Tags Posts tagged with "CTI group"

CTI group

Presiden Direktur CTI Group Harry Surjanto

Saat ini pemerintah Indonesia sedang giat membangun infrastruktur seperti jalan-jalan tol di Indonesia termasuk juga tol laut. Namun, Faisal Basri (Pengamat Ekonomi Universitas Indonesia) mengingatkan pemerintah juga untuk membangun infrastruktur tol udara yaitu meningkatkan jaringan kecepatan Internet di Indonesia.

Faisal mengatakan Presiden RI Joko Widodo harus membangun jalan tol udara untuk meningkatkan kecepatan Internet karena saat ini Indonesia sudah masuk era digital. Masalahnya, kecepatan Internet Indonesia saat ini masih berada dibawah dari negara-negara lainya.

“Sinyal bagus tapi enggak penuh. Kecepatan internet kita cuma 7,2 mbps. Jadi integration kita lemah karena sudah crowded di udara ini. semua operator seperti itu. jalan tolnya istilahnya enggak stabil sekali,” katanya dalam ajang Golden Circle Club Meeting ke-13 di Jakarta

Jaringan Internet yang cepat akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia yang bagus. “Meskipun tol udara tidak terlihat tetapi ini sangat penting bagi Indonesia kedepannya,” pungkasnya.

Sementara itu, PT Computrade Technology International (CTI Group), penyedia solusi infrastruktur teknologi informasi (TI), hari ini menyelenggarakan acara diskusi Golden Circle Club Meeting untuk membahas bagaimana potensi dari dampak sentimen politik, terutama jelang Pilpres 2019.

Golden Circle Club Meeting ke-13 itu menghadirkan narasumber dari berbagai kalangan seperti Faisal Basri (Pengamat Ekonomi Universitas Indonesia), Hanta Yudha (Direktur Eksekutif Poltracking Indonesia) dan Roy Nicholas Mandey (Ketua Umum Asosiasi Pelaku Ritel Indonesia (Aprindo).

Harry Surjanto (Presiden Direktur CTI Group) mengatakan CTI Group mengumpulkan para pelaku bisnis TI di acara Golden Circle Club Meeting untuk saling berbagi insight dan pengetahuan sejauh mana sentimen politik, terutama jelang Pilpres 2019.

“Kami berharap dengan adanya sharing ini, pebisnis dapat melakukan upaya preventif apabila diperlukan supaya terhindar dari dampak negatif yang mungkin saja terjadi,” ujarnya di Jakarta, Senin (16/10).

CTI Group terus menjaga komitmennya untuk tumbuh bersama mitra bisnisnya, melalui penyediaan dukungan lengkap mulai dengan fasilitas CTI Technology Center, tenaga ahli (engineer), layanan Customer Response Center 24/7 hingga rangkaian portfolio teknologi terkini yang didistribusikan oleh anak perusahaan CTI Group, yakni Blue Power Technology, Central Data Technology, Virtus Technology Indonesia, Helios Informatika Nusantara, dan XDC Indonesia.

CTI Group menyempurnakan layanannya kepada mitra bisnis dan pelanggan dengan membentuk dua anak usaha baru bernama Defenxor selaku managed security service provider (MSSP), dan Inovasi Informatika Nusantara (i-3) yang menyajikan layanan edukasi dan training kepada profesional TI.

Lugas M. Satrio (Presiden Direktur, Blue Power Technology) membuka acara workshop AI berbasis cloud di Binus University.

Menyambut tren penggunaan teknologi cloud computing dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), kebutuhan terhadap SDM TI yang terampil di kedua bidang itu pun turut meningkat.

Blue Power Technology (BPT), anak perusahaan CTI Group, ingin membantu mempersiapkan SDM TI yang siap bekerja dan beradaptasi dengan solusi-solusi itu. Caranya melalui pelaksanaan workshop dan online hackathon terkait pemanfaatan sistem AI berbasis cloud, yaitu perpaduan antara IBM Watson dan Bluemix.

Kegiatan ini digelar di Binus University dan Universitas Gunadarma Jakarta serta diikuti oleh mahasiswa dan calon programmer di kedua perguruan tinggi.

Dalam workshop tersebut, para peserta tidak hanya belajar mengenai cloud platform sebagai infrastruktur untuk membuat, menjalankan, dan mengembangkan berbagai aplikasi, tetapi juga mengeksplorasi dan berkreasi dengan fitur AI secara gratis, di antaranya fitur chatbot, emotion recognition, dan language.

Sementara itu, acara online hackathon bertajuk Bluemix Challenge dilaksanakan pada 26 September – 30 Desember 2017. Setiap tim, maksimal beranggotakan tiga orang, wajib menggunakan Bluemix dalam pembuatan aplikasi, baik web-based maupun mobile, setelah mendaftar di Forum BPT Bluemix Community (BBC).

Penjurian dilihat dari enam kriteria, yaitu keunikan aplikasi, kegunaan dan dampak, kelengkapan, fitur, tampilan, dan banyaknya service Bluemix yang digunakan. Peserta yang menang akan mendapatkan hadiah berupa pemasaran aplikasi dan profit dari penjualan aplikasi tersebut.

