Tags Posts tagged with "cloud computing"

cloud computing

Chip AI Intel Nervana.

Intel menegaskan dukungannya terhadap pengembangan teknologi kecerdasan buatan dengan meluncurkan program Intel Nervana DevCloud kepada 200 ribu peneliti AI di seluruh dunia.

Nervana DevCloud merupakan layanan infrastruktur perangkat keras dan perangkat lunak berbasis cloud, diperkuat prosesor Intel Xeon paling mutakhir, dan disediakan gratis bagi para pengembang, ilmuwan data, akademisi, dan pelaku startup di bidang AI. Syaratnya, calon peserta harus lebih dulu mendaftarkan diri sebagai bagian dari Nervana AI Academy.

Artinya, para peserta program ini dapat melakukan proses riset dan melatih sistem machine learning dan deep learning buatan mereka dengan memanfaatkan sumber daya tak terbatas milik Intel. Mereka pun tak perlu lagi mengeluarkan biaya untuk membeli komputer dan aplikasi khusus.

Intel juga bekerjasama dengan Tata Consultancy Services (TCS) dalam membangun Artificial Intelligence Center of Excellence (CoE) guna mempercepat akselerasi dan realisasi ide-ide dari para pengembang dan akademisi terkait penggunaan AI.

“Untuk mendorong inovasi AI, Intel telah membuat investasi strategis bersama pelaku bisnis, pemerintah, akademisi, dan komunitas. Kami pun sudah menanamkan modal lebih dari US$1 miliar di perusahaan dan startup pengembang AI, seperti Mighty AI, Data Robot, dan Lumiata melalui portofolio Intel Capital,” ujar Brian Krzanich (CEO, Intel).

Sebagai informasi, portofolio Intel Nervana AI meliputi lini prosesor Intel Xeon Scalable, sirkuit terintegrasi FPGA, serta teknologi sensor Mobileye dan Movidius.

Nervana sendiri adalah pengembang perangkat keras dan lunak untuk kecerdasan buatan yang diakuisisi Intel tahun lalu dengan nilai lebih dari US$350 juta. Nervana didirikan pada tahun 2014 oleh Naveen Rao yang sekarang menjabat sebagai Corporate VP dan General Manager untuk Artificial Intelligence Products Group di Intel.

Ilustrasi peternakan sapi Chitale Dairy.

Maharashtra yang terletak di sebelah barat India mungkin menjadi tempat terakhir yang bakal dilirik ketika berbicara tentang implementasi teknologi terkini. Namun, siapa menyangka kalau negara bagian kedua terpadat penduduknya di India itu sukses menerapkan inisiatif berbasis cloud “Cows to Cloud” dan meraih manfaat berupa peningkatan kualitas ternak dan produksi susu?

Cerita kesuksesan itu datang dari Chitale Dairy, sebuah pabrik penghasil susu yang berlokasi di Palus, sebuah kota kecil di jantung Maharashtra. Menghasilkan 400 ribu liter susu per hari dan aneka produk olahan susu sapi, seperti cream, mentega, dan yogurt, peternakan milik keluarga Chitale ini menjadi basis bagi pasar produk-produk susu dan olahannya di Maharashtra.

Chitale Dairy mengelola sekitar 200 ribu ekor sapi. Namun dari jumlah itu, hanya seribu ekor yang ada di lingkungan peternakan. Sisanya dimiliki dan dipelihara di 10 ribu peternakan kecil yang tersebar di Maharashtra dan dikelola secara remote oleh Chitale Dairy.

Peternak tradisional pada umumnya memelihara hewan ternak di tanah miliknya dan sulit memperoleh akses informasi kesehatan ternak. Hal tersebut berpengaruh pada produksi dan kualitas susu sapi yang rendah, pengembangbiakan serta pengelolaan kesehatan hewan ternak yang kurang baik.

Padahal, jika dapat meningkatkan kesehatan hewan ternaknya, para petani dapat memperoleh susu yang lebih berkualitas dengan jumlah yang lebih banyak. Sapi yang lebih produktif akan memampukan para petani mengoptimalkan penggunaan lahan ternaknya. Mereka tidak perlu memelihara sapi dalam jumlah besar untuk meningkatkan produksi susu.

Ketika lahan peternakan bisa dioptimalkan, petani berpeluang memperoleh pendapatan tambahan dengan menanam tanaman pangan di lahan yang tersisa. Dengan pendapatan tambahan ini, para peternak dapa membiayai pendidikan anaknya. Berbekal pendidikan yang lebih baik, generasi muda di Maharashtra akan mendapat berbagai peluang baru.

Padukan Cloud dan SMS

Penerapan teknologi dalam bisnis ternak sebenarnya bukan hal baru bagi Chitale Dairy. Komputerisasi pertama kali diperkenalkan di lingkungan peternakan pada tahun 1984 oleh ayah dari dari Vishwas Chitale (CEO, CTO Chitale Dairy) dan manfaat nyatanya langsung dirasakan.

Untuk meningkatkan produksi susu dan kualitas ternak, Chitale Dairy dan para peternak satelitnya membutuhkan data, terutama data kesehatan setiap hewan ternak. Untuk itu, Chitale berupaya memberi kemudahan bagi para peternak untuk mengakses data tersebut melalui cloud.

Kemudahan akses ini dikemas dalam sebuah program yang diberi nama “Cows to Cloud”. Chitale Dairy memanfaatkan komputasi awan untuk memberi notifikasi tentang kesehatan dan potensi pengembangbiakan hewan ternak kepada para peternak di seluruh kawasan Maharashtra.

Petugas memeriksa data sapi-sapi di peternakan yang dikelola Chitale Dairy.

Bagaimana data tentang kondisi sapi dapat disimpan di cloud? Untuk mengoneksikan sapi ke cloud, Chitale Dairy memasang tag Radio-Frequency Identification (RFID) pada setiap hewan ternak. Setidaknya ada lebih dari 50 ribu ekor sapi milik para peternak satelit yang dipasangi tag RFID.

Data dari setiap ekor sapi, misalnya profil darah dan genetis, kebutuhan nutrisi, dan produksi susu, dikumpulkan dan dikirimkan setiap harinya secara otomatis ke data center milik Chitale Dairy. Data-data tersebut akan diolah dan diinterpretasikan oleh para ahli ternak dan dokter hewan di kantor pusat Chitale Dairy. Selanjutnya, informasi tentang kesehatan, pakan, dan pengembangbiakan ternak dikomunikasikan kepada para peternak.

