Tags Posts tagged with "IBM"

IBM

Lugas M. Satrio (Presiden Direktur, Blue Power Technology) membuka acara workshop AI berbasis cloud di Binus University.

Menyambut tren penggunaan teknologi cloud computing dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), kebutuhan terhadap SDM TI yang terampil di kedua bidang itu pun turut meningkat.

Blue Power Technology (BPT), anak perusahaan CTI Group, ingin membantu mempersiapkan SDM TI yang siap bekerja dan beradaptasi dengan solusi-solusi itu. Caranya melalui pelaksanaan workshop dan online hackathon terkait pemanfaatan sistem AI berbasis cloud, yaitu perpaduan antara IBM Watson dan Bluemix.

Kegiatan ini digelar di Binus University dan Universitas Gunadarma Jakarta serta diikuti oleh mahasiswa dan calon programmer di kedua perguruan tinggi.

Dalam workshop tersebut, para peserta tidak hanya belajar mengenai cloud platform sebagai infrastruktur untuk membuat, menjalankan, dan mengembangkan berbagai aplikasi, tetapi juga mengeksplorasi dan berkreasi dengan fitur AI secara gratis, di antaranya fitur chatbot, emotion recognition, dan language.

Sementara itu, acara online hackathon bertajuk Bluemix Challenge dilaksanakan pada 26 September – 30 Desember 2017. Setiap tim, maksimal beranggotakan tiga orang, wajib menggunakan Bluemix dalam pembuatan aplikasi, baik web-based maupun mobile, setelah mendaftar di Forum BPT Bluemix Community (BBC).

Penjurian dilihat dari enam kriteria, yaitu keunikan aplikasi, kegunaan dan dampak, kelengkapan, fitur, tampilan, dan banyaknya service Bluemix yang digunakan. Peserta yang menang akan mendapatkan hadiah berupa pemasaran aplikasi dan profit dari penjualan aplikasi tersebut.

“Layanan AI berbasis cloud akan menjadi elemen penting dalam infrastruktur TI enterprise, namun dalam pengadopsiannya masih terkendala dengan ketersediaan SDM berkualitas. Untuk itu, kami hadir membantu para mahasiswa menjadi tenaga kerja terampil yang dapat memanfaatkan cloud platform dan AI agar proses pengembangan software berjalan lebih mudah dan kreatif,” ujar Lugas M. Satrio (Presiden Direktur, BPT).

BPT adakan workshop AI berbasis cloud di Binus University, Jakarta.

Bluemix sebagai cloud platform memiliki engine berbasiskan Cloud Foundry, yaitu open source project untuk membangun layanan Cloud PaaS. Tidak seperti kompetitornya, Bluemix memiliki kemampuan analitik yang memungkinkan pengguna membuat aplikasi dan layanan yang lebih pintar dan menarik.

Dengan Bluemix, pelanggan dapat mengatur aplikasi dan datanya sendiri, sedangkan infrastruktur seperti runtime, sistem operasi, jaringan, server, penyimpanan, virtualisasi, dan perangkat keras disediakan serta dirawat langsung oleh IBM. Pengguna tidak perlu repot dalam hal pengaturan dan perawatan terhadap aplikasi yang dibuat karena mereka dapat langsung mencoba membuat aplikasi dan menyimpan kode serta datanya di IBM Cloud.

IBM Watson

Mau tidak mau, industri dan perusahaan akan bergerak ke era digital yang serba cepat dan ringkas. Karena itu, perusahaan dan industri harus melakukan transformasi digital supaya tidak tertinggal.

Hengky Chandra (Country Manager Global Technology System (GTS) IBM Indonesia) melihat hampir setiap industri dan perusahaan mulai mengadopsi solusi transformasi digital karena terbukti solusi itu mampu meningkat keuntungan perusahaan dan produktivitas karyawannya.

“Saat ini perangkat mobile sudah menjadi end point untuk bekerja dan kita sudah tidak lagi bergantung pada komputer desktop di kantor,” katanya dalam ajang IBM Cognitive Workplace, Selasa.

Dalam transformasi digital, perusahaan-perusahaan bisa menerapkan banyak strategi bisnis seperti manajemen talenta, pemberdayaan karyawan yang ada, pembagian beban kerja yang merata dan penerapan otomasi seperti pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI).

