Tags Posts tagged with "Google"

Google

Ilustrasi Google Play Protect

Google menepati janji untuk menjaga pengguna Android dari malware berkedok aplikasi dengan meluncurkan fitur perlindungan Google Play Protect.

Google Play Protect bertugas untuk melawan aplikasi jahat pada smartphone Android yang menjalankan Google Mobile Services 11 atau versi yang lebih baru. Caranya dengan memindai setiap aplikasi yang sudah dipasang di smartphone pengguna dan menentukan apakah ada aplikasi bermuatan malware atau tidak.

Untuk menemukan fitur ini, pengguna Android dapat melihat menu Settings -> Security, seperti dikutip dari Engadget.

Di masa depan, Google juga akan mengeluarkan fitur semacam ini di Google Play Store secara langsung agar pengguna tidak keliru mengunduh aplikasi berbahaya.

Anda bisa menemukan berita lainnya mengenai malware Android di sini

Penggunaan kacamata pintar Glass Enterprise Edition oleh dokter di rumah sakit.

Proyek kacamata pintar Google Glass sempat dimatikan oleh Alphabet, induk perusahaan Google, pada tahun 2015. Tetapi sekarang, Google Glass lahir kembali dengan fokus bisnis yang baru di industri enterprise.

Pada hari Selasa (18/7), Alphabet meluncurkan Glass Enterprise Edition (tanpa embel-embel Google) yang membenamkan aplikasi-aplikasi untuk melayani kebutuhan perusahaan dan penyedia jasa, mulai manufaktur, logistik, sampai rumah sakit.

Dengan kacamata ini, para profesional di pabrik, rumah sakit, atau tempat kerja lainnya dapat melihat informasi tambahan pada layar di depan mata mereka, disediakan oleh aplikasi-aplikasi enterprise. Konsepnya mirip augmented reality (AR), namun Alphabet memilih untuk menyebutnya assisted reality.

Contoh aplikasi yang sudah tersedia di Glass misalnya Augmedix (platform otomatisasi dokumen kesehatan), Aira (asistensi bagi kaum tunanetra), dan Brain Power (aplikasi neuroscience untuk memulihkan autisme dan cedera otak traumatik).

Glass Enterprise Edition sejatinya sudah digodok sejak tahun 2015 sebagai pengganti proyek Google Glass versi consumer yang dianggap terlalu mahal.

Alphabet mengklaim bahwa Google Glass sudah dipakai oleh sekitar 50 perusahaan di seluruh dunia, seperti GE Aviation, AGCO, DHL, Dignity Health, dan Volkswagen. Pada tahun lalu, para insinyur di Boeing juga menggunakan Google Glass dalam perakitan pesawat terbang.

Perbedaan Glass dan Google Glass

Apa saja perbedaan antara Glass Enterprise Edition dan Google Glass versi terdahulu?

Jay Kothari (Glass Project Leader, Alphabet) menyatakan bahwa Glass memiliki bobot yang lebih ringan, desain yang lebih nyaman dikenakan untuk pemakaian jangka panjang, serta mengemas spesifikasi prosesor dan baterai yang lebih kuat dan tahan lama.

Tak hanya itu, Glass dapat dipakai pula oleh para pengguna kacamata dengan lensa plus/minus. Lensanya pun kokoh dan bisa berfungsi ganda sebagai kacamata pelindung mata.

Kacamata pintar Glass Enterprise Edition.

Di dalam Glass, terdapat sebuah kamera 8 MP yang memiliki kemampuan merekam video. Untuk menjaga urusan privasi orang lain, kamera ini akan menyalakan lampu berwarna merah sebagai pertanda kamera sedang merekam.

Alphabet tidak mengungkapkan detail harga Glass Enterprise Edition. Yang pasti, kacamata pintar ini sekarang dikembangkan oleh unit bisnis X yang berada di luar Google.