Nah uniknya, salah satu ujung tombak dari teknologi cloud itu adalah short messaging system (SMS). Berbagai informasi tentang kondisi hewan ternak tersebut disampaikan ke peternak yang jumlahnya ribuan melalui pesan SMS. Peternak yang memiliki hanya lima maupun seratus ekor sapi sama-sama dapat mengakses informasi kesehatan hewan peliharaannya melalui situs web, SMS, atau menelepon langsung ke call center Chitale Dairy.

“Sangat efektif biaya dan mudah,” ujar Vishwas Chitale mengomentari pemanfaatan teknologi SMS dalam program Cows to Cloud ini. Setiap peternak memiliki telepon seluler. SMS karena itu adalah teknologi messaging paling sederhana yang pasti terpasang di telepon genggam.

Menurut Vishwas, cloud computing digunakan untuk membantu Chitale Dairy melakukan scaling terhadap sumber daya komputasi agar dapat menjangkau lebih banyak peternak. “Konsep ‘Cows to Cloud’ dicetuskan, di mana informasi dari setiap ekor sapi dapat tersedia di cloud dan dapat diakses melalui web maupun SMS oleh para peternak kami,” imbuhnya.

Di balik program “Cows to Cloud”, ada teknologi VMware yang membantu Chitale Dairy mentransfer data dari sapi ke cloud dan juga memindahkan lebih dari 25 aplikasi yang tergolong business-critical ke private cloud. Teknologi VMware tersebut sudah dilengkapi dengan fitur automated operations management, disaster recovery, dan software-defined security.

Selain mengembangkan sistem berbasis teknologi, Chitale juga menyediakan layanan veterinary care gratis. Tujuannya, agar para peternak dapat meningkatkan kualitas ternak dan memperoleh akses yang memadai terhadap tenaga ahli di bidang peternakan.

Selain menyediakan teknologi dan layanan gratis, Chitale Dairy juga memperhatikan komponen edukasi. Peternakan Chitale menawarkan kelas-kelas gratis kepada para peternak maupun karyawannya. Tujuannya adalah menginspirasi dan membekali para wirausahawan dengan kemampuan untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga dan masyarakat.

Chitale Dairy menggunakan solusi VMware untuk mengelola data yang dihasilkan oleh sapi-sapi milik para peternak.

Tingkatkan Produktivitas, Hijaukan Negeri

Berkat kemudahan memperoleh data yang dibutuhkan peternak untuk mengelola hewan-hewan ternaknya secara optimal, average yield setiap sapi dapat ditingkatkan.

Dengan sapi yang lebih produktif, peternak Maharashtra dapat mengurangi ketergantungan mereka terhadap jumlah sapi sampai sepuluh kali lipat. Dampak berikutnya adalah berkurangnya biaya untuk mengelola sapi dalam jumlah lebih besar demi mendapatkan tingkat produksi susu yang sama.

Berkurangnya jumlah sapi berarti berkurang pula luas area lahan ternak. Artinya, peternak berpeluang memanfaatkan lahan yang tak terpakai untuk menanam tanaman pangan.

Untuk menggarap peluang ini, Chitale telah menyiapkan program lainnya yang dinamai “Fields to Farms”. Program tersebut akan membantu peternak menanam dan mendistribusikan hasil pertanian melalui sistem koperasi sehingga pendapatan peternak/petani pun meningkat.

Pemanfaatan tanah untuk lahan pertanian juga diharapkan akan membuat India—setidaknya negara bagian Maharashtra—menjadi lebih hijau. Sementara itu, dengan kesehatan sapi yang lebih terjaga, kualitas susu yang dihasilkan pun akan menjadi lebih baik. Ini pada gilirannya akan meningkatkan kesehatan masyarakat.

Keluarga Chitale membangun bisnisnya di atas sebuah motto: “Give back to the community what you gain”, berikan kembali apa yang sudah diperoleh kepada masyarakat.

Seperti pebisnis lainnya, Chitale Dairy pun berkontribusi terhadap kesejahteraan masyarakat dengan memberi bantuan pada sekolah-sekolah dan membangun infrastruktur. Namun, transformasi ekonomi lokal yang sesungguhnya diciptakan Chitale Dairy melalui hal yang tak terduga: meningkatkan kesehatan dan produktivitas sapi.

Video Studi Kasus Chitale Dairy:

Guo Ping (Deputy Chairman of the Board & Rotating CEO, Huawei).

Huawei memaparkan strateginya menghadapi tantangan bisnis di era digital dan cloud computing yang serbacerdas dan terhubung dalam acara Huawei Connect 2017 di Shanghai, Tiongkok, Kamis (7/9).

Strategi Huawei ini mencakup inovasi dan solusi terbaru dalam aspek peranti keras, peranti lunak, data, koneksi, arsitektur data dan hybrid cloud.

Dalam inovasi peranti keras, Huawei memperkenalkan platform Atlas yang berbasis public cloud milik Huawei.

Atlas menghimpun berbagai komponen berupa GPU, HDD, dan SSD disertai intelligent orchestration guna memaksimalkan penggunaan public cloud, kecerdasan buatan (AI), dan high-performance computing (HPC). Platform itu menyediakan sumber daya infrastruktur secara on-demand guna memenuhi kebutuhan model layanan yang berbeda.

Pada inovasi peranti lunak, Huawei DevCloud akan mendukung berbagai perangkat, keahlian, dan layanan proses dalam Huawei Cloud, membagikan berbagai pengalaman Huawei dalam pengembangan kepada perusahaan.

Untuk inovasi data, teknologi enterprise intelligence (EI) Huawei Cloud tak hanya menawarkan platform services, seperti deep learning, analisis grafis, dan pencarian, namun juga layanan AI, seperti image taggingintelligent auditsgraph rebuilding, Optical Character Recognition (OCR), serta intelligent packing. Hal-hal itu mendukung perusahaan yang beroperasi dengan canggih.

Guna memenuhi kebutuhan perusahaan akan arsitektur Teknologi Informasi (TI) yang terdistribusi, Huawei memperkenalkan tiga layanan distributed database yang aman dan andal pada Huawei Cloud, termasuk LibrA (distributed OLAP enterprise data warehouse), Derecho (distributed OLTP enterprise database)dan Taurus (distributed MySQL database).

Pada inovasi koneksi, platform Huawei Cloud IoT merupakan platform full-stack yang meliputi SIM card managementdevice management dan application enablement layer dengan berbagai fitur untuk koneksi aman, ekosistem lintas industri dan integrasi yang mudah.

