Tags Posts tagged with "Google"

Google

Hasil memotret malam hari dengan Google Pixel oleh Florian Kainz.

Saat ini Google Pixel dan Nexus 6P adalah dua di antara beberapa smartphone dengan kamera terbaik di pasar.

Google pun menanamkan algoritma khusus pada kamera smartphone-nya sehingga hasilnya cukup memukau, terutama ketika mengambil gambar di kondisi cahaya yang redup. Hal ini diungkapkan oleh seorang insinyur Google dengan mengunggah beberapa foto hasil eksperimennya.

Florian Kainz (Insinyur Peranti Lunak Google Daydream) mengunggah beberapa foto dengan kamera smartphone Pixel dan 6P yang fokus mengambil foto long exposure di malam hari. Tujuannya adalah menciptakan sebuah gambar yang kualitasnya setara dengan kamera profesional DSLR, tetapi menggunakan sensor kamera Google.

Ia pun membuat aplikasi manual exposure yang memadukan pencahayaan, ISO, dan jarak fokus, seperti dikutip The Verge.

Foto Golden Gate di malam hari dengan kamera Google Nexus 6P karya Florian Kainz.

Kainz memotret suatu objek sebanyak 32 atau 62 kali selama dua detik dengan kamera smartphone yang sudah dipasangkan pada tripod dan menggunakan format DNG. Setelah itu, Kainz memindahkan foto-fotonya ke dalam komputer untuk diproses.

Kainz lalu memperbaiki beberapa error dan noise yang berasal dari foto asli, kemudian menggunakan cara manual untuk menyeimbangkan sedikit gerakan di antara frame. Hasilnya, ia bisa menciptakan hasil fotografi malam hari yang luar biasa.

Selain itu, Google Pixel sudah memiliki mode HDR yang bisa mengambil banyak gambar di dalam satu waktu dan mengombinasikannya ke dalam satu frame yang membuat tampilan gambarnya lebih jernih dan tajam. Teknik yang dipakai Kainz mampu meningkatkan jumlah pencahayaan yang masuk dan terserap pada gambar.

Mobil swakemudi Pacifica hasil kerja sama Waymo dan Fiat Chrysler.

Saat ini perusahaan teknologi di Silicon Valley berlomba-lomba mengembangkan mobil tanpa sopir karena tren mobil tanpa sopir akan mampu mengubah industri otomotif di masa depan.

Anak perusahaan Alphabet, Waymo, mulai mengujicoba mobil tanpa sopirnya secara cuma-cuma kepada warga kota Phoenix, Arizona, AS.

Hal itu merupakan bagian program Waymo yang ingin mengetahui dampak mobil tanpa sopir terhadap kehidupan sehari-hari orang-orang.

[BACA: Mobil Tanpa Sopir Waymo dan Chrysler Siap Mengaspal]

Untuk menjadi penumpang Waymo, warga harus mendaftarkan identitas mereka terlebih dahulu di situs resmi Waymo. Kemudian, Waymo akan menyeleksi penumpang berdasarkan jenis perjalanan dan keinginan mereka untuk menggunakan layanan mobil tanpa sopir sebagai moda transportasi utamanya.

“Kami menginginkan orang-orang, termasuk komunitas, mencoba teknologi kami,” tulis John Krafcik (CEO Waymo) seperti dikutip The Verge.

John Krafcik, CEO of Waymo, introduces a Chrysler Pacifica hybrid outfitted with Waymo’s own suite of sensors and radar at the North American International Auto Show in Detroit, Sunday, Jan. 8, 2017. (AP Photo/Paul Sancya)

Ketika mengantarkan penumpang, Waymo beroperasi tanpa dikendarai oleh sopir dan mampu bergerak sendiri. Namun, Waymo tetap menempatkan seorang sopir penguji yang berada di balik setir sebagai penunjang sistem keamanannya.

Hingga saat ini, Waymo dikabarkan sudah memesan sebanyak 500 minivan Chrysler Pacifica untuk menjadi mobil tanpa sopir. Waymo pun akan memasang sensor laser yang merupakan “mata” dari mobil otonom tersebut.

Aplikasi pesan sepertinya masih belum menemui titik jenuh, setidaknya itu yang mungkin dipikirkan oleh para pengembang di Google. Perusahaan yang dikenal dengan mesin pencarinya ini menghadirkan aplikasi video calling bernama Google Duo.

Aplikasi ini menampilkan desain yang sederhana dan benar-benar berfokus pada fungsinya, yaitu untuk melakukan panggilan video. Kelebihan yang ditawarkan adalah kualitas video yang diberikan oleh aplikasi ini.