“Tim produk Glass kini bekerja kembali di X dan akan berkolaborasi dengan tim Google Cloud dan mitra-mitra kami untuk membantu pelanggan dari aneka sektor industri memanfaatkan Glass sebaik-baiknya,” kata Kothari.

Di pasar ini, Glass bakal bersaing dengan pemain lainnya yang lebih dulu hadir, mencakup Epson Moverio, Microsoft HoloLens, dan Daqri yang digandeng Intel.

Ilustrasi nyamuk jantan yang diproduksi robot Google

Verily, divisi ilmu hayati Google di bawah perusahaan induk Alphabet, dan Pemerintah Amerika Serikat melakukan percobaan lapangan terbesar dengan melepaskan 20 juta nyamuk jantan untuk melawan virus Zika dan demam berdarah di Fresno, California.

Pada Oktober tahun lalu, Verily berinisiatif untuk memerangi penyakit yang ditularkan nyamuk seperti demam berdarah (DBD) dan virus zika.

Verily menciptakan sebuah robot yang memiliki algoritma khusus untuk memproduksi satu juta nyamuk setiap minggunya di sebuah laboratorium otomatis. Nyamuk-nyamuk itu telah terjangkit bakteri Wolbachia alami yang menyebabkan mandul atau tidak subur.

Verily menggunakan prosedur pemilahan seks dengan melepaskan nyamuk jantan karena nyamuk jantan tidak menggigit manusia. Ketika mereka kawin dengan nyamuk betina di alam bebas, telur mereka tidak bisa berkembang atau menetas karena nyamuk jantan telah mandul.

“Jika percobaan ini berhasil, maka kami akan memproduksi nyamuk dalam jumlah besar dan menyebarkannya ke seluruh dunia,” kata Linus Upson (Insinyur Senior Verily) seperti dikutip Fortune.

Verily juga akan melakukan uji coba lapangan di Australia pada akhir tahun ini. “Kami ingin menunjukkan bahwa ini dapat bekerja di berbagai jenis lingkungan.” ujar Upson.

Rekayasa populasi nyamuk itu tidak akan berdampak pada lingkungan sama sekali sehingga Verily akan terus dilakukan dan dikembangkan untuk mencegah penyakit berbahaya yang diakibatkan oleh nyamuk.

Google belum puas dengan kehebatan sistem cerdas DeepMind yang mampu mengalahkan manusia dalam permainan AlphaGo. Mereka masih mencari talenta-talenta terbaik di seluruh dunia dan mengembangkan proyek baru di bidang kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Contohnya dibuktikan dengan mengakuisisi Halli Labs, sebuah startup asal Bangalore, India, yang fokus membangun sistem deep learning dan machine learning. Hebatnya, Halli Labs masih berusia sangat muda dan didirikan oleh Pankaj Gupta, seorang data scientist yang pernah bekerja di Twitter.

Halli Labs akan bergabung dengan tim Google Next Billion Users yang bertujuan membangun teknologi baru untuk menjangkau miliaran orang di seluruh dunia, termasuk di India sebagai salah satu negara berpopulasi terbesar.

[BACA: Saat Kecerdasan Buatan Menjadi Sahabat Perusahaan]

Selain itu, Google mengumumkan dibentuknya lembaga modal ventura baru, Gradient Ventures, yang menyediakan dana investasi bagi para pemilik startup tahap awal di bidang kecerdasan buatan.

Gradient Ventures adalah modal ventura ketiga yang dimiliki Google selain GV (dahulu Google Ventures) dan CapitalG (dahulu Google Capital).

Dikepalai oleh Anna Patterson, Gradient Ventures berencana menanam modal di 10 sampai 15 startup pada tahun ini dengan besaran dana antara US$1 juta dan US$8 juta. Di samping kucuran dana, Gradient akan membantu startup asuhannya dengan pelatihan AI tingkat lanjut dan pendampingan dari insinyur Google.

Beberapa startup yang sudah dijaring Gradient antara lain Aurima, Cape, Cogniac, dan Dyndrite.

