ketika layanan sudah mengarah ke digital, peluang DBS menggapai konsumen pun kian meluas.

“Sekarang ini penetrasi telepon seluler di Indonesia sudah lebih dari 100%. Jika layanan perbankan kami sudah mencapai handphone, kami pun bisa mencapai masyarakat yang lebih luas,” ungkap Leo dengan yakin. Apalagi, masyarakat Indonesia tergolong terbuka dalam menjajal hal-hal baru seputar teknologi. Jika suka, mereka akan terus menggunakannya.

“Jadi tantangan bagi kami lebih kepada memastikan konsumen mau mencoba dan menyukai produk kita,” tambah Leo. Tantangan lain adalah memastikan layanan digital tersebut aman digunakan mengingat keamanan menjadi isu penting di industri perbankan.

Selain di sisi konsumen, tantangan juga harus dihadapi DBS secara internal. Dengan sebaran di tujuh belas negara di dunia, DBS harus memastikan seluruh organisasi memiliki gerak seragam dalam melakukan transformasi digital. Untuk mencapai hal tersebut, DBS pun menerapkan kebijakan transformasi secara menyeluruh. “Jadi secara end-to-end, kita konversi ke digital,” ungkap Leo.

Salah satunya contohnya adalah pelatihan ke karyawan tidak cuma terkait perbankan seperti risk management atau credit management, namun juga soal blockchain dan agile. Pelatihan berbasis komputer (computer-based training) pun mulai dialihkan ke mobile apps dengan pendekatan bite size. “Jadi kalau hari ini belajar satu paragraf, besok bisa lanjut satu paragraf lagi,” lanjut Leo.

Dengan semua transformasi digital yang dilakukan, Leo berharap DBS bisa dikenal sebagai pionir di dunia digital perbankan. Bank pun menjadi sesuatu yang tak kasatmata atau invisible karena berada di belakang dari kegiatan perbankan yang dilakukan nasabah. “Jadi ‘bank’ adalah sesuatu yang kita lakukan, bukan sebuah tempat kita pergi,” ungkap Leo menceritakan mimpi besarnya.

Zack Hicks (CEO Toyota Connected & CIO Toyota Motors North America).

Connected car kian menemukan momentumnya. Berkaca dari prediksi Business Insider, diperkirakan akan ada 94 juta connected car di tahun 2021. Jika dibandingkan dengan angka 21 juta connected car yang ada di tahun 2016, berarti terjadi kenaikan sebesar 36% per tahunnya.

Potensi besar inilah yang bisa menjelaskan mengapa pabrikan mobil kini berlomba membuat platform di atas connected car tersebut. Salah satunya adalah Toyota yang pada April tahun kemarin membuat divisi baru bernama Toyota Connected. Visi Toyota Connected cukup ambisius, yaitu memanfaatkan data untuk memberikan pengalaman lebih menyenangkan saat berkendara.

“Mobil yang ada saat ini dan di masa depan akan menghasilkan banyak data,” ungkap Zackhery Hicks. “Sudah saatnya kita memanfaatkan data tersebut untuk membuat mobil dan pengalaman berkendara yang lebih baik,” tambah Zack menggambarkan misi Toyota Connected.

Pengalaman Menyenangkan

Zack Hicks sendiri adalah sosok yang dipercaya menjadi CEO Toyota Connected. Tugas memimpin divisi baru ini tidak lepas dari pengalaman pria berusia 53 tahun ini di bidang teknologi. Selama ini, Zack yang telah bekerja selama 21 tahun di Toyota merupakan CIO Toyota Motors North America (TMNA). Dengan tugas rangkapnya sekarang, Zack memiliki tugas besar mewujudkan pemanfaatan data bagi kenyamanan pengendara.

Zack pun memberikan beberapa contoh pemanfaatan data untuk kepentingan pengendara. Contoh paling sederhana adalah mobil bisa mengetahui pola bepergian pengguna, seperti pagi saat menuju kantor dan sore saat pulang ke rumah. Sistem di mobil juga bisa terhubung ke kalender pengendara, sehingga bisa mengetahui kegiatan pengendara di hari itu. “Jadi saat pengendara naik ke mobil, ia tidak perlu lagi memprogram tujuannya. Sistem di mobil sudah tahu persis ke mana ia harus menuju,” ungkap Zack.

Sistem navigasi pintar ini juga bisa dikembangkan ke berbagai kemungkinan. Contohnya, sistem bisa menyarankan rute terbaik untuk menuju tempat tujuan. Jika terdeteksi pengendara akan terlambat sampai tujuan, sistem akan menawarkan pengendara untuk menelepon atau melakukan panggilan Skype.

Potensi Toyota Connected akan kian besar ketika pengguna memasukkan akun media sosialnya ke sistem. “Jika pengguna memasukkan akun LinkedIn, kami bisa mengetahui alamat kantor atau ketika pengguna pindah kerja,” ungkap Zack.

Sistem Toyota Connected juga bisa menganalisis status Facebook pengguna sehingga mengetahui hobi dan kebiasaan orang tersebut. “Contohnya ketika pengguna ternyata adalah memiliki hobi naik sepeda, kami bisa menawarkan mobil dengan fasilitas rak sepeda,” cerita Zack.

Untuk menjalankan inisiatif tersebut, Toyota Connected akan digawangi seratus karyawan. Mayoritas karyawan adalah data scientist yang akan merancang sistem yang bisa menggabungkan berbagai data tersebut.

Sementara di sisi infrastruktur, Toyota menggandeng Microsoft dan menggunakan Azure Cloud Technology sebagai basis teknologi pengolahan data. Untuk semua investasi ini, Toyota menggelontorkan dana US$5,5 juta sebagai tahap awal pengembangan.

Teknologi di Latar Belakang

Akan tetapi, tantangan Toyota Connected memang tidak melulu soal teknologi. Ketika privasi kini menjadi isu penting, pengguna harus diyakinkan agar setuju aktivitas berkendaranya direkam. Untuk itu, Zack memastikan Toyota Connected akan memiliki aturan yang jelas soal itu. “Konsumen nantinya akan disodori pilihan yang jelas untuk masuk atau tidak ke program ini,” ungkap Zack.

Toyota juga akan merahasiakan data personal pengguna dan tidak menyebarkannya ke pihak ketiga. “Tidak ada konsumen yang mau naik ke mobil untuk kemudian dibombardir dengan iklan,” ungkap Zack menyampaikan alasannya.

Untuk menjamin hal tersebut, Toyota berkomitmen untuk bekerja sama dengan pihak berwenang yang akan memonitor penggunaan data konsumen tersebut. “Bagian penting dari komitmen ini adalah bersikap setransparan mungkin mengenai pilihan opt-in dan opt-out serta bagaimana kami memanfaatkan data,” tambah Zack.

Akan tetapi, Zack yakin konsumen akan rela datanya dianalisis jika dapat memberikan manfaat yang mereka butuhkan. Saat ini, konsumen mengandalkan aplikasi navigasi di smartphone karena dapat memberikan informasi terkait rute terbaik. “Konsep [Toyota Connected] pada dasarnya sama, namun akan jauh lebih baik,” janji Zack.

Yang tak kalah penting, Zack menganggap inisiatif Toyota Connected ini adalah bagian dari usaha bersama membuat teknologi berada di latar belakang kehidupan manusia. Atau dalam istilah Zack, membebaskan konsumen dari tyranny of technology. “Kita sering melihat keluarga sedang makan bersama di sebuah restoran namun perhatian mereka tertuju kepada smartphone masing-masing. Itu adalah tirani teknologi,” ungkap Zack.

Dengan Toyota Connected, ketergantungan akan gadget ini diharapkan akan berkurang. “Kami akan memberikan jawaban yang dibutuhkan pada saat yang tepat,” janji Zack.

Ilustrasi kecerdasan pada sistem mobil pintar Toyota Connected.

Cerdasnya Mobil di Masa Depan

Berikut adalah beberapa contoh pemanfaatan data yang bisa menambah kenyamanan pengguna mobil Toyota.

  1. Mendeteksi Keselamatan Jalan. Sistem pengereman di mobil Toyota bisa memberi peringatan ketika sistem ABS tidak berfungsi akibat salju. Data ini bisa disebar ke mobil lain agar bisa menghindari jalan tersebut.
  2. Rekomendasi Restoran. Berbekal status media sosial pengguna, Toyota bisa mengetahui makanan favorit pengguna (misalkan seafood). Ketika pengendara tersebut menuju sebuah area, sistem di mobil bisa merekomendasikan restoran seafood baru di area tersebut yang mendapat review bagus di media sosial.
  3. One-on-One Relationship. Toyota akan membangun banyak aplikasi, namun tidak semua aplikasi akan ditawarkan ke konsumen. Berbekal hobi atau preferensi pengguna, Toyota hanya akan menampilkan aplikasi yang relevan. Dengan begitu, tercipta hubungan yang lebih personal.

Jeremy King ( Chief Technology Officer & Senior Vice President @WalmartLabs).

Cerita transformasi digital Walmart mungkin akan berbeda jika Jeremy King bersikeras mengabaikan tawaran Walmart.

Pada awalnya, King memang tak ingin mengindahkan panggilan telpon dari recruiter Walmart pada suatu hari di tahun 2011. Pasalnya, engineer yang kondang di Silicon Valley karena prestasinya membangun infrastruktur eBay ini sudah kerap “dirayu” perusahaan pencari tenaga kerja.

Melihat kegigihan recruiter itu yang terus menerus menghubunginya, Jeremy King pun luluh hatinya dan menjawab tawaran sang recruiter. “Saya bilang begini, ‘kenapa bukan CEO-nya saja yang telepon—biarkan ia bicara dengan saya, mungkin saya akan tertarik’,” cerita Chief Technology Officer (CTO) & Senior Vice President @WalmartLabs itu seperti dikutip dari Fast Company.

King mengaku saat itu dirinya cuma pura-pura sedikit pongah. Lagipula mana mungkin pemimpin tertinggi dari retailer terbesar di Amerika sudi menelepon seorang engineer seperti dirinya?

Tak disangka, Walmart kemudian malah mengatur sebuah video conference agar CEO Walmart saat itu, Mike Duke, bisa mewawancarai langsung Jeremy King yang saat itu masih menjadi CTO LiveOps, pengembang software call center berbasis cloud.

Berbicara selama 45 menit dengan Mike Duke, pemegang gelar bachelor of science dalam bidang information systems dari San Jose State University itu menyebut tawaran Walmart sangat menarik.

Bawa Silicon Valley ke Walmart

Proses rekrutmen itu terbilang tak biasa. Tugas dan harapan yang diletakkan Walmart di pundak Jeremy King juga ternyata luar biasa.

Walmart boleh mengklaim dirinya sebagai rajanya retail di dunia nyata. Namun di dunia maya, pada lima tahun yang lalu, Walmart sekadar penantang saja. Bisnis digitalnya masih jauh ketinggalan dari dua rival terdekatnya saat itu, yakni Amazon dan Staples. Situs e-commerce Walmart tampil biasa-biasa saja, mesin pencarinya tidak intuitif. Walhasil bisnis digital itu seperti berjalan di tempat, bahkan cenderung tertinggal dari para pesaingnya.

