Tags Posts tagged with "facebook"

facebook

Ilustrasi Geofilter

Trauma dengan langkah Facebook yang selalu menjiplak fitur Snapchat. Snap Inc, perusahaan induk Snapchat mematenkan fitur Geofilters dari sebuah perusahaan asal Israel Mobli sebagai fitur milik mereka.

Fitur itu memungkinkan para pengguna untuk menggunakan filter khusus sesuai dengan lokasi mereka mengambil foto. Filter berbasis lokasi dan waktu itu merupakan salah satu filter yang diunggulkan Snap saat ini.

Selama ini, Snap Inc memang tidak berdaya melawan tingkah Facebook lantaran tidak mengantongi hak paten. Snap Inc rela merogoh kocek hingga US$ 7,7 juta atau sekitar Rp 102,6 miliar untuk mendapatkan paten tersebut.

Mobli sendiri sudah mendaftarkan paten itu pada 2004, jauh sebelum Snapchat menggunakan Geofilters seperti dikutip The Verge.

Sebelumnya, Mobli juga pernah menawarkan fitur itu kepada Facebook untuk membelinya. Namun, Facebook tidak tertarik membeli fitur tersebut.

Snap juga membeli paten itu untuk pembelaan diri jika menghadapi tuntutan hukum di masa mendatang.

Ilustrasi software Facebook yang buat foto bokeh

Saat ini Facebook akan menyasar teknologi kamera smartphone yang akan berpengaruh di masa depan berkat platform augmented reality (AR).

Facebook sedang mengembangkan software yang menggabungkan kemampuan komputer dan algoritma berbasis kecerdasan buatan (AI).

Software Facebook itu menempatkan gambar virtual di dalam foto standar sehingga menghasilkan foto bokeh, mirip dengan hasil kamera profesional dengan aperture berbukaan rendah.

Di atas panggung F8, Joaquin Candela (Kepala Tim Machine Learning Facebook) mengungkapkan kemampuan software-nya bisa membuat suatu foto bokeh mirip dengan kamera DSLR profesional dengan lensa yang bukaan rendah.

Tidak jauh berbeda dengan teknologi kamera ganda Apple pada iPhone 7 Plus. Facebook mampu melakukannya tanpa bantuan lensa untuk mendapatkan kedalaman seperti dikutip The Verge.

Sayangnya, software Facebook berbasis AI itu membutuhkan komputer bertenaga dan kedalaman yang bekerja secara bersamaan. Dalam demonya, Candela menjelaskan Anda bisa menggunakan software Facebook berbasis AI yang bisa membuat latar belakang kamera blur.

Tentu saja, ini buka pertama kali efek kamera smartphone yang menghasilkan fitur kamera berkualitas. Beberapa aplikasi yang membuat foto bokeh sudah ada di pasar, bahkan Instagram juga memiliki fitur yang dapat membuat foto bokeh.

Helikopter Facebook

Facebook sedang getol menyebarkan Internet ke daerah-daerah terpencil melalui proyek drone Aquila.

Kini, Facebook membuat helikopter kecil bernama Tether-tenna yang berfungsi menyebarkan sinyal Internet ke wilayah yang berada dalam situasi darurat seperti bencana alam.

Misal, helikopter itu bisa diterbangkan ke suatu wilayah yang mengalami bencana alam dan menara base tranceiver station (BTS) milik suatu operator seluler disana rusak.

Tether-tenna bisa menyebarkan sinyal Internet agar orang-orang bisa kembali berkomunikasi. Karena bentuknya helikopter, drone anyar itu akan bisa mengapung di satu tempat selama berbulan-bulan.

Cara kerjanya, Tether-tenna membutuhkan sambungan kabel serat optik yang masih berfungsi dan dukungan daya listrik sehingga menjelma menjadi menara BTS instan. Karena itu, helikopter itu hanya berfungsi di wilayah bencana yang masih memiliki listrik dan kabel serat optik.

Helikopter Facebook

Saat ini, Facebook masih menyempurnakan kemampuan helikopter itu dan belum memiliki rencana untuk memproduksinya dalam jumlah besar.

