Tags Posts tagged with "CTI group"

CTI group

Ilustrasi smart city. [kredit: blog.cedrotech.com]

Lembaga riset Citiasia mencatat empat kendala dalam proses pengembangan konsep smart city, yaitu masalah pembiayaan yang menempati posisi teratas, diikuti dengan masalah regulasi, sumber daya manusia, dan infrastruktur.

Kendala serupa juga dirasakan daerah yang sudah menerapkan konsep tersebut. Lembaga riset IDC menyebutkan sebanyak 90% kota di Indonesia berpotensi gagal memanfaatkan data smart city dan aset digitalnya lantaran kurangnya pendanaan, proses, manajemen proyek, dan keterampilan manajemen perubahan.

Blue Power Technology (BPT), anak perusahaan CTI Group, mencoba menjawab tantangan tersebut dengan menawarkan program managed service di bidang smart city melalui solusi Government Interactive Response Center (GIRC). Program ini diklaim dapat mewujudkan proyek kota cerdas yang hemat biaya dan mudah.

“Kami menyadari bahwa masalah utama investasi smart city adalah biaya dan kompleksitas. Melalui program managed service GIRC ini, pelanggan tidak dibebani oleh biaya yang besar untuk proyek smart city mereka karena pembayaran dilakukan hanya untuk operasional, yaitu setiap bulan selama kontrak berlangsung atau tiga tahun,” kata Lugas M Satrio (Presiden Direktur, PT Blue Power Technology) dalam rilis pers.

“Pelanggan juga tidak perlu pusing melakukan implementasi, mengelola aplikasi, maupun monitoring operasional harian mengingat proses ini cukup kompleks. Kami memiliki tim ahli khusus yang dapat mengambil alih tugas tersebut sehingga pelanggan dapat fokus meraih goal dari proyek smart city serta melakukan hal strategis lainnya,” Lugas menambahkan.

President Director, Blue Power Technology, Lugas M. Satrio.

Keunggulan GIRC

GIRC merupakan solusi smart city berbasis Intelligent Operations Center (IOC) milik IBM yang diluncurkan oleh BPT pada awal 2015 untuk membantu pemerintah daerah dalam mengelola wilayah dan memonitor performa seluruh aparat agar dapat memberikan pelayanan lebih baik terhadap warga.

Solusi ini memadukan perangkat Emergency Management, sensor, CCTV, dan video analytics yang memungkinkan penerimaan informasi dan data serta pengambilan tindakan secara real time terhadap keadaan darurat. Melalui solusi ini, pemerintah dapat menyelesaikan permasalahan di satu kota, berinteraksi dengan warga, meningkatkan responsifitas terhadap keluhan warga, dan memantau kinerja aparat.

Untuk solusi GIRC, BPT menyediakan produk lengkap mencakup hardware dan software berikut layanan implementasi sampai purnajual kepada pelanggan.

Program ini didukung oleh para profesional TI berpengalaman dan bersertifikat internasional yang akan memonitor data dan informasi yang masuk, memberikan analisis guna mengantisipasi terjadinya masalah seperti kemacetan, kriminalitas, banjir, pemborosan energi, dan insiden tertentu yang berpotensi mengganggu keamanan dan kenyamanan warga.

Situs sebuah perusahaan terdeteksi telah diserang. Serangan itu bisa dihalau dengan mudah, namun ada fakta yang mencurigakan. Alamat IP yang digunakan menyerang web tersebut ternyata juga pernah masuk ke mail server perusahaan. Setelah diusut, diketahui sang penyusup yang menggunakan IP tersebut telah berhasil masuk ke mail server tersebut beberapa bulan sebelumnya. Lebih parah lagi, ia berhasil menjadikan dirinya menjadi user dengan akses sekelas administrator.

Cerita nyata itu disampaikan Toto A. Atmojo (CEO Defenxor) untuk menggambarkan kian canggihnya serangan security saat ini. Di sisi lain, perusahaan harus menghadapi dilema keterbatasan SDM serta skill untuk bisa menjawab serangan security yang bertubi-tubi itu.

Tantangan inilah yang coba dijawab Defenxor melalui layanan managed security.

Mengatasi Keterbatasan

Sebenarnya, ada tiga layanan security yang ditawarkan Defenxor, meliputi penyediaan hardware, jasa konsultasi, serta managed security. Namun dari tiga layanan tersebut, managed security menjadi jualan utama Defenxor saat ini.

Toto mengakui, layanan managed security masih agak asing di Indonesia. “Padahal kalau di luar negeri, layanan seperti ini sudah umum” ungkap pria yang belasan tahun berkiprah di dunia security ini. Namun Toto yakin, layanan managed security ini akan semakin dilirik perusahaan seiring meningkatnya ancaman security yang kini terjadi.

Kesadaran perusahaan mengenai pentingnya IT security sebenarnya sudah mulai terbentuk. Akan tetapi, fokusnya masih sebatas pembelian perangkat. “Jadi ketika punya firewall atau anti-virus, mereka sudah merasa aman” ungkap Toto. Padahal seperti teknologi lain, security juga harus diikuti unsur people dan process. “Penting untuk menentukan who doing what” tambah Toto.