Tak puas dengan kondisi tersebut, CEO Mike Duke mengambil langkah berani, yakni melakukan transformasi digital. Sejak lama, Walmart dikenal memiliki proses bisnis yang kaku tapi efektif. Dengan transformasi digital, toko retail yang dibangun oleh Sam Walton ini akan diarahkan menjadi sebuah perusahaan yang berkarakter seperti wirausaha, penuh dengan eksperiman, dan fleksibel. Atmosfer bisnis ala Silicon Valley ingin diciptakan Mike Duke di Bentonville, Arkansas.

Walmart menganggap Jeremy King orang yang tepat untuk mengorkestrasi inisiatif perubahan besar-besaran yang mengombinasikan kekuatan baru e-commerce, customer experience yang berbeda, dan kekuatan supply chain, satu keunggulan yang dimiliki Walmart sejak dahulu.

Ilustrasi e-commerce Walmart. [Kredit: marketmadhouse.com]

Terapkan In-House Innovation

Mengepalai @WalmartLabs, Jeremy King menerapkan prinsip bahwa setiap perusahaan adalah perusahaan teknologi (every company is a tech company).

Menurutnya, perusahaan dari berbagai sektor industri mulai berbondong-bondong beralih ke model “build” atau pendekatan in-house innovation. Perusahaan menciptakan dan mengembangkan sendiri teknologi yang mereka gunakan. Dikotomi masa lalu antara perusahaan pengembang teknologi dan perusahaan pengguna teknologi pun pada akhirnya akan makin tergerus.

Peran inilah yang dimainkan @WalmartLabs untuk mendukung kesuksesan bisnis Walmart. “Tentu saja, Walmart tidak sendirian menerapkan pendekatan in-house innovation ini. Perusahaan seperti Procter & Gamble dan Starbucks juga telah menghabiskan waktu beberapa tahun terakhir ini untuk menjadi organisasi yang technology-driven,” tulis Jeremy King dalam blog @WalmartLabs.

Menurut King, perusahaan tidak dapat mempertaruhkan pertumbuhan bisnis dengan bergantung pada vendor. “Anda tidak bisa meng-outsource inovasi. Inovasi adalah sesuatu yang seharusnya Anda miliki,” tandas King.

Di sisi lain, perubahan besar ini juga akan mencetuskan karakter kewirausahaan (enterpreneurship) dalam perusahaan dan mendorong pengembangan teknologi yang sesuai tujuan perusahaan.

Berbekal prinsip tersebut, pria yang juga menjabat CTO Walmart Store Inc. ini memulai proses transformasi dengan membangun ulang (rebuilding) teknologi untuk meraih kecepatan dan skalabilitas dengan platform open source.

“Kami menggunakan teknologi untuk melayani pelanggan dengan cara-cara baru—mulai dari membangun platform teknologi yang kuat sampai dengan mempertemukan online experience dengan toko-toko fisik yang kami miliki,” ujar Jeremy King, seperti dikutip dari PRWeb.

Andalkan Open Source

Melalui proyek bernama Pangaea yang dimulai pada tahun 2012, Jeremy King dan timnya melakukan perombakan besar-besaran terhadap berbagai hal, mulai dari cara kerja dan tampilan situs web Walmart hingga software transaksi, database, server, dan tool untuk mengelola semua itu di data center. Walmart juga membangun infrastruktur cloud dan data center baru, bahkan membuat search engine sendiri.

Jeremy King menginginkan mesin pencari yang kemampuannya lebih dari sekadar menampilkan item yang dicari pelanggan. Ia menginginkan search engine yang dapat memberikan rekomendasi terpersonalisasi (personalized recommendation) agar pelanggan tertarik membeli lebih banyak barang.

Untuk itu, mesin pencari tersebut harus memunyai kemampuan mengaitkan hasil pencarian dengan pelanggan, berdasarkan interaksi sebelumnya. Dan mesin pencari bernama Polaris berhasil dirampungkan tim @WalmartLabs dalam waktu sembilan bulan.

Walmart juga mengembangkan sendiri tool pengeloaan hybrid cloud. Dengan cloud controller bernama OneOps ini, para engineer dapat dengan mudah memindahkan aplikasi dari cloud internal ke eksternal, atau sebaliknya.

“Seiring pertumbuhan bisnis, kami membutuhkan teknologi ini untuk berinovasi dan melakukan scale up,” cetus King seperti dikutip dari ETCIO.com. OneOps juga dirilis ke komunitas open source sehingga perusahaan lain dapat memanfaatkannya agar terhindar dari vendor lock-in.

Kuncinya pada Integrasi

Ada sebuah pelajaran menarik yang didapat Jeremy King. Berpengalaman selama tujuh tahun di eBay, ia mengaku awalnya menyepelekan kompleksitas supply chain Walmart.

“Saya sangat akrab dengan sisi digital retail, tetapi ternyata Walmart lebih dari sekadar situs web. Walmart adalah persimpangan antara [retail] digital dan fisik, dan saya benar-benar meremehkan kompleksitas supply chain. Saya merekrut banyak pegawai eBay dan kami sering menyepelekan supply chain,” kenangnya.

Di Walmart, adalah sangat kritis untuk memahami ke mana paket harus bergerak di dalam gudang dan mengantarkannya ke toko dan pelanggan. Walhasil, jumlah karyawan yang bekerja di divisi supply chain dan divisi digital sama banyaknya.

Dengan eksistensi Walmart di dunia maya dan nyata, Jeremy King dan tim @WalmartLabs harus memastikan customer experience yang benar-benar mulus (seamless) antara perangkat mobilepick up, pencarian, dan delivery ke rumah pelanggan atau belanja di toko, kemampuan navigasi, dan lain-lain. Integrasi adalah kuncinya.“Kami memiliki ribuan toko di seluruh dunia dan kami harus mengintegrasikannya dengan perangkat mobile dan desktop. This is critical to our success!” tegasnya.

Ilustrasi aplikasi belanja Walmart. [Kredit: geomarketing.com]

Integrasi toko fisik dengan mobile diperoleh, antara lain, melalui kemampuan in-store mapping. Integrasi yang lebih kompleks bisa dilihat pada aplikasi Savings Catcher. Aplikasi ini memiliki kemampuan comparative intelligence untuk membandingkan harga di toko-toko retail lain, misalnya Target dan Walgreens.

Dengan aplikasi ini, pelanggan dapat memindai bon belanjanya di Walmart. Lalu, jika ternyata pelanggan membayar lebih mahal daripada harga di toko lain untuk barang yang sama, pelanggan akan menerima kartu eGift.

Untuk mengembangkan aplikasi semacam itu, Jeremy King dan timnya harus mengintegrasikan data transaksi hasil penjualan di toko fisik dan e-commerce. Dan inilah pertama kalinya, Walmart memperoleh gambaran yang kohesif tentang aktivitas pribadi yang dilakukan oleh 250 juta pelanggannya di dunia maya.

 

Ilustrasi transformasi digital. [Kredit: progressivegrocer.com]

Sebagai negara dengan jumlah penduduk yang besar, ekonomi Indonesia sangat dipengaruhi sektor konsumsi masyarakat. Dalam hal ini, kita layak merasa optimistis. Dua lembaga riset, AC Nielsen dan Danareksa Research Institute, memaparkan kalau indeks kepercayaan masyarakat di tahun ini menunjukkan sentimen positif.

Survei Nielsen, misalnya, menunjukkan Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) Indonesia naik terus pada tahun 2016 dan menembus angka 122 pada kuartal ketiga. Indeks ini menduduki posisi tiga terbaik di Asia Pasifik, hanya kalah dari India dan Filipina. Tak mengherankan jika Bappenas memperkirakan, perekonomian Indonesia bisa tumbuh antara 5,1 – 5,3% di tahun ini.

Sinyal positif ini tentu saja menjadi kabar bagus bagi perusahaan Indonesia. Meski begitu, bukan berarti tantangan menjadi lebih mudah. Tsunami teknologi digital membuat setiap perusahaan kini harus memiliki strategi yang tepat dan cepat untuk menjawab persaingan. Jika tidak, perusahaan-perusahaan era digital akan lebih gesit dalam menangkap peluang yang ada.

Hal inilah yang menjelaskan mengapa para CIO yang kami wawancarai menunjuk inisiatif terkait digital yang makin dalam pada tahun ini. Salah satu contohnya adalah Kalbe Farma yang menggunakan pendekatan bimodal agar bisa cepat menjawab dinamika pasar. Contoh lain adalah PT KAI yang akan berencana memberikan layanan lebih beragam bagi konsumennya yang kian digital-minded.

Pendek kata, digital akan menjadi bagian penting dari setiap gerak perusahaan saat ini. Pertanyaan besarnya, siapkah perusahaan Anda melakukan transformasi digital yang lebih dalam?

Dino Bramanto, Corporate IT Director, PT Kalbe Farma Tbk. Foto : Abdul Aziz

Dino Bramanto (Corporate IT Director, PT Kalbe Farma Tbk.)

Industri Farmasi Hadapi Tantangan Produktivitas dan Efisiensi  

Memasuki tahun 2017, Dino Bramanto (Corporate IT Director, PT Kalbe Farma Tbk.) melihat pengelolaan biaya atau cost masih menjadi tantangan besar bagi industri farmasi di Indonesia. Pasalnya, meskipun industri farmasi Indonesia tercatat sebagai yang terbesar di Asia Tenggara dan tahun lalu menduduki peringkat 23 besar di tingkat dunia, presentase impor bahan baku obatnya masih cukup tinggi.

Untuk mengimbanginya, perusahaan farmasi, termasuk Kalbe Farma tentu harus mampu meningkatkan efisiensi dan produktivitas di segala lini. Menurut Dino Bramanto, di sinilah teknologi informasi (TI) berperan.

“Kalbe terus melakukan upaya-upaya tersebut dengan secara berkelanjutan melakukan pembenahan dan implementasi dan roll out ERP (enterprise resource planning) dan aplikasi-aplikasi pendukung dalam business process yang ada di seluruh grup perusahaan. Ini adalah bagian dari IT Blue Print Group Kalbe,” papar pria yang telah menghabiskan lebih dari dua puluh tahun kariernya di bidang teknologi itu.

Dino dan timnya juga berupaya meningkatkan efisiensi dan produktivitas dengan mendukung mobilitas karyawan. Pertumbuhan perusahaan dan jumlah karyawan pada umumnya mengharuskan perusahaan menambah atau memperluas area kerja.

“Guna mengurangi pertambahan space kantor, di tahun 2017 ini kami mencoba menerapkan konsep mobility untuk beberapa divisi sebagai uji coba,” ujar Dino menjawab tantangan tersebut.

Selain itu, teknologi juga diharapkan dapat membantu bisnis memperoleh informasi yang akurat dalam rangka pengambilan keputusan strategis maupun untuk menunjang aktivitas operasional perusahaan. Untuk itu, pengembangan analytics dan business intelligence masih akan tercantum di agenda TI PT Kalbe Farma Tbk.

Tantangan lain yang tak kalah pentingnya bagi Dino Bramanto adalah memanfaatkan peluang dan momentum dari e-commerce. “Tahun lalu, Kalbe Group mulai secara khusus memisahkan bisnis konvensional dan bisnis berbasis digital. Kami melakukan kerjasama dengan pihak-pihak yang kami anggap dapat memberikan nilai tambah dan sinergi dalam hal ini,” jelas Dino.