Facebook sendiri telah sukses menguji coba Tether-tenna untuk menyebarkan sinyal Internet selama 24 jam.

“Saat sudah sempurna, teknologi ini akan bisa dipakai menyediakan akses internet darurat dan beroperasi selama berbulan-bulan sambil menunggu pulihnya sinyal telekomunikasi,” kata Yael Maguire (Director Connectivity Program Facebook) seperti dilansir Venture Beat.

“Kami masih dalam proses pengembangan tahap awal dan harus bisa menyelesaikan tantangan di dunia nyata. Misal, kendala tiupan angin kencang dan petir,” ucapnya.

Helikopter yang berukuran sebesar mobil VW Beetle itu juga membutuhkan listrik tegangan tinggi untuk bisa beroperasi.

Pada Juli 2016, Facebook menguji pesawat nirawak yang diberi nama Aquila untuk menghubungkan akses internet ke seluruh dunia, terutama ke tempat terpencil yang sulit dijangkau.

Ilustrasi Instagram di Android.

Berdasarkan statistik, 80 persen dari total 600 juta pengguna Instagram tinggal di luar Amerika Serikat, termasuk negara-negara berkembang yang umumnya memiliki keterbatasan akses internet.

Mengetahui hal itu, Facebook ingin memanjakan para pengguna Instagram di negara-negara berkembang dengan menyediakan fasilitas akses Instagram secara offline alias tanpa koneksi internet. Kemampuan tersebut diungkap Facebook di tengah konferensi tahunan F8 di San Jose, AS, Selasa (18/7).

[BACA: Fitur Baru Instagram, Bisa Simpan Banyak Foto dalam Satu Album Pribadi]

Saat ini, fasilitas akses offline Instagram itu baru tersedia di Android, sistem operasi yang paling banyak digunakan di negara-negara berkembang. Namun, ke depan Facebook juga akan menghadirkannya di iOS, seperti dilansir TechCrunch.

Memang tidak semua aktivitas bisa dilakukan secara offline di Instagram. Tetapi, sebagian besar kegiatan yang sering dilakukan pengguna sudah tercakup dalam fitur ini, walaupun tidak secara real-time. Pengguna bisa melihat foto dan membuka profil pengguna (yang sudah dibuka sebelumnya), mengeklik love dan menulis komentar, sampai mem-follow dan unfollow akun lainnya.

Kegiatan-kegiatan tersebut akan disimpan dalam memori cache aplikasi sampai pengguna terhubung dengan koneksi internet lagi. Setelah online, barulah aksi-aksi itu dijalankan.

Sebelumnya, aktivitas offline yang dapat dilakukan di aplikasi Instagram hanya menyimpan draft dan mengunggah foto. Metodenya sama, aktivitas itu akan disimpan di memori sampai pengguna kembali online.

Dengan fasilitas ini, Facebook bertujuan memperbesar basis pengguna di negara-negara dengan koneksi internet yang tidak stabil atau harga paket data yang masih mahal. Tampaknya, Facebook ingin meniru resep sukses aplikasi Facebook Lite yang sanggup mendulang 200 juta pengguna dalam satu tahun.

“Bagaimana jika Anda bisa mengetik langsung dari otak Anda?” tanya Regina Dugan di panggung F8 yang digelar di McEnery Convention Center, San Jose, AS, Rabu (19/4).

Ajang konferensi tahunan F8 kerap digunakan Facebook untuk memamerkan teknologi-teknologi paling mutakhir yang mereka kembangkan. Pada acara F8 tahun ini, Facebook mengungkapkan bahwa mereka sedang menggarap teknologi untuk membaca pikiran manusia dan menerjemahkannya ke dalam teks.

Regina Dugan (VP of Engineering and Building 8, Facebook) mengatakan bahwa sebuah tim berisi lebih dari 60 ilmuwan, insinyur, dan pakar lainnya sedang mengerjakan media komunikasi tanpa suara (silent speech communications). Teknologi ini diklaim mampu membaca kata-kata yang dipikirkan seseorang dan mengetikkannya dengan kecepatan 100 kata per menit.