“Teknologi AI bisa digunakan di berbagai lini seperti chatbot yang memungkinkan karyawan tidak perlu menunggu lama jika ada sesuatu yang harus ditanyakan ke departemen lain, bahkan ke departemen HR,” ucapnya.

Hengky mengatakan teknologi AI sangat cocok untuk pekerjaan rutin dan repetitif seperti service desk.

“AI bisa memudahkan pekerjaan manusia karena berbagai tugas rutin dan repetitif bisa digantikan secara lebih efektif. Apa keuntungannya? Tentu saja biaya operasional bisa berkurang dan produktivitas bisa bertambah,” ujarnya.

Dalam penyediaan solusi AI, IBM sudah memiliki solusi Watson, sebuah platform AI yang memiliki kemampuan kognitif untuk mengenal natural language dan belajar sendiri bahkan bisa berinteraksi langsung dengan manusia.

“Saat ini sudah ada beberapa perusahaan di Indonesia yang menggunakan Watson. Namun penggunaannya masih belum menyeluruh untuk satu perusahaan,” ucapnya.

Sementara itu IBM Indonesia hari ini menggelar sebuah acara bernama IBM Cognitive Workplace yang merupakan acara lanjutan dari IBM Watson Indonesia Summit 2017 pada Agustus lalu.

IBM Cognitive Workplace ini merupakan ajang yang mengedepankan bagaimana digital disruption telah merubah cara orang menjalani kehidupan dan bekerja, yang juga berdampak pada cara sebuah organisasi menjalankan Teknologi Informasinya.

“Acara kali ini membahas bagaimana sistim kognitif pada kecerdasan buatan (AI) bisa membuat karyawan perusahaan bekerja secara lebih optimal,” ujarnya

Ilustrasi pita magnetik IBM.

IBM mencatat prestasi menakjubkan dalam teknologi penyimpanan data.

Baru-baru ini, mereka berhasil menyimpan data sebesar 330 terabyte ke dalam satu keping cartridge seukuran telapak tangan manusia atau sekitar 201 miliar bit per inci persegi. Jika dicontohkan, 330 terabyte data itu setara dengan 330 judul buku.

Pencapaian ini sekaligus menandai pecahnya rekor dunia sebelumnya yang juga dipegang IBM dengan penyimpanan 220 terabyte data atau sekitar 123 miliar bit per inci pada tahun 2015.

Seperti dilansir The Verge, cartridge ini dikembangkan bersama oleh IBM dan Sony Storage Media Solutions. Di dalamnya, terdapat pita magnetik yang dibuat dengan metode sputtered. Apabila dibandingkan dengan pita magnetik standar yang biasa dipakai pada tape drive komersial, pita magnetik sputtered ini mampu menyimpan data dengan kepadatan lebih dari 20 kali lipat.

Melalui penelitian ini, IBM membuktikan bahwa teknologi pita magnetik masih layak digunakan untuk menyimpan data, setidaknya hingga satu dekade ke depan.

“Pita biasanya digunakan untuk pengarsipan video, pencadangan (backup) data, replika data untuk keperluan pemulihan bencana, dan retensi informasi on-premise. Tetapi, industri juga sudah bergerak untuk menyimpan data dan aplikasi di cloud,” kata Evangelos Eleftheriou (Peneliti IBM).

“Biaya untuk membuat pita sputtered memang sedikit lebih mahal ketimbang pita komersial, tetapi potensi penyimpanan data dalam kapasitas sangat besar membuatnya lebih menarik secara cost per terabyte. Hal ini membuatnya lebih praktis untuk kegunaan penyimpanan data ‘dingin’ (data yang jarang diakses. red) di cloud,” papar Evangelos.

Pencapaian perkembangan teknologi pita magnetik IBM.

 

Gunawan Susanto Credit foto: InfoKomputer/Alphons Mardjono

Teknologi kecerdasan buatan (AI) dan machine learning akan menjadi tren industri IT di masa depan, menyusul lahirnya berbagai perangkat berbasis Internet of Things (IoT).