“Layanan AI berbasis cloud akan menjadi elemen penting dalam infrastruktur TI enterprise, namun dalam pengadopsiannya masih terkendala dengan ketersediaan SDM berkualitas. Untuk itu, kami hadir membantu para mahasiswa menjadi tenaga kerja terampil yang dapat memanfaatkan cloud platform dan AI agar proses pengembangan software berjalan lebih mudah dan kreatif,” ujar Lugas M. Satrio (Presiden Direktur, BPT).

BPT adakan workshop AI berbasis cloud di Binus University, Jakarta.

Bluemix sebagai cloud platform memiliki engine berbasiskan Cloud Foundry, yaitu open source project untuk membangun layanan Cloud PaaS. Tidak seperti kompetitornya, Bluemix memiliki kemampuan analitik yang memungkinkan pengguna membuat aplikasi dan layanan yang lebih pintar dan menarik.

Dengan Bluemix, pelanggan dapat mengatur aplikasi dan datanya sendiri, sedangkan infrastruktur seperti runtime, sistem operasi, jaringan, server, penyimpanan, virtualisasi, dan perangkat keras disediakan serta dirawat langsung oleh IBM. Pengguna tidak perlu repot dalam hal pengaturan dan perawatan terhadap aplikasi yang dibuat karena mereka dapat langsung mencoba membuat aplikasi dan menyimpan kode serta datanya di IBM Cloud.

Deddy Sudja (Presiden Direktur Helios Informatika Nusantara)

Saat ini perusahaan-perusahaan di Indonesia mulai terbuka dan mengadopsi teknologi enterprise mobility untuk mengakomodir penggunaan perangkat pribadi untuk bekerja (bring your own device/BYOD).

Deddy Sudja (Presiden Direktur Helios Informatika Nusantara) mengatakan teknologi enterprise mobility menawarkan banyak manfaat untuk pertumbuhan bisnis perusahaan seperti meningkatkan performa bisnis, membantu proses pengambilan keputusan di kantor, dan pengumpulan serta penyampaian informasi yang akurat dan real-time.

“Pengadopsian teknologi enterprise mobility sangat penting karena perusahaan telah memasuki era digital dan sudah semakin banyak orang yang memanfaatkan perangkat Internet of Things (IoT) dalam kehidupan sehari-hari seperti smart house dan smart office,” katanya dalam acara Helios Mobility Day di Hotel Grand Hyatt Jakarta, Rabu.

Tentunya, ada juga perusahaan yang belum mau mengadopsi solusi enterprise mobility karena faktor keamanan data, biaya, dan kompleksitas pengelolaan di tengah cepatnya perubahan teknologi.

Berdasarkan lembaga riset pasar, International Data Corporation (IDC), ada 1.350 organisasi di seluruh dunia mengungkapkan faktor peningkatan pengalaman pelanggan adalah alasan perusahaan mengadopsi strategi mobilitas.

IDC juga mencatat bahwa implementasi enterprise mobility pada perusahaan di Asia Pasifik sudah masuk ke dalam kategori mature (pengalaman), seiring bergesernya peranan teknologi mobile dari sekadar device centric menjadi penggerak bisnis dan digital workspace.

Helios Mobility Day

Helios Informatika Nusantara, penyedia solusi infrastruktur TI dan anak usaha CTI Group, hari ini menyelenggarakan seminar dan pameran di bidang TI bernama Helios Mobility Day di Hotel Grand Hyatt Jakarta.

Helios Mobility Day menampilkan beragam solusi mobility untuk level enterprise dan aplikasi mobile terkini hasil kreativitas para pengembang software independen (ISV).

Helios Mobility Day menampilkan sederet aplikasi mobile untuk berbagai sektor industri, di antaranya aplikasi manajemen order dan inventori untuk industri food & beverage dan retail, aplikasi pengelolaan sistem distribusi untuk industri fast-moving consumer goods dan farmasi.

Event itu juga didukung berbagai vendor terkemuka seperti Samsung, HPE Aruba, MobileIron dan Microsoft.

(ki-ka) Ronny Christian (Presiden Direktur, i-3), Harry Surjanto (Presiden Direktur, CTI Group), Toto A. Atmojo (Presiden Direktur, Defenxor).

Tidak ada lagi perusahaan dan pemilik bisnis yang tidak memerlukan bantuan tenaga TI. Sayangnya, jumlah SDM TI berkualitas di Indonesia masih dipandang belum memadai. Riset Manpower Group mencatat TI menempati posisi teratas daftar kelangkaan SDM di 2016, naik tujuh peringkat dari tahun sebelumnya.

Menjawab kebutuhan tersebut, perusahaan dapat meningkatkan kemampuan SDM TI mereka melalui pelatihan, merekrut talenta berkualitas, atau menggunakan layanan outsource untuk membantu menangani beban kerja TI mereka.

Dalam hal peningkatan skill, CTI Group membentuk PT Inovasi Informatika Indonesia (i-3) yang menyediakan layanan training bersertifikat internasional untuk membantu profesional TI dan non-TI yang menjadi pengguna network perusahaan untuk mencapai potensi maksimal mereka.

