Tags Posts tagged with "cloud computing"

cloud computing

Ilustrasi cloud computing. [Kredit: Thinkstock]

Faktor keamanan menjadi alasan utama bagi para pemimpin TI di perusahaan-perusahaan asal Indonesia untuk berpaling dari public cloud dan kembali ke infrastruktur on-premise. Pertimbangan berikutnya adalah faktor ketersediaan (availability) dan kinerja (performance).

Berdasarkan riset global Evolution 2017 yang dilakukan Pure Storage, sebanyak 46 persen perusahaan di Indonesia yang mengoperasikan beban kerja mereka di public cloud kini telah memindahkan sebagian ataupun keseluruhan dari workload kembali ke on-premise.

Hasil itu lebih tinggi dari rata-rata perusahaan di kawasan Asia Pasifik dan Jepang yang hanya mencatat angka sebesar 38 persen. Tetapi, bukan hanya Indonesia yang mengalami tren itu, melainkan juga Vietnam (dengan angka 78 persen–tertinggi di regional) dan Thailand (48 persen).

Sebagai informasi, riset Evolution 2017 menyurvei lebih dari 9.000 responden yang berasal dari kalangan pemimpin TI di seluruh dunia, mencakup 3.000 orang yang berasal dari perusahaan di Asia Pasifik dan Jepang.

Sebetulnya, dari sisi adopsi cloud, perusahaan di Indonesia tercatat mengoperasikan 36 persen aplikasi di public cloud, 32 persen secara on-premise dan SaaS, serta 31 persen di area private cloud.

Namun, penyimpanan on-premises tampaknya akan makin banyak digunakan oleh bisnis-bisnis yang mengandalkan layanan digital.

Sebanyak 61 persen perusahaan Indonesia yang separuh lebih pendapatannya diraup dari layanan digital berpandangan bahwa pemanfaatan on-premise akan bertumbuh pada 18 bulan ke depan. Sebaliknya, hanya 41 persen perusahaan yang kurang dari separuh pendapatannya dihasilkan dari layanan digital memiliki tingkat optimisme yang sama.

Chua Hock Leng (Managing Director for ASEAN and Taiwan, Pure Storage) menjelaskan, “Keunggulan yang dahulu dirasakan oleh perusahaan atas penerapan public cloud kini tak lagi menjadi domain public cloud semata.”

“Bisnis perlu memahami bagaimana mereka dapat memanfaatkan seluruh ekosistem data—baik cloud maupun on-premise—untuk menaruh data agar dapat dioperasikan dengan baik serta menggali seluruh insight agar dapat menyuguhkan hasil terbaik seperti yang diidamkan oleh pelanggan.” pungkasnya.

Persaingan industri yang ketat dan kompleks membuat Microsoft tidak hanya mengandalkan jualan peranti lunak. Microsoft mulai mengutamakan layanan cloud computing, menyusul lesunya pasar komputer.

Karena itu, Satya Nadella (CEO Microsoft) mulai fokus menggarap pasar cloud computing dan software berbayar.

Terbukti, pendapatan Microsoft dari bisnis cloud termasuk platform flagship Azure dan produk server naik 11 persen menjadi USD7,43 miliar pada kuartal IV tahun fiskal Microsoft yang berakhir pada 30 Juni 2017.

Pencapaian itu melebihi perkiraan analis senilai USD7,32 miliar. “Teknologi intelligent cloud kami digemari konsumen di mana-mana,” kata Nadella seperti dikutip Reuters.

Platform Microsoft Azure berhasil mengimbangi kekuatan Amazon Web Services (AWS) yang sangat mendominasi dan laris di pasar. Microsoft Azure sukses menarik menarik layanan konsumen enterprise Microsoft yang tidak tergoda dengan platform Amazon.

“Ini bukan hanya keajaiban satu kuartal. Amazon pasti tidak akan memandang remeh performa Microsoft Azure ini,” kata Kim Forrest (Vice President di Fort Pitt Capital Group).

Sementara itu, secara total Microsoft mendapatkan pendapatan sebesar USD23,3 miliar atau sekitar Rp310 triliun pada kuartal fiskal terakhir, naik 13 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

LinkedIn memberikan kontribusi sebesar USD1,1 miliar atau sekitar Rp14,6 triliun pada kuartal ke-4.

Satu hal yang menarik dari laporan keuangan Microsoft yaitu segmen Office yang mulai mendapatkan pendapatan lebih besar dari model berlangganan (Office 365) daripada model lisensi tradisional yang dahulu menjadi andalan Microsoft.

Meskipun demikian, pendapatan Microsoft dari Office hanya naik 5 persen dari kuartal sebelumnya. Hal ini menjadi bukti bahwa Microsoft berhasil melakukan transisi ke model bisnis baru yang lebih menguntungkan.

Satya Nadella (CEO, Microsoft) di panggung Microsoft Inspire 2017.

