Tags Posts tagged with "Data center"

Data center

Jensen Huang (CEO, Nvidia).

NVIDIA baru saja melaporkan laporan keuangan pada kuartal III 2018 dengan peningkatan pendapatan sebesar 32 persen dibanding kuartal sebelumnya.

NVIDIA melaporkan pendapatan sebesar USD2,63 miliar atau sekitar Rp35,6 triliun. Pada kuartal sebelumnya, pendapatan Nvidia senilai USD2,23 miliar, naik sebesar 18 persen.

Dibanding tahun sebelumnya, pendapatan NVIDIA naik 32 persen. “Kuartal ini adalah yang terbaik yang pernah dialami oleh NVIDIA,” kata CEO NVIDIA (Jen-Hsun Huang) seperti dikutip Phone Arena.

“Salah satu faktornya adalah industri saat ini sedang bergerak ke arah kecerdasan buatan (AI),” ujarnya.

Selain kecerdasan buatan (AI), divisi data center memberikan kontribusi positif kepada pendapatan Nvidia pada kuartal ini. Hal itu didorong oleh GPU Volta di berbagai data center perusahaan besar Tiongkok seperti Alibaba, Baidu dan Tencent.

NVIDIA juga melaporkan kemajuan pencapaian di berbagai divisi lain seperti visualisasi profesional, otomotif, dan mesin mobil tanpa sopir atau kecerdasan buatan.

Divisi gaming yang merupakan salah satu andalan NVIDIA hanya memberikan dua kontribusi yaitu GTX 1070Ti dan memperlebar kolaborasi GameWorks yang kini digunakan game ternama PlayerUnknown’s Battleground.

Ilustrasi Datacomm

Datacomm Cloud Business, unit bisnis PT Datacomm Diangraha yang menyediakan layanan cloud menyampaikan dua pengumuman sebagai bagian dari rangkaian perayaan ulang tahun ke-2 Datacomm Cloud Business yang jatuh pada 8 Oktober 2017 lalu.

Pertama, diperolehnya sertifikat ANSI/TIA-942:2017 untukPusat Datanya dari lembaga Enterprise Products Integration (EPI). Kedua, menjalin kerja sama Pusat Data dengan PT PGAS Telekomunikasi Nusantara (PGASCOM).

Diperolehnya sertifikat ANSI/TIA-942:2017 itu membuktikan komitmen kuat Datacomm untuk meningkatkan keunggulan kompetitif, memberikan jaminan keamanan dan layanan terbaik bagi para pelanggannya.

Sertifikat itu diberikan oleh EPI sebuah lembaga independen yang memberikan berbagai layanan Pusat Data dengan standar kelas dunia.

Hermen Rudolph (Direktur Datacomm Diangraha) mengatakan sertifikasi itu merupakan langkah nyata kesiapan Datacomm untuk mendukung pengembangan infrastruktur digital di Indonesia dengan tingkat keamanan dan kehandalan yang tinggi.

“Sertifikasi ini memberikan jaminan ketersediaan layanan perusahaan dari sisi kehandalan fasilitas/infrastruktur maupun manajemen operasional Data Center,” katanya di Jakarta, Selasa.

Jan Willem Mooren (Managing Director of EPI Malaysia) mengatakan EPI Certification sebagai Lembaga Sertifikasi (Certification Body) yang independen telah mengaudit banyak Pusat Data di seluruh dunia dan EPI memberikan penghargaan kepada Datacomm sertifikasi DCOS Maturity Level-4 karena Datacomm telah membuktikan di dalam proses operasiona Pusat Data.

“Datacomm adalah perusahaan pertama di Indonesia yang mendapatkan sertifikasi DCOS dan Datacomm telah menetapkan posisi sebagai pemimpin dalam peningkatan operasional data center,” ujarnya.

Gandeng PGASCOM

Datacomm menjalin kerjasama colocation Pusat Data dengan PGASCOM yang tergabung dalam Datacomm Datacenter Federation (DDF). Datacomm Datacenter Federation menawarkan Pusat Data yang Distributed, Scalable, dan Fault Tolerant.

Sutedjo Tjahjadi (Managing Director Datacomm Cloud Business) mengatakan Datacomm Cloud Business telah bekerja keras bersama dengan mitra bisnis strategis kami untuk mewujudkan kerjasama luar biasa sekaligus sebagai kado ulang tahun ke-2 bagi Datacomm Cloud Business.