Bagi banyak perusahaan, soal people dan process ini memang menimbulkan dilema tersendiri. Dari sisi people, tidak mudah menemukan orang yang memiliki kemampuan security yang memadai. Sementara dari sisi proses, dibutuhkan kerja ekstra keras untuk memonitor serangan security yang tidak mengenal waktu. Padahal, investasi di sisi security sering kali tidak murah. “Tidak mungkin kita membangun pagar yang lebih mahal dibanding harga rumahnya” ungkap Toto menganalogikan.

Pada titik inilah, layanan managed security menjadi relevan. Perusahaan hanya perlu investasi di sisi teknologi, sementara unsur people dan process ditangani oleh layanan managed security seperti Defenxor.

Dari sisi people, mereka memiliki tim ahli security yang bekerja 24/7 untuk memonitor keamanan IT perusahaan. Sedangkan di sisi process, mereka juga juga memiliki SOP khusus ketika terjadi serangan. “Sehingga secara keseluruhan, perusahaan memiliki tim security yang komplit untuk backup security mereka” jelas Toto.

Lingkup Kerja

“Customer akan mendapatkan mobile apps yang akan memberi notifikasi jika terjadi serangan serta tingkat resikonya” Toto A. Atmojo (CEO Defenxor)

Pada dasarnya ada tiga fungsi utama Defenxor sebagai penyedia managed security. Yang pertama adalah melakukan proses pengawasan terhadap perimeter security perusahaan selama 24/7. Di kantor Defenxor yang berada di bilangan Gatot Subroto, Jakarta, terdapat Security Operation Center (SOC) berisi security analyst yang terus-menerus mengawasi ancaman keamanan yang ada. Secara berkala, hasil dari monitoring ini akan dilaporkan sehingga customer bisa tahu security posture mereka dengan lebih detail.

Fungsi kedua adalah mengelola (managed) jika terjadi serangan. Pada level ini, security analyst memiliki serangkaian scoop of work yang telah ditentukan, salah satunya adalah mengecek apakah serangan ini berpotensi menjadi insiden. “Karena jika ada virus Windows yang menyerang mesin fotocopy, itu dibiarkan saja” ungkap Toto mencontohkan. Hal lain yang dicek adalah apakah serangan dari IP yang sama pernah terjadi sebelumnya. Jika iya, penyelidikan lebih lanjut bisa dilakukan.

Sedangkan fungsi ketiga adalah membantu perusahaan ketika terjadi insiden. Caranya dengan mengumpulkan data sebanyak mungkin sehingga IT internal perusahaan bisa mendapat gambaran lebih jelas mengapa serangan tersebut bisa tembus. “Analoginya seperti kami memberi hasil lab kepada dokter” cerita Toto.

Toto mengakui, layanan Defenxor tidak bisa menjamin perimeter security yang anti-tembus. Selain karena serangan bisa terjadi kapan saja, efektivitas solusi managed security seperti Defenxor sangat tergantung pada komitmen customer. “Mereka juga harus memperbaiki sistem [yang menjadi sumber kelemahan] setelah kami laporkan” ungkap Toto.

Karena itu, SLA layanan Defenxor sendiri lebih kepada response time dan resolution time. Response time meliputi durasi yang dibutuhkan untuk mengambil data ketika terjadi serangan. “Ini biasanya dua jam, namun ada beberapa klien yang minta setengah jam” ungkap Toto. Sedangkan SLA resolution time adalah durasi untuk analisa serangan tersebut, seperti asal serta tujuan serangan. Untuk response time ini, SLA-nya adalah dua minggu. “Namun saat ini kami bisa lakukan kurang dari satu hari” tambah Toto.

Perangkat Khusus

Analisa security ini sendiri berbasis logs dari perangkat security yang dimiliki perusahaan. Artinya, perusahaan harus memiliki perangkat security dulu seperti firewall, antivirus, DLP (Data Loss Prevention), atau IPS (Intrusion Prevention System). Seluruh informasi dari perangkat ini kemudian dikumpulkan dan dianalisa oleh perangkat khusus yang disebut Defenxor Security Appliance. “Appliance ini ditaruh di tempat customer” ungkap Toto.

Keberadaan perangkat khusus ini, menurut Toto, merupakan salah satu kelebihan Defenxor. “Karena berarti semua data tetap ada di sisi klien” jelas Toto. Tim Defenxor hanya melakukan remote access ke perangkat tersebut, sehingga tidak perlu menarik data ke pusat operasi seperti yang dilakukan penyedia managed security lain. Di dalam appliance tersebut juga terdapat berbagai fitur security yang membantu mengamankan perimeter security perusahaan, seperti SIDM (Security Information and Defend Management), IPS, maupun Honeypot.