Microsoft meluncurkan platform Azure Stack sebagai jawaban bagi kebutuhan pasar terhadap solusi hybrid cloud sekaligus mendahului dua pesaing utamanya di industri cloud, Amazon dan Google.

Azure Stack diperkenalkan dalam acara Microsoft Inspire 2017 di Washington, AS, pada Senin (10/7). Solusi ini memungkinkan perusahaan untuk menjalankan layanan cloud Azure di server dan data center milik pribadi (on-premise). Dengan demikian, perusahaan dapat merasakan kelebihan public cloud sambil tetap menjaga keamanan data dan aplikasi mereka.

Untuk penawaran perdana, Microsoft akan memasarkan layanan Azure Stack mulai September 2017 melalui kerja sama dengan Dell EMC, Lenovo, dan Hewlett Packard Enterprise (HPE). Cisco dan Huawei dijanjikan bakal segera menyusul.

Nantinya, para pelanggan dapat membeli server terintegrasi berbasis Azure Stack dari vendor-vendor tersebut, menghubungkannya dengan data center pribadi, dan langsung bisa mengakses layanan Azure publik.

Seperti layanan public cloud pada umumnya, biaya berlangganan pun dihitung fleksibel berdasarkan waktu pemakaian dan sumber daya komputasi yang dikonsumsi (di luar harga server). Dikutip dari VentureBeat, biaya langganan Azure Stack dipatok mulai 0,8 sen per vCPU/jam dan 0,6 sen per GB storage/jam.

Pilihan lainnya, pelanggan dapat mengunduh Azure Stack Development Kit (ASDK) secara gratis dan memasangnya di server yang sudah ada untuk keperluan uji coba dan proof of concept.

“Salah satu kunci perbedaan Azure dan dua kompetitor cloud lainnya adalah kemampuan kami mendukung solusi hybrid cloud seutuhnya,” kata Judson Althoff (Executive VP, Worldwide Commercial Business, Microsoft) kepada Reuters.

Sebagai informasi, Amazon Web Services (AWS) dan Google Cloud Platform (GCP) saat ini belum memiliki solusi hybrid cloud sendiri. Mereka masih harus menggandeng pihak ketiga, masing-masing dengan VMware dan Nutanix.

Contoh Penggunaan Azure Stack

“Azure Stack adalah kepanjangan dari platform Azure dan bukan pengganti private cloud yang sudah ada,” ujar Julia White (Corporate VP, Cloud and Infrastructure, Microsoft).

Julia White (Corporate VP, Cloud and Infrastructure, Microsoft) di panggung Microsoft Inspire 2017.

Julia mencontohkan penggunaan Azure Stack di institusi perbankan dan pemerintah yang ingin memanfaatkan layanan public cloud tetapi terhadang regulasi yang melarang penyimpanan data-data di luar data center lokal.

Azure Stack juga cocok dipakai oleh perusahaan yang punya kantor cabang di lokasi-lokasi terpencil dengan koneksi internet yang tidak stabil. Contoh lain pengguna potensial Azure Stack yaitu perusahaan-perusahaan yang belum percaya sepenuhnya memindahkan data dan aplikasi penting ke luar dari data center milik mereka.

Inisiatif Azure Stack sebetulnya pertama kali diumumkan Microsoft pada tahun 2015. Pada saat itu, Azure Stack direncanakan bisa dipasang di server merek apa pun dengan spesifikasi yang kompatibel.

Namun, pada 2016, Microsoft mengubah konsep itu dan memutuskan untuk bermitra dengan vendor-vendor hardware tertentu, hingga akhirnya resmi dirilis tahun ini.

Aplikasi Digibank dari DBS Bank.

Tak sedikit organisasi harus memasuki sebuah wilayah yang benar-benar baru saat mereka melakukan transformasi digital.

Misalnya bagi DBS Bank, dengan transformasi digital, mereka harus mengubah proses transaksi perbankan menjadi fun journey, sebuah pengalaman menyenangkan bagi para nasabahnya.

“Hal itu dapat kami lakukan lebih baik dengan teknologi berbasis cloud,”cetus David J. Gledhill (Group Chief Information officer, Member of Executive Committee, dan Head Technology & Operations, DBS Bank) dalam sebuah wawancara eksklusif dengan InfoKomputer.  

Menurut David, teknologi cloud memampukan DBS Bank melakukan eksperimen terhadap ide-ide baru dalam lebih cepat tapi dengan biaya lebih rendah. “Yang mana hal itu tidak mungkin kami lakukan dengan teknologi yang ‘tradisional’,” imbuh David.

Kemampuan tersebut sangatlah penting di arena perbankan digital karena bank harus secara terus menerus mengevaluasi perilaku nasabah secara online dan harus seringkali memformulasi ulang penawaran atau layanannya sesuai kebutuhan nasabah.

