Tags Posts tagged with "facebook"

facebook

Ilustrasi Order Food di Facebook

Facebook meluncurkan fitur terbaru yang memungkinkan penggunanya memesan makanan dari restoran favoritnya langsung.

Fitur itu merupakan bentuk kerja sama Facebook dengan Delivery.com dan Slice pada Oktober 2016 silam seperti dikutip Tech Crunch.

Di tombol navigasi Facebook baik web maupun mobile, ada sebuah opsi “Order Food” atau “Pesan Makanan”. Anda pun akan melihat ikon hamburger berwarna untuk Facebook versi desktop dan ikon hamburger biru-merah untuk Facebook versi mobile.

Fitur itu memperkenankan penggunanya untuk memesan makanan dari restoran yang terdaftar pada jaringan Delivery.com atau Slice. Seluruh proses dapat dilakukan melalui Facebook, termasuk memasukkan alamat, menentukan pembayaran, memberikan tip dan membayar.

Ketika menekan tombol pesan makanan, pengguna dapat memilih menu, menambahkan item ke keranjang (cart), mengoreksi pesanan, menambahkan tip, dan membayar pesanannya langsung di Facebook.

Sayangnya, fitur itu kemungkinan terbatas di Amerika Serikat karena pengiriman hanya dilakukan melalui Delivery.com dan Slice.

Ilustrasi belajar di Kampus Shopee

Shopee dan Facebook menyelenggarakan Workshop “Kampus Shopee x Facebook” untuk mengasah kemampuan strategi pemasaran online pengusaha lokal untuk mempersiapkan bisnisnya di bulan Ramadhan.

Workshop itu sukses dilaksanakan pada 17 Mei 2017 di CGV Mall Grand Indonesia yang dihadiri oleh 114 pengusaha lokal di Indonesia.

Chris Feng (CEO Shopee) mengatakan Shopee bangg bisa bekerjasama dengan Facebook dalam menghadirkan sesi khusus Kampus Shopee.

“Kami berharap para pebisnis di Indonesia dapat mengasah keahlian pemasaran digital untuk meningkatkan penjualan secara online, khususnya dalam menyambut bulan Ramadhan,” katanya dalam siaran persnya, Senin.

Deepesh Trivedi (Facebook Head of Retail and e-Commerce, Southeast Asia) mengatakan Indonesia memiliki potensi pasar digital yang besar karena ada lebih 96 Juta masyarakat Indonesia yang mengakses Facebook dalam sebulan.

“Sudah menjadi bagian dari komitmen kami untuk membantu pengusaha lokal dalam memaksimalkan fitur pemasaran digital kami. Sangat senang bisa bekerjasama dengan Shopee dan berbagi wawasan serta tips praktis untuk diterapkan para pengusaha lokal dan sebagai bagian dari program pengembangan komunitas kami,” ujarnya.

Para pengusaha lokal juga berkesempatan untuk berdiskusi secara langsung dengan Deepesh dalam sesi tanya jawab interaktif untuk belajar bagaimana menggunakan fitur iklan di Facebook serta ekosistem penjualan di Shopee untuk pengembangan bisnis online mereka.

Kampus Shopee merupakan bagian dari investasi Rp 100 Miliar di Indonesia untuk mendukung pengusaha lokal. Tahun ini, Shopee melaksanakan Roadshow Kampus Shopee ke-13 kota di seluruh Indonesia, termasuk Jakarta, Surabaya, Makassar, Bogor, Bandung, Bekasi, Medan, Semarang, Malang, Batam, Palembang, Bali, dan Yogyakarta.

Mark Zuckerberg ketika masih kuliah di Harvard. [Kredit: The Crimson]

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa Mark Zuckerberg (Pendiri dan CEO, Facebook) tidak sempat menyelesaikan kuliahnya di Universitas Harvard, Amerika Serikat.

Memulai studi di Harvard pada tahun 2002, Zuckerberg kemudian memilih untuk drop out pada tahun 2004 demi fokus mengembangkan Facebook yang ia bangun bersama beberapa teman kuliahnya. Kisah ini pun sempat dituangkan dalam film layar lebar “The Social Network”, tujuh tahun silam.