“Kerja sama ini juga membuktikan komitmen Datacomm Cloud Business dalam memberikan layanan komputasi awan terbaik kepada para pelanggan kami,” katanya

Sri Budi Mayaningsih (CEO PGASCOM) mengatakan Datacomm Datacenter Federation (DDF) merupakan sebuah langkah strategis untuk mengoptimalkan utilisasi fasilitas bersama yang ada dan meningkatkan kehandalan layanan Pusat Data bersama.

“Tren penggunaan layanan Pusat Data dalam negeri semakin meningkat karena adanya kebijakan Pemerintah untuk menyimpan data di dalam negeri begitu pula penggunaan cloud services,” ucapnya

Western Digital memamerkan HDD berkapasitas tinggi dengan teknologi microwave-assisted magnetic recording (MAMR).

Meski disaingi oleh keberadaan solid state drive (SSD), media penyimpanan berbentuk hard disk drive (HDD) selama ini populer karena menawarkan kapasitas besar dengan harga terjangkau.

Di masa depan, HDD diperkirakan masih akan digemari tidak hanya oleh konsumen, tetapi juga pelaku bisnis dan data center. Hal ini ditegaskan oleh perkembangan teknologi HDD yang mampu mengusung kapasitas lebih besar dan harga ekonomis sehingga siap digunakan menampung lonjakan big data.

Salah satu buktinya sedang digarap oleh Western Digital Corp. yang telah memamerkan HDD berkapasitas tinggi dengan teknologi microwave-assisted magnetic recording (MAMR).

Inti inovasi teknologi MAMR adalah “spin torque oscillator” yang digunakan untuk menghasilkan sebuah bidang microwave yang meningkatkan kemampuan untuk merekam data dalam kepadatan yang tinggi tanpa mengorbankan keandalannya.

Teknologi MAMR dari WD diharapkan dapat memberikan lebih dari 4 terabit-per-square seiring waktu. Dengan peningkatan terus menerus dalam kepadatan perekaman, MAMR bahkan memungkinkan adanya HDD dengan kapasitas sebesar 40 TB atau lebih di tahun 2025.

WD rencananya akan mulai mendistribusikan HDD MAMR berkapasitas tinggi pada tahun 2019 untuk digunakan di berbagai data center yang mendukung aplikasi-aplikasi big data di setiap jenis industri.

“Kemajuan yang mendasar dalam teknologi MAMR akan memungkinkan WD untuk mengatasi kebutuhan penyimpanan yang besar di masa depan dengan mendefinisikan kembali potensi kepadatan HDD dan memperkenalkan kelas baru dari HDD berkapasitas tinggi nan andal,” kata Mike Cordano (President and COO, Western Digital).

Demonstrasi teknologi MAMR merupakan pencapaian terbaru WD setelah pekan lalu meluncurkan hard disk kelas enterprise berkapasitas 14 TB dengan teknologi host-managed shingled magnetic recording (SMR) pertama di dunia.

Prof. Eko Indrajit (Pakar Teknologi Informasi) menjadi pembicara utama InfoKomputer Tech Gathering 2017, Kamis (12/10).

Tak perlu diragukan lagi, keamanan siber merupakan topik paling hangat yang dibicarakan oleh para CIO di seluruh dunia sepanjang tahun 2017. Terbukti, sejumlah korban perusahaan besar sudah jatuh akibat terpapar serangan siber dengan aneka modus, seperti malware, ransomware, DDoS, sampai pencurian data.

“Walaupun tren serangan yang paling mudah dilakukan, dari dulu sampai sekarang, adalah menebak password,” kata Prof. Eko Indrajit (Pakar Teknologi Informasi) saat menjadi pembicara utama di acara “InfoKomputer Tech Gathering” bersama Multipolar Technology, Kamis (12/10) lalu.

Dari sekian banyak peristiwa serangan siber yang paling sering mengancam perusahaan, Eko kemudian mengelompokkan ke dalam empat jenis utama.

Pertama, serangan yang bersifat interception, terjadi ketika pelaku serangan menyusup masuk pada jalur komunikasi di antara pengirim dan penerima pesan. Contoh paling umum adalah penyadapan, misalnya dengan menanam spyware atau membajak koneksi Wi-Fi.

Kedua, serangan yang bersifat interruption atau pemutusan hubungan/jalur komunikasi di antara pengirim dan penerima pesan. “Di Indonesia, penyebab paling sederhana misalnya putusnya fiber optic karena penggalian,” Eko berseloroh. Tetapi, modus yang belakangan marak yaitu DDoS atau menyerbu suatu server secara masif sehingga menyebabkan server itu padam (down).

Ketiga, serangan yang bersifat modification atau mengubah isi pesan yang disampaikan. Contoh paling sederhana yakni web defacement (mengubah tampilan situs web) atau yang sedang tren saat ini, hoax atau mengubah/menambahi berita asli dengan informasi palsu.

