Tags Posts tagged with "facebook"

facebook

Ilustrasi Facebook Creator

Facebook mulai merubah haluan bisnisnya dengan fokus meningkatkan konten-konten video. Karena itu, Facebook meluncurkan aplikasi Creator yang akan memanjakan para kreator konten video dalam membuat konten videonya.

Sebelumnya, aplikasi itu hanya tersedia untuk akun terverifikasi, seperti jurnalis, selebritis, atau influencer. Saat ini Facebook Creator baru tersedia untuk platform iOS dan akan segera menyusul menyambangi Android.

Aplikasi itu menawarkan beberapa fungsi mengedit video dan memungkinkan para kreator berkreasi untuk membuat konten video yang siap tayang ke Facebook. Melalui aplikasi itu, para kreator juga dapat memantau aktivitas termasuk keterlibatan follower soal konten videonya.

“Kreator dapat menggunakan fitur filter atau efek wajah lainnya yang sudah tersedia dalam aplikasi ini,” tulis Facebook seperti dikutip CNET.

Dari sisi bisnis, Facebook melihat jumlah penonton video-nya sangat besar. Facebook juga telah menerapkan iklan di dalam video yang diunggah ke Creator. Berbeda dari layanan lain, iklan akan tayang setelah video diputar.

Hal itu merupakan upaya media sosial untuk monetisasi layanannya. Rencananya, Facebook akan memberikan sekitar 55 persen dari pendapatan iklan di video ke mitra atau perusahaan-perusahaan. Melalui kebijakan itu, perusahaan yang menjadi mitra Facebook dapat menghasilkan uang dari video dalam layanannya

“Kami terus mengumpulkan masukan dari pembuat konten karena kami sedang mengembangkannya. Kami akan terus menerima saran dari komunitas agar Facebook jadi lebih nyaman, sehingga mereka dapat membuat video sebaik mungkin,” tulis Fidji Simo (VP Product Facebook).

Perbedaan dengan YouTube

Lantas, apa beda Facebook Creator dengan YouTube? Setidaknya ada tiga fitur yang membuat Creator berbeda dari YouTube.

Pertama, Live Creator Kit. Pengguna dapat mengunggah intro seperti lagu latar dan sambutan yang sebelumnya telah disediakan. Pengguna Facebook juga dapat melakukan siaran langsung dan membagikan video mereka tanpa harus mengedit video terlebih dahulu.

Kedua, Facebook Creator memiliki kotak masuk terpadu (unified inbox) yang memungkinkan pemirsa mengirimkan pesan bersifat privat kepada pencipta video.

Selain itu, kreator video juga dapat memoderasi kolom komentar mereka dengan media sosial lain seperti Facebook dan Instagram. Hal itu pemilik kanal dapat menghapus komentar kasar di video mereka tanpa harus berpindah ke media sosial lain.

Ketiga, akses facebook Camera dan berbagi Stories. Pengguna dapat melakukan cross-posting Stories ke aplikasi lain seperti Instagram dan Twitter. Aplikasi itu juga memiliki fitur Analitycs untuk melihat demografi penggemar.

Sayangnya, Facebook tidak menambahkan fitur Subscribe sehingga akan berdampak pada monetisasi dan pendapatan para kreator video.

Tombol Donasi Facebook

Facebook meluncurkan fitur baru tombol crisis donate atau donasi yang memungkinkan pengguna Facebook menyumbangkan sebagian uangnya untuk membantu korban bencana alam.

Sebelumnya, Facebook telah membuat fitur Crisis Response Center beberapa bulan lalu yang berfungsi untuk menyampaikan informasi penting bagi para korban, kerabat, dan teman-teman korban.

Facebook pun menggandeng organisasi nirlaba GlobalGiving yang bekerja dengan organisasi lain untuk mendistribusikan dana sumbangan. GlobalGiving akan menganalisa korban bencana yang lebih darurat untuk mendapatkan bantuan uang.

Hal itu membuat para pemilik akun Facebook tidak perlu bingung untuk memilih organisasi yang mana dalam penyaluran uang sumbangan.

Asha Sharma (Manajer Produk Kebaikan Sosial Facebook) mengatakan Facebook berjanji untuk menyalurkan semua sumbangan melalui situs resminya. “Alat ini akan menghubungkan pengguna Facebook dengan area-area yang memang membutuhkan bantuan,” katanya seperti dikutip The Next Web.