Pada tahun ini, Kalbe Group akan melakukan relaunching bisnis berbasis digital dengan harapan bisnis digital dapat memberikan kontribusi positif dan meningkatkan bisnis perusahaan. Untuk itu, dari sisi TI, Kalbe juga memisahkan antara tim TI  digital dan nondigital (konvensional).

“Agar kami bisa lebih gesit dan responsif. Istilahnya, kita bergerak dengan cara ‘bimodal‘. Kalbe juga memanfaatkan teknologi cloud dalam mendukung inisiatif ini sehingga kecepatan dan fleksibilitas juga bisa didapat,” tandas pria penyuka fotografi ini.

Tantangan yang lebih umum, menurut Dino, adalah kejahatan maya atau cybercrime. Ia memastikan Kalbe Group akan terus mengembangkan kemampuan untuk mengantisipasi adanya gangguan keamanan yang datang dari dunia maya, terutama karena berbagai gangguan itu yang makin hari makin bervariasi wujudnya.

Debbie Nova (IT Director, Coca-Cola Amatil Indonesia). Foto: Shinta Meliza

Debbie Nova (IT Director, Coca-Cola Amatil Indonesia)

Meningkatkan Efisiensi dan Kolaborasi

Sebagai institusi bisnis yang telah beroperasi selama 25 tahun di Indonesia, Coca-Cola Amatil Indonesia (CCAI) sudah memahami betul mengenai kondisi pasar yang selalu dinamis.

“Kami terus berevolusi dan berkembang secara berkesinambungan dengan kemajuan pasar, selera konsumen, serta kemajuan teknologi,” ungkap Debbie Nova (IT Director Coca-Cola Amatil Indonesia). Hal itu diwujudkan dalam dua hal utama, yaitu pembangunan fasilitas seperti lini produksi dan mega distribution center serta pembangunan sumber daya manusia.

Dalam dua hal tersebut, Debbie melihat peran TI sangat besar. Di sisi fasilitas, misalnya, TI berperan untuk mendorong terciptanya efektivas dan efisiensi. “Utamanya sebagai enabler untuk revenue generator dalam menunjang pertumbuhan bisnis serta mengembangkan efisiensi,” tambah Debbie.

Saat ini, CCAI mengoperasikan 37 lini produksi di 8 pabrik dan 3 mega distribution center (Medan, Cibitung, dan Semarang). Mereka juga melayani 700 ribu outlet pelanggan, termasuk 350 ribu kulkas (display fridge) dalam berbagai model yang tersebar di berbagai titik di Indonesia.

Dengan cakupan yang masif tersebut, peran TI menjadi krusial dalam mendorong bisnis CCAI. Hal ini terlihat dari inisiatif CCAI di tahun ini dalam hal supply chain. “Kami akan melanjutkan memberikan visibility terhadap demand dan supply dari proses supply chain,” ungkap Debbie.

Hal lain yang menjadi fokus CCAI adalah melengkapi tim sales di lapangan dengan informasi yang cepat dan akurat. “Hal ini akan menunjang mereka dalam memberikan layanan kepada pelanggan dan pengambilan keputusan untuk pertumbuhan penjualan,” tambah Debbie.

Untuk menunjang kinerja perusahaan, CCAI pun sangat serius dalam mengembangkan potensi SDM. Yang menjadi salah satu fokus adalah memperluas connectivity yang menghubungkan semua karyawan di perusahaan lewat bantuan teknologi.

Sebagai bagian dari Coca-Cola Amatil Group yang tersebar di enam negara, CCAI melihat komunikasi antarkaryawan menjadi sangat penting. “Kami percaya engagement driven success dan keberagaman pasar, kultur, dan tantangan di Amatil Group merupakan peluang yang ingin kami manfaatkan,” tambah Debbie.

Perluasan connectivity ini dilakukan melalui penggabungan intranet yang tadinya terpisah-pisah per negara. Selain itu, Amatil Group sejak tahun lalu telah mengadopsi Workplace by Facebook—platform sosial khusus korporasi. Melalui platform ini, komunikasi serta kolaborasi bisa diwujudkan dalam media yang lebih luas dan akrab dengan pengguna.

Subhan Novianda (Group IT Head, PT Puninar SaranaRaya).

Subhan Novianda (Group IT Head, PT Puninar Sarana Raya)

Mewujudkan Logistics on Cloud

Kondisi ekonomi global dan beberapa faktor di luar negeri kemungkinan besar masih akan memengaruhi bisnis logistik Indonesia, terutama untuk logistik global. Namun kondisi di dalam negeri pun menghadirkan cukup banyak tantangan bagi pebisnis logistik, seperti Puninar Logistics.

Subhan Novianda (Group IT Head, PT Puninar Sarana Raya) menyebut layanan logistik telah mengalami “komoditasi”. “Maksudnya jasa logistik semakin murah karena semakin banyak perusahaan logistik [bermain di sana],” ujar Subhan. Tak pelak, sektor logistik pun menjadi kawasan red ocean alias sarat kompetisi, bahkan hiperkompetisi.  

Dalam persaingan bisnis, Puninar juga harus berhadapan dengan model-model bisnis baru yang ditawarkan logistics startup. “Di mana mereka melakukan on-demand logistics, seperti Go-Box, Kargoku, dan Kargo.co.id,” jelas Subhan, seraya menambahkan kondisi infrastruktur Indonesia menjadi salah satu dalam daftar tantangan yang harus dihadapi perusahan logistik di nusantara ini.  

Namun syukurlah perekonomian Indonesia terus tumbuh dan memutar roda bisnis logistik. Subhan juga melihat kini makin banyak perusahaan sudah menyadari keutungan mengalihkan logistics operation-nya ke pihak ketiga. “Selain mempermudah internal operation, [outsourcing logistic] juga dapat mengurangi biaya dan memindahkan resiko,” ujar Subhan memaparkan alasan perusahaan memilih layanan outsourcing logistik.

Bagaimana teknologi informasi menjawab tantangan maupun menjemput peluang tersebut? TI, menurut Subhan, membantu bisnis sebagai pendukung aktivitas operasional dan business enabler. Misalnya dengan melakukan otomatisasi proses, mengurangi biaya operasi, dan memudahkan kontrol serta monitoring terhadap aktivitas operasional. “Bahkan TI memungkinkan adanya sebuah layanan baru,” imbuh Subhan.

Namun secara umum, tugas TI Puninar saat ini adalah mendorong logistics business transformation. “Yang ujungnya bisa berupa proses baru yang lebih baik atau layanan baru yang diterima pelanggan,” tandas Subhan.

Salah satu wujud transformasi tersebut adalah merealisasikan “Logistics-on-Cloud”, yakni dengan mengimplementasikan ERP Cloud, Transportation Management System-on Cloud, dan Warehouse Management System-on-Private Cloud.

“Kami juga memindahkan data center ke private cloud,” jelas Subhan. Menurutnya, langkah beralih ke cloud ini akan membantu perusahaan meningkatkan kelincahan (agility), fleksibilitas, dan mengurangi biaya capital expenditure.

Dewi Aryani (Kepala Divisi Teknologi Informasi, PT Asuransi Jasa Indonesia (Persero)).

Dewi Aryani (Kepala Divisi Teknologi Informasi, PT Asuransi Jasa Indonesia (Persero))

Mengatasi Tantangan Integrasi

Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) optimis pertumbuhan premi asuransi umum akan tumbuh sebesar 10-15% pada tahun 2017, seiring optimisme Pemerintah RI yang memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih tinggi, yakni 5-5,4%. Ini tentu menjadi peluang besar bagi perusahan asuransi umum, seperti PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) untuk mengembangkan pasar dan produk.

“Yang menjadi isu hangat adalah dukungan teknologi informasi untuk pencapaian target itu,” ujar Dewi Aryani (Kepala Divisi Teknologi Informasi, Jasindo). Menurut Dewi, hampir semua tender memprasyaratkan adanya aplikasi online untuk proses business-to-business-nya, terutama untuk mempemudah proses administrasi.

Artinya tim TI Jasindo harus menyiapkan infrastruktur, memastikan keandalan sistem, dan mengembangkan aplikasi. “Contohnya, AP1, AP2, dan ASDP sudah minta kami buatkan aplikasi untuk klaim. Bahkan Pegadaian menginginkan mulai dari proses akseptasi, mulai dari permintaan application form atau Surat Permintaan Penutupan Asuransi sudah by system,” jelas Dewi.

Tantangan integrasi sistem juga agaknya akan dihadapi oleh Jasindo. “Misalnya, kalau line of business kendaraan bermotor, maka kami harus siap mengintegrasikan sistem Jasindo dengan leasing dan mungkin buat aplikasinya juga,” imbuh Dewi Aryani.

Aturan skema gross split untuk bagi hasil pada kontrak kerja sama migas atau production sharing contract yang akan diterapkan SKK Migas juga sedikit banyak akan berpengaruh pada Jasindo, yang memiliki pangsa pasar cukup besar di sektor migas.

Lagi-lagi, Dewi dan timnya harus menyiapkan integrasi sistem yang andal ke setiap Kontraktor Kontrak Kerja Sama (K3S) Migas. “Kalau kami nggak bisa fulfil itu, kami nggak bisa dapat project-nya,” tandas Dewi.

Integrasi sistem juga menjadi perhatian utama jika isu strategis berupa pembentukan holding perusahan asuransi umum direalisasikan pada tahun ini. “Terutama di sistem ERP ketika kami harus mengonsolidasikan laporan, harus bisa ditarik semua,” jelas perempuan yang berpengalaman menangani bisnis di kantor cabang ini.

Menghadapi tantangan tersebut, Dewi Aryani bersyukur karena timnya telah melakukan re-engineering terhadap core application Jasindo sehingga lebih modular dan adaptif terhadap kebutuhan multiplatform.

“Kami sudah menggunakan ESB atau enterprise service bus sehingga nggak harus coding lagi ketika harus terhubung dengan platform yang berbeda,” papar Dewi seraya menyebutkan data warehouse dan implementasi CRM sebagai PR-nya di tahun ini.

M. Kuncoro Wibowo (Direktur Komersial & Teknologi Informasi, PT Kereta Api Indonesia/KAI). [Foto: Abdul Aziz/InfoKomputer]

Kuncoro Wibowo (Managing Director Commercial & Information Technology KAI)

TI Jadi Garda Terdepan KAI

Setelah melakukan transformasi teknologi informasi secara besar-besaran sehingga dapat menyuguhkan layanan yang modern dan aktivitas operasional yang efisien, PT Kereta Api Indonesia (KAI) terus menggeliat. Era digital kini menjadi perhatian perusahaan yang telah berusia 71 tahun itu.

“Tantangan kami tahun ini adalah penumpang yang mostly sudah digital. Keinginan mereka untuk mendapatkan tiket secara real time, keinginan mendapatkan layanan yang mungkin tidak pernah terpikirkan oleh kita sebelumnya,” ujar M. Kuncoro Wibowo (Direktur Komersial & Teknologi Informasi, PT KAI) seraya menyebut tantangan digitalisasi itu sebagai sangat luar biasa.

Kendati PT KAI merupakan satu-satunya penyelenggara layanan railway di Indonesia, persaingan dengan moda transportasi lain tetap menjadi tantangan. Gebrakan berupa layanan baru PT KAI yang mungkin belum pernah ada sebelumnya di sektor transportasi adalah door to door service. Kalau selama ini penumpang diantar kereta api dari stasiun ke stasiun, “Nantinya kami akan antar penumpang dari rumah ke rumah!” jelas Kuncoro penuh semangat.

