Tags Posts tagged with "Data center"

Data center

Interior dalam bangunan data center Google.

Salah satu sumber sakit kepala para petinggi perusahaan teknologi adalah penggunaan listrik di data center.

Sebuah laporan Pemerintah Amerika Serikat pada tahun 2016 menyebutkan bahwa pusat data di AS menyedot listrik sekitar 70 miliar kWh di tahun 2014. Pada tahun 2020, penggunaan listrik oleh data center di negeri Paman Sam itu diperkirakan akan mencapai 73 miliar kWh.

Berbagai strategi dan inovasi dilakukan demi menekan pemakaian listrik di data center. Facebook sengaja membangun server farm seluas hampir 27 ribu meter persegi di Lulea, sebuah kota di Swedia yang berlokasi di tepi Arctic Circle. Hawa dingin Skandinavia diharapkan membantu Facebook berhemat biaya cooling system. Sementara itu, penghematan biaya listrik diperoleh dari pemanfaatan hydro electric yang relatif lebih murah.

Dengan pemakaian listrik yang cukup besar, infrastruktur yang berada di balik aktivitas dunia maya ini juga ikut andil menyumbang emisi gas rumah kaca. The Guardian menyebutkan bahwa emisi global akibat aktivitas online saat ini setara dengan emisi yang dihasilkan bisnis penerbangan.

Menurut SMARTer2020, sebuah laporan yang dikeluarkan oleh GeSI pada tahun 2012, berbagai server di balik aktivitas pencarian di web, streaming film, dan posting media sosial berkontribusi sebesar dua persen terhadap emisi total gas rumah kaca global.

Sistem Pendingin Sedot Energi Tertinggi

Sebagai salah satu pemilik data center terbanyak di dunia, Google pun tak luput dari isu energi ini. Pada tahun 2014 diketahui Google menggunakan listrik sebesar 4.402.836 MWh atau setara konsumsi listrik dari 366.903 rumah tangga di AS.

Salah satu penyebab data center menyedot banyak energi adalah proses pendinginan (cooling). Seperti halnya laptop, data center juga menghasilkan udara panas. Udara bersuhu tinggi ini harus dibuang agar tidak mengganggu kinerja server dan komponen-komponen lain di pusat data.

Proses pendinginan umumnya dilakukan oleh perangkat-perangkat berskala industri, seperti pompa, chiller, dan cooling tower. Namun, dalam lingkungan yang dinamis seperti di data center, peralatan tersebut relatif cukup sulit dioperasikan secara optimal karena beberapa alasan.

Perangkat, cara pengoperasian perangkat, dan lingkungan tidak selalu dapat berinteraksi secara optimal dalam situasi yang kompleks. Sementara itu, sistem engineering yang diformulasikan secara tradisional dan intuisi manusia tidak selalu dapat membaca interaksi tersebut.

Sistem juga tidak dapat cepat beradaptasi dengan perubahan internal atau eksternal, misalnya kondisi cuaca. Setiap data center memiliki arsitektur dan lingkungan yang unik sehingga satu sistem yang diterapkan di satu data center mungkin tidak dapat diterapkan di data center lainnya. Walhasil, proses pendinginan tidak dapat berjalan optimal dan efisiensi energi tidak tercapai.

Kembangkan “Intelligence Network”

Untuk mengatasi masalah tersebut, bersama DeepMind, Google mengembangkan intelligence framework berbasis machine learning. Kecerdasan framework ini disokong oleh deep neural network yang terus menerus mempelajari  berbagai skenario dan parameter operasional data center.

DeepMind menggunakan data-data historis dari sekitar 120 variabel yang dikumpulkan oleh ribuan sensor di data center, misalnya data temperatur, energi, kecepatan pompa, setpoint dan sebagainya. Kemudian, data tersebut digunakan untuk melatih deep neural network, khususnya untuk menghitung nilai rata-rata Power Usage Effectiveness (PUE). Ini karena proyek ini bertujuan meningkatkan efisiensi penggunan energi.

DeepMind juga melatih dua deep neural network lain untuk memperkirakan suhu dan tekanan dalam waktu beberapa jam ke depan. Tujuannya adalah mensimulasikan tindakan-tindakan yang direkomendasikan model PUE dan memastikan sistem tidak melampaui batas-batas operasional yang diperbolehkan.