Solusi Hybrid Cloud

Dalam inovasi arsitektur, Huawei merilis solusi FusionCloud Stack dan memperkenalkan jasa enterprise storage dengan tingkat keandalan 99,9999%. Sebagai perluasan modul public cloud, FusionCloud Stack dapat dipakai dalam pusat data perusahaan alias on-premise. Jika jaringan gagal terhubung dengan public cloud, sistem lokal dapat melanjutkan ketersediaan layanan tersebut kepada perusahaan.

Solusi ini menjaga pengalaman pengguna public cloud yang konsisten, kewenangan data yang lebih aman, latensi yang rendah dan tanpa perawatan lokal. Semua hal ini membantu layanan migrasi yang penting bagi perusahaan ke teknologi cloud dengan aman.

Terakhir, inovasi hybrid cloud mencakup solusi hybrid cloud FusionBridge yang dibuat berdasarkan cloud platform OpenStack dengan aspek injection yang inovatif dengan cascading architectureSolusi ini menghadirkan katalog tunggal cross-cloud demi melindungi perbedaan penggunaan beragam teknologi cloud secara sekaligus.

Zettagrid Australia, penyedia layanan cloud computing terkemuka berbasis Infrastructure as a Service (IaaS) bagian dari VMware vCloud Air Network, hari ini (04/09) mengumumkan ekpansi layanan IaaS cloud computing dengan dibukanya layanan resmi dan data center di Jakarta. Ekpansi ini merupakan langkah awal Zettagrid dalam menyediakan layanan public cloud ke seluruh wilayah regional APAC.

“Keputusan untuk melakukan ekpansi layanan IaaS cloud computing ke Indonesia adalah bagian dari langkah strategis global Zettagrid” ungkap Nathan Harman, CEO Zetta Group. “Sejak didirikan pada tahun 2010, Zettagrid telah diakui oleh para pihak dalam industri sebagai market leader cloud computing di Australia, dan seiring dengan meningkatnya adopsi cloud computing oleh berbagai perusahaan skala enterprise maupun SMB, maka ekspansi ke Asia Tenggara merupakan milestone penting selanjutnya bagi perusahaan kami.”

Diantara penyedia layanan IaaS cloud computing Australia lainnya, Zettagrid memiliki pondasi bisnis yang kuat dari sisi aspek inovasi dan otomatisasi layanan. Ditambah dengan pencapaian dan sertifikasi ISO9001:2008, PCI DSS, Dell Partner, Microsoft SCA Partner dan Microsoft Qualified Multitenant Hoster menjadikan Zettagrid sebagai perusahaan yang terus berkembang hingga dipercaya mengelola ribuan virtual machine dan memiliki lebih dari ratusan channel partner.

Zettagrid Indonesia menawarkan bentuk program kemitraan dengan memberikan reward atau penghargaan kepada partner lokal yang menyediakan solusi inovatif kepada para pelanggan mereka yang dikombinasikan dengan teknologi dan infrastruktur cloud computing Zettagrid. Infrastruktur yang dimiliki oleh Zettagrid telah diakui dan mendapat banyak penghargaan dari berbagai perusahaan teknologi ternama baik regional maupun global, seperti VMware, Veeam, dan Zerto.

Program channel partner Zettagrid Indonesia yang menyasar pada penyedia layanan Managed Service IT, System Integrator, Independent Software Vendor dan Value Added Reseller akan memberikan perkembangan yang pesat pada pasar cloud computing Indonesia. Zettagrid Indonesia diprediksi akan mampu mendorong percepatan pertumbuhan dan adopsi cloud computing oleh perusahaan-perusahaan tanah air baik skala enterprise maupun SMB.

Sistem berlangganan tanpa kontrak
Zettagrid Indonesia menyediakan berbagai layanan IaaS cloud computing yang meliputi Virtual Server, Virtual Data Center (VDC), Backup, dan Disaster Recovery. Layanan IaaS cloud computing tersebut dibangun, dikelola dan berjalan menggunakan platform VMware yang telah teruji dan tersertifikasi. Keunggulan Zettagrid Indonesia yang memiliki sistem otomatisasi self-provisioning, fully customizable, scalable dan reliable, ditambah dengan lokasi data center dan technical support lokal.

Satu hal yang membedakan Zettagrid Indonesia dengan provider lainnya adalah sistem berlangganan tanpa komitmen atau kontrak. Semua kombinasi terobosan ini merupakan lompatan besar yang memenuhi kebutuhan partner serta pelanggan tanah air yang menginginkan layanan cloud computing dengan aman di dalam zona ketersediaan data di Indonesia.

Reza Kertadjaja, Country Manager Zettagrid Indonesia mengatakan, “Kami bangga bisa terlibat dan berperan dalam strategi ekpansi Zettagrid Australia ke Indonesia. Zettagrid telah memiliki rekam jejak yang panjang dan sukses dalam bekerja sama dengan channel partner mereka dalam merancang, membangun, serta mengelola platform infrastruktur cloud computing yang kompleks menjadi lebih sederhana untuk memenuhi berbagai kebutuhan IT. Di sini kami terus mengembangkan dan belajar dari kebutuhan pasar atau pelanggan agar dapat menyediakan layanan IaaS cloud computing dengan kemudahan pengelolaan manajemen cloud serta platform billing yang terintegrasi.”

Hampir satu dekade ini, InfoKomputer mengulas topik cloud computing. Teknologi, bisnis, dan implementasinya makin solid dan menuju keniscayaan. Akan tetapi, para pemimpin TI Indonesia masih menghadapi beberapa ganjalan.

Dengan semakin besarnya porsi public cloud di ranah enterprise, strategi hybrid akan menjadi pilihan organisasi bisnis, tentu saja bagi perusahaan yang sudah memiliki infrastruktur on premise dan atau private cloud.

Survei RightScale 2017 The State of Cloud Report menemukan bahwa 85 persen respondennya telah menerapkan strategi multi cloud (menggunakan beberapa private atau public cloud), dan 58 persen di antaranya menjalankan hybrid.

Strategi hybrid rupanya bukan lagi sesuatu yang asing bagi para pemimpin TI Indonesia. Dalam acara InfoKomputer CIO Forum yang digelar bersama Multipolar dan HPE pada medio Juli lalu, terungkap bahwa penerapan cloud dan strategi hybrid telah dilakukan pemimpin TI beberapa perusahaan dalam berbagai tingkatan.

