Tags Posts tagged with "cloud computing"

cloud computing

Sejak tahun 2016, Oracle menyatakan keseriusannya di bisnis cloud. Alih-alih terus mengandalkan model bisnis berjualan lisensi, Oracle sekarang lebih fokus memasarkan solusi berbasis cloud computing, mencakup SaaS, PaaS, dan IaaS.

Keputusan ini terbukti tepat jika melihat performa bisnis yang dihasilkan bisnis cloud Oracle pada kuartal kedua tahun 2017.

[BACA: Oracle: Perusahaan Mulai Migrasi ke Cloud Pihak Ketiga]

Dilansir dari VentureBeat, total pemasukan Oracle dari cloud pada kuartal terakhir sebesar US$1,36 miliar, naik 13 persen dari tahun lalu. Kontribusi terbesar disumbangkan oleh SaaS sebesar US$964 juta, disusul IaaS sebesar US$214 juta, dan PaaS sebesar US$183 juta.

Jika dibandingkan dengan dua tahun lalu, angka-angka tersebut menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan, terutama di sektor PaaS. Pada Agustus 2015, Oracle baru mencatat pemasukan US$13 juta saja dari PaaS, US$160 juta dari IaaS, dan US$438 juta dari SaaS.

“Pada tahun fiskal terbaru ini, kami memperkirakan bisnis PaaS dan IaaS kami akan berakselerasi hingga mencapai hypergrowth, jenis pertumbuhan yang sama dengan yang terjadi pada bisnis SaaS. Kami melihat para pelanggan terus memindahkan database Oracle mereka ke public cloud Oracle generasi kedua,” ucap Larry Ellison (Pendiri dan CTO, Oracle).

Pada suatu waktu, Ellison juga percaya pendapatan dari IaaS dan PaaS akan melampaui SaaS, sektor yang selama ini menjadi andalan Oracle.

[BACA: Oracle Dorong Perusahaan Berpindah ke Public Cloud]

Sebagai informasi, layanan SaaS dari Oracle meliputi solusi aplikasi-aplikasi bisnis seperti Cloud ERP dan Data Cloud, sedangkan layanan PaaS mencakup managed Oracle Database dan IaaS melayani penyewaan public cloud di data center Oracle.

Oracle pun meyakini bahwa mereka akan mampu bersaing dengan Salesforce, pemimpin di bisnis SaaS saat ini, maupun Amazon Web Services (AWS) yang mendominasi bisnis IaaS.

Drew Houston (CEO, Dropbox]). [Kredit: Sportsfile (Web Summit)/Flickr,

Ketika Dropbox hadir, banyak orang mulai memahami apa itu teknologi cloud computing.

Meskipun Dropbox bukanlah pionir (dan bentuk layanan Dropbox sendiri hanya mencakup sebagian saja dari teknologi cloud computing), popularitas layanan ini ternyata cukup kuat untuk mempopulerkan dan membuka wawasan banyak orang tentang teknologi dan layanan cloud, selain tentunya mempopulerkan dirinya sendiri.

Suksesnya Dropbox tentulah berkat aksi tangan dingin orang-orang yang ada di baliknya. Salah satunya, siapa lagi jika bukan Drew Houston, sang CEO.

Drew Houston terlahir dengan nama lengkap Andrew W. Houston, pada tanggal 4 Maret 1983, di Acton, Massachusetts. Drew cukup beruntung memiliki keluarga yang telah mengenal teknologi. Ayah Drew adalah seorang insinyur elektronika jebolan Universitas Harvard.

Sebagai seorang ahli elektronika, tentunya ayah Drew memahami benar bahwa di masa depan komputer dan barang elektronik lainnya akan menjadi peranti yang sangat dibutuhkan umat manusia. Karena itu, sang ayah tak ragu merogoh koceknya untuk membelikan Drew seperangkat komputer.

Sudah tentu Drew girang bukan kepalang. Sebagai seorang anak laki-laki, sudah sangat lumrah juga jika kemudian Drew gemar bermain game dengan komputer yang dibelikan ayahnya tersebut.

Berkenalan dengan BASICA

Ketertarikan Drew tak berhenti hingga pada permainan game saja namun lambat laun dia juga mulai penasaran dengan program yang menyusun game tersebut.

Dan mulailah, Drew berkenalan dengan BASICA, bahasa pemrograman yang menjadi tulang punggung game yang dia mainkan. Kebetulan BASICA memang pada saat itu merupakan bahasa pemrograman yang cukup populer karena hampir semua komputer PC yang ada di pasaran dipastikan memiliki ROM BASICA di dalamnya.

Tak puas hanya sekadar mempelajari BASICA, Drew mulai “menjajah” komputer ayahnya dan belajar bahasa pemrograman C. Di komputer ayahnya tersebut, Drew mulai mengenal pengalaman baru, yaitu bermain game secara online dan mendaftar di salah satu penyedia layanan online gaming.

Barangkali karena sudah terlatih membongkar kode-kode program, Drew menemukan sebuah celah keamanan pada layanan online gaming yang diikutinya dan melaporkan hal tersebut pada perusahaan pengembang game tersebut.

Tindakan Drew ini mendapat respons positif dari perusahaan game tersebut, bahkan Drew ditawari untuk bekerja di sana. Padahal, usianya saat itu baru empat belas tahun. Tidak jelas apakah akhirnya Drew menerima tawaran tersebut atau tidak.