Penghematan listrik dicapai karena sistem mendapat prediksi computational load yang lebih akurat, lalu sistem akan mencocokkan dengan cooling load yang dibutuhkan.

“Tingkat kompleksitas dan jumlah variabel dalam pekerjaan mengelola data center adalah satu hal di mana algoritma dapat mengalahkan manusia,” ujar Mustafa Suleyman (Co-Founder DeepMind) seperti dikutip dari The Guardian.

Jangan pernah meragukan intuisi manusia. Apalagi ketika ketajaman intuisi itu diasah terus-menerus. Namun algoritma machine learning dapat menggambarkan berbagai kondisi dan situasi secara lebih nyata dan akurat. Ini karena ia “belajar” dari big data, termasuk data tentang hal-hal kecil yang mungkin tidak teridentifikasi oleh manusia.

Perbedaan PUE antara saat sistem AI Deepmind aktif dan tidak aktif.

Reduksi Pemakaian Listrik

Penerapan machine learning ini mencapai hasil yang cukup signifikan bagi Google, yakni mereduksi kebutuhan listrik untuk cooling hingga 40 persen dan menghemat penggunaan listrik Google sampai 15 persen.

Angka tersebut disebut Google sebagai langkah fenomenal, apalagi jika mengingat konsumsi listrik Google yang mencapai lebih dari 4 juta MWh. Dengan penurunan konsumsi listrik sebesar 15 persen, Google dapat menghemat sampai ratusan juta dolar dari tahun ke tahun. Dan jika Anda ingat bahwa Google membeli DeepMind seharga US$600 juta, kelihatannya upaya Google di bidang artificial intelligence dan machine learning akan segera “terbayar” lunas.

Apabila Google berniat memperluas aplikasi machine learning ini ke bagian lagi dari data center-nya, langkah berikutnya adalah mengidentifikasi data-data baru apa yang dibutuhkan untuk melatih deep neural network. Tujuannya, agar mereka mampu mengalkulasi efisiensi yang diinginkan. Dan Google tinggal memasang sensor di area-area yang berpotensi menghasilkan data-data tersebut.

Algoritma machine learning yang dikembangkan DeepMind dan Google adalah general-purpose framework untuk memahami dinamika yang kompleks. Artinya algoritma tersebut dapat diaplikasikan untuk mengatasi tantangan lain di lingkungan data center lainnya maupun lingkungan komputasi yang lebih luas. Misalnya untuk meningkatkan efisiensi konversi di pembangkit listrik, mengurangi pemakaian energi dan air di industri manufaktur semikonduktor, atau meningkatkan throughput di fasilitas manufaktur.

Zettagrid Australia, penyedia layanan cloud computing terkemuka berbasis Infrastructure as a Service (IaaS) bagian dari VMware vCloud Air Network, hari ini (04/09) mengumumkan ekpansi layanan IaaS cloud computing dengan dibukanya layanan resmi dan data center di Jakarta. Ekpansi ini merupakan langkah awal Zettagrid dalam menyediakan layanan public cloud ke seluruh wilayah regional APAC.

“Keputusan untuk melakukan ekpansi layanan IaaS cloud computing ke Indonesia adalah bagian dari langkah strategis global Zettagrid” ungkap Nathan Harman, CEO Zetta Group. “Sejak didirikan pada tahun 2010, Zettagrid telah diakui oleh para pihak dalam industri sebagai market leader cloud computing di Australia, dan seiring dengan meningkatnya adopsi cloud computing oleh berbagai perusahaan skala enterprise maupun SMB, maka ekspansi ke Asia Tenggara merupakan milestone penting selanjutnya bagi perusahaan kami.”

Diantara penyedia layanan IaaS cloud computing Australia lainnya, Zettagrid memiliki pondasi bisnis yang kuat dari sisi aspek inovasi dan otomatisasi layanan. Ditambah dengan pencapaian dan sertifikasi ISO9001:2008, PCI DSS, Dell Partner, Microsoft SCA Partner dan Microsoft Qualified Multitenant Hoster menjadikan Zettagrid sebagai perusahaan yang terus berkembang hingga dipercaya mengelola ribuan virtual machine dan memiliki lebih dari ratusan channel partner.

Zettagrid Indonesia menawarkan bentuk program kemitraan dengan memberikan reward atau penghargaan kepada partner lokal yang menyediakan solusi inovatif kepada para pelanggan mereka yang dikombinasikan dengan teknologi dan infrastruktur cloud computing Zettagrid. Infrastruktur yang dimiliki oleh Zettagrid telah diakui dan mendapat banyak penghargaan dari berbagai perusahaan teknologi ternama baik regional maupun global, seperti VMware, Veeam, dan Zerto.

