Tags Posts tagged with "Google"

Google

Ilustrasi Gmail

Gmail merupakan salah satu layanan e-mail dengan jumlah pengguna terbanyak saat ini mencapai 1,2 miliar orang. Namun, Google mendapat kritikan karena Google melakukan scanning isi inbox setiap pengguna.

Alphabet Inc akan menghentikan pemindaian konten Gmail untuk personalisasi iklan pada akhir tahun ini, mengingat Google menganalisis email yang keluar dan masuk untuk pelanggan layanan gratis Gmail.

Hal itu disampaikan Google melalui unggahan blog Diane Greene (Kepala Komputasi Cloud Google) yang bergabung dengan perusahaan tersebut pada 2015. Google harus memindai setiap kata yang ada di e-mail untuk menentukan iklan yang tepat bagi pengguna.

“Konten Gmail konsumer tidak akan digunakan atau dipindai untuk personalisasi iklan setelah perubahan ini,” tulis Google seperti dilansir Engadget.

Setelah penghapusan itu, bagaimana cara Google mengumpulkan data pengguna untuk iklan.

Tentunya, Google masih punya banyak cara untuk melakukan scanning seperti Google dapat melihat pola pemutaran video di YouTube, pencarian kata kunci melalui layanan Google Search, situs yang dikunjungi pengguna, dan aplikasi yang digunakan pengguna Android.

“G Suite Gmail sudah tidak digunakan untuk melakukan personalisasi iklan dan Google telah memutuskan untuk melakukan hal yang sama untuk pelanggan Gmail gratis kami di tahun ini,” tulis Green dalam blog post.

Google akan meyakinkan lebih banyak perusahaan untuk menggunakan layanan tersebut dengan memastikan bahwa kegiatan mereka tidak akan membahayakan keamanan data korporat.

“Konten milik pelanggan Gmail tidak akan digunakan atau dipindai untuk menawarkan iklan yang sesuai setelah ini. Keputusan ini sesuai dengan bagaimana kita menampilkan iklan dalam produk Google yang lain,” tulisnya.

Selain Google, Facebook dan Apple sudah melakukan hal serupa untuk mencari iklan yang cocok untuk pengguna.

Meski ada satu dua nama yang cukup dominan pada sektor aplikasi perpesanan (messaging), tidak menyurutkan semangat Google untuk mencoba kembali peruntungannya di sektor ini. Pada akhir bulan September 2016 lalu, Google meluncurkan aplikasi perpesanan bernama Allo.

Yang menjadi amunisi bagi Google untuk melambungkan Allo adalah fitur Google Assistant yang disematkan di dalamnya. Jadi yang pertama kali akan mengajak “ngobrol” pengguna Allo adalah Google Assistant.

Google Allo memiliki berbagai fitur yang lazimnya ada pada sebuah aplikasi perpesanan, yaitu pengiriman teks, suara, gambar, stiker, lokasi, dan tentu saja foto yang bisa diambil langsung dengan kamera, baik depan maupun belakang.

Perlu dicatat, suara yang dapat dikirimkan adalah berupa rekaman suara, bukan voice call. Ya, sampai dengan artikel ini ditulis, fitur yang belum ada pada Google Allo adalah voice dan video call.

Google Allo juga dapat mempelajari karakter percakapan penggunanya dan saat melakukan percakapan teks, Google Assistant bisa memberikan saran berupa teks yang menjadi tanggapan dalam sebuah percakapan. Jika pengguna setuju dengan tanggapan tersebut, dia tinggal menekan saja dan pesan yang disarankan itu otomatis langsung terkirim.

Foto yang dikirimkan juga dapat diolah terlebih dahulu dengan menambahkan teks atau coretan langsung ke dalam foto.

YouTube VR 180

YouTube dan tim Google Daydream memperkenalkan format video terbarunya VR180 yang merupakan versi lebih kecil dari video 360.