Saat ini i-3 telah menjadi pusat pelatihan resmi untuk solusi Oracle, EC-Council, EMC, Redhat, VMware, Comptia, dan Pearson.

Pelatihan dilakukan oleh pengajar bersertifikasi dan berpengalaman yang fokus pada konsep teknologi, prinsip, dan studi kasus yang lazim diterapkan di berbagai lingkungan TI. Kurikulum yang dihadirkan berbasis kompetensi dan dilengkapi fasilitas Technology Center agar peserta dapat hands on pada solusi TI terbaru.

i-3 juga menyediakan solusi infrastruktur TI dan layanan konsultasi untuk meningkatkan kapasitas TI para pelanggan. Solusi dan layanan yang tersedia mencakup solusi keamanan TI, open source, virtualisasi dan cloud, serta database.

Layanan Managed Service

Selain melalui pendekatan edukatif, kelangkaan SDM TI terampil juga bisa diatasi dengan memanfaatkan jasa managed service provider yang dapat membantu mengelola kebutuhan keamanan TI perusahaan.

Defenxor selaku managed security service provider (MSSP) memiliki tenaga ahli di bidang keamanan TI untuk melindungi aset perusahaan dari ancaman serangan siber melalui proses monitoring 24 jam dan manajemen fungsi keamanan TI.

Defenxor memiliki solusi yang terbagi menjadi tiga lingkup. Pertama, DIMS (Defenxor Intelligence Managed Security) yang melakukan fungsi monitoring dan manajemen kemanan dengan memasang appliance di kantor pelanggan dan dimonitor secara remote dari fasilitas Security Operations Center (SOC) milik Defenxor.

Kedua, Defenxor bertindak sebagai konsultan TI (Defenxor Intelligence Security Consulting) perihal kebutuhan security implementation, vulnerability test dan pendampingan untuk mendapatkan sertifikasi kemanan TI.

Ketiga, layanan DISI (Defenxor Intelligence Security Integrator) yaitu penyediaan produk maupun solusi keamanan TI seperti firewall, Anti-Malware, IPS (Intrusion Prevention System), WAF (Web Application Firewall).

Toto A. Atmojo (CEO, Defenxor). [Foto: Abdul Aziz/InfoKomputer]

Situs sebuah perusahaan terdeteksi telah diserang. Serangan itu bisa dihalau dengan mudah. Namun ada fakta yang mencurigakan. Alamat IP yang digunakan menyerang web tersebut ternyata juga pernah masuk ke mail server perusahaan.

Setelah diusut, diketahui sang penyusup yang menggunakan IP tersebut telah berhasil masuk ke mail server tersebut beberapa bulan sebelumnya. Lebih parah lagi, ia berhasil menjadikan dirinya menjadi user dengan akses sekelas administrator.

Cerita nyata itu disampaikan Toto A. Atmojo (CEO, Defenxor) untuk menggambarkan kian canggihnya serangan sekuriti TI saat ini. Di sisi lain, perusahaan harus menghadapi dilema keterbatasan SDM serta skill untuk bisa menjawab serangan sekuriti TI yang bertubi-tubi itu.

Tantangan inilah yang dicoba dijawab Defenxor melalui layanan managed security.

Mengatasi Keterbatasan

Sebenarnya, ada tiga layanan security yang ditawarkan Defenxor, meliputi penyediaan hardware, jasa konsultasi, serta managed security. Namun dari ketiga layanan tersebut, managed security menjadi andalan utama Defenxor saat ini.

Toto mengakui, layanan managed security masih agak asing di Indonesia. “Padahal kalau di luar negeri, layanan seperti ini sudah umum,” ungkap pria yang selama belasan tahun berkiprah di dunia sekuriti TI ini. Namun Toto yakin, layanan managed security ini akan makin dilirik perusahaan seiring meningkatnya ancaman terhadap sekuriti TI yang kini terjadi.

Kesadaran perusahaan mengenai pentingnya sekuriti TI sebenarnya sudah mulai terbentuk. Akan tetapi, fokusnya masih sebatas pembelian perangkat. “Jadi ketika punya firewall atau anti-virus, mereka sudah merasa aman,” ungkap Toto. Padahal seperti teknologi lain, sekuriti TI juga harus diikuti unsur people dan process. “Penting untuk menentukan who doing what,” tambah Toto.

Bagi banyak perusahaan, soal people dan process ini memang menimbulkan dilema tersendiri. Dari sisi people, tidak mudah menemukan orang yang memiliki kemampuan terhadap sekuriti TI yang memadai.

Sementara dari sisi proses, dibutuhkan kerja ekstra keras untuk memonitor serangan terhadap sekuriti TI yang tidak mengenal waktu. Padahal, investasi di sisi sekuriti TI sering kali tidak murah. “Tidak mungkin kita membangun pagar yang lebih mahal dibanding harga rumahnya,” ungkap Toto menganalogikan.

Pada titik inilah, layanan managed security menjadi relevan. Perusahaan hanya perlu berinvestasi di sisi teknologi, sedangkan unsur people dan process ditangani oleh layanan managed security seperti Defenxor.