Program channel partner Zettagrid Indonesia yang menyasar pada penyedia layanan Managed Service IT, System Integrator, Independent Software Vendor dan Value Added Reseller akan memberikan perkembangan yang pesat pada pasar cloud computing Indonesia. Zettagrid Indonesia diprediksi akan mampu mendorong percepatan pertumbuhan dan adopsi cloud computing oleh perusahaan-perusahaan tanah air baik skala enterprise maupun SMB.

Sistem berlangganan tanpa kontrak
Zettagrid Indonesia menyediakan berbagai layanan IaaS cloud computing yang meliputi Virtual Server, Virtual Data Center (VDC), Backup, dan Disaster Recovery. Layanan IaaS cloud computing tersebut dibangun, dikelola dan berjalan menggunakan platform VMware yang telah teruji dan tersertifikasi. Keunggulan Zettagrid Indonesia yang memiliki sistem otomatisasi self-provisioning, fully customizable, scalable dan reliable, ditambah dengan lokasi data center dan technical support lokal.

Satu hal yang membedakan Zettagrid Indonesia dengan provider lainnya adalah sistem berlangganan tanpa komitmen atau kontrak. Semua kombinasi terobosan ini merupakan lompatan besar yang memenuhi kebutuhan partner serta pelanggan tanah air yang menginginkan layanan cloud computing dengan aman di dalam zona ketersediaan data di Indonesia.

Reza Kertadjaja, Country Manager Zettagrid Indonesia mengatakan, “Kami bangga bisa terlibat dan berperan dalam strategi ekpansi Zettagrid Australia ke Indonesia. Zettagrid telah memiliki rekam jejak yang panjang dan sukses dalam bekerja sama dengan channel partner mereka dalam merancang, membangun, serta mengelola platform infrastruktur cloud computing yang kompleks menjadi lebih sederhana untuk memenuhi berbagai kebutuhan IT. Di sini kami terus mengembangkan dan belajar dari kebutuhan pasar atau pelanggan agar dapat menyediakan layanan IaaS cloud computing dengan kemudahan pengelolaan manajemen cloud serta platform billing yang terintegrasi.”

(Kiri – kanan) Han Chon Director of Data Center Group ASEAN Lenovo, Dick Bahar Country Manager Data Center Group Lenovo, Daniel Yuditya Yappy DCG Product Manager Lenovo Indonesia dalam Peluncuran Lenovo ThinkSystem & Think Agile Transform “Harness the Intelligence Revolution” di Jakarta, Rabu (23/8).

Lenovo adalah salah pemain besar di industri komputer dan data center. Untuk data center, Lenovo menawarkan platform Server ThinkSystem yang mampu menjawab segala permasalahan perusahaan dan industri.

Dick Bahar (Country Manager Data Center Group Lenovo Indonesia) mengatakan pertumbuhan data sangat besar di Indonesia, menyusul pengadopsian transformasi digital yang kian luas dan merata.

“Lenovo akan mengakomodasi segala kebutuhan pelanggan dengan menciptakan inovasi berdasarkan kebutuhan sehingga lebih lincah dan mampu menghadapi gelombang kemajuan digital,” katanya di Jakarta, Rabu.

Lenovo Indonesia pun menghadirkan portofolio ThinkSystem yang menghadirkan server, networking, storage dengan standar tinggi, mengurangi kompleksitas sistem, dan meningkatkan efisiensi biaya.

Portofolio Lenovo ThinkSystem terdiri dari 14 server yang mudah dikonfigurasi untuk platform rack dan tower, mission critical, dense serta blade, dan sistem hyperscale yang baru. ThinkSystem dikembangkan secara khusus untuk dapat bekerja secara lancar dengan sistem yang sudah ada, tanpa harus melakukan konfigurasi ulang data center.

“Pelanggan dapat memilih beragam teknologi dan menyesuaikan skalabilitas dengan kebutuhan beban kerja,” ujarnya.

Lenovo juga telah menunjukkan kesuksesannya dalam mendukung para pelanggan di pasar finansial dengan memecahkan rekor dunia dalam benchmark 26 STAC-M3 di ThinkSystem SR950 dan ThinkSystem SR650.