Di usia yang masih sekitar 18 bulan, Defenxor mengaku sudah dipercaya untuk memonitor  security dari belasan perusahaan Indonesia. Toto yakin angka tersebut akan meningkat ketika semakin banyak perusahaan mengenal konsep managed security. “Success rate dari POC (Proof of Concept) itu mencapai 80%. Yang susah mencari perusahaan yang mau melakukan POC” ujar Toto sambil tertawa lebar.

Kiprah Defenxor pun tidak cuma di Indonesia. Mereka kini mulai memasarkan solusi mereka ke Philipina, mengambil momentum dari keberadaan Computrade Indonesia, (partner Defenxor) yang juga beroperasi di sana. Dengan terus melakukan edukasi pasar mengenai managed security, Tito yakin Defenxor akan menjadi pemain penting di industri security di masa depan.

“Mimpi kami adalah menjadi perusahaan IT security terbesar di Indonesia” ungkap Toto dengan mantap.

Tan Wijaya (Direktur CDT)

Teknologi mobility telah terbukti dapat mempercepat proses bisnis, membuka peluang dan layanan baru serta mengurangi biaya operasional. Tren mobility pun akan terus booming hingga lima tahun ke depan.

Perusahaan riset Strategic Analytics mencatat jumlah mobile workforce di dunia akan meningkat menjadi 42.5 persen dari total pekerja di dunia atau sekitar 1,87 miliar karyawan yang bekerja secara mobile pada 2022.

Nilai pasar solusi Enterprise Mobility Management (EMM) diprediksi akan tumbuh menjadi USD 4,5 miliar pada 2020 dari USD 1,7 juta pada 2016 dengan angka pertumbuhan tahunan sebesar 27 persen.

PT Central Data Technology (CDT) akan menggandeng berbagai vendor TI dan pengembang aplikasi terbaik untuk menghadirkan rangkaian perangkat dan solusi enterprise mobility, serta aplikasi yang dapat dikustomisasi sesuai kebutuhan pelanggan.

Tan Wijaya (Direktur CDT) mengatakan organisasi dituntut untuk dapat mengimplementasikan mobile workspace. CDT pun akan memberikan para pelanggan enterprise dukungan layanan purna jual 24 jam, training dan program managed services di bidang mobility.

“Kami ingin membantu industri memilih perangkat dan solusi mobile yang aman, mudah dikelola dan nyaman,” katanya dalam siaran persnya, Minggu.

CDT juga akan menawarkan solusi customer mobile business milik Apple seperti platform iOS yang aman dan ratusan ribu aplikasi di App Store yang mampu membantu bisnis menjalankan operasionalnya lebih baik.

CDT juga akan menggandeng mitra bisnisnya Independent Software Vendor (ISV) untuk menciptakan solusi mobility. Selain itu, CDT juga bermitra dengan berbagai vendor TI penyedia solusi Mobile Device Management (MDM) dan solusi spesifik Industri.

“Kerjasama ini akan didukung dengan layanan purna jual CDT 24 jam, certified engineer berpengalaman di bidang teknologi mobility, fasilitas Technology Center dan training bagi pelanggan,” ujarnya.

Acara iCIO Exchange yang diadakan iCIO Community untuk mendengarkan resep sukses transformasi digital Telkom Group.

Transformasi digital adalah sebuah keniscayaan bagi perusahaan di era modern ini. Pasalnya, tidak ada satu sektor bisnis pun yang saat ini bisa dilepaskan dari peran penting teknologi informasi dan digital.

Namun, tidak semua perusahaan sudah mengerti dan mampu merencanakan strategi serta menerapkan eksekusi yang jitu dalam proses transformasi digital. Sehingga akan lebih baik bagi mereka untuk belajar dan menimba ilmu dari pemimpin teknologi lainnya yang lebih berpengalaman.

Salah satu dari perusahaan lokal yang terbukti sukses menggelar transformasi digital adalah PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk. atau Telkom.

Keberhasilan transformasi digital di Telkom ditandai dengan peningkatan pesat pada bisnis data, internet, dan TI selama tahun 2016 sebesar 31,5% dibandingkan 2015. Pemasukan dari bisnis ini mencapai Rp 42,99 triliun serta memberi kontribusi sebesar 37,0% dari total pendapatan Telkom tahun 2016.

Kontribusi pendapatan Telkom sepanjang 2016 sendiri didukung bisnis voice dan SMS seluler sebesar Rp54,48 triliun, lalu diikuti bisnis data, internet, & IT service sebesar Rp42,99 triliun, fixed line Rp7,54 triliun, interkoneksi Rp4,15 triliun, serta network and other telco services sebesar Rp7,17 triliun.

“Kesuksesan transformasi digital di Telkom bisa dicapai karena kami melihat inisiatif ini tidak semata-mata tentang teknologi, namun yang lebih fundamental adalah bagaimana kami juga melakukan transformasi proses bisnis, budaya kerja, fokus pada berbagai aktivitas yang benar-benar mampu memberikan nilai tambah serta komitmen untuk menghadirkan pengalaman terbaik bagi pelanggan,” papar Abdus Somad Arief (CTO dan CIO, Telkom Group).