Kini, lebih dari 12 tahun sesudah mengundurkan diri dari kampusnya, Zuckerberg akhirnya akan memperoleh gelar dari Harvard. Hal ini ia sampaikan lewat laman Facebook pribadinya, Kamis (18/5).

Menariknya, di dalam post itu, Zuckerberg juga mengunggah sebuah video nostalgia yang merekam reaksinya saat pertama kali mengetahui ia diterima di Harvard. Video itu direkam oleh sang ayah, Edward Zuckerberg, dan baru pertama kali dipublikasikan kepada khalayak.

“Ayah merekam video ini saat saya diterima di Harvard. Minggu depan, saya akan kembali [ke Harvard] untuk upacara kelulusan dan menerima gelar saya,” tulisnya.

Gelar yang diterima Zuckerberg adalah gelar kehormatan yang umum diberikan kepada orang-orang yang dianggap berprestasi. Zuckerberg juga didapuk sebagai pembicara utama pada upacara kelulusan yang bakal dilangsungkan pada tanggal 25 Mei mendatang.

Dan Sachs, salah satu karyawan Facebook, ikut berkomentar di post itu dan berkata, “Sunggu cara yang memutar untuk menghindari sulitnya kurikulum Harvard!”

Zuckerberg kemudian membalasnya, “Ini bukan niat saya! Walaupun sebelum saya masuk kuliah, ibu saya pernah bertaruh bahwa saya akan drop out dan adik perempuan saya yakin ia akan dapat gelar sarjana lebih dulu daripada saya. Tapi, saya bertaruh saya akan memperoleh gelar [di Harvard]. Sekarang, siklus itu sudah sempurna.”

Sebelumnya, sepuluh tahun lalu Harvard juga pernah menganugerahkan gelar kehormatan kepada Bill Gates, pendiri Microsoft yang sama-sama tidak lulus kuliah dari kampus tersebut.

Aplikasi pesan instan populer WhatsApp berencana membagi nomor ponsel penggunanya kepada perusahaan induknya Facebook. Hal itu merupakan kebijakan pertama WhatsApp untuk berbagi data informasi pengguna sejak Facebook mengakuisisinya senilai $19 miliar pada 2014.

Komisi Eropa mendenda Facebook sebesar 110 juta euro atau atau sekitar Rp1,6 triliun karena Facebook memberikan informasi yang salah atau menyesatkan kepada para pejabat Uni Eropa soal keamanan data, ketika membeli layanan pesan WhatsApp pada 2014.

Denda itu merupakan buntut dari pengumuman WhatsApp pada Agustus 2016 silam yang menyatakan akan membagikan data pribadi para penggunanya kepada Facebook, yang sekarang merupakan induk perusahaan mereka.

Permasalahannya, dalam dokumen resmi Facebook ketika mengakuisisi WhatsApp pada 2014, Facebook tidak bisa mengombinasikan informasi pengguna mereka dengan pengguna WhatsApp.

[BACA: WhatsApp Akan Bagikan Data Pengguna kepada Facebook]

“Keputusan hari ini mengirimkan sinyal yang jelas kepada perusahaan bahwa mereka harus mematuhi semua aspek peraturan penggabungan Uni Eropa, termasuk kewajiban untuk memberikan informasi yang benar,” kata Margrethe Vestager (Komisioner Persaingan Usaha Uni Eropa) seperti dikutip PC World.

Jerman pun memerintahkan Facebook untuk berhenti mengumpulkan data dari pengguna WhatsApp pada September 2016 dan Facebook setuju untuk menunda pengumpulan data pengguna WhatsApp pada November pada tahun ini.

Uni Eropa mengatakan Facebook bisa menggandakan data personal dari satu platform ke platform lain terasuk WhatsApp walaupun sudah memberikan jaminan kepada Uni Eropa bahwa mekanisme semacam itu tidak dimungkinkan.

“Semua perusahaan harus mematuhi aturan Uni Eropa, melaksanakan kewajiban, termasuk memberikan informasi yang benar,” ujar Vestager.

