Tags Posts tagged with "finansial"

finansial

Vitalik Buterin (CEO, Ethereum).

Usianya baru 23 tahun, tetapi kejeniusannya membuat Vitalik Buterin dikenal sebagai salah satu developer blockchain kelas wahid saat ini.

Pada tahun 2016, Fortune menempatkan Vitalik di peringkat ke-31 sebagai orang muda berpengaruh di bawah usia 40 tahun. Pengakuan tersebut didapat Vitalik berkat perannya sebagai perancang Ethereum, platform blockchain open source dan mata uang virtual (MUV) terbesar ke-2 dunia setelah Bitcoin.

Mirip seperti Bitcoin, Ethereum dibangun berdasarkan teknologi blockchain. Namun fungsi keduanya berbeda. Sejak awal, fungsi Bitcoin difokuskan pada transaksi MUV sehingga sangat sulit dikembangkan untuk keperluan lain. Sementara Ethereum diposisikan sebagai platform yang memudahkan developer membangun aplikasi berbasis blockchain.

Ethereum memang tetap bisa digunakan sebagai alat transaksi MUV, namun tetap fleksibel untuk aplikasi lain yang berbasis blockchain. Beberapa contoh aplikasi yang memanfaatkan platform Ethereum adalah Augur (platform untuk memprediksi pasar), Weifund (platform crowdfunding), sampai Provenance (platform supply chain).

Tertarik Komputer Sejak Kecil

Masa kecil Vitalik sangat menarik. Ia tidak banyak menghabiskan waktunya bergaul dengan anak-anak lain seusianya. Ia tumbuh besar bersama kakek dan neneknya, sementara kedua orangtuanya menempuh studi ilmu komputer di sebuah universitas di Moskow beberapa tahun sebelum Uni Soviet pecah.

Salah satu mainan favorit Vitalik adalah Lego. Jikalau anak-anak biasa menggunakan lego untuk membuat miniatur menara, hewan, atau manusia, Vitalik justru membuat angka-angka. Ketika sang ayah, Dmitry Vitalik, memperkenalkannya komputer pada usia 4 tahun, Vitalik langsung tertarik dan menjadikan Excel sebagai mainan kegemarannya.

Setelah bercerai dengan istrinya, Dmitry pindah ke Toronto, Kanada pada tahun 1999. Vitalik menyusul beberapa bulan kemudian. Perkenalan Vitalik dengan Bitcoin berawal di tahun 2011 ketika ayahnya selalu bercerita tentang Bitcoin yang akan mengubah sistem keuangan dunia. Meski awalnya tidak tertarik, lama-kelamaan Vitalik kecil penasaran dengan Bitcoin.

Setelah memahami secara mendalam potensi Bitcoin khususnya blockchain, Vitalik akhirnya mencari jalan mendapatkan Bitcoin.

Awalnya ia menulis beberapa artikel terkait TI di sebuah situs dengan bayaran berupa Bitcoin yang di masa itu masih setara $US5. Situs itu kemudian tutup, sehingga Vitalik mengalihkan tulisannya di forum pemerhati Bitcoin. Ketika semakin banyak orang tertarik dengan tulisannya, Vitalik bersama seorang programmer Romania, Mihai Alisie, mendirikan Bitcoin Magazine pada September 2011.

Vitalik Buterin (CEO, Ethereum).

Popularitas Melejit

Pada periode 2011 – 2013, popularitas Bitcoin melejit. Nilainya berkembang dari US$1 menjadi US$1.000 dalam waktu dua tahun. Melihat peluang besar Bitcoin, Vitalik pun memutuskan untuk drop-out dari tempatnya kuliah di Waterloo University. Berbekal tabungan bitcoin yang ia miliki, Vitalik pun berkesempatan berkeliling dunia dan bergabung dengan berbagai proyek terkait Bitcoin dan blockchain.

Sekali waktu, ketika dia tinggal bersama kelompok musik lokal di sebuah flat di Barcelona, ia mengalami sebuah peristiwa yang kelak menambah ilham bagi pengembangan Ethereum.

Selama dua bulan di sana, dia memperhatikan setiap orang sangat bertanggung jawab terhadap tugas mereka untuk memasak makan malam dan siang. Tetapi seiring berjalannya waktu, kebanyakan dari mereka justru malas untuk menyelesaikan tugasnya.

“Itu yang menyadarkan saya, jika Anda tidak memiliki insentif ekonomi atau seperangkat aturan untuk memaksa orang melakukan sesuatu yang sangat sederhana, pekerjaan itu tak pernah selesai,” katanya kepada Fortune.

Keadaan tersebut mirip seperti ekosistem Bitcoin saat ini. Jumlah pengguna Bitcoin yang makin banyak tidak diikuti skala jaringan yang bertambah. Bitcoin tak lagi sanggup menangani tujuh transaksi setiap detik. Sebagai perbandingan, sistem milik perusahaan keuangan Visa dapat memproses lebih dari dari seribu transaksi per detik.

Bagi Vitalik, kekurangan teknologi Bitcoin ini mengurangi potensi adopsi MUV secara mainstream.

Vitalik kemudian mengajukan ide ini kepada rekan-rekannya sesama programmer untuk platform blockchain yang lebih universal. Pada platform tersebut, semua orang bisa membuat token, MUV, atau bahkan aplikasi sendiri. Banyak yang tidak setuju dan sebagian lagi menganggap ide itu tidak menarik. “Ketika itu saya berpikir, saya kerjakan saja sendiri jika mereka tidak mau,” katanya.

Vitalik pun menulis secara lengkap ide-idenya dalam sebuah white paper dan mengirimkannya kepada rekan sesama programmer yang dapat menerima ide itu. Akhirnya 30 orang mengajaknya berbincang lebih dalam, dengan antusiasme yang lebih banyak daripada yang pernah dia bayangkan. Banyak orang menyukai idenya. Pada awal 2014, dia dan sebuah grup pengembang mulai membangun Ethereum.

Pengembangan Ethereum semakin cepat karena mendapat sokongan dari seorang entrepreneur asal Kanada, Joseph Lubin. Lubin pula yang memasok dana jutaan dollar untuk pengembangan Etherum melalui sebuah yayasan. Salah satu metode yang dilakukan Lubin adalah melalui sistem crowdfunding ICO (Initial Coin Offering).

Dalam proses ICO ini, perusahaan atau organisasi membuat sebuah token yang dijual kepada para investor dengan harga murah. Mirip seperti IPO (Initial Public Offering), ICO menawarkan produk (dalam hal ini token Ethereum) yang nilainya berpotensi naik karena hukum pasar.

