Tags Posts tagged with "Data center"

Data center

Apple Store di Shanghai, Tiongkok.

Apple mengumumkan rencana untuk membangun data center di Tiongkok dengan tujuan mematuhi peraturan pemerintah setempat.

Pada 1 Juni 2017, Pemerintah Tiongkok telah menerbitkan peraturan terkait keamanan siber yang mewajibkan seluruh pemilik dan penyelenggara jaringan untuk menyimpan data-datanya secara lokal di dalam wilayah Tiongkok. Pemerintah berpendapat bahwa regulasi ini dibuat untuk mengantisipasi bahaya serangan siber dan terorisme.

Selain itu, para pemilik bisnis dan layanan yang memiliki pengguna di Tiongkok juga diperintahkan untuk menyerahkan lebih dari 1.000 gigabyte data setiap tahun untuk diperiksa oleh pemerintah lokal. Jika peraturan ini tidak dipatuhi, Pemerintah Tiongkok mengancam akan memblokir layanan mereka.

Apple akan membangun data center pertamanya di provinsi Guizhou bagian selatan dan bekerjasama dengan partner lokal, yakni Guizhou-Cloud Big Data Industry Co. Ltd. (GCBD). Ke depannya, Apple juga bakal mengucurkan dana sekitar US$1 miliar di provinsi ini untuk pengembangan bisnis.

“Pembangunan data center ini akan memungkinkan kami meningkatkan kecepatan dan keandalan aneka produk dan layanan kami, selain mematuhi regulasi terbaru,” kata juru bicara Apple seperti dilansir Reuters.

“Regulasi ini mensyaratkan penyediaan layanan cloud yang dikelola oleh perusahaan lokal Tiongkok sehingga kami bekerjasama dengan GCBD untuk menawarkan iCloud [bagi pengguna di Tiongkok]. Tetapi, tidak akan ada pintu belakang (backdoor) yang dibuat untuk mengakses sistem kami,” lanjut Apple untuk meyakinkan pengguna soal keamanan data mereka.

Intel Xeon Scalable processors are optimized for today’s evolving data center and network infrastructure requirements. (Credit: Intel Corporation)

Intel akhirnya meluncurkan lini Xeon Scalable, prosesor server generasi terbaru yang berbasis arsitektur Skylake kepada publik.

Intel sebenarnya sudah mengirimkan lini prosesor ini sejak beberapa bulan lalu kepada para penyedia cloud, operator telekomunikasi, dan produsen server, tetapi baru resmi dirilis saat ini. Sebanyak lebih dari 500.000 unit prosesor Xeon Scalable telah dikapalkan kepada sejumlah pemain besar, seperti Amazon Web Services, Google, Dell EMC, dan Hewlett Packard Enterprise.

“Prosesor Intel Xeon Scalable mewakili perubahan terbesar dalam data center selama satu dekade terakhir,” kata Navin Shenoy (EVP & GM, Intel Data Center Group). “Data center dan infrastruktur jaringan masa kini telah mengalami perubahan besar dengan meningkatnya penggunaan kecerdasan buatan dan agile network services yang siap menyongsong jaringan 5G,” lanjutnya.

Ada empat varian yang dirilis Intel untuk prosesor Xeon Scalable dengan rebranding nama yang terinspirasi dari penggolongan kartu kredit. Keempat varian itu adalah Xeon Scalable Bronze, Silver, Gold, dan Platinum, berturut-turut dari spesifikasi paling rendah ke paling tinggi.

Beberapa keunggulan Xeon Scalable yang disorot Intel antara lain peningkatan performa hingga 1,65 kali lipat daripada generasi sebelumnya, peningkatan beban kerja OLTP warehouse hingga 5 kali lipat dibanding saat ini, skalabilitas yang lebih tinggi dengan dukungan hingga 28 core, memori 6 TB, dan 56 thread per soket, serta peningkatan keamanan data dan kriptografi hingga 3,1 kali lipat.

Intel menyasar pemakaian prosesor Xeon Scalable di berbagai bidang teknologi masa depan, contohnya kecerdasan buatan, jaringan tingkat tinggi, virtualisasi, dan high performance computing (HPC).