Bila video 360, pengguna bisa melihat berputar 360 derajat. Maka VR180, pengguna hanya bisa melihat 180 derajat.

Meski jangkauannya lebih rendah, pengalaman VR180 jauh lebih menyenangkan karena pembuatan video VR jauh lebih mudah. Apalagi, VR180 akan mendukung platform Google Daydream, Cardboard, dan PlayStation VR.

Anda pun dapat menyaksikan virtual reality (VR) 3D melalui aplikasi YouTube dengan Google Cardboard, Daydream atau headset Playstation VR seperti dikutip The Verge.

Tim Google Daydream dan YouTube akan menghadirkan kamera khusus VR180. Bahkan Xiaomi Yi, Lenovo, dan LG juga akan berkomitmen menghadirkan perangkat kamera VR180. Nantinya, Anda bisa mengambil video dengan kamera yang sudah bersetifikasi VR180.

Anda pun bisa dapat langsung mengedit hasil video dengan Adobe Premier Pro dan software lainnya.

Ilustrasi Amazon Echo

Amazon masih merajai pasar speaker cerdas di Amerika Serikat. Berbekal tiga varian produk, Echo, Tap, dan Dot, Amazon berhasil memperoleh 40,7 persen pangsa pasar, jauh di atas dua pesaing terdekatnya, Sonos dan Google.

Sejauh ini, Amazon Echo berhak menyandang status sebagai speaker cerdas terpopuler di AS dengan pangsa pasar 21,6 persen. Di posisi kedua, terdapat Amazon Dot dengan pangsa 18,2 persen. Sonos menyusul di posisi ketiga dengan pangsa 15,1 persen.

Bagaimana dengan Google? Hasilnya cukup mengejutkan. Google Home hanya mampu meraup pangsa pasar 3,2 persen. Hal ini menunjukkan betapa sulitnya menggoyang dominasi Amazon yang sudah lebih dulu hadir, meski mengusung merek sebesar Google.

Firma riset Strategy Analytics menyebut bahwa faktor utama keunggulan Amazon adalah kejeliannya menyediakan varian produk dengan harga premium dan terjangkau. Amazon Echo merupakan speaker premium dengan harga US$179 sedangkan Amazon Echo Dot menyasar segmen menengah ke bawah dengan harga US$49.

Di sisi lain, Google Home hanya tersedia dalam satu varian yang dihargai US$129. Sementara itu, Sonos sanggup menjual lebih banyak unit daripada Google karena berfokus pada konsumen yang peduli dengan kualitas audio. Varian speaker cerdas Sonos antara lain PLAY:1, PLAY:3, dan PLAY:5 yang dibanderol US$199 – US$499.

Dalam waktu dekat, pasar speaker cerdas akan diramaikan oleh datangnya Apple HomePod pada Desember 2017.

HomePod memang bakal dijual dengan harga yang lebih mahal daripada kompetitor, US$349. Tetapi, Apple menjanjikan kualitas suara high-fidelity, layaknya speaker audio profesional. Karena itu, Strategy Analytics pun memperkirakan HomePod akan lebih berbahaya bagi Sonos daripada Amazon.

Ilustrasi Google Job

Kini pengguna Google dapat semakin mudah mencari pekerjaan. Google meluncurkan Google Jobs, fitur terbaru pencarian pekerjaan di mesin pencarinya yang berbasis teknologi kecerdasan buatan (AI).

Google Jobs memberi pilihan kepada pengguna untuk menelusuri lowongan pekerjaan berdasarkan lokasi, waktu pengumuman, dan perusahaan yang memerlukan tenaga baru sehingga dapat menampilkan pekerjaan yang relevan dengan pengguna secara langsung.

Pengguna bisa mengetikan kata kunci seperti “pekerjaan di sekitar saya” pada kotak pencarian Google di peramban desktop ataupun mobile.