Resep sukses transformasi digital di Telkom itulah yang diceritakan Abdus Somad kepada para CIO dan pemimpin teknologi yang tergabung dalam iCIO Community. Melalui program iCIO Exchange, para anggota iCIO Community bisa mendengar dan mendiskusikan berbagai tantangan dan kesuksesan strategi dari berbagai organisasi dalam menjawab tuntutan bisnis.

Melalui iCIO Exchange ini diharapkan para anggota iCIO Community dapat memperoleh referensi dan best practice terkait transformasi digital yang menuntut perubahan paradigma menyeluruh dari sebuah organisasi. Bukan semata melakukan digitalisasi proses bisnis, melainkan juga perubahan budaya kerja yang lebih fokus pada inisiatif dan aktivitas yang menghadirkan nilai tambah sehingga bisa menghadirkan pengalaman pelanggan yang terbaik.

“Atas nama iCIO Community, saya ingin menyampaikan penghargaan kepada Telkom karena telah berkenan berbagi pengalaman terkait transformasi digital yang sedang dan terus dilakukannya. Perjalanan dan pengalaman transformasi digital Telkom untuk mendorong perusahaan merealisasikan tujuan bisnisnya dapat menjadi benchmark bagi para CIO dalam menghadapi tantangan yang serupa,” ujar Agus Wicaksono (Chairman, iCIO Community).

Ingin mendengarkan pengalaman para CIO dan pemimpin teknologi dalam mengelola TI di perusahaannya? InfoKomputer secara rutin menggelar acara CIO Forum dan CIO Sharing yang mempertemukan para pemimpin teknologi untuk berdiskusi terkait topik-topik IT enterprise terhangat. Jika Anda tertarik, silakan kirimkan e-mail ke alamat: redaksi@infokomputer.com.

alt

Dengan meningkatnya ketergantungan masyarakat untuk mencari informasi melalui internet, risiko terjadinya cyber attack pun semakin tinggi. Riset mencatat hampir separuh atau 46% website di dunia masuk kategori situs berbahaya.

Guna melindungi perusahaan dari risiko tersebut, PT Virtus Technology Indonesia menawarkan solusi keamanan enterprise terbaru dengan teknologi isolasi malware hasil kerja sama dengan Menlo Security.

Menurut penelitian yang dilakukan Menlo Security, sebuah situs masuk dalam kategori berbahaya apabila situs tersebut, baik homepage maupun background site: (1) menjalankan software yang rentan terhadap serangan, (2) memiliki reputasi yang buruk, dan (3) mengalami insiden keamanan dalam setahun terakhir.

Adapun situs yang dinilai paling besar celah keamanannya adalah news & media, entertainment & arts, serta travel. Celah pada situs seperti e-mail phishing dan malicious ads menjadi jalan masuk malware yang saat ini didominasi oleh ransomware dengan total 400 varian ditemukan sepanjang tahun 2016.

Bisa dikatakan hampir semua cyber attack yang berhasil, bersumber dari public internet. Sayangnya, solusi security yang ada umumnya hanya memfilter website berdasarkan reputasi dan behavior sehingga akses hanya diberikan pada website dengan kategori baik dan menutup akses untuk kategori buruk.

“Pengategorian ini belum tentu akurat dan bisa saja terjadi false positive dan false negative. Ketika false negative terjadi, hacker dapat menyusup ke endpoint untuk mencuri informasi atau mengelabui user melalui teknik phishing. Ini sangat mengkhawatirkan karena menurut riset hampir separuh perusahaan di Indonesia mengalami insiden phishing,” ujar Erwin Kuncoro (Presiden Direktur, Virtus).

Isolasi Malware dengan Metode Sandboxing

Tidak seperti metode konvensional, solusi Menlo Security memiliki platform isolasi yang melakukan filter terhadap website, e-mail, dan dokumen dalam satu ruang isolasi disebut sandbox sebelum menuju ke perangkat user. Melalui teknik ini, kode atau skrip jahat akan disaring dan memungkinkan konten baik untuk masuk dengan normal.

Sandbox berbasis cloud beserta isinya ini akan dihapus pada akhir setiap sesi web sehingga pengguna tidak akan menerima skrip berbahaya pada komputer mereka. Pengguna juga tidak akan merasakan perbedaan antarmuka setelah dan sebelum menggunakan solusi ini, meski sebenarnya aktivitas browsing mereka telah diisolasi.

Bagan isolasi malware ala Menclo Security.

Erwin menambahkan solusi ini hemat biaya karena perusahaan tidak perlu melakukan pembaharuan dengan software tambahan. Selain itu, risiko masuknya malware ke endpoint dapat berkurang hingga 0% karena konten tidak pernah mencapai komputer pengguna.

Berdasarkan riset Gartner, organisasi yang melakukan teknik isolasi malware diprediksi akan mengalami penurunan jumlah cyber attack sebanyak 70%.

“Cognitive system dapat memicu bentuk kerja sama baru antara manusia dan mesin,” kata Shanker V. Selvadurai (CTO, Software and Cognitive Solutions, IBM Asia Pacific) di panggung CTI IT Infrastructure Summit 2017.