Keempat, fabrication atau menyamar/menyerupai pengirim pesan yang asli. “Misalnya mengirim e-mail phishing atau scamming dengan tujuan menipu dan mengelabui penerima,” imbuh Eko.

[BACA: Pilih Mana, Menyewa Atau Membangun Data Center Sendiri?]

Yang paling berbahaya, menurut Eko, adalah bermacam varian serangan siber itu sekarang makin mudah dilakukan oleh siapa saja. Bahkan, oleh orang-orang yang tidak bisa bahasa pemrograman sama sekali.

Eko menyebutkan bahwa salah satu program sertifikasi TI yang paling laris saat ini adalah ethical hacker. Di dalam program ini, peserta akan diajari cara-cara membobol sistem keamanan TI. Namun, tujuannya bukan untuk kejahatan, melainkan menjadi white hat hacker yang berjasa memberitahu celah-celah keamanan yang ada di sebuah perusahaan.

Malahan, bagi orang-orang yang tidak punya uang untuk ikut sertifikasi, seminar, atau pelatihan, internet telah menyediakan beragam sumber daya gratis dan berbayar untuk melakukan peretasan. “Ada software yang tinggal memasukkan skrip tertentu untuk hacking, ada juga jasa penyewaan hacker. Inilah yang disebut underground economy yang bisa ditemukan di dark web,” ujar Eko.

Suasana acara InfoKomputer Tech Gathering yang digelar bersama Multipolar Technology di Hotel Fairmont Jakarta, Kamis (12/10).

Pada akhirnya, motif di balik semua ancaman keamanan siber ini adalah mencuri data-data berharga dan mengetahui pergerakan data-data penting milik perusahaan. Entah untuk dijadikan sandera, entah untuk dijual lagi ke pesaing bisnis.

“Oleh karena itu, perusahaan wajib memiliki data center yang aman dan dapat diandalkan supaya memastikan tidak ada unauthorized access, tidak ada pencurian data, menjamin integritas data, dan mencegah data hilang atau rusak akibat bencana alam,” papar Eko.

“Jangan tunggu terjadi serangan-serangan kecil, baru bikin data center yang bagus. Karena harus diingat, there’s only one good hack needed to get company down,” pungkas Eko.

Solusi Data Center Aman dari GTN

Dijelaskan oleh Miko Yanuar (COO, PT Graha Teknologi Nusantara), ada empat alasan mengapa perusahaan TI di Indonesia sebaiknya memilih solusi data center dari GTN.

Pertama, lokasi bangunan di area komersial Lippo Cikarang yang bebas banjir dan bencana alam. Kedua, fasilitas data center GTN dengan standar kualitas Jepang, pasokan listrik active-active dari dua sumber berbeda, DRUPS N+1. Ketiga, jaminan tujuh lapis keamanan yang dijaga 24/7 dan didesain SECOM. Keempat, operasional berstandar internasional dengan Rated 3 Design dan sertifikasi PCI DSS, ISO 9001, dan ISO 27001.

GTN juga menawarkan portofolio layanan yang lengkap, hasil kerja sama dengan Multipolar Technology, meliputi colocationmanaged servicesremote hand supportintegrationcloud, dan konsultasi TI.

Miko Yanuar, Direktur, PT Graha Teknologi Nusantara, Rukman Suriawarsita, AVP, ControlCase dan Wahyudi Chandra, Presiden Direktur, PT Multipolar Technology Tbk.

Saat ini industri-industri membutuhkan data center yang aman dan bisa diandalkan, mengingat pertumbuhan data yang besar dan tren industri yang memasuki era digital.

Karena itu, PT Graha Teknologi Nusantara (GTN), anak usaha PT Multipolar Technology Tbk., memperkenalkan GTN Data Center yang menawarkan fitur-fitur canggih dan keamanan tingkat tinggi. Bahkan, GTN Data Center sukses meraih sertifikasi Payment Card Industry Data Security Standard (PCI DSS) versi 3.2.

“Keberhasilan ini membuktikan bahwa GTN Data Center mampu menjadi mitra pilihan setiap startup fintech yang dipersyaratkan harus PCI compliant,” kata Miko Yanuar (Direktur, PT Graha Teknologi Nusantara) di Jakarta, Kamis (12/10).

Miko mengatakan GTN berkomitmen untuk menghadirkan data center dengan level kualitas dan keamanan tertinggi di Indonesia. GTN Data Center terbukti mampu meningkatkan kualitas keamanannya ke level global yang diakui internasional.