Hasilnya, Google Jobs akan menunjukan deretan pekerjaan yang ada di sekitar lokasi pengguna, lengkap dengan jenis pekerjaan dan badan usaha yang membutuhkannya.

Kemudian, Anda pun bisa mencari lowongan pekerjaan yang spesifik di Google Jobs. Anda cukup mengetik sektor yang diinginkan dengan menambahkan kata “jobs”. Misal, “retail jobs” untuk mencari pekerjaan di sektor ritel.

“Mencari sebuah pekerjaan seperti kencan. Masing-masing orang punya preferensi unik dan hanya ada satu orang yang bisa mengisi pekerjaan itu,” kata Nick Zakrasek (Manajer Produk Google) seperti dikutip TechCrunch.

Ilustrasi Google Job

Mesin pencarian Google itu juga menarik hasil pencarian yang berada di laman lowongan kerja seperti LinkedIn, Monster, WayUp, DirectEmployers, CareerBuilder, Facebook, dan lainnya, ke laman hasil pencarian Google.

Conal Thompson (CTO Monster.com) yang memiliki layanan situs lowongan pekerjaan menyambut baik fitur baru Google tersebut.

“Produk pencarian pekerjaan baru dari Google ini searah dengan strategi inti kami  dan memudahkan para pelamar menemukan pekerjaan dari semua situs serta memperbaiki kriteria pencarian sesuai kebutuhan mereka,” tutur Thompson.

Seperti situs LinkedIn, Google akan mengizinkan pencari kerja untuk mengaktifkan peringatan atau notifikasi, agar mereka menerima pemberitahuan email saat ada pekerjaan baru.

Fitur baru ini akan menjadikan Google sebagai saingan berat Indeed.com, mesin pencari kerja populer dengan lebih dari 200 juta pengunjung setiap bulannya.

Pengguna Google yang menggunakan mesin pencarian dalam bahasa Inggris pada perangkat desktop dan mobile akan mendapatkan prioritas mencicipi fitur pencarian kerja itu terlebih dahulu.

Ilustrasi YouTube

Serangan teroris yang terjadi di beberapa negara belakangan ini membuat perusahaan raksasa teknologi Alphabet Inc mengambil langkah tegas dengan mengeluarkan kebijakan baru yang akan memperketat konten radikal di YouTube.

Google akan segera mengidentifikasi dan menghapus video yang memuat konten radikal seperti mempromosikan terorisme.

Selain itu, Google akan memberikan teguran keras kepada pengguna yang mengunggah video yang menyinggung unsur sara atau yang tidak memenuhi standar kebijakan mereka. Hukumannya, video tersebut tidak dapat dimonetisasi dengan periklanan, direkomendasikan, atau dikomentari oleh pengguna.

“Kami pikir serangan ini ada di antara keseimbangan kebebasan berpendapat dan akses informasi tanpa mempromosikan pandangan menyinggung yang ekstrem,” kata Kent Walker (General Counsel dan Senior Vice President Google) seperti dikutip Reuters.

Google pun akan menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk memberantas konten radikal di platformnya dan menambah sumber daya manusia untuk mengidentifikasi dan menghapus video bermasalah.

Tak hanya itu, Google juga akan meminta pertimbangan dari pakar organisasi nonpemerintah untuk menentukan video mana yang merupakan propaganda kekerasan dan pidato religius atau berita yang layak diberitakan.

Google pun akan memperluas kerja sama dengan kelompok kontra-ekstremis untuk mengidentifikasi konten yang dapat digunakan untuk membuat radikalisasi dan perekrutan ekstremis.

Bahkan, Google akan membujuk calon ISIS untuk bertobat dengan menyasar iklan daring dan mengalihkannya ke video anti-teroris untuk mengubah pemikiran mereka sehingga tidak jadi bergabung dengan kelompok tersebut.

Sekadar informasi, Google, Facebook, Twitter dan lainnya telah meningkatkan perjuangan kolektif mereka melawan terorisme.