Bakat pemrograman Drew terasah dengan cepat dan dengan pertimbangan itu, selepas lulus SMA di Acton Boxborough Regional High School, Drew memutuskan untuk mendalami ilmu komputer di Massachusetts Institute of Technology (MIT).

Di kampus ini, Drew bukanlah model mahasiswa yang melulu membaca buku. Dia cukup aktif berkegiatan, bahkan tergabung dan aktif di organisasi Phi Delta Theta. Di organisasi inilah, Drew bertemu dengan Arash Ferdowsi, yang kelak bersama Drew akan menjadi pendiri Dropbox dan menjabat CTO.

Menulis Kode Saat Menunggu Bus

Dengan bakat yang dimilikinya, tak sulit bagi Drew untuk mendapatkan pekerjaan. Setelah lulus dari Jurusan Ilmu Komputer MIT, Drew terlibat pada beberapa perusahaan rintisan (startup), di antaranya Bit9, Accolade, dan Hubspot.

Puncaknya adalah ketika Drew tak lagi mencari pekerjaan, melainkan justru membuka lapangan pekerjaan bagi banyak orang, melalui startup yang didirikannya, yaitu Dropbox.

Kisah pendirian Dropbox tersebut bermula ketika Drew menunggu bus di sebuah halte, pada awal tahun 2007. Sebagaimana “orang TI” lainnya, Drew selalu membawa notebook. Menanti datangnya bus merupakan hal membosankan dan Drew mengisinya dengan bekerja menggunakan notebook-nya.

Saat menyalakan notebook-nya, barulah Drew menyadari bahwa data-data yang dibutuhkannya untuk bekerja tersimpan pada sebuah USB flash disk dan USB flash disk tersebut tertinggal di rumah.

“Karena demikian kecewanya karena tak bisa melanjutkan pekerjaan, saya sampai-sampai terbayang USB flash disk yang terletak di atas meja kerja saya di rumah, seolah USB flash disk tersebut ada di depan saya”, kenang Drew.

Lima belas menit pun berlalu dan Drew hanya bisa termangu. Kemudian naluri programmer-nya mulai “berbicara” dan mulailah Drew menulis kode program. Drew tak menyadari bahwa beberapa baris program yang ditulisnya selama menunggu bus di halte itulah yang akhirnya menjadi cikal bakal Dropbox.

Bisa ditebak, kode program yang ditulis Drew tersebut merupakan luapan rasa frustrasinya akibat USB flash disk yang seharusnya dibawa namun tertinggal. Drew mulai membayangkan, alangkah senangnya apabila data penting yang dibutuhkan untuk bekerja selalu ada bersamanya, meskipun dia harus berganti-ganti perangkat kerja. Konsep penyimpanan di awan (cloud) makin nyata tercetak di benaknya dan embrio Dropbox mulai terbentuk.

Tak banyak membuang waktu, hanya dalam hitungan bulan, Drew telah berkolaborasi dengan Arash Ferdowsi untuk membangun Dropbox. Saat itu Drew telah lulus dari MIT sedangkan Arash Ferdowsi sebenarnya telah mencapai semester terakhir kuliahnya. Namun demi proyek Dropbox, dia rela meninggalkan kuliahnya.

Mereka bekerja keras selama tiga bulan di sebuah kantor kecil di Cambridge. Jam kerja mereka dimulai siang hari hingga subuh hari berikutnya.

Ketika ditanya tentang situasi awal pendirian Dropbox, Drew menjawab, “Kami mengawali perusahaan kami dengan cara yang sama seperti orang lain mengawali perusahaan teknologi mereka. Kami bekerja di ruang sempit, berbaju santai, bahkan hanya bercelana pendek, dan kami terus menulis kode-kode program untuk membangun aplikasi yang akan menjadi produk kami.”

Pada bulan September 2007, Drew memindahkan kantor mereka ke San Fransisco. Kerja keras mereka mulai membuahkan hasil tatkala para investor mendengar tentang Dropbox dan mulai mendanai Dropbox. Para investor tersebut adalah Sequoia Capital, Accel Partners, Y Combinator, dan beberapa nama pribadi. Jumlah dana yang terkumpul secara total adalah 7,2 juta dollar AS. Drew mengakui bahwa titik ini merupakan sebuah batu loncatan penting dalam pengembangan Dropbox berikutnya.

Salah Satu Startup Terbaik

Namun titik tolak kesuksesan Dropbox yang sebenarnya diraih saat video tutorial penggunaan Dropbox yang diunggah di Digg menjadi viral. Di sinilah Dropbox mulai dikenal oleh banyak orang dan mulai banyak yang tertarik untuk menggunakannya. Saat itu Dropbox masih berstatus beta dan berkat video viral di Digg tersebut, jumlah orang yang hendak mencoba Dropbox melonjak dari hanya 5.000 orang menjadi 75.000 orang.

Salah satu kegemilangan Drew dalam melambungkan Dropbox adalah konsep referral yang ditawarkannya. Pengguna Dropbox yang mereferensikan orang lain untuk juga menggunakan Dropbox akan mendapatkan tambahan ruang simpan dalam jumlah tertentu. Ini menjadi sarana promosi yang relatif murah namun efektif.