ThinkSystem SR950 mampu memecahkan rekor dunia dalam 9 dari 15 penilaian dan dua penilaian opsional dari benchmark STAC-M3 ‘big-memory’ Shasta. Salah satu dari hasil itu ialah menunjukkan hasil 2 kali lebih tinggi dari skor sebelumnya di benchmark4 STAC-M3 Shasta.

Hasil benchmark itu menunjukkan komitmen Lenovo dalam menghadirkan server berkinerja tinggi yang sesuai harapan para pelanggan dan investasi server mereka, serta kemampuan dalam menyediakan sistem yang fleksibel dan juga dapat diandalkan oleh pelanggan.

Lenovo juga mengumumkan dukungan terhadap Intel Select Solutions, satu set solusi yang teroptimasi berdasarkan prosesor Intel® Xeon® Scalable yang dikembangkan untuk memroses beban kerja di data center masa kini.

Lenovo Validated Design untuk VMWare vSAN dan Lenovo Database Validated Designs untuk High Performance Microsoft SQL Server OLTP akan tersedia pada bulan Oktober 2017.

Dell EMC baru-baru ini mengumumkan kehadiran jajaran server PowerEdge generasi ke-14 di Indonesia. Server Dell EMC PowerEdge generasi terbaru ini hadir untuk mendorong transformasi digital perusahaan di Indonesia.

Seri PowerEdge generasi ke-14 ini hadir dengan prosesor Intel Xeon Scalable terbaru yang dioptimasi untuk kebutuhan data center yang membutuhkan kinerja tinggi.

Selain itu, seri PowerEdge terbaru ini memiliki sistem pendinginan yang jauh lebih baik serta kepadatan yang lebih tinggi sehingga perusahaan bisa mendapatkan kinerja yang lebih tinggi dalam ukuran server yang lebih ringkas.

[BACA: Dell EMC Hadirkan Portofolio Dukung Transformasi Digital]

Setidaknya ada tujuh varian server terbaru Dell EMC yang diperkenalkan pada peluncurannya, Kamis (27/7) lalu, yaitu PowerEdge R940, R740, R740xd, R640, M640, FC640, dan C6420. Masing-masing ditujukan untuk kebutuhan aplikasi yang berbeda-beda, seperti high performance computing, database, cloud, dan lain-lain.

Dell EMC juga meningkatkan sektor keamanan pada PowerEdge terbaru ini. Dengan sistem pemantauan yang telah ditingkatkan, perusahaan dapat memantau kinerja sistem secara lebih rinci.

Keamanan juga ditambah dengan sistem otorisasi firmware dengan kunci khusus untuk menghindari akses yang tidak diinginkan. Sistem otomatisasi juga membuat server ini bisa melakukan tindakan pencegahan atau penanganan apabila terjadi sesuatu.

Ke depannya, Dell EMC akan menggandeng vendor aplikasi seperti Microsoft, Oracle, SAP, dan yang lainnya untuk merilis server PowerEdge yang didesain khusus dan tersertifikasi untuk aplikasi atau platform spesifik. Tujuannya agar calon pengguna bisa mendapatkan solusi lengkap sesuai dengan kebutuhan dan aplikasi yang mereka gunakan.

Apple Store di Shanghai, Tiongkok.

Apple mengumumkan rencana untuk membangun data center di Tiongkok dengan tujuan mematuhi peraturan pemerintah setempat.

Pada 1 Juni 2017, Pemerintah Tiongkok telah menerbitkan peraturan terkait keamanan siber yang mewajibkan seluruh pemilik dan penyelenggara jaringan untuk menyimpan data-datanya secara lokal di dalam wilayah Tiongkok. Pemerintah berpendapat bahwa regulasi ini dibuat untuk mengantisipasi bahaya serangan siber dan terorisme.

Selain itu, para pemilik bisnis dan layanan yang memiliki pengguna di Tiongkok juga diperintahkan untuk menyerahkan lebih dari 1.000 gigabyte data setiap tahun untuk diperiksa oleh pemerintah lokal. Jika peraturan ini tidak dipatuhi, Pemerintah Tiongkok mengancam akan memblokir layanan mereka.

Apple akan membangun data center pertamanya di provinsi Guizhou bagian selatan dan bekerjasama dengan partner lokal, yakni Guizhou-Cloud Big Data Industry Co. Ltd. (GCBD). Ke depannya, Apple juga bakal mengucurkan dana sekitar US$1 miliar di provinsi ini untuk pengembangan bisnis.

