Tags Posts tagged with "IBM"

IBM

Ilustrasi smart city. [kredit: blog.cedrotech.com]

Lembaga riset Citiasia mencatat empat kendala dalam proses pengembangan konsep smart city, yaitu masalah pembiayaan yang menempati posisi teratas, diikuti dengan masalah regulasi, sumber daya manusia, dan infrastruktur.

Kendala serupa juga dirasakan daerah yang sudah menerapkan konsep tersebut. Lembaga riset IDC menyebutkan sebanyak 90% kota di Indonesia berpotensi gagal memanfaatkan data smart city dan aset digitalnya lantaran kurangnya pendanaan, proses, manajemen proyek, dan keterampilan manajemen perubahan.

Blue Power Technology (BPT), anak perusahaan CTI Group, mencoba menjawab tantangan tersebut dengan menawarkan program managed service di bidang smart city melalui solusi Government Interactive Response Center (GIRC). Program ini diklaim dapat mewujudkan proyek kota cerdas yang hemat biaya dan mudah.

“Kami menyadari bahwa masalah utama investasi smart city adalah biaya dan kompleksitas. Melalui program managed service GIRC ini, pelanggan tidak dibebani oleh biaya yang besar untuk proyek smart city mereka karena pembayaran dilakukan hanya untuk operasional, yaitu setiap bulan selama kontrak berlangsung atau tiga tahun,” kata Lugas M Satrio (Presiden Direktur, PT Blue Power Technology) dalam rilis pers.

“Pelanggan juga tidak perlu pusing melakukan implementasi, mengelola aplikasi, maupun monitoring operasional harian mengingat proses ini cukup kompleks. Kami memiliki tim ahli khusus yang dapat mengambil alih tugas tersebut sehingga pelanggan dapat fokus meraih goal dari proyek smart city serta melakukan hal strategis lainnya,” Lugas menambahkan.

President Director, Blue Power Technology, Lugas M. Satrio.

Keunggulan GIRC

GIRC merupakan solusi smart city berbasis Intelligent Operations Center (IOC) milik IBM yang diluncurkan oleh BPT pada awal 2015 untuk membantu pemerintah daerah dalam mengelola wilayah dan memonitor performa seluruh aparat agar dapat memberikan pelayanan lebih baik terhadap warga.

Solusi ini memadukan perangkat Emergency Management, sensor, CCTV, dan video analytics yang memungkinkan penerimaan informasi dan data serta pengambilan tindakan secara real time terhadap keadaan darurat. Melalui solusi ini, pemerintah dapat menyelesaikan permasalahan di satu kota, berinteraksi dengan warga, meningkatkan responsifitas terhadap keluhan warga, dan memantau kinerja aparat.

Untuk solusi GIRC, BPT menyediakan produk lengkap mencakup hardware dan software berikut layanan implementasi sampai purnajual kepada pelanggan.

Program ini didukung oleh para profesional TI berpengalaman dan bersertifikat internasional yang akan memonitor data dan informasi yang masuk, memberikan analisis guna mengantisipasi terjadinya masalah seperti kemacetan, kriminalitas, banjir, pemborosan energi, dan insiden tertentu yang berpotensi mengganggu keamanan dan kenyamanan warga.

IBM akan segera kehilangan salah satu pelanggan public cloud terbesarnya, yaitu WhatsApp. Pasalnya, Facebook berencana memindahkan data center WhatsApp dari platform IBM SoftLayer ke data center pribadi milik mereka. Proses pemindahan kemungkinan dimulai pada akhir tahun ini.

Dikutip dari CNBC, alasan Facebook memindahkan data center WhatsApp adalah demi efisiensi.

Sekitar 63 miliar pesan dikirim oleh pengguna WhatsApp di seluruh dunia pada momen tersibuk, yaitu malam tahun baru, dan membutuhkan sumber daya komputasi yang sangat besar. Jika tetap dilayani dengan cloud computing, biaya yang dihabiskan akan lebih mahal ketimbang ditangani di infrastruktur sendiri.

Pemindahan ini pun sebetulnya bukan hal yang aneh dalam bisnis startup. Saat WhatsApp baru didirikan pada tahun 2009, tim engineer-nya mengandalkan layanan bare-metal cloud dari SoftLayer, sebelum perusahaan itu diakuisisi oleh IBM.