Facebook pun berkilah bahwa mereka tidak berniat mengelabui atau menyesatkan pejabat-pejabat Uni Eropa. “Kesalahan yang kami lakukan pada 2014 tersebut sama sekali tidak kami sengaja dan Komisi Uni Eropa juga menegaskan bahwa denda ini tak berdampak pada merger perusahaan,” ucap Facebook.

Richard Craig (Pakar Persaingan Usaha di bidang Teknologi Informasi) mengatakan denda itu menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan harus lebih terbuka dengan regulator ketika memasukkan permintaan merger dan akuisisi.

“Regulator bertugas memastikan merger perusahaan yang melibatkan data pengguna dalam jumlah besar tidak merugikan konsumen atau mematikan persaingan yang sehat,” pungkasnya.

Selain Komisi Eropa, pemerintah Italia dan Perancis secara terpisah pun telah mengenakan denda kepada Facebook untuk kasus yang sama. Pemerintah Amerika Serikat (AS) pada 2016 lalu telah mempertimbangkan untuk memperkarakan Facebook terkait kasus tersebut.

Keputusan Komisi Eropa itu menjadi peringatan kepada seluruh perusahaan untuk memberikan informasi yang benar dalam setiap dokumen resmi. Sedikit saja kesalahan, bisa berakibat pada denda yang tidak sedikit, atau bahkan pembatalan terhadap keputusan sebelumnya.

Facebook mulai fokus kepada pengembangan video dan sedang mencari karyawan untuk membuat program videonya sendiri. Di LinkedIn, Facebook mencari produser film untuk membuat program videonya.

Tugas produser film Facebook harus mengembangkan, menulis skrip dan mengedit konten video. Selain itu, Facebook juga membuka lowongan software engineer film.

Facebook mengupload konten video tersebut untuk pengguna 1.9 miliar seperti dikutip CNBC.

Facebook tidak akan membuat konten itu sendiri dan akan melibatkan pihak lainnya. Belum jelas, apakah orang-orang baru ini akan memproduksi berita, hiburan dan konten video lainnya.

Dalam memproduksi konten original, Facebook bergabung Amazon dan YouTube untuk meningkatkan layanan program sehingga meningkatkan menarikan banyak penonton.

“Tahun lalu, kami mulai berinvestasi membeli konten video original untuk membuat sebuah ekosistem. Kami akan melakukan banyak hal lagi pada tahun ini,” kata Mark Zuckerberg (CEO Facebook).

Mark Zuckerberg menerangkan visi 10 tahun Facebook.

Facebook mengumumkan pencapaian terbaru untuk kuartal pertama tahun 2017. Salah satu sorotannya adalah bergabungnya 1,94 miliar orang di seluruh dunia ke dalam Facebook, dengan 1,3 miliar di antaranya menggunakan Facebook setiap hari.

Dari sisi keuangan, Facebook berhasil meraih laba sebesar US$3,06 miliar dengan total pemasukan sebesar US$8,03 miliar, masing-masing naik 76,6 persen dan 49 persen dibandingkan dengan kuartal yang sama tahun lalu.

Sumber pemasukan paling besar disumbangkan oleh iklan mobile senilai US$7,68 miliar. Namun, Facebook memprediksi pendapatan iklan mereka bakal menurun sepanjang tahun 2017 karena keterbatasan selot iklan di platformnya.

Secara keseluruhan, bisnis iklan mobile diproyeksi bakal menghasilkan pendapatan US$31,94 miliar tahun ini dan menjadi pemain nomor dua global di bawah Google.

Rekrut 3.000 Orang Baru

Menanggapi hasil tersebut, Mark Zuckerberg (CEO, Facebook) berkata, “Ini awal yang baik untuk tahun 2017.” Tetapi, basis pengguna yang sangat besar menambah pekerjaan rumah Facebook dalam membangun komunitas yang nyaman bagi seluruh pengguna.

Apalagi, Facebook sedang dirundung kritik terkait bertebarannya hoax (berita palsu) dan video kekerasan. Contohnya, video yang menayangkan langsung peristiwa pembunuhan di Thailand dan Cleveland, AS, beberapa waktu lalu, atau kasus bunuh diri di Indonesia.