Pada ICO tersebut, token Ethereum dijual di harga US$0,3. Tak perlu menunggu lama, terkumpullah 31 ribu Bitcoin atau di tahun itu setara dengan US$12,4 juta.

Ilustrasi Ethereum. [Foto: Flickr/bkeychain.com]

Potensi di Masa Depan

Fleksibilitas yang ditawarkan Ethereum pun mulai didengar berbagai perusahaan yang ingin mengembangkan sistem berbasis blockchain. Tahun lalu, Samsung dan IBM meluncurkan proyek uji coba untuk perangkat IoT menggunakan jaringan berbasis Ethereum. Di awal tahun ini, 11 bank besar, seperti Wells Fargo, Barclays, dan HSBC, juga membuat proyek uji coba menggunakan Ethereum.

“Kelebihan dari Ethereum adalah konsepnya yang terbuka, fleksibel, dan bisa dikustomisasi untuk berbagai kebutuhan,” ungkap Mark Russinovich (CTO, Microsoft Azure), yang juga mulai bereksperimen menggunakan Etherum.

Akan tetapi, kustomisasi ini juga yang bisa menjadi titik lemah Ethereum. Komponen penting dari Ethereum adalah smart contract, sebuah kode komputer yang otomatis akan berjalan ketika kondisi spesifik terpenuhi. Karena berada di blockchain, smart contract ini akan berjalan sesuai yang diprogramkan tanpa ada celah untuk dipengaruhi pihak ketiga.

Namun karena smart contract pada dasarnya adalah sebuah program komputer, kualitasnya sangat tergantung pada kemampuan programmer yang membuatnya. Jika smart contract memiliki bugs yang bisa dieksploitasi, nilai utama Ethereum sebagai sistem yang aman pun menjadi sirna. Hal ini telah terjadi saat Decentralized Autonomous Organizations (DAO) yang dibangun di atas platform Ethereum, mengalami kebobolan dan rugi US$150 juta.

Kasus ini pun membuat banyak pihak skeptis terhadap Ethereum. Namun, Vitalik mengaku tidak terlalu khawatir. “Saya tetap merasa tenang meski ada masalah [di Ethereum] karena saya akan terus mencoba mengatasinya,” ungkap Vitalik.

Ia juga yakin masa depan Ethereum—dan teknologi blockchain—akan cerah. “Keunggulan utama teknologi blockchain adalah keamanannya, namun orang akan sulit mempercayai sesuatu yang baru,” ucap Vitalik. “Itu paradoks yang tidak bisa diubah, dan saya harus menerima hal tersebut,” imbuhnya.

Cornel Hugroseno (IT Director, PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk.). [Foto: Abdul Aziz/InfoKomputer]

Digitalisasi adalah sebuah keniscayaan. Namun kapan teknologi digital sepenuhnya dijadikan landasan, itu masih menjadi pertanyaan.

“Saya melihatnya sekarang ini, market baru menjajaki [teknologi] digital. Pelanggan masih mencoba-coba untuk transaksi secara digital,” ujar Cornel Hugroseno (IT Director, PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk.). Kontribusi pasar konvensional masih lebih signifikan, menurut Cornel, meskipun pergeseran ke arah digital sudah terjadi.

Di saat pelanggan masih menjajaki di masa transisi ini, penyandang gelar Sarjana Teknik Informatika dari Universitas Gajah Mada itu melihat adanya sebuah peluang baru bagi perusahaan pembiayaan seperti Adira Finance. Yakni peran sebagai “penengah” antara pelaku bisnis dan konsumen.

Cornel Hugroseno melihat dewasa ini, bisnis trading white goods, seperti handphone, televisi, lemari es, dan lain-lain, via platform digital kian digemari konsumen. Berkembangnya sektor bisnis ini di kancah online tak lepas dari peran perusahaan pembiayaan.

Saat masih ragu dengan transaksi online/digital, konsumen tentu enggan membayar jika barang belum berada di tangan. Penjual pun demikian, mereka tidak akan melepas barang bila belum ada pembayaran.

Di sinilah perusahaan pembiayaan atau kredit memainkan peran. Setelah menyurvei kelayakan konsumen, perusahaan pembiayaan akan melunasi pembayaran barang ke penjual dan konsumen membayar secara kredit kepada perusahaan pembiayaan. “Dengan begitu, proses yang sebelumnya penuh keraguan menjadi penuh kepastian, dengan adanya lembaga kredit,” jelas Cornel.

Konsekuensi Digitalisasi

Dengan digitalisasi, pelanggan dan perusahaan dapat terhubung kapan saja dan di mana saja. Konsekuensinya, pelanggan akan lebih bebas mengutarakan harapan dan keinginannya. Pelanggan pun menaruh harapan besar bahwa kebutuhan dan keinginan mereka dapat dipenuhi perusahaan dengan cepat.

Konsekuensi lain dari digitalisasi adalah lebih banyak orang dapat terhubung dengan perusahaan. “Dulu, kami hanya diakses oleh orang yang mencari kredit motor atau mobil. Dulu, ‘etalase’ kami hanya untuk orang yang ingin beli kendaraan bermotor. Sekarang, etalase kami bisa dilihat semua orang. Nah, kalau begitu, mengapa kami tidak menjual semua jenis produk melalui berbagai kanal?” papar Cornel seraya menyebut pembiayaan umrah dan traveling sebagai dua penawaran terbaru Adira Finance.

Menghadapi kedua tantangan tersebut, menurut Cornel Hugroseno, harus ada tiga komponen yang mau tidak mau harus dimiliki untuk membangun solusi digital untuk pelanggan: agility, security, dan analytics.

Agile bukan hanya cepat, tetapi juga lincah dan gampang menyesuaikan diri,” jelas Cornel. Agility akan mengakomodasi kebutuhan dan keinginan pelanggan yang kerap berubah dan bertambah.

Secara teknis, agility dapat diwujudkan misalnya dengan memanfaatkan komputasi awan atau cloud computing. Menurut Cornel, cloud adalah teknologi yang sangat memudahkan, lebih ekonomis, dan scalable, meskipun masih ada isu regulasi yang kadang membuat perusahaan ragu melangkah ke awan.