Bagaimana caranya? Di sinilah teknologi informasi memainkan perannya. Melalui aplikasi, selain memesan tiket,  penumpang kereta api dapat melakukan pre order taksi, makanan, porter, hotel/akomodasi, bahkan pre order oleh-oleh. “Jadi istilahnya penumpang tinggal bawa badan,” imbuh Kuncoro.

Entertainment on train juga akan tersedia melalui pemasangan Wi-Fi hotspot di gerbong-gerbong kereta. “Harapan kami, perjalanan jarak jauh penumpang akan menyenangkan, nyaman, santai, dan cerita,” ujarnya.

Mengomandani divisi Komersial, Kuncoro Wibowo juga menghadapi tantangan di angkutan barang. Namun, kali ini PT KAI tidak perlu reinventing the wheel karena best practice dalam membuat sistem untuk angkutan penumpang dapat dijadikan acuan. Langkah yang akan ditempuh Kuncoro antara lain memudahkan tracking barang dengan menggunakan teknologi barcode.

“Kami juga akan membuat aplikasi angkutan barang untuk [pengangkutan] batubara di Sumatra Selatan. Saya rasa ini penting sekali untuk manajemen karena selama ini kami belum dapatkan data host to host,” jelas Kuncoro.  

Ada dua proyek TI yang cukup besar di tahun ini, yaitu membangun data warehouse untuk memenuhi kebutuhan data analytics; dan membangun data center kedua PT KAI yang rencananya akan berlokasi di Surabaya. Dengan dukungan TI, PT KAI berharap dapat merealisasikan target pendapatan 2017 sebesar Rp6,3 triliun dari angkutan barang dan Rp5,2 triliun dari angkutan penumpang.

Achmad Royhan, VP Information Technology, Citilink Indonesia.

Achmad Royhan (Vice President of Information Technology, Citilink)

Melanjutkan Peran Digital

Giatnya Pemerintah RI membangun infrastruktur, termasuk di sektor transportasi udara, membuka peluang tersendiri bagi industri penerbangan.

Hal ini diakui Achmad Royhan (Vice President of Information Technology, Citilink) yang menganggap infrastruktur dan transparansi dari regulator menjadi tantangan sekaligus peluang di tahun 2017 ini. “Bila regulator dan operator bekerjasama memperkecil gap tersebut, akan terjadi persaingan usaha yang kompetitif di industri ini,” ungkap pria lulusan Stikom Surabaya ini.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Royhan menunjuk perlunya setiap stakeholder untuk duduk bersama. “Kita harus terbuka membahas potensi masa depan dari industri airline ini,” tambah Royhan. Setelah itu, semua strategi didokumentasikan dan dilacak perkembangannya. “Tentunya dengan melibatkan CIO, bukan hanya CEO atau COO,” tambah Royhan.

Selain di sisi strategi, Royhan juga melihat tantangan Citilink saat ini adalah melanjutkan strategi digital sebagai core of business. Ada tiga fokus utama Citilink di bidang digital, yaitu channel integration dan mobile-first, digital platform dan product, serta business intelligence (BI).

Tiga fokus ini yang kemudian membentuk prioritas tim TI Citilink di tahun 2017 ini. “Kami akan fokus pada perluasan distribution channel, customer experience, serta penggunaan data pada seluruh elemen kerja di Citilink,” pungkas Royhan.

Sandra Ng (Group Vice President, Practice Group, IDC Asia Pacific), dalam acara VMware CIO Leadership Forum 2017 di Singapura. [Foto: Liana T/InfoKomputer]

SINGAPURA, InfoKomputer – Transformasi digital bukan sekadar mendigitalisasi korporasi. Transformasi digital adalah mengubah cara perusahaan dan organisasi beroperasi, berinteraksi, dan berinovasi. Dan satu-satunya cara untuk menjadi yang terdepan dalam transformasi digital adalah dengan menjadi digital native enterprise.

“Pada dasarnya, digital native adalah seseorang yang lahir dan dibesarkan di era teknologi digital, sehigga ia begitu akrab dengan komputer, internat, dan digital tool. Dan digital native enterprise adalah enterprise yang jajaran eksekutif maupun karyawannya memercayai, berpikir, dan bertindak seperti seorang digital native,” papar Sandra Ng (Group Vice President, Practice Group, IDC Asia Pacific).

Untuk menjadi sebuah digital native enterprise, karakter digital native harus tertanam dalam DNA perusahaan. Dan bertransformasi menjadi digital native enterprise disebut Sandra Ng sebagai cara untuk meraih posisi terdepan di era ekonomi digital. Bagaimana caranya?

Dalam acara CIO Leadership Forum 2017 yang digelar VMware di Singapura tanggal 3 – 4 Mei 2017 lalu, Sandra mengemukakan digital native enterprise framework yang dapat membantu perusahaan mengakselerasi perjalanan transformasi digitalnya.

[BACA: VMware Ingin Patahkan 5 Mitos di Dunia TI]

Framework yang disusun oleh IDC ini mencakup enam elemen. Elemen pertama mengharuskan perusahaan memahami perubahan model bisnis, “Ada perubahan business model dalam setiap digital disruption yang terjadi,” ungkap wanita yang telah berkecimpung selama 20 tahun di bidang konsultasi teknologi ini.

Sampai dengan tahun 2020 nanti, separuh dari top 1000 perusahaan di Asia akan menggantungkan kesuksesan bisnisnya pada kemampuan menciptakan produk, layanan dan pengalaman yang dimampukan (digitally-enabled) dan ditingkatkan secara digital (digitally-enhanced).

Elemen kedua adalah memahami strategi dan visi transformasi digital, serta mengukur tingkat kematangan organisasi dalam menjalankan transformasi digital.

Di bagian ini, Sandra Ng menyarankan para pemimpin TI memerhatikan sepuluh teknologi akselerator transformasi digital: cloud, mobility, big data analytics, social, IoT, next generation security, 3D printing, VR/AR, cognitive AI, dan robotics. Sementara dari sisi kemahiran, ada macam mastery yang sebaiknya dikembangkan: leadership mastery, relationship mastery, information mastery, operational mastery, dan talent mastery.

Elemen ketiga mengharuskan perusahaan memerhatikan struktur organisasi untuk mendukung transformasi digital. Idealnya, the dream team untuk transformasi digital harus mencakup CEO, CTO, CDO, COO, CIO, dan CFO.

Khususnya untuk CIO, Sandra menekankan bahwa perjalanan menuju digital native enterprise membutuhkan pemimpin TI yang mampu berpikir strategis. Strategic CIO tidak hanya mampu melakukan modernisasi terhadap departemen maupun lingkungan TI perusahaan, tetapi juga dapat menjadi penasihat bagi jajaran manajemen, khususnya tentang teknologi-teknologi terkini.

Inovasi adalah elemen penting dalam transformasi digital dan untuk menjadi digital native enterprise, perusahaan harus mampu menciptakan portofolio inovasi yang berimbang. Di era digital ini, inovasi seringkali diasosiasikan dengan disruptive innovation padahal ini yang paling susah diimplementasikan. Oleh karena itu Sandra menyarankan perusahaan untuk tidak hanya fokus pada inovasi disruptif.

Elemen keempat berbunyi perusahaan harus dapat menyeimbangkan antara inovasi yang bersifat incremental (optimalisasi atau peningkatan produk dan layanan yang sudah ada, dan pengalaman pelanggan); adaptif (inovasi untuk merespon perubahan yang datang dari pelanggan atau pasar); dan disruptif (inovasi untuk mengembangkan produk, layanan, dan pengalaman baru).

Mengenai elemen kelima, Sandra Ng mengatakan bahwa pengembangan produk atau product development juga harus dibenahi ketika sebuah perusahaan bercita-cita menjadi perusahaan berjiwa digital native. Dengan atribut yang berbeda antara pengembangan produk tradisional dan digital, proses tersebut akan sangat sangat berbeda.

Satu contoh saja, pengembangan produk tradisional mempertimbangkan fitur, harga dan ketersediaan sebagai fokus kompetitif. Sementara untuk produk digital, value untuk pelanggan menjadi lebih penting daripada tiga hal tersebut.

Elemen keenam adalah inisiatif dan storyboard bagi para CIO dalam memimpin transformasi digital. Ada lima langkah dalam storyboard tersebut. Dua langkah pertama sangat penting diperhatikan oleh para pemimpin TI: membuktikan departemen TI sebagai organisasi yang kredibel dalam mengelola TI dan menunjukkan kontribusi nyata departemen TI pada kinerja dan pertumbuhan bisnis

Pat Gelsinger (CEO, Vmware) dalam acara ASEAN CIO Leadership Forum 2017 di Singapura. [Foto: Liana T,/InfoKomputer]

SINGAPURA, InfoKomputer – Perkembangan dan perubahan teknologi informasi (TI) yang terbilang cepat, bahkan tak jarang bersifat disruptif, telah memicu timbulnya mitos-mitos seputar TI.

Berbicara di hadapan para Chief Information Officer (CIO) yang mengikuti acara CIO Leadership Forum 2017 di Singapura, Pat Gelsinger (CEO, VMware) menjawab lima mitos terkait tren terkini di bidang TI, seperti cloud dan mobility.

Mitos pertama mengatakan bimodal IT adalah strategi terbaik untuk menjalankan dan membangun organisasi TI dalam korporasi. “Berapa banyak CIO yang ingin menjadi bagian dari kelompok TI yang dianggap usang, lamban, dan terlalu mudah ditebak? Atau Anda ingin menjadi bagian dari kelompok yang keren, baru, inovatif, dan eksploratif?” tanya Pat.

Menghadapi tantangan bisnis saat ini, departemen TI harus menyatukan keduanya untuk memampukan organisasi berinovasi di setiap lini. Oleh karenanya, perusahaan atau organisasi membutuhkan infrastruktur yang dapat membantu mentransformasi sistem-sistem TI yang sudah dianggap usang dan membangun hal-hal baru.

“Kami katakan tidak pada bimodal IT, karena kita harus berinovasi di setiap bagian dari TI,” ujar pria yang telah lima tahun memimpin perusahaan dengan revenue tujuh miliar dolar AS itu.

Mitos kedua adalah segera pindahkan semua ke (public) cloud. “Anda tidak bisa mengoperasikan data center yang bagus, lupakan saja,” imbuhnya. Kalau ada ahlinya, mengapa harus repot? Kalau ada yang dapat mengambil alih biaya dan SLA, mengapa tidak?

Namun sebelum melakukan itu, Pat Gelsinger mengingatkan bahwa tugas utama pemimpin TI adalah memerhatikan soal biaya (cost), kinerja (performance), kepatuhan (compliance), dan privacy. Atau ia merumuskannya sebagai CP2 (baca: CP square). Di titik inilah, arsitektur hybrid cloud dibutuhkan karena arsitektur tersebut mampu memberikan hal-hal terbaik dari private maupun public cloud.

Semakin memfokuskan diri pada pengembangan hybrid cloud, VMware menawarkan cross cloud architecture untuk membantu organisasi atau perusahaan mentransformasi data center menjadi private cloud andal. “Kami membuat pusat data bisa bertindak dan beroperasi sebagai sebuah lingkungan cloud yang sangat terotomatisasi,” jelas mantan Chief Technology Officer Intel itu.