Berkat prestasi yang diraihnya tersebut, Drew mendapatkan banyak penghargaan. Business Week menganugerahkan gelar kepada Drew sebagai salah satu orang paling berbakat di dunia teknologi informasi. Inc.com menyebut Drew sebagai salah satu pengusaha terbaik di bawah usia tiga puluh tahun (saat itu). Dropbox sendiri disebut sebagai salah satu startup terbaik di area San Fransisco.

Meski meraih sukses di usia yang masih sangat muda, tampan pula, tak membuat Drew tinggi hati. Dia selalu bersikap rendah hati dan bahkan selalu menyebut nama Arash Ferdowsi sebagai orang yang sangat berjasa baginya.

Saat ini Drew baru berusia 33 tahun dan kekayaannya ditaksir sekitar satu miliar dolar AS. Ada yang berminat menjadikannya menantu? Jika ya, sayang sekali sepertinya peluang itu kecil karena Drew telah menjalin relasi serius dengan CeCe Cheng, seorang staf humas Qwiki.

Pada tahun 2015, raksasa internet Tiongkok, Alibaba, pernah sesumbar bahwa mereka akan mengambil alih tampuk pimpinan di pasar public cloud dari Amazon Web Services (AWS) dalam empat tahun. Untuk mewujudkannya, Alibaba berinvestasi US$1 miliar pada bisnis Alibaba Cloud (Aliyun).

Pada tahun ini, ambisi itu masih berada di jalur yang benar, meski masih cukup jauh dari sasaran. Dikutip dari TechCrunch, Alibaba Cloud sekarang masih berada di posisi keenam dalam pangsa pasar layanan infrastruktur cloud global, di bawah AWS, Microsoft, Google, IBM, dan Salesforce. Namun, bisnis mereka terus berkembang hingga tiga digit setiap tahun.

Alibaba Cloud juga terlihat lebih agresif mendekati pasar-pasar regional yang belum dijamah serius oleh AWS, Microsoft, dan Google. Contohnya pasar Asia. Hal ini terbukti dari rencana Alibaba Cloud membangun data center di Malaysia, India, dan juga Indonesia pada tahun ini.

Data center Alibaba Cloud di Indonesia berlokasi di Jakarta dan dijadwalkan akan dibuka pada tahun fiskal ini yang berakhir pada 31 Maret 2018.

“Saya percaya Alibaba Cloud memosisikan diri secara unik dengan keuntungan budaya dan kontekstual untuk menyediakan inovasi data intelijen dan kemampuan komputasi kepada pengguna di Asia. Membangun data center di Indonesia dan India akan memperkuat posisi kami di area ini dan juga secara global,” kata Simon Hu (Senior Vice President of Alibaba Group dan President, Alibaba Cloud).

Dengan tiga data center terbaru ini, Alibaba Cloud akan menambah total data center menjadi 17 lokasi, melingkupi Tiongkok, Australia, Jerman, Jepang, Hong Kong, Singapura, Arab Saudi, dan Amerika Serikat.

Alibaba Cloud juga akan meningkatkan sumber komputasi di Asia secara signifikan sehingga memberi dukungan untuk pebisnis UKM di wilayah ini dengan kemampuan cloud yang kuat, terukur, hemat biaya, dan aman.

Alibaba Cloud akan menjadi perusahaan pemimpin cloud computing global pertama yang membangun data center di Indonesia dan siap menanggapi inisiatif Gerakan 1.000 Startup Digital yang diluncurkan Pemerintah Indonesia tahun lalu.

Ilustrasi kantor startup. [Foto: squarespace.com]

Pelan tapi pasti, perusahaan dan masyarakat mulai sadar akan pentingnya penggunaan cloud computing dalam bisnisnya.

Selain perusahaan berskala besar, kehadiran startup-startup lokal di Indonesia akan menjadi potensi pelanggan cloud computing yang besar dan mempercepat adopsi cloud computing di Indonesia.

Cornelius Hertadi (VP Sales and Marketing, Biznet GioCloud) mengatakan Indonesia memiliki bakat-bakat startup yang luar biasa banyak dan mereka lebih sadar serta ingin mengadopsi jasa layanan cloud computing lebih cepat.

Startup ingin bisnis dan pengembangan aplikasinya cepat running sehingga tidak ada waktu untuk membeli server, komputer, dan storage secara terpisah dan memakan waktu yang lama. Jadi, mereka lebih melirik menggunakan jasa layanan cloud computing yang simpel dan cepat,” katanya di Jakarta, Kamis (8/6).

Dengan adopsi cloud computing, perusahaan atau startup lebih menghemat bujet pengeluarannya dan bisa dialokasikan untuk kebutuhan lainnya.

Selain itu, layanan Biznet GioCloud menawarkan solusi Infrastructure as a Service (IaaS) secara menyeluruh dan terlengkap di Indonesia, meliputi pengadaan komputer, server, storage, dan network.

“Untuk membeli server skala ekonomi besar membutuhkan bujet sekitar Rp70 jutaan. Itu baru server, belum lagi UPS-nya jika mati lampu. Belum storage dan jaringannya. Terlalu banyak pengeluaran yang harus dikeluarkan perusahaan,” tukasnya.

Keunggulan lainnya, ketersediaan dan keandalan Sumber Daya Manusia (SDM) dari Biznet GioCloud yang mengurusi semua infrastruktur cloud computing.