Kecepatan dan kelincahan juga dapat dicapai dengan mengutamakan platform. “Dulu kami membangun fitur, dan tidak peduli dengan platform,” ucap Cornel. Namun transformasi digital mengharuskan perusahaan bergerak cepat. Walhasil, tool, aplikasi, dan solusi teknologi yang siap pakai atau commercial off the shelf tetapi configurable lebih disukai. “Inilah mengapa kemudian kami putuskan Adira ke depan tidak lagi membangun fitur tapi membangun platform,” imbuhnya.

Komponen analytics dibutuhkan ketika perusahaan membangun kompetensi multi product multi channel. Memiliki aneka produk yang dijual melalui berbagai kanal, perusahaan harus mengetahui produk dan kanal mana yang paling menguntungkan, dan menentukan produk dan kanal apa yang paling cocok untuk pelanggan.

Analytics digunakan untuk membangun sistem yang lebih efisien dalam mengelola banyak produk, banyak channel, dan customer yang begitu luas,” jelas pria kelahiran Solo, Jawa Tengah ini.

Sementara itu, akses dan interaksi perusahaan dengan basis pelanggan maupun mitra yang lebih luas, melalui aneka kanal, mengharuskan perusahaan lebih cermat menjaga keamanan informasinya. Security atau keamanan informasi disebut Cornel sebagai tantangan utama di era digital.

“Saat ini, TI juga dituntut menjadi growth driver artinya teknologi harus bisa membawa perusahaan itu mengalami growth atau pertumbuhan [bisnis],” ungkap Cornel.

TI Sebagai “Growth Driver”

Dengan pengalaman selama hampir tiga puluh tahun merentang karier di bidang teknologi informasi (TI), Cornel Hugroseno telah menyaksikan pergeseran peran TI di perusahaan. Dimulai dari peran merapikan dan mengefisiensikan data, mengelola informasi, dan menjadi tulang punggung untuk mewujudkan operational excellence, kini TI dituntut menjalani peran baru.

“Meski namanya masih IT, sebenarnya sudah berubah menjadi interaction technology,” jelasnya. TI kini menjadi media interfacing antarpelaku bisnis dan antarpelanggan. TI membangun koneksi antara perusahaan dengan komponen-komponen dalam ekosistem bisnis. Berkat teknologi, pelanggan kini dapat menjumpai layanan Adira di toko-toko retail, bahkan kedai-kedai kecil!

“Sekarang, TI sudah tidak cukup hanya jadi enabler. Saat ini, TI juga dituntut menjadi growth driver artinya teknologi harus bisa membawa perusahaan itu mengalami growth atau pertumbuhan [bisnis],” ungkap Cornel.

Ketika Adira Finance meluncurkan program “Sahabat Setia Selamanya” bagi pelanggan sebagai bagian dari upaya menjalin hubungan jangka panjang sekaligus meningkatkan bisnis, bagaimana divisi TI memampukan interaksi dan mendorong pertumbuhan?

Berbekal database pelanggan yang cukup lengkap dan kemampuan analytic, Adira Finance dapat memberikan penawaran dan layanan yang mengacu pada total life cycle atau siklus kehidupan pelanggan. “Jadi pada waktu anak pelanggan mencapai umur sekolah menengah atas, misalnya, kami mengirimkan penawaran ke pelanggan sekiranya si anak butuh kendaraan,” tutur Cornel.  

Adira Finance juga menggandeng komunitas untuk memberdayakan kedai-kedai sebagai outlet. Kedai-kedai tersebut dibekali teknologi dan konektivitas agar dapat melayani pembayaran cicilan kredit Adira, pembelian pulsa telepon, pembayaran tagihan listrik, dan lain-lain. Dengan cara ini, menurut Cornel, perusahaan juga berupaya menciptakan shared value bersama pelanggan.

Inisiatif lain yang dibuat Divisi Teknologi Informasi untuk memampukan Adira Finance menjadi sahabat setia pelanggan antara lain membangun aplikasi bernama Akses Adira. Aplikasi Android ini diharapkan dapat memudahkan masyarakat memperoleh berbagai macam informasi proses pembiayaan di Adira Finance. “Kami membangun aplikasi Akses Adira agar semua orang bisa mengakses informasi kapan saja dan di mana saja,” ujar Cornel Hugroseno mengakhiri pembicaraan.

Ilustrasi kartu Mastercard.

Ilustrasi kartu Mastercard.

Sistem kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) semakin banyak digunakan oleh perusahaan untuk berbagai tujuan. Kali ini, Mastercard mempergunakan kecerdasan buatan untuk membantu mereka menurunkan tingkat tolakan transaksi kartu debit atau kartu kredit pelanggan.

Mastercard memperkenalkan Teknologi Intelegensi Pembuat Keputusan (Decision Intelligence), layanan bantuan untuk pengambilan keputusan dan pendeteksi penipuan yang komprehensif. Solusi ini menggunakan kecerdasan buatan untuk membantu institusi keuangan dalam meningkatkan akurasi persetujuan transaksi secara aktual (real-time) dan mengurangi kesalahan dari penolakan transaksi.

“Kami memecahkan masalah utama yang sering dialami pelanggan yaitu mengalami kesalahan penolakan transaksi ketika hendak melakukan pembelian,” ujar Ajay Bhalla (President of Enterprise Risk and Security, Mastercard).

“Dengan menggunakan teknologi kecerdasan buatan dalam jaringan global kami, kami membantu institusi keuangan serta merchant untuk meningkatkan nilai persetujuan dan juga pengalaman bertransaksi dari konsumen kami,” lanjut Bhalla.

Selama beberapa tahun terakhir, industri keuangan telah semakin berfokus untuk melindungi pembayaran dan melawan penipuan. Hal itu yang membuat keseimbangan yang tepat antara mengatur persetujuan transaksi dan mengatasi penipuan menjadi hal yang semakin penting.

“Kami memperkirakan bahwa di Amerika Serikat saja, jumlah nilai kesalahan penolakan transaksi mencapai lebih dari 13 kali lipat dari jumlah total kerugian terhadap penipuan kartu yang sebenarnya,” ujar Al Pascual (Senior Vice President, Research Director and Head of Fraud and Security, Javelin Strategy & Research)

“Mengaplikasikan machine learning untuk pengambilan keputusan (decision-scoring) merupakan sebuah cara baru untuk membuat pengalaman bertransaksi yang positif bagi para pelanggan sekaligus meminimalkan penipuan,” sambung Pascual.

Cara Kerja “Decision Intelligence”

Decision Intelligence merupakan cara baru untuk menyelesaikan masalah lama dengan menggunakan algoritma termutakhir untuk menyediakan prediksi penilaian bagi penerbit kartu berdasarkan analisis kecerdasan. Selanjutnya, mereka menggabungkan informasi tersebut ke dalam upaya mitigasi penipuan yang telah ada saat ini.