“Bagaimana jika Anda bisa mengetik langsung dari otak Anda?” tanya Dugan di panggung F8 yang digelar di McEnery Convention Center, San Jose, AS, Rabu (19/4), seperti dikutip dari PC World.

“Dalam dua tahun ke depan, kami akan membangun sistem yang bisa menunjukkan kemampuan mengetik 100 kata per menit dengan menerjemahkan aktivitas saraf otak terkait kemampuan bicara,” lanjut Dugan. “Kedengarannya tidak mungkin, tetapi hal ini lebih dekat dengan kenyataan daripada perkiraan Anda,” sambungnya.

Facebook berharap sistem ini dapat menjadi alat bantu komunikasi bagi kaum tunawicara dan tunarungu atau orang-orang yang mengalami gangguan bicara dan pendengaran.

Alih-alih menanamkan chip atau elektroda di otak manusia, pendekatan yang diambil Facebook yaitu dengan mengembangkan sensor pencitraan optis yang bisa memetakan sinyal otak manusia. Sensor ini juga hanya akan menerjemahkan kata-kata yang memang ingin disampaikan oleh seseorang kepada orang lain, bukan hal-hal pribadi yang sedang dipikirkan orang tersebut.

Dugan menjelaskan bahwa otak manusia mampu mengalirkan data sebesar 1 terabit atau setara empat film High-Definition per detik, sedangkan kata-kata dikeluarkan lewat mulut hanya dengan kecepatan 40 – 60 bit per detik.

“Bicara adalah cara terbaik manusia menyampaikan informasi, tetapi kecepatannya hanya setara dengan modem tahun 1980-an,” imbuh Mark Zuckerberg (Pendiri dan CEO, Facebook).

Untuk jangka panjang, sistem ini juga bakal diterapkan Facebook dalam memperkaya teknologi augmented reality (AR) yang sedang mereka fokuskan dan menjadi topik besar dalam konferensi F8 tahun 2017. Jadi, pengguna tidak perlu lagi menyentuh ponsel untuk mengerjakan suatu aksi dan cukup memikirkannya di dalam otak.

“Sistem ini bisa mengetik lima kali lebih cepat daripada kecepatan Anda mengetik di smartphone hari ini,” tukas Dugan.

Dalam pengembangan sistem ini, Facebook akan bekerjasama dengan akademisi dari UC San Francisco, UC Berkeley, Johns Hopkins Medicine, Johns Hopkins University’s Applied Physics Laboratory, dan Washington University School of Medicine.

Steve Stephens tersangka pembunuhan Cleveland

Facebook Inc akan mengkaji kembali penanganan video kekerasan dan material-material terlarang lainnya dalam jejaring sosialnya setelah siaran langsung video pembunuhan Cleveland yang bisa tayang di Facebook pada pekan lalu selama selama dua jam.

“Kami memprioritaskan laporan-laporan untuk menjamin keselamatan komunitas kami. Kami pun akan mengkaji secepatnya,” kata Justin Osofsky (Wakil Presiden Facebook untuk Operasi Global dan Kemitraan Media) seperti dikutip Telegraph.

Polisi Cleveland, AS memburu seorang tersangka yang menyiarkan video pembunuhan oleh dirinya kepada seseorang lewat Facebook. Tidak hanya itu, pria itu juga telah mengaku membunuh beberapa orang lainnya.

Pihak berwajib pun meminta bantuan masyarakat dan mendesak tersangka yang bernama Steve Stephens menyerahkan diri. Polisi mengatakan Stephens mengendarai SUV warna putih atau krem .

Januari silam, ada empat pemuda kulit hitam di Chicago dituduh menyerang seorang pemuda kulit putih difabel berusia 18 tahun yang disiarkan dalam Facebook Live sembari mengeluarkan cercaan anti kulit putih.

Insiden itu membuat dunia marah dan si penyerang menyatakan tidak bersalah. Ia menyerang pria difabel karena menderita schizophrenia

Segala hal yang berlebihan memang tidak baik. Tak terkecuali membuka media sosial seperti Facebook. Salah-salah, Anda bisa mengalami gangguan mental dan penurunan kondisi kesehatan.