Teknologi AI yang memiliki kemampuan lebih pintar dari manusia menimbulkan ketakutan dan kekhawatiran bahwa AI dapat mengambil pekerjaan manusia di masa depan. Kehadiran teknologi AI dapat membuat rata-rata dan jam kerja yang lebih pendek dan menghemat pengeluaran perusahaan. Dampaknya, pemasukan gaji karyawan akan berkurang seiring kehadiran teknologi AI.

Dalam studi yang diadakan pada 2013, dua akademisi dari Oxford University menyebutkan ada 47 persen pekerjaan yang diambil alih oleh AI. Teknologi AI diterima di industri, seperti transportasi dan pertanian. Sedangkan, di beberapa bidang lain adopsi teknologi AI terlihat lambat.

Karena itu, muncul ketakutan bahwa teknologi AI bisa menjadi ancaman kelangsungan hidup manusia karena mampu membuat manusia pengangguran.

Namun, Gunawan Susanto (Presiden Direktur IBM Indonesia) mengatakan solusi kecerdasan buatan (AI) dan machine learning tidak akan menggantikan peran pekerjaan manusia bahkan membuat mampu membuat manusia pengangguran. Sebaliknya, teknologi AI dan machine learning dapat meningkatkan produktivitas manusia dan mengajak pengguna atau manusia untuk terus belajar serta meningkatkan kemampuannya.

“Saya tekankan AI tidak akan menggantikan manusia tetapi membuat manusia lebih produktif lagi dan AI bisa meningkatkan skala dan model bisnis perusahaan,” katanya dalam ajang IBM Watson Summit 2017 di Jakarta, Selasa.

Gunawan mengatakan tidak semua jenis pekerjaan yang bisa dilakukan teknologi AI terutama pekerjaan manusia yang menyangkut leadership, moral, human sense. Misal, AI akan menilai karyawan yang tidak capai target pekerjaan maka layak diberi sangsi bahkan dipecat. Berbeda dengan manusia, manusia akan melihat terlebih dahulu kenapa karyawan itu tidak bagus?. Bisa jadi, karyawan itu menunggu keluarganya yang sakit di rumah sakit sehingga pekerjaan terkendala.

“Jika AI mampu mengganti pekerjaan manusia, maka profesi yang paling banyak menjadi korbannya adalah CEO. Tapi tidak mungkin, karena AI tidak memiliki leadership dan moral,” ujarnya

“Orang selalu takut dengan sesuatu yang baru. Ketika mobil pertama kali hadir, orang-orang takut kalau kehadiran mobil bisa menggantikan kendaraan saat itu kuda karena kuda terbukti meningkatkan produktivitas mereka kala itu. Tetapi, kehadiran mobil mampu meningkatkan produktivitas manusia daripada memakai kuda,” ucapnya.

Kehadiran AI dapat meningkatkan produktivitas perusahaan yang menggunakannya. Gunawan pun membeberkan kemampuan IBM Watson yang berbasis AI sukses di bidang kesehatan, terutama onkologi. Watson Oncology telah digunakan di Bumrungrad International Hospital, Thailand untuk membantu dokter menentukan jenis kanker dan rekomendasi pengobatan pasiennya.

“IBM meriset semua data pasien rumah sakit dan memberikan solusi penanganan kepada dokter sehingga bisa menyelamatkan atau menolong pasiens secepatnya,” ucapnya.

“Ini baru satu kisah sukses AI. Belum kisah-kisah sukses lainnya,” ujarnya.

Gunawan Susanto – Presiden Direktur IBM Indonesia membuka ajang IBM Watson Indonesia Summit 2017

IBM Indonesia, perusahaan solusi kognitif dan cloud platform terkemuka menggelar IBM Watson Indonesia Summit 2017 untuk pertama kalinya di Indonesia. Dalam konferensi itu, IBM mengajak para pelaku bisnis dan industri mengenal lebih jauh tentang cognitive computing dan peluang bisnis yang besar.

IBM pun mengundang sejumlah pelaku bisnis terkemuka dari berbagai industri seperti Softbank Telecom Indonesia, Unified Box, dan Blue Bird untuk berbagi bagaimana mereka bertransformasi dan mengembangkan bisnis mereka dengan memanfaatkan solusi kognitif dan cloud platform.