Misalnya Bank Muamalat. Selain mengandalkan sumber daya komputasi yang bersumber dari data center, bank yang ingin memasang target menjadi The Best Islamic Bank dan Top 10 Bank di Indonesia ini juga menggunakan public cloud, khususnya untuk area development.

Dengan cloud, menurut Saladin Effendi (CIO, Bank Mualamat), ia dpat menyediakan sepuluh lingkungan yang berbeda untuk sepuluh product development dengan cepat.  “Ngapain saya beli mesin development? Ngapain saya beli lisensi? Penyedia layanan yang lakukan refresh dan sebagainya, kami tinggal pakai. Begitu lambat tinggal komplain,” ujar Saladin.

Perusahaan asuransi Tokio Marine, juga sudah menerapkan komputasi awan. “Personally, kami juga punya cloud, tapi untuk development,” tutur Anton Pranayama (GM IT & BPM, PT Asuransi Tokio Marine Indonesia). Ia beralasan, karena workload development yang cukup tinggi, perusahaan memilih untuk tidak investasi pada hardware yang ujung-ujungnya idle.

Dari sektor finansial lainnya, PT Suzuki Finance Indonesia (SFI), mengaku juga sudah memanfaatkan cloud meskipun baru di area aplikasi non critical. “Misalnya website dan mobile system yang dipakai internal dan rekanan dealer kami. Masih manageable secara sekuriti tapi kami bisa dapatkan efisiensi dari infrastruktur mobile system ini. Saat peak, kami tinggal on the fly request ke (cloud) provider untuk dinaikkan,” papar Budi Pranoto (GM IT, PT Suzuki Finance Indonesia).

Atma Jaya yang bergerak di bidang pendidikan dan kesehatan malah sudah meletakkan 60 – 70 persen workload komputasinya di cloud.  “Saya nggak terlalu percaya pada teknologi on premise maupun full public cloud, jadi saya ambil jalan tengah, yaitu hybrid,” Danny Natalies (Chief Information Officer, Atma Jaya) mengungkapkan strategi yang ia pilih.

Bagaimana pembagiannya? Infrastruktur dan sistem on premise masih ia andalkan untuk menyimpan data-data yang berkategori sensitif dan menjalankan  transaksi yang sifatnya idle. Sedangkan semua layanan yang bisa diakses melalui internet dan jumlah user-nya cukup besar akan ia “lempar” ke cloud.

Sebelum memanfaatkan cloud, Atma Jaya terbiasa belanja computing power berdasarkan asumsi kebutuhan sumber daya tertinggi. “Termasuk future computing power yang kami butuhkan,” cerita Danny. Namun kini, Danny akan menghitung computing power di level idle-nya saja dan selisih deltanya ia taruh semua di cloud.

Sebagai perusahaan berlabel low cost carrier, biaya tentu menjadi faktor penting dalam operasional maskapai penerbangan AirAsia. Dengan cost efficiency sebagai salah satu tawarannya, bisa ditebak jika maskapai yang dikomandani Tony Fernandez ini pun menerapkan komputasi awan.

“Semua server kami ada di Malaysia, dan di sna pun sudah kami tempatkan di Azure dan AWS. Namun untuk Indonesia, kami masih gunakan on premise, data center di Jakarta dan DRC di Denpasar, Bali,” cerita Reza Sugiarto (ICT Network  & Security Manager, PT AirAsia Indonesia).

Namun tahun ini, menurut Reza, AirAsia akan memindahkan Disaster Recovery Center-nya ke cloud. Meski data center utama tetap on premise, langkah ini setidaknya mengurangi kompleksitas berbagai aspek pekerjaan TI,  misalnya dalam hal maintenance dan menjaga availability.

Di barisan organisasi bisnis yang sudah mengaplikasikan cloud computing juga ada PT Eka Bogainti. Beberapa kali server DNS mati sehingga melumpuhkan kerja situs web dan mobile app Hoka-Hoka Bento, Johan Sutrisno (Head of IT, PT Eka Bogainti) memutuskan untuk beralih ke cloud.

Cloud memang tidak bisa dihindari, jadi perlahan-lahan kami pindahkan ke cloud, kalau cost-nya masih manageable dan reasonable,” tutur Johan yang juga memindahkan SMTP server ke cloud.

Ganjalan Keamanan Sampai Reliabilitas Koneksi

Perjalanan ke “awan” sudah dimulai, tetapi untuk sepenuhnya memercayai cloud—apalagi public cloud—para pemimpin TI Indonesia agaknya belum “sampai hati”. Ganjalan apa yang mereka hadapi?

Di awal perkenalannya, cloud diganjal isu keamanan. Ternyata hingga kini pun, keamanan data masih menjadi pertanyaan utama (calon) pengguna cloud, ditambah isu regulasi dan kedaulatan data. PT Asuransi Tokio Marine Indonesia masih enggan menggunakan cloud untuk menopang aktivitas production sebelum benar-benar aman dari sisi teknologi dan regulasi.

Alasan regulasi juga diungkapkan oleh Budi Pranoto. “Untuk core system kami agak susah bergerak karena ada regulasi yang memastikan data harus ada di Indonesia. Namun bertahap kami akan lihat situasi dari sisi regulasi seberapa fleksibel,” jelas Budi.

Bagi Saladin Effendi, infrastruktur teknologi sebenarnya ibarat jalanan, yang di mana-mana materialnya sama. Platform teknologi informasi untuk perbankan, otomotif, manufaktur, dan sebagainya tentu tidak jauh berbeda.  “Semua menjadi commonality. Namun kami harus tetap berdiskusi dengan supervisor kami, dalam hal ini OJK. Sambil saya memilah-milah mana yang bisa di-cloud-kan,” jelasnya.

Saladin Effendi (CIO, Bank Mualamat).

Bahkan di antara perusahaan startup yang umumnya penganut berat cloud pun, ada yang tetap memercayai infrastruktur on premise. “Semakin besar perusahaan, kami juga ternyata membutuhkan on premise, karena kalau ada something wrong dengan yang di luar, perusahaan kami kan nggak mungkin tutup,” ujar Halga Tamici (Chief Technology Officer, Rajamobil.com).

Menurutnya, dari hasil observasi terhadap arsitektur teknologi perusahaan, minimal database Rajamobil.com harus berada di Indonesia.