“Jika ingin membangun komunitas yang aman, kita harus bertindak secepatnya. Kami akan membuat video-video seperti itu lebih mudah dilaporkan agar bisa kami tindak lanjuti lebih cepat, baik membantu mereka maupun menghapus video itu,” ucap Zuckerberg.

Zuckerberg pun menyatakan rencana Facebook untuk merekrut 3.000 orang tambahan untuk memantau laporan pengguna dan menghapus konten bermuatan hoax, pelecehan, dan kekerasan yang bisa membahayakan citra perusahaan. Facebook juga bakal mempermudah proses pelaporan posting yang dianggap melanggar ketentuan-ketentuan.

Saat ini, Facebook telah memiliki 4.500 orang yang melakukan tinjauan secara manual dan merespons jutaan laporan dari pengguna setiap minggu.

Ilustrasi Facebook Instant Game

Facebook terus meningkatkan kemampuan aplikasi pesannya Messenger dengan menghadirkan layanan Instant Games yang sudah tersedia di global.

Kini, Instant Games menawarkan 50 game menarik berkat kerjasama dengan sejumlah developer game ternama seperti Bandai Namco Entertainment, King, Konami, Taito, dan lainnya.

Beberapa judul di antaranya “Words with Friends”, “EverWing”, dan “8 Ball Pool” akan segera meluncur di platform tersebut. Game “EverWing” akan menjadi salah satu game yang menggunakan game bots seperti dikutip GSM Arena.

Sebelumnya, Facebook meluncurkan Instant Games hanya untuk pengguna Messenger di wilayah Amerika Serikat (AS). Kini, Instant Games sudah bisa dimainkan oleh 1,2 miliar pengguna Facebook Messenger di dunia.

Menurut developer Facebook, Instant Games menawarkan pengalaman bermain game HTML5 lintas platform baik Android maupun iOS.

Anda pun tidak perlu mengunduh Instant game terlebih dahulu karena Anda cukup membuka aplikasi Messenger dan lansung bermain bersama teman Anda.

Facebook mengonfirmasi fitur Instant Games akan tersedia secara bertahap di masing-masing negara.

Tak hanya itu, Facebook juga akan memberikan fitur-fitur terbaru seperti turn-based game dan game bots yang membawa pengalaman pengguna bermain game ke level selanjutnya.

(ilustrasi: blog.kaspersky.com)

Serangan siber seperti phising bisa menyerang siapa saja tak terkecuali perusahaan raksasa seperti Google dan Facebook yang sudah memiliki sistem keamanan yang canggih.

Awalnya, seorang pria Lithuania bernama Evaldas Rimasauskas memalsukan e-mail invoice dari perusahaan manufaktur elektronik bernama Quanta Computer asal Taiwan, lengkap dengan stempel perusahaan dan lain-lain.

Evaldas pun menyamar menjadi karyawan yang bekerja di Quanta Computer, yang juga bermitra dengan Facebook dan Google.

Evaldas pun mengirimkan e-mail phising itu ke staf Facebook dan Google untuk meminta pembayaran atas barang dan jasa Quanta.

Ironisnya, Google dan Facebook pun termakan dengan e-mail palsu itu dan mengirimkan uang ke rekening banknya Evaldas, bukan rekening bank Quanta di Latvia dan Siprus.

Parahnya, Evaldas melakukan aksi jahatnya itu selama 2 tahun hingga 2015. Bahkan, Evaldas berhasil mencuri uang Google dan Facebook senilai 100 juta dollar AS atau lebih dari Rp1,3 triliun.

“Kami mendeteksi adanya penipuan dan kami langsung memberitahu pihak yang berwenang. Kami pun berhasil mengambil kembali dananya dan senang masalah ini telah selesai,” kata juru bicara Google seperti dikutip CNBC.

Otoritas kepolisian Lithuania telah menangkap Evaldas dan bersiap mengekstradisinya ke Amerika Serikat (AS). Evaldas pun membantah tuduhan telah melakukan kejahatan phising atas Facebook dan Google.