Para peserta konferensi juga melihat implementasi solusi kognitif dan cloud platform IBM seperti Watson Analytic, Watson IOT, Watson Commerce, Solusi IBM Power dan Smart City, Solusi IBM Power dan Analytic, Blockchain dan Watson IOT, dan solusi lain dari Independent Software Vendor.

IBM mengungkapkan sebanyak 80 persen data di dunia merupakan “dark data” dalam bentuk tulisan, video maupun gambar yang terlewatkan dan tak bisa dianalisa. Padahal, data itu dapat bermanfaat bagi kinerja industri maupun perseorangan.

Gunawan Susanto (Presiden Direktur IBM Indonesia) mengatakan Watson dapat memahami “dark data” yang tidak terstruktur tersebut dan mengolahnya sehingga bermanfaat bagi kehidupan manusia.

“Watson dapat memberikan solusi dan rekomendasi serta memberikan analisa model bisnis sehingga dapat berkembang menjadi lebih baik dan efektif,” katanya di Jakarta, Selasa.

Di ASEAN, Watson banyak digunakan dalam bidang kesehatan, terutama onkologi. Watson Oncology telah digunakan di Bumrungrad International Hospital, Thailand untuk membantu dokter menentukan jenis kanker dan rekomendasi pengobatan pasiennya.

Selain itu, perusahaan asuransi Singapura, Income juga menggunakan Watson untuk proses analisis dan administrasi klaim asuransi yang lebih efektif.

“Kami berharap dengan adanya IBM Watson Indonesia Summit 2017, para pelaku industri dapat memahami lebih dalam dan melihat lebih jelas bagaimana Watson cognitive computing digunakan secara nyata,” ujarnya.

Ilustrasi smart city. [kredit: blog.cedrotech.com]

Lembaga riset Citiasia mencatat empat kendala dalam proses pengembangan konsep smart city, yaitu masalah pembiayaan yang menempati posisi teratas, diikuti dengan masalah regulasi, sumber daya manusia, dan infrastruktur.

Kendala serupa juga dirasakan daerah yang sudah menerapkan konsep tersebut. Lembaga riset IDC menyebutkan sebanyak 90% kota di Indonesia berpotensi gagal memanfaatkan data smart city dan aset digitalnya lantaran kurangnya pendanaan, proses, manajemen proyek, dan keterampilan manajemen perubahan.

Blue Power Technology (BPT), anak perusahaan CTI Group, mencoba menjawab tantangan tersebut dengan menawarkan program managed service di bidang smart city melalui solusi Government Interactive Response Center (GIRC). Program ini diklaim dapat mewujudkan proyek kota cerdas yang hemat biaya dan mudah.

“Kami menyadari bahwa masalah utama investasi smart city adalah biaya dan kompleksitas. Melalui program managed service GIRC ini, pelanggan tidak dibebani oleh biaya yang besar untuk proyek smart city mereka karena pembayaran dilakukan hanya untuk operasional, yaitu setiap bulan selama kontrak berlangsung atau tiga tahun,” kata Lugas M Satrio (Presiden Direktur, PT Blue Power Technology) dalam rilis pers.

“Pelanggan juga tidak perlu pusing melakukan implementasi, mengelola aplikasi, maupun monitoring operasional harian mengingat proses ini cukup kompleks. Kami memiliki tim ahli khusus yang dapat mengambil alih tugas tersebut sehingga pelanggan dapat fokus meraih goal dari proyek smart city serta melakukan hal strategis lainnya,” Lugas menambahkan.

President Director, Blue Power Technology, Lugas M. Satrio.

Keunggulan GIRC

GIRC merupakan solusi smart city berbasis Intelligent Operations Center (IOC) milik IBM yang diluncurkan oleh BPT pada awal 2015 untuk membantu pemerintah daerah dalam mengelola wilayah dan memonitor performa seluruh aparat agar dapat memberikan pelayanan lebih baik terhadap warga.

Solusi ini memadukan perangkat Emergency Management, sensor, CCTV, dan video analytics yang memungkinkan penerimaan informasi dan data serta pengambilan tindakan secara real time terhadap keadaan darurat. Melalui solusi ini, pemerintah dapat menyelesaikan permasalahan di satu kota, berinteraksi dengan warga, meningkatkan responsifitas terhadap keluhan warga, dan memantau kinerja aparat.