Menjalin kemitraan dengan penyedia public cloud ternama, seperti Amazon Web Services, IBM, dan OVH juga dilakukan VMware untuk memampukan pelanggan memanfaatkan kelebihan public cloud, misalnya skalabilitas.

Di sisi lain, perusahaan enggan menggunakan private cloud karena sulit membangun dan mengoperasikannya. Untuk memudahkan hal itu, VMware menyediakan cloud foundation, solusi infrastruktur hyper-converged, dan solusi otomatisasi cloud.

Kerja sama VMware Cloud dan Amazon Web Services (AWS).

Mitos ketiga adalah keamanan siber atau cybersecurity. Pat Gelsinger mengibaratkan tugas keamanan informasi bak hamster yang tengah berlari cepat di roda berputar. “Anda berlari sangat cepat tapi tidak bergerak kemana-mana, Anda berlari semakin cepat tapi tetap saja tidak bisa menjadi yang terdepan (dalam hal keamanan),” ujarnya.

Apa buktinya? Data menyebutkan bahwa anggaran untuk TI meningkat hanya empat persen padahal pengeluaran untuk kebutuhan security mencapai 24 persen dari budget tersebut. Investasi besar-besaran dilakukan perusahaan untuk keamanan, tapi kerugian dan kebocoran tetap mereka alami. “Ada yang salah secara mendasar di sini,” jelas Pat.

Pat lantas menyarankan para pemimpin TI kembali ke tugas-tugas yang lebih penting, yaitu mengamankan aplikasi, data, dan pengguna. Sementara itu, urusan keamanan pada infrastruktur biarlah menjadi urusan VMware.

Pat menjanjikan solusi dan produk yang lebih aman misalnya dengan menyediakan mesin virtual terenkripsi, fitur enkripsi pada storage vSAN, micro segmentation pada jaringan virtual, dan sebagainya. VMware juga menggandeng penyedia platform keamanan terkemuka dan mengintegrasikan teknologi keamanan yang mereka miliki pada solusi infrastruktur VMware. Langkah ketiga adalah menerapkan cyber hygiene yang konsisten pada setiap solusi yang disediakan VMware.

Mitos keempat mengatakan bahwa enterprise mobility tidak aman dan user experience sangat menyebalkan. Dengan tren Bring Your Own Device yang semakin banyak diadopsi perusahaan, para karyawan berharap dapat menggunakan aplikasi dan perangkat mobile di lingkungan perusahaan  semudah serta sesimpel ketika mereka menggunakannya untuk keperluan pribadi.

“Adalah tugas kami untuk mengintegrasikan dan menyederhanakan lingkungan (mobility) dengan memadukan aplikasi, fitur identitas, manajemen, dan keamanan yang konsisten untuk mewujudkan (enterprise mobility) sesederhana pengalaman consumer tetapi dengan keamanan setingkat enterprise,” papar Pat Gelsinger.

Mitos kelima mengatakan bahwa semua aplikasi akan beralih ke container, semua infrastruktur yang sudah dibangun organisasi, dan vendor seperti VMware menjadi tidak relevan dengan masa depan. Tak mengherankan jika orang nomor satu di jajaran manajemen VMware ini berkata demikian karena teknologi container memang dipandang berpotensi “menghancurkan” bisnis para penyedia teknologi server virtualization, seperti VMware dan Microsoft.

Konsep container mirip dengan compute virtualization. Alih-alih memvirtualisasi server untuk membuat multipe operating system, container menawarkan alternatif yang lebih ringan. Container melakukan virtualisasi terhadap sistem operasi sehingga satu host tunggal dapat menjalankan beberapa workload sekaligus.

Pat Gelsinger tak menampik peran penting container di era aplikasi seperti saat ini. “VMware loves containers! Dan kami akan menggandeng dan menjadikan container sebagai kemampuan inti dari apa yang kami bangun untuk masa depan,” tegasnya.

vSphere Integrated Container (vIC).

Firma riset IDC memprediksi bahwa akan ada 10 kali lebih banyak container di masa depan. Menurut Pat, VMware pun tidak dapat memastikan teknologi container mana yang akan memimpin, tetapi VMware akan memastikan container bekerja dengan sangat baik di atas infrastruktur yang digunakan pelanggannya.

Kerja sama dengan dengan para penyedia teknologi container, seperti Docker dan Kubernetes, pun dijalin. Pada tahun 2016, VMware mengumumkan peningkatan pada vSphere Integrated Container (vIC) dengan mengintegrasikan Docker engine pada vSphere. VIC khususnya menyasar para developer yang menggunakan vSphere. Sementara untuk peminat container dalam mesin virtual tetapi bukan pengguna vSphere, VMware menyediakan Lightwave dan Photon.

Pada dasarnya, ada empat hal yang ditawarkan VMware, khususnya untuk membantu perusahaan melakukan transformasi digital: modernisasi data center menjadi private cloud; memanfaatkan kelebihan public cloud dengan memerhatikan optimalisasi biaya, performa, compliance, dan privacy; memberi keamanan andal dengan kenyamanan dalam mengadopsi BYOD bagi karyawan; menerapkan intrinsic security secara fundamental.

InfoKomputer CIO Forum with Indosat Ooredoo membahas topik keamanan TI di perusahaan, Rabu, 12 April 2017. [Foto: Abdul Aziz/InfoKomputer]

Pada akhir Maret lalu, terjadi sebuah kasus serangan siber (cyber attack) yang menimpa situs agen travel online Tiket.com. Peristiwa tersebut cukup menghebohkan karena diotaki oleh SH, seorang pemuda berusia 19 tahun dan hanya lulusan SMP.

Modusnya pun sederhana, SH mengaku berhasil meretas server Tiket.com serta mengambil username dan password yang dibutuhkan untuk masuk ke portal jual beli tiket maskapai Citilink. Setelah itu, ia menjual tiket pesawat curian itu dengan potongan harga sampai 60% melalui anak buahnya.

Akibat kejadian itu, Tiket.com harus menanggung kerugian Rp4,1 miliar, sedangkan Citilink merugi Rp1,9 miliar karena ada sejumlah orang yang membeli tiket dari sindikat peretas itu dengan melakukan pembatalan dan meminta refund.

Berpindah ke Amerika Serikat, pada bulan lalu, lebih dari 1.200 hotel yang tergabung di dalam jaringan InterContinental Hotels Group (IHG) menjadi korban peretasan yang berlangsung selama tiga bulan (29 September – 29 Desember 2016).

Serangan siber itu melibatkan malware yang menyasar data-data yang disimpan pada pita magnet di kartu kredit pelanggan hotel, antara lain nama pemilik kartu, nomor kartu, masa berlaku, dan kode verifikasi internal kartu.

Sebagai informasi, IHG adalah pengelola dari beberapa merek hotel ternama, antara lain InterContinental, Holiday Inn, dan Crowne Plaza. Dengan musibah ini, IHG menyusul jaringan hotel lainnya, seperti Hyatt, Hilton, Starwood, dan Trump Hotels, yang pernah menjadi korban serangan siber.

Tren Keamanan Siber

Kedua peristiwa di atas menunjukkan bahwa telah terjadi perkembangan pola kejahatan siber (cybercrime) dalam beberapa tahun terakhir.

Para penjahat siber tidak lagi mengincar sasaran-sasaran konvensional, semacam institusi keuangan dan perusahaan telekomunikasi. Mereka sudah memperluas target ke sektor-sektor industri lainnya, mulai migas, retail, e-commerce, pemerintahan, layanan kesehatan, sampai lembaga pemerintahan.

Laporan IBM X-Force Cyber Security Intelligence Index 2016 menyebutkan lima sektor industri yang paling rawan terkena serangan siber adalah: kesehatan, manufaktur, jasa keuangan, pemerintahan, dan transportasi.

Sedangkan dalam Global Threat Intelligence Report 2016 yang dirilis Dimension Data, sektor retail kini menempati urutan teratas pada daftar industri yang paling sering mengalami ancaman siber, menggeser sektor keuangan.

Data lainnya diungkapkan oleh Cisco Annual Cybersecurity Report 2017 bahwa lebih dari sepertiga dari 3.000 perusahaan yang disurvei mengaku telah mengalami security breach atau pembobolan keamanan pada tahun 2016. Walhasil, mereka harus kehilangan setidaknya 20 persen dari jumlah pelanggan, kesempatan bisnis, dan pemasukan.

Sementara itu, dari sudut pandang modus serangan siber, ransomware adalah salah satu yang terpopuler di samping spear phishing, mobile malware, dan DDoS (Distributed Denial-of-Service) dengan menggunakan jasa botnet.

Menurut data FBI, kerugian yang ditimbulkan oleh ransomware di seluruh dunia sepanjang 2016 mencapai lebih dari US$1 miliar dan bisa bertambah pada tahun ini. Penggunaan perangkat mobile di kantor juga mendorong makin gencarnya penjahat mengulik celah keamanan dan bug pada iOS, Android, dan Windows, serta aplikasi populer seperti WhatsApp dan Gmail agar bisa menerobos masuk ke sistem.

Meskipun demikian, modus serangan klasik yang berbasis e-mail, contohnya scam dan Business Email Compromise (BEC), juga makin tinggi frekuensinya. Pasalnya, jenis serangan seperti itu jauh lebih murah dan mudah dilakukan dengah iming-iming hasil yang cukup besar. Sebuah serangan BEC diperkirakan bisa menghasilkan paling tidak US$140.000, cukup bermodal umpan jebakan pada e-mail yang dikirimkan kepada karyawan-karyawan yang kurang waspada.

Gildas Deograt (Senior Information Security Consultant, XecureIT) mengisahkan salah satu kasus BEC yang pernah ia tangani. “Ada sebuah perusahaan ekspor impor yang sedang bertransaksi [lewat e-mail]. Pada saat akan mengirim uang, mereka menerima e-mail bahwa rekeningnya ganti pakai rekening bank baru. Akhirnya, mereka transfer ke rekening baru itu,” paparnya.

Ternyata, akun e-mail penerima sudah diretas oleh penjahat siber. Selama komunikasi soal transaksi antara kedua perusahaan berjalan, si penjahat hanya diam dan memonitor sambil memperhatikan gaya bahasa, cara menyapa, dan sebagainya. “Begitu pas jatuh tempo pembayaran, barulah mereka beraksi [dengan mengirim e-mail penggantian nomor rekening],” kata Gildas.

Gildas Deograt (Senior Information Security Consultant, XecureIT).

Berkaitan dengan risiko pembobolan internet banking dan mobile banking, Gildas mengaku telah menelitinya sejak tahun 2007, jauh sebelum perbankan ramai-ramai pindah ke layanan digital. Sayangnya, masih banyak bank yang belum mempersiapkan diri dalam menghadapi ancaman siber.

“Secara substansi, memang betul bahwa industri banking lebih aman [dari sisi kekuatan] daripada industri lain. Tetapi, dari teknik serangan yang ada saat ini kalau diberi skor 7 – 8,5, keamanan yang ada [di bank] mungkin baru 3 – 3,5,” ujar salah seorang perumus Badan Siber Nasional ini.