Sebetulnya, pengadilan tidak mengungkap nama dua perusahaan teknologi yang menjadi korban penipuan ini. Namun, sebuah siaran pers mendeskripsikan perusahaan tersebut sebagai perusahaan teknologi multinasional di bidang internet berkantor pusat di AS.

Kasus itu mengungkapkan penipuan online dan phishing (menipu dengan memancing korban memberi informasi personal seperti kata sandi dan kartu kredit), adalah sebuah isu serius.

Facebook akan memberlakukan “operasi informasi” untuk menangani aktor jahat yang menggunakan platformnya untuk menyebarkan berita dan propaganda palsu. Facebook pun menambahkan teknologi baru yang dapat mencari dan mendeteksi akun penyebar berita hoax.

Saat ini Facebook berjuang melawan penyebaran berita politik termasuk grup palsu, konten kekerasan dan rasis.

Kini sistem keamanan Facebook juga dapat melindungi penggunanya dari bentuk penyalahgunaan konten yang halus dan berbahaya seperti penyebaran informasi yang tidak akurat.

Facebook juga akan meningkatkan sistem keamanannya terhadap peretasan data dan berita palsu. Sebelumnya Facebook sukses menghapus 30 ribu akun palsu di Perancis sejak 13 April.

“Kami tahu ada beberapa grup dan individu yang mencoba menyalahgunakan Facebook dan menyebarkan informasi palsu atau memanipulasi hasil diskusi. Karena itu, kami memberikan percakapan yang asli, tetap terbuka menerima informasi dan menggandeng beberapa komunitas,” kata Alex Stamos (Chief Security Officer Facebook) seperti dikutip CNBC.

Facebook juga akan menambahkan fitur keamanan dan privasi termasuk menghadirkan dua cara otentikasi untuk mencegah peretas mendapatkan informasi berharga. Fitur itu juga memberikan notifikasi kepada pengguna bahwa mereka sedang diincar oleh peretas dan memberikan rekomendasi langkah apa yang pengguna harus lakukan.

Tentunya, Facebook juga akan menggandeng pemerintah untuk memberikan edukasi kepada individu yang menduduki jabatan penting dan rentan diserang hacker.

“Facebook adalah tempat orang untuk bisa berkomunikasi termasuk topik-topik politik,” ujarnya.

Sosial media telah menjadi alat untuk menyebarkan propaganda palsu seperti pemuatan artikel yang tidak benar dengan akun palsu. Pengguna kata berita palsu merujuk kepada artike yang tidak akurat berdasarkan opini, rumor pelecehan dan penyalahgunaan pernyataan publik.

Ilustrasi Geofilter

Trauma dengan langkah Facebook yang selalu menjiplak fitur Snapchat. Snap Inc, perusahaan induk Snapchat mematenkan fitur Geofilters dari sebuah perusahaan asal Israel Mobli sebagai fitur milik mereka.

Fitur itu memungkinkan para pengguna untuk menggunakan filter khusus sesuai dengan lokasi mereka mengambil foto. Filter berbasis lokasi dan waktu itu merupakan salah satu filter yang diunggulkan Snap saat ini.

Selama ini, Snap Inc memang tidak berdaya melawan tingkah Facebook lantaran tidak mengantongi hak paten. Snap Inc rela merogoh kocek hingga US$ 7,7 juta atau sekitar Rp 102,6 miliar untuk mendapatkan paten tersebut.

Mobli sendiri sudah mendaftarkan paten itu pada 2004, jauh sebelum Snapchat menggunakan Geofilters seperti dikutip The Verge.

Sebelumnya, Mobli juga pernah menawarkan fitur itu kepada Facebook untuk membelinya. Namun, Facebook tidak tertarik membeli fitur tersebut.

Snap juga membeli paten itu untuk pembelaan diri jika menghadapi tuntutan hukum di masa mendatang.

TERBARU

Dalam membangun smart city, pemerintah daerah tidak bisa bekerja sendiri. Penting bagi para walikota dan bupati untuk memilih partner kerja sama yang tepat dari pihak swasta, khususnya para penyedia solusi TIK.