Intel Perbarui Intel Xeon

Dalam beberapa studi kasus para pelanggan yang sudah memakai prosesor Xeon Scalable, Intel menyebutkan bahwa operator telekomunikasi AT&T sukses merasakan peningkatan kinerja dengan jumlah server 25 persen lebih sedikit, Google Compute Platform mampu menawarkan perbaikan kinerja lebih dari 40 persen, dan Technicolor mampu menghemat durasi rendering konten VR sampai tiga kali lipat.

Untuk membantu mempercepat adopsi lini prosesor anyar ini, Intel juga mengumumkan program Intel Select Solutions, yaitu portofolio sistem hardware dan software yang telah dikonfigurasi khusus guna melayani kebutuhan dan beban kerja data center dan jaringan telekomunikasi.

Beberapa software yang termasuk dalam program ini yaitu Canonical Ubuntu, Microsoft SQL 16, dan VMware vSAN 6.6.

Dengan lini Xeon Scalable, Intel diyakini siap menghadapi tantangan baru dari kompetitor terbesarnya, AMD, yang baru-baru ini juga meluncurkan lini prosesor AMD EPYC untuk server dan data center.

Bangunan GTN Data Center yang menempati lahan seluas 15.000 meter persegi di kawasan Lippo Cikarang.

GTN Data Center membuktikan komitmen untuk menyediakan data center dengan standar internasional setelah berhasil meraih sertifikasi ISO 9001:2015 untuk Sistem Manajemen Mutu dan ISO 27001:2013 untuk Sistem Manajemen Keamanan Informasi.

Diperolehnya ISO 9001 dan 27001 ini diklaim akan menjadikan GTN Data Center sebagai data center terdepan dalam hal penerapan pedoman terkini dan terlengkap di bidangnya.

“Kini kami lebih siap dalam memenuhi kebutuhan pasar di Indonesia dengan mengacu pada best practice yang berlaku internasional. GTN Data Center saat ini bisa disejajarkan dengan data center berskala internasional lainnya di seluruh dunia,” ujar Kazuomi Izumi (Direktur, PT Graha Teknologi Nusantara) dalam siaran pers.

[BACA: Ambisi GTN Menghadirkan Data Center Kelas Dunia]

Standar ISO 9001: 2015 dan ISO 27001:2013 adalah versi terbaru yang merupakan penyempurnaan ISO versi sebelumnya.

ISO 9001 adalah standar sistem manajemen mutu yang diakui secara internasional dan merupakan tolok ukur global untuk sistem manajemen mutu yang telah diterbitkan lebih dari satu juta di seluruh dunia. Sedangkan ISO 27001 adalah sistem manajemen keamanan informasi dengan pendekatan sistematis dan proaktif untuk mengelola risiko keamanan informasi rahasia perusahaan secara efektif.

Saat ini, GTN juga tengah dalam proses memperoleh sertifikasi Payment Card Industry Data Security Standard (PCI DSS), standar keamanan informasi yang diwajibkan bagi lembaga yang berkaitan dengan informasi pemegang kartu, sebagai dasar persyaratan teknis dan operasional untuk melindungi data pemegang kartu.

Kedua sertifikasi ISO yang dikeluarkan oleh Badan Akreditasi BSI (British Standards Institution) dari Inggris ini melengkapi kesuksesan GTN Data Center yang sebelumnya telah disertifikasi ANSI/TIA-942:2014 Rated 3 dari Enterprise Product Integration Pte Ltd (EPI) pada akhir 2016 lalu.

Penyerahan sertifikat Rated 3 kepada GTN Data Center.

 “Bisnis data center adalah bisnis kepercayaan sehingga kami juga tidak main-main dalam menerapkan standar layanan di GTN Data Center. Kami terus menjaga operational excellence GTN Data Center dengan mengacu pada standar mutu layanan yang terbaik serta standar jaminan keamanan dan kerahasiaan data pelanggan yang tertinggi sebagai best practice kami,” papar Miko Yanuar (COO, PT Graha Teknologi Nusantara).