Dari sisi people, mereka memiliki tim ahli sekuriti TI yang bekerja 24/7 untuk memonitor keamanan TI perusahaan. Sementara di sisi process, mereka juga juga memiliki SOP khusus ketika terjadi serangan. “Sehingga secara keseluruhan, perusahaan memiliki tim security yang komplet untuk backup security mereka,” jelas Toto.

Lingkup Kerja

Pada dasarnya, ada tiga fungsi utama Defenxor sebagai penyedia layanan managed security.

Yang pertama adalah melakukan proses pengawasan terhadap perimeter sekuriti TI perusahaan selama 24/7. Di kantor Defenxor yang berada di bilangan Gatot Subroto, Jakarta, terdapat Security Operation Center (SOC). SOC ini berisi security analyst yang terus-menerus mengawasi ancaman keamanan yang ada. Secara berkala, hasil dari pemantauan ini akan dilaporkan sehingga customer bisa mengetahui security posture mereka secara lebih detail.

Fungsi kedua adalah mengelola (managed) jika terjadi serangan. Pada level ini, security analyst memiliki serangkaian scoop of work yang telah ditentukan. Salah satunya adalah mengecek apakah serangan ini berpotensi menjadi insiden. “Karena jika ada virus Windows yang menyerang mesin fotocopy, itu dibiarkan saja,” Toto mencontohkan. Hal lain yang dicek adalah apakah serangan dari IP yang sama pernah terjadi sebelumnya. Jika ya, penyelidikan lebih lanjut bisa dilakukan.

Sementara fungsi ketiga adalah membantu perusahaan ketika terjadi insiden. Caranya dengan mengumpulkan data sebanyak mungkin. Ini memungkinkan TI internal perusahaan bisa mendapat gambaran lebih jelas mengapa serangan tersebut bisa menembus masuk ke perusahaan. “Analoginya seperti kami memberi hasil lab kepada dokter,” cerita Toto.

Toto mengakui, layanan Defenxor tidak bisa menjamin perimeter sekuriti TI yang antitembus. Selain karena serangan bisa terjadi kapan saja, efektivitas solusi managed security seperti Defenxor sangat tergantung pada komitmen customer. “Mereka juga harus memperbaiki sistem [yang menjadi sumber kelemahan] setelah kami laporkan,” ungkap Toto.

Karena itu, SLA layanan Defenxor sendiri lebih kepada response time dan resolution time.

Response time meliputi durasi yang dibutuhkan untuk mengambil data ketika terjadi serangan. “Ini biasanya dua jam, namun ada beberapa klien yang minta setengah jam,” ungkap Toto. Sementara SLA resolution time adalah durasi untuk menganalisis serangan tersebut, seperti asal serta tujuan serangan. Untuk response time ini, SLA-nya adalah dua minggu. “Namun saat ini kami bisa lakukan kurang dari satu hari,” tambah Toto.

Toto A. Atmojo (CEO, Defenxor). [Foto: Abdul Aziz/InfoKomputer]

Perangkat Khusus

Analisis sekuriti TI ini sendiri berbasis logs dari perangkat sekuriti TI yang dimiliki perusahaan. Artinya, perusahaan harus memiliki perangkat sekuriti TI terlebih dulu seperti firewall, antivirus, DLP (Data Loss Prevention), atau IPS (Intrusion Prevention System). Seluruh informasi dari perangkat ini kemudian dikumpulkan dan dianalisis oleh perangkat khusus yang disebut Defenxor Security Appliance. “Appliance ini ditaruh di tempat customer,” ungkap Toto.

Keberadaan perangkat khusus ini, menurut Toto, merupakan salah satu kelebihan Defenxor. “Karena berarti semua data tetap ada di sisi klien,” jelas Toto. Tim Defenxor hanya melakukan remote access ke perangkat tersebut, sehingga tidak perlu menarik data ke pusat operasi seperti yang dilakukan penyedia managed security lain.

Di dalam appliance tersebut juga terdapat berbagai fitur sekuriti TI yang membantu mengamankan perimeter sekuriti TI perusahaan, seperti SIDM (Security Information and Defend Management), IPS, maupun Honeypot.

Di usia yang baru delapan belas bulan [per Juni 2017. red], Defenxor mengaku sudah dipercaya untuk memonitor sekuriti TI dari belasan perusahaan Indonesia. Toto yakin angka tersebut akan meningkat ketika makin banyak perusahaan mengenal konsep managed security. “Success rate dari POC (Proof of Concept) itu mencapai 80%. Yang susah mencari perusahaan yang mau melakukan POC,” ujar Toto sambil tertawa lebar.

Kiprah Defenxor pun tidak cuma di Indonesia. Mereka kini mulai memasarkan solusinya ke Filipina, mengambil momentum dari keberadaan Computrade Indonesia, partner Defenxor yang juga beroperasi di sana. Dengan terus melakukan edukasi pasar mengenai managed security, Tito yakin Defenxor akan menjadi pemain penting di industri sekuriti TI di masa depan.