Salah satu karakteristik perbankan digital yang membutuhkan kemampuan cloud adalah volume nasabah yang tak bisa diprediksi. “Teknologi cloud memampukan kami menyediakan kapasitas [komputasi] dengan cepat ketika dibutukan dan menguranginya ketika tidak lagi diperlukan. [Kemampuan] ini membantu kami menyajikan pengalaman pelanggan yang menyenangkan dengan biaya optimal,” papar David Gledhill.

Lagipula bila semua aplikasi dan layanan ditempatkan di data center sendiri, “Kami tidak pernah bisa menjadi yang terdepan. Kami akan selalu ketinggalan satu atau dua rilis [aplikasi/software]. Kami tidak akan pernah menikmati versi terbaik di awal. Dan kalau kami harus membangun sendiri fitur, tool, atau layanan di data center kami, butuh waktu berbulan-bulan, bertahun-tahun, atau bahkan mungkin tak pernah terwujud sama sekali,” tandasnya.

Pengalaman pertama DBS Bank dengan cloud computing antara lain dalam kampanye aplikasi Paylah untuk memperingati hari jadi ke-50 Singapura. “Kami membutuhkan teknologi cloud untuk membantu kami mengeksekusi sebuah kampanye nasional di mana orang yang memunyai aplikasi Paylah memiliki kesempatan memenangkan hadiah sebesar SG$100 ribu hanya dengan mengguncang mobile phone-nya,” cerita David.  

Jelas, bank yang menyabet gelar “World’s Best Digital Bank 2016” dari Euromoney itu tak dapat melakukan itu di atas infrastruktur konvensional. “Anda tidak tahu berapa banyak ‘shake’ yang akan terjadi bukan?” ujar David.

Menggunakan AWS Cloud, DBS Bank memperoleh tidak saja elastisitas komputasi awan, tetapi juga memunyai peluang melakukan hal-hal yang belum pernah terpikirkan oleh DBS Bank sebelumnya. “Cloud mengungkap ide-ide dan kemungkinan-kemungkinan baru,” imbuh David.

Namun David Gledhill mengingatkan bahwa peralihan ke cloud bukan sekadar lift-and-shift. Hal terpenting yang harus menjadi perhatian juga adalah bagaimana aplikasi yang dibangun benar-benar dapat memanfaatkan kelebihan cloud.

“Kita harus memulainya dengan satu pertanyaan: bagaimana kita dapat melakukan re-architecting terhadap aplikasi agar dapat memanfaatkan kemampuan cloud? Bukan hanya bagaimana meletakkan aplikasi kita di cloud,” paparnya.

Area lain di lingkungan DBS Bank yang akan disokong oleh teknologi cloud adalah credit risk management system dan funds transfer pricing system.

Sejak tahun 2016, Oracle menyatakan keseriusannya di bisnis cloud. Alih-alih terus mengandalkan model bisnis berjualan lisensi, Oracle sekarang lebih fokus memasarkan solusi berbasis cloud computing, mencakup SaaS, PaaS, dan IaaS.

Keputusan ini terbukti tepat jika melihat performa bisnis yang dihasilkan bisnis cloud Oracle pada kuartal kedua tahun 2017.

[BACA: Oracle: Perusahaan Mulai Migrasi ke Cloud Pihak Ketiga]

Dilansir dari VentureBeat, total pemasukan Oracle dari cloud pada kuartal terakhir sebesar US$1,36 miliar, naik 13 persen dari tahun lalu. Kontribusi terbesar disumbangkan oleh SaaS sebesar US$964 juta, disusul IaaS sebesar US$214 juta, dan PaaS sebesar US$183 juta.

Jika dibandingkan dengan dua tahun lalu, angka-angka tersebut menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan, terutama di sektor PaaS. Pada Agustus 2015, Oracle baru mencatat pemasukan US$13 juta saja dari PaaS, US$160 juta dari IaaS, dan US$438 juta dari SaaS.

“Pada tahun fiskal terbaru ini, kami memperkirakan bisnis PaaS dan IaaS kami akan berakselerasi hingga mencapai hypergrowth, jenis pertumbuhan yang sama dengan yang terjadi pada bisnis SaaS. Kami melihat para pelanggan terus memindahkan database Oracle mereka ke public cloud Oracle generasi kedua,” ucap Larry Ellison (Pendiri dan CTO, Oracle).

Pada suatu waktu, Ellison juga percaya pendapatan dari IaaS dan PaaS akan melampaui SaaS, sektor yang selama ini menjadi andalan Oracle.

[BACA: Oracle Dorong Perusahaan Berpindah ke Public Cloud]

Sebagai informasi, layanan SaaS dari Oracle meliputi solusi aplikasi-aplikasi bisnis seperti Cloud ERP dan Data Cloud, sedangkan layanan PaaS mencakup managed Oracle Database dan IaaS melayani penyewaan public cloud di data center Oracle.