“GTN Data Center serius dengan pengelolaan keamanan dan selalu menjalankan seluruh tindakan pencegahan agar data pembayaran dari pemegang kartu tetap aman. Diraihnya sertifikasi PCI DSS ini menunjukkan bahwa kualitas sistem keamanan GTN Data Center telah teruji dan telah siap menangani pelanggan di sektor fintech,” ucapnya.

Wahyudi Chandra (Presiden Direktur, PT Multipolar Technology Tbk) mengatakan PCI DSS merupakan sertifikasi standar keamanan informasi yang berlaku global dan wajib dimiliki semua organisasi yang menangani atau terkait dengan proses transaksi kartu kredit, kartu debit, kartu ATM, dan e-money, sehingga keamanan dan kenyamanan pengguna kartu terlindungi.

“Sebuah perusahaan dikatakan PCI compliant jika perusahaan tersebut menyimpan, memproses, dan mentransmisikan informasi kartu dengan memenuhi standar PCI DSS. GTN Data Center telah meraih sertifikasi PCI DSS 3.2 untuk memenuhi standardisasi dan memberikan layanan terbaik serta aman bagi pelanggan,” ujarnya.

Sertifikasi PCI DSS ini juga melengkapi ISO 9001 dan 27001 yang sudah didapat GTN beberapa waktu lalu.

Data Center Standar Jepang

GTN Data Center menerapkan standar kualitas Jepang yang didukung penuh oleh Mitsui serta memanfaatkan perangkat keamanan terkini, telah mengoperasikan layanan Co-location Services, Integration Services, IT Consultancy Services dan Data Center Managed Services bagi sektor finansial, pemerintahan, pendidikan, manufaktur dan telekomunikasi.

Keunggulan GTN Data Center yang memanfaatkan dua sumber listrik yang kesemuanya aktif dari Cikarang Listrindo dengan dua gardu terpisah untuk menjamin pasokan listrik yang stabil, serta penggunaan DRUPS (Diesel Rotary Uninterruptible Power Supply) untuk meminimalisir gangguan suplai listrik ke data center dari sumber listrik utama, menjadi salah satu pertimbangan pelanggan dalam memilih layanan GTN Data Center.

Director Solution & Infrastructure Business PT Multipolar Technology Tbk Jip Ivan Sutanto (tengah), berbincang dengan Solution Architect Enterprise Group (SEATH) Hewlett Packard Enterprise Robert Liong (kiri), dan Presales Engineer Tech Data Advanced Solution Indonesia Iip Palah seusai mengikuti Seminar Hyper Converged: Transform Into an Internal IT Service Provider Seamlessly di Jakarta.

Saat ini perusahaan harus cerdas menyikapi transformasi digital dengan menghadirkan solusi hardware dan software yang tepat untuk menunjang keperluan bisnis perusahaan. Kesalahan dalam pemilihan solusi yang tepat bisa menyebabkan kerugian bagi perusahaan.

Karena itu, Multipolar Technology memperkenalkan solusi Hewlett Packard Enterprise (HPE) Hyper Converged dan VMware NSX kepada para pelaku industri TI dan para eksekutif perusahaan.

“Kedua solusi ini sangat cocok untuk perusahaan yang mempunyai layanan umum dalam bidang keuangan dan kesehatan yang memang memiliki aturan-aturan yang sangat ketat,” kata Jip Ivan Sutanto (Director Solution & Infrastructure Business PT Multipolar Technology Tbk) dalam Seminar “Hyper Converged: Transform Into an Internal IT Service Provider Seamlessly” di Jakarta.

Sutanto mengatakan saat ini setiap organisasi atau perusahaan menghasilkan data-data yang banyak dengan berbagai format dan jenis data. Apalagi, perusahaan yang bergerak dalam bidang keuangan dan kesehatan memiliki regulasi yang ketat.

“Mereka harus memiliki data center yang harus siap setiap saat dan Multipolar Technology memiliki jawaban untuk itu,” ujarnya dalam siaran pers.

Multipolar Technology menghadirkan solusi yang menggabungkan kekuatan atau kolaborasi antara HPE Hyper Converged dan VMware NSX yang mendukung perusahaan untuk membangun infrastruktur yang lebih cerdas, hemat, efisien dan aman.

HPE dan VMware merupakan dua vendor TI terkemuka di dunia. HPE menyediakan teknologi dan solusi hyper-convergence serta VMware menghadirkan solusi virtualisasi jaringan dan keamanan platform, yang disebut dengan NSX.

Lintasarta menyabet penghargaan bergengsi Frost & Sullivan 2017 Asia Pasific Best Practices Awards untuk kategori Data Center Service Provider of The Year di Shangri-La Hotel Singapore.