“Mimpi kami adalah menjadi perusahaan IT security terbesar di Indonesia,” tukas Toto dengan mantap.

Virtus Showcase 2017.

Virtus Technology kembali menggelar konferensi dan pameran TI tahunan, Virtus Showcase 2017, yang tahun ini mengangkat tema “Reinventing Business in The Digital Age” di Hotel Mulia Senayan, Jakarta, Rabu (2/8).

Pagelaran yang kali ini menginjak tahun kelima membahas dua topik utama terkait transformasi digital dan keamanan siber.

Hadir dalam kesempatan tersebut adalah Iwan Djuniardi (Direktur Transformasi Teknologi Komunikasi dan Informasi Ditjen Pajak, Kementerian Keuangan) yang mengisahkan transformasi layanan perpajakan untuk peningkatan kualitas layanan dan kepatuhan pajak serta Pratama Persadha (Ketua Communication and Information System Security Research Center (CISSReC)) yang memaparkan situasi keamanan siber terkini di Indonesia.

[BACA: Iwan Djuniardi: Mendorong Digital Governance di Dirjen Pajak]

Selain itu, dalam sesi diskusi panel yang dimoderatori Ken Ratri Iswari (CEO dan Founder, Geekhunter), empat pembicara dari berbagai latar industri membagikan success story maupun tantangan yang mereka alami selama proses transformasi digital berlangsung.

“Meskipun transformasi digital mulai ramai dibicarakan sejak 2012, transformasi ini tidak berjalan secepat yang diinginkan, terutama karena kerumitan proses dan besarnya nilai investasi. Melalui Virtus Showcase, profesional bisnis dapat belajar bagaimana menentukan strategi transformasi yang tepat, memilih teknologi pendukung, termasuk solusi keamanan yang mampu melindungi aset berharga dari potensi serangan cyber agar proses transformasi mereka berjalan aman,” jelas Christian Atmadjaja (Direktur Virtus).

Belanja Terbesar

Lembaga riset IDC memprediksi pengeluaran di seluruh dunia untuk teknologi yang menunjang transformasi digital akan meningkat 17,8% dari tahun 2016 menjadi US$1,2 triliun di tahun 2017.

Kategori teknologi yang menjadi belanja terbesar di transformasi digital pada tahun 2017 adalah layanan konektivitas, layanan TI, dan pengembangan aplikasi & penerapan. Sementara itu, kategori teknologi untuk transformasi digital yang memiliki pertumbuhan tercepat selama lima tahun ke depan adalah infrastruktur cloud (29,4% CAGR), layanan bisnis (22,0% CAGR), dan aplikasi (21,8% CAGR).

“Transformasi digital secara fundamental akan mengubah cara setiap perusahaan di semua industri dibangun, beroperasi, dan berinteraksi dengan para pelanggan mereka. Perusahaan di Indonesia harus melakukan transformasi TI dan kami memiliki portofolio solusi lengkap untuk membantu perjalanan transformasi digital mereka,” ujar Catherine Lian (Managing Director, Dell EMC Indonesia)

“Keamanan informasi menentukan keberhasilan transformasi digital. Tanpa sistem yang aman, strategi transformasi sebaik apapun dapat runtuh seketika. Melalui pemilihan solusi keamanan yang tepat dan perubahan perilaku bekerja karyawan ke arah yang lebih aman dapat melindungi perusahaan dari berbagai ancaman, termasuk ransomware,” jelas Dhany Kurniawan (Country Manager, Check Point Indonesia).

Virtus Showcase 2017 didukung oleh berbagai vendor TI terkemuka, seperti Dell EMC, Check Point, Hewlett Packard Enterprise, Quest, Riverbed, Ruckus, Google Enterprise, dan Red Hat.

Ilustrasi smart city. [kredit: blog.cedrotech.com]

Lembaga riset Citiasia mencatat empat kendala dalam proses pengembangan konsep smart city, yaitu masalah pembiayaan yang menempati posisi teratas, diikuti dengan masalah regulasi, sumber daya manusia, dan infrastruktur.

Kendala serupa juga dirasakan daerah yang sudah menerapkan konsep tersebut. Lembaga riset IDC menyebutkan sebanyak 90% kota di Indonesia berpotensi gagal memanfaatkan data smart city dan aset digitalnya lantaran kurangnya pendanaan, proses, manajemen proyek, dan keterampilan manajemen perubahan.

Blue Power Technology (BPT), anak perusahaan CTI Group, mencoba menjawab tantangan tersebut dengan menawarkan program managed service di bidang smart city melalui solusi Government Interactive Response Center (GIRC). Program ini diklaim dapat mewujudkan proyek kota cerdas yang hemat biaya dan mudah.

“Kami menyadari bahwa masalah utama investasi smart city adalah biaya dan kompleksitas. Melalui program managed service GIRC ini, pelanggan tidak dibebani oleh biaya yang besar untuk proyek smart city mereka karena pembayaran dilakukan hanya untuk operasional, yaitu setiap bulan selama kontrak berlangsung atau tiga tahun,” kata Lugas M Satrio (Presiden Direktur, PT Blue Power Technology) dalam rilis pers.