Tetapi, seiring pertumbuhan perusahaan dan melonjaknya jumlah pengguna WhatsApp sampai 1,2 miliar orang, layanan cloud dianggap kurang efisien. Apalagi setelah WhatsApp dibeli oleh Facebook yang sudah memiliki data center pribadi sejak tahun 2010.

Facebook sebetulnya ingin memindahkan data center WhatsApp lebih awal. Namun, pada saat membeli WhatsApp di tahun 2014, Facebook sedang berada di tengah proses pemindahan data center Instagram dari AWS yang saat itu lebih diprioritaskan. Jadilah pemindahan data center WhatsApp baru bisa terealisasi tahun ini.

Pukulan bagi IBM

Kehilangan WhatsApp dari portofolio pelanggan akan memberi pukulan bagi neraca bisnis IBM. Seorang sumber mengklaim bahwa WhatsApp adalah satu dari lima sumber pemasukan terbesar IBM Cloud dengan nilai mencapai US$2 juta per bulan.

Dalam sebuah studi kasus internal, IBM menyebutkan penggunaan sumber daya cloud oleh WhatsApp dapat mengonsumsi lebih dari 700 server kelas atas di dua data center milik IBM di San Jose dan Washington.

Di beragam acara, IBM pun kerap memamerkan WhatsApp sebagai pelanggan papan atas mereka, seperti halnya AWS membanggakan Airbnb dan Netflix atau Google membanggakan Snap dan Spotify.

“WhatsApp telah menjadi pelanggan yang hebat dari IBM Cloud karena mereka memanfaatkan kemampuan dan jejak global kami untuk memperluas bisnis mereka. Kami bangga IBM Cloud dapat berperan dalam kesuksesan mereka,” tukas IBM.

Pasar public cloud sendiri masih dikuasai oleh AWS, Microsoft, dan Google, meninggalkan pemain lainnya seperti IBM dan Oracle dengan pangsa pasar di bawah 10 persen.

“Jangan pindah ke cloud jika people dan process-nya belum siap” Irvan Yasni (Chief Technical Officer Sinar Mas Land)

Apakah perusahaan harus mengadopsi cloud?

Menurut Irvan Yasni (CTO Sinar Mas Land), pertanyaan tersebut sudah tidak relevan lagi. “Menurut saya, mau tidak mau kita harus ke cloud,” ungkap Irvan. Ia mengatakan hal itu di depan puluhan peserta seminar “Modernize Your Storage Infrastructure with Hybrid and Cloud” yang diselenggarakan IBM bersama InfoKomputer.

Adopsi cloud menjadi pilihan karena berbagai tantangan yang muncul dari para stakeholder. Pemimpin perusahaan atau CEO menuntut CIO untuk mendukung inovasi bisnis dengan cepat. Sementara di sisi lain, CFO sering kali menanyakan RoI (Return on Investment) dari investasi IT yang harus dilakukan. Belum lagi tuntutan dari stakeholder lain, seperti technology principal yang terus mengurangi durasi support produknya, serta customer yang selalu membandingkan layanan kita dengan pengalaman mereka selama ini.

Dengan semua tuntutan tersebut, Irvan melihat adopsi cloud sebagai jawaban. Hal inilah yang menjelaskan mengapa Sinar Mas Land telah mengadopsi cloud sejak tahun 2015. Saat ini, sekitar 80% workload mereka sudah ada di cloud.

Pandai-pandai Menimbang

Wacana pindah ke cloud muncul ketika Sinar Mas Land menghadapi kekurangan kapasitas di data center-nya. “Kala itu kita dihadapkan pada dua pilihan: menambah kapasitas atau memindahkan sebagian ke cloud,” cerita Irvan. Irvan pun kemudian melakukan perhitungan dari dua pilihan tersebut.

Ketika menambah kapasitas, perusahaan akan mengeluarkan dana untuk membeli hardware. Namun perhitungan tidak cukup sampai situ. Perusahaan juga harus memperhitungkan biaya lain seperti facility cost. “Hal ini yang sering lupa dihitung oleh orang TI, padahal angkanya bisa 10% dari total opex (operating expenditure) kita,” ungkap Irvan.

Faktor lain yang harus diperhitungkan adalah cost ketika terjadi downtime. “Karena kita sama-sama tahu, mengelola data center tidak mudah, sehingga resiko terjadinya down selalu ada,” tambah Irvan.

Dari semua perhitungan tersebut, akhirnya cloud menjadi pilihan yang lebih efisien. “Dalam kasus kami, kira-kira nilai [untuk menambah kapasitas] sekitar 40% lebih tinggi.” Irvan menggambarkan perhitungannya.