Inilah kesimpulan dari hasil riset berjudul “Association of Facebook Use with Compromised Well-Being: A Longitudinal Study” yang diterbitkan dalam American Journal of Epidemiology edisi Februari 2017.

Dikutip dari CNBC, riset tersebut dilakukan oleh dua orang peneliti asal Amerika Serikat, yaitu Holly Shakya dari University of California, San Diego, dan Nicholas Christakis dari Human Nature Lab, Yale University.

Kedua ilmuwan itu menggelar perbandingan terhadap data-data dari 5.208 orang yang menggunakan Facebook selama tiga tahun (2013, 2014, 2015). Hasilnya, orang-orang yang membuka Facebook secara rutin bisa mengalami efek buruk pada kesehatan fisik, mental, dan kepuasan terhadap diri sendiri.

“Penggunaan Facebook yang terlalu sering dalam satu tahun diperkirakan bisa menurunkan kesehatan mental seseorang pada tahun selanjutnya,” ujar kedua peneliti.

[BACA: Ternyata, Pria Lebih Berharap Dapat “Like” di Media Sosial daripada Wanita]

Laporan itu menyebutkan bahwa melihat foto-foto kehidupan orang lain di Facebook bisa berakibat negatif pada kepercayaan diri. Soalnya, kita akan cenderung memandang rendah kehidupan diri kita sendiri karena membandingkan dengan kehidupan orang lain.

Di samping itu, terlalu banyak berinteraksi di media sosial, termasuk mengeklik like dan mengirim komentar, dapat membuat kita menarik melupakan atau menarik diri dari interaksi di dunia nyata yang lebih bermakna.

“Ilusi media sosial adalah saat kita menggunakannya, kita merasa seolah-olah sudah melakukan interaksi sosial dengan baik. Padahal, riset kami menunjukkan bahwa dari sisi kualitas dan alamiah, hubungan semacam ini tidak bisa menggantikan interaksi di dunia nyata yang kita butuhkan dalam menjalani hidup yang sehat,” pungkas mereka.

Riset ini memang hanya mengkhususkan diri bagi penggunaan Facebook, tetapi seharusnya juga berlaku untuk jenis media sosial lainnya, seperti Snapchat dan Instagram.

Ilustrasi Instagram Live Stories

Tidak percuma strategi Facebook yang menjiplak fitur-fitur Snapchat, terbukti jumlah pengguna Instagram Stories melonjak dan memiliki pengguna aktif sebanyak 200 juta perharinya dari seluruh dunia.

Pengguna harian Instagram Stories jauh melebihi pengguna aktif Snapchat. Saat ini jumlah pengguna aktif Snapchat mencapai 158 juta pengguna setiap harinya.

Tak hanya itu, pengguna Snapchat turun hingga 82 persen setelah Instagram memperkenalkan Instagram Stories pada Agustus lalu.

Sudah menjadi rahasia umum kalau Facebook dan anak perusahaannya, Instagram dan WhatsApp memang suka menyontek fitur-fitur yang ada di Snapchat.

Selain, Instagram juga berinovasi dengan meluncurkan sticker tool baru yang memungkinkan pengguna dapat menambah dan mengubah selfie mereka jadi stiker. Pengguna juga bisa menempelkan stiker itu ke dalam sebuah video Stories.

Selain itu, Instagram juga menghadirkan Geosticker baru yaitu London, Madrid, Tokyo, dan Chicago. Fitur ini pertama kali diluncukan bulan lalu untuk warga yang tinggal di 2 kota, New York City dan Jakarta.

Menurut Business Insider, saham Snapchat turun lebih dari 1,5 persen setelah berita ini muncul.

Sri Widowati (Country Manager, Facebook Indonesia). [Foto: Dok. pribadi]

Berpindah bidang industri bukanlah satu hal yang unik bagi Sri Widowati. Meskipun memiliki latar belakang pendidikan di bidang finansial, wanita yang akrab dipanggil Wido ini memutuskan pindah ke dunia marketing saat bekerja di Unilever. “Hal itu terjadi 20 tahun yang lalu dan saya tidak menyesali keputusan tersebut,” ungkap Wido.