Mastercard Decision Intelligence.

Mastercard Decision Intelligence.

Secara alternatif, para penerbit kartu dapat mengaktifkan perangkat Mastercard secara menyeluruh, yang membuat proses pengambilan keputusan berdasarkan data secara real-time dapat disesuaikan dengan akun, termasuk dalam mendefinisikan ambang batas kewaspadaan serta penolakan transaksi.

Teknologi cerdas di balik Decision Intelligence menguji bagaimana sebuah akun tertentu digunakan dari waktu ke waktu untuk mendeteksi perilaku berbelanja yang normal maupun tidak normal.

Dalam melakukan hal tersebut, Decision Intelligence memanfaatkan informasi akun seperti segmentasi nilai pelanggan (customer value), pembuatan profil risiko, lokasi, data merchant, data perangkat (device data), waktu, serta tipe pembelian yang dilakukan.

ilustrasi-fintech-dafis-800x533

Acara CIO Forum InfoKomputer bersama IBM Indonesia dan Dimension Data Indonesia tentang peluang kolaborasi antara lembaga keuangan dan startup fintech.

Sebagai perusahaan teknologi yang memiliki pengalaman panjang di dunia finansial, IBM terlihat sangat serius membantu institusi finansial tradisional maupun fintech. Hal ini bisa dilihat dari solusi hardwaresoftware, maupun service IBM yang memudahkan semua jenis institusi finansial mengembangkan produk keuangan berbasis teknologi.

Contohnya adalah IBM SoftLayer, layanan cloud IaaS (Infrastructure as a Service) bagi fintech yang membutuhkan infrastruktur TI secara cepat. Pada level PaaS (Platform as a Service), IBM menawarkan BlueMix yang mendukung berbagai bahasa pemrograman. “Jadi ketika memiliki ide namun tidak memiliki software, hardware, atau data center, Anda bisa membangun ide itu di BlueMix,” ujar Dedi Widharwanto (System Architect, IBM Indonesia).

Bahkan IBM membuka kemungkinan para fintech untuk menggunakan beberapa service BlueMix secara gratis saat fintech menguji produk mereka ke pasar. Pembayaran hanya perlu dilakukan ketika produk tersebut membutuhkan service lain atau sudah melampaui beban tertentu sehingga fintech membutuhkan komputasi yang lebih tinggi.

Sedangkan bagi fintech yang sudah memiliki data center sendiri, IBM juga memiliki solusi yang membantu mereka berkembang lebih jauh. “Banyak fintech yang saat ini menggunakan Linux di atas sistem x86,” ungkap Dedi.

Komposisi ini memang memadai saat beban masih rendah. Namun ketika beban semakin tinggi, Dedi menyarankan fintech untuk melihat alternatif lain, yaitu Linux di atas Power System atau LinuxOne di atas z Systems (Mainframe).

Dedi Widharwanto (System Architect, IBM Indonesia).

Dedi Widharwanto (System Architect, IBM Indonesia).

“Ketika sistem x86 Anda mengalami performa yang lambat, atau throughput yang sudah tidak bisa naik lagi meski sudah menambah prosesor dan memori, Anda bisa melirik platform Power System atau Mainframe,” ungkap Dedi di tengah acara CIO Forum InfoKomputer yang membahas peluang kolaborasi antara institusi keuangan dan fintech.

Keandalan dua platform ini sudah terbukti melalui lomba aplikasi yang pernah dilakukan IBM. Ketika sebuah aplikasi dijalankan pada sistem berbasis x86 dan Power System dengan spesikasi yang sama, kemampuan Power System bisa terlihat. “Kesimpulannya ada dua, yaitu aplikasi berjalan lebih stabil serta jumlah transaksi yang bisa diproses per detik bisa lebih banyak,” tukas Dedi.

Saat mengadopsi solusi IBM, fintech juga akan merasakan perlindungan menyeluruh. Pasalnya partner IBM di Indonesia, seperti Dimension Data Indonesia, memiliki pengalaman panjang dan teruji untuk mendukung customer IBM di Indonesia.

Jia Yueting (Co-founder dan CEO, LeEco).

Jia Yueting (Co-founder dan CEO, LeEco).

Pabrikan smartphone asal Tiongkok, LeEco, diyakini sedang mengalami krisis keuangan. Hal ini bahkan mengakibatkan sang CEO rela memotong gajinya hingga menjadi 1 yuan (sekitar Rp2.000) saja.

Kondisi sulit ini dicerminkan melalui surat yang dikirim Jia Yueting (Co-Founder dan CEO, LeEco) kepada para karyawan dan pemegang saham perusahaan.

“Tidak ada perusahaan yang pernah mengalami keadaan ini, berada di dalam air dan api pada waktu bersamaan,” ujar Jia memberi analogi, seperti dikutip dari Bloomberg News.

“Kita bergerak maju dengan membabi-buta sehingga kebutuhan dana kita melambung tinggi. Kita terlalu berlebihan dalam strategi global. Pada saat yang sama, sumber daya manusia dan modal kita sebetulnya terbatas,” Jia melanjutkan.

Jia seakan ingin menggambarkan bahwa dirinya terlalu ambisius dalam membangun dan mengembangkan bisnis LeEco. Sebagai seorang miliuner di Tiongkok, Jia membawahkan banyak perusahaan di bawah bendera LeEco, seperti smartphone, televisi, otomotif, dan media olahraga.

Selama beberapa bulan terakhir, LeEco sangat agresif menggarap proyek mobil listrik dan mengakuisisi produsen TV Vizio asal Amerika Serikat. Jia sendiri bahkan pernah menyatakan niatnya untuk menyaingi Elon Musk, biliuner pemilik Tesla Motors dan SpaceX.

leeco-logo-launch-china

“Kita mulai melihat tanda-tanda penyakit yang biasa menjangkiti perusahaan besar, seperti kinerja karyawan yang menurun dan organisasi yang tidak efisien,” kata Jia dalam suratnya.

Kemudian, Jia menyoroti upaya perusahaan untuk mengurangi beban LeEco di masa depan. Contohnya dengan melakukan program efisiensi biaya, mengurangi subsidi untuk konsumen, dan fokus pada bisnis yang sudah berjalan dibandingkan bisnis baru. Ia pun berjanji memotong gajinya menjadi 1 yuan saja per tahun.