“Pembangunan data center ini akan memungkinkan kami meningkatkan kecepatan dan keandalan aneka produk dan layanan kami, selain mematuhi regulasi terbaru,” kata juru bicara Apple seperti dilansir Reuters.

“Regulasi ini mensyaratkan penyediaan layanan cloud yang dikelola oleh perusahaan lokal Tiongkok sehingga kami bekerjasama dengan GCBD untuk menawarkan iCloud [bagi pengguna di Tiongkok]. Tetapi, tidak akan ada pintu belakang (backdoor) yang dibuat untuk mengakses sistem kami,” lanjut Apple untuk meyakinkan pengguna soal keamanan data mereka.

Intel Xeon Scalable processors are optimized for today’s evolving data center and network infrastructure requirements. (Credit: Intel Corporation)

Intel akhirnya meluncurkan lini Xeon Scalable, prosesor server generasi terbaru yang berbasis arsitektur Skylake kepada publik.

Intel sebenarnya sudah mengirimkan lini prosesor ini sejak beberapa bulan lalu kepada para penyedia cloud, operator telekomunikasi, dan produsen server, tetapi baru resmi dirilis saat ini. Sebanyak lebih dari 500.000 unit prosesor Xeon Scalable telah dikapalkan kepada sejumlah pemain besar, seperti Amazon Web Services, Google, Dell EMC, dan Hewlett Packard Enterprise.

“Prosesor Intel Xeon Scalable mewakili perubahan terbesar dalam data center selama satu dekade terakhir,” kata Navin Shenoy (EVP & GM, Intel Data Center Group). “Data center dan infrastruktur jaringan masa kini telah mengalami perubahan besar dengan meningkatnya penggunaan kecerdasan buatan dan agile network services yang siap menyongsong jaringan 5G,” lanjutnya.

Ada empat varian yang dirilis Intel untuk prosesor Xeon Scalable dengan rebranding nama yang terinspirasi dari penggolongan kartu kredit. Keempat varian itu adalah Xeon Scalable Bronze, Silver, Gold, dan Platinum, berturut-turut dari spesifikasi paling rendah ke paling tinggi.

Beberapa keunggulan Xeon Scalable yang disorot Intel antara lain peningkatan performa hingga 1,65 kali lipat daripada generasi sebelumnya, peningkatan beban kerja OLTP warehouse hingga 5 kali lipat dibanding saat ini, skalabilitas yang lebih tinggi dengan dukungan hingga 28 core, memori 6 TB, dan 56 thread per soket, serta peningkatan keamanan data dan kriptografi hingga 3,1 kali lipat.

Intel menyasar pemakaian prosesor Xeon Scalable di berbagai bidang teknologi masa depan, contohnya kecerdasan buatan, jaringan tingkat tinggi, virtualisasi, dan high performance computing (HPC).

Intel Perbarui Intel Xeon

Dalam beberapa studi kasus para pelanggan yang sudah memakai prosesor Xeon Scalable, Intel menyebutkan bahwa operator telekomunikasi AT&T sukses merasakan peningkatan kinerja dengan jumlah server 25 persen lebih sedikit, Google Compute Platform mampu menawarkan perbaikan kinerja lebih dari 40 persen, dan Technicolor mampu menghemat durasi rendering konten VR sampai tiga kali lipat.

Untuk membantu mempercepat adopsi lini prosesor anyar ini, Intel juga mengumumkan program Intel Select Solutions, yaitu portofolio sistem hardware dan software yang telah dikonfigurasi khusus guna melayani kebutuhan dan beban kerja data center dan jaringan telekomunikasi.

Beberapa software yang termasuk dalam program ini yaitu Canonical Ubuntu, Microsoft SQL 16, dan VMware vSAN 6.6.

Dengan lini Xeon Scalable, Intel diyakini siap menghadapi tantangan baru dari kompetitor terbesarnya, AMD, yang baru-baru ini juga meluncurkan lini prosesor AMD EPYC untuk server dan data center.

Bangunan GTN Data Center yang menempati lahan seluas 15.000 meter persegi di kawasan Lippo Cikarang.

GTN Data Center membuktikan komitmen untuk menyediakan data center dengan standar internasional setelah berhasil meraih sertifikasi ISO 9001:2015 untuk Sistem Manajemen Mutu dan ISO 27001:2013 untuk Sistem Manajemen Keamanan Informasi.