“Jika kita ingin mempercepat terwujudnya AI, kita harus terlibat lebih banyak di dalam komunitas. Itulah alasan kami melakukan hal ini, untuk memicu inovasi di bidang AI,” kata Patterson seperti dilansir CNBC.

Terakhir, Google mengumumkan proyek baru bernama People + AI Research Initiative (PAIR). Proyek ini bertujuan mencari tahu cara terbaik mempererat hubungan antara manusia dan kecerdasan buatan agar bisa lebih saling membantu dan menguntungkan.

Google menyebutkan bahwa mereka ingin AI bisa berperan sebagai perkakas yang membantu kehidupan sehari-hari manusia, mempermudah pekerjaan para profesional, dan menyederhanakan edukasi AI kepada para ilmuwan dan insinyur.

Ilustrasi Google Pixel XL

Desain smartphone premium terbaru selalu membuat pecinta gadget sangat penasaran, tak terkecuali dengan desain Google Pixel terbaru. Android Police berhasil mendapatkan bocoran yang cukup lengkap dan mereka membuat desain Google Pixel XL terbaru dalam bentuk 3D.

Meski masih berupa rekaan, tapi setidaknya rekaan desain Google Pixel XL terbaru itu bisa memberikan pencerahan kepada pecinta Google Pixel XL.

Google Pixel XL terbaru memiliki layar AMOLED 6 inci dengan resolusi 1440p dan rasio 2:1 seperti LG G6. Rumornya, LG yang akan memproduksi Google Pixel XL terbaru.

Tak jauh berbeda dengan LG G6 dan Samsung Galaxy S8, Google Pixel XL terbaru itu memiliki bezel yang teramat tipis pada bagian depan bodi. Tapi tidak bezel-less seperti yang diterapkan pada Essential Phone atau Xiaomi Mi Mix.

Google Pixel XL terbaru juga akan mengusung fungsi Edge Sense yang terbenam dalam HTC U11. Hal itu memungkinkan penggunanya mengoperasikan smartphone dari bagian sisi dan mengakses fungsi seperti Google Assistant.

Smartphone itu akan mengusung prosesor Snapdragon 835, RAM 4 GB dan satu varian dengan memori internal 128 GB. Bocoran lainnya, Google Pixel XL terbaru juga memiliki kamera belakang yang besar walaupun bukan kamera ganda.

Google juga akan menggunakan 3D glass pada bagian samping dan menghilangkan port audio 3,5 mm untuk stereo speaker seperti dikutip The Verge.

Rencananya, Google akan meluncurkan dua line-up Google Pixel yaitu satu varian yang berlayar 5 inci untuk menggantikan Pixel asli yang hadir 2016. Varian kedua adalah Google Pixel XL terbaru yang memiliki layar 6 inci.

Google Earth VR

Perusahaan induk Google, Alphabet akan mengizinkan penggunanya mengunggah jutaan stories, video, dan foto platform Google Earth dalam beberapa waktu ke depan.

Tools “Voyager” memungkinkan pengguna Internet melakukan tur interaktif dengan tujuan eksotis di Google Earth.

Rebecca Moore (Direktur Google Earth) mengatakan pengguna bisa membuat konten mereka sendiri yang belum diedit untuk penggunaan pribadi atau publik dalam 2-3 tahun.

“Kisah sejarah keluarga Anda, kisah perjalanan hiking favorit Anda, bisa apa saja. Tidak harus mendalam,” katanya seperti dikutip Reuters.

Sementara itu Moore mengungkap proyek “I am the Amazon” yang telah memetakan 11 situs untuk mendokumentasikan hubungan antara hutan hujan dan masyarakatnya serta menyentuh topik seperti makanan, air, dan asal usul budaya.

Untuk menceritakan kisah masyarakat seperti orang-orang Yanomami, Cinta Larga dan Boa Vista Quilombola, Google dan mitranya menggunakan alat seperti kamera 3D untuk melengkapi gambar satelit dengan video dan teks.