Sedangkan saat memilih aplikasi mana yang pindah ke cloud, Irvan memiliki beberapa pertimbangan. Yang pertama adalah compliance. Karena sebagian unit mereka berada di industri yang highly-regulated, Sinar Mas Land harus memastikan workload di sektor tersebut tetap memenuhi standar.

Faktor lainnya adalah soal performa. “Jangan sampai ketika pindah ke cloud, performa aplikasi jadi menurun,” tambah Irvan.

Faktor lain yang tak kalah penting adalah harga. Salah satu kelebihan cloud adalah efisiensi, namun tidak semua workload cocok ke cloud. “Contohnya untuk virtual desktop, akan tiga kali lebih mahal jika dipindahkan ke cloud,” ungkap Irvan.

Namun Irvan juga mengingatkan, hitung-hitungan soal harga akan terus berubah mengingat persaingan di penyedia cloud yang dinamis. Artinya, jika hari ini lebih mahal di cloud, esok bisa jadi justru lebih murah dibanding ketika dipasang di on-premise.

People and Process

Setelah 1,5 tahun menjalani hybrid cloud, Irvan pun memiliki beberapa insight yang bisa dibagi. Yang pertama adalah perusahaan harus benar-benar selektif memilih penyedia cloud. “Karena ketika sudah pindah ke cloud, menarik balik data ke on-premise adalah painful process,” ungkap Irvan.

Perusahaan juga harus menyiapkan perubahan di sisi process maupun people. Contohnya secara operasional keseharian, visibility yang dimiliki tim Operations akan berkurang. “Mereka juga harus siap dengan adanya layer komunikasi baru, yaitu ke penyedia cloud,” tambah Irvan.

Fungsi konvensional seperti DC dan DRC juga tidak relevan lagi. “Yang muncul adalah fungsi-fungsi seperti backup system, restore system, dan DR-system yang cloud-ready,” ungkap Irvan.

Sedangkan di sisi security, Irvan juga melihat adanya perubahan. “Ketika kita on-premise, semua berada di kontrol kita. Sementara kalau di cloud, ada hal-hal yang harus kita pasrahkan [ke penyedia cloud],” ungkap Irvan.

Selain itu, Irvan juga mengingatkan para CIO kalau tidak semua lingkup security menjadi tanggung jawab penyedia cloud. “Cloud provider lebih bertanggung jawab terhadap security di sisi platform, seperti access control atau data sovereignity,” tambah Irvan.

Sementara untuk data security, tetap menjadi tanggung jawab perusahaan. Karena itu, perusahaan tetap harus melakukan langkah pengamanan, seperti memasang antivirus atau data encryption. “Sayangnya, hal ini biasanya tidak pernah dibicarakan penyedia cloud,” cerita Irvan. Karena itu, terkait security di cloud, Irvan menyarankan perusahaan menghitung risk apetite dari tiap workload. “Dari situ, kita tinggal cari jalan tengahnya,” tambah Irvan.

Meski memiliki banyak tantangan, Sinar Mas land sendiri akan terus menambah kapasitas di sisi cloud. Bahkan Irvan melihat, bukan tidak mungkin suatu hari semua infrastruktur mereka ada di cloud. “Ketika teknologi terus berkembang dan penyedia cloud bisa menyediakan fasilitas enterprise-grade, saya rasa semua infrastruktur akan pindah ke cloud,” tambah Irvan.

Siapkan Infrastruktur yang Tepat

“Agar bisa memanfaatkan cloud dengan optimal, perusahaan harus mulai dengan pendekatan Software-defined Data Center,” kata Craig McKenna (Director Asia Pacific Storage, IBM Systems for Cloud Platform).

Dari kacamata IBM sendiri, cloud pada dasarnya adalah perubahan platform untuk menghadirkan IT services. “Platform itu bisa ada di dalam maupun di luar data center perusahaan,” ungkap Craig McKenna (Director Asia Pacific Storage, IBM Systems for Cloud Platform).

Karena itu, Craig memandang pentingnya perusahaan untuk mengadopsi pendekatan software-defined data center (SDDC). Karena dengan pendekatan SDDC, perusahaan bisa menghasilkan IT services secara dinamis, baik dengan pendekatan on-premise, cloud, atau gabungan keduanya.

Konsep SDDC ini kian relevan di sektor storage seiring kemunculan teknologi flash dan meledaknya jumlah data.