Gildas juga mengingatkan bahwa risiko serangan siber itu bukan hanya berdampak pada perusahaan dan nasabah atau pelanggannya, melainkan juga pada masyarakat luas. Dalam sebuah lokakarya di PPATK (Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan), ia pernah menemukan indikasi aliran dana hasil kejahatan siber yang digunakan untuk TPPU (Tindak Pidana Pencucian Uang) dan TPPT (Tindak Pidana Pendanaan Terorisme).

“Pencurian dana Rp10 miliar mungkin tergolong kecil dibandingkan aset perusahaan, tetapi bisa berbahaya untuk negara kita,” tuturnya.

Akar Masalah Sekuriti

Sebagian besar perusahaan yang telah mengeluarkan investasi sampai miliaran rupiah di bidang keamanan TI mungkin sudah merasa aman dari ancaman siber. Padahal, kenyataannya belum tentu.

Perusahaan tidak bisa bergantung begitu saja pada solusi sekuriti yang ditawarkan oleh berbagai vendor. Alih-alih memperkuat benteng pertahanan, penggunaan lebih dari enam produk keamanan pada saat bersamaan justru membuat celah keamanan kian besar. Manajemen sekuriti pun ikut bertambah rumit.

“Akar masalah itu sebenarnya kesadaran orang. Kebiasaan umum, kalau menemukan security warning, mereka akan klik continue. Bayangkan, hanya gara-gara satu klik, seluruh arsitektur keamanan yang luar biasa bisa bubar jalan,” tukas Gildas.

Gildas juga menyoroti para penyedia sistem dan teknologi yang kurang sigap merilis patch keamanan. Begitu tersedia, giliran perusahaan yang lambat dalam menerapkan patch tersebut.

“Banyak perusahaan bilang punya patch management, tetapi 98% critical patch-nya tidak di-update dalam satu bulan. Bahkan, rata-rata orang deploy patch baru itu setiap tiga bulan,” kata Gildas. “Sedangkan saat vendor merilis patch, penjahat bisa reverse engineering dua menit jadi dan bisa langsung mengeksploitasi [celah keamanan yang ditambal patch itu],” sambungnya.

Intinya, Gildas menekankan agar CIO dan penanggungjawab keamanan TI di perusahaan jangan lengah dan merasa percaya diri tidak bisa ditembus penjahat siber. “Karena di mindset para hacker, semua bisa! Tinggal soal waktu, biaya, dan usaha yang dibutuhkan untuk membobolnya,” tandas pendiri Komunitas Keamanan Informasi (KKI) ini.

CIO Bisa Dipidanakan

Berbicara isu keamanan tentu saja tidak bisa dilepaskan dari faktor regulasi. Dalam hal keamanan siber, aturan hukumnya telah diuraikan pada Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) yang diterbitkan Pemerintah Indonesia sejak tahun 2008.

Beberapa pasal yang menyangkut kejahatan siber antara lain Pasal 27, 28, 29 (tentang konten ilegal dan penghinaan/pencemaran nama baik), Pasal 30 (akses ilegal), Pasal 31 (intersepsi/penyadapan ilegal), Pasal 32 (gangguan terhadap data), Pasal 33 (gangguan terhadap sistem), dan Pasal 34 (penyalahgunaan alat dan perangkat).

Sayangnya, persepsi sebagian masyarakat Indonesia terhadap penjahat siber masih keliru. Peretas dianggap sebagai orang berbakat yang harus direkrut Pemerintah, bukannya dihukum.

“Ini berbahaya,” ucap Edmon Makarim (Pakar Hukum Teknologi Informasi dan Dosen Universitas Indonesia). “Kalau kita terlalu glorify penjahat, orang lain akan tertarik untuk jadi penjahat juga,” lanjutnya.

Edmon Makarim (Pakar Hukum Teknologi Informasi dan Dosen Universitas Indonesia).

Selain itu, Edmon mengingatkan bahwa dalam kasus kejahatan siber, kesalahan bukan hanya berada di pihak pelaku serangan, terutama kalau melibatkan pencurian data. Di mata hukum, perusahaan yang dicuri datanya pun bisa saja digugat ke pengadilan. Apa sebabnya?

Edmon menjelaskan bahwa secara konstitusi, kaidah dasar sistem elektronik adalah tidak aman. Selaku penyelenggara sistem, perusahaan berkewajiban menyediakan teknologi yang membuat sistem itu menjadi aman. Apabila kewajiban itu tidak ditunaikan dengan baik, risiko keamanan bisa muncul dan membahayakan pengguna sistem. “Dan siapa yang menciptakan risiko terhadap pihak lain, dia yang bertanggungjawab atas konsekuensi risiko itu,” tukasnya.

Pada umumnya, tanggung jawab keamanan TI pada suatu perusahaan diemban oleh CIO atau CISO (Chief Information Security Officer). Oleh karena itu, seorang CIO dapat dituntut secara pidana atau perdata, misalnya jika ia mengetahui adanya lubang keamanan pada sistem atau software di perusahaan, tetapi tidak segera melaporkan dan menanganinya.

Keamanan Informasi di Mata CIO

Keamanan informasi senantiasa mendapat perhatian dan prioritas tinggi di lingkungan korporasi. Tak jarang, sebuah perusahaan mengimplementasikan solusi paling mumpuni sebagai langkah antisipasi mengamankan informasi.

Namun, faktor manusia sebagai sambungan terlemah dalam rantai sekuriti (the weakest link in the security chain) masih kerap terjadi. Awareness atau kesadaran di tingkat manajemen maupun pengguna ternyata masih menjadi pangkal persoalan keamanan informasi. Hal tersebut mengemuka dalam acara InfoKomputer CIO Forum, ajang diskusi para pemimpin dan pakar TI yang berlangsung bulan April lalu di Hotel Pullman Thamrin, Jakarta.

Pada zaman sekarang, kehilangan notebook atau perangkat mobile lainnya mungkin tak terlalu mengkhawatirkan pengguna karena vendor sudah menyediakan fitur-fitur proteksi untuk melindungi data dan memblokir perangkat secara fisik. Namun, ternyata itu tak sepenuhnya benar. Setidaknya itu yang dialami Faisal Yahya (Head of IT, PT IBS Insurance Broking Service).

Ketika seorang karyawan IBS kehilangan notebook, awalnya semua mengira situasinya akan aman saja. Dengan fitur proteksi pada notebook tersebut, perangkat secara otomatis terblokir sehingga kecil kemungkinan sang pencuri bisa memanfaatkan notebook berikut isinya. Namun entah bagaimana caranya, si pemilik notebook menerima SMS berisi URL address untuk melepas blokir perangkat yang hilang tersebut dan memasukkan password yang diminta.

Faisal Yahya (Head of IT, PT IBS Insurance Broking Service).

Menurut Faisal, sang karyawan sebenarnya termasuk orang yang memiliki pengetahuan cukup tentang keamanan informasi. “Tapi, dia emosional dan langsung mengeklik tanpa berpikir bahwa itu phishing,” imbuhnya. Dari contoh itu, tak salah jika kemudian ada yang berpendapat bahwa sebuah infrastruktur keamanan informasi di lingkungan korporasi yang mungkin nilainya mencapai ratusan ribu dolar bisa “dimandulkan” begitu saja oleh ketidakmengertian pengguna.

Contoh lain dikemukakan oleh Danny Natalies (Head of IT, Atma Jaya). “Di kampus, ada user yang sering lupa logout pas jam istirahat. Bagaimana misalnya di situ ada tenaga outsource yang adiknya kuliah di situ. Di sisi teknologi kami bisa proteksi, tapi kalau user tidak aware bagaimana?” cetus Danny.

Rudy Kosasih (General Manager IT, PT Mayora Indah, Tbk.) juga harus terus menerus menghimbau para customer agar berpikir lebih kritis. Upaya ini ia tempuh setelah perusahaan yang bergerak di bidang food manufacturing dan distribution itu beberapa kali mengalami serangan keamanan.

Salah satunya adalah upaya mengalihkan aliran transfer pelanggan dan mitra Mayora melalui Business E-mail Compromise.  “Seringkali customer lebih easy going, nggak terlalu care dengan hal-hal seperti ini,” ungkapnya tentang pelanggan dan mitra, khususnya yang berada di luar Indonesia.

Sementara itu, langkah Kustinah Kusnadi menerapkan keamanan informasi di lingkungan internal maupun eksternal PT Mitsui Leasing Capital Indonesia mengundang komplain dari pengguna yang merasa berkurang kenyamanannya.

“Karena sekuriti yang kami terapkan di sini, baik e-mail, inernet, WiFi tidak hanya di komputer desktop atau laptop, tetapi juga perangkat pribadi,” jelas wanita yang menjabat IT Division Head itu. Padahal, implementasi tersebut tak lepas dari keharusan mematuhi aturan-aturan untuk lembaga keuangan yang dikeluarkan oleh OJK.

Kurangnya Perhatian Manajemen

Menurut Eka Suharto (IT Division Head, Adaro Energy), keamanan informasi sebenarnya sudah menjadi masalah global yang diketahui jajaran manajemen korporasi. “Tapi terkadang mereka tidak aware atau tidak menghubungkannya dengan policy perusahaan,” ujar Eka.

Walhasil, ketika jajaran manajemen disodori misalnya biaya pelatihan atau biaya pembelian solusi terkait keamanan informasi, mereka serta merta menganggap keamanan sebagai cost. “Kita harus pintar-pintar menyajikan benefit dan revenue yang bisa dijaga. Oke, kita akan keluarkan sebesar X tapi keuntungannya bisa 30X. Nah, itu baru bisa dapat tanda tangan,” ujar pemenang InfoKomputer CIO Awards 2015 itu setengah berkelakar.

Alotnya memperoleh lampu hijau dari jajaran manajemen untuk menerapkan keamanan informasi juga dirasakan Indosat Ooredoo. “Problem terberat adalah mendapat approval dari CFO,” ungkap Budiharto (Group Head Business Product, Indosat Ooredoo). Umumnya, investasi di bidang sekuriti baru disetujui sesudah ada kejadian. “Setelah investasi pun, CFO akan nanya, bakal terjadi lagi nggak [serangannya]?” imbuh Budiharto.

Keinginan menggebu-gebu untuk memanfaatkan peluang di arena e-commerce, menurut Yunan Fatoni (Head of IT, Lee Cooper), membuat platform belanja online milik perusahaan retail fashion itu sempat dijalankan dengan sistem keamanan preventif yang minimal. “Waktu itu karena keinginan yang kuat, kami jalan dulu saja, lihat nanti [risikonya],” cerita Yunan.

Setelah bisnis e-commerce-nya berjalan selama dua tahun dan mencapai dua persen dari total growth Lee Cooper, Yunan mengakui mulai ada yang coba-coba menerobos sistem keamanan. “So far yang kami temui masih hacker yang baik, hanya di-deface, diganti halamannya,” ujarnya lagi.

Menghadapi aneka ancaman keamanan terkini, Faisal Yahya juga menerapkan beragam cara. Phishing URL menjadi perhatian utama Faisal, terutama ketika pengguna mengakses dari luar jaringan dan firewall kantor. “Solusinya adalah kami ubah URL tersebut, ketika masuk ke dalam mail server kami lakukan perubahan, kami tambahkan parameter tertentu sehingga setiap diklik harus melalui URL yang lokasinya ada di lingkungan kantor,” paparnya.

Untuk menghadapi ancaman ransomware yang sedang marak saat ini, Faisal menerapkan teknik reversing encryption dan decryption terhadap file asli yang disimpan di server. “Kami gunakan public key dan private key encryption. Public key-nya kami simpan, jadi kami tinggal reverse dengan file-file orisinal yang sudah disimpan,” ujar Faisal.