“LeEco mengembangkan diri terlalu cepat. Mereka punya ambisi untuk menciptakan ekosistem yang terdiri dari beragam perangkat, mulai ponsel, televisi, set-top box, sampai kendaraan. Tapi, ambisi itu terlalu besar bagi mereka untuk dijalankan saat ini,” Sandy Shen (Research Director, Gartner) berkomentar.

kaspersky

Berdasarkan Consumer Security Risks Survey 2016, yang dilakukan oleh B2B International dan Kaspersky Lab, menunjukkan bahwa 71% dari responden di Indonesia merasa khawatir terhadap penipuan online perbankan.

Sebanyak 48% responden Indonesia mengatakan sering merasa khawatir akan rentannya melakukan transaksi keuangan online. Sebesar 61% responden Indonesia menyatakan bahwa mereka akan menggunakan pembayaran online lebih sering jika sudah memiliki perlindungan yang handal untuk transaksi keuangan.

Selanjutnya 5% dari pengguna global telah kehilangan uang secara online sebagai akibat dari penipuan dengan jumlah rata-rata kerugian mencapai US$ 476.

Spam, phishing, trojan perbankan merupakan ancaman keuangan yang tersebar secara luas. Jadi pengguna harus lebih jeli terhadap halaman web palsu, e-mail tak terduga yang meminta informasi keuangan, serta mengamankan perangkat mobile jika ada transaksi diluar sepengetahuan mereka. Sementara organisasi perlu secara teratur memeriksa infrastruktur TI mereka, terutama komputer dimana transaksi keuangan dilakukan,” jelas Vitaly Kamluk (Director of Global Research & Analysis Team Kaspersky Lab untuk APAC).

Trojan perbankan tetap menjadi salah satu ancaman online yang paling berbahaya. Mereka sering disebarkan melalui website penipuan atau yang telah dikompromikan dan e-mail spam dan, setelah menginfeksi pengguna kemudian mencuri informasi pribadi mereka, seperti rincian rekening bank, password, atau informasi kartu pembayaran.

Menurut data Kaspersky Security Network, di kuartal ketiga 2016 0,81% pengguna di Singapura mengalami trojan perbankan (di kuartal kedua 2016, Singapura berada di 10 besar negara-negara di seluruh dunia dengan persentase pengguna yang mengalami trojan perbankan (1,6%), diblokir oleh solusi perusahaan (dalam Q3 2015 Singapura menempati tempat kedua dalam 10 besar negara-negara di seluruh dunia dengan persentase pengguna mengalami trojan perbankan (4,23%). Federasi Rusia dan Sri Lanka memiliki jumlah terbesar dari korban (di kuartal kedua 2016 Vietnam dan India memiliki jumlah terbesar dari korban).

Cara Antisipasi Penipuan Cyber

Bank disarankan untuk menggunakan solusi keamanan khusus, seperti Kaspersky Fraud Prevention yang membantu mengurangi resiko penipuan transaksi keuangan online dan mobile di kalangan pengguna. Sebagai langkah pencegahan, penting juga untuk memperluas keahlian para spesialis TI, bahkan jika diperlukan dapat menggunakan jasa ahli eksternal beserta intelligence data mereka.

Kasperksy juga memberikan saran bagi perorangan agar secara teratur memeriksa komputer dari ancaman malware dengan menggunakan sarana tidak berbayar seperti Kaspersky Security Scan, tetapi lebih baik jika menginstal solusi keamanan yang kuat secara permanen di semua perangkat yang digunakan untuk transaksi keuangan atau mengakses rekening pribadi.

Begitu pula dengan penggunaan software yang legal dan selalu perbarui sistem. Pastikan bahwa memiliki password yang kuat dan secara teratur memperbarui. Menghindari klik tautan dalam pesan yang tak terduga dari orang lain atau organisasi juga menjadi hal penting. Dan yang terakhir yaitu berhati-hati setiap mengunjungi suatu situs, jika sesuatu terlihat sedikit mencurigakan, mungkin saja itu adalah virus.

Hal yang sama juga berlaku bagi pelaku bisnis, selain itu juga disarankan untuk laporkan setiap dugaan serangan ke bank atau polisi. Agar kuat, gunakan solusi keamanan yang terpercaya. Pastikan pula software, terutama untuk perbankan dan keamanan TI, selalu diperbaharui. Hal lainnya termasuk memberikan edukasi bagi karyawan serta menerapkan kebijakan keamanan TI yang ketat.

cio breakfast infokomputer pp 82 fsi - 1

Penerapan Peraturan Pemerintah Nomor 82 tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik atau PP PSTE yang akan segera diimplementasikan membuat pelaku industri perbankan dan finansial harus segera menyiapkan rencana. Rencana ini bertujuan untuk menyiapkan pusat data (data center) atau beralih ke layanan cloud di Indonesia.

Namun di balik itu, masih ada sejumlah ganjalan yang mungkin akan menghambat mereka untuk menerapkan kebijakan tersebut. Sejauh mana proses persiapan industri perbankan dan finansial dalam mempersiapkan diri? Lalu bagaimana dengan pemerintah sebagai regulator dalam menciptakan aturan yang lengkap dan mendetail, serta membuat lingkungan infrastruktur yang kondusif untuk memudahkan industri perbankan dan finansial?

Kian populernya implementasi cloud di industri di Indonesia membuat makin banyak korporasi dari berbagai bidang yang bersiap untuk mengalihkan data center yang ada, dari terpusat dan tersimpan di lokasi sendiri menjadi tersebar di berbagai pusat data cloud yang tersedia. Sayangnya, implementasi migrasi dari data center terpusat ke cloud tak semudah itu. Selain harus mempertimbangkan aspek kesiapan infrastruktur di Indonesia, pengaturan mengenai penyimpanan data-data ke cloud tentu harus diatur. Apalagi kalau data-data tersebut bersifat rahasia.

Industri perbankan dan finansial merupakan industri yang menghadapi kegamangan tentang implementasi cloud di perusahaannya masing-masing. Dihadapkan pada PP Nomor 82 tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik, para korporasi yang bermain di industri perbankan dan finansial diwajibkan untuk membangun data center serta disaster recovery center di Indonesia.

Jika dilihat, peraturan ini sebenarnya bertujuan untuk mengamankan berbagai data penting dan rahasia seperti transaksi serta informasi keuangan seseorang dari ancaman intipan pihak asing. Ini juga bertujuan memudahkan negara beserta aparatnya saat ingin melakukan investigasi terkait kasus-kasus tertentu.