“Dengan menjalankan layanan operasional sesuai standar internasional, tentunya akan memperkecil risiko operasional, menekan biaya produksi, memberikan jaminan terhadap pengamanan data, dan meningkatkan reputasi,” tambah Miko.

GTN Data Center merupakan proyek joint venture Indonesia – Jepang antara PT Multipolar Technology, Tbk. dan Mitsui & Co. Ltd. Salah satu keunggulan utama GTN Data Center yaitu ketersediaan dua sumber listrik aktif dari Cikarang Listrindo dengan dua gardu terpisah yang menjamin pasokan listrik yang stabil.

Data center ini menerapkan standar kualitas Jepang dan perangkat keamanan terkini, telah mengoperasikan layanan Co-location Services, Integration Services, IT Consultancy Services dan Data Center Managed Services bagi sektor finansial, pemerintahan, pendidikan, manufaktur, dan telekomunikasi.

IBM akan segera kehilangan salah satu pelanggan public cloud terbesarnya, yaitu WhatsApp. Pasalnya, Facebook berencana memindahkan data center WhatsApp dari platform IBM SoftLayer ke data center pribadi milik mereka. Proses pemindahan kemungkinan dimulai pada akhir tahun ini.

Dikutip dari CNBC, alasan Facebook memindahkan data center WhatsApp adalah demi efisiensi.

Sekitar 63 miliar pesan dikirim oleh pengguna WhatsApp di seluruh dunia pada momen tersibuk, yaitu malam tahun baru, dan membutuhkan sumber daya komputasi yang sangat besar. Jika tetap dilayani dengan cloud computing, biaya yang dihabiskan akan lebih mahal ketimbang ditangani di infrastruktur sendiri.

Pemindahan ini pun sebetulnya bukan hal yang aneh dalam bisnis startup. Saat WhatsApp baru didirikan pada tahun 2009, tim engineer-nya mengandalkan layanan bare-metal cloud dari SoftLayer, sebelum perusahaan itu diakuisisi oleh IBM.

Tetapi, seiring pertumbuhan perusahaan dan melonjaknya jumlah pengguna WhatsApp sampai 1,2 miliar orang, layanan cloud dianggap kurang efisien. Apalagi setelah WhatsApp dibeli oleh Facebook yang sudah memiliki data center pribadi sejak tahun 2010.

Facebook sebetulnya ingin memindahkan data center WhatsApp lebih awal. Namun, pada saat membeli WhatsApp di tahun 2014, Facebook sedang berada di tengah proses pemindahan data center Instagram dari AWS yang saat itu lebih diprioritaskan. Jadilah pemindahan data center WhatsApp baru bisa terealisasi tahun ini.

Pukulan bagi IBM

Kehilangan WhatsApp dari portofolio pelanggan akan memberi pukulan bagi neraca bisnis IBM. Seorang sumber mengklaim bahwa WhatsApp adalah satu dari lima sumber pemasukan terbesar IBM Cloud dengan nilai mencapai US$2 juta per bulan.

Dalam sebuah studi kasus internal, IBM menyebutkan penggunaan sumber daya cloud oleh WhatsApp dapat mengonsumsi lebih dari 700 server kelas atas di dua data center milik IBM di San Jose dan Washington.

Di beragam acara, IBM pun kerap memamerkan WhatsApp sebagai pelanggan papan atas mereka, seperti halnya AWS membanggakan Airbnb dan Netflix atau Google membanggakan Snap dan Spotify.

“WhatsApp telah menjadi pelanggan yang hebat dari IBM Cloud karena mereka memanfaatkan kemampuan dan jejak global kami untuk memperluas bisnis mereka. Kami bangga IBM Cloud dapat berperan dalam kesuksesan mereka,” tukas IBM.

Pasar public cloud sendiri masih dikuasai oleh AWS, Microsoft, dan Google, meninggalkan pemain lainnya seperti IBM dan Oracle dengan pangsa pasar di bawah 10 persen.