Diperolehnya ISO 9001 dan 27001 ini diklaim akan menjadikan GTN Data Center sebagai data center terdepan dalam hal penerapan pedoman terkini dan terlengkap di bidangnya.

“Kini kami lebih siap dalam memenuhi kebutuhan pasar di Indonesia dengan mengacu pada best practice yang berlaku internasional. GTN Data Center saat ini bisa disejajarkan dengan data center berskala internasional lainnya di seluruh dunia,” ujar Kazuomi Izumi (Direktur, PT Graha Teknologi Nusantara) dalam siaran pers.

[BACA: Ambisi GTN Menghadirkan Data Center Kelas Dunia]

Standar ISO 9001: 2015 dan ISO 27001:2013 adalah versi terbaru yang merupakan penyempurnaan ISO versi sebelumnya.

ISO 9001 adalah standar sistem manajemen mutu yang diakui secara internasional dan merupakan tolok ukur global untuk sistem manajemen mutu yang telah diterbitkan lebih dari satu juta di seluruh dunia. Sedangkan ISO 27001 adalah sistem manajemen keamanan informasi dengan pendekatan sistematis dan proaktif untuk mengelola risiko keamanan informasi rahasia perusahaan secara efektif.

Saat ini, GTN juga tengah dalam proses memperoleh sertifikasi Payment Card Industry Data Security Standard (PCI DSS), standar keamanan informasi yang diwajibkan bagi lembaga yang berkaitan dengan informasi pemegang kartu, sebagai dasar persyaratan teknis dan operasional untuk melindungi data pemegang kartu.

Kedua sertifikasi ISO yang dikeluarkan oleh Badan Akreditasi BSI (British Standards Institution) dari Inggris ini melengkapi kesuksesan GTN Data Center yang sebelumnya telah disertifikasi ANSI/TIA-942:2014 Rated 3 dari Enterprise Product Integration Pte Ltd (EPI) pada akhir 2016 lalu.

Penyerahan sertifikat Rated 3 kepada GTN Data Center.

 “Bisnis data center adalah bisnis kepercayaan sehingga kami juga tidak main-main dalam menerapkan standar layanan di GTN Data Center. Kami terus menjaga operational excellence GTN Data Center dengan mengacu pada standar mutu layanan yang terbaik serta standar jaminan keamanan dan kerahasiaan data pelanggan yang tertinggi sebagai best practice kami,” papar Miko Yanuar (COO, PT Graha Teknologi Nusantara).

“Dengan menjalankan layanan operasional sesuai standar internasional, tentunya akan memperkecil risiko operasional, menekan biaya produksi, memberikan jaminan terhadap pengamanan data, dan meningkatkan reputasi,” tambah Miko.

GTN Data Center merupakan proyek joint venture Indonesia – Jepang antara PT Multipolar Technology, Tbk. dan Mitsui & Co. Ltd. Salah satu keunggulan utama GTN Data Center yaitu ketersediaan dua sumber listrik aktif dari Cikarang Listrindo dengan dua gardu terpisah yang menjamin pasokan listrik yang stabil.

Data center ini menerapkan standar kualitas Jepang dan perangkat keamanan terkini, telah mengoperasikan layanan Co-location Services, Integration Services, IT Consultancy Services dan Data Center Managed Services bagi sektor finansial, pemerintahan, pendidikan, manufaktur, dan telekomunikasi.

IBM akan segera kehilangan salah satu pelanggan public cloud terbesarnya, yaitu WhatsApp. Pasalnya, Facebook berencana memindahkan data center WhatsApp dari platform IBM SoftLayer ke data center pribadi milik mereka. Proses pemindahan kemungkinan dimulai pada akhir tahun ini.

Dikutip dari CNBC, alasan Facebook memindahkan data center WhatsApp adalah demi efisiensi.

Sekitar 63 miliar pesan dikirim oleh pengguna WhatsApp di seluruh dunia pada momen tersibuk, yaitu malam tahun baru, dan membutuhkan sumber daya komputasi yang sangat besar. Jika tetap dilayani dengan cloud computing, biaya yang dihabiskan akan lebih mahal ketimbang ditangani di infrastruktur sendiri.