Untuk solusi GIRC, BPT menyediakan produk lengkap mencakup hardware dan software berikut layanan implementasi sampai purnajual kepada pelanggan.

Program ini didukung oleh para profesional TI berpengalaman dan bersertifikat internasional yang akan memonitor data dan informasi yang masuk, memberikan analisis guna mengantisipasi terjadinya masalah seperti kemacetan, kriminalitas, banjir, pemborosan energi, dan insiden tertentu yang berpotensi mengganggu keamanan dan kenyamanan warga.

IBM akan segera kehilangan salah satu pelanggan public cloud terbesarnya, yaitu WhatsApp. Pasalnya, Facebook berencana memindahkan data center WhatsApp dari platform IBM SoftLayer ke data center pribadi milik mereka. Proses pemindahan kemungkinan dimulai pada akhir tahun ini.

Dikutip dari CNBC, alasan Facebook memindahkan data center WhatsApp adalah demi efisiensi.

Sekitar 63 miliar pesan dikirim oleh pengguna WhatsApp di seluruh dunia pada momen tersibuk, yaitu malam tahun baru, dan membutuhkan sumber daya komputasi yang sangat besar. Jika tetap dilayani dengan cloud computing, biaya yang dihabiskan akan lebih mahal ketimbang ditangani di infrastruktur sendiri.

Pemindahan ini pun sebetulnya bukan hal yang aneh dalam bisnis startup. Saat WhatsApp baru didirikan pada tahun 2009, tim engineer-nya mengandalkan layanan bare-metal cloud dari SoftLayer, sebelum perusahaan itu diakuisisi oleh IBM.

Tetapi, seiring pertumbuhan perusahaan dan melonjaknya jumlah pengguna WhatsApp sampai 1,2 miliar orang, layanan cloud dianggap kurang efisien. Apalagi setelah WhatsApp dibeli oleh Facebook yang sudah memiliki data center pribadi sejak tahun 2010.

Facebook sebetulnya ingin memindahkan data center WhatsApp lebih awal. Namun, pada saat membeli WhatsApp di tahun 2014, Facebook sedang berada di tengah proses pemindahan data center Instagram dari AWS yang saat itu lebih diprioritaskan. Jadilah pemindahan data center WhatsApp baru bisa terealisasi tahun ini.

Pukulan bagi IBM

Kehilangan WhatsApp dari portofolio pelanggan akan memberi pukulan bagi neraca bisnis IBM. Seorang sumber mengklaim bahwa WhatsApp adalah satu dari lima sumber pemasukan terbesar IBM Cloud dengan nilai mencapai US$2 juta per bulan.

Dalam sebuah studi kasus internal, IBM menyebutkan penggunaan sumber daya cloud oleh WhatsApp dapat mengonsumsi lebih dari 700 server kelas atas di dua data center milik IBM di San Jose dan Washington.

Di beragam acara, IBM pun kerap memamerkan WhatsApp sebagai pelanggan papan atas mereka, seperti halnya AWS membanggakan Airbnb dan Netflix atau Google membanggakan Snap dan Spotify.

“WhatsApp telah menjadi pelanggan yang hebat dari IBM Cloud karena mereka memanfaatkan kemampuan dan jejak global kami untuk memperluas bisnis mereka. Kami bangga IBM Cloud dapat berperan dalam kesuksesan mereka,” tukas IBM.

Pasar public cloud sendiri masih dikuasai oleh AWS, Microsoft, dan Google, meninggalkan pemain lainnya seperti IBM dan Oracle dengan pangsa pasar di bawah 10 persen.

“Jangan pindah ke cloud jika people dan process-nya belum siap” Irvan Yasni (Chief Technical Officer Sinar Mas Land)

Apakah perusahaan harus mengadopsi cloud?

Menurut Irvan Yasni (CTO Sinar Mas Land), pertanyaan tersebut sudah tidak relevan lagi. “Menurut saya, mau tidak mau kita harus ke cloud,” ungkap Irvan. Ia mengatakan hal itu di depan puluhan peserta seminar “Modernize Your Storage Infrastructure with Hybrid and Cloud” yang diselenggarakan IBM bersama InfoKomputer.