Ia pun menyambut dengan semangat ketika diminta menangani Unilever regional dan pindah ke Bangkok. “Pengalaman tersebut membuat saya terpapar pada segmen yang lebih luas dan belajar bagaimana bekerja dalam lingkungan multicultural,” tambah Wido.

“Petualangan” Wido pun kini berlanjut setelah ia dipercaya menjadi Country Manager Facebook di Indonesia. “Teknologi adalah industri yang dinamis dan cepat berubah. Saya rasa aspek ini membawa angin segar bagi karier saya,” ungkap Wido ketika ditanya mengapa ia bersedia mengambil posisi tersebut.

Wido juga melihat, posisinya sekarang memungkinkan dia membantu perusahaan kecil maupun besar di Indonesia. “Misi kami adalah membantu mitra kami menumbuhkan bisnis dan mencapai tujuan bisnis mereka,” tambah Wido. Hal itu bisa dicapai jika Facebook bisa menjadi wadah yang menghubungkan pengguna dengan hal-hal yang ia sukai. “Kekuatan dari komunitas Facebook bergantung dari keterhubungan dan percakapan yang otentik dan personal,” tambah Wido.

Wido pun memberikan tips bagi perusahaan yang ingin menjangkau calon customer melalui digital, utamanya Facebook. “Riset menunjukkan 71% orang Indonesia menggunakan mobile untuk mencari tahu produk tertentu sebelum melakukan pembelian,” ungkap Wido. Dengan begitu, setiap perusahaan harus berpikir mobile-first saat membangun aset digitalnya.

Tips lain adalah membuat kreativitas yang mampu menarik perhatian konsumen. Kreativitas tersebut juga harus dibarengi pesan yang tepat untuk setiap tahapan perjalanan berbelanja konsumen. Yang tak kalah penting adalah mengukur dampak dari setiap perjalanan tersebut dan mengkonsolidasikannya dalam satu tampilan. Dengan begitu, perusahaan bisa menganalisis mana tahapan yang efektif dan mana yang tidak.

Menangkal Hoax

Sebagai media sosial paling populer di dunia, Facebook memiliki posisi strategis sebagai penyebar informasi. Akan tetapi, gelombang berita bohong (hoax) yang belakangan membanjiri media sosial membuat posisi Facebook pun mendapat perhatian. Banyak pihak menganggap, Facebook seharusnya bisa berperan aktif dalam menghentikan gelombang hoax tersebut.

Menanggapi soal ini, Wido sepakat dengan anggapan tersebut. “Tujuan kami adalah menghubungkan orang-orang dengan berita yang bermakna bagi mereka (pengguna. red), dan kami memahami mereka menginginkan informasi yang akurat,” ungkap Wido. Karena itu, Facebook menyiapkan beberapa cara untuk mengatasi masalah hoax ini. Salah satunya adalah menyediakan mekanisme pelaporan yang lebih mudah bagi pengguna Facebook jika mendapati keberadaan berita bohong.

Cara lain adalah dengan melibatkan pihak ketiga untuk menentukan apakah sebuah berita itu bohong atau tidak. “Kami telah memulai sebuah program kerja sama dengan International Fact-Checking Network di Poynter,” tambah Wido. Posting yang dianggap hoax akan dikirimkan ke organisasi ini untuk dicek kebenarannya. Jika terbukti hoax, Facebook akan memberikan tautan ke artikel yang memberikan informasi sebenarnya.

Akan tetapi, Wido juga mengingatkan, masalah berita bohong ini kompleks dari sisi teknis maupun filosofis. “Kami menyakini pentingnya memberikan orang kemampuan untuk menyuarakan pendapat mereka,” ungkap Wido.

Jika menerapkan aturan yang terlalu ketat, Facebook khawatir pengguna akan enggan untuk berbagi pendapat atau melakukan kesalahan saat melakukan posting. “Tentunya kami tidak ingin menjadi penentu kebenaran,” ungkap Wido. Karena itulah Wido beranggapan pengguna Facebook maupun keterlibatan pihak ketiga akan membuat sistem penangkal hoax ini berjalan lebih adil.