“Tujuan kami di Facebook adalah untuk menciptakan alat yang memudahkan masyarakat untuk membantu komunitas mereka dan masyarakat yang mereka sayangi pulih dari krisis,” pungkasnya.

Ilustrasi aplikasi Twitter.

Penyebaran konten-konten negatif seperti konten pornografi dan berita Hoax sangat masif di media sosial. Baru-baru ini, WhatsApp juga tersangkut kasus penyebaran konten pornografi dalam bentuk format GIF.

Selain WhatsApp, ada aplikasi media sosial yang paling banyak menjadi penyebaran konten-konten negatif yaitu Twitter. Padahal, pengguna Twitter di Indonesia tidak sebesar Facebook dan Instagram.

Noor Iza (Plt Kepala Biro Humas Kementerian Komunikasi dan Informatika) mengatakan pemerintah bisa mengetahui jumlah penyebaran konten-konten negatif berdasarkan jumlah pelaporan aduan yang berasal dari masyarakat, kementerian atau lembaga.

“Berdasarkan data kami, Twitter adalah platform media sosial paling banyak ditemukan konten negatifnya,” katanya di Jakarta.

Pada 2016, Kominfo menerima 3.211 laporan pengaduan konten negatif di Twitter. Pada tahun ini, jumlah pengaduan konten negatif pada Twitter meningkat drastis mencapai 521.407.

“Sampai Agustus, ada 521.350 laporan yang berkaitan dengan Twitter,” ujarnya.

Selain Twitter, Facebook dan Instagram juga menjadi platform media sosial yang banyak memuat konten-konten negatif. Keduanya, tercatat ada 1.375 laporan pada 2016 dan 513 laporan pengaduan konten negatif pada tahun ini.

Kemudian, ada YouTube dan Google dengan total pengaduan sebanyak 1.114 dan 99 laporan pengaduan konten negatif pada tahun ini.

Di posisi buncit ada Telegram. Tahun lalu, ada dua laporan terkait konten negatif. Tahun ini, jumlah laporan pengaduan Telegram meningkat jadi 105 aduan konten negatif di platform-nya.

Terbanyak Konten Pornografi

Hingga saat ini, Kominfo sudah memblokir situs-situs yang mengandung unsur pornografi sebanyak 775.339. Selain situs pornografi, ada situs perjudian sebanyak 6.131, situs penipuan dagang ilegal 2.134 situs, situs pelanggaran Hak Kekayaan Intelektual 361, situs yang mengandung unsur radikalisme 199 situs dan situs yang mengandung SARA/Kebencian sebanyak 171.

Semuel Abrijani Pangerapan (Dirjen Aptika Kementerian Kominfo) mengatakan Kominfo tidak bisa menghapus sepenuhnya konten-konten negatif di Internet.

“Ditutup bisa ada lagi. Jadi, tidak bisa diblokir 100 persen. Mati satu tumbuh seribu,” ujar Semuel.

Layanan pesan instan terpopuler WhatsApp kembali tersangkut kasus pornografi. Pengguna WhatsApp pun mengeluhkan konten berbau pornografi dalam bentuk gambar bergerak dalam bentuk format file GIF.

Ada sejumlah emoticon berkonten pornografi dengan format Gif yang tersedia pada layanan WhatsApp. Gambar-gambar porno tersebut berupa video animated pendek.

Biasanya, para pengguna menggunakan File GIF itu untuk saling bertukar pesan di WhatsApp. Awalnya, warga Internet beramai-ramai mengunggah screenshot cara mengakses fitur tersembunyi WhatsApp.

Namun, cara itu justru membuat konten pornografi itu semakin tersebar.

Rudiantara (Menteri Komunikasi dan Informatika) mengatakan Kominfo telah menerima laporan dari masyarakat terkait konten pornografi dalam format GIF di WhatsApp. Saat ini Kominfo sedang memprosesnya ke Facebook selaku induk perusahaan dan langsung ke WhatsApp.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada masyarakat yang telah melaporkan dan kami mengharapkan kerjasama dari Facebook/WhatsApp/GIF untuk dapat melakukan filtering secepatnya,” kata Rudiantara seperti dirangkum dari berbagai sumber.

Sementara itu Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia mengaku mendapat banyak aduan mengenai konten pornografi di aplikasi berkirim pesan WhatsApp dan menilainya berbahaya bagi konsumen anak-anak dan remaja.

“YLKI juga mendesak manajemen WhatsApp untuk mengubah dan memperbaiki konten tersebut,” kata Tulus Abadi (Ketua Pengurus Harian YLKI) dalam siaran persnya, Senin.