Ketika flash storage semakin terjangkau, perusahaan kini memiliki opsi untuk memanfaatkan flash sebagai media penyimpan utamanya. Namun ketika data bertambah dengan kecepatan eksponensial, menyimpan sebagian data ke cloud demi efisiensi juga menjadi pilihan menarik.

Agar konfigurasi ini bisa optimal, dibutuhkan sistem storage yang memiliki kepandaian untuk menyimpan data pada media yang tepat.

IBM sendiri mengaku memiliki kemampuan itu melalui teknologi Easy Tier. “Data yang butuh akses cepat akan ditaruh di flash, sementara data yang “cold” akan ditaruh di cloud,” ungkap Benny Abrar (Country Manager, Storage Solution, IBM Indonesia). Selain itu ada juga teknologi Spectrum Scale yang bisa menurunkan biaya sampai 90% dengan cara menjalankan automatic policy untuk storage tiering.

Craig juga mengingatkan, ada perbedaan mendasar antara cloud computing dan cloud storage. “Memindahkan aplikasi bisa dibilang sederhana karena lebih melibatkan logic,” ungkap Craig.

Namun memindahkan aplikasi membutuhkan proses yang lebih rumit karena data tidak bisa begitu saja pindah dari on-premise ke cloud maupun sebaliknya. Karena itu, memiliki sistem storage yang cerdas adalah kunci kesuksesan adopsi hybrid cloud.

IBM Watson

ABB menggandeng International Business Machines (IBM) untuk mengembangkan teknologi digital dan internet of things (IoT). ABB akan mengombinasikan data digital seperti machine learning dan keahlian IBM dalam kecerdasan buatan seperti software data analitik Watson.

Kedua perusahaan itu akan bekerjasama mengembangkan dan menjual sebuah produk terbaru.

“Duet maut ini akan membawa industri teknologi ke level yang baru dan melewati sistem konektivitas saat ini. Penggunaan machine learning dapat menganalisa dan mengoptimalisasi,” kata Ulrich Spiesshofer (Chief Executive ABB) seperti dilansir Reuters.

Misal, dalam inspeksi mesin secara manual, ABB dan IBM akan memanfaatkan kecerdasan buatan Watson untuk menemukan kelemahan yang ada di dalam data dan menganalisanya menggunakan IBM Watson.

ABB telah mengidentifikasikan teknologi digital yang memungkinkan mesin berhubungan dengan pusat kontrol untuk meningkatkan produktivitas dan memaksimalkan waktu. Saat ini 55 persen penjualan produk ABB sudah Digital.

ABB juga menggande Microsoft tahun lalu dan menggulirkan produk digital untuk konsumer yaitu robot, mobil listrik, energi terbarukan dan kelautan. ABB juga menggandeng Cicso untuk memasarakan produk-produknya.

IBM meluncurkan programnya sendiri yaitu “Blockchain as a Service”

Blockchain adalah buku besar digital yang terdesentralisasi dan tingkat keamanannya terjamin dengan kriptografi serta memiliki sifat transparansi dalam platform digital. Jaringan Blockchain bisa beroperasi di sektor keuangan dan kemanusiaan serta berbagai industri lainnya. IBM melihat Blockchain memiliki potensi yang luar biasa sejak hadir tahun lalu.

Karena itu, IBM meluncurkan programnya sendiri yaitu “Blockchain as a Service” dan siap mengimplementasikan program pertama IBM Blockchain tersebut.

Blockchain yang berbasis open-source Linux Foundation Hyperledger Fabric. Melalui Hyperledger, IBM menawarkan satu set layanan berbasis cloud untuk membantu pelanggan membuat, menyebarkan, dan mengelola jaringan Blockchain.

Hyperledger sendiri merupakan konsorsium perusahaan-perusahaan teknologi yang dipimpin oleh Linux Foundation yang bertujuan untuk mengeksplorasi teknologi blockchain lebih lanjut.

Dengan kemampuan memproses 1000 transaksi perdetik, Fabric milik Hyperledger ini akan dapat diakses melalui berbagai API yang dikembangkan oleh IBM di bawah bendera Fabric Composer.

Jerry Cuomo (Vice President Teknologi Blockchain IBM) melihat potensi Blockchain secara serius untuk kepentingan bisnis.Hyperledger akan membuat Blockchain berjalan aman melalui sistem open-sorce dan menawarkan perangkat lunak yang dapat transparan, berumur panjang, dan operabilitas.