Pemindahan ini pun sebetulnya bukan hal yang aneh dalam bisnis startup. Saat WhatsApp baru didirikan pada tahun 2009, tim engineer-nya mengandalkan layanan bare-metal cloud dari SoftLayer, sebelum perusahaan itu diakuisisi oleh IBM.

Tetapi, seiring pertumbuhan perusahaan dan melonjaknya jumlah pengguna WhatsApp sampai 1,2 miliar orang, layanan cloud dianggap kurang efisien. Apalagi setelah WhatsApp dibeli oleh Facebook yang sudah memiliki data center pribadi sejak tahun 2010.

Facebook sebetulnya ingin memindahkan data center WhatsApp lebih awal. Namun, pada saat membeli WhatsApp di tahun 2014, Facebook sedang berada di tengah proses pemindahan data center Instagram dari AWS yang saat itu lebih diprioritaskan. Jadilah pemindahan data center WhatsApp baru bisa terealisasi tahun ini.

Pukulan bagi IBM

Kehilangan WhatsApp dari portofolio pelanggan akan memberi pukulan bagi neraca bisnis IBM. Seorang sumber mengklaim bahwa WhatsApp adalah satu dari lima sumber pemasukan terbesar IBM Cloud dengan nilai mencapai US$2 juta per bulan.

Dalam sebuah studi kasus internal, IBM menyebutkan penggunaan sumber daya cloud oleh WhatsApp dapat mengonsumsi lebih dari 700 server kelas atas di dua data center milik IBM di San Jose dan Washington.

Di beragam acara, IBM pun kerap memamerkan WhatsApp sebagai pelanggan papan atas mereka, seperti halnya AWS membanggakan Airbnb dan Netflix atau Google membanggakan Snap dan Spotify.

“WhatsApp telah menjadi pelanggan yang hebat dari IBM Cloud karena mereka memanfaatkan kemampuan dan jejak global kami untuk memperluas bisnis mereka. Kami bangga IBM Cloud dapat berperan dalam kesuksesan mereka,” tukas IBM.

Pasar public cloud sendiri masih dikuasai oleh AWS, Microsoft, dan Google, meninggalkan pemain lainnya seperti IBM dan Oracle dengan pangsa pasar di bawah 10 persen.

Johar Alam (Chairman, IDC Indonesia). [Foto: Abdul Aziz/InfoKomputer]

Masyarakat kerap mengeluhkan akses internet di Indonesia yang lambat dan mahal. Namun, Johar Alam siap melayani keluhan itu dengan aneka data dan fakta yang menunjukkan bahwa sebenarnya, perkembangan internet di Indonesia tergolong luar biasa.

Menurut Johar, Indonesia adalah satu dari sedikit negara di Asia Pasifik yang sudah punya local internet exchange, yaitu IIX (Indonesia Internet eXchange), yang dikelola APJII (Asosiasi Pengelola Jasa Internet Indonesia) sejak tahun 1996.

“Pertimbangan membuat local exchange itu harga. Di industri internet tahun 1994 – 1997, satu ISP berlangganan bandwidth 1 MB ke AS itu harganya US$88 ribu/bulan. Kalau Radnet mau kirim e-mail ke Indonet, harus lewat jalur luar negeri, baru kembali ke Indonesia. Jaraknya jauh, jadi lambat,” Johar berkisah.

“Kalau kita punya local exchange, Radnet ke Indonet nggak usah lewat luar negeri. Artinya, bisa hemat US$88 ribu. Kalau semua ISP di Indonesia tersambung ke exchange ini dengan traffic 3 MB saja, jadinya hemat US$270 ribuan per bulan,” lanjutnya.

Hingga sekarang, Singapura dan Australia belum punya, sedangkan Malaysia dan Filipina baru punya local exchange dalam 2 – 3 tahun terakhir. Itu pun dibantu oleh tim ahli dari Indonesia. “Jadi, kita bisa punya IIX itu achievement tersendiri yang negara lain pun belum bisa lakukan,” tukasnya.

Johar pun menceritakan proses lahirnya IIX. Di tengah rapat APJII, Johar dan dua rekannya, Marcellus Adiwinata dan Sentot, rehat ke toilet. Di ruang itu, mereka mengobrolkan konsep IIX yang ternyata sangat simpel. “Jadi, IIX itu lahirnya di WC pria kantor CBN, sambil merokok,” ucapnya sambil tergelak.