Berdasarkan penelusuran, konten pornografi terdapat di bagian emoji aplikasi berbagi pesan tersebut, dalam kategor gambar bergerak GIF. “YLKI mendesak Kementerian Komunikasi dan Informatika untuk menghentikan konten pornografi tersebut di emoticon WhatsApp,” ujarnya.

Perwakilan Facebook Indonesia belum berkomentar mengenai temuan ini.

Akhirnya, layanan pesan WhatsApp kembali pulih setelah sempat tumbah di berbagai wilayah di dunia. Meskipun, #WhatsAppDown masih memuncaki daftar Trending Topic World Wide di Twitter.

Tumbangnya WhatsApp sangat berdampak besar mengingat jumlah pengguna WhatsApp yang mencapai 1 miliar.

Sebelumnya, pendeteksi laman yang tumbang Down Detector melaporkan permasalahan WhatsApp meningkat sekitar pukul 15.00 WIB.

Jumlah laporan terkait keluhan WhatsApp melonjak hingga 197 laporan. Para pengguna WhatsApp yang mengelukan masalah koneksi sebesar 52 persen, kesulitan mengirim dan menerima pesan sebesar 41 persen hingga sulit melakukan login sebesar 5 persen.

Menurut Down Detector, beberapa wilayah yang terkena dampak tumbangnya layanan WhatsApp adalah Eropa, terutama Inggris, Belanda, Belgia, Luxemburg, Swiss, Prancis, Jerman, Ceko, Spanyol, Italia, dan Turki.

Selain itu, tumbangnya layanan WhatsApp juga dilaporkan di sejumlah negara di Asia, seperti India, sebagian Tiongkok, Malaysia, Singapura, dan Indonesia.

“Tumbang di Qatar,” tulis pengguna bernama Fatma di Qatar.

“WhatsApp down bagi para penggunanya di India dan tidak bisa berkirim pesan ataupun menerimanya. Belum jelas apakah gangguan ini merata ke seluruh dunia,” demikian laporan dari India Express.

Facebook sendiri sebagai perusahaan induk WhatsApp masih bungkam terkait penyebab tumbangnya WhatsApp.

Facebook telah menambahkan fitur terbaru jual beli mobil di timeline-nya, menyusul banyak sekali orang Amerika Serikat (AS) yang memasarkan mobil melalui Facebook.

Sebelumnya, Facebook telah menambahkan fitur toko online (marketplace) dan profil profesional mirip LinkedIn.

Hal itu merupakan strategi Facebook untuk melakukan ekspansi platformnya, terlebih pengguna media sosial saat ini lebih suka menggunakan platform multiguna. Alasan lainnya, situs jual beli mobil online sangat berkembang pesat dan banyak pengguna yang menggunakan marketplace untuk membeli mobil baru atau bekas.

“Otomotif adalah salah satu kategori marketplace yang paling populer,” kata Bowen Pan (Product Manager Facebook) seperti dikutip Digital Trends.

Fitur baru Facebook itu memungkinkan calon pembeli mencari mobil berdasarkan merek, tipe, tahun, dan harga. Facebook menyediakan tombol chat khusus yang memungkinkan Anda dapat berkomunikasi langsung dengan pihak penjual mobil.

Selain itu, Anda dapat menyaring daftar riwayat kendaraan menurut tahun pembuatan, model, jarak tempuh, jenis, dan transmisi kendaraan. Setelah menyelesaikan model yang dipilih, calon pembeli juga dapat langsung menghubungi dealer lewat Facebook Messenger dan menyiapkan jadwal test drive.

Tentunya, Facebook telah menggandeng beberapa platform penjualan mobil ternama di AS seperti Edmunds, Cars.com, Auction123, CDK Global, dan SocialDealer. Facebook belum mengungkapkan apakah akan meluncurkan fitur jual beli mobilnya ke luar pasar AS.

Peter Sunde (Pendiri, The Pirate Bay).

Banyak orang di dunia mengagumi Mark Zuckerberg karena berhasil melahirkan jejaring sosial yang fenomenal di usia muda. Lain halnya dengan Peter Sunde yang justru memandang Zuckerberg sebagai “diktator terbesar di dunia”.

Siapakah Peter Sunde? Ia merupakan seorang aktivis internet berkebangsaan Swedia dan salah satu pendiri  The Pirate Bay, situs mesin pencari konten digital berbasis BitTorrent.