Selain itu, Google Duo juga menawarkan kestabilan dari sisi kualitas panggilan video. Google Duo bisa menurunkan resolusi video secara otomatis sesuai dengan koneksi yang tengah dihadapi oleh pengguna. Fitur lain adalah enkripsi endtoend serta fitur yang memungkinkan pengguna untuk melihat video penelepon secara live sebelum menerima panggilan.

Aplikasi ini tersedia secara gratis dan membutuhkan iOS 9 atau yang lebih baru. Selain itu, aplikasi Google Duo tersedia pula secara cross platform.

Ilustrasi fitur Google Earth terbaru

Google baru saja meluncurkan aplikasi Google Earth versi anyar dengan tiga fitur terbaru yang lebih interaktif dan sosial. Tujuannya agar meningkatkan layanan Google Earth sehingga mampu menampilkan permukaan bumi secara detail.

Apa saja ketiga fitur baru Google Earth tersebut?

Pertama, Google Earth memiliki fitur Voyager atau layanan pemandu wisata interaktif pada Google Earth yang menyajikan beragam informasi dari suatu tempat secara jelas.

Fitur itu akan menawarkan lebih dari 50 perjalanan wisata interaktif dari banyak lokasi di seluruh dunia melalui Google Earth dan menampilkan konten dan komentar dari situs-situs berita.

Kedua, Google Earth memiliki fitur terbaru I’m Feeling Lucky. Dengan menekan sebuah tombol “I’m Feeling Lucky,” Anda akan diarahkan ke tempat-tempat unik yang mungkin belum Anda ketahui di antara lebih dari 20.000 lokasi acak di Google Earth.

Di tempat itu, ada sejumlah beragam penjelasan seperti fakta, sejarah, hingga rekomendasi tempat lainnya. Anda bisa mengeklik pada Knowledge Card untuk mempelajari lebih lanjut tentang hal-hal menarik itu dan melihat lebih banyak gambar.

Ketiga, Google Earth memiliki fitur 3D Maps yang memungkinkan Anda melihat suatu tempat dalam bentuk 3D dan membantu Anda mengetahui bangunan apa saja yang ada di sana.

Anda bisa memeriksa lokasi dari berbagai sudut dan Anda bisa mengirim kartu pos visual untuk teman-teman dan keluarga berisi tempat tertentu.

Fitur-fitur terbaru Google Earth ini sudah tersedia pada peramban Google Chrome dan Android, seperti dikutip dari Venture Beat. Google pun berjanji akan membawa fitur tersebut ke lebih banyak platform pada tahun ini.

Iklan Google Chrome. [Foto: Flickr/Elliott Brown]

Google dikabarkan sedang mempertimbangkan untuk memasang pemblokir iklan secara default pada peramban Chrome versi desktop dan mobile.

Seperti dilaporkan oleh The Wall Street Journal, Google melihat maraknya penggunaan extension atau aplikasi pemblokir iklan (ad-blocker) yang dibuat oleh pihak ketiga dalam peramban Chrome. Bahkan, terdapat 600 juta perangkat di seluruh dunia yang telah memasang aplikasi pemblokir iklan.

[BACA: Pemasang Iklan Ramai-ramai Boikot YouTube dan Google, Kenapa?]

Alasannya, banyak pengguna Chrome–peramban terpopuler di dunia saat ini–dan juga pengguna internet lainnya yang sudah merasa gerah dengan kemunculan iklan-iklan online yang sering mengganggu pengalaman menikmati konten.

Namun, Google merasa bahwa daripada bergantung pada aplikasi pemblokir iklan pihak ketiga, lebih baik pengguna Chrome bisa menggunakan fitur serupa yang disediakan secara bawaan oleh Chrome.

Dengan begitu, Google dapat ikut menentukan jenis iklan mana saja yang diblokir dan yang boleh ditayangkan, selama tidak mengganggu pengalaman pengguna. Apalagi, Google meraup banyak pemasukan dari bisnis iklan online.

Google diketahui rela membayar sejumlah uang agar bisa masuk dalam program “Acceptable Ads” milik Eyeo, pengembang aplikasi AdBlock Plus. Tujuannya supaya AdBlock Plus tetap mengizinkan iklan Google ditayangkan di mesin pencari dan selot-selot iklan lainnya.

Google juga bergabung dengan kelompok industri periklanan Coalition for Better Ads yang menerbitkan standar iklan online yang lebih baik (Better Ads Standards) pada Maret 2017.

WSJ mengklaim bahwa Google berencana memutuskan untuk meluncurkan atau membatalkan fitur pemblokir iklan di Chrome ini dalam beberapa pekan ke depan.

Pada tahun lalu, Opera telah terlebih dahulu memasang fitur pemblokir iklan bawaan pada seluruh jenis perambannya, termasuk Opera untuk desktop, Opera untuk Android, dan Opera Mini.

Google Hire.