Kriteria penghargaan itu berdasarkan pertumbuhan pendapatan Lintasarta yang tinggi dan berbagai layanan Lintasarta di Data Center.

Arya Damar (President Director Lintasarta) mengatakan Lintasarta sebagai perusahaan ICT dengan layanan Data Center terbaik akan memberikan produk layanan IT yang inovatif dan didukung oleh infrastruktur dan tenaga IT professional yang handal kepada para pelaku bisnis.

“Penghargaan ini merupakan wujud komitmen dan kerja keras kami dalam memberikan layanan terbaik kepada pelanggan dan membuktikan kami sebagai pemimpin untuk layanan Data Center,” katanya dalam siaran persnya, Rabu.

Data Center Lintasarta adalah Data Center Service Provider pertama di Indonesia yang mengimplementasi High-Density Data Center dengan Green Technology.

Lintasarta Data Center telah tersertifikasi Data Center Tier III untuk kategori Tier Certification for Constructed Facilities (TCCF) dari Uptime Institute. Sertifikasi itu melengkapi sertifikat Data Center Tier III kategori Tier Certification of Design Documents(TCDD) yang telah didapat sebelumnya.

“Kami siap menjadi partner dalam memberikan layanan ICT yang profesional dan handal dalam rangka mendukung transformasi digital bagi semua pelaku industri,” pungkasnya.

Diskusi panel dalam peluncuran tiga inovasi terbaru pada arsitektur EcoStruxture, bersama (dari ki-ka) Chris Leong, Manish Kumar, Kevin Brown, dan Ravi Gopinath.

Hong Kong, InfoKomputer – Schneider Electric memperkenalkan tiga inovasi terbaru di atas arsitektur dan platform EcoStruxure untuk membantu pelanggan menghadapi tantangan ekonomi digital, khususnya di area pengelolaan energi dan otomatisasi.

Solusi pertama yang diperkenalkan dalam sesi khusus berjudul EcoStruxure World Premiere di tengah event Innovation Summit yang dimulai sejak Senin (25/9) di Hong Kong itu adalah EcoStruxure Building.

Sektor building saat ini, menurut Manish Kumar (Senior Vice President, Building Management, Schneider Electric), sebenarnya telah memiliki “modal” utama digitalisasi, yakni konektivitas dan data. Aneka sistem dalam gedung sejatinya telah saling terkoneksi. Sayangnya data-data yang dihasilkan dibiarkan “terperangkap” dalam sistem-sistem tersebut.

“Padahal dengan berbekal dua hal itu, terbuka peluang (bagi para pengelola gedung) untuk meningkatkan efisiensi. Dan yang terpenting adalah memampukan orang (penghuni gedung. red) lebih produktif dan memperoleh pengalaman yang lebih menyenangkan di dalam gedung tersebut,” ujar Manish.

Mengatasi tantangan itu, Schneider Electric memperkenalkan EcoStruxure Building Advisor yang akan memampukan facility manager di gedung-gedung memahami apa yang terjadi di belakang layar sistem pengelolaan gedung. “Dengan Building Advisor, keluhan atau komplain dari penyewa atau penghuni gedung dapat dikurangi sampai 33%, bahkan mengurangi unscheduled maintenance sampai dengan 29%,” papar Manish.

Selain itu, ada pula Workplace Advisor untuk membantu pengelola gedung mengetahui tingkat utilisasi ruangan.

“Ada prediksi yang mengatakan akan ada delapan juta perangkat Internet of Things yang muncul setiap harinya,” ungkap Kevin Brown (Chief Technology Officer, IT Business, Schneider Electric). Dan data center menjadi tempat “perhentian” terakhir bagi konektivitas perangkat-perangkat tersebut.

Tak mengherankan jika visibilitas real time menjadi kapabilitas terbaru yang ditawarkan EcoStruxure IT. Kemampuan itu melengkapi berbagai kapabilitas lain yang sudah tersedia di arsitektur EcoStruxure, seperti analytics dan optimalisasi operasi di seluruh bagian TI maupun fasilitas di data center.

Efisiensi di Sektor Industri

Sektor lain yang menjadi perhatian Schneider Eletric adalah industri. Menurut Chris Leong (Chief Marketing Officer, Schneider Electric), dengan prediksi 2,5 miliar orang akan berpindah ke kota dalam waktu 30 tahun ke depan, dunia membutuhkan lebih banyak barang, misalnya bahan pangan. Artinya era industrialisasi ada di depan mata.

Memasuki era digitalisasi, akan semakin banyak pula produk terkoneksi dengan sistem, mesin yang terkoneksi satu sama lain, mesin terkoneksi ke cloud, dan bentuk-bentuk koneksi lainnya.