Dalam sebuah acara di Budapest, Hongaria, Kamis (26/10), Sunde berbincang dengan The Next Web dan mengutarakan bahwa Facebook bertentangan dengan semangat awal kelahiran internet, yaitu desentralisasi informasi.

“Kita sudah memusatkan semua data kita kepada satu orang bernama Mark Zuckerberg yang pada dasarnya adalah diktator terbesar di dunia karena ia tidak dipilih [sebagai pemimpin] oleh siapa pun,” ujar Sunde. “[Donald] Trump pada dasarnya memegang kontrol atas data yang dimiliki Zuckerberg, jadi saya pikir kita sudah berada di sana [keadaan yang buruk],” sambungnya.

Sunde beranggapan bahwa pengguna internet terlalu sibuk mengkhawatirkan hal-hal buruk yang bisa terjadi di masa depan. Padahal, menurutnya hal-hal buruk sudah terjadi saat ini di internet.

Ia mencontohkan terjadinya dominasi kekuasaan di industri online oleh lima perusahaan raksasa, yakni Amazon, Google, Apple, Microsoft, dan Facebook.

Setiap perusahaan teknologi yang tumbuh besar dan menarik perhatian umumnya akan berujung diakuisisi oleh salah satu dari lima perusahaan itu. Jika tidak pun, perusahaan baru tersebut malah akan berkembang menjadi raksasa penguasa lainnya.

“Uber, Alibaba, dan Airbnb contohnya. Apakah mereka punya produk? Tidak. Kita sudah bergeser dari model bisnis berbasis produk, menjadi produk virtual, dan sekarang tidak ada produk sama sekali. Inilah proses sentralisasi yang sedang berkembang,” tukasnya.

Facebook Seperti Tembakau

Sunde pun menyarankan agar pemerintah ataupun aliansi negara-negara kuat seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa lebih berani membuat regulasi yang berpihak kepada kepemilikan data dan informasi oleh masyarakat.

“Uni Eropa bisa saja mewajibkan Facebook untuk menyetujui kepemilikan data di tangan pengguna, bukan oleh Facebook. Membuat peraturan itu sebenarnya sederhana saja, tetapi pasti akan membuat Facebook marah,” ujar pria berdarah Norwegia dan Finlandia itu.

“Negara-negara pun akan takut untuk menerapkan peraturan itu karena Facebook akan mengancam meninggalkan negara itu. Walhasil, warga negara itu akan protes karena kehilangan ‘tembakau’ mereka,” lanjutnya.

Ya, Sunde memang mengibaratkan Facebook dan media sosial lainnya seperti tembakau yang berbahaya, tetapi sudah telanjur membuat ketagihan banyak orang.

“Manusia memang makhluk yang tidak logis. Kita tahu hal-hal yang baik untuk kita, namun kita tidak ingin menderita karena kehilangan ‘tembakau’ yang kita cintai,” pungkasnya.

Pria Palestina yang ditangkap Polisi Israel

Polisi Israel salah menangkap seorang warga Palestina karena Facebook salah menerjemahkan pesan dalam bahasa Arab “Selamat Pagi” menjadi “Serang Mereka”.

Kemudian, polisi Israel pun telah membebaskan warga Palestina yang salah tangkap. Menurut laporan tersebut, pria Palestina itu mengunggah fotonya yang sedang bersandar di sebuah buldoser di permukiman Israel di Beitar Ilit, Tepi Barat yang diduduki.

Di dalam fotonya, ada sebuah frase dalam bahasa Arab yang berarti “selamat pagi”. Ironisnya, software penerjemah Facebook menerjemahkannya sebagai “serang mereka” dalam bahasa Ibrani dan “lukai mereka” dalam bahasa Inggris.

“Petugas polisi, yang tidak berbicara bahasa Arab, mengandalkan terjemahan otomatis yang menduga bahwa pria tersebut mengancam akan melakukan serangan dengan buldoser, yang telah digunakan dalam serangan teroris sebelumnya,” bunyi laporan Harretz.

“Setelah diterjemahkan secara otomatis ke bahasa Ibrani, ucapan ‘selamat pagi’ tersebut justru menjadi kalimat ‘serang mereka’,” tulis Harretz seperti dikutip Gizmodo.

Ilustrasi Facebook.

Facebook memenuhi janji untuk memunculkan fitur berbayar untuk baca berita online. Janji tersebut diungkapkan pada Juli lalu dan sesuai jadwal, mulai dipraktikkan pada bulan Oktober ini.