Tantangan lain yang dihadapi organisasi bisnis terkadang datang dari jajaran manajemen. “Again perubahan baru akan terjadi kalau ada keputusan. Dan yang harus berani mendobrak itu ya C-levelnya,” cetus Pardjo Yap (Head of IT, ACA). Urusan dengan top management ini biasanya menyangkut hitung-hitungan investasi.

Sejak awal, cloud digadang-gadang mampu meningkatkan efisiensi biaya. Namun setiap perusahaan harus berhitung cermat dulu untuk bisa meraih manfaat tersebut. “Karena pertimbangan benefit dan risk,  pro dan cons dari cloud, Enseval lebih milih on premise. Soalnya dari sisi cost effective-nya, cloud belum terlihat lebih tinggi dibanding on premise. Dan belum ada kebutuhan juga,” jelas Gunawan (DBA & Infrastructure Manager IT, PT Enseval Putra Mega Trading).

Gunawan menambahkan bahwa hanya 2 – 3 persen dari workload Enseval yang ada di cloud. Namun ia tak menampik fakta bahwa tren saat ini dan ke depan mengarahkan organisasi bisnis  ke komputasi awan.

Hoka-Hoka Bento pun sempat mempertimbangkan mengalihkan Contact Center-nya ke cloud untuk menjamin reliabilitas, kecepatan, dan pertumbuhan data. Namun apa daya hasil hitung-hitungan biayanya, menurut Johan Sutrisno, sulit mendapat lampu hijau dari jajaran manajemen.

“Hal itu yang menjadi obstacle saya dalam arti untuk pindah ke teknologi cloud. Tapi juga menjadi tantangan bagi saya agar bagaimana caranya agar Contact Center tetap reliable dalam segala kondisi,” imbuhnya.

Pertimbangan lain yang dipikirkan perusahaan, khususnya di Indonesia adalah masalah koneksi internet. “Mungkin cloud dijamin reliabilitasnya. Tapi begitu kita ngomong koneksi internet, bisa ada yang kepacul dan sebagainya, itu tidak ada jaminan” tanda Johan. Dengan kata lain, Johan melibat masalah reliabilitas di cloud menyangkut banyak sisi yang harus tetap dipertimbangkan.

Pendekatan Holistik

Sedangkan IBS Group (perusahaan broker asuransi) sudah mempertimbangkan implementasi cloud sejak empat tahun lalu. Namun setelah mempertimbangkan banyak hal, pendekatan on-premise dianggap masih lebih tepat.

Concern kami adalah segala sesuatu yang di cloud seharusnya Zero IT intervention,” ungkap Faisal Yahya (Head of Information Technology IBS Group). Hal ini menjadi sulit bagi IBS Group yang memiliki banyak aplikasi legacy yang butuh pengelolaan tersendiri.

Dari pengalaman itu, Faisal memberi saran bagi para CIO untuk melihat arsitektur TI perusahaan dengan seksama sebelum beralih ke cloud. “Aplikasi yang rigid atau legacy, sebaiknya ditaruh di on-premise, sementara yang lebih portable dipindah ke cloud,” ujar Faisal. Implementasi cloud juga jangan dilihat semata-mata karena faktor cost. “Kita juga harus memperhitungkan cost dan risk,” tambah Faisal.

Saran yang sama juga diutarakan Gunawan (Enseval). “Kami melihat secara holistik terkait kebutuhan on-premise dan cloud”  ungkap Gunawan. Soal pengurangan capex yang digadang-gadang menjadi keunggulan cloud, misalnya, harus dihitung lebih detail. “Karena bukan berarti dalam lima tahun, uang yang keluar akan lebih murah [ketika menggunakan cloud],” ujar Gunawan.

Model aplikasi juga jadi bahan pertimbangan Gunawan. Jika load dari aplikasi itu bisa diprediksi dan penambahannya tidak signifikan, Gunawan lebih menyarankan on-premise. “Kalau selisih 30%, seharusnya bisa diatasi. Jika tidak, berarti sizing di awal kurang tepat” tambah Gunawan.

Namun bukan berarti Enseval tidak tertarik ke cloud. “Kalau kita bisa manage dan maintain teknologi, sumber daya, mengoptimalisasi aplikasi, apalagi aplikasi sendiri yang tahu kita sendiri, on-premise lebih masuk akal” tambah Gunawan. Baru ketika tidak ada kemampuan di sana, Enseval akan mulai mengadopsi cloud.

Sedangkan Reza Sugiarto memilih menyiapkan terlebih dulu langkah yang diperlukan. Salah satunya adalah menyiapkan people dan juga ITIL. “Sebelum saya jalankan ITIL, saya harus inspeksi dulu secara COBIT itu bagaimana” ungkap Reza. Hal ini untuk mengantisipasi ketika ada kendala implementasi di cloud. “Karena ketika semua managed service atau cloud, dalam 1, 3, atau 4 tahun ke depan pasti ada masalah” tambah Reza.

Sedangkan Pardjo Yap (ACA) mengingatkan, adopsi cloud bisa jadi muncul akibat kefrustrasian perusahaan terhadap tim TI. “Mengurus orang in-house-nya bikin sakit kepala, time delivery-nya pun lama,” Pardjo mencontohkan. Ketika kemudian muncul managed service atau cloud, perusahaan memiliki opsi teknis untuk mengatasi masalah internal yang sebenarnya nonteknis. “Jadi sebenarnya people yang menjadi kunci,” tambah Pardjo.

Sebelum Melangkah ke Cloud

Dari diskusi seru di InfoKomputer CIO Forum, ada tiga kesimpulan utama yang bisa ditarik, yaitu:

1. Ke Arah Hybrid Cloud

Semua CIO yang hadir di acara ini sepakat, cloud adalah pilihan menarik. Akan tetapi, tidak semua aplikasi atau workload yang cocok untuk pindah ke cloud. Hal inilah yang membuat komposisi hybrid cloud akan lebih mendominasi

2. Kendala Menuju Cloud

Bagi institusi keuangan, tantangan terbesar untuk mengadopsi cloud adalah soal regulasi. Sementara bagi industri lain, masalah security, legacy application, serta availability koneksi menjadi pertimbangan tersendiri.

3. Sebelum Melangkah ke Awan

Pastikan perusahaan memiliki pandangan 360 derajat atas infrastruktur TI-nya terlebih dahulu. Semua faktor harus diperhitungkan, mulai dari perhitungan biaya, jenis aplikasi yang cloud-ready, kematangan framework, sampai kesiapan people. Dan karena karakteristik setiap perusahaan berbeda, sebenarnya tidak ada yang benar atau salah dalam melangkah menuju cloud.