Moore tidak mengungkapkan anggaran untuk proyek tersebut tetapi mengesampingkan gagasan periklanan di platform dan mengatakan bahwa bukan niat Google untuk menghasilkan keuntungan dari usaha tersebut.

“Google Earth adalah hadiah kami untuk dunia. Dari sisi anggaran, Google memiliki pendapatan yang bagus dari iklan, dan tidak semua yang Google miliki harus menghasilkan uang” ujarnya.

Google tersandung masalah lagi. Setelah belum lama ini didenda 2,4 miliar Euro oleh Uni Eropa karena dituduh monopoli belanja online, sekarang Google dianggap mempromosikan konten bajakan.

Pangkal kejadiannya bermula saat situs TorrentFreak melaporkan hasil pencarian di mesin pencari Google US dengan kata kunci “torrent sites” atau “best torrent sites”. Di bagian atas, Google menampilkan daftar situs penyedia torrent dalam format carousel atau kotak-kotak yang bisa digeser.

Di dalam daftar itu, terdapat sekitar 12 situs torrent terkemuka, mencakup Pirate Bay dan Torrent Project. Jika salah satu nama itu diklik, Google kemudian memunculkan hasil pencarian terkait situs tersebut.

Pada beberapa kasus, Google juga mencampurkan antara situs torrent dan situs streaming video seperti Hulu dan Crackle. Hal ini dipandang berbahaya karena bisa mengaburkan batasan antara konten hiburan ilegal dan legal yang ada di dunia maya.

Terlebih lagi, Google pernah mengutarakan niatnya untuk mempersulit para pengguna yang ingin menemukan situs-situs berisi konten bajakan di mesin pencarinya. Melalui pernyataan resmi pada Februari silam, Google berjanji akan menurunkan situs-situs video, buku, dan siaran olahraga ilegal ke bagian bawah hasil pencarian mulai pertengahan tahun ini.

Namun, janji tersebut tampaknya belum terealisasi, setidaknya sampai sekarang. Google pun menanggapi laporan TorrentFreak ini bahwa kasus ini bukan sebuah kesengajaan. “Hasil pencarian tersebut ditampilkan secara algoritmis dan tidak mencerminkan cara pandang kami terhadap fitur ini,” kata juru bicara Google.

Ilustrasi Google Blocks

Google memperkenalkan aplikasi Google Blocks yang memungkinkan pengguna membuat model 3D berwarna dalam bentuk virtual reality (VR). Aplikasi itu sudah tersedia secara cuma-cuma pada Oculus Rift dan HTC Vive.

Dengan Google Blocks, Anda tidak perlu mahir di dalam VR terlebih dahulu. Selain itu, Google Blocks memiliki banyak fitur yang memungkinkan Anda membuat model 3D dengan indah.

“Saat ini kita membutuhkan software yang kompleks dan skill spesifik untuk memberikan pengalaman VR dan AR. Software itu juga membutuhkan objek 3D pada layar 2D, sangat sulit membayangkan,” ujar Google.

“Dengan Gooogle Blocks, Anda dapat membuat objek dalam bentuk VR dengan mudah. Apalagi, jika Anda menggunakan HTC Vive dan Oculus Rift yang membuat objek 3D dengan indah,” pungkasnya.

Saat ini Google Blocks baru tersedia secara terbatas untuk perangkat premium dengan bantuan tangan.

Anda bisa mengunduhnya melalui Oculus Store dan Steam.

Ilustrasi Kantor Google

Google mendanai proyek komputer atau robot jurnalisme bernama Radar dengan menargetkan 30 ribu berita perbulan untuk media lokal di Inggris. Kantor berita lokal Inggris Press Association (PA) menerima 622 ribu pound sterling atau sekitar Rp10 miliar.

PA akan menggandeng start up Urbs Media untuk menguntungkan media mapan, penerbit independen dan blogger lokal.