Mariam F. Barata (Direktur Pemberdayaan Informatika, Ditjen Aplikasi Informatika, Kementerian Komunikasi dan Informatika/Kemkominfo) menyatakan bahwa masih banyak pihak penyelenggara sistem elektronik yang belum mengetahui tentang peraturan tersebut. Bahkan untuk pemerintah sendiri, dalam kurun waktu dua tahun Kominfo baru dapat menjangkau sekitar 154 pemerintah daerah dari 514 pemerintah daerah yang ada.

Mendorong Kesiapan Infrastruktur di Indonesia

Dari sisi infrastruktur, kesiapan infrastruktur di Indonesia juga masih menjadi sorotan. Pemerintah beranggapan bahwa aspek infrastruktur di Indonesia sudah cukup memadai untuk mengimplementasikan cloud. Mariam mengatakan bahwa secara umum, penyedia layanan data center di Indonesia saat ini sudah terbilang siap untuk meladeni kebutuhan cloud industri perbankan dan finansial. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta sejumlah instansi lain yang terkait pun sudah menyiapkan ketentuan mengenai persyaratan data center.

Selain kesiapan data center, kesiapan infrastruktur secara menyeluruh juga masih menjadi persoalan yang membuat industri perbankan dan finansial harus berpikir secara matang. Memang, dari sisi kesiapan, infrastruktur konektivitas jaringan di Indonesia masih terbilang tertinggal jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Singapura.

Dengan infrastruktur yang jauh lebih siap, tawaran implementasi cloud dari penyedia layanan di Singapura tentu menjadi lebih menarik. Apalagi, ini didukung oleh klaim keandalan dan tingkat keamanan yang terjamin.

Supriyanto (IT Operation Head, BTPN) mengatakan bahwa kesiapan infrastruktur bukan hanya dilihat dari data center-nya saja. Selama infrastruktur lain seperti konektivitas jaringan belum memadai, proses adopsi cloud akan makin lama. Belum lagi, biaya layanan cloud di Indonesia cenderung kurang kompetitif jika dibandingkan dengan di Singapura.

Irianto Kusumadjaja (CIO, Bank Andara) beranggapan, kebutuhan industri akan cloud serta kewajiban menyimpan data di Indonesia bisa menjadi peluang bisnis yang bagus mengingat kebutuhan akan layanan cloud di Indonesia lebih banyak dibandingkan di Singapura. Jika makin banyak penyedia layanan cloud yang hadir, diharapkan kondisi infrastruktur juga akan makin membaik, serta harganya menjadi makin kompetitif.

Sejumlah perusahaan perbankan dan finansial sebenarnya juga sudah ada yang mulai beralih ke cloud. Namun karena pertimbangan keamanan, hanya sejumlah aspek kecil yang tidak penting saja yang dipindahkan ke cloud.

Misalnya seperti yang dikatakan oleh Muhammad Guntur (Senior Vice President, Enterprise Data Management, Bank Mandiri). Menurutnya, Bank Mandiri sudah menggunakan private cloud untuk kebutuhan human resources department (HRD). Nantinya, kemungkinan Bank Mandiri juga akan menerapkan cloud untuk sejumlah e-mail yang tidak berkaitan dengan data transaksi.

cio breakfast infokomputer pp 82 fsi - ojk

Dwi Kurniawan (Direktur Strategi dan Pengembangan Sistem Informasi, Otoritas Jasa Keuangan).

Dwi Kurniawan (Direktur Strategi dan Pengembangan Sistem Informasi, Otoritas Jasa Keuangan) mengatakan bahwa sebenarnya perusahaan perbankan dan finansial bisa-bisa saja meletakkan datanya di luar Indonesia. Namun, ada sejumlah kriteria yang harus dipenuhi untuk dapat meletakkan data di luar negeri, itu pun tidak boleh mengandung aneka data sensitif yang terkait dengan nasabah di Indonesia.

Mendekati tenggat waktu implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 82 tahun 2012 yang akan jatuh pada bulan Oktober 2017 mendatang, Kemkominfo beserta OJK berharap para institusi perbankan dan finansial bisa segera menyiapkan roadmap untuk menyiapkan diri bermigrasi ke cloud.

Namun, regulasi yang belum jelas dan detail membuat pelaku industri perbankan dan finansial merasa kebingungan untuk menentukan rencana implementasi, termasuk juga memilih penyedia layanan cloud yang bisa menunjang kegiatan operasionalnya.

Untuk itu, industri perbankan dan finansial berharap Kemkominfo dan OJK sebagai regulator bisa melakukan assessment terhadap penyedia layanan cloud yang saat ini ada di Indonesia sesuai dengan persyaratan yang diperlukan. Dengan begitu, diharapkan regulator juga bisa memberikan rekomendasi tentang penyedia layanan yang layak dipilih oleh industri perbankan dan finansial saat mereka akan menggunakan layanan cloud.

Menanti Sanksi Wajib Terapkan Data Center di Indonesia

Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2012 berisikan kewajiban yang harus dipenuhi oleh penyelenggara sistem elektronik. Salah satunya adalah kewajiban bagi tiap penyelenggara tersebut untuk menempatkan pusat data (data center) dan pusat pemulihan bencana (disaster recovery center) di Indonesia.

Seperti kita ketahui, beberapa perusahaan lokal saat ini meletakkan pusat datanya di luar negeri dengan pertimbangan keamanan, layanan (service), dan biaya yang lebih mumpuni dibanding dengan penyedia data center lokal. Jika PP Nomor 82 Tahun 2012 sudah diberlakukan di Indonesia, penyelenggara sistem elektronik asing seperti Google misalnya, akan “dipaksa” untuk menempatkan pusat datanya di Indonesia, jika mereka masih ingin melanjutkan bisnisnya di Indonesia.

Mariam F Barata menyebutkan, PP PSTE sendiri merupakan turunan dari UU No. 11 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) yang disahkan pada 21 April 2008. Ada sembilan hal yang harus dilakukan melalui PP ini, lima di antaranya adalah pengelolaan nama domain, tata kelola keamanan informasi, lembaga sertifikasi keandalan, tanda tangan elektronik, serta sertifikasi elektronik.