Oracle pun meyakini bahwa mereka akan mampu bersaing dengan Salesforce, pemimpin di bisnis SaaS saat ini, maupun Amazon Web Services (AWS) yang mendominasi bisnis IaaS.

Drew Houston (CEO, Dropbox]). [Kredit: Sportsfile (Web Summit)/Flickr,

Ketika Dropbox hadir, banyak orang mulai memahami apa itu teknologi cloud computing.

Meskipun Dropbox bukanlah pionir (dan bentuk layanan Dropbox sendiri hanya mencakup sebagian saja dari teknologi cloud computing), popularitas layanan ini ternyata cukup kuat untuk mempopulerkan dan membuka wawasan banyak orang tentang teknologi dan layanan cloud, selain tentunya mempopulerkan dirinya sendiri.

Suksesnya Dropbox tentulah berkat aksi tangan dingin orang-orang yang ada di baliknya. Salah satunya, siapa lagi jika bukan Drew Houston, sang CEO.

Drew Houston terlahir dengan nama lengkap Andrew W. Houston, pada tanggal 4 Maret 1983, di Acton, Massachusetts. Drew cukup beruntung memiliki keluarga yang telah mengenal teknologi. Ayah Drew adalah seorang insinyur elektronika jebolan Universitas Harvard.

Sebagai seorang ahli elektronika, tentunya ayah Drew memahami benar bahwa di masa depan komputer dan barang elektronik lainnya akan menjadi peranti yang sangat dibutuhkan umat manusia. Karena itu, sang ayah tak ragu merogoh koceknya untuk membelikan Drew seperangkat komputer.

Sudah tentu Drew girang bukan kepalang. Sebagai seorang anak laki-laki, sudah sangat lumrah juga jika kemudian Drew gemar bermain game dengan komputer yang dibelikan ayahnya tersebut.

Berkenalan dengan BASICA

Ketertarikan Drew tak berhenti hingga pada permainan game saja namun lambat laun dia juga mulai penasaran dengan program yang menyusun game tersebut.

Dan mulailah, Drew berkenalan dengan BASICA, bahasa pemrograman yang menjadi tulang punggung game yang dia mainkan. Kebetulan BASICA memang pada saat itu merupakan bahasa pemrograman yang cukup populer karena hampir semua komputer PC yang ada di pasaran dipastikan memiliki ROM BASICA di dalamnya.

Tak puas hanya sekadar mempelajari BASICA, Drew mulai “menjajah” komputer ayahnya dan belajar bahasa pemrograman C. Di komputer ayahnya tersebut, Drew mulai mengenal pengalaman baru, yaitu bermain game secara online dan mendaftar di salah satu penyedia layanan online gaming.

Barangkali karena sudah terlatih membongkar kode-kode program, Drew menemukan sebuah celah keamanan pada layanan online gaming yang diikutinya dan melaporkan hal tersebut pada perusahaan pengembang game tersebut.

Tindakan Drew ini mendapat respons positif dari perusahaan game tersebut, bahkan Drew ditawari untuk bekerja di sana. Padahal, usianya saat itu baru empat belas tahun. Tidak jelas apakah akhirnya Drew menerima tawaran tersebut atau tidak.

Bakat pemrograman Drew terasah dengan cepat dan dengan pertimbangan itu, selepas lulus SMA di Acton Boxborough Regional High School, Drew memutuskan untuk mendalami ilmu komputer di Massachusetts Institute of Technology (MIT).

Di kampus ini, Drew bukanlah model mahasiswa yang melulu membaca buku. Dia cukup aktif berkegiatan, bahkan tergabung dan aktif di organisasi Phi Delta Theta. Di organisasi inilah, Drew bertemu dengan Arash Ferdowsi, yang kelak bersama Drew akan menjadi pendiri Dropbox dan menjabat CTO.

Menulis Kode Saat Menunggu Bus

Dengan bakat yang dimilikinya, tak sulit bagi Drew untuk mendapatkan pekerjaan. Setelah lulus dari Jurusan Ilmu Komputer MIT, Drew terlibat pada beberapa perusahaan rintisan (startup), di antaranya Bit9, Accolade, dan Hubspot.

Puncaknya adalah ketika Drew tak lagi mencari pekerjaan, melainkan justru membuka lapangan pekerjaan bagi banyak orang, melalui startup yang didirikannya, yaitu Dropbox.

Kisah pendirian Dropbox tersebut bermula ketika Drew menunggu bus di sebuah halte, pada awal tahun 2007. Sebagaimana “orang TI” lainnya, Drew selalu membawa notebook. Menanti datangnya bus merupakan hal membosankan dan Drew mengisinya dengan bekerja menggunakan notebook-nya.

Saat menyalakan notebook-nya, barulah Drew menyadari bahwa data-data yang dibutuhkannya untuk bekerja tersimpan pada sebuah USB flash disk dan USB flash disk tersebut tertinggal di rumah.