Salah satu penyedia solusi machine learning terkemuka di dunia adalah IBM yang dikenal melalui “mesin pintar” Watson. Keunggulan IBM Watson sebagai cognitive system—istilah IBM untuk machine learning—terletak pada tiga kemampuan utama: understanding, reasoning, dan learning.

Cognitive system dapat memicu bentuk kerja sama baru antara manusia dan mesin,” kata Shanker V. Selvadurai (CTO, Software and Cognitive Solutions, IBM Asia Pacific). Kerja sama ini diharapkan mampu memadukan karakteristik-karakteristik positif yang dimiliki setiap unsur. Sifat manusiawi seperti akal sehat, moral, imajinasi, welas asih, dan sebagainya, digabungkan dengan sifat khas mesin seperti pemahaman pola, natural language, ketidakberpihakan, dan kapasitas yang tak terbatas.

Shanker mengklaim bahwa IBM Watson telah digunakan di 25 negara oleh 20 jenis industri serta akan segera menyentuh 1 miliar pengguna dalam 9 bahasa berbeda.

Ia mencontohkan tiga studi kasus utama dari IBM Watson. Salah satunya yang bisa dimanfaatkan di Indonesia yaitu expertise at scale, terutama di bidang kesehatan. Watson dapat membantu mendiagnosis gejala penyakit-penyakit kritis, misalnya stroke, diabetes, dan serangan jantung. Walhasil, pemerintah bisa memasang komputer berbasis Watson di pusat layanan kesehatan daerah, alih-alih mengirim ratusan dokter ke daerah-daerah terpencil.

Studi kasus kedua yaitu personalize at scale. Contoh penggunaan di institusi pendidikan, Watson bisa menyesuaikan materi ajar sesuai dengan gaya belajar, kemampuan, dan data akademis setiap siswa. Contoh ini juga bisa dipakai di industri perbankan, telekomunikasi, dan pemerintahan.

Studi kasus terakhir adalah discover at scale, misalnya di industri kreatif. Shanker memberi contoh seorang musisi asal Amerika Serikat, Alex da Kid, yang membuat lagu berdasarkan hasil analisis Watson terhadap lagu-lagu terpopuler di tangga lagu Billboard. Alex pun dapat mengetahui komposisi musik dan lirik seperti apa yang paling disukai oleh masyarakat.

Penting dalam Era Bisnis Digital

Machine learning adalah topik utama dalam CTI IT Infrastructure Summit 2017, konferensi dan pameran teknologi tahunan dari CTI Group yang sudah digelar keempat kalinya.

Selain menghadirkan pembicara utama dari Gartner dan IBM, acara ini juga diikuti oleh Herry Abdul Aziz (Penasihat Ahli Menkominfo RI), Leonardo Koesmanto (Head of Digital Banking, Bank DBS Indonesia), Ridzki Kramadibrata (Managing Director, Grab Indonesia), dan Ying Shao Wei (COO DataSpark, part of Singtel Group).

Dalam acara ini, CTI Group juga menganugerahkan penghargaan iCIO Awards 2017 kepada tiga pemenang, yaitu Iwan Djuniardi (Direktur Transformasi Teknologi Informasi dan Komunikasi, Direktorat Jenderal Pajak, Kementerian Keuangan RI) selaku The Most Innovative CIO, Rita Mas’oen (Direktur Operasional & Teknologi Informasi, PT Bank CIMB Niaga Tbk.) selaku The Most Influential CIO, dan Kharim Indra Gupta Siregar (Direktur Teknologi Informasi, PT BTPN) selaku The Most Intelligent CIO.

Harry Surjanto (President Director, CTI Group) di panggung CTI IT Infrastructure Summit 2017.

“Di era bisnis berbasis digital sekarang ini, machine learning sudah diakui perannya untuk membantu mengoptimalkan pemasukan, mempelajari kebutuhan konsumen, dan meningkatkan kinerja penjualan,” tutur Harry Surjanto (President Director, CTI Group).

CTI Group pun menawarkan berbagai solusi menyeluruh, mulai infrastruktur, solusi, aplikasi, sampai jasa konsultasi, dari vendor-vendor TI terkemuka di dunia, seperti IBM, FireEye, Dell-EMC, Fujitsu, Hewlett Packard Enterprise, F5, Hitachi Data Systems, Lexmark, Varonis, DataSpark, dan Samsung.

Jonathan Krause (Vice President Southeast Asia, Gartner Advisory) berbicara soal tren machine learning dalam konferensi CTI IT Infrastructure Summit 2017 di Ballroom Ritz-Carlton Pacific Place, Jakarta, Rabu (8/3).

Dalam beberapa tahun terakhir ini, sejumlah perusahaan di berbagai industri ramai-ramai mengadopsi teknologi machine learning. Padahal, sebetulnya machine learning bukanlah istilah atau teknologi yang benar-benar baru.