“IBM akan menambahkan jaringan keamanan lainnya dengan cloud IBM sehingga jaringan Blockchain IBM sangat auditable dan bisa melacak semua aktivitas,” katanya seperti dilansir Reuters.

Pada 2015, IBM dan Samsung menggaungkan Internet Desentralisasi Atraksi (IOT) yang Otonomi Desentralisasi Peer-to-Peer Telemetry (ADEPT) dan membuktikan Blockchain menawarkan potensi yang luar biasa.

“Blockchain berperan penting pada sistem keamanan digital dan transparansi, dan kita harus mendorong lebih lanjut ke masa depan untuk konektivitas yang lebih ekstrim,” ujarnya.

Tentu saja, gebrakan IBM itu akan membawa angin segar bagi pengembangan blockchain di seluruh dunia. Saat ini teknologi blockchain sedang berada dalam tahap awal walaupun terus mengalami kemajuan signifikan tetapi baru sebatas prototype.

Perusahaan konsultan Gartner telah merilis prediksi mereka bahwa bisnis blockchain akan terus berkembang hingga mencapai nilai bisnis sebesar $176 juta pada 2025.

Ilustrasi IBM Watson

IBM Watson adalah machine learning tercerdas yang ada di pasar saat ini. Terbukti IBM Watson bisa memenangi kompetisi pengetahuan umum Jeopardy, main catur, bahkan menentukan pengobatan penderita kanker di Thailand.

Namun, Louis Richardson (IBM Watson Chief Storyteller) mengatakan bahwa IBM Watson tidak akan mampu mengalahkan kecerdasan manusia secara keseluruhan, mengingat IBM Watson hanya mendukung manusia dalam berbagai bidang.

“Watson memang memiliki kemampuan memahami data dan dapat lebih cerdas dibandingkan satu manusia. Tapi, Watson tidak akan pernah bisa mengalahkan kecerdasan umat manusia secara keseluruhan,” katanya di Jakarta.

Richardson mengatakan kehadiran Watson membantu manusia melakukan banyak hal dan memungkinkan penggunanya untuk bekerja lebih cerdas. Tetapi, kecerdasan Watson hanya sebatas menghadirkan informasi untuk mendukung proses pengambilan keputusan.

“Watson akan membantu manusia untuk mengeksplorasi data lebih jauh dan menemukan solusi terbaik untuk setiap permasalahan. Watson hanya membantu mempersingkat proses pengambilan keputusan tetapi tidak mungkin Watson bertindak sebagai pengambil keputusan,” ujarnya.

Karena itu, IBM Watson tidak bisa berdiri sendiri dan tetap membutuhkan bantuan serta kecerdasan manusia untuk memahami dan mempelajari data.

IBM Watson sendiri mengusung Cognitive Computing (CC) yang merupakan platform teknologi yang menggabungkan berbagai disiplin ilmu seperti machine learning, natural language processing (NLP), speech and image recognition, dan sebagainya.

Cognitive computing adalah cara memindahkan kemampuan kognitif manusia ke dalam komputer sehingga komputer dapat berpikir lebih cepat dan mendekati cara berpikir manusia. IBM telah memelopori hal ini dengan menghadirkan IBM Watson.

IBM Watson

Penyebaran berita hoax alias palsu memang sangat meresahkan warga dan bisa menyulutkan api permusuhan. Media jejaring sosial Facebook dan Twitter dkk pun menyiapkan strategi khusus berupa tools untuk mengatasai berita hoax di media jejaring sosialnya.

Ternyata, teknologi machine learning IBM Watson bisa mengenali dan memberantas berita hoax yang menyebar di media sosial. Bahkan, ada salah institusi pemerintah yang telah menggunakan IBM Watson untuk menganalisa dan mengenali isu-isu SARA termasuk berita hoax yang menyebar di media sosial.

Novan Adian (Country Manager Hardware IBM Indonesia) mengatakan IBM Watson memiliki prospek yang besar di Indonesia IBM Watson memiliki banyak kemampuan dan memiliki kecerdasan yang luar biasa. IBM Watson bisa digunakan untuk bidang kesehatan, finansial dan industri lainnya.

“Saat ini ada dua perusahaan di Indonesia yang sudah menggunakan IBM Watson. Yang satu perusahaan swasta yang menggunakan IBM Watson untuk bidang finansial. Satu lagi, instansi pemerintah yang menggunakan IBM Watson untuk menganalisa isu-isu yang menyebar di media dan media sosial termasuk isu SARA dan berita Hoax,” katanya di Jakarta.