“Karena demikian kecewanya karena tak bisa melanjutkan pekerjaan, saya sampai-sampai terbayang USB flash disk yang terletak di atas meja kerja saya di rumah, seolah USB flash disk tersebut ada di depan saya”, kenang Drew.

Lima belas menit pun berlalu dan Drew hanya bisa termangu. Kemudian naluri programmer-nya mulai “berbicara” dan mulailah Drew menulis kode program. Drew tak menyadari bahwa beberapa baris program yang ditulisnya selama menunggu bus di halte itulah yang akhirnya menjadi cikal bakal Dropbox.

Bisa ditebak, kode program yang ditulis Drew tersebut merupakan luapan rasa frustrasinya akibat USB flash disk yang seharusnya dibawa namun tertinggal. Drew mulai membayangkan, alangkah senangnya apabila data penting yang dibutuhkan untuk bekerja selalu ada bersamanya, meskipun dia harus berganti-ganti perangkat kerja. Konsep penyimpanan di awan (cloud) makin nyata tercetak di benaknya dan embrio Dropbox mulai terbentuk.

Tak banyak membuang waktu, hanya dalam hitungan bulan, Drew telah berkolaborasi dengan Arash Ferdowsi untuk membangun Dropbox. Saat itu Drew telah lulus dari MIT sedangkan Arash Ferdowsi sebenarnya telah mencapai semester terakhir kuliahnya. Namun demi proyek Dropbox, dia rela meninggalkan kuliahnya.

Mereka bekerja keras selama tiga bulan di sebuah kantor kecil di Cambridge. Jam kerja mereka dimulai siang hari hingga subuh hari berikutnya.

Ketika ditanya tentang situasi awal pendirian Dropbox, Drew menjawab, “Kami mengawali perusahaan kami dengan cara yang sama seperti orang lain mengawali perusahaan teknologi mereka. Kami bekerja di ruang sempit, berbaju santai, bahkan hanya bercelana pendek, dan kami terus menulis kode-kode program untuk membangun aplikasi yang akan menjadi produk kami.”

Pada bulan September 2007, Drew memindahkan kantor mereka ke San Fransisco. Kerja keras mereka mulai membuahkan hasil tatkala para investor mendengar tentang Dropbox dan mulai mendanai Dropbox. Para investor tersebut adalah Sequoia Capital, Accel Partners, Y Combinator, dan beberapa nama pribadi. Jumlah dana yang terkumpul secara total adalah 7,2 juta dollar AS. Drew mengakui bahwa titik ini merupakan sebuah batu loncatan penting dalam pengembangan Dropbox berikutnya.

Salah Satu Startup Terbaik

Namun titik tolak kesuksesan Dropbox yang sebenarnya diraih saat video tutorial penggunaan Dropbox yang diunggah di Digg menjadi viral. Di sinilah Dropbox mulai dikenal oleh banyak orang dan mulai banyak yang tertarik untuk menggunakannya. Saat itu Dropbox masih berstatus beta dan berkat video viral di Digg tersebut, jumlah orang yang hendak mencoba Dropbox melonjak dari hanya 5.000 orang menjadi 75.000 orang.

Salah satu kegemilangan Drew dalam melambungkan Dropbox adalah konsep referral yang ditawarkannya. Pengguna Dropbox yang mereferensikan orang lain untuk juga menggunakan Dropbox akan mendapatkan tambahan ruang simpan dalam jumlah tertentu. Ini menjadi sarana promosi yang relatif murah namun efektif.

Berkat prestasi yang diraihnya tersebut, Drew mendapatkan banyak penghargaan. Business Week menganugerahkan gelar kepada Drew sebagai salah satu orang paling berbakat di dunia teknologi informasi. Inc.com menyebut Drew sebagai salah satu pengusaha terbaik di bawah usia tiga puluh tahun (saat itu). Dropbox sendiri disebut sebagai salah satu startup terbaik di area San Fransisco.

Meski meraih sukses di usia yang masih sangat muda, tampan pula, tak membuat Drew tinggi hati. Dia selalu bersikap rendah hati dan bahkan selalu menyebut nama Arash Ferdowsi sebagai orang yang sangat berjasa baginya.

Saat ini Drew baru berusia 33 tahun dan kekayaannya ditaksir sekitar satu miliar dolar AS. Ada yang berminat menjadikannya menantu? Jika ya, sayang sekali sepertinya peluang itu kecil karena Drew telah menjalin relasi serius dengan CeCe Cheng, seorang staf humas Qwiki.

Pada tahun 2015, raksasa internet Tiongkok, Alibaba, pernah sesumbar bahwa mereka akan mengambil alih tampuk pimpinan di pasar public cloud dari Amazon Web Services (AWS) dalam empat tahun. Untuk mewujudkannya, Alibaba berinvestasi US$1 miliar pada bisnis Alibaba Cloud (Aliyun).