Namun Mariam menuturkan bahwa selama ini, Kominfo cukup mengalami kesulitan karena penyelenggara sistem elektronik belum semuanya mengetahui adanya kewajiban tersebut. Mariam pun menyebut jika masih banyak penyelenggara sistem elektronik yang mengelak dari aturan tentang pembentukan data center di Indonesia. Hal ini dibuktikan via adanya kenyataan bahwa baru sebanyak 154 pemerintah daerah dari 514 daerah yang sudah mematuhi aturan tersebut dalam dalam kurun waktu dua tahun.

cio breakfast infokomputer pp 82 fsi - 2

Kominfo sendiri sudah memastikan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tentang kesiapan mereka jika perbankan ramai-ramai mendaftar. Pasalnya, diprediksi jika OJK sudah melakukan dorongan kepada semua perbankan, bukan tidak mungkin pendaftaran akan dilakukan secara berbarengan. Mariam menyebut, Kominfo sedang menyiapkan hal itu.

Mariam juga memaparkan bahwa ada beberapa syarat yang harus dipenuhi penyelenggara sistem elektronik, seperti nama domain harus mengandung nama Indonesia, bersifat badan usaha tetap (BUT), serta data center-nya harus berada di Indonesia.

Jika nanti pendekatannya sudah tepat, Kominfo menyatakan sedang mengatur strategi agar proses pendaftaran bisa dilakukan secara online. Setidaknya, strategi ini diatur terkait keterbatasan sumber daya manusia (SDM) dan kapasitas data center Kominfo sendiri.

Sementara itu, Dewi Aryani Suzana (Kepala Divisi TI, PT Asuransi Jasa Indonesia) sedikit memberi sinyal kekhawatiran mengenai PP tersebut jika disahkan di Indonesia. Ia menyebut hal yang menjadi pertimbangan adalah ketika kegiatan operasional sudah berjalan, pihaknya tidak mungkin menggunakan layanan on premise, sehingga harus memilih cloud. Meski data center lokal juga sudah menunjukkan kesiapan di sisi infrastruktur, industri masih membutuhkan kepastian dari sisi keandalan dan keamanan.

Senada dengan Dewi, Faisal Yahya (Associate VP, Technology Services, IBS Group) mengimbau alangkah baiknya jika industri mendapatkan rekomendasi penyedia jasa layanan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Kominfo selaku regulator. Menurut Faisal, hal ini akan sangat berguna. Jadi jika industri mendapatkan assessment report yang dikeluarkan Kemkominfo dalam usaha agar comply dengan aturan OJK, industri tidak harap-harap cemas.

banktech

Sektor Financial Technology (Fintech) dinilai sebagai hal yang penting dalam mendorong inklusi keuangan negara. Khusus di Indonesia, sektor perbankan dan fintech-nya saat ini telah berada di jalur cepat menuju era Bank 3.0, di mana fintech berperan sebagai salah satu kendaraan penting dalam mempercepat inklusi keuangan di Indonesia.

Latar belakang itulah yang menjadi alasan diselenggarakannya BankTech Asia Conference 2016 yang diselenggarakan pada 24 – 25 Agustus lalu di Jakarta. Sebelumnya BankTech Asia Conference 2016 juga sudah diselenggarakan di Manila, Filipina, dan akan berlanjut di Kuala Lumpur, Malaysia untuk regional series pada November mendatang.

Konferensi BankTech Asia di Jakarta melibatkan lebih dari seratus pemimpin lokal dan internasional ternama serta regulator di sektor perbankan dan fintech di lingkup regional. Beberapa perwakilan yang hadir diantaranya dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia, Bank Mandiri, 3C Wireless, Union Bank of Philippines, dan masih banyak lagi.

Selva Nagappan (Managing Director of Knowledge Group Companies) selaku penyelenggara BankTech Asia menyebutkan bahwa teknologi telah menjadi hal sangat penting untuk bisnis perbankan dalam era saat ini, di mana dinamika dari industri perbankan global berubah sangat cepat.

Bank pun dituntut untuk meningkatkan standar mereka untuk menarik serta memenuhi kebutuhan pelanggan yang semakin modern dengan mengembangkan berbagai produk inovatif. Tak terkecuali peran teknologi dalam bisnis perbankan retail yang menjadi kunci utama bagi bank agar bisa bertahan.

“Kehadiran kami di Indonesia merupakan salah satu agenda terpenting di antara negara lainnya di mana BankTech Asia diselenggarakan, seiring dengan peluang yang sangat besar yang kami lihat di sektor ini,” ujar Selva.

Terlebih lagi dengan fragmentasi geografis yang ada di Indonesia, bank tentunya menghadapi berbagai macam tantangan yang tidak dapat dihindari oleh bank yang berencana memperluas jangkauan mereka di segmen pasar yang tidak memiliki rekening bank. Belum lagi biaya tinggi dan kurangnya kepercayaan turut menjadi fokus kelemahan utama. Di sinilah BankTech Asia menaruh fokus utama.

“Kami berharap BankTechAsia dapat berkontribusi dalam ekosistem perbankan dan finansial di Indonesia serta lingkup regional,” pungkas Selva.

Konferensi BankTechAsia Jakarta 2016.

Konferensi BankTechAsia Jakarta 2016.

Pada abad ke-21 ini, sektor perbankan di Indonesia sedang memasuki era baru, yakni Bank 3.0. Dinamika industri perbankan global memang berubah sangat cepat, meski ada satu aspek yang tetap tidak berubah, yaitu kepuasan pelanggan.

Bank perlu meningkatkan standar pelayanan mereka untuk menarik pelanggan modern yang memiliki standar dan harapan yang tinggi. Untuk itu, bank harus mengembangkan produk-produk inovatif, dengan cara memasukkan unsur teknologi ke dalam produk-produk retailnya. Inilah kunci agar bank bisa bertahan di tengah persaingan yang ketat.

Apalagi, para pelaku industri perbankan tidak lagi dihadapkan dengan persaingan antarbank konvensional, tetapi juga dengan para startup di bidang financial technology atau akrab disebut fintech.

Fintech dipandang sebagai tren baru di era digital setelah e-commerce. Berdasarkan laporan Accenture, pada awal tahun 2016, sektor ini menerima investasi sebesar 5,3 miliar dolar AS, mewakili 50% dari seluruh investasi pada kuartal pertama di Asia Pasifik.

Accenture juga menyatakan bahwa perbankan Indonesia berisiko kehilangan 30 persen nasabahnya apabila tidak mengimplementasikan fintech ke dalam strategi bisnisnya.

Menurut studi McKinsey, salah satu strategi yang dapat dilakukan oleh perbankan dalam menghadapi pertumbuhan fintech adalah dengan membangun ekosistem digital atau digitalisasi perbankan secara end-to-end serta menyempurnakan pengalaman pelanggan dengan teknologi terkini.