Pengalaman menarik lainnya diutarakan Lucky Ida Royani (Corporate IT Division Head, PT Bakrieland Development, Tbk.) terkait serangan DDoS. Uniknya, serangan itu ditengarai sebagai dampak dari perseteruan antara Bakrie Group dan salah satu investornya, Rothschild.

“Entah kebetulan atau tidak, pada waktu itu, kami secara masif mengalami serangan siber dari berbagai negara. Sepertinya mereka menanam aplikasi pada server-server di Asia dan Eropa yang terus-menerus 24 jam menyerang server kami selama satu bulan,” Ida mengisahkan.

Untungnya, upaya DDoS itu tidak sampai mengakibatkan downtime yang cukup lama. Namun, performa sistem di perusahaan, khususnya e-mail dan internet, terdampak penurunan performa yang cukup parah.

“Akhirnya, kami memutuskan untuk whitelist [server-server] yang memang membutuhkan koneksi kepada kami selama periode tertentu sampai situasinya kondusif, sambil kami tingkatkan policy dan pengamanan, seperti firewall dan antivirus, serta edukasi pengguna,” tukas Ida.

Meningkatkan Kesadaran

Dari berbagai pengalaman tersebut, para pemimpin TI yang berkumpul dalam acara CIO Forum yang digelar InfoKomputer bersama Indosat Ooredoo itu mengemukakan beberapa cara untuk meningkatkan kesadaran pengguna maupun manajemen.

Berada di tengah perusahaan yang berupa kelompok usaha dengan berbagai bidang usaha, Eka Suharto harus meningkatkan kesadaran tidak hanya di lingkungan holding, tetapi sampai ke level subsidiary dan jajaran manajemennya.

“Selain itu, dari sisi SDM, kami juga harus menyiapkan kompetensinya karena kalau dulu sekuriti hanya tentang firewall, sekarang sudah berkembang,” jelas Eka. Kesiapan kompetensi ini sebagai bagian dari melengkapi proses atau tahap-tahap untuk menangani keamanan informasi, termasuk melengkapinya dengan tools agar pekerjaan-pekerjaan manual dapat dikurangi.

Eka Suharto (IT Division Head, Adaro Energy).

Sementara itu, untuk memperoleh dukungan manajemen, Budiharto memilih untuk memfokuskan pada upaya perlindungan aset terpenting perusahaan. “Kami lihat itu adalah data atau informasi. Ya sudah, kami buatkan journey data tersebut, mulai dari creator sampai ke user. Lalu kami mapping solusinya serta kami lihat probablitas [gangguan kemanan itu] sering terjadi di mana. Dari situ kami buat fase-fase implementasi untuk reduce risk di A, di B, di C dan seterusnya,” ujarnya panjang lebar.

Menangani keamanan informasi di lingkungan kampus dan rumah sakit Atma Jaya, Danny Natalies harus menerapkan strategi yang berbeda dari rekan sejawatnya di lingkungan koporasi. Misalnya ketika ia terbentur pada user-user yang secara akademis atau profesi memiliki klasifikasi tinggi. “Solusinya, kami harus mingle, datangi para user ini satu per satu, dan menjelaskan kepada mereka. Lalu kami jadikan mereka champion [dalam implementasi sistem ini],” ungkap Danny.

Danny juga harus secara komprehensif merangkul semua pihak yang terlibat untuk memastikan agar aspek prosedur, proses bisnis, dan kepatuhan (compliance) sesuai dengan standar sekuriti yang diterapkan.

PT Prudential Life Assurance Tbk. juga sangat berhati-hati dengan keamanan informasi karena perusahaan asuransi ini mengelola dana milik nasabah. “Ada tiga aspek yang menjadi perhatian kami yakni dari sisi teknologi, policy dan prosedur, dan user behavior,” jelas CIO-nya, Iskak Hendrawan.

Dari sisi kebijakan dan prosedur, sudah ada tata cara penggunaan teknologi sehingga pengguna tidak boleh sembarangan menggunakan aset perusahaan. “Dan ketika ada situasi di mana tidak sesuai dengan standar dan prosedur, akan ter-register dan sifatnya auditable,” ujarnya.

Dari sisi teknologi, menurut Iskak, rata-rata FSI memilih bersikap “paranoid”. Misalnya, Prudential memasang tiga tier firewall. Aneka macam sistem pengamanan juga diterapkan untuk menjaga keamanan di sisi endpoint. Sedangkan dari aspek user behavior, Iskak dan timnya bekerja sama dengan tim risk management untuk mengkomunikasikan awareness dalam penggunaan teknologi dan infrastrukturnya.

Sebagai kata pamungkas, Eko Indrajit (Chairman, Asosiasi Perguruan Tinggi Informatika dan Komputer/APTIKOM) menyimpulkan enam elemen penting di dunia keamanan siber dalam Cyber Six, yaitu Cyberspace, Cyber Threat, Cyber Attack, Cybersecurity, Cybercrime, dan Cyber Law. Keenamnya adalah siklus yang saling berhubungan satu sama lain.

“Memandang security saat ini harus komprehensif, jangan hanya melihat sepotong-sepotong. Cari solusi yang terintegrasi dan terbuka untuk bekerjasama dengan partner,” pungkasnya.

Pengalaman Indosat Ooredoo Mengelola Keamanan Informasi

Di dunia industri, ada dua institusi yang dikenal tangguh dalam menjaga keamanan TI, yaitu keuangan dan telekomunikasi. Wajar saja, mengingat kedua sektor itu berurusan langsung dengan data-data pribadi nasabah atau pelanggan.

Mereka wajib berusaha ekstra demi melindungi data dari pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab. Jika sampai terjadi peretasan atau kebocoran data secara masif, konsekuensinya fatal. Reputasi bisa tercoreng dan para pelanggan kabur. Belum lagi tuntutan hukum yang menanti.

Sebagai perusahaan telekomunikasi yang sudah berdiri lebih dari setengah abad, Indosat Ooredoo tentu saja sudah sangat ahli dalam mengelola keamanan informasi. Namun, seiring perkembangan bisnis ke arah layanan digital, seperti aplikasi mobile, e-money, dan data center, Indosat Ooredoo pun menghadapi tantangan baru.

“Awalnya, sangat sulit menangani information security karena ada dua sisi, data dan orang yang menggunakan data itu,” kata Budiharto (Group Head Business Product, Indosat Ooredoo) yang berpengalaman membidani sistem TI Indosat Ooredoo. “Jadi, kami start dari aset yang paling berharga bagi perusahaan, yaitu data nasabah dan konfigurasi sistem,” lanjutnya.

Ia memaparkan bahwa perjalanan data secara garis besar terdiri dari tiga fase: data at rest (saat berada di server), data in motion (saat berada di jaringan), dan data in use (saat data dibuka oleh pengguna). Semua sisi itu harus dilindungi dan dikontrol.

“Kami bikin journey-nya dan memperkirakan apa saja yang bakal terjadi. Contohnya, saat data ada di server, kemungkinan diakses dari mana saja. Dari situ, kami buat fase-fase implementasi untuk reduce risk di A, di B, di C dan seterusnya,” ujar Budi.

Herfini Haryono (Director and Chief Wholesale and Enterprise Officer, Indosat Ooredoo).

Tantangan ini dilalui Indosat Ooredoo dengan sukses sehingga saat ini, mereka percaya diri untuk beralih peran. Bukan lagi sekadar pengguna, melainkan juga sebagai penyedia solusi Information Security kepada perusahaan-perusahaan lain. Inilah langkah selanjutnya dari transformasi model bisnis Indosat Ooredoo, dari telekomunikasi ke ICT partner.

“Sekarang kita bicara soal digital journey, setelah kami sosialisasi tentang data center, security is the next step. Paling tidak, kita mulai alert atau assess security [perusahaan], apakah sudah cukup aman,” ucap Herfini Haryono (Director and Chief Wholesale and Enterprise Officer, Indosat Ooredoo).

Alexander Rusli (President Director & CEO, Indosat Ooredoo) menambahkan bahwa transformasi digital dalam era bisnis modern adalah suatu hal yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Mau tidak mau, perusahaan harus berkolaborasi dengan new business yang sebetulnya mungkin belum punya keahlian sekuriti yang mumpuni.

Alexander Rusli (President Director & CEO, Indosat Ooredoo).

“Kami pernah bekerjasama dengan Facebook dalam program Internet.org untuk menyediakan akses internet gratis. Kombinasi closed loop dengan open loop, akibatnya sistem hampir crash. Kami sampai harus upgrade sistem dua kali. Tapi, konsumen cuma tahu internet gratis dan harus cepat,” Alex bercerita.

Alex mengungkapkan bahwa di awal peluncuran program Internet.org, sistemnya belum benar-benar aman dan terus muncul lubang keamanan baru. Namun, program harus tetap berjalan sambil terus menambal lubang-lubang itu.

“Itulah mengapa tugas CIO hari ini sangat sulit. Ada demand dari atasan untuk integrasi dengan sales channel, partner… nggak ada kata tunggu. They will tell you, ‘make it happen or I will fire you’,” tandas Alex.

Acara iCIO Exchange yang diadakan iCIO Community untuk mendengarkan resep sukses transformasi digital Telkom Group.

Transformasi digital adalah sebuah keniscayaan bagi perusahaan di era modern ini. Pasalnya, tidak ada satu sektor bisnis pun yang saat ini bisa dilepaskan dari peran penting teknologi informasi dan digital.

Namun, tidak semua perusahaan sudah mengerti dan mampu merencanakan strategi serta menerapkan eksekusi yang jitu dalam proses transformasi digital. Sehingga akan lebih baik bagi mereka untuk belajar dan menimba ilmu dari pemimpin teknologi lainnya yang lebih berpengalaman.

Salah satu dari perusahaan lokal yang terbukti sukses menggelar transformasi digital adalah PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk. atau Telkom.

Keberhasilan transformasi digital di Telkom ditandai dengan peningkatan pesat pada bisnis data, internet, dan TI selama tahun 2016 sebesar 31,5% dibandingkan 2015. Pemasukan dari bisnis ini mencapai Rp 42,99 triliun serta memberi kontribusi sebesar 37,0% dari total pendapatan Telkom tahun 2016.

Kontribusi pendapatan Telkom sepanjang 2016 sendiri didukung bisnis voice dan SMS seluler sebesar Rp54,48 triliun, lalu diikuti bisnis data, internet, & IT service sebesar Rp42,99 triliun, fixed line Rp7,54 triliun, interkoneksi Rp4,15 triliun, serta network and other telco services sebesar Rp7,17 triliun.

“Kesuksesan transformasi digital di Telkom bisa dicapai karena kami melihat inisiatif ini tidak semata-mata tentang teknologi, namun yang lebih fundamental adalah bagaimana kami juga melakukan transformasi proses bisnis, budaya kerja, fokus pada berbagai aktivitas yang benar-benar mampu memberikan nilai tambah serta komitmen untuk menghadirkan pengalaman terbaik bagi pelanggan,” papar Abdus Somad Arief (CTO dan CIO, Telkom Group).