“Pelanggan juga tidak perlu pusing melakukan implementasi, mengelola aplikasi, maupun monitoring operasional harian mengingat proses ini cukup kompleks. Kami memiliki tim ahli khusus yang dapat mengambil alih tugas tersebut sehingga pelanggan dapat fokus meraih goal dari proyek smart city serta melakukan hal strategis lainnya,” Lugas menambahkan.

President Director, Blue Power Technology, Lugas M. Satrio.

Keunggulan GIRC

GIRC merupakan solusi smart city berbasis Intelligent Operations Center (IOC) milik IBM yang diluncurkan oleh BPT pada awal 2015 untuk membantu pemerintah daerah dalam mengelola wilayah dan memonitor performa seluruh aparat agar dapat memberikan pelayanan lebih baik terhadap warga.

Solusi ini memadukan perangkat Emergency Management, sensor, CCTV, dan video analytics yang memungkinkan penerimaan informasi dan data serta pengambilan tindakan secara real time terhadap keadaan darurat. Melalui solusi ini, pemerintah dapat menyelesaikan permasalahan di satu kota, berinteraksi dengan warga, meningkatkan responsifitas terhadap keluhan warga, dan memantau kinerja aparat.

Untuk solusi GIRC, BPT menyediakan produk lengkap mencakup hardware dan software berikut layanan implementasi sampai purnajual kepada pelanggan.

Program ini didukung oleh para profesional TI berpengalaman dan bersertifikat internasional yang akan memonitor data dan informasi yang masuk, memberikan analisis guna mengantisipasi terjadinya masalah seperti kemacetan, kriminalitas, banjir, pemborosan energi, dan insiden tertentu yang berpotensi mengganggu keamanan dan kenyamanan warga.

Situs sebuah perusahaan terdeteksi telah diserang. Serangan itu bisa dihalau dengan mudah, namun ada fakta yang mencurigakan. Alamat IP yang digunakan menyerang web tersebut ternyata juga pernah masuk ke mail server perusahaan. Setelah diusut, diketahui sang penyusup yang menggunakan IP tersebut telah berhasil masuk ke mail server tersebut beberapa bulan sebelumnya. Lebih parah lagi, ia berhasil menjadikan dirinya menjadi user dengan akses sekelas administrator.

Cerita nyata itu disampaikan Toto A. Atmojo (CEO Defenxor) untuk menggambarkan kian canggihnya serangan security saat ini. Di sisi lain, perusahaan harus menghadapi dilema keterbatasan SDM serta skill untuk bisa menjawab serangan security yang bertubi-tubi itu.

Tantangan inilah yang coba dijawab Defenxor melalui layanan managed security.

Mengatasi Keterbatasan

Sebenarnya, ada tiga layanan security yang ditawarkan Defenxor, meliputi penyediaan hardware, jasa konsultasi, serta managed security. Namun dari tiga layanan tersebut, managed security menjadi jualan utama Defenxor saat ini.

Toto mengakui, layanan managed security masih agak asing di Indonesia. “Padahal kalau di luar negeri, layanan seperti ini sudah umum” ungkap pria yang belasan tahun berkiprah di dunia security ini. Namun Toto yakin, layanan managed security ini akan semakin dilirik perusahaan seiring meningkatnya ancaman security yang kini terjadi.

Kesadaran perusahaan mengenai pentingnya IT security sebenarnya sudah mulai terbentuk. Akan tetapi, fokusnya masih sebatas pembelian perangkat. “Jadi ketika punya firewall atau anti-virus, mereka sudah merasa aman” ungkap Toto. Padahal seperti teknologi lain, security juga harus diikuti unsur people dan process. “Penting untuk menentukan who doing what” tambah Toto.

Bagi banyak perusahaan, soal people dan process ini memang menimbulkan dilema tersendiri. Dari sisi people, tidak mudah menemukan orang yang memiliki kemampuan security yang memadai. Sementara dari sisi proses, dibutuhkan kerja ekstra keras untuk memonitor serangan security yang tidak mengenal waktu. Padahal, investasi di sisi security sering kali tidak murah. “Tidak mungkin kita membangun pagar yang lebih mahal dibanding harga rumahnya” ungkap Toto menganalogikan.

Pada titik inilah, layanan managed security menjadi relevan. Perusahaan hanya perlu investasi di sisi teknologi, sementara unsur people dan process ditangani oleh layanan managed security seperti Defenxor.

Dari sisi people, mereka memiliki tim ahli security yang bekerja 24/7 untuk memonitor keamanan IT perusahaan. Sedangkan di sisi process, mereka juga juga memiliki SOP khusus ketika terjadi serangan. “Sehingga secara keseluruhan, perusahaan memiliki tim security yang komplit untuk backup security mereka” jelas Toto.