Sayangnya, Novan tidak ingin menyebutkan nama perusahaan dan instansi yang telah menggunakan IBM Watson di Indonesia karena masalah kerahasiaan. Nantinya, instansi pemerintah itu akan cepat mengambil keputusan dan menangkis penyebaran berita Hoax itu di Indonesia.

Meskipun pintar dan canggih, tidak serta merta membuat IBM Watson bisa diterima begitu saja di Indonesia. Novan mengatakan tidak semua perusahaan ingin membagi data-datanya kepada IBM Watson.

“Apakah semua perusahaan ingin men-share datanya ke IBM Watson?. Tidak semuakan,” ucapnya.

Sebelum menjalankan tugasnya, perusahaan atau instansi harus mengajarkan atau menginput data-data kepada IBM Watson terlebih dahulu.

IBM Watson sendiri mengusung Cognitive computing (CC) yang merupakan platform teknologi yang menggabungkan berbagai disiplin ilmu seperti machine learning, natural language processing (NLP), speech and image recognition, dan sebagainya.

Cognitive computing adalah bagaimana manusia memindahkan kemampuan kognitif manusia ke dalam komputer sehingga komputer dapat berpikir lebih cepat dan mendekati cara berpikir manusia. IBM telah mempelopori hal ini dengan menghadirkan IBM Watson.

Cognitive computing memiliki empat kemampuan utama yaitu pemahaman, pembentukan hipotesis, kemampuan belajar dan komunikasi dengan manusia.

“Di masa depan, setiap keputusan manusia akan dibuat berdasarkan informasi dari sistem kognitif seperti Watson, dan kehidupan kita akan jadi lebih baik karenanya,” ucapnya.

“Cognitive system dapat memicu bentuk kerja sama baru antara manusia dan mesin,” kata Shanker V. Selvadurai (CTO, Software and Cognitive Solutions, IBM Asia Pacific) di panggung CTI IT Infrastructure Summit 2017.

Salah satu penyedia solusi machine learning terkemuka di dunia adalah IBM yang dikenal melalui “mesin pintar” Watson. Keunggulan IBM Watson sebagai cognitive system—istilah IBM untuk machine learning—terletak pada tiga kemampuan utama: understanding, reasoning, dan learning.

Cognitive system dapat memicu bentuk kerja sama baru antara manusia dan mesin,” kata Shanker V. Selvadurai (CTO, Software and Cognitive Solutions, IBM Asia Pacific). Kerja sama ini diharapkan mampu memadukan karakteristik-karakteristik positif yang dimiliki setiap unsur. Sifat manusiawi seperti akal sehat, moral, imajinasi, welas asih, dan sebagainya, digabungkan dengan sifat khas mesin seperti pemahaman pola, natural language, ketidakberpihakan, dan kapasitas yang tak terbatas.

Shanker mengklaim bahwa IBM Watson telah digunakan di 25 negara oleh 20 jenis industri serta akan segera menyentuh 1 miliar pengguna dalam 9 bahasa berbeda.

Ia mencontohkan tiga studi kasus utama dari IBM Watson. Salah satunya yang bisa dimanfaatkan di Indonesia yaitu expertise at scale, terutama di bidang kesehatan. Watson dapat membantu mendiagnosis gejala penyakit-penyakit kritis, misalnya stroke, diabetes, dan serangan jantung. Walhasil, pemerintah bisa memasang komputer berbasis Watson di pusat layanan kesehatan daerah, alih-alih mengirim ratusan dokter ke daerah-daerah terpencil.

Studi kasus kedua yaitu personalize at scale. Contoh penggunaan di institusi pendidikan, Watson bisa menyesuaikan materi ajar sesuai dengan gaya belajar, kemampuan, dan data akademis setiap siswa. Contoh ini juga bisa dipakai di industri perbankan, telekomunikasi, dan pemerintahan.

Studi kasus terakhir adalah discover at scale, misalnya di industri kreatif. Shanker memberi contoh seorang musisi asal Amerika Serikat, Alex da Kid, yang membuat lagu berdasarkan hasil analisis Watson terhadap lagu-lagu terpopuler di tangga lagu Billboard. Alex pun dapat mengetahui komposisi musik dan lirik seperti apa yang paling disukai oleh masyarakat.