Menurut Ravi Gopinath (Executive Vice President, Industry Software, Schneider Electric), aplikasi analytics tidak bisa digandeng begitu saja dengan aplikasi machine critical yang harus berjalan andal selama 24/7. “Konektivitas antarsistem di sektor industri sudah berlangsung ratusan tahun. Sementara teknologi digital mungkin baru berumur 50 tahun,” imbuhnya.

Untuk itu, ada tiga hal penting yang dibenamkan Schneider Electric pada inovasi terbarunya untuk EcoStruxure Industrial Software Platform: skala, business value, dan keterbukaan (openness).

Skala atau scale memampukan pabrik menjalankan machine-critical apps di sejumlah besar mesin. Skalabilitas juga akan memperkaya kapabilitas aplikasi yang berjalan di atas arsitektur EcoStruxture karena akan lebih banyak informasi diperoleh oleh sistem.

“Platform Schneider telah terpasang di lebih dari 100 ribu pabrik. Kami memonitor lebih dari dua miliar parameter, dan memroses lebih dari 3 triliun transaksi industri per hari,” ujar Ravi memberi contoh skalabilitas dari EcoStruxure.

Hal kedua yang tak kalah pentingnya adalah arsitektur tersebut memampukan perusahaan meraih business value. EcoStruxure dibangun dengan domain expertise dari beragam industri vertikal. “(Arsitektur) kami ada di 200 pengilangan minyak di seluruh dunia, lebih dari 600 food processing plant, 1000 unit pembangkit listrik, kami mengelola 210 ribu mile pipa gas. Semua itu memperlihatkan business value yang terukur, bukan lagi sekadar eksperimen,” tandas Ravi Gopinath.

Terakhir adalah keterbukaan atau openness/interoperable. Keterbukaan berarti arsitektur dapat mengakomodasi aneka perangkat dan sistem, bahkan yang bukan buatan Schneider Electric sekalipun. “Dengan cara ini pelanggan dapat melindungi investasinya pada sistem yang sudah ada,” jelas Ravi.

Keterbukaan juga berarti memberikan kebebasan pada pelanggan untuk men-deploy sesuai kebutuhannya. Dan EcoStruxure Industrial Software Platform menawarkan cara deployment yang fleksibel: cloud dan on premises. Openess juga berarti melibatkan banyak pihak untuk mengembangkan platform.

“Ekosistem kami ada di seluruh dunia dan memiliki akses penuh terhadap platform kami untuk mengembangkan lebih banyak lagi apllikasi bisnis yang bisa menambah value di semua industri vertikal,” pungkas Ravi Gopinath.

Interior dalam bangunan data center Google.

Salah satu sumber sakit kepala para petinggi perusahaan teknologi adalah penggunaan listrik di data center.

Sebuah laporan Pemerintah Amerika Serikat pada tahun 2016 menyebutkan bahwa pusat data di AS menyedot listrik sekitar 70 miliar kWh di tahun 2014. Pada tahun 2020, penggunaan listrik oleh data center di negeri Paman Sam itu diperkirakan akan mencapai 73 miliar kWh.

Berbagai strategi dan inovasi dilakukan demi menekan pemakaian listrik di data center. Facebook sengaja membangun server farm seluas hampir 27 ribu meter persegi di Lulea, sebuah kota di Swedia yang berlokasi di tepi Arctic Circle. Hawa dingin Skandinavia diharapkan membantu Facebook berhemat biaya cooling system. Sementara itu, penghematan biaya listrik diperoleh dari pemanfaatan hydro electric yang relatif lebih murah.

Dengan pemakaian listrik yang cukup besar, infrastruktur yang berada di balik aktivitas dunia maya ini juga ikut andil menyumbang emisi gas rumah kaca. The Guardian menyebutkan bahwa emisi global akibat aktivitas online saat ini setara dengan emisi yang dihasilkan bisnis penerbangan.

Menurut SMARTer2020, sebuah laporan yang dikeluarkan oleh GeSI pada tahun 2012, berbagai server di balik aktivitas pencarian di web, streaming film, dan posting media sosial berkontribusi sebesar dua persen terhadap emisi total gas rumah kaca global.

Sistem Pendingin Sedot Energi Tertinggi

Sebagai salah satu pemilik data center terbanyak di dunia, Google pun tak luput dari isu energi ini. Pada tahun 2014 diketahui Google menggunakan listrik sebesar 4.402.836 MWh atau setara konsumsi listrik dari 366.903 rumah tangga di AS.