Lingkup Kerja

“Customer akan mendapatkan mobile apps yang akan memberi notifikasi jika terjadi serangan serta tingkat resikonya” Toto A. Atmojo (CEO Defenxor)

Pada dasarnya ada tiga fungsi utama Defenxor sebagai penyedia managed security. Yang pertama adalah melakukan proses pengawasan terhadap perimeter security perusahaan selama 24/7. Di kantor Defenxor yang berada di bilangan Gatot Subroto, Jakarta, terdapat Security Operation Center (SOC) berisi security analyst yang terus-menerus mengawasi ancaman keamanan yang ada. Secara berkala, hasil dari monitoring ini akan dilaporkan sehingga customer bisa tahu security posture mereka dengan lebih detail.

Fungsi kedua adalah mengelola (managed) jika terjadi serangan. Pada level ini, security analyst memiliki serangkaian scoop of work yang telah ditentukan, salah satunya adalah mengecek apakah serangan ini berpotensi menjadi insiden. “Karena jika ada virus Windows yang menyerang mesin fotocopy, itu dibiarkan saja” ungkap Toto mencontohkan. Hal lain yang dicek adalah apakah serangan dari IP yang sama pernah terjadi sebelumnya. Jika iya, penyelidikan lebih lanjut bisa dilakukan.

Sedangkan fungsi ketiga adalah membantu perusahaan ketika terjadi insiden. Caranya dengan mengumpulkan data sebanyak mungkin sehingga IT internal perusahaan bisa mendapat gambaran lebih jelas mengapa serangan tersebut bisa tembus. “Analoginya seperti kami memberi hasil lab kepada dokter” cerita Toto.

Toto mengakui, layanan Defenxor tidak bisa menjamin perimeter security yang anti-tembus. Selain karena serangan bisa terjadi kapan saja, efektivitas solusi managed security seperti Defenxor sangat tergantung pada komitmen customer. “Mereka juga harus memperbaiki sistem [yang menjadi sumber kelemahan] setelah kami laporkan” ungkap Toto.

Karena itu, SLA layanan Defenxor sendiri lebih kepada response time dan resolution time. Response time meliputi durasi yang dibutuhkan untuk mengambil data ketika terjadi serangan. “Ini biasanya dua jam, namun ada beberapa klien yang minta setengah jam” ungkap Toto. Sedangkan SLA resolution time adalah durasi untuk analisa serangan tersebut, seperti asal serta tujuan serangan. Untuk response time ini, SLA-nya adalah dua minggu. “Namun saat ini kami bisa lakukan kurang dari satu hari” tambah Toto.

Perangkat Khusus

Analisa security ini sendiri berbasis logs dari perangkat security yang dimiliki perusahaan. Artinya, perusahaan harus memiliki perangkat security dulu seperti firewall, antivirus, DLP (Data Loss Prevention), atau IPS (Intrusion Prevention System). Seluruh informasi dari perangkat ini kemudian dikumpulkan dan dianalisa oleh perangkat khusus yang disebut Defenxor Security Appliance. “Appliance ini ditaruh di tempat customer” ungkap Toto.

Keberadaan perangkat khusus ini, menurut Toto, merupakan salah satu kelebihan Defenxor. “Karena berarti semua data tetap ada di sisi klien” jelas Toto. Tim Defenxor hanya melakukan remote access ke perangkat tersebut, sehingga tidak perlu menarik data ke pusat operasi seperti yang dilakukan penyedia managed security lain. Di dalam appliance tersebut juga terdapat berbagai fitur security yang membantu mengamankan perimeter security perusahaan, seperti SIDM (Security Information and Defend Management), IPS, maupun Honeypot.

Di usia yang masih sekitar 18 bulan, Defenxor mengaku sudah dipercaya untuk memonitor  security dari belasan perusahaan Indonesia. Toto yakin angka tersebut akan meningkat ketika semakin banyak perusahaan mengenal konsep managed security. “Success rate dari POC (Proof of Concept) itu mencapai 80%. Yang susah mencari perusahaan yang mau melakukan POC” ujar Toto sambil tertawa lebar.

Kiprah Defenxor pun tidak cuma di Indonesia. Mereka kini mulai memasarkan solusi mereka ke Philipina, mengambil momentum dari keberadaan Computrade Indonesia, (partner Defenxor) yang juga beroperasi di sana. Dengan terus melakukan edukasi pasar mengenai managed security, Tito yakin Defenxor akan menjadi pemain penting di industri security di masa depan.

“Mimpi kami adalah menjadi perusahaan IT security terbesar di Indonesia” ungkap Toto dengan mantap.

Tan Wijaya (Direktur CDT)

Teknologi mobility telah terbukti dapat mempercepat proses bisnis, membuka peluang dan layanan baru serta mengurangi biaya operasional. Tren mobility pun akan terus booming hingga lima tahun ke depan.

Perusahaan riset Strategic Analytics mencatat jumlah mobile workforce di dunia akan meningkat menjadi 42.5 persen dari total pekerja di dunia atau sekitar 1,87 miliar karyawan yang bekerja secara mobile pada 2022.

Nilai pasar solusi Enterprise Mobility Management (EMM) diprediksi akan tumbuh menjadi USD 4,5 miliar pada 2020 dari USD 1,7 juta pada 2016 dengan angka pertumbuhan tahunan sebesar 27 persen.