Tantangan memang tidak mudah, namun Wido mengaku selalu mengingat salah satu ungkapan yang menjadi mantra di Facebook: the journey is only 1 % finished. ”Saya suka sekali ungkapan ini karena memberi karyawan rasa memiliki atas budaya perusahaan dan juga misi kami untuk membuat dunia lebih terbuka dan terhubung,” ujar Wido.

Cara Facebook Menangkis Hoax

  1. Proses Pelaporan yang Mudah. Facebook sedang mencoba beberapa cara untuk mempermudah pengguna melaporkan hoax. Salah satunya, pengguna Facebook bisa mengeklik sudut kanan atas sebuah posting jika menganggap berita itu palsu.
  2. Kerja Sama dengan Pihak Ketiga. Facebook akan melakukan kerja sama dengan International Fact-Checking Network di Poynter untuk mendeteksi kebenaran sebuah berita. Jika berita itu palsu, Facebook akan memberikan tanda khusus di posting itu dan memberikan tautan ke berita yang benar. Sementara untuk artikel yang kebenarannya diperdebatkan, pengguna akan mendapat tanda peringatan saat akan membagi artikel tersebut.
  3. Berbagi Informasi dengan Benar. Facebook mendapati pola bahwa ketika pengguna enggan membagikan (share) sebuah konten, itu karena karena konten tersebut dianggap menyesatkan dalam beberapa hal. Facebook akan menyempurnakan algoritmanya agar konten seperti itu ini tidak muncul di timeline pengguna.
  4. Memutus Insentif Finansial. Munculnya banyak berita palsu disinyalir memiliki motif finansial. Penyebar hoax menyamar sebagai organisasi media terkenal dan memuat hoax agar pengguna mengakses situs mereka (yang berisi iklan). Untuk motif seperti ini, Facebook akan mengeliminasi pembelian Facebook Ads untuk domain yang sifatnya menipu. Facebook juga akan menganalisis situs untuk mendeteksi tindakan yang bisa dilakukan agar tidak menjebak pengguna.

Facebook Workplace

Facebook telah meluncurkan layanan Workplace, jejaring sosial berbayar untuk para pekerja profesional pada Oktober.

Karena itu, Facebook memutar otak agar pengguna lebih banyak menggunakan layanan media sosial untuk profesional buatan mereka di kantor.

Facebook pun mulai menguji Workplace versi gratis untuk menggaet lebih banyak jumlah penggunanya. Workplace versi gratis yaitu Workplace Standard. Sedangkan, Workplace versi berbayar adalah Workplace Premium.

Simon Cross (Product Manager Facebook) mengatakan Facebook memang berencana menyediakan Workplace versi gratis dan membiarkan masyarakat untuk mencoba software buatan merka.

“Tidak semua perusahaan dapat membayar untuk software enterprise. Mereka hanya ingin mencobanya. Mereka belum tentu akan terus menggunakannya,” katanya seperti dikutip CNET.

Workplace Premium dibanderol USD3 atau sekitar Rp40 ribu perpengguna untuk setiap 1.000 pengguna aktif dan USD2 atau sekitar Rp27 ribu perpengguna untuk setiap 9.000 pengguna aktif. Jika pengguna lebih dari 9.000 orang, maka Anda akan dikenakan biaya tambahan USD1 atau sekitar Rp13 ribu.

Workplace versi standar memiliki beberapa fitur Facebook, seperti News Feed dan Groups. Workplace versi Premium juga memiliki fitur ekstra yaitu alat analytic dan kendali administrator dan beberapa perusahaan telah menggunakan layanan ini seperti Starbucks dan Viacom.

Slack merupakan salah satu software yang banyak digunakan pekerja kantoran. Microsoft pun sudah meluncurkan software pesaing Slack yang disebut Microsoft Teams.

TERBARU

Samsung menggenjot produksi layar OLED tahun ini sekaligus menguatkan rumor bahwa Samsung memproduksi layar iPhone 8.