Penting dalam Era Bisnis Digital

Machine learning adalah topik utama dalam CTI IT Infrastructure Summit 2017, konferensi dan pameran teknologi tahunan dari CTI Group yang sudah digelar keempat kalinya.

Selain menghadirkan pembicara utama dari Gartner dan IBM, acara ini juga diikuti oleh Herry Abdul Aziz (Penasihat Ahli Menkominfo RI), Leonardo Koesmanto (Head of Digital Banking, Bank DBS Indonesia), Ridzki Kramadibrata (Managing Director, Grab Indonesia), dan Ying Shao Wei (COO DataSpark, part of Singtel Group).

Dalam acara ini, CTI Group juga menganugerahkan penghargaan iCIO Awards 2017 kepada tiga pemenang, yaitu Iwan Djuniardi (Direktur Transformasi Teknologi Informasi dan Komunikasi, Direktorat Jenderal Pajak, Kementerian Keuangan RI) selaku The Most Innovative CIO, Rita Mas’oen (Direktur Operasional & Teknologi Informasi, PT Bank CIMB Niaga Tbk.) selaku The Most Influential CIO, dan Kharim Indra Gupta Siregar (Direktur Teknologi Informasi, PT BTPN) selaku The Most Intelligent CIO.

Harry Surjanto (President Director, CTI Group) di panggung CTI IT Infrastructure Summit 2017.

“Di era bisnis berbasis digital sekarang ini, machine learning sudah diakui perannya untuk membantu mengoptimalkan pemasukan, mempelajari kebutuhan konsumen, dan meningkatkan kinerja penjualan,” tutur Harry Surjanto (President Director, CTI Group).

CTI Group pun menawarkan berbagai solusi menyeluruh, mulai infrastruktur, solusi, aplikasi, sampai jasa konsultasi, dari vendor-vendor TI terkemuka di dunia, seperti IBM, FireEye, Dell-EMC, Fujitsu, Hewlett Packard Enterprise, F5, Hitachi Data Systems, Lexmark, Varonis, DataSpark, dan Samsung.

Asisten Suara IBM Havyn yang Berbasis IBM Watson

IBM telah menguji perangkat kecerdasan buatan Watson untuk keamanan siber. Beberapa tahun terakhir, Watson telah mempelajari satu juta dokumen keamanan. Nantinya, analis keamanan bisa menggunakan Watson untuk menguji dan menilai ribuan penelitian bahasa alami

Menurut IBM, ada 200 ribuan pergantian petugas keamanan setiap harinya dengan menyebab 20 ribu jam terbuang sia-sia dan angka itu akan terus bertambah di masa depan.  Karena itu, perusahaan atau instansi membutuhkan sebuah teknologi yang dapat mempercepat proses deteksi.

Watson for Cyber Security akan mengintegrasikan platform SOC Cognitive IBM yang merupakan pusat dari IBM QRadar Advisor.

Nantinya, IBM Watson dapat merespon berbagai ancaman endpoints, jaringan, pengguna dan komputas awan. Sebanyak 40 pelanggan siap menggunakan aplikasi terbaru tersebut termasuk Avnet, Universitas New Brunswick dan Sopra Steria.

“Saat ancaman dan serangan keamanan siber sangat luar biasa dan beragam. Analis keamanan kami menemukan kesulitan untuk melawan ancaman tersebut di antara lautan data,” kata Sean Valcamp (Chief Information Security Officer Avnet) seperti dikutip AccesAI.

“Watson membuat serangan siber itu sulit bergerak dan bersembunyi dengan langsung menganalisa lautan data dan menyerangkan dengan sistem kecerdasan keamanan terbaru. Watson juga akan menganalisa serangan siber dalam hitungan menit dam kecepatan tinggi,” ucapnya.

IBM juga telah meluncurkan Havyn, asisten keamanan berbasis suara yang mendukung teknologi percakapan Watson. Nantinya, Watson dapat menjawab bahasa alami dan perintah analis keamanan secara verbal.

Havyn mengusung Watson APIs, BlueMix dan IBM Cloud untuk menjawab permintaan dan perintah secara verbal. Misal, Havyn bisa memberikan ancaman siber terbaru kepada pengamat keamanan dan memberikan rekomendasi cara mengatasinya.

Ilustrasi machine learning. [kredit: Shutterstock]

Kurang dari sebulan, ajang tahunan CTI IT Infrastructure Summit 2017 akan digelar. Untuk tahun ini, ajang prestisius tersebut akan mengangkat tema Machine Learning: Capitalizing the Information of Everything to Drive Your Digital Business.