Adopsi cloud menjadi pilihan karena berbagai tantangan yang muncul dari para stakeholder. Pemimpin perusahaan atau CEO menuntut CIO untuk mendukung inovasi bisnis dengan cepat. Sementara di sisi lain, CFO sering kali menanyakan RoI (Return on Investment) dari investasi IT yang harus dilakukan. Belum lagi tuntutan dari stakeholder lain, seperti technology principal yang terus mengurangi durasi support produknya, serta customer yang selalu membandingkan layanan kita dengan pengalaman mereka selama ini.

Dengan semua tuntutan tersebut, Irvan melihat adopsi cloud sebagai jawaban. Hal inilah yang menjelaskan mengapa Sinar Mas Land telah mengadopsi cloud sejak tahun 2015. Saat ini, sekitar 80% workload mereka sudah ada di cloud.

Pandai-pandai Menimbang

Wacana pindah ke cloud muncul ketika Sinar Mas Land menghadapi kekurangan kapasitas di data center-nya. “Kala itu kita dihadapkan pada dua pilihan: menambah kapasitas atau memindahkan sebagian ke cloud,” cerita Irvan. Irvan pun kemudian melakukan perhitungan dari dua pilihan tersebut.

Ketika menambah kapasitas, perusahaan akan mengeluarkan dana untuk membeli hardware. Namun perhitungan tidak cukup sampai situ. Perusahaan juga harus memperhitungkan biaya lain seperti facility cost. “Hal ini yang sering lupa dihitung oleh orang TI, padahal angkanya bisa 10% dari total opex (operating expenditure) kita,” ungkap Irvan.

Faktor lain yang harus diperhitungkan adalah cost ketika terjadi downtime. “Karena kita sama-sama tahu, mengelola data center tidak mudah, sehingga resiko terjadinya down selalu ada,” tambah Irvan.

Dari semua perhitungan tersebut, akhirnya cloud menjadi pilihan yang lebih efisien. “Dalam kasus kami, kira-kira nilai [untuk menambah kapasitas] sekitar 40% lebih tinggi.” Irvan menggambarkan perhitungannya.

Sedangkan saat memilih aplikasi mana yang pindah ke cloud, Irvan memiliki beberapa pertimbangan. Yang pertama adalah compliance. Karena sebagian unit mereka berada di industri yang highly-regulated, Sinar Mas Land harus memastikan workload di sektor tersebut tetap memenuhi standar.

Faktor lainnya adalah soal performa. “Jangan sampai ketika pindah ke cloud, performa aplikasi jadi menurun,” tambah Irvan.

Faktor lain yang tak kalah penting adalah harga. Salah satu kelebihan cloud adalah efisiensi, namun tidak semua workload cocok ke cloud. “Contohnya untuk virtual desktop, akan tiga kali lebih mahal jika dipindahkan ke cloud,” ungkap Irvan.

Namun Irvan juga mengingatkan, hitung-hitungan soal harga akan terus berubah mengingat persaingan di penyedia cloud yang dinamis. Artinya, jika hari ini lebih mahal di cloud, esok bisa jadi justru lebih murah dibanding ketika dipasang di on-premise.

People and Process

Setelah 1,5 tahun menjalani hybrid cloud, Irvan pun memiliki beberapa insight yang bisa dibagi. Yang pertama adalah perusahaan harus benar-benar selektif memilih penyedia cloud. “Karena ketika sudah pindah ke cloud, menarik balik data ke on-premise adalah painful process,” ungkap Irvan.

Perusahaan juga harus menyiapkan perubahan di sisi process maupun people. Contohnya secara operasional keseharian, visibility yang dimiliki tim Operations akan berkurang. “Mereka juga harus siap dengan adanya layer komunikasi baru, yaitu ke penyedia cloud,” tambah Irvan.

Fungsi konvensional seperti DC dan DRC juga tidak relevan lagi. “Yang muncul adalah fungsi-fungsi seperti backup system, restore system, dan DR-system yang cloud-ready,” ungkap Irvan.