Pada tahun ini, ambisi itu masih berada di jalur yang benar, meski masih cukup jauh dari sasaran. Dikutip dari TechCrunch, Alibaba Cloud sekarang masih berada di posisi keenam dalam pangsa pasar layanan infrastruktur cloud global, di bawah AWS, Microsoft, Google, IBM, dan Salesforce. Namun, bisnis mereka terus berkembang hingga tiga digit setiap tahun.

Alibaba Cloud juga terlihat lebih agresif mendekati pasar-pasar regional yang belum dijamah serius oleh AWS, Microsoft, dan Google. Contohnya pasar Asia. Hal ini terbukti dari rencana Alibaba Cloud membangun data center di Malaysia, India, dan juga Indonesia pada tahun ini.

Data center Alibaba Cloud di Indonesia berlokasi di Jakarta dan dijadwalkan akan dibuka pada tahun fiskal ini yang berakhir pada 31 Maret 2018.

“Saya percaya Alibaba Cloud memosisikan diri secara unik dengan keuntungan budaya dan kontekstual untuk menyediakan inovasi data intelijen dan kemampuan komputasi kepada pengguna di Asia. Membangun data center di Indonesia dan India akan memperkuat posisi kami di area ini dan juga secara global,” kata Simon Hu (Senior Vice President of Alibaba Group dan President, Alibaba Cloud).

Dengan tiga data center terbaru ini, Alibaba Cloud akan menambah total data center menjadi 17 lokasi, melingkupi Tiongkok, Australia, Jerman, Jepang, Hong Kong, Singapura, Arab Saudi, dan Amerika Serikat.

Alibaba Cloud juga akan meningkatkan sumber komputasi di Asia secara signifikan sehingga memberi dukungan untuk pebisnis UKM di wilayah ini dengan kemampuan cloud yang kuat, terukur, hemat biaya, dan aman.

Alibaba Cloud akan menjadi perusahaan pemimpin cloud computing global pertama yang membangun data center di Indonesia dan siap menanggapi inisiatif Gerakan 1.000 Startup Digital yang diluncurkan Pemerintah Indonesia tahun lalu.

Ilustrasi kantor startup. [Foto: squarespace.com]

Pelan tapi pasti, perusahaan dan masyarakat mulai sadar akan pentingnya penggunaan cloud computing dalam bisnisnya.

Selain perusahaan berskala besar, kehadiran startup-startup lokal di Indonesia akan menjadi potensi pelanggan cloud computing yang besar dan mempercepat adopsi cloud computing di Indonesia.

Cornelius Hertadi (VP Sales and Marketing, Biznet GioCloud) mengatakan Indonesia memiliki bakat-bakat startup yang luar biasa banyak dan mereka lebih sadar serta ingin mengadopsi jasa layanan cloud computing lebih cepat.

Startup ingin bisnis dan pengembangan aplikasinya cepat running sehingga tidak ada waktu untuk membeli server, komputer, dan storage secara terpisah dan memakan waktu yang lama. Jadi, mereka lebih melirik menggunakan jasa layanan cloud computing yang simpel dan cepat,” katanya di Jakarta, Kamis (8/6).

Dengan adopsi cloud computing, perusahaan atau startup lebih menghemat bujet pengeluarannya dan bisa dialokasikan untuk kebutuhan lainnya.

Selain itu, layanan Biznet GioCloud menawarkan solusi Infrastructure as a Service (IaaS) secara menyeluruh dan terlengkap di Indonesia, meliputi pengadaan komputer, server, storage, dan network.

“Untuk membeli server skala ekonomi besar membutuhkan bujet sekitar Rp70 jutaan. Itu baru server, belum lagi UPS-nya jika mati lampu. Belum storage dan jaringannya. Terlalu banyak pengeluaran yang harus dikeluarkan perusahaan,” tukasnya.

Keunggulan lainnya, ketersediaan dan keandalan Sumber Daya Manusia (SDM) dari Biznet GioCloud yang mengurusi semua infrastruktur cloud computing.

“Kami memiliki tim yang standby 24 jam untuk memastikan layanan cloud computing terus berjalan,” ujarnya.

Amazon Web Services. ( (kredit: www.e27.co)

Saat ini Amazon Web Services (AWS) adalah pemain besar dalam industri jaringan dan Internet di Amerika Serikat (AS) dan dunia.

Untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusianya (SDM), Amazon akan meluncurkan website pelatihan tentang berbagai solusi AWS untuk karyawannya dan masyarakat luas.

Amazon ingin memiliki SDM yang mampu mendukung operasional komputasi awan dan memenuhi kebutuhan AWS pengguna.

“Sebelumnya, Anda harus memiliki beberapa situs untuk mendapatkan penawaran pelatihan dan sertifikasi dari AWS,” kata Amazon dalam blog resmiya seperti dikutip The Next Web.