Tak hanya Google, Facebook juga menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI) seperti, pencocokan gambar dan pemahaman bahasa untuk mengenali dan menghapus muatan radikal di dalam platformnya dengan cepat.

Ilustrasi Google Pixel XL 2

Google akan kembali menggebrak pasar smartphone dengan meluncurkan varian terbaru dari Google Pixel yaitu Pixel XL 2.

Situs benchmark GFXBench membeberkan spesifikasi Google Pixel XL 2. Google Pixel XL 2 akan mengusung layar 5,6 inci dengan resolusi 2560 x 1312 pixel, prosesor Qualcomm Snapdragon 835, RAM 4 GB dan memori internal berkapasitas 100 GB.

Selain itu, Google Pixel XL 2 akan mengusung kamera belakang beresolusi 12 megapixel dan kamera depan 8 megapixel. Terakhir, smartphone ini akan berjalan di sistem operasi Android 7.1.1 Nougat seperti dikutip Phone Arena.

Ilustrasi Benchmark Google Pixel XL2

Rencananya, Google akan meluncurkan Google Pixel XL 2 dalam waktu dekat.

Sejauh ini Google telah menggelontorkan investasi US$ 880 juta atau setara Rp11,6 Triliun untuk semua seri anyar Pixel. Tingginya biaya tersebut karena besarnya permintaan produksi layar OLED dari LG.

Jika LG setuju, Google akan meningkatkan nilai investasi, tergantung pada rincian kontrak, seperti soal pasokan produk. Namun, sekali lagi, tidak ada jaminan bahwa bocoran benchmark akan selalu benar.

Kalaupun terbukti benar, kemungkinan besar Pixel XL 2 ini hanya sebuah prototipe yang spesifikasinya masih bisa berubah. Kita tunggu saja!.

Suasana kantor Google di Indonesia.

Harga tempat tinggal di area San Francisco dan Silicon Valley terus melonjak seiring pertumbuhan ekonomi di pusat teknologi ini.

Bayangkan saja, harga sewa rata-rata apartemen dengan satu kamar tidur di San Francisco sebesar US$3.320/bulan dan apartemen dua kamar sebesar US$4.430/bulan. Angka ini dua kali lebih tinggi daripada rata-rata harga sewa bulanan apartemen di seluruh Amerika Serikat.

Bahkan, menurut sebuah riset yang dikutip The Guardian, seorang insinyur di perusahaan teknologi papan atas mesti merogoh 40 – 50 persen dari gaji tahunannya hanya untuk membayar sewa apartemen.

Tidak mengherankan jika sebagian besar karyawan perusahaan teknologi mengaku kesulitan untuk mencari tempat tinggal di wilayah Silicon Valley dan sekitarnya.

Melihat keadaan tersebut, Google, melalui induk perusahaannya Alphabet, dikabarkan sudah menyiapkan dana US$30 juta untuk membangun apartemen bagi 300 orang karyawannya yang paling membutuhkan.

Seperti dilansir The Wall Street Journal, apartemen ini dipesan Alphabet dari Factory OS, sebuah startup di bidang konstruksi yang spesialis membangun perumahan dan apartemen modular. Konsep modular ini diusung dengan tujuan menghemat biaya pembangunan dan memungkinkan penambahan unit di kemudian hari jika dibutuhkan.

Pembangunan konsep apartemen modular Factory OS. [Kredit: WSJ]

Alphabet belum mengungkapkan seberapa besar biaya sewa yang akan mereka tawarkan bagi para karyawan. Namun, berdasarkan proyek Factory OS sebelumnya, apartemen modular ini bisa menghemat biaya sewa sampai US$700 per bulan.

Selain Alphabet, perusahaan teknologi lainnya di Silicon Valley juga sedang menjajaki inisiatif serupa. Facebook, misalnya, telah berkomitmen untuk membuat 1.500 unit hunian karyawan di Menlo Park, lokasi markas besarnya, dengan 15 persen di antaranya tergolong hunian bersubsidi.