Salah satu penyebab data center menyedot banyak energi adalah proses pendinginan (cooling). Seperti halnya laptop, data center juga menghasilkan udara panas. Udara bersuhu tinggi ini harus dibuang agar tidak mengganggu kinerja server dan komponen-komponen lain di pusat data.

Proses pendinginan umumnya dilakukan oleh perangkat-perangkat berskala industri, seperti pompa, chiller, dan cooling tower. Namun, dalam lingkungan yang dinamis seperti di data center, peralatan tersebut relatif cukup sulit dioperasikan secara optimal karena beberapa alasan.

Perangkat, cara pengoperasian perangkat, dan lingkungan tidak selalu dapat berinteraksi secara optimal dalam situasi yang kompleks. Sementara itu, sistem engineering yang diformulasikan secara tradisional dan intuisi manusia tidak selalu dapat membaca interaksi tersebut.

Sistem juga tidak dapat cepat beradaptasi dengan perubahan internal atau eksternal, misalnya kondisi cuaca. Setiap data center memiliki arsitektur dan lingkungan yang unik sehingga satu sistem yang diterapkan di satu data center mungkin tidak dapat diterapkan di data center lainnya. Walhasil, proses pendinginan tidak dapat berjalan optimal dan efisiensi energi tidak tercapai.

Kembangkan “Intelligence Network”

Untuk mengatasi masalah tersebut, bersama DeepMind, Google mengembangkan intelligence framework berbasis machine learning. Kecerdasan framework ini disokong oleh deep neural network yang terus menerus mempelajari  berbagai skenario dan parameter operasional data center.

DeepMind menggunakan data-data historis dari sekitar 120 variabel yang dikumpulkan oleh ribuan sensor di data center, misalnya data temperatur, energi, kecepatan pompa, setpoint dan sebagainya. Kemudian, data tersebut digunakan untuk melatih deep neural network, khususnya untuk menghitung nilai rata-rata Power Usage Effectiveness (PUE). Ini karena proyek ini bertujuan meningkatkan efisiensi penggunan energi.

DeepMind juga melatih dua deep neural network lain untuk memperkirakan suhu dan tekanan dalam waktu beberapa jam ke depan. Tujuannya adalah mensimulasikan tindakan-tindakan yang direkomendasikan model PUE dan memastikan sistem tidak melampaui batas-batas operasional yang diperbolehkan.

Penghematan listrik dicapai karena sistem mendapat prediksi computational load yang lebih akurat, lalu sistem akan mencocokkan dengan cooling load yang dibutuhkan.

“Tingkat kompleksitas dan jumlah variabel dalam pekerjaan mengelola data center adalah satu hal di mana algoritma dapat mengalahkan manusia,” ujar Mustafa Suleyman (Co-Founder DeepMind) seperti dikutip dari The Guardian.

Jangan pernah meragukan intuisi manusia. Apalagi ketika ketajaman intuisi itu diasah terus-menerus. Namun algoritma machine learning dapat menggambarkan berbagai kondisi dan situasi secara lebih nyata dan akurat. Ini karena ia “belajar” dari big data, termasuk data tentang hal-hal kecil yang mungkin tidak teridentifikasi oleh manusia.

Perbedaan PUE antara saat sistem AI Deepmind aktif dan tidak aktif.

Reduksi Pemakaian Listrik

Penerapan machine learning ini mencapai hasil yang cukup signifikan bagi Google, yakni mereduksi kebutuhan listrik untuk cooling hingga 40 persen dan menghemat penggunaan listrik Google sampai 15 persen.

Angka tersebut disebut Google sebagai langkah fenomenal, apalagi jika mengingat konsumsi listrik Google yang mencapai lebih dari 4 juta MWh. Dengan penurunan konsumsi listrik sebesar 15 persen, Google dapat menghemat sampai ratusan juta dolar dari tahun ke tahun. Dan jika Anda ingat bahwa Google membeli DeepMind seharga US$600 juta, kelihatannya upaya Google di bidang artificial intelligence dan machine learning akan segera “terbayar” lunas.

Apabila Google berniat memperluas aplikasi machine learning ini ke bagian lagi dari data center-nya, langkah berikutnya adalah mengidentifikasi data-data baru apa yang dibutuhkan untuk melatih deep neural network. Tujuannya, agar mereka mampu mengalkulasi efisiensi yang diinginkan. Dan Google tinggal memasang sensor di area-area yang berpotensi menghasilkan data-data tersebut.

Algoritma machine learning yang dikembangkan DeepMind dan Google adalah general-purpose framework untuk memahami dinamika yang kompleks. Artinya algoritma tersebut dapat diaplikasikan untuk mengatasi tantangan lain di lingkungan data center lainnya maupun lingkungan komputasi yang lebih luas. Misalnya untuk meningkatkan efisiensi konversi di pembangkit listrik, mengurangi pemakaian energi dan air di industri manufaktur semikonduktor, atau meningkatkan throughput di fasilitas manufaktur.