Para peserta InfoKomputer CIO Forum bersama Multipolar dan HPE.

Strategi Menuju Hybrid Cloud

Meski menawarkan berbagai keuntungan, solusi cloud sebenarnya tidak untuk semua perusahaan. Pada beberapa kasus, memiliki infrastruktur on-premise justru lebih menjawab kebutuhan perusahaan.

Pendapat ini diungkapkan Chew Eng Lai (Director Data Center Hybrid Cloud, HPE). Eng Lai mengambil contoh salah satu customer HPE yang memutuskan memindahkan infrastruktur TI-nya dari cloud ke on-premise. “Perusahaan tersebut memindahkan 138 VM dari cloud ke on-premise dalam waktu dua bulan” ungkap pria asal Malaysia ini.

Transisi tersebut dilakukan setelah melakukan banyak pertimbangan. Salah satunya adalah pengalaman down-nya layanan cloud yang mengakibatkan terhentinya layanan. Dengan mengadopsi on-premise, setidaknya kontrol penuh terhadap infrastruktur TI bisa dilakukan.

Pertimbangan penting lain adalah soal biaya. Ketika mengadopsi cloud, biaya yang dikeluarkan tidak cuma soal infrastruktur TI, namun juga bandwidth. Belum lagi jika memperhitungkan penurunan harga hardware untuk data center yang selalu terjadi. “Setiap kuartal, harga storage selalu turun 5 – 15%,” Eng Lai mencontohkan.

Ketika perusahaan memiliki memiliki data center on-premise, penurunan harga itu bisa langsung dirasakan. Namun ketika menggunakan cloud, hal itu menjadi kurang terasa karena penyedia layanan cloud jarang memberikan penurunan harga.

Dua faktor di atas, ditambah alasan nonteknis—seperti data sovereignty dan security—yang membuat Eng Lai yakin on-premise akan tetap diadopsi banyak perusahaan.

Lebih Fleksibel

Ketika pendekatan on-premise dan cloud sama-sama menawarkan kelebihan, perusahaan sebenarnya bisa mendapatkan manfaat optimal dengan menggabungkan keduanya. Hal inilah yang menjelaskan mengapa hybrid cloud kini menjadi pilihan menarik. Lembaga riset IDC memperkirakan, 70% perusahaan di Asia Tenggara akan mengambil pendekatan hybrid.

Pertanyaan besarnya adalah, bagaimana mewujudkan infrastruktur hybrid yang ideal? Salah satu langkah yang bisa dilakukan adalah membangun private cloud terlebih dahulu. Private cloud ini memiliki kemudahan dan kecepatan layaknya seperti public cloud. Private cloud juga memiliki workload yang dengan mudah dipindahkan ke cloud.

Yohan Gunawan (Group Head Infrastructure Hardware, Multipolar).

Menurut Multipolar, mewujudkan private cloud bisa dilakukan dengan menggunakan hyperconverged infrastructure. “Hyperconverged adalah solusi yang menggabungkan computing power, storage, hypervisor, dan manajemen,” ungkap Yohan Gunawan (Group Head Infrastructure Hardware, Multipolar). Karena datang dalam satu perangkat siap pakai, hyper-converged menawarkan kecepatan implementasi dan kemudahan pengelolaan.

“Contohnya untuk deploy sebuah virtual machine, kita cuma butuh lima klik dalam satu menit” ungkap Yohan mencontohkan. Begitu pula untuk update firmware. Berbeda dengan data center tradisional yang dibayang-bayangi isu interoperability, update firmware di hyperconverged relatif bisa dilakukan dengan cepat tanpa rasa was-was. Kelebihan lain dari hyperconverged adalah di sisi people. “Hyperconverged cukup dikelola orang TI dengan kemampuan generalist, bukan specialist,” tambah Multipolar.

Ketika faktor kecepatan, manajemen, dan people tersebut disatukan, hyperconverged diklaim akan menurunkan biaya. Yang tak kalah penting, hyperconverged menawarkan infrastruktur on-premise yang memiliki karakter seperti public cloud. Kalaupun kemudian kebutuhan terus meningkat dan perusahaan memutuskan untuk menggunakan public cloud, workload yang ada di hyperconverged bisa langsung dipindahkan.

Contohnya adalah Helion CloudSystem yang memudahkan workload yang ada di hyperconverged untuk berpindah ke public cloud seperti Microsoft Azure atau AWS (dan sebaliknya). “Intinya kami ingin menyediakan infrastruktur yang berada di on-premise namun dengan fleksibilitas untuk pindah ke cloud,” ungkap Eng Lai.

Ilustrasi cloud computing. [Kredit: Thinkstock]

Faktor keamanan menjadi alasan utama bagi para pemimpin TI di perusahaan-perusahaan asal Indonesia untuk berpaling dari public cloud dan kembali ke infrastruktur on-premise. Pertimbangan berikutnya adalah faktor ketersediaan (availability) dan kinerja (performance).

Berdasarkan riset global Evolution 2017 yang dilakukan Pure Storage, sebanyak 46 persen perusahaan di Indonesia yang mengoperasikan beban kerja mereka di public cloud kini telah memindahkan sebagian ataupun keseluruhan dari workload kembali ke on-premise.

Hasil itu lebih tinggi dari rata-rata perusahaan di kawasan Asia Pasifik dan Jepang yang hanya mencatat angka sebesar 38 persen. Tetapi, bukan hanya Indonesia yang mengalami tren itu, melainkan juga Vietnam (dengan angka 78 persen–tertinggi di regional) dan Thailand (48 persen).

Sebagai informasi, riset Evolution 2017 menyurvei lebih dari 9.000 responden yang berasal dari kalangan pemimpin TI di seluruh dunia, mencakup 3.000 orang yang berasal dari perusahaan di Asia Pasifik dan Jepang.

Sebetulnya, dari sisi adopsi cloud, perusahaan di Indonesia tercatat mengoperasikan 36 persen aplikasi di public cloud, 32 persen secara on-premise dan SaaS, serta 31 persen di area private cloud.

Namun, penyimpanan on-premises tampaknya akan makin banyak digunakan oleh bisnis-bisnis yang mengandalkan layanan digital.

Sebanyak 61 persen perusahaan Indonesia yang separuh lebih pendapatannya diraup dari layanan digital berpandangan bahwa pemanfaatan on-premise akan bertumbuh pada 18 bulan ke depan. Sebaliknya, hanya 41 persen perusahaan yang kurang dari separuh pendapatannya dihasilkan dari layanan digital memiliki tingkat optimisme yang sama.