“Kami memiliki tim yang standby 24 jam untuk memastikan layanan cloud computing terus berjalan,” ujarnya.

Amazon Web Services. ( (kredit: www.e27.co)

Saat ini Amazon Web Services (AWS) adalah pemain besar dalam industri jaringan dan Internet di Amerika Serikat (AS) dan dunia.

Untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusianya (SDM), Amazon akan meluncurkan website pelatihan tentang berbagai solusi AWS untuk karyawannya dan masyarakat luas.

Amazon ingin memiliki SDM yang mampu mendukung operasional komputasi awan dan memenuhi kebutuhan AWS pengguna.

“Sebelumnya, Anda harus memiliki beberapa situs untuk mendapatkan penawaran pelatihan dan sertifikasi dari AWS,” kata Amazon dalam blog resmiya seperti dikutip The Next Web.

Amazon mengatakan website itu juga mengajak pengembang solusi dan aplikasi untuk bergabung ke dalam AWS Training dengan cara mengikuti ujian AWS Certification, melacak kemajuan pembelajaran, dan mengakses keuntungan berdasarkan AWS Certification.

“Cara ini akan mempermudah profesional teknis untuk mengasah kemampuan dan meningkatkan pengetahuan merekan tentang solusi AWS. Harapannya, mereka akan semakin menguasai bidang AWS dan mendapatkan sertifikasi resmi dari kami,” ucapnya.

Untuk mengakses portal tersebut, pengguna harus menciptakan akun baru atau dengan masuk dengan akun Amazon sebelumnya. Pemilik akun AWS Training akan disuguhi opsi untuk memindahkan riwayat pelatihan sebelumnya ke platform baru.

Selain itu, portal pelatihan terbaru itu akan memudahkan pemula AWS ambisius untuk mengejar ketertinggalan mereka dengan tren terbaru dan terbaik dan mempraktikan pengelolaan infrastruktur cloud.

“Pengalaman praktik ini sangat penting mendukung sertifikasi pengguna,” pungkasnya.

“Jangan pindah ke cloud jika people dan process-nya belum siap” Irvan Yasni (Chief Technical Officer Sinar Mas Land)

Apakah perusahaan harus mengadopsi cloud?

Menurut Irvan Yasni (CTO Sinar Mas Land), pertanyaan tersebut sudah tidak relevan lagi. “Menurut saya, mau tidak mau kita harus ke cloud,” ungkap Irvan. Ia mengatakan hal itu di depan puluhan peserta seminar “Modernize Your Storage Infrastructure with Hybrid and Cloud” yang diselenggarakan IBM bersama InfoKomputer.

Adopsi cloud menjadi pilihan karena berbagai tantangan yang muncul dari para stakeholder. Pemimpin perusahaan atau CEO menuntut CIO untuk mendukung inovasi bisnis dengan cepat. Sementara di sisi lain, CFO sering kali menanyakan RoI (Return on Investment) dari investasi IT yang harus dilakukan. Belum lagi tuntutan dari stakeholder lain, seperti technology principal yang terus mengurangi durasi support produknya, serta customer yang selalu membandingkan layanan kita dengan pengalaman mereka selama ini.

Dengan semua tuntutan tersebut, Irvan melihat adopsi cloud sebagai jawaban. Hal inilah yang menjelaskan mengapa Sinar Mas Land telah mengadopsi cloud sejak tahun 2015. Saat ini, sekitar 80% workload mereka sudah ada di cloud.

Pandai-pandai Menimbang

Wacana pindah ke cloud muncul ketika Sinar Mas Land menghadapi kekurangan kapasitas di data center-nya. “Kala itu kita dihadapkan pada dua pilihan: menambah kapasitas atau memindahkan sebagian ke cloud,” cerita Irvan. Irvan pun kemudian melakukan perhitungan dari dua pilihan tersebut.

Ketika menambah kapasitas, perusahaan akan mengeluarkan dana untuk membeli hardware. Namun perhitungan tidak cukup sampai situ. Perusahaan juga harus memperhitungkan biaya lain seperti facility cost. “Hal ini yang sering lupa dihitung oleh orang TI, padahal angkanya bisa 10% dari total opex (operating expenditure) kita,” ungkap Irvan.

Faktor lain yang harus diperhitungkan adalah cost ketika terjadi downtime. “Karena kita sama-sama tahu, mengelola data center tidak mudah, sehingga resiko terjadinya down selalu ada,” tambah Irvan.

Dari semua perhitungan tersebut, akhirnya cloud menjadi pilihan yang lebih efisien. “Dalam kasus kami, kira-kira nilai [untuk menambah kapasitas] sekitar 40% lebih tinggi.” Irvan menggambarkan perhitungannya.

Sedangkan saat memilih aplikasi mana yang pindah ke cloud, Irvan memiliki beberapa pertimbangan. Yang pertama adalah compliance. Karena sebagian unit mereka berada di industri yang highly-regulated, Sinar Mas Land harus memastikan workload di sektor tersebut tetap memenuhi standar.

Faktor lainnya adalah soal performa. “Jangan sampai ketika pindah ke cloud, performa aplikasi jadi menurun,” tambah Irvan.

Faktor lain yang tak kalah penting adalah harga. Salah satu kelebihan cloud adalah efisiensi, namun tidak semua workload cocok ke cloud. “Contohnya untuk virtual desktop, akan tiga kali lebih mahal jika dipindahkan ke cloud,” ungkap Irvan.