Sejak tahun 1950, tokoh-tokoh seperti Alan Turing, Arthur Samuel, dan Gerland De Jong telah meracik dan mendefinisikan pemahaman tentang machine learning. Namun, pada saat itu, dengan keterbatasan sumber daya komputasi dan infrastruktur, teknologi ini dianggap masih abstrak dan mengawang-awang sehingga belum banyak orang yang menggelutinya.

Hal yang jauh berbeda terjadi sekarang. Pertumbuhan data makin cepat, volumenya membengkak, dan jenis data pun kian kompleks—istilahnya kita kenal dengan big data. Di satu sisi, big data ini dipandang sebagai harta karun yang sangat berharga di era bisnis digital. Di sisi lain, nyaris tidak mungkin bagi manusia untuk menganalisis dan memahami semua informasi yang terkandung di dalam big data.

Oleh karena itulah, manusia membutuhkan bantuan dari sistem atau mesin pintar yang mampu menghimpun, mempelajari, dan mengekstrak kumpulan data menjadi wawasan berharga.

“Pada 10 tahun yang lalu, kita sulit untuk mencari 10 buah saja aplikasi bisnis yang berbasis machine learning. Sebaliknya, dalam 10 tahun ke depan, kita akan sulit menemukan 10 aplikasi bisnis yang tidak berbasis machine learning,” ujar Jonathan Krause (Vice President Southeast Asia, Gartner Advisory) dalam konferensi CTI IT Infrastructure Summit 2017 di Ballroom Ritz-Carlton Pacific Place, Jakarta, Rabu (8/3).

Masuk Agenda Utama CIO

Berdasarkan riset Gartner, machine learning saat ini berada dalam daftar topik terpopuler dalam bidang data science dan smart machine, di samping teknologi speech recognition, chatbot, dan artificial intelligence (AI). “Pada tahun 2020, kami memprediksi orang akan lebih sering berbicara dengan bot daripada pasangan sendiri,” imbuh Krause.

Bahkan, penerapan machine learning sudah masuk ke dalam salah satu agenda utama para CIO pada tahun 2017. Sebanyak 27% CIO di Asia Pasifik mengaku berniat memakai teknologi itu pada tahun ini. Yang menarik, teknologi prioritas para CIO lainnya seperti advanced analytics, digital security, Internet of Things, virtual customer assistant, dan autonomous vehicle pun tidak bisa dilepaskan dari peran machine learning.

Apa yang mendorong peningkatan adopsi machine learning oleh para pemimpin TI? Krause menyebut tiga faktor utama, yakni the rise of GPU (Graphic Processing Unit) yang lebih bertenaga daripada CPU (Central Processing Unit), deep neural network yang makin luas, dan tentu saja pertumbuhan big data.

Namun, CIO juga harus memperhatikan tantangan dalam penerapan machine learning, antara lain kebutuhan data dan tenaga komputasi dalam jumlah besar, makin rumitnya strategi integrasi data, pemahaman SDM yang belum merata, dan yang tidak kalah penting, perlunya membentuk tim data science untuk membantu mendidik mesin dan bekerjasama dengannya.

“Karena bagaimanapun, machine learning tidak bisa disamakan dengan kemampuan otak manusia. Bahkan saat ini tidak sampai 1%-nya,” Krause mengingatkan.

Terakhir, Krause memberi rekomendasi bagi perusahaan yang ingin memulai implementasi machine learning, yaitu terus belajar dan bereksperimen, mulai dari solusi-solusi yang sederhana, bentuk tim multidisiplin agar bisa memberi pembelajaran dari sudut pandang TI, data science, operasional, dan bisnis, gunakan infrastruktur cloud yang lebih terjangkau, serta bekerjasama dengan akademisi dan penyedia solusi.

Machine learning adalah topik utama dalam CTI IT Infrastructure Summit 2017, konferensi dan pameran teknologi tahunan dari CTI Group yang sudah digelar keempat kalinya.

Selain menghadirkan pembicara utama dari Gartner dan IBM, acara ini juga diikuti oleh Herry Abdul Aziz (Penasihat Ahli Menkominfo RI), Leonardo Koesmanto (Head of Digital Banking, Bank DBS Indonesia), Ridzki Kramadibrata (Managing Director, Grab Indonesia), dan Ying Shao Wei (COO DataSpark, part of Singtel Group).

Teknologi telah mengubah wajah banyak sektor industri. Salah satunya industri transportasi.

Kemunculan berbagai startup yang menghadirkan layanan pemesanan kendaraan lewat aplikasi online mampu mengguncang model bisnis perusahaan transportasi yang sudah lebih lama berdiri. Dengan aneka kemudahan dan daya saing yang ditawarkan, penyedia aplikasi transportasi online ternyata lebih disukai masyarakat, khususnya di era digital sekarang.

Salah satu pemain terbesar di industri transportasi online di kawasan Asia Tenggara adalah Grab, perusahaan rintisan yang “baru” berdiri pada tahun 2012. Grab lahir dari keresahan Anthony Tan, yang menemukan banyak keluhan tentang buruknya kondisi taksi di Malaysia, negara kelahirannya.