Chua Hock Leng (Managing Director for ASEAN and Taiwan, Pure Storage) menjelaskan, “Keunggulan yang dahulu dirasakan oleh perusahaan atas penerapan public cloud kini tak lagi menjadi domain public cloud semata.”

“Bisnis perlu memahami bagaimana mereka dapat memanfaatkan seluruh ekosistem data—baik cloud maupun on-premise—untuk menaruh data agar dapat dioperasikan dengan baik serta menggali seluruh insight agar dapat menyuguhkan hasil terbaik seperti yang diidamkan oleh pelanggan.” pungkasnya.

Persaingan industri yang ketat dan kompleks membuat Microsoft tidak hanya mengandalkan jualan peranti lunak. Microsoft mulai mengutamakan layanan cloud computing, menyusul lesunya pasar komputer.

Karena itu, Satya Nadella (CEO Microsoft) mulai fokus menggarap pasar cloud computing dan software berbayar.

Terbukti, pendapatan Microsoft dari bisnis cloud termasuk platform flagship Azure dan produk server naik 11 persen menjadi USD7,43 miliar pada kuartal IV tahun fiskal Microsoft yang berakhir pada 30 Juni 2017.

Pencapaian itu melebihi perkiraan analis senilai USD7,32 miliar. “Teknologi intelligent cloud kami digemari konsumen di mana-mana,” kata Nadella seperti dikutip Reuters.

Platform Microsoft Azure berhasil mengimbangi kekuatan Amazon Web Services (AWS) yang sangat mendominasi dan laris di pasar. Microsoft Azure sukses menarik menarik layanan konsumen enterprise Microsoft yang tidak tergoda dengan platform Amazon.

“Ini bukan hanya keajaiban satu kuartal. Amazon pasti tidak akan memandang remeh performa Microsoft Azure ini,” kata Kim Forrest (Vice President di Fort Pitt Capital Group).

Sementara itu, secara total Microsoft mendapatkan pendapatan sebesar USD23,3 miliar atau sekitar Rp310 triliun pada kuartal fiskal terakhir, naik 13 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

LinkedIn memberikan kontribusi sebesar USD1,1 miliar atau sekitar Rp14,6 triliun pada kuartal ke-4.

Satu hal yang menarik dari laporan keuangan Microsoft yaitu segmen Office yang mulai mendapatkan pendapatan lebih besar dari model berlangganan (Office 365) daripada model lisensi tradisional yang dahulu menjadi andalan Microsoft.

Meskipun demikian, pendapatan Microsoft dari Office hanya naik 5 persen dari kuartal sebelumnya. Hal ini menjadi bukti bahwa Microsoft berhasil melakukan transisi ke model bisnis baru yang lebih menguntungkan.

Satya Nadella (CEO, Microsoft) di panggung Microsoft Inspire 2017.

Microsoft meluncurkan platform Azure Stack sebagai jawaban bagi kebutuhan pasar terhadap solusi hybrid cloud sekaligus mendahului dua pesaing utamanya di industri cloud, Amazon dan Google.

Azure Stack diperkenalkan dalam acara Microsoft Inspire 2017 di Washington, AS, pada Senin (10/7). Solusi ini memungkinkan perusahaan untuk menjalankan layanan cloud Azure di server dan data center milik pribadi (on-premise). Dengan demikian, perusahaan dapat merasakan kelebihan public cloud sambil tetap menjaga keamanan data dan aplikasi mereka.

Untuk penawaran perdana, Microsoft akan memasarkan layanan Azure Stack mulai September 2017 melalui kerja sama dengan Dell EMC, Lenovo, dan Hewlett Packard Enterprise (HPE). Cisco dan Huawei dijanjikan bakal segera menyusul.

Nantinya, para pelanggan dapat membeli server terintegrasi berbasis Azure Stack dari vendor-vendor tersebut, menghubungkannya dengan data center pribadi, dan langsung bisa mengakses layanan Azure publik.

Seperti layanan public cloud pada umumnya, biaya berlangganan pun dihitung fleksibel berdasarkan waktu pemakaian dan sumber daya komputasi yang dikonsumsi (di luar harga server). Dikutip dari VentureBeat, biaya langganan Azure Stack dipatok mulai 0,8 sen per vCPU/jam dan 0,6 sen per GB storage/jam.

Pilihan lainnya, pelanggan dapat mengunduh Azure Stack Development Kit (ASDK) secara gratis dan memasangnya di server yang sudah ada untuk keperluan uji coba dan proof of concept.

“Salah satu kunci perbedaan Azure dan dua kompetitor cloud lainnya adalah kemampuan kami mendukung solusi hybrid cloud seutuhnya,” kata Judson Althoff (Executive VP, Worldwide Commercial Business, Microsoft) kepada Reuters.

Sebagai informasi, Amazon Web Services (AWS) dan Google Cloud Platform (GCP) saat ini belum memiliki solusi hybrid cloud sendiri. Mereka masih harus menggandeng pihak ketiga, masing-masing dengan VMware dan Nutanix.

Contoh Penggunaan Azure Stack

“Azure Stack adalah kepanjangan dari platform Azure dan bukan pengganti private cloud yang sudah ada,” ujar Julia White (Corporate VP, Cloud and Infrastructure, Microsoft).

Julia White (Corporate VP, Cloud and Infrastructure, Microsoft) di panggung Microsoft Inspire 2017.

Julia mencontohkan penggunaan Azure Stack di institusi perbankan dan pemerintah yang ingin memanfaatkan layanan public cloud tetapi terhadang regulasi yang melarang penyimpanan data-data di luar data center lokal.

Azure Stack juga cocok dipakai oleh perusahaan yang punya kantor cabang di lokasi-lokasi terpencil dengan koneksi internet yang tidak stabil. Contoh lain pengguna potensial Azure Stack yaitu perusahaan-perusahaan yang belum percaya sepenuhnya memindahkan data dan aplikasi penting ke luar dari data center milik mereka.

Inisiatif Azure Stack sebetulnya pertama kali diumumkan Microsoft pada tahun 2015. Pada saat itu, Azure Stack direncanakan bisa dipasang di server merek apa pun dengan spesifikasi yang kompatibel.

Namun, pada 2016, Microsoft mengubah konsep itu dan memutuskan untuk bermitra dengan vendor-vendor hardware tertentu, hingga akhirnya resmi dirilis tahun ini.