Pada perkembangannya, Johar dan rekan-rekan mendirikan OpenIXP, local exchange yang ditujukan agar pemilik jaringan non-ISP bisa ikut terhubung. OpenIXP diluncurkan tahun 2005 dan saat ini ada 722 jaringan yang tersambung di dalamnya, termasuk 90 ISP yang bergabung di IIX. Menurut data, OpenIXP adalah local exchange terbesar ketiga di dunia.

Hebatnya lagi, karena IIX dan OpenIXP dibangun dengan tujuan mulia untuk memperluas akses internet yang terjangkau, semua ISP dan pemilik jaringan yang terhubung tidak ditarik biaya sama sekali.

“Sekarang total traffic internet di Indonesia mencapai 1,277 TB per bulan. Kalau setiap 1 MB dihargai US$100, artinya negara ini kami ‘gratiskan’ akses internet senilai US$127 juta per bulan,” kata Johar.

Johar juga menyebutkan bahwa sejak tahun 1998, Indonesia termasuk satu dari lima negara di Asia Pasifik yang dianggap APNIC mampu mengatur IP address sendiri. Artinya, posisi Indonesia sejajar dengan Jepang, Tiongkok, Korea Selatan, dan Taiwan.

Tak lupa, Johar menyoroti pertumbuhan pengguna internet dan traffic yang terus melesat. “Pada tahun 2000, jumlah pengguna internet kita 500 ribu dengan traffic lokal 3 MB. Sedangkan pada 2016, pengguna internet 100 juta dan traffic lokal bisa mencapai 277 GB,” paparnya.

Pada akhirnya, Johar ingin menggarisbawahi bahwa perjalanan internet Indonesia, sejak diperkenalkan oleh Jos Luhukay dan Bagio Budiardjo pada tahun 1983 di Universitas Indonesia sampai era 4G saat ini, sangatlah patut diapresiasi.

“Sayang, orang Indonesia kurang bisa sedikit saja bangga atas apa yang sudah bangsa ini lakukan. Kita sudah take it for granted kalau akses internet lokal lebih cepat daripada ke luar negeri. Padahal, di balik itu, prosesnya panjang sekali,” pungkasnya.

Artikel ini merupakan bagian dari Cover Story spesial wawancara 30 tokoh TI nasional dalam rangka ulang tahun ke-30 InfoKomputer. Temukan artikel lengkapnya di sini dan di sini.

Intel Perbarui Intel Xeon

Akhirnya, Intel memperbaharui merek dagang (rebrand) lini Xeon-nya untuk meningkatkan kinerja dan fitur. Selama ini chip Xeon menyasar untuk penggunaan server dan workstation seperti Mac Pro.

Intel akan memberikan sistem penamaan baru pada Intel Xeon menjadi processor Platinum, Gold, Silver, dan Bronze. Skema penamaan itu mirip dengan senyawa logam medali Olimpiade dan merek kartu kredit dari perusahaan seperti Delta.

Bahkan, sumber Intel mengatakan chip itu akan disebut Xeon-P, Xeon-G, Xeon-S, dan Xeon-B, dengan P untuk Platinum, G for Gold, dan lain sebagainya. Jadi, semakin berharganya tingkat senyawa logam pada chip Intel Xeon tersebut, chip itu akan semakin bertenaga.

Chip Platinum adalah chip tercepat dan kinerjanya sama dengan chip E7. Sedangkan, penamaan prosesor Bronze menyasar server low-end dan kinerjanya mirip dengan E5. Pada awal tahun ini, Intel meluncurkan server low-end E3 dan chip workstation berdasarkan arsitektur Kaby Lake.

Intel pun akan meningkatkan performa dan keamanan Intel Xeon Platinum. Intel pun memasang lapisan perangkat keras tambahan pada chip Skylake untuk meningkatkan keamanan data, seperti dikutip PC World.

Intel akan menghubungkan FPGAs dan chip deep-learning dari Nervana sehingga prosesor dapat melakukan tugas seperti pengenalan gambar dan pemrosesan bahasa alami. Intel juga akan memperkenalkan interkoneksi OmniPath dengan bandwidth yang tinggi.

Chip server terbaru itu juga memiliki fitur Intel Volume Management Device dan mendukung SSD supercepat Optane DC P4800X dan 3D NAND berbasis DC P4600.

Intel akan menata ulang bisnisnya untuk lebih fokus pada pusat data, terutama dengan pasar PC yang sedang mengalami stagnasi sejauh ini.