Anthony Tan pun berinisiatif membuat aplikasi pemesanan taksi yang lebih cepat, aman, dan nyaman, serta menguntungkan bagi penumpang dan pengemudi yang diberi nama MyTeksi. Aplikasi yang kemudian berganti nama menjadi Grab (dahulu GrabTaxi) ini pun sukses besar di Malaysia.

Dalam waktu lima tahun, Grab pun terus melebarkan sayap ke negara-negara lainnya di Asia Tenggara, seperti Indonesia, Singapura, Filipina, Thailand, dan Vietnam, serta menambah jenis layanan, antara lain GrabBike (ojek motor), GrabCar (pemesanan mobil sewaan), GrabExpress (jasa kurir), GrabFood (jasa pengantaran makanan), dan GrabHitch (jasa tumpangan/nebeng).

Saat ini Grab memiliki lebih dari 630 ribu pengemudi di enam negara dan melayani lebih dari 1,5 miliar pemesanan setiap hari.

Adopsi Teknologi Demi Kepuasan Pengguna

Aplikasi Grab pada dasarnya berfungsi untuk mempertemukan antara pengguna (calon penumpang) dan pengemudi kendaraan (mobil, ojek, taksi) untuk pergi ke tempat tujuan.

Seiring pertumbuhan jumlah pengguna dan pengemudi, Grab menghadapi tantangan dalam menyajikan pengalaman pengguna (user experience) yang cepat, andal, dan memuaskan. Grab harus dapat “menjodohkan” calon penumpang dan pengemudi secara cerdas agar calon penumpang bisa mendapat kendaraan hanya dalam hitungan detik sejak ia menekan tombol “Order”. Grab juga harus dapat memformulasikan biaya perjalanan yang tepat secara real-time.

Untuk itulah, Grab memanfaatkan teknologi machine learning yang mampu mempelajari bermacam parameter, mulai dari profil dan kebiasaan penumpang/pengemudi, waktu pemesanan, kondisi cuaca dan lalu lintas, metode pembayaran (tunai/kartu kredit), sampai banyaknya permintaan dibanding ketersediaan pengemudi.

Di awal-awal operasionalnya, Grab masih menggunakan metode penentuan tarif secara konvensional. “Kami mematok tarif yang sudah ditentukan sebelumnya dan penumpang bisa menambahkan tips kepada pengemudi [jika bersedia]. Akibatnya, pengemudi hanya mau mengambil pesanan yang ditambahi tips,” ujar Ditesh Gathani (Director of Engineering, Grab) seperti dilansir Mashable. “Ini membuat para penumpang kesal,” imbuhnya.

Berbekal machine learning, Grab dapat menentukan tarif secara lebih cerdas dan memuaskan bagi kedua pihak, penumpang dan pengemudi. Sistem bisa mengetahui lokasi setiap pengemudi di sebuah area, mengukur kedekatan jarak dan waktu tempuh dengan calon penumpang, dan memperkirakan seberapa besar kemungkinan pengemudi menerima suatu pesanan.

Selain itu, sistem juga bisa mengenali siapa saja pengguna dan pengemudi yang paling sering membatalkan pesanan. Sebagai konsekuensi, sistem akan memberi “hukuman” dengan cara memperkecil kemungkinan mereka memperoleh kendaraan atau pesanan. “Pembatalan [pesanan] berdampak sangat negatif pada ekosistem,” Gathani beralasan.

Dengan demikian, sistem Grab mampu menawarkan suatu pesanan kepada sekelompok kecil pengemudi tertentu yang paling mungkin menerima pesanan tersebut. Hasilnya, pesanan lebih cepat dilayani, tingkat pembatalan pesanan makin rendah, dan kepuasan pelanggan kian meningkat.

Ingin tahu lebih lanjut mengenai cara Grab memanfaatkan machine learning dalam bisnisnya? Jangan lewatkan paparan dari Ridzki Kramadibrata (Managing Director, Grab Indonesia) dan pembicara-pembicara ahli lainnya dalam acara CTI IT Infrastructure Summit 2017, Rabu, 8 Maret 2017. Segera daftarkan diri Anda lewat alamat ini.

Menkominfo Rudiantara.

Meski memiliki sistem transportasi publik terbaik di dunia, Singapura tetap memiliki tantangan dalam mengatur pergerakan warga. Salah satunya adalah tingginya pergerakan pekerja dari dan ke pusat bisnis (seperti kawasan Marina Bay), utamanya pada jam sibuk. Untuk mengatasi hal ini, pemerintah Singapura mengeluarkan program regional center yang diharapkan akan berfungsi pada tahun 2030.

Melalui program ini, akan dibangun beberapa regional center yang tersebar di negara pulau tersebut. Pelaku bisnis di industri yang sama akan didorong menempati regional center yang tertentu. Dengan begitu, kegiatan bisnis akan tersebar dan tidak lagi terpusat di kawasan bisnis yang ada saat ini.