Johar Alam (Chairman, IDC Indonesia). [Foto: Abdul Aziz/InfoKomputer]

Masyarakat kerap mengeluhkan akses internet di Indonesia yang lambat dan mahal. Namun, Johar Alam siap melayani keluhan itu dengan aneka data dan fakta yang menunjukkan bahwa sebenarnya, perkembangan internet di Indonesia tergolong luar biasa.

Menurut Johar, Indonesia adalah satu dari sedikit negara di Asia Pasifik yang sudah punya local internet exchange, yaitu IIX (Indonesia Internet eXchange), yang dikelola APJII (Asosiasi Pengelola Jasa Internet Indonesia) sejak tahun 1996.

“Pertimbangan membuat local exchange itu harga. Di industri internet tahun 1994 – 1997, satu ISP berlangganan bandwidth 1 MB ke AS itu harganya US$88 ribu/bulan. Kalau Radnet mau kirim e-mail ke Indonet, harus lewat jalur luar negeri, baru kembali ke Indonesia. Jaraknya jauh, jadi lambat,” Johar berkisah.

“Kalau kita punya local exchange, Radnet ke Indonet nggak usah lewat luar negeri. Artinya, bisa hemat US$88 ribu. Kalau semua ISP di Indonesia tersambung ke exchange ini dengan traffic 3 MB saja, jadinya hemat US$270 ribuan per bulan,” lanjutnya.

Hingga sekarang, Singapura dan Australia belum punya, sedangkan Malaysia dan Filipina baru punya local exchange dalam 2 – 3 tahun terakhir. Itu pun dibantu oleh tim ahli dari Indonesia. “Jadi, kita bisa punya IIX itu achievement tersendiri yang negara lain pun belum bisa lakukan,” tukasnya.

Johar pun menceritakan proses lahirnya IIX. Di tengah rapat APJII, Johar dan dua rekannya, Marcellus Adiwinata dan Sentot, rehat ke toilet. Di ruang itu, mereka mengobrolkan konsep IIX yang ternyata sangat simpel. “Jadi, IIX itu lahirnya di WC pria kantor CBN, sambil merokok,” ucapnya sambil tergelak.

Pada perkembangannya, Johar dan rekan-rekan mendirikan OpenIXP, local exchange yang ditujukan agar pemilik jaringan non-ISP bisa ikut terhubung. OpenIXP diluncurkan tahun 2005 dan saat ini ada 722 jaringan yang tersambung di dalamnya, termasuk 90 ISP yang bergabung di IIX. Menurut data, OpenIXP adalah local exchange terbesar ketiga di dunia.

Hebatnya lagi, karena IIX dan OpenIXP dibangun dengan tujuan mulia untuk memperluas akses internet yang terjangkau, semua ISP dan pemilik jaringan yang terhubung tidak ditarik biaya sama sekali.

“Sekarang total traffic internet di Indonesia mencapai 1,277 TB per bulan. Kalau setiap 1 MB dihargai US$100, artinya negara ini kami ‘gratiskan’ akses internet senilai US$127 juta per bulan,” kata Johar.

Johar juga menyebutkan bahwa sejak tahun 1998, Indonesia termasuk satu dari lima negara di Asia Pasifik yang dianggap APNIC mampu mengatur IP address sendiri. Artinya, posisi Indonesia sejajar dengan Jepang, Tiongkok, Korea Selatan, dan Taiwan.

Tak lupa, Johar menyoroti pertumbuhan pengguna internet dan traffic yang terus melesat. “Pada tahun 2000, jumlah pengguna internet kita 500 ribu dengan traffic lokal 3 MB. Sedangkan pada 2016, pengguna internet 100 juta dan traffic lokal bisa mencapai 277 GB,” paparnya.

Pada akhirnya, Johar ingin menggarisbawahi bahwa perjalanan internet Indonesia, sejak diperkenalkan oleh Jos Luhukay dan Bagio Budiardjo pada tahun 1983 di Universitas Indonesia sampai era 4G saat ini, sangatlah patut diapresiasi.

“Sayang, orang Indonesia kurang bisa sedikit saja bangga atas apa yang sudah bangsa ini lakukan. Kita sudah take it for granted kalau akses internet lokal lebih cepat daripada ke luar negeri. Padahal, di balik itu, prosesnya panjang sekali,” pungkasnya.