Sedangkan di sisi security, Irvan juga melihat adanya perubahan. “Ketika kita on-premise, semua berada di kontrol kita. Sementara kalau di cloud, ada hal-hal yang harus kita pasrahkan [ke penyedia cloud],” ungkap Irvan.

Selain itu, Irvan juga mengingatkan para CIO kalau tidak semua lingkup security menjadi tanggung jawab penyedia cloud. “Cloud provider lebih bertanggung jawab terhadap security di sisi platform, seperti access control atau data sovereignity,” tambah Irvan.

Sementara untuk data security, tetap menjadi tanggung jawab perusahaan. Karena itu, perusahaan tetap harus melakukan langkah pengamanan, seperti memasang antivirus atau data encryption. “Sayangnya, hal ini biasanya tidak pernah dibicarakan penyedia cloud,” cerita Irvan. Karena itu, terkait security di cloud, Irvan menyarankan perusahaan menghitung risk apetite dari tiap workload. “Dari situ, kita tinggal cari jalan tengahnya,” tambah Irvan.

Meski memiliki banyak tantangan, Sinar Mas land sendiri akan terus menambah kapasitas di sisi cloud. Bahkan Irvan melihat, bukan tidak mungkin suatu hari semua infrastruktur mereka ada di cloud. “Ketika teknologi terus berkembang dan penyedia cloud bisa menyediakan fasilitas enterprise-grade, saya rasa semua infrastruktur akan pindah ke cloud,” tambah Irvan.

Siapkan Infrastruktur yang Tepat

“Agar bisa memanfaatkan cloud dengan optimal, perusahaan harus mulai dengan pendekatan Software-defined Data Center,” kata Craig McKenna (Director Asia Pacific Storage, IBM Systems for Cloud Platform).

Dari kacamata IBM sendiri, cloud pada dasarnya adalah perubahan platform untuk menghadirkan IT services. “Platform itu bisa ada di dalam maupun di luar data center perusahaan,” ungkap Craig McKenna (Director Asia Pacific Storage, IBM Systems for Cloud Platform).

Karena itu, Craig memandang pentingnya perusahaan untuk mengadopsi pendekatan software-defined data center (SDDC). Karena dengan pendekatan SDDC, perusahaan bisa menghasilkan IT services secara dinamis, baik dengan pendekatan on-premise, cloud, atau gabungan keduanya.

Konsep SDDC ini kian relevan di sektor storage seiring kemunculan teknologi flash dan meledaknya jumlah data.

Ketika flash storage semakin terjangkau, perusahaan kini memiliki opsi untuk memanfaatkan flash sebagai media penyimpan utamanya. Namun ketika data bertambah dengan kecepatan eksponensial, menyimpan sebagian data ke cloud demi efisiensi juga menjadi pilihan menarik.

Agar konfigurasi ini bisa optimal, dibutuhkan sistem storage yang memiliki kepandaian untuk menyimpan data pada media yang tepat.

IBM sendiri mengaku memiliki kemampuan itu melalui teknologi Easy Tier. “Data yang butuh akses cepat akan ditaruh di flash, sementara data yang “cold” akan ditaruh di cloud,” ungkap Benny Abrar (Country Manager, Storage Solution, IBM Indonesia). Selain itu ada juga teknologi Spectrum Scale yang bisa menurunkan biaya sampai 90% dengan cara menjalankan automatic policy untuk storage tiering.

Craig juga mengingatkan, ada perbedaan mendasar antara cloud computing dan cloud storage. “Memindahkan aplikasi bisa dibilang sederhana karena lebih melibatkan logic,” ungkap Craig.

Namun memindahkan aplikasi membutuhkan proses yang lebih rumit karena data tidak bisa begitu saja pindah dari on-premise ke cloud maupun sebaliknya. Karena itu, memiliki sistem storage yang cerdas adalah kunci kesuksesan adopsi hybrid cloud.

IBM Watson

ABB menggandeng International Business Machines (IBM) untuk mengembangkan teknologi digital dan internet of things (IoT). ABB akan mengombinasikan data digital seperti machine learning dan keahlian IBM dalam kecerdasan buatan seperti software data analitik Watson.