Resep sukses transformasi digital di Telkom itulah yang diceritakan Abdus Somad kepada para CIO dan pemimpin teknologi yang tergabung dalam iCIO Community. Melalui program iCIO Exchange, para anggota iCIO Community bisa mendengar dan mendiskusikan berbagai tantangan dan kesuksesan strategi dari berbagai organisasi dalam menjawab tuntutan bisnis.

Melalui iCIO Exchange ini diharapkan para anggota iCIO Community dapat memperoleh referensi dan best practice terkait transformasi digital yang menuntut perubahan paradigma menyeluruh dari sebuah organisasi. Bukan semata melakukan digitalisasi proses bisnis, melainkan juga perubahan budaya kerja yang lebih fokus pada inisiatif dan aktivitas yang menghadirkan nilai tambah sehingga bisa menghadirkan pengalaman pelanggan yang terbaik.

“Atas nama iCIO Community, saya ingin menyampaikan penghargaan kepada Telkom karena telah berkenan berbagi pengalaman terkait transformasi digital yang sedang dan terus dilakukannya. Perjalanan dan pengalaman transformasi digital Telkom untuk mendorong perusahaan merealisasikan tujuan bisnisnya dapat menjadi benchmark bagi para CIO dalam menghadapi tantangan yang serupa,” ujar Agus Wicaksono (Chairman, iCIO Community).

Ingin mendengarkan pengalaman para CIO dan pemimpin teknologi dalam mengelola TI di perusahaannya? InfoKomputer secara rutin menggelar acara CIO Forum dan CIO Sharing yang mempertemukan para pemimpin teknologi untuk berdiskusi terkait topik-topik IT enterprise terhangat. Jika Anda tertarik, silakan kirimkan e-mail ke alamat: redaksi@infokomputer.com.

Marcy Klevorn (VP & CIO, Ford).

Pernahkah Anda membayangkan apa jadinya kalau produsen mobil ternama Ford mencoba memasuki layanan cloud dan robotika?

Jawabannya ada di kepala Chief of Information Officer (CIO) sekaligus Wakil Presiden Ford, Marcy Klevorn. Wanita berusia 57 tahun ini yakin Ford akan bertahan dengan masuk ke dua sektor itu, tanpa melupakan mobil sebagai produk utamanya. “Teknologi informasi mengantar Ford kepada business values,” kata Marcy.

Keputusan Marcy tentu saja didasarkan atas pertimbangan matang, setidaknya menyadari kenyataan pahit, bahwa persaingan di industri otomotif saat ini tidaklah mudah. Ia juga memahami keruhnya pasar mobil yang disebabkan oleh kemerosotan ekonomi global sejak tahun 2000, hingga mencapai puncaknya pada 2008-2010.

Krisis industri otomotif adalah bagian dari lesunya situasi keuangan global. Krisis ini menghantam produsen mobil di Eropa dan Asia. Namun yang sangat terpukul adalah produsen Amerika Serikat (AS) dan Kanada. Industri otomotif juga diperlemah oleh naiknya harga bahan bakar minyak, yang terkait dengan krisis energi 2003-2008. Hal tersebut berdampak pada turunnya angka penjualan mobil jenis SUV (sport utility vehicles) dan truk pickup yang haus bahan bakar.

Masalahnya, General Motors, Chrysler, termasuk Ford sangat sedikit membuat mobil-mobil berharga murah sekaligus hemat bahan bakar. Akhirnya Pemerintah AS menggelontorkan dana talangan (bailout) bagi beberapa perusahaan mobil AS, namun tidak untuk Ford. Ford sendiri menjatuhkan keputusannya dengan menerima dana pinjaman (loan) dari Pemerintah AS untuk memulihkan dirinya.

Bertahannya Ford dari guncangan, bagi Marcy, sesungguhnya bertumpu pada keberaniannya dalam mengubah budaya dan cara pandang perusahaan, termasuk tentu saja para karyawannya. Baginya itu yang teramat penting, bukan terobosan teknologinya.

CIO Non-Programer

Walaupun menjabat sebagai CIO sejak Januari 2015, latar belakang pendidikan Marcy bukanlah sistem informasi. Marcy lulus dari Universitas Michigan di bidang administrasi bisnis dan memulai berkiprah di perusahaan telekomunikasi AS, AT&T sebagai tenaga penjualan. Uniknya, selama bekerja di sana ia kerap bersentuhan dengan Ford. Maklumlah, Ford adalah salah satu konsumen AT&T.

Marcy sebenarnya memiliki ketertarikan amat kuat terhadap teknologi komputer. Itulah sebabnya ketika kuliah, ia mengambil kursus ilmu komputer dan meminati bidang pemrograman. Ketika bekerja di AT&T, ia juga mengikuti kursus singkat telekomunikasi selama enam bulan. Selama belajar itu, ia justru merasa bahwa bidang pemasaran kurang menantang jika dibandingkan cara mencapai solusi bisnis melalui penerapan teknologi tepat guna.

Tatkala “ditarik” oleh Ford pada tahun 1983, ia ditempatkan di divisi layanan telekomunikasi. Kemudian pada 2003-2006, Marcy bertanggung jawab menangani soal manajemen informasi data untuk kepentingan manajerial dan kepemimpinan, manajemen perputaran produk, serta divisi infrastruktur dan strategi untuk lingkup AS dan Eropa. Pada tahun 2006 itulah, Marcy berperan besar dalam perubahan infrastruktur manajemen teknologi informasi Ford.

Marcy diangkat sebagai Direktur TI Ford Eropa pada 2011. Baru pada tahun 2015, Marcy diangkat sebagai CIO menggantikan Nick Smither. Dialah CIO wanita pertama di Ford yang menakhodai lebih dari 11 ribu karyawan. Sebagai catatan, dari hasil penelitian Korn/Ferry International seperti dikutip dari Wall Street Journal, hanya ada sembilan belas persen wanita yang menduduki posisi CIO di perusahaan-perusahaan kelas wahid di AS.

Walaupun awalnya Marcy merasa agak gamang mengurusi kompleksitas teknologi informasi, namun ia cepat mempelajari situasi dan beradaptasi. Sampai akhirnya, ia memahami bahwa sesungguhnya teknologi informasi adalah ilmu tentang relasi antarmanusia, membangun kepercayaan, dan mengutamakan mencari kesepahaman, hingga berubah menjadi pencarian solusi.

Cara berpikir seperti itu ia ramu dari pengalamannya sebagai staf pemasaran di AT&T, tidak peduli apakah masalah yang dihadapi kecil atau besar.

Kolaborasi Bersama Pivotal

Langkah baru Ford ke bisnis cloud dibuktikan dengan berkolaborasi dengan Pivotal pada Juni 2016, sekaligus menyuntikkan dana segar senilai US$182,2 juta. Dengan dana sebesar itu, Marcy ditempatkan sebagai salah satu anggota Dewan Komisaris Pivotal, sekaligus menginisiasi pendirian laboratorium penelitian baru di AS, seperti di Dearborn, Detroit, dan Ann Arbot, termasuk di luar negeri seperti di Inggris.

Pivotal sendiri adalah perusahaan asal AS yang didirikan oleh Paul Maritz dan kawan-kawan. Pivotal mengembangkan CloudFoundry, sebuah peranti lunak platform as a service (PaaS) open source yang menyediakan layanan cloud, developer framework, dan layanan aplikasi.

Pivotal yang berdiri pada tahun 1990-an mengembangkan metodologi baru yang turut memengaruhi budaya pengembangan peranti lunak bagi perusahaan seperti Google, Twitter, dan eBay. Pivotal mengklaim “mengubah arah” kebijakan perusahaan-perusahaan besar dunia untuk bermigrasi ke teknologi cloud, seperti Allstate, Comcast, Humana, Mercedes-Benz, General Electric, Lockheed-Martin, Bakrie Telecom, dan Ford.

Di BMW misalnya, Pivotal dibayar untuk membuat analisis big data dengan tujuan menghasilkan prediksi tentang rentang waktu perawatan mobil produksi perusahaan mobil asal Jerman itu. Berkat Pivotal pula, Mercedes-Benz berhasil mengembangkan aplikasi yang bisa saling menghubungkan antarmobil kelas mewah buatan perusahaan itu.

Aplikasi Cerdas FordPass

Kepada www.cio.com, Marcy mengatakan, di Ford ia sedang membangun bimodal of information technology. Ini merupakan sebuah konsep yang menangani dua model distribusi teknologi informasi yang terpisah. Satu model berfokus pada stabilitas dan satu model lagi berfokus pada kelincahan (agility).

Salah satu penerapan konkret Ford dalam memberikan nilai tambah pada perusahaan adalah dengan merilis FordPass. Ini merupakan sebuah aplikasi mobile, yang tersedia di Android dan iOS, bagi pengguna mobil buatan Ford dan non-Ford.

Diluncurkan pada April 2016, dengan berkolaborasi bersama Pivotal, FordPass memungkinkan pengguna mobil melihat peta tempat parkir yang tersedia, lengkap dengan informasi tarif, sistem reservasi, dan pembayaran otomatis. Kemudian, dari jarak jauh, pengguna dapat menghidupkan, mematikan, atau mengunci mobil. Aplikasi ini juga menyediakan fitur car-sharing. Tujuannya, meminjamkan mobil Anda kepada pengguna lain. Ya, mirip seperti Grab dan Uber saat ini.

Ilustrasi robot Ford.

Selain di Pivotal, Ford juga berinvestasi dalam pengembangan teknologi robotika, seperti iRobot Ava 500, yang terlihat dalam satu adegan wawancara dalam film Snowden (2016). Robot ini difungsikan khusus untuk melakukan komunikasi jarak jauh secara audio visual. Ketika diperintah dari jarak jauh, robot akan bergerak menemui orang yang ingin diajak berbincang.

Misalnya, Anda adalah seorang manajer yang sedang berada di luar kota, tetapi Anda perlu “bertemu” dengan karyawan Anda yang sedang berada di kantin kantor. Setelah Anda memilih lokasi kantin yang dimaksud pada ponsel Anda, robot akan menghampiri karyawan yang dimaksud dan menampilkan wajah Anda di layar monitor.

Di benak Marcy, versi iRobot Ava berikutnya akan memegang peranan penting untuk meningkatkan pengalaman pelanggan (customer experiences) dan para calon pembeli mobil Ford. Kelak Anda dapat melihat mobil keluaran terbaru Ford di dealer secara langsung dari rumah dengan mengendalikan iRobot. Atau lebih hebat lagi, secara virtual Anda bisa menyaksikan proses pembuatan mobil itu di pabriknya, layaknya Anda berjalan-jalan langsung di sana.

Marcy Klevorn membuktikan kepada dunia bahwa meskipun memiliki latar belakang ilmu nonteknis, ia berhasil menyuntikkan teknologi di Ford. Bagi Marcy, kunci pemberdayaan teknologi informasi perusahaan adalah melakukan komunikasi secara mendalam dengan para karyawan divisi TI. Tujuannya, mengetahui secara pasti bahwa memang merekalah orang dengan kompetensi untuk menjalankan tugas-tugasnya.

Marcy menyebut itu sebagai tindakan komunikasi yang intensif, sambil menyimpulkan bahwa TI sejatinya adalah sebuah people business.

Video demo kolaborasi antara Ford Robot dan DJ Yoda:

TERBARU

Pengguna Instagram asal Indonesia masuk ke dalam lima besar negara yang paling sering menggunakan Instagram sebagai akun bisnis.