Proyek itu akan hadir 2018 dan tetap menggunakan jurnalis manusia. Lima orang itu akan menggunakan sumber data resmi terbuka untuk mengotomatisasi laporan tentang kesehatan, kejahatan, pekerjaan, dan subyek lainnya.

“Proyek ini membutuhkan wartawan manusia yang terampil. Radar akan memanfaatkan kecerdasan artifisial untuk meningkatkan volume cerita lokal yang tidak mungkin dikerjakan secara manual, ” kata Pete Clifton (Editor Press Association) seperti dikutip BBC.

“Media berita membutuhkan cara ‘hemat biaya’ untuk menghasilkan cerita lokal,” ujarnya.

Neil Thurman (Profesor Komunikasi University of London dan University of Munich) menilai proyek itu merupakan langkah yang menarik. Ia menilai keberadadan robot atau komputer akan mematikan jurnalisme yang dilakukan manusia.

“Saya merasa sulit untuk melihat bagaimana otomatisasi membantu perusahaan media memberikan liputan tambahan tentang pengadilan hakim lokal atau pengadilan mahkota, ” kata Thurman.

Alih-alih tertarik pada jurnalisme berdasar lonjakan “data alert”, konsumen berita lokal akan lebih tertarik kepada berita dan analisis yang dikuratori dengan hati-
hati.

“Anda tidak bisa benar-benar meliput (pemerintah daerah) dengan otomatisasi karena banyak tentang penyelidikan, politik, dan hubungan pribadi. Sangat sulit untuk mendapatkan informasi tersebut dalam bentuk feed,” ucap Thurman.

Ilustrasi Gmail

Gmail merupakan salah satu layanan e-mail dengan jumlah pengguna terbanyak saat ini mencapai 1,2 miliar orang. Namun, Google mendapat kritikan karena Google melakukan scanning isi inbox setiap pengguna.

Alphabet Inc akan menghentikan pemindaian konten Gmail untuk personalisasi iklan pada akhir tahun ini, mengingat Google menganalisis email yang keluar dan masuk untuk pelanggan layanan gratis Gmail.

Hal itu disampaikan Google melalui unggahan blog Diane Greene (Kepala Komputasi Cloud Google) yang bergabung dengan perusahaan tersebut pada 2015. Google harus memindai setiap kata yang ada di e-mail untuk menentukan iklan yang tepat bagi pengguna.

“Konten Gmail konsumer tidak akan digunakan atau dipindai untuk personalisasi iklan setelah perubahan ini,” tulis Google seperti dilansir Engadget.

Setelah penghapusan itu, bagaimana cara Google mengumpulkan data pengguna untuk iklan.

Tentunya, Google masih punya banyak cara untuk melakukan scanning seperti Google dapat melihat pola pemutaran video di YouTube, pencarian kata kunci melalui layanan Google Search, situs yang dikunjungi pengguna, dan aplikasi yang digunakan pengguna Android.

“G Suite Gmail sudah tidak digunakan untuk melakukan personalisasi iklan dan Google telah memutuskan untuk melakukan hal yang sama untuk pelanggan Gmail gratis kami di tahun ini,” tulis Green dalam blog post.

Google akan meyakinkan lebih banyak perusahaan untuk menggunakan layanan tersebut dengan memastikan bahwa kegiatan mereka tidak akan membahayakan keamanan data korporat.

“Konten milik pelanggan Gmail tidak akan digunakan atau dipindai untuk menawarkan iklan yang sesuai setelah ini. Keputusan ini sesuai dengan bagaimana kita menampilkan iklan dalam produk Google yang lain,” tulisnya.

Selain Google, Facebook dan Apple sudah melakukan hal serupa untuk mencari iklan yang cocok untuk pengguna.

TERBARU

Pemerintah Tiongkok mewajibkan warga Urumqi, ibukota provinsi Xinjiang, yang mayoritas beragama Islam untuk memasang aplikasi mata-mata Jingwang di smartphone-nya.