Kedua perusahaan itu akan bekerjasama mengembangkan dan menjual sebuah produk terbaru.

“Duet maut ini akan membawa industri teknologi ke level yang baru dan melewati sistem konektivitas saat ini. Penggunaan machine learning dapat menganalisa dan mengoptimalisasi,” kata Ulrich Spiesshofer (Chief Executive ABB) seperti dilansir Reuters.

Misal, dalam inspeksi mesin secara manual, ABB dan IBM akan memanfaatkan kecerdasan buatan Watson untuk menemukan kelemahan yang ada di dalam data dan menganalisanya menggunakan IBM Watson.

ABB telah mengidentifikasikan teknologi digital yang memungkinkan mesin berhubungan dengan pusat kontrol untuk meningkatkan produktivitas dan memaksimalkan waktu. Saat ini 55 persen penjualan produk ABB sudah Digital.

ABB juga menggande Microsoft tahun lalu dan menggulirkan produk digital untuk konsumer yaitu robot, mobil listrik, energi terbarukan dan kelautan. ABB juga menggandeng Cicso untuk memasarakan produk-produknya.

IBM meluncurkan programnya sendiri yaitu “Blockchain as a Service”

Blockchain adalah buku besar digital yang terdesentralisasi dan tingkat keamanannya terjamin dengan kriptografi serta memiliki sifat transparansi dalam platform digital. Jaringan Blockchain bisa beroperasi di sektor keuangan dan kemanusiaan serta berbagai industri lainnya. IBM melihat Blockchain memiliki potensi yang luar biasa sejak hadir tahun lalu.

Karena itu, IBM meluncurkan programnya sendiri yaitu “Blockchain as a Service” dan siap mengimplementasikan program pertama IBM Blockchain tersebut.

Blockchain yang berbasis open-source Linux Foundation Hyperledger Fabric. Melalui Hyperledger, IBM menawarkan satu set layanan berbasis cloud untuk membantu pelanggan membuat, menyebarkan, dan mengelola jaringan Blockchain.

Hyperledger sendiri merupakan konsorsium perusahaan-perusahaan teknologi yang dipimpin oleh Linux Foundation yang bertujuan untuk mengeksplorasi teknologi blockchain lebih lanjut.

Dengan kemampuan memproses 1000 transaksi perdetik, Fabric milik Hyperledger ini akan dapat diakses melalui berbagai API yang dikembangkan oleh IBM di bawah bendera Fabric Composer.

Jerry Cuomo (Vice President Teknologi Blockchain IBM) melihat potensi Blockchain secara serius untuk kepentingan bisnis.Hyperledger akan membuat Blockchain berjalan aman melalui sistem open-sorce dan menawarkan perangkat lunak yang dapat transparan, berumur panjang, dan operabilitas.

“IBM akan menambahkan jaringan keamanan lainnya dengan cloud IBM sehingga jaringan Blockchain IBM sangat auditable dan bisa melacak semua aktivitas,” katanya seperti dilansir Reuters.

Pada 2015, IBM dan Samsung menggaungkan Internet Desentralisasi Atraksi (IOT) yang Otonomi Desentralisasi Peer-to-Peer Telemetry (ADEPT) dan membuktikan Blockchain menawarkan potensi yang luar biasa.

“Blockchain berperan penting pada sistem keamanan digital dan transparansi, dan kita harus mendorong lebih lanjut ke masa depan untuk konektivitas yang lebih ekstrim,” ujarnya.

Tentu saja, gebrakan IBM itu akan membawa angin segar bagi pengembangan blockchain di seluruh dunia. Saat ini teknologi blockchain sedang berada dalam tahap awal walaupun terus mengalami kemajuan signifikan tetapi baru sebatas prototype.

Perusahaan konsultan Gartner telah merilis prediksi mereka bahwa bisnis blockchain akan terus berkembang hingga mencapai nilai bisnis sebesar $176 juta pada 2025.

TERBARU

Apple memulai penjualan perdana iPhone 8 mulai hari ini. Namun, berbeda dibandingkan dengan pendahulunya, iPhone 8 tergolong sepi pembeli. Di Australia, hanya ada kurang dari 30 orang yang mengantre di depan toko resmi Apple pagi ini.