Artikel ini merupakan bagian dari Cover Story spesial wawancara 30 tokoh TI nasional dalam rangka ulang tahun ke-30 InfoKomputer. Temukan artikel lengkapnya di sini dan di sini.

Intel Perbarui Intel Xeon

Akhirnya, Intel memperbaharui merek dagang (rebrand) lini Xeon-nya untuk meningkatkan kinerja dan fitur. Selama ini chip Xeon menyasar untuk penggunaan server dan workstation seperti Mac Pro.

Intel akan memberikan sistem penamaan baru pada Intel Xeon menjadi processor Platinum, Gold, Silver, dan Bronze. Skema penamaan itu mirip dengan senyawa logam medali Olimpiade dan merek kartu kredit dari perusahaan seperti Delta.

Bahkan, sumber Intel mengatakan chip itu akan disebut Xeon-P, Xeon-G, Xeon-S, dan Xeon-B, dengan P untuk Platinum, G for Gold, dan lain sebagainya. Jadi, semakin berharganya tingkat senyawa logam pada chip Intel Xeon tersebut, chip itu akan semakin bertenaga.

Chip Platinum adalah chip tercepat dan kinerjanya sama dengan chip E7. Sedangkan, penamaan prosesor Bronze menyasar server low-end dan kinerjanya mirip dengan E5. Pada awal tahun ini, Intel meluncurkan server low-end E3 dan chip workstation berdasarkan arsitektur Kaby Lake.

Intel pun akan meningkatkan performa dan keamanan Intel Xeon Platinum. Intel pun memasang lapisan perangkat keras tambahan pada chip Skylake untuk meningkatkan keamanan data, seperti dikutip PC World.

Intel akan menghubungkan FPGAs dan chip deep-learning dari Nervana sehingga prosesor dapat melakukan tugas seperti pengenalan gambar dan pemrosesan bahasa alami. Intel juga akan memperkenalkan interkoneksi OmniPath dengan bandwidth yang tinggi.

Chip server terbaru itu juga memiliki fitur Intel Volume Management Device dan mendukung SSD supercepat Optane DC P4800X dan 3D NAND berbasis DC P4600.

Intel akan menata ulang bisnisnya untuk lebih fokus pada pusat data, terutama dengan pasar PC yang sedang mengalami stagnasi sejauh ini.

Lenovo DX8200D

Lenovo berupaya mendorong adopsi teknologi software-defined data center dengan menghadirkan produk software-defined storage (SDS) terbarunya, Lenovo DX8200D.

Lenovo DX8200D merupakan sebuah appliance atau mesin terintegrasi yang menggabungkan platform server System x3650, perangkat lunak virtualisasi storage yang canggih, serta I/O paralel multi-core SANsymphony dari DataCore Software.

Lenovo DX8200D mengambil perangkat storage yang terisolasi dan kadang tersebar di berbagai lokasi berbeda, lalu menempatkannya di bawah satu set layanan tingkat perusahaan. Set layanan ini mengumpulkan berbagai sumber daya, mengaturnya di pusat dan secara seragam, meskipun perlengkapannya berbeda-beda dari segi manufaktur, model, ataupun generasinya.

Lenovo akan menguji DX8200D terlebih dahulu dengan DataCore untuk mengurangi risiko serta meningkatkan waktu untuk menilai. Dengan Predictive Failure Analysis dan panel diagnosis generasi selanjutnya untuk memfasilitasi layanan dengan mudah, server x3650 M5 dapat membantu mengurangi waktu downtime dan biaya yang diperlukan.

Fitur keamanan yang sudah built-in, Lenovo Trusted Platform Assurance, bertujuan untuk melindungi perangkat keras dan firmware.

“Server Lenovo yang kuat dan terpercaya digabungkan dengan I/O paralel dari DataCore telah mengubah standar performa, keefisienan biaya, dan manajemen yang mulus di antara beragam infrastruktur storage,” kata George Teixeira (President dan CEO, DataCore Software).