Namun Irvan juga mengingatkan, hitung-hitungan soal harga akan terus berubah mengingat persaingan di penyedia cloud yang dinamis. Artinya, jika hari ini lebih mahal di cloud, esok bisa jadi justru lebih murah dibanding ketika dipasang di on-premise.

People and Process

Setelah 1,5 tahun menjalani hybrid cloud, Irvan pun memiliki beberapa insight yang bisa dibagi. Yang pertama adalah perusahaan harus benar-benar selektif memilih penyedia cloud. “Karena ketika sudah pindah ke cloud, menarik balik data ke on-premise adalah painful process,” ungkap Irvan.

Perusahaan juga harus menyiapkan perubahan di sisi process maupun people. Contohnya secara operasional keseharian, visibility yang dimiliki tim Operations akan berkurang. “Mereka juga harus siap dengan adanya layer komunikasi baru, yaitu ke penyedia cloud,” tambah Irvan.

Fungsi konvensional seperti DC dan DRC juga tidak relevan lagi. “Yang muncul adalah fungsi-fungsi seperti backup system, restore system, dan DR-system yang cloud-ready,” ungkap Irvan.

Sedangkan di sisi security, Irvan juga melihat adanya perubahan. “Ketika kita on-premise, semua berada di kontrol kita. Sementara kalau di cloud, ada hal-hal yang harus kita pasrahkan [ke penyedia cloud],” ungkap Irvan.

Selain itu, Irvan juga mengingatkan para CIO kalau tidak semua lingkup security menjadi tanggung jawab penyedia cloud. “Cloud provider lebih bertanggung jawab terhadap security di sisi platform, seperti access control atau data sovereignity,” tambah Irvan.

Sementara untuk data security, tetap menjadi tanggung jawab perusahaan. Karena itu, perusahaan tetap harus melakukan langkah pengamanan, seperti memasang antivirus atau data encryption. “Sayangnya, hal ini biasanya tidak pernah dibicarakan penyedia cloud,” cerita Irvan. Karena itu, terkait security di cloud, Irvan menyarankan perusahaan menghitung risk apetite dari tiap workload. “Dari situ, kita tinggal cari jalan tengahnya,” tambah Irvan.

Meski memiliki banyak tantangan, Sinar Mas land sendiri akan terus menambah kapasitas di sisi cloud. Bahkan Irvan melihat, bukan tidak mungkin suatu hari semua infrastruktur mereka ada di cloud. “Ketika teknologi terus berkembang dan penyedia cloud bisa menyediakan fasilitas enterprise-grade, saya rasa semua infrastruktur akan pindah ke cloud,” tambah Irvan.

Siapkan Infrastruktur yang Tepat

“Agar bisa memanfaatkan cloud dengan optimal, perusahaan harus mulai dengan pendekatan Software-defined Data Center,” kata Craig McKenna (Director Asia Pacific Storage, IBM Systems for Cloud Platform).

Dari kacamata IBM sendiri, cloud pada dasarnya adalah perubahan platform untuk menghadirkan IT services. “Platform itu bisa ada di dalam maupun di luar data center perusahaan,” ungkap Craig McKenna (Director Asia Pacific Storage, IBM Systems for Cloud Platform).

Karena itu, Craig memandang pentingnya perusahaan untuk mengadopsi pendekatan software-defined data center (SDDC). Karena dengan pendekatan SDDC, perusahaan bisa menghasilkan IT services secara dinamis, baik dengan pendekatan on-premise, cloud, atau gabungan keduanya.

Konsep SDDC ini kian relevan di sektor storage seiring kemunculan teknologi flash dan meledaknya jumlah data.

Ketika flash storage semakin terjangkau, perusahaan kini memiliki opsi untuk memanfaatkan flash sebagai media penyimpan utamanya. Namun ketika data bertambah dengan kecepatan eksponensial, menyimpan sebagian data ke cloud demi efisiensi juga menjadi pilihan menarik.

Agar konfigurasi ini bisa optimal, dibutuhkan sistem storage yang memiliki kepandaian untuk menyimpan data pada media yang tepat.

IBM sendiri mengaku memiliki kemampuan itu melalui teknologi Easy Tier. “Data yang butuh akses cepat akan ditaruh di flash, sementara data yang “cold” akan ditaruh di cloud,” ungkap Benny Abrar (Country Manager, Storage Solution, IBM Indonesia). Selain itu ada juga teknologi Spectrum Scale yang bisa menurunkan biaya sampai 90% dengan cara menjalankan automatic policy untuk storage tiering.

Craig juga mengingatkan, ada perbedaan mendasar antara cloud computing dan cloud storage. “Memindahkan aplikasi bisa dibilang sederhana karena lebih melibatkan logic,” ungkap Craig.

Namun memindahkan aplikasi membutuhkan proses yang lebih rumit karena data tidak bisa begitu saja pindah dari on-premise ke cloud maupun sebaliknya. Karena itu, memiliki sistem storage yang cerdas adalah kunci kesuksesan adopsi hybrid cloud.

Suasana acara soft launching STAR Cloud, layanan cloud computing dari Telkomsigma yang menyasar pebisnis UKM dan startup, di Hotel Ritz-Carlton Mega Kuningan, Jakarta, Rabu (3/5).