Google akan segera merambah layanan pencarian kerja profesional melalui layanan Google Hire. Pada layanan ini, perusahaan bisa memasang lowongan kerja dan merekrut karyawan yang diinginkan, sedangkan pencari kerja dapat mengunggah resume/curriculum vitae dan mencari pekerjaan yang sesuai.

Dikutip dari Engadget, Google Hire nantinya bakal bersaing dengan layanan sejenis yang sudah lebih dulu eksis di pasaran, seperti LinkedIn dan Glassdoor, atau Jobstreet, JobsDB, dan Karir.com untuk versi lokal di Indonesia. Belum lama ini, Facebook juga diberitakan sedang menggodok fitur pencarian kerja.

[BACA: Mirip LinkedIn, Facebook Kini Punya Fitur Pencari Kerja]

“Google Hire merupakan produk yang sedang dikembangkan untuk membantu pelanggan G Suite (aplikasi enterprise Google. red) mengelola proses perekrutan karyawan lebih efektif. Produk ini akan mengizinkan perusahaan mengumpulkan lamaran kerja secara online,” kata juru bicara Google.

Sempat muncul kekhawatiran bahwa perusahaan yang memasang lowongan kerja dapat melihat informasi rahasia dari para pelamar, termasuk sejarah pencarian mereka di mesin pencari Google. Tetapi, Google segera membantah spekulasi itu.

“Hanya informasi yang disediakan pelamar secara sukarela yang akan diserahkan kepada perusahaan pemasang lowongan kerja. Informasi bersifat pribadi tidak akan dibagikan,” tukas Google.

Google tidak mengungkapkan kapan layanan Google Hire akan diluncurkan kepada publik. Sejauh ini, baru beberapa perusahaan yang diperkenankan menjajal layanan tersebut, seperti Medisas, Poynt, DramaFever, SingleHop, dan CoreOS.

Ilustrasi Google Aero

Tuntutan pekerjaan yang berat membuat para pekerja tidak memiliki waktu untuk berjalan ke restoran untuk membeli makanan. Karena itu, jasa bisnis pengiriman makanan sangat booming dan menawarkan prospek bisnis yang besar.

Google meluncurkan aplikasi Aero di Mumbai dan Bengaluru, India yang memungkinkan pengguna memesan makanan dan mengatur layanan rumah tangga atau membuat jadwal janjian dengan layanan rumah tangga seperti tukang listrik, tukang pipa, pembersih, pelukis, dan layanan lainnya.

Google menjelaskan secara singkat bagaimana produk ini bekerja. Ide dasar aplikasi itu adalah mengkonsolidasikan pengiriman makanan dan layanan rumah tangga ke dalam aplikasi tunggal.

Cara penggunaanya, Aero akan meminta lokasi pengguna dan mendaftar semua layanan yang tersedia di wilayah pengguna. Layanan pertama adalah layanan pengiriman makanan. Google pun telah menggandeng Freshmenu, Box8, Holachef, Faasos, dan masih banyak lagi (tergantung lokasi).

Pengguna dapat mencari restoran, bahkan memfilter pilihan vegetarian atau bikin janji dengan pekerja layanan rumah tangga. Pengguna juga dapat membayar di aplikasi, kartu kredit, internet banking atau bayar tunai saat pemesanan tiba.

Pengguna bisa melihat harga makanan dan memesannya langsung via layanan. Kemudian, Aero akan mengirimkan permintaan itu ke penyedia layanan dan mengambil alih dari sana. Aero juga menawarkan jasa rumah tangga, termasuk layanan perawatan rumah seperti pertukangan, perbaikan pipa dan listrik hingga membersihkan rumah.

Tidak hanya itu, layanan Aero juga menawarkan tugas rumah tangga lainnya seperti mencuci baju, mencuci mobil, pengepakan barang dan memasak. Anda pun dapat memesan pelatih kebugaran dengan membuat janji melalui UrbanClap.

Daftar layanannya bahkan lebih dari itu, termasuk hal-hal seperti mengecat rumah, mengatur ekonomi rumah tangga, mekanik, sopir, reparasi sepatu dan bahkan membaca astrologi seperti dikutip Tech Crunch.

Selain Google. Amazon juga mengoperasikan Home Services yang melayani pencarian dan pemesanan jasa misalnya pemasangan instalasi home theater, renovasi rumah, pembersihan rumah, perawatan kebun, dan lainnya.

Areo sudah muncul di Google Play Store pada 12 April 2017 dan hanya untuk Android.

Fitur Similar Images pada mesin pencari gambar Google.

Google mempermudah para pengguna internet untuk belanja produk-produk yang dikenakan selebritas dan figur publik dunia secara online. Caranya dengan menambahkan fitur Similar Items pada mesin pencarian gambar (Google Image Search).