Aplikasi Digibank dari DBS Bank.

Tak sedikit organisasi harus memasuki sebuah wilayah yang benar-benar baru saat mereka melakukan transformasi digital.

Misalnya bagi DBS Bank, dengan transformasi digital, mereka harus mengubah proses transaksi perbankan menjadi fun journey, sebuah pengalaman menyenangkan bagi para nasabahnya.

“Hal itu dapat kami lakukan lebih baik dengan teknologi berbasis cloud,”cetus David J. Gledhill (Group Chief Information officer, Member of Executive Committee, dan Head Technology & Operations, DBS Bank) dalam sebuah wawancara eksklusif dengan InfoKomputer.  

Menurut David, teknologi cloud memampukan DBS Bank melakukan eksperimen terhadap ide-ide baru dalam lebih cepat tapi dengan biaya lebih rendah. “Yang mana hal itu tidak mungkin kami lakukan dengan teknologi yang ‘tradisional’,” imbuh David.

Kemampuan tersebut sangatlah penting di arena perbankan digital karena bank harus secara terus menerus mengevaluasi perilaku nasabah secara online dan harus seringkali memformulasi ulang penawaran atau layanannya sesuai kebutuhan nasabah.

Salah satu karakteristik perbankan digital yang membutuhkan kemampuan cloud adalah volume nasabah yang tak bisa diprediksi. “Teknologi cloud memampukan kami menyediakan kapasitas [komputasi] dengan cepat ketika dibutukan dan menguranginya ketika tidak lagi diperlukan. [Kemampuan] ini membantu kami menyajikan pengalaman pelanggan yang menyenangkan dengan biaya optimal,” papar David Gledhill.

Lagipula bila semua aplikasi dan layanan ditempatkan di data center sendiri, “Kami tidak pernah bisa menjadi yang terdepan. Kami akan selalu ketinggalan satu atau dua rilis [aplikasi/software]. Kami tidak akan pernah menikmati versi terbaik di awal. Dan kalau kami harus membangun sendiri fitur, tool, atau layanan di data center kami, butuh waktu berbulan-bulan, bertahun-tahun, atau bahkan mungkin tak pernah terwujud sama sekali,” tandasnya.

Pengalaman pertama DBS Bank dengan cloud computing antara lain dalam kampanye aplikasi Paylah untuk memperingati hari jadi ke-50 Singapura. “Kami membutuhkan teknologi cloud untuk membantu kami mengeksekusi sebuah kampanye nasional di mana orang yang memunyai aplikasi Paylah memiliki kesempatan memenangkan hadiah sebesar SG$100 ribu hanya dengan mengguncang mobile phone-nya,” cerita David.  

Jelas, bank yang menyabet gelar “World’s Best Digital Bank 2016” dari Euromoney itu tak dapat melakukan itu di atas infrastruktur konvensional. “Anda tidak tahu berapa banyak ‘shake’ yang akan terjadi bukan?” ujar David.

Menggunakan AWS Cloud, DBS Bank memperoleh tidak saja elastisitas komputasi awan, tetapi juga memunyai peluang melakukan hal-hal yang belum pernah terpikirkan oleh DBS Bank sebelumnya. “Cloud mengungkap ide-ide dan kemungkinan-kemungkinan baru,” imbuh David.

Namun David Gledhill mengingatkan bahwa peralihan ke cloud bukan sekadar lift-and-shift. Hal terpenting yang harus menjadi perhatian juga adalah bagaimana aplikasi yang dibangun benar-benar dapat memanfaatkan kelebihan cloud.

“Kita harus memulainya dengan satu pertanyaan: bagaimana kita dapat melakukan re-architecting terhadap aplikasi agar dapat memanfaatkan kemampuan cloud? Bukan hanya bagaimana meletakkan aplikasi kita di cloud,” paparnya.

Area lain di lingkungan DBS Bank yang akan disokong oleh teknologi cloud adalah credit risk management system dan funds transfer pricing system.

Sejak tahun 2016, Oracle menyatakan keseriusannya di bisnis cloud. Alih-alih terus mengandalkan model bisnis berjualan lisensi, Oracle sekarang lebih fokus memasarkan solusi berbasis cloud computing, mencakup SaaS, PaaS, dan IaaS.

Keputusan ini terbukti tepat jika melihat performa bisnis yang dihasilkan bisnis cloud Oracle pada kuartal kedua tahun 2017.

[BACA: Oracle: Perusahaan Mulai Migrasi ke Cloud Pihak Ketiga]

Dilansir dari VentureBeat, total pemasukan Oracle dari cloud pada kuartal terakhir sebesar US$1,36 miliar, naik 13 persen dari tahun lalu. Kontribusi terbesar disumbangkan oleh SaaS sebesar US$964 juta, disusul IaaS sebesar US$214 juta, dan PaaS sebesar US$183 juta.

Jika dibandingkan dengan dua tahun lalu, angka-angka tersebut menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan, terutama di sektor PaaS. Pada Agustus 2015, Oracle baru mencatat pemasukan US$13 juta saja dari PaaS, US$160 juta dari IaaS, dan US$438 juta dari SaaS.

“Pada tahun fiskal terbaru ini, kami memperkirakan bisnis PaaS dan IaaS kami akan berakselerasi hingga mencapai hypergrowth, jenis pertumbuhan yang sama dengan yang terjadi pada bisnis SaaS. Kami melihat para pelanggan terus memindahkan database Oracle mereka ke public cloud Oracle generasi kedua,” ucap Larry Ellison (Pendiri dan CTO, Oracle).

Pada suatu waktu, Ellison juga percaya pendapatan dari IaaS dan PaaS akan melampaui SaaS, sektor yang selama ini menjadi andalan Oracle.

[BACA: Oracle Dorong Perusahaan Berpindah ke Public Cloud]

Sebagai informasi, layanan SaaS dari Oracle meliputi solusi aplikasi-aplikasi bisnis seperti Cloud ERP dan Data Cloud, sedangkan layanan PaaS mencakup managed Oracle Database dan IaaS melayani penyewaan public cloud di data center Oracle.

Oracle pun meyakini bahwa mereka akan mampu bersaing dengan Salesforce, pemimpin di bisnis SaaS saat ini, maupun Amazon Web Services (AWS) yang mendominasi bisnis IaaS.

TERBARU

Foto yang dihasilkannya memiliki resolusi sampai 13 megapixel, sedangkan video memiliki resolusi sampai 1.920 x 1.080 pixel alias full HD.