Pasar layanan cloud computing di Indonesia masih dikuasai pemain asing, seperti Amazon Web Services (AWS) dan Microsoft Azure. Namun, Telkomsigma siap melawan dominasi itu melalui layanan STAR Cloud yang akan resmi diluncurkan pada 18 Mei 2017 mendatang.

Dalam acara soft launching STAR Cloud hari ini (3/5) di Jakarta, Andreuw Th. A. F. (Director of Business, Data Center & Managed Services, Telkomsigma) memaparkan tiga alasan yang membuat Telkomsigma percaya diri bisa bersaing dengan AWS dan Azure.

[BACA: Andalkan STAR Cloud, Telkomsigma Bidik UKM dan Startup]

“Pertama, kami punya sesuatu yang tidak bisa ditawarkan pemain asing, yaitu pilihan pembayaran offline. Ini memungkinkan mahasiswa yang tidak punya kartu kredit sekalipun untuk memakai layanan cloud,” tukas Andreuw.

Selain pembayaran lewat transfer bank, STAR Cloud rencananya akan memungkinkan pelanggan membayar biaya berlangganan di gerai Alfamart, Indomaret, dan merchant lainnya yang tergabung dalam jaringan Finnet. Bahkan, pelanggan UKM/korporat bisa membayar secara post-paid (setelah penggunan) dengan pengiriman PO (Purchase Order) dan invoice.

“Kedua, dari sisi teknologi, kami setidaknya sudah sama canggihnya dengan yang asing,” lanjutnya. Ia menyebut fitur andalan STAR Cloud adalah kemudahan registrasi dan aktivasi yang serbaotomatis, ditambah adanya self-service dashboard agar pelanggan dapat memantau kinerja dan mengelola sumber daya cloud-nya secara swalayan.

“Ketiga, harga, apalagi orang Indonesia sangat price-sensitive, beda Rp5.000 saja bisa kabur,” Andreuw berseloroh. “Kami sudah survei pasar dan kalau dibandingkan dengan AWS, harga paket di STAR Cloud bisa lebih rendah 10 – 15 persen,” klaimnya.

Andreuw mengungkapkan bahwa salah satu perusahaan retail di Indonesia telah menjajal kemampuan STAR Cloud dan mengaku takjub karena tidak menyangka penyedia cloud lokal mampu menawarkan layanan yang tidak kalah dibandingkan dengan AWS.

Kolaborasi dengan Insinyur Silicon Valley

Untuk pengembangan teknologi di balik STAR Cloud selama satu setengah terakhir ini, tim engineer Telkomsigma yang berada di BaliCamp berkolaborasi dengan tim engineer yang telah berpengalaman membangun sistem pendukung cloud milik Amazon dan Netflix.

Tim engineer tersebut dipimpin oleh Safdar Husain, WNI yang pernah tinggal di AS selama belasan tahun. Berkat kerja sama dengan Telkomsigma, Safdar pun rela pulang kampung ke tanah airnya.

“Alasan saya pulang ke Indonesia karena saya melihat pertumbuhan ekonomi dan peluang bisnis cloud yang baru mulai berkembang di sini,” ujarnya.

Sekarang ini, Safdar menjabat selaku CTO di PT Tugunet Teknologi Indonesia, perusahaan penyedia solusi digital yang ia dirikan bersama Ferdi Hasan, pembawa acara kawakan di Indonesia.

Setali tiga uang dengan Andreuw, Safdar pun menyebut tiga faktor yang membuat cloud lokal lebih unggul daripada penyedia cloud global, yaitu kecepatan, harga, dan ketersediaan. “Kalau bikin aplikasi dengan mayoritas pengguna di Indonesia, akan lebih cepat dan available kalau datanya disimpan di cloud lokal,” ucapnya.

Hal ini sejalan dengan konsep STAR yang ditawarkan Telkomsigma, meliputi Simple, Trusted, Affordable, dan Reliable. Terlebih lagi, layanan STAR Cloud didukung data center Tier III seluas 200.000 meter per segi serta teknologi Always On.

“Target kami adalah ingin mengembalikan pemakai cloud luar untuk pindah ke cloud lokal,” pungkas Andreuw.

Suasana acara soft launching STAR Cloud, layanan cloud computing dari Telkomsigma yang menyasar pebisnis UKM dan startup, di Hotel Ritz-Carlton Mega Kuningan, Jakarta, Rabu (3/5).

Pertumbuhan sektor ekonomi kreatif di Indonesia membuka peluang baru bagi penyedia layanan TI. Pasalnya, para pebisnis kreatif ini umumnya sangat akrab dalam memanfaatkan teknologi digital sebagai fondasi usahanya, misalnya teknologi komputasi awan (cloud computing).

Sayangnya, sebagian besar pebisnis berskala UKM dan startup di tanah air masih menggunakan jasa penyedia cloud asing, seperti Amazon Web Services (AWS), Microsoft Azure, dan Google Cloud Platform (GCP).

“Pasar cloud di Indonesia sekarang ini 65 persen dikuasai pemain luar, sisanya pemain lokal,” kata Andreuw Th. A. F. (Director of Business, Data Center & Managed Services, Telkomsigma) di Jakarta, Rabu (3/5).