Fitur Similar Items dibekali dengan sistem pengenalan gambar berbasis mesin (machine vision) yang mampu mendeteksi barang-barang yang dipakai oleh objek di dalam foto. Setelah itu, Google akan menampilkan daftar produk yang mirip dengan barang-barang itu dan bisa dibeli online.

[BACA: Google Maps Uji Coba Fitur Informasi Tempat Parkir]

Contohnya, dalam hasil pencarian gambar di Google, Anda menemukan foto aktris Reese Witherspoon yang sedang mengenakan kacamata hitam, tas tangan berwarna krem, dan sepatu hak tinggi berwarna emas. Di bawah foto itu, Google akan menyertakan boks “Similar Items” yang berisi daftar produk sejenis, merek, harga, dan alamat situs belanja online yang menyediakannya.

Saat ini, fitur tersebut masih dalam tahap penyempurnaan. Pengguna baru bisa mencobanya di dalam situs pencarian mobile dan aplikasi pencarian Android.

Jenis produk yang bisa dikenali juga masih sangat terbatas pada kacamata, tas tangan, dan sepatu. Tetapi, Google berjanji akan mengembangkan fitur ini dan menambahkan varian produk lainnya ke dalam Similar Items, seperti pakaian dan perkakas rumah tangga.

Google juga mengajak para pemilik situs belanja online untuk memasukkan produk-produknya ke dalam koleksi Similar Items. Mereka cukup menambahkan metadata produk schema.org dan referensi gambar pada situsnya agar dapat ditelusuri oleh mesin pencari Google.

Google Pixel

Google akan mengucurkan dana senilai USD 880 juta atau sekitar Rp 11,706 triliun ke LG Display untuk ‘mengamankan’ suplai panel layar organic light-emitting diode (OLED) Pixel generasi kedua.

Namun, Google masih menunggu keputusan LG, apakah mau menerima kerjasama dan suntikan dana tersebut. Google bersedia menambah jumlah investasinya sesuai dengan kontrak yang LG tawarkan.

Samsung Electronics sudah menggunakan layar OLED untuk flagship seri Galaxy dan Apple berencana menggunakannya layar OLED untuk iPhone generasi terbaru seperti dikutip IB Times.

Ilustrasi Google Pixel

Sebelumnya, Google telah menggunakan layar AMOLED Samsung untuk Pixel dan Pixel XL. Namun, Google ingin beralih menggunakan panel layar dari pabrikan lainnya.

Karena itu, banyak pihak berpendapat, alasan Google beralih menggunakan panel layar LG karena Apple telah menandatangani kontrak dengan Samsung untuk menyuplai sekitar 70 juta unit panel OLED untuk iPhone 8.

Hingga saat ini belum terungkap pabrikan smartphone mana yang akan memproduksi Pixel 2. Pixel generasi pertama diproduksi oleh HTC. Tahun ini, ponsel pintar keluaran terbaru akan menggunakan layar OLED. Ya, selamat tinggal layar LCD.

Ilustrasi Google Fact Check

Google meluncurkan fitur Fact Check pada potongan artikel dalam pencarian berita untuk melawan penyebaran berita hoax alias palsu di laman pencariannya dan memberikan informasi kepada pengguna jika berita yang akan dibaca telah diperiksa oleh tim Google.

Sebelumnya, Google menuai kritikan dari berbagai pihak karena terlibat menyebarkan informasi yang salah.

Google meningkatkan kemampuan Fact Check hingga di setiap listing di halaman berita dan katalog pencarian. Google pun menggandeng PolitiFact dan Snopes untuk memverifikasi jutaan konten yang akan tampil pada laman pencariannya.

“Kami berharap pemeriksaan ini bisa memberikan informasi yang benar kepada pembaca,” tulis Google dalam blog resminya seperti dikutip IB Times.

Fitur Fact Check pertama kali hadir di Google News di Inggris dan Amerika Serikat pada Oktober 2016 lalu.

Ketika pengguna mencari konten di Google, mereka bisa melihat tag pada mesin pencarian seperti opini, sumber lokal dan paling banyak dikutip. Pengguna pun bisa melihat informasi yang mengklaim dan fakta klaim.

“Ketika Fact Checks muncul di mesin pencarian, kami percaya orang bisa lebih mudah mengakses fact check,” ujar Google.

Penerbit yang ingin tergabung dalam fact check harus menggunakan Scheme.org ClaimReview pada halaman fact check atau mengusung widget yang dikembangkan Duke University Reporters Lab dan Jigsaw.

TERBARU

Jimmy Wales (Pendiri Wikileaks)Berita hoax alias palsu telah menjadi musuh bersama masyarakat. Jimmy Wales (Pendiri Wikipedia) meluncurkan Wikitribune, sebuah portal berita berbasis komunitas...