Keuntungan Lenovo DX8200D

Lenovo DX8200D diklaim mampu menyederhanakan proses penerapan, mengurangi biaya manajemen, selagi menyediakan dukungan dari satu titik. Penawaran SDS terbaru di portofolio Lenovo ini memungkinkan data center perusahaan tetap memanfaatkan kemampuan SAN yang sudah ada.

Skema virtualisasi storage Lenovo DX8200D.

Lenovo DX8200D dapat mengoptimalkan beragam infrastruktur storage dan perusahaan pun dapat mengganti storage lamanya dengan mudah. Melalui tampilan antarmuka terpusat, DX8200D menyediakan proteksi data, replikasi data, deduplikasi data, kompresi, dan kemampuan storage perusahaan lainnya dengan biaya yang jauh lebih rendah dibandingkan SAN tradisional.

Dengan Lenovo DX8200D, data center akan menghasilkan biaya kepemilikan yang lebih rendah, waktu berkurang hampir 90% dalam hal manajemen storage dan support task, berkurang hingga 75% dalam hal biaya storage, dan berkurang hingga 100% dalam hal downtime di perangkat lunak.

Dengan peningkatan kinerja hingga 10 kali lipat, data center juga dapat menyediakan lebih banyak data penting atau mission-critical.

“Sebagai pemain baru yang agresif, solusi SDS kami memungkinkan perusahaan untuk menerapkan sistemnya dengan lebih cepat sehingga mereka bisa mengurangi waktu dan sumber daya yang dibutuhkan untuk mengatur infrastuktur dasar,” ujar Radhika Krishnan (Executive Director dan General Manager, Software-Defined Data Center & Networking, Data Center Group, Lenovo).

“Ini sangat berbeda dari storage tradisional yang seringkali mengalami gangguan performa, ketersediaan, reliabilitas, dan fungsionalitas, sehingga membatasi kemampuan untuk meningkatkan skala dan menaikkan biaya CAPEX, listrik, pendingin, dan footprint.” pungkas Krishnan.


Lintasarta yang merupakan bagian dari Indosat Ooredoo Group kembali membuktikan sebagai pemimpin untuk pasar layanan Data Center di Indonesia dengan jajaran fasilitas berstandar internasional. Hal ini setelah fasilitas Lintasarta Disaster Recovery Center (DRC) 3 yang berlokasi di Jatiluhur, Purwakarta mendapatkan sertifikasi Tier III untuk kategori Tier Certification for Constructed Facilities (TCCF) dari Uptime Institute.

Sertifikasi ini melengkapi fasilitas Data Center Lintasarta lainnya seperti Lintasarta Technopark Data Center yang juga telah tersertifikasi Data Center Tier III untuk kategori Tier Certification for Constructed Facilities (TCCF) dari Uptime Institute. Sertifikasi ini melengkapi sertifikat Data Center Tier III kategori Tier Certification of Design Documents (TCDD) yang telah didapat sebelumnya.

Lintasarta telah memiliki Data Center dan DRC yang memiliki standar kelas dunia, melalui keberadaan Lintasarta Technopark Data Center dan Lintasarta DRC 3. Data Center Lintasarta juga telah masuk dalam jajaran 4 besar dalam kategori Data Center Technical Breakthrough pada ajang penghargaan Datacloud Asia Awards pada akhir Februari 2017 lalu di Singapura. Pada kategori tersebut, Lintasarta bersandingan dengan perusahaan penyedia layanan Data Center besar lainnya di tingkat global khususnya Asia yaitu Telin Singapore, Digital Realty, dan Kingsland Data Center.

DRC 3 yang memiliki kapasitas luas total 6.000 m2 dipasok oleh dua sumber listrik dari dua provider berbeda yaitu PLN dan Perum Jasa Tirta II untuk meningkatkan availabilitas layanan. Lintasarta akan memberikan solusi total penyimpanan data yang handal dengan menyediakan layanan colocation, network, dan managed service dengan model bisnis sewa. Solusi ini membuat pelaku industri dapat mengikuti tren perusahaan global dimana harus fokus kepada bisnis utama dan beralih dari capital expenditure (capex) menjadi operational expenditure (opex).