Zettagrid Australia, penyedia layanan cloud computing terkemuka berbasis Infrastructure as a Service (IaaS) bagian dari VMware vCloud Air Network, hari ini (04/09) mengumumkan ekpansi layanan IaaS cloud computing dengan dibukanya layanan resmi dan data center di Jakarta. Ekpansi ini merupakan langkah awal Zettagrid dalam menyediakan layanan public cloud ke seluruh wilayah regional APAC.

“Keputusan untuk melakukan ekpansi layanan IaaS cloud computing ke Indonesia adalah bagian dari langkah strategis global Zettagrid” ungkap Nathan Harman, CEO Zetta Group. “Sejak didirikan pada tahun 2010, Zettagrid telah diakui oleh para pihak dalam industri sebagai market leader cloud computing di Australia, dan seiring dengan meningkatnya adopsi cloud computing oleh berbagai perusahaan skala enterprise maupun SMB, maka ekspansi ke Asia Tenggara merupakan milestone penting selanjutnya bagi perusahaan kami.”

Diantara penyedia layanan IaaS cloud computing Australia lainnya, Zettagrid memiliki pondasi bisnis yang kuat dari sisi aspek inovasi dan otomatisasi layanan. Ditambah dengan pencapaian dan sertifikasi ISO9001:2008, PCI DSS, Dell Partner, Microsoft SCA Partner dan Microsoft Qualified Multitenant Hoster menjadikan Zettagrid sebagai perusahaan yang terus berkembang hingga dipercaya mengelola ribuan virtual machine dan memiliki lebih dari ratusan channel partner.

Zettagrid Indonesia menawarkan bentuk program kemitraan dengan memberikan reward atau penghargaan kepada partner lokal yang menyediakan solusi inovatif kepada para pelanggan mereka yang dikombinasikan dengan teknologi dan infrastruktur cloud computing Zettagrid. Infrastruktur yang dimiliki oleh Zettagrid telah diakui dan mendapat banyak penghargaan dari berbagai perusahaan teknologi ternama baik regional maupun global, seperti VMware, Veeam, dan Zerto.

Program channel partner Zettagrid Indonesia yang menyasar pada penyedia layanan Managed Service IT, System Integrator, Independent Software Vendor dan Value Added Reseller akan memberikan perkembangan yang pesat pada pasar cloud computing Indonesia. Zettagrid Indonesia diprediksi akan mampu mendorong percepatan pertumbuhan dan adopsi cloud computing oleh perusahaan-perusahaan tanah air baik skala enterprise maupun SMB.

Sistem berlangganan tanpa kontrak
Zettagrid Indonesia menyediakan berbagai layanan IaaS cloud computing yang meliputi Virtual Server, Virtual Data Center (VDC), Backup, dan Disaster Recovery. Layanan IaaS cloud computing tersebut dibangun, dikelola dan berjalan menggunakan platform VMware yang telah teruji dan tersertifikasi. Keunggulan Zettagrid Indonesia yang memiliki sistem otomatisasi self-provisioning, fully customizable, scalable dan reliable, ditambah dengan lokasi data center dan technical support lokal.

Satu hal yang membedakan Zettagrid Indonesia dengan provider lainnya adalah sistem berlangganan tanpa komitmen atau kontrak. Semua kombinasi terobosan ini merupakan lompatan besar yang memenuhi kebutuhan partner serta pelanggan tanah air yang menginginkan layanan cloud computing dengan aman di dalam zona ketersediaan data di Indonesia.

Reza Kertadjaja, Country Manager Zettagrid Indonesia mengatakan, “Kami bangga bisa terlibat dan berperan dalam strategi ekpansi Zettagrid Australia ke Indonesia. Zettagrid telah memiliki rekam jejak yang panjang dan sukses dalam bekerja sama dengan channel partner mereka dalam merancang, membangun, serta mengelola platform infrastruktur cloud computing yang kompleks menjadi lebih sederhana untuk memenuhi berbagai kebutuhan IT. Di sini kami terus mengembangkan dan belajar dari kebutuhan pasar atau pelanggan agar dapat menyediakan layanan IaaS cloud computing dengan kemudahan pengelolaan manajemen cloud serta platform billing yang terintegrasi.”

TERBARU

ASRock Beebox-S 7200U adalah sebuah barebobe PC mini yang ditujukan untuk banyak penggunaan termasuk sebagai HTPC (home theater PC).