Kenyataan inilah yang memicu niat Telkomsigma untuk mengembangkan STAR Cloud, layanan public cloud lokal yang mampu menyaingi pemain global. Harapannya, pebisnis-pebisnis Indonesia mau beralih ke penyedia cloud lokal dengan berbagai keuntungan yang ditawarkan.

STAR Cloud sendiri sebetulnya bukan merek baru karena pernah diluncurkan pada tahun 2015 sebagai bagian dari portofolio STAR (Simple, Trusted, Affordable, Reliable), lini bisnis Telkomsigma untuk UKM. Namun, proses adopsi oleh pasar tidak sebaik yang diharapkan sehingga Telkomsigma merasa perlu untuk melakukan revitalisasi dan perubahan model layanan yang drastis.

[BACA: Tips Memilih dan Menggunakan Layanan Cloud Computing]

“Kami sudah melihat kekurangan dari layanan STAR Cloud sebelumnya. Kami juga mempelajari kenapa orang Indonesia suka memakai AWS dan Azure. Ternyata, alasannya karena mudah dipakai. Karena itu, kami membuat proses aktivasi STAR Cloud sesimpel mungkin,” ujar M. Deta Septianto (VP, IT & Digital Ecosystem, Telkomsigma).

Kesederhanaan proses aktivasi dan berlangganan STAR Cloud ditunjukkan dengan penggunaan model toko swalayan (self-service) di mana pelanggan dapat memilih sendiri spesifikasi prosesor, memori, dan penyimpanan yang sesuai dengan kebutuhan.

Saat ini, STAR Cloud menawarkan delapan pilihan paket, yakni Extra Small, Small, Small Medium, Medium, Large, Large RAM, Extra Large, dan Extra Large RAM, dengan spesifikasi mulai 1 Core CPU, 1 GB RAM, 30 GB SSD, sampai 16 Core CPU, 48 GB RAM, 480 GBS SD.

Hebatnya, proses pendaftaran, pemilihan paket, aktivasi, sampai pembuatan instance hanya perlu waktu antara 5 – 15 menit berkat automation system. Sebelumnya, butuh berjam-jam untuk menyelesaikan semua langkah ini. Setelah terdaftar, pelanggan bisa langsung memilih sistem operasi, data center, sampai aplikasi yang ingin digunakan.

Bisa Bayar Offline

Mengenai biaya berlangganan, Andreuw mengklaim paket-paket di STAR Cloud lebih murah 10 – 15 persen dibandingkan dengan paket sekelasnya milik AWS dan Azure. Contohnya, paket Extra Small dipasarkan dengan harga bersih Rp136.000/bulan atau Rp1.655.000/tahun, sedangkan paket termahal, Extra Large RAM, dijual dengan harga bersih Rp6.232.000/bulan atau Rp75.817.000/tahun.

Bagi pelanggan yang masih ingin mencoba-coba, STAR Cloud juga menyediakan fasilitas pengujian gratis (free trial) paket Small selama 30 hari.

“Yang membedakan dengan pemain luar, kami menyediakan pilihan pembayaran offline. Jadi, pebisnis dan mahasiswa yang tidak punya kartu kredit pun bisa memakai STAR Cloud,” tukas Andreuw. Rencananya, metode pembayaran offline ini meliputi pembayaran lewat Alfamart dan Indomaret atau merchant lainnya di jaringan Finnet.

Bahkan, pelanggan STAR Cloud dimungkinkan membayar biaya berlangganan secara post-paid (pakai dulu baru bayar), bukan hanya pre-paid (bayar dulu baru pakai). “Jadi, pelanggan bisa kirim PO (Purchase Order) dulu, lalu kami kirim invoice (tagihan), baru bayar,” imbuh Deta.

Pemahaman atas kebutuhan dan kebiasaan pengguna cloud di Indonesia inilah yang diyakini Telkomsigma dapat menjadi senjata andalan STAR Cloud yang tidak dimiliki pemain-pemain asing.

[BACA: Akibat Salah “Coding”, Layanan Cloud AWS Padam Empat Jam]

Layanan STAR Cloud akan diluncurkan secara resmi pada 18 Mei 2017, bersamaan dengan acara Cloud Day bertema “Digital Disruption as The New Wave of Business Strategy” yang melibatkan perusahaan-perusahaan berskala enterprise dan UKM di Indonesia.

“Kami menargetkan 25.000 pelanggan STAR Cloud sampai akhir tahun dan bisa berkontribusi sampai 50 persen dari total pemasukan bisnis cloud Telkomsigma,” ungkap Andreuw.

Kantor baru PointStar Jakarta.

PointStar mengumumkan dibukanya kantor baru mereka di Jakarta sebagai bagian dari investasi jangka panjang pada industri layanan solusi cloud computing di Indonesia.

Kantor baru ini didesain untuk meningkatkan produktivitas karyawan dalam berkolaborasi dengan ruangan kantor yang lebih luas. Kantor ini dilengkapi dengan conference room, silent room, dan area Phone Booth yang disediakan khusus agar karyawan dapat menikmati lingkungan pekerjaan yang lebih tenang.

Sebagai salah satu pelopor mitra Google di wilayah Asia Pasifik, conference room yang tersedia juga menjadi representasi dari penggunaan Google Hangouts yang menghubungkan seluruh tim PointStar yang berjumlah lebih dari 50 orang dan tersebar di berbagai wilayah dan negara yang berbeda.