Kelebihan DRC 3 lainnya adalah fasilitas working area yang luas dan nyaman baik untuk kebutuhan Disaster Recovery Procedure (DRP) maupun aktivitas IT pelanggan. DRC 3 juga didukung dengan sumber daya manusia (SDM) yang tersertifikasi standar internasional dari Uptime Institute seperti Accredited Tier Designer di bagian design/build, Accredited Tier Specialist di bagian operations.

Tim data center Lintasarta juga memperoleh sertifikat standar Telecommunications Industry Association (TIA) dan American National Standards Institute (ANSI). DRC 3 juga telah didukung dengan bisnis proses yang sudah tersertifikasi standar global sehingga menjamin keamanan serta kenyamanan pelanggan.

Ilustrasi perbaikan data center.

Siapa sangka, gangguan layanan cloud computing dari Amazon Web Services (AWS) yang melumpuhkan sejumlah situs dan aplikasi global seperti Quora, Slack, dan IFTTT pada hari Selasa (28/2) lalu ternyata disebabkan oleh kelalaian kecil: salah coding atau memasukkan kode pemrograman.

Hal itu terungkap dalam penjelasan resmi yang dirilis Amazon pada hari Kamis (2/3).

Amazon menjelaskan bahwa insiden itu bermula dari kesalahan seorang engineer dalam tim AWS yang sedang memperbaiki aplikasi sistem penagihan. Untuk itu, ia perlu menonaktifkan beberapa server di data center US-EAST-1 yang berlokasi di Virginia Utara, AS. Sayangnya, terdapat kekeliruan dalam salah satu perintah yang diketikkan. Akibatnya, perintah itu malah menonaktifkan server-server dalam jumlah besar.

Sungguh malang, server yang tidak sengaja nonaktif itu merupakan server yang mendukung dua buah subsistem utama pada layanan Amazon S3 (Simple Storage Service, layanan cloud storage dari AWS). Walhasil, kedua subsistem penting itu pun padam.

Salah satu subsistem itu bertugas mengelola metadata dan informasi lokasi penyimpanan objek-objek yang ditaruh di S3. Ketika subsistem itu padam, perintah-perintah standar seperti pengambilan data dan penyimpanan data pun tidak bisa dilakukan.

Selama layanan S3 padam, layanan-layanan AWS lainnya di data center US-EAST-1 yang bergantung pada S3 untuk penyimpanan data pun ikut terdampak. Pelanggan pun tidak bisa mengakses layanan Amazo Elastic Compute Cloud (EC2), Amazon Elastic Block Store (EBS), dan AWS Lambda.

Bahkan, AWS pun tidak dapat mengganti warna status pada health dashboard mereka yang berfungsi untuk menunjukkan status layanan normal (warna hijau) atau bermasalah (merah). Pasalnya, health dashboard itu juga mengandalkan Amazon S3 untuk menyimpan data.

Sebetulnya, AWS telah mengantisipasi insiden-insiden semacam itu dan siap menjalankan operasi secara normal meskipun subsistem-subsistem utama itu kehilangan dukungan server dalam jumlah besar. Untuk itu, mereka cukup me-restart subsistem yang padam dengan pasokan daya dari server lain.

“Kami membangun sistem dengan asumsi bahwa kegagalan bisa terjadi kapan saja dan kami memiliki kemampuan untuk mencopot dan mengganti kapasitas [server] sebagai salah satu proses operasional inti kami,” tulis AWS.

“Tetapi, S3 telah mengalami pertumbuhan luar biasa dalam beberapa tahun terakhir dan proses me-restart layanan-layanan itu dan pengecekan integritas metadata [ternyata] memerlukan waktu yang lebih lama daripada perkiraan,” sambungnya.

AWS meluncurkan tiga belas layanan dan fitur baru untuk para developer. Dok. AWS

Total durasi yang dibutuhkan AWS mulai insiden salah coding terjadi, deteksi masalah, proses restart, sampai pemulihan rampung memakan waktu lebih dari empat jam.