Namun untuk bisa menentukan lokasi regional center yang tepat, Pemerintah Singapura membutuhkan data pergerakan warganya. Untuk itu, A*STAR (Agency for Science, Technology and Research) mencoba menganalisis pergerakan warga berdasarkan data yang ada. Data tersebut berupa sistem smart card yang digunakan warga saat naik angkutan umum, data peruntukan lahan (bisnis atau tempat tinggal), serta lokasi fasilitas umum (amenities).

Untuk menganalisis data yang demikian besar tersebut, tim A*STAR pun menggunakan pendekatan machine learning. Mereka mencoba tiga tipe machine learning, sampai akhirnya menemukan pendekatan machine learning berbasis decision tree model yang memberikan data paling akurat.

“Hasil analisis menunjukkan, peningkatan fasilitas sampai 55% akan meningkatkan jumlah penggunaan angkutan umum,” ungkap Christopher Monterola dari A*STAR. Di atas angka tersebut, penggunaan angkutan umum akan menurun. “Dan hal ini logis karena ketika lokasi fasilitas umum relatif dekat, warga akan memilih berjalan kaki,” tambah Christopher.

Contoh di atas adalah sedikit gambaran bagaimana machine learning bisa digunakan di sektor pemerintahan. Hal ini pun disadari Menteri Komunikasi dan Informatika RI, Rudiantara, salah satu keynote speaker di acara CTI IT Infrastructure Summit 2017, konferensi di bidang TI yang diselenggarakan setiap tahun oleh CTI Group.

“Selama ini di korporasi, pemanfaatan machine learning kebanyakan di internal,” ungkap Rudiantara. Jika pemanfaatan machine learning juga ditujukan untuk melayani publik, diharapkan masyarakat akan mendapatkan manfaat yang lebih besar. “Akhirnya di sisi pasokan teknologinya juga akan berkembang,” tambah Rudiantara.

Rudiantara adalah salah satu dari banyak pembicara ahli yang akan hadir di acara CTI IT Infrastructure Summit 2017. Jika Anda tertarik, silakan daftarkan diri Anda menjadi peserta konferensi teknologi tahunan ini di alamat www.itinfrastructuresummit.com.

Roy Nugroho, IT and Mobile B2B Group Head Samsung Electronics Indonesia dan Deddy Sudja, Presiden Direktur Helios Informatika Nusantara menunjukkan piagam kerjasama.

Kini mobility menjadi trend di kalangan enterprise yang terus mengembangkan aplikasi mobile sesuai dengan kebutuhan perusahaannya. Solusi mobility Helios mampu meningkatkan performa bisnis dari sisi produktivitas, komunikasi, pertukaran ilmu pengetahuan dan aman. Menurut McAfee, ancaman malware pada perangkat mobile meningkat sebesar 138 persen pada tahun lalu.

Karena itu, Helios Informatika Nusantara, penyedia solusi infrastruktur TI dan anak usaha CTI Group menawarkan solusi enterprise mobility hasil kerjasama dengan
Samsung.

Deddy Sudja (Presiden Direktur Helios) mengatakan Para pelaku bisnis khawatir data perusahaan dan data pribadi bisa tercampur dalam satu perangkat, pencurian perangkat, kesulitan menerapkan aplikasi yang telah dikustomisasi oleh perusahaan, dan keterbatasan kemampuan perusahaan untuk mengelola mobile workforce.

“Banyak perusahaan enggan menggunakan mobile workforce karena terganjal faktor keamanan data,” katanya di Jakarta, Kamis.

Helios pun menawarkan solusi enterprise mobility management berbasis Samsung Knox yang menjamin sistem keamanan terintegrasi dari level aplikasi hingga hardware. Knox membuat perangkat karyawan seolah-olah terbagi menjadi dua bagian kontainer yang terpisah yaitu sebagai perangkat pribadi dan sebagai perangkat bekerja.

Knox juga memiliki fungsi manageability yang memungkinkan pengelolaan terhadap ribuan perangkat sesuai dengan policy. “Kehadiran aplikasi ini akan memaksimalkan produktivitas karyawan dan menjaga privasi mereka,” ujarnya.

Helios paham bahwa keamanan data merupakan hal yang paling penting bagi semua perusahaan di era digital. Deddy mengatakan solusi Helios berbasis Knox bisa menjadi solusinya. Samsung Knox yang telah mendapat sertifikasi dari badan pemerintahan di Amerika Serikat, Inggris, Finlandia, Australia.

“Sebagai data security management, Samsung Knox menjadi solusi pelanggan korporasi di berbagai sektor, seperti keuangan, otomotif, transportasi dan edukasi,” kata Roy Nugroho (IT and Mobile B2B Group Head Samsung Electronics Indonesia).

Saat ini teknologi mobility telah menjadi penggerak bisnis enterprise untuk meningkatkan customer experience, produktivitas dan mengurangi biaya operasional. Menurut riset PwC yang melibatkan 1.322 CEO di 77 negara, sebanyak 81 persen responden menilai teknologi merupakan tool digital paling strategis untuk mempererat hubungan dengan pelanggan.

TERBARU

Pengguna Instagram asal Indonesia masuk ke dalam lima besar negara yang paling sering menggunakan Instagram sebagai akun bisnis.