Dengan fasilitas yang telah disediakan, tim PointStar dapat bekerja lebih fokus dalam mengembangkan kemampuan inti yang dimiliki dan juga membantu klien dalam memilih, mengadopsi, mengimplementasi, mengustomisasi, dan mengatur solusi cloud yang ditawarkan.

Beberapa klien penting PointStar di tanah air adalah Go-Jek, Zalora, MatahariMall, Parkland World Indonesia, dan Indo Tambangraya Megah.

“Kantor baru kami di Jakarta menjadi cerminan dari komitmen kami untuk melanjutkan kesuksesan bisnis klien. Kami akan terus menghadirkan kualitas terbaik yang inovatif dan juga solusi cloud yang terjangkau untuk perusahaan dalam menghadapi perubahan digital,” kata Justin Lee (CEO, PointStar) dalam keterangan pers.

Manfaatkan Solusi Google dan NetSuite

Sebagai informasi, PointStar pertama kali meluncurkan pusat keunggulan cloud computing di Indonesia pada 7 Mei 2015. Dalam waktu kurang dari 18 bulan, PointStar telah mampu mengembangkan bisnis dan pengalaman, baik untuk karyawan maupun kliennya.

[BACA: PointStar Tawarkan Konsultasi TI Gratis bagi 1.000 UKM di Indonesia]

point star jakarta

Justin Lee (Co-Founder & CEO, PointStar) diapit oleh Yansen Chandra (perwakilan Ekatama, pelanggan PointStar) dan Yuwono Utomo (Indonesia Sales Manager, PointStar) dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (7/5).

Berkantor pusat di Singapura dengan kantor cabang di Jakarta, Indonesia dan Johor Bahru, Malaysia, PointStar mengadopsi teknologi Google untuk menghasilkan komunikasi dan kecepatan yang optimal.

Selain itu, PointStar menggunakan software akuntansi NetSuite yang berbasis cloud, proses order, dan sistem CRM serta WiFi berbasis cloud Cisco Meraki, routing, dan sistem keamanan yang dapat menjamin keamanan jaringan di perusahaan, serta Grandstream IP untuk jaringan komunikasi yang lebih stabil.

Belum lama ini, PointStar meluncurkan paket pelatihan one-for-one TransformMyBiz yang bertujuan memberi pelatihan bagi karyawan di bisnis kecil dan menengah untuk memaksimalkan produktivitas dengan memanfaatkan penggunaan fitur G Suite (dulunya bernama Google Apps for Work) bagi kebutuhan bisnis mereka.

Bisnis startup saat ini sudah menjamur di kawasan negara berkembang seperti Indonesia.

Berawal dari rintisan baru, bisnis akan terus berjalan dan harus menghasilkan laporan keuangan untuk menjawab semua aktivitas perusahaan. Tidak menutup mata bahwa banyak perusahaan startup ragu dalam menjalankan bisnisnya karena belum adanya laporan keuangan.

Kesulitan membuat laporan keuangan membuat perusahaan mengambil langkah untuk merekrut karyawan dan menyerahkan semua proses pembuatan laporan keuangan kepada karyawan barunya.

Menurut Eko Cahyono (Chief Technology Officer, Akuntansionline.id), keputusan ini menimbulkan banyak polemik. “Mulai dari keraguan perusahaan terhadap keakuratan laporan keuangan hingga molornya waktu penyelesaian yang dihindari oleh para business owner,” ujar Eko Cahyono, Senin (20/3).

Eko menambahkan, para business owner itu harus memutar otak agar pembuatan laporan keuangan ini tidak mengganggu bisnisnya yang harus terus berjalan dan tetap taat pada aturan pajak. “Apalagi kebijakan pemerintah saat ini tentang penetapan tax amnesty yang membuat banyak business owner gencar mengelola bisnisnya,” tuturnya.

Terkait hal tersebut, kata Eko, pihaknya siap membantu para pemilik bisnis dalam membuat laporan keuangan melalui akuntan virtual. Layanan akuntan virtual dihadirkan untuk menjadi solusi para business owner dalam mendapatkan laporan keuangan dan pajak tepat waktu.

Eko menjelaskan, akuntan virtual memiliki layanan jasa akuntansi, keuangan, dan pajak dengan mengandalkan teknologi internet yang dikembangkan oleh Akuntansionline.id. Perusahaan yang menggunakan akuntan virtual tidak perlu lagi merekrut karyawan dan mempelajari software akuntansi yang akan menyita banyak waktu.

Dengan menggunakan akuntan virtual, business owner bisa tetap fokus kepada pengembangan bisnis, sementara laporan keuangan dan pajak berada di tangan yang tepat. Layanan ini memberikan banyak keunggulan yang sangat menguntungkan pihak business owner.

“Mulai dari tiga juta rupiah, pelanggan akuntan virtual ini sudah bisa konsultasi secara virtual melalui Skype, laporan keuangan on-time, dan free langganan Zahir online,” tutur Eko.

Akuntansionline.id merupakan perusahaan yang menaungi akuntan virtual ini dan bekerjasama dengan perusahaan software akuntansi Zahir Accounting dalam hal menyediakan software cloud computing.

TERBARU

Hati-hati, malware bisa menyebar via perangkat lunak bajakan, baik yang diunduh via internet maupun yang dipasang via CD atau DVD.