Konferensi 8th Annual BankTech Asia: Jakarta Series adalah ajang yang tepat untuk duduk bersama, menimba ilmu dari para pakar dan praktisi se-Asia Tenggara, dan saling berbagi sesama pelaku perbankan dalam menerapkan teknologi digital untuk membantu meningkatkan layanan, sekaligus mendongkrak performa bisnis.

Acara ini dirancang untuk menjawab kebutuhan perbankan di Indonesia yang ingin mengintegrasikan teknologi ke dalam bisnis retail banking. Topik yang diangkat mencakup perbankan digital, peningkatan kualitas layanan dengan inovasi digital, tren pelanggan di era modern, dan membuka peluang-peluang baru lewat bantuan teknologi.

Konferensi 8th Annual BankTech Asia: Jakarta Series akan berlangsung di Sheraton Hotel – Gandaria City Jakarta, Rabu – Kamis, 24 – 25 Agustus 2016. Para pembicara yang akan hadir antara lain:

  • Rico Usthavia Frans (Managing Director, Digital Banking & Technology Directorate, Bank Mandiri)
  • Paolo Baltao (Senior Vice President, Head of Business Transformation, Union Bank of Philippines)
  • Altona Widjaja (VP, Fintech and Innovation Group, OCBC, Singapore)
  • Vivek Bhanot (Business Intelligence Director, VP Bank Vietnam)
  • Pungky P.Wibowo (Head Group, Development of Retail Payment System and Financial Inclusion, Bank Indonesia)
  • Dumoly F. Pardede (Deputy Commissioner of Non-Bank Financial Institutions Supervision, Otoritas Jasa Keuangan)
  • Isaku Endo (Senior Payments Specialist, World Bank)

Informasi lebih lengkap mengenai konferensi 8th Annual BankTech Asia: Jakarta Series serta form registrasi dapat dilihat di alamat http://www.banktechasia.com/banktech-asia-2016-indonesia.

InfoKomputer adalah media partner resmi konferensi ini. Dapatkan diskon 10% saat melakukan registrasi dengan memasukkan kode: INFOKBTA2016.

dwi kurniawan ojk 2

Dwi Kurniawan (Direktur Strategi & Pengembangan Sistem Informasi, Otoritas Jasa Keuangan). [Foto: Abdul Aziz]

Begitu berdiri, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) harus segera “berlari” karena ada total 12 ribu triliun aset perbankan dan non-perbankan, serta kapitalisasi pasar modal yang harus diawasi. Belum lagi jutaan konsumen industri keuangan yang harus dilindungi dan diedukasi. Bagaimana departemen teknologi informasi (TI) OJK menangani ini?

Setelah Bank Indonesia dan Bapepam-LK tidak lagi terlibat dalam pengawasan dan pengaturan industri keuangan, tugas tersebut diambil alih oleh OJK. Ditambah lagi OJK harus mengedukasi dan memberi perlindungan terhadap konsumen jasa keuangan.

“Termasuk kami di TI pun harus mendukung tugas tersebut. Dan, tanpa TI, mungkin kami tidak bisa segera ‘berlari’ dan dengan cepat memberi manfaat bagi masyarakat,” cetus Dwi Kurniawan (Direktur Strategi dan Pengembangan Sistem Informasi, OJK).

Strategi TI yang selaras fungsi OJK harus disusun dari nol. Di sisi lain, karena mengemban tugas gabungan dari BI dan Bapepam-LK, Dwi dan timnya harus memilah dan memilih lebih dari seratus sistem informasi “warisan” kedua lembaga tadi, sesuai kebutuhan. Dan, semua itu harus dilakukan Departemen Pengelolaan Sistem Informasi OJK dengan cepat, dengan sumber daya manusia yang masih terbatas.

Tak mungkin melakukan semua sekaligus dalam waktu singkat dengan kondisi kelangkaan SDM, Dwi Kurniawan memulai dengan prioritas. “Yang pertama saya lakukan adalah menyusun rancang bangun sistem informasi 2014-2017, agar pengembangan TI OJK terarah, efsien, dan efektif,” papar bapak dua putra dan satu putri ini.

Setelah rancang bangun yang memuat arsitektur bisnis, informasi, aplikasi, dan infrastruktur TI ini selesai digarap, Dwi mulai merekrut  dan memfokuskan SDM TI OJK untuk mengembangkan infrastruktur dan aplikasi yang penting dan strategis.

dwi kurniawan ojk 1

“Tanpa TI, mungkin OJK tidak bisa segera ‘berlari’ dan dengan cepat memberi manfaat bagi masyarakat,” cetus Dwi.

Setelah empat tahun berjalan, saat ini OJK sudah memiliki katalog layanan sistem informasi yang memuat hampir enam puluh aplikasi untuk pengguna internal maupun eksternal. Di antaranya adalah aplikasi pelaporan (e-reporting) dan sistem informasi pengawasan untuk institusi perbankan, nonbank, dan pasar modal.

“Kami juga membuat dashboard untuk Dewan Komisioner OJK, agar mereka dapat mengetahui tren [industri keuangan] saat ini dan mengambil keputusan dengan cepat,” imbuh MBA Information System lulusan The George Washington University-School fo Business, AS itu.

Untuk perlindungan dan edukasi konsumen, OJK menyiapkan mini-site Sikapi Uangmu yang memuat layanan dan informasi edukasi konsumen; dan Financial Customer Care, yakni layanan contact center untuk menangani keluhan konsumen sektor jasa keuangan.

Selain berkutat dengan kebutuhan TI internal, pehobi taichi ini dan timnya juga harus siap memberi dukungan konsultasi teknis kepada pelaku industri keuangan dan pemerintah, serta berkoordinasi secara intensif dengan berbagai instansi terkait. Kesibukan luar biasa memang harus dijalani Dwi Kurniawan setiap hari.

Mungkin salah satu momen di mana pria kelahiran Solo ini terlepas dari kungkungan dunia teknologi adalah saat ia membaca buku cerita, hobinya sejak kanak-kanak.

Membaca buku cerita, menurut Dwi Kurniawan, akan membawanya pada berbagai cerita kehidupan tanpa ia harus menjalaninya sendiri, dan mungkin di saat itu ia juga tak perlu berlari.

TERBARU

Pemesanan terbanyak di Indonesia dilakukan pada pukul 17.00 karena bertepatan dengan jam pulang kerja, terutama di Jakarta