Amazon mengatakan website itu juga mengajak pengembang solusi dan aplikasi untuk bergabung ke dalam AWS Training dengan cara mengikuti ujian AWS Certification, melacak kemajuan pembelajaran, dan mengakses keuntungan berdasarkan AWS Certification.

“Cara ini akan mempermudah profesional teknis untuk mengasah kemampuan dan meningkatkan pengetahuan merekan tentang solusi AWS. Harapannya, mereka akan semakin menguasai bidang AWS dan mendapatkan sertifikasi resmi dari kami,” ucapnya.

Untuk mengakses portal tersebut, pengguna harus menciptakan akun baru atau dengan masuk dengan akun Amazon sebelumnya. Pemilik akun AWS Training akan disuguhi opsi untuk memindahkan riwayat pelatihan sebelumnya ke platform baru.

Selain itu, portal pelatihan terbaru itu akan memudahkan pemula AWS ambisius untuk mengejar ketertinggalan mereka dengan tren terbaru dan terbaik dan mempraktikan pengelolaan infrastruktur cloud.

“Pengalaman praktik ini sangat penting mendukung sertifikasi pengguna,” pungkasnya.

“Jangan pindah ke cloud jika people dan process-nya belum siap” Irvan Yasni (Chief Technical Officer Sinar Mas Land)

Apakah perusahaan harus mengadopsi cloud?

Menurut Irvan Yasni (CTO Sinar Mas Land), pertanyaan tersebut sudah tidak relevan lagi. “Menurut saya, mau tidak mau kita harus ke cloud,” ungkap Irvan. Ia mengatakan hal itu di depan puluhan peserta seminar “Modernize Your Storage Infrastructure with Hybrid and Cloud” yang diselenggarakan IBM bersama InfoKomputer.

Adopsi cloud menjadi pilihan karena berbagai tantangan yang muncul dari para stakeholder. Pemimpin perusahaan atau CEO menuntut CIO untuk mendukung inovasi bisnis dengan cepat. Sementara di sisi lain, CFO sering kali menanyakan RoI (Return on Investment) dari investasi IT yang harus dilakukan. Belum lagi tuntutan dari stakeholder lain, seperti technology principal yang terus mengurangi durasi support produknya, serta customer yang selalu membandingkan layanan kita dengan pengalaman mereka selama ini.

Dengan semua tuntutan tersebut, Irvan melihat adopsi cloud sebagai jawaban. Hal inilah yang menjelaskan mengapa Sinar Mas Land telah mengadopsi cloud sejak tahun 2015. Saat ini, sekitar 80% workload mereka sudah ada di cloud.

Pandai-pandai Menimbang

Wacana pindah ke cloud muncul ketika Sinar Mas Land menghadapi kekurangan kapasitas di data center-nya. “Kala itu kita dihadapkan pada dua pilihan: menambah kapasitas atau memindahkan sebagian ke cloud,” cerita Irvan. Irvan pun kemudian melakukan perhitungan dari dua pilihan tersebut.

Ketika menambah kapasitas, perusahaan akan mengeluarkan dana untuk membeli hardware. Namun perhitungan tidak cukup sampai situ. Perusahaan juga harus memperhitungkan biaya lain seperti facility cost. “Hal ini yang sering lupa dihitung oleh orang TI, padahal angkanya bisa 10% dari total opex (operating expenditure) kita,” ungkap Irvan.

Faktor lain yang harus diperhitungkan adalah cost ketika terjadi downtime. “Karena kita sama-sama tahu, mengelola data center tidak mudah, sehingga resiko terjadinya down selalu ada,” tambah Irvan.

Dari semua perhitungan tersebut, akhirnya cloud menjadi pilihan yang lebih efisien. “Dalam kasus kami, kira-kira nilai [untuk menambah kapasitas] sekitar 40% lebih tinggi.” Irvan menggambarkan perhitungannya.

Sedangkan saat memilih aplikasi mana yang pindah ke cloud, Irvan memiliki beberapa pertimbangan. Yang pertama adalah compliance. Karena sebagian unit mereka berada di industri yang highly-regulated, Sinar Mas Land harus memastikan workload di sektor tersebut tetap memenuhi standar.

Faktor lainnya adalah soal performa. “Jangan sampai ketika pindah ke cloud, performa aplikasi jadi menurun,” tambah Irvan.

Faktor lain yang tak kalah penting adalah harga. Salah satu kelebihan cloud adalah efisiensi, namun tidak semua workload cocok ke cloud. “Contohnya untuk virtual desktop, akan tiga kali lebih mahal jika dipindahkan ke cloud,” ungkap Irvan.

Namun Irvan juga mengingatkan, hitung-hitungan soal harga akan terus berubah mengingat persaingan di penyedia cloud yang dinamis. Artinya, jika hari ini lebih mahal di cloud, esok bisa jadi justru lebih murah dibanding ketika dipasang di on-premise.