Fitur itu memungkinkan para penerbit dan pemilik media online untuk menawarkan dua jenis layanan berbayar, yakni batasan 10 berita gratis setiap bulan atau mengunci berita-berita tertentu yang tidak bisa dibaca pengguna gratis.

Jika pengguna Facebook ingin membaca lebih dari 10 berita atau mengakses berita-berita khusus, mereka harus membayar sejumlah biaya berlangganan kepada penerbit.

Agar dapat memenuhi kebutuhan pihak media massa, Facebook juga akan mengarahkan pengguna fitur ini untuk mengunjungi situs media penyedia berita tersebut.

Saat ini, fitur tersebut baru diperkenalkan di aplikasi Facebook untuk Android dan menyusul untuk platform lainnya dalam beberapa pekan ke depan.

Facebook mengklaim bahwa sudah ada 10 penerbit besar yang bergabung dalam fitur ini, termasuk Washington Post, The Economist, Boston Globe, Bild, dan Le Parisien.

Tetapi, beberapa media seperti The Wall Street Journal dan Financial Times menolak bekerjasama karena merasa tidak mendapatkan keuntungan dari membagikan 10 berita secara gratis. Mereka ingin setiap pengguna gratis sekalipun untuk mendaftarkan diri dan mengisi data pribadi terlebih dahulu, meskipun tidak ditarik bayaran.

Ditolak oleh Sejumlah Penerbit

Gagasan menghadirkan fitur baca berita online berbayar muncul setelah Facebook dan juga Google diprotes oleh 2.000 pebisnis media yang tergabung dalam News Media Alliance.

“Masalah dari sistem distribusi internet hari ini adalah distorsi terhadap alur nilai ekonomis yang diperoleh dari hasil laporan/berita berkualitas. Mereka [Facebook dan Google] mengandalkan pelaku industri berita yang melakukan kerja keras untuk mereka,” kata David Chavern (President & CEO, News Media Alliance).

Gugatan ini dilayangkan supaya industri media dan jurnalisme bermutu bisa tetap berjalan. Pasalnya, Facebook dan Google dianggap merusak model bisnis media massa yang mengandalkan pemasukan dari iklan guna membiayai operasionalnya.

Masalahnya, saat ini kue iklan online dikuasai oleh kedua raksasa teknologi itu. Sedangkan Facebook dan Google secara bebas menayangkan dan menyebarkan berita-berita online di platformnya, tanpa berbagi pendapatan dengan pemasok berita.

Ilustrasi Order Food di Facebook

Jika Anda lapar dan malas keluar rumah untuk membelinya, Anda bisa berselancar di media sosial Facebook. Anda bisa memesan makanan melalui platform bikinan Mark Zuckerberg tersebut.

Facebook meluncurkan layanan delivery makanan di Amerika Serikat (AS). Layanan itu sangat mirip dengan layanan Go-Jek yaitu Go-Food yang memungkinkan penggunanya membeli makanan melalui aplikasi atau laman Facebook.

“Kami telah menguji fitur ini sejak tahun lalu dan mendengarkan berbagai masukan dan menambahkan jumlah rekan. Kami luncurkan fitur ini di AS untuk iOS, Android dan desktop,” kata Alex Himel (VP of Local, Facebook) seperti dikutip refinery29.

Facebook pun telah menggandeng beberapa restoran terkenal di AS seperti Papa John’s, Five Guys, Jack in the Box, Chipotle, Wingstop, TGI Friday’s, Denny’s, El Pollo Loco, Jimmy John’s dan Panera.

Untuk logistik, Facebook telah bekerjasama dengan layanan pengiriman makanan seperti EatStreet, Delivery.com, DoorDash, ChowNow, dan Olo untuk mengirimkan makanan-makanan tersebut ke penggunanya.

Uniknya, Anda bisa memilih makanan yang ingin dipesannya berdasarkan komentar teman yang diunggah.

Cara pemesanannya, Anda cukup memilih opsi “Order Food” di menu “Explore” pada aplikasi Facebook. Kemudian, Anda bisa memilih sederet restoran terdekat dan memesan makanan dengan mengklik “Start Order”.

Pengguna bisa memesan makanan lewat Facebook melalui aplikasi yang ada di Android, iOS, maupun desktop. Sayangnya, belum ada informasi apakah fitur pesan makanan di Facebook ini akan diperluas ke negara lain.

TERBARU

Cisco menggandeng organisasi kepolisian internasional terbesar di dunia INTERPOL untuk berbagi intelijen ancaman atau threat intelligence