PT Central Data Technology (CDT) akan menggandeng berbagai vendor TI dan pengembang aplikasi terbaik untuk menghadirkan rangkaian perangkat dan solusi enterprise mobility, serta aplikasi yang dapat dikustomisasi sesuai kebutuhan pelanggan.

Tan Wijaya (Direktur CDT) mengatakan organisasi dituntut untuk dapat mengimplementasikan mobile workspace. CDT pun akan memberikan para pelanggan enterprise dukungan layanan purna jual 24 jam, training dan program managed services di bidang mobility.

“Kami ingin membantu industri memilih perangkat dan solusi mobile yang aman, mudah dikelola dan nyaman,” katanya dalam siaran persnya, Minggu.

CDT juga akan menawarkan solusi customer mobile business milik Apple seperti platform iOS yang aman dan ratusan ribu aplikasi di App Store yang mampu membantu bisnis menjalankan operasionalnya lebih baik.

CDT juga akan menggandeng mitra bisnisnya Independent Software Vendor (ISV) untuk menciptakan solusi mobility. Selain itu, CDT juga bermitra dengan berbagai vendor TI penyedia solusi Mobile Device Management (MDM) dan solusi spesifik Industri.

“Kerjasama ini akan didukung dengan layanan purna jual CDT 24 jam, certified engineer berpengalaman di bidang teknologi mobility, fasilitas Technology Center dan training bagi pelanggan,” ujarnya.

Acara iCIO Exchange yang diadakan iCIO Community untuk mendengarkan resep sukses transformasi digital Telkom Group.

Transformasi digital adalah sebuah keniscayaan bagi perusahaan di era modern ini. Pasalnya, tidak ada satu sektor bisnis pun yang saat ini bisa dilepaskan dari peran penting teknologi informasi dan digital.

Namun, tidak semua perusahaan sudah mengerti dan mampu merencanakan strategi serta menerapkan eksekusi yang jitu dalam proses transformasi digital. Sehingga akan lebih baik bagi mereka untuk belajar dan menimba ilmu dari pemimpin teknologi lainnya yang lebih berpengalaman.

Salah satu dari perusahaan lokal yang terbukti sukses menggelar transformasi digital adalah PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk. atau Telkom.

Keberhasilan transformasi digital di Telkom ditandai dengan peningkatan pesat pada bisnis data, internet, dan TI selama tahun 2016 sebesar 31,5% dibandingkan 2015. Pemasukan dari bisnis ini mencapai Rp 42,99 triliun serta memberi kontribusi sebesar 37,0% dari total pendapatan Telkom tahun 2016.

Kontribusi pendapatan Telkom sepanjang 2016 sendiri didukung bisnis voice dan SMS seluler sebesar Rp54,48 triliun, lalu diikuti bisnis data, internet, & IT service sebesar Rp42,99 triliun, fixed line Rp7,54 triliun, interkoneksi Rp4,15 triliun, serta network and other telco services sebesar Rp7,17 triliun.

“Kesuksesan transformasi digital di Telkom bisa dicapai karena kami melihat inisiatif ini tidak semata-mata tentang teknologi, namun yang lebih fundamental adalah bagaimana kami juga melakukan transformasi proses bisnis, budaya kerja, fokus pada berbagai aktivitas yang benar-benar mampu memberikan nilai tambah serta komitmen untuk menghadirkan pengalaman terbaik bagi pelanggan,” papar Abdus Somad Arief (CTO dan CIO, Telkom Group).

Resep sukses transformasi digital di Telkom itulah yang diceritakan Abdus Somad kepada para CIO dan pemimpin teknologi yang tergabung dalam iCIO Community. Melalui program iCIO Exchange, para anggota iCIO Community bisa mendengar dan mendiskusikan berbagai tantangan dan kesuksesan strategi dari berbagai organisasi dalam menjawab tuntutan bisnis.

Melalui iCIO Exchange ini diharapkan para anggota iCIO Community dapat memperoleh referensi dan best practice terkait transformasi digital yang menuntut perubahan paradigma menyeluruh dari sebuah organisasi. Bukan semata melakukan digitalisasi proses bisnis, melainkan juga perubahan budaya kerja yang lebih fokus pada inisiatif dan aktivitas yang menghadirkan nilai tambah sehingga bisa menghadirkan pengalaman pelanggan yang terbaik.

“Atas nama iCIO Community, saya ingin menyampaikan penghargaan kepada Telkom karena telah berkenan berbagi pengalaman terkait transformasi digital yang sedang dan terus dilakukannya. Perjalanan dan pengalaman transformasi digital Telkom untuk mendorong perusahaan merealisasikan tujuan bisnisnya dapat menjadi benchmark bagi para CIO dalam menghadapi tantangan yang serupa,” ujar Agus Wicaksono (Chairman, iCIO Community).

Ingin mendengarkan pengalaman para CIO dan pemimpin teknologi dalam mengelola TI di perusahaannya? InfoKomputer secara rutin menggelar acara CIO Forum dan CIO Sharing yang mempertemukan para pemimpin teknologi untuk berdiskusi terkait topik-topik IT enterprise terhangat. Jika Anda tertarik, silakan kirimkan e-mail ke alamat: redaksi@infokomputer.com.