People and Process

Setelah 1,5 tahun menjalani hybrid cloud, Irvan pun memiliki beberapa insight yang bisa dibagi. Yang pertama adalah perusahaan harus benar-benar selektif memilih penyedia cloud. “Karena ketika sudah pindah ke cloud, menarik balik data ke on-premise adalah painful process,” ungkap Irvan.

Perusahaan juga harus menyiapkan perubahan di sisi process maupun people. Contohnya secara operasional keseharian, visibility yang dimiliki tim Operations akan berkurang. “Mereka juga harus siap dengan adanya layer komunikasi baru, yaitu ke penyedia cloud,” tambah Irvan.

Fungsi konvensional seperti DC dan DRC juga tidak relevan lagi. “Yang muncul adalah fungsi-fungsi seperti backup system, restore system, dan DR-system yang cloud-ready,” ungkap Irvan.

Sedangkan di sisi security, Irvan juga melihat adanya perubahan. “Ketika kita on-premise, semua berada di kontrol kita. Sementara kalau di cloud, ada hal-hal yang harus kita pasrahkan [ke penyedia cloud],” ungkap Irvan.

Selain itu, Irvan juga mengingatkan para CIO kalau tidak semua lingkup security menjadi tanggung jawab penyedia cloud. “Cloud provider lebih bertanggung jawab terhadap security di sisi platform, seperti access control atau data sovereignity,” tambah Irvan.

Sementara untuk data security, tetap menjadi tanggung jawab perusahaan. Karena itu, perusahaan tetap harus melakukan langkah pengamanan, seperti memasang antivirus atau data encryption. “Sayangnya, hal ini biasanya tidak pernah dibicarakan penyedia cloud,” cerita Irvan. Karena itu, terkait security di cloud, Irvan menyarankan perusahaan menghitung risk apetite dari tiap workload. “Dari situ, kita tinggal cari jalan tengahnya,” tambah Irvan.

Meski memiliki banyak tantangan, Sinar Mas land sendiri akan terus menambah kapasitas di sisi cloud. Bahkan Irvan melihat, bukan tidak mungkin suatu hari semua infrastruktur mereka ada di cloud. “Ketika teknologi terus berkembang dan penyedia cloud bisa menyediakan fasilitas enterprise-grade, saya rasa semua infrastruktur akan pindah ke cloud,” tambah Irvan.

Siapkan Infrastruktur yang Tepat

“Agar bisa memanfaatkan cloud dengan optimal, perusahaan harus mulai dengan pendekatan Software-defined Data Center,” kata Craig McKenna (Director Asia Pacific Storage, IBM Systems for Cloud Platform).

Dari kacamata IBM sendiri, cloud pada dasarnya adalah perubahan platform untuk menghadirkan IT services. “Platform itu bisa ada di dalam maupun di luar data center perusahaan,” ungkap Craig McKenna (Director Asia Pacific Storage, IBM Systems for Cloud Platform).

Karena itu, Craig memandang pentingnya perusahaan untuk mengadopsi pendekatan software-defined data center (SDDC). Karena dengan pendekatan SDDC, perusahaan bisa menghasilkan IT services secara dinamis, baik dengan pendekatan on-premise, cloud, atau gabungan keduanya.

Konsep SDDC ini kian relevan di sektor storage seiring kemunculan teknologi flash dan meledaknya jumlah data.

Ketika flash storage semakin terjangkau, perusahaan kini memiliki opsi untuk memanfaatkan flash sebagai media penyimpan utamanya. Namun ketika data bertambah dengan kecepatan eksponensial, menyimpan sebagian data ke cloud demi efisiensi juga menjadi pilihan menarik.

Agar konfigurasi ini bisa optimal, dibutuhkan sistem storage yang memiliki kepandaian untuk menyimpan data pada media yang tepat.

IBM sendiri mengaku memiliki kemampuan itu melalui teknologi Easy Tier. “Data yang butuh akses cepat akan ditaruh di flash, sementara data yang “cold” akan ditaruh di cloud,” ungkap Benny Abrar (Country Manager, Storage Solution, IBM Indonesia). Selain itu ada juga teknologi Spectrum Scale yang bisa menurunkan biaya sampai 90% dengan cara menjalankan automatic policy untuk storage tiering.

Craig juga mengingatkan, ada perbedaan mendasar antara cloud computing dan cloud storage. “Memindahkan aplikasi bisa dibilang sederhana karena lebih melibatkan logic,” ungkap Craig.

Namun memindahkan aplikasi membutuhkan proses yang lebih rumit karena data tidak bisa begitu saja pindah dari on-premise ke cloud maupun sebaliknya. Karena itu, memiliki sistem storage yang cerdas adalah kunci kesuksesan adopsi hybrid cloud.