“Kami ingin meminta maaf atas dampak kejadian ini kepada para pelanggan kami. Kami akan melakukan apa pun untuk belajar dari kejadian ini dan meningkatkan ketersediaan kami di masa depan,” pungkas AWS.

Perbaikan Kebijakan

Sebagai bagian dari pembelajaran dan upaya perbaikan, AWS pun mengubah beberapa kebijakan layanan.

Yang paling penting, Amazon akan meningkatkan kecepatan proses restart dan pemulihan sistem S3 jika ada masalah lagi. Di masa depan, engineer juga tidak akan bisa menonaktifkan server S3 dalam jumlah yang berisiko membahayakan dukungan pada subsistem.

Terakhir, Amazon akan memodifikasi konsol health dashboard AWS agar tetap bisa diperbarui sesegera mungkin walaupun terdapat masalah pada layanan cloud mereka.

Judi Achmadi (CEO, Telkomsigma) dalam jumpa pers di Jakarta, Kamis, 2 Maret 2017.

Telkomsigma berhasil mencatat rekor positif di tahun 2016. Dari sisi bisnis, anak perusahaan Telkom Group itu sanggup menangguk pendapatan sebesar Rp3,4 triliun, atau melampaui target yang dipasang di awal tahun lalu sebesar Rp3 triliun.

Angka itu menunjukkan peningkatan sebesar 30% dibandingkan tahun 2015. “Sedangkan pertumbuhan industri TI masih bergerak di angka 15%, jadi kami tumbuh di atas rata-rata industri,” ujar Judi Achmadi (CEO, Telkomsigma) dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu (2/3).

Judi pun menyebutkan bahwa kontribusi pemasukan Telkomsigma masih didominasi oleh bisnis system integrator sebesar 50%, diikuti data center sebesar 30%, dan 20% sisanya disumbangkan bisnis managed service.

Bermodalkan pencapaian bagus di tahun 2016, Telkomsigma pun mematok target yang lebih tinggi pada tahun 2017, yaitu pertumbuhan sebesar 25 – 30% dan omzet mencapai Rp4 triliun.

“Di tahun 2017, kami punya tema baru. Kalau tahun 2016 kami baru monetizing business, sekarang kami ingin melakukan market domination,” kata Judi. Maksudnya, Telkomsigma berharap bisa makin agresif untuk menegaskan posisinya sebagai market leader di Indonesia saat ini.

Strategi bisnis yang akan diterapkan Telkomsigma pada tahun ini adalah melakukan sinergi dengan program-program pemerintah yang berfokus pada pembangunan infrastruktur. Judi menyebutkan bahwa Telkomsigma bakal fokus menggarap empat sektor utama, yaitu infrastruktur, kesehatan (e-health), pariwisata (e-tourism), dan pendidikan/edukasi.

“Kami akan menyiapkan aplikasi-aplikasi IT yang mendukung infrastruktur pemerintah, seperti di bidang transportasi, gedung-gedung, dan jalan tol,” tukas Judi. Ia mencontohkan beberapa program yang sedang disiapkan Telkomsigma antara lain e-toll, ERP (Electronic Road Pricing), smart building, dan smart city.

Untuk itu, Telkomsigma serius mengembangkan aplikasi buatan anak negeri melalui software house BaliCamp yang berlokasi di Bali, Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Inilah upaya mereka agar Indonesia bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri, terutama dalam bisnis TI. Terlebih, Judi mengklaim Telkomsigma adalah perusahaan TI terbesar di Indonesia dengan mempekerjakan 1.500 karyawan.

“Mimpi saya pribadi, Telkomsigma [lewat BaliCamp] akan menjadi software house terbesar di Indonesia dan bisa bersaing dengan software house asing. Mudah-mudahan mahasiswa ITB, UI, ITS, Bina Nusantara, mau langsung melamar ke Telkomsigma setelah lulus,” pungkas Judi.

TERBARU

Proyek kacamata pintar Google Glass sempat dimatikan oleh Alphabet, induk perusahaan Google, pada tahun 2015. Tetapi sekarang, Google Glass lahir kembali dengan fokus bisnis yang baru di industri enterprise.