Krisis hunian terjangkau di Silicon Valley diperkirakan bakal terus berlanjut seiring ekspansi perusahaan teknologi, seperti Apple yang akan memindahkan ribuan karyawannya ke kantor barunya, Apple Park, dan Salesforce yang sedang membangun calon gedung tertinggi di San Francisco dengan 61 tingkat.

Ilustrasi Google Pixel 2

Tak mau kalah dengan Apple yang memiliki prosesor buatan sendiri untuk perangkatnya seperti iPhone. Google pun akan mengembangkan prosesor buatannya sendiri. Bahkan, Google rela merekrut Manu Gulati yang sebelumnya menjabat sebagai arsitek di Divisi Pembuatan Chip Apple.

Dalam profile LinkedIn-nya, Manu Gulati tercatat pernah bekerja di perusahaan pencipta iPhone selama 8 tahun. Sedangkan di Google, ia mendapatkan jabatan sebagai pimpinan arsitek system-on-chip di Google.

Gulati pun akan dengan senang hati membeberkan keunggulan chip prosesor Apple kepada Google, mengingat chipset prosesor buatan Apple menawarkan kinerja yang cepat, seperti dilansir CNBC.

Manu Gulati memiliki track record yang cemerlang. Bahkan ia adalah pegawai kunci yang mengembangkan chip untuk produk-produk seperti iPhone, iPad, dan Apple TV.  Gulati pun pernah bekerja dengan AMD dan Broadcom, dua perusahaan prosesor ternama di Amerika Serikat.

Google memang serius berinvestasi dalam pembuatan chip sendiri karena dapat meningkatkan kontrol lebih besar terhadap ekosistem perangkat keras dan perangkat lunak Android.

Apalagi, Google memiliki smartphone Google Pixel yang saat ini masih menggunakan prosesor buatan Qualcomm dan perangkat elektronik lainnya, yaitu speaker pintar Google Home, headset VR DayDream, dan versi terbaru dari Chromecast.

Selain Gulati, Google juga sedang mencari desainer chip lain untuk melengkapi anggota timnya.

Ilustrasi Aplikasi Android Excellence

Google meluncurkan program Android Excellence pada Google Play Store yang menunjukkan koleksi aplikasi dan game terbaik pilihan kurator Google.

Aneka aplikasi yang masuk ke dalam daftar ini dianggap mampu memberikan pengalaman menarik bagi pengguna Android, mencakup desain yang keren, kinerja teknis, lokalisasi, dan pengoptimalan perangkat pada Google Play.

Saat ini, Android Excellence terdiri dari dua bagian yaitu Aplikasi dan Game yang berada di bagian bawah halaman Editors’ Choice.

Google akan terus mengembangkan program Google Android Excellence dan memperbaruinya tiga bulan sekali.

Berikut daftar aplikasi dan game yang masuk dalam daftar Android Excellence kali ini, seperti dikutip The Verge:

Android Excellence Apps

AliExpress, B&H Photo Video, Citymapper, Drivvo, drupe, Evernote, Hotel Tonight, Kitchen Stories, Komoot, Lifesum, Memrise, Pocket, Runtastic Running & Fitness Tracker, Skyscanner, Sleep as Android, Vivino.

Android Excellence Games

After the End Forsaken Destiny, CATS: Crash Arena Turbo Stars, Golf Clash, Hitman GO, Horizon Chase – World Tour, Kill Shot Bravo, Lineage Red Knights, Nonstop Knight, PAC-MAN 256 – Endless Maze, Pictionary, Reigns, Riptide GP: Renegade, Star Wars: Galaxy of Heroes, Titan Brawl, Toca Blocks, Transformers: Forged to Fight.

TERBARU

Kedua tablet grafis itu menawarkan kinerja yang andal dan harga yang terjangkau untuk digunakan di berbagai bidang