Machine learning sendiri adalah salah satu cabang computer science yang memungkinkan komputer menganalisa data tanpa harus dipogram secara spesifik. Hal ini berbeda dengan aplikasi pada umumnya yang harus secara detail memperhitungkan segala kemungkinan. Aplikasi berbasis machine learning memungkinan komputer mempelajari pola dari semua data yang ia miliki, untuk kemudian memberikan insight yang bisa membantu kita mengambil keputusan.

Dalam konteks yang lebih luas, machine learning adalah bagian dari konsep Artificial Intelligence dan cognitive computing yang kini dikembangkan banyak perusahaan teknologi dunia.

Ada alasan tersendiri mengapa CTI IT Infrastructure Summit 2017 mengambil tema machine learning. Dalam beberapa tahun terakhir, machine learning telah menjadi bagian penting dari akselerasi perusahaan dunia. Perusahaan seperti Amazon, SoftBank, atau PayPal adalah beberapa contoh perusahaan yang telah memanfaatkan machine learning.

Akan tetapi, machine learning, AI, dan cognitive computing memang belum terlalu populer di dunia IT Indonesia. Hal ini diakui Gunawan Susanto (President Director, IBM Indonesia) yang menjadi salah satu pendukung acara CTI Infrastructure Summit 2017. “Cognitive computing adalah salah satu cara Indonesia mengejar ketertinggalan dengan negara lain,” ungkap Gunawan.

Apalagi, beberapa negara tetangga sudah mulai memanfaatkan cognitive computing sebagai competitive advantage. Bumrungrad Hospital di Thailand, misalnya, menggunakan cognitive computing untuk membantu dokter spesialis kanker (oncologist) dalam memberikan perawatan yang tepat bagi pasien kanker. Dengan menganalisis literatur medis mengenai kanker dari seluruh dunia, cognitive computing bisa memberikan saran kepada dokter mengenai perawatan terbaik bagi sang pasien.

Contoh lain adalah perusahaan akomodasi Starwood Hotels & Resorts yang terkenal dengan jaringan hotel Sheraton dan Westin. Mereka telah menggunakan machine learning pada Revenue Optimization System (ROS ) mereka atau sistem pengaturan harga kamar. Sistem ini mampu mempelajari aneka data dalam menentukan harga kamar secara real-time menggunakan berbagai data internal, seperti jumlah ketersediaan kamar, tingkat pemesanan, pembatalan, tipe kamar, dan harga kamar harian. ROS juga menganalisis data eksternal seperti harga hotel pesaing, cuaca di sekitar, dan acara-acara besar yang diselenggarakan di dekat lokasi hotel. Hasilnya, lebih dari 1.000 hotel milik Starwood bisa mengubah harga kamar setiap menitnya demi menentukan harga yang paling efisien untuk meningkatkan pemasukan dan keuntungan perusahaan.

Dua contoh di atas menunjukkan, cognitive computing mampu memberikan keunggulan unik bagi perusahaan. Peluangnya pun terbilang tak terbatas karena pemanfaatan cognitive computing bisa dilakukan untuk berbagai skenario. Perusahaan retail, misalnya, bisa memanfaatkan cognitive computing untuk memprediksi stok sebuah produk berdasarkan pola pembelian konsumen selama ini. Nelayan pun bisa memanfaatkan sistem pintar ini untuk memperkirakan area laut yang padat ikan berdasarkan data cuaca dan pola arus laut.

Pendek kata, semua kebutuhan bisnis bisa memanfaatkan machine learning. Namun karena prinsip dasar dari machine learning adalah “belajar”, tiap skenario membutuhkan data dan proses pembelajaran yang berbeda. Karena itulah Gunawan Susanto mengajak semua pihak di ekosistem IT Indonesia untuk memanfaatkan machine learning berdasarkan kebutuhan unik bangsa ini. “Jangan sampai kita cuma menikmati service [berbasis machine learning]-nya, namun player-nya dari negara lain,” ujar Gunawan.

Ingin mengetahui lebih jauh mengenai pemanfaatan machine learning di berbagai industri? Daftarkan diri Anda di alamat ini untuk mengikuti CTI IT Infrastructure Summit 2017. Akan ada pembicara dari Grab, Singtel, DBS, dan berbagai perusahaan lain yang akan membahas bagaimana mereka memanfaatkan machine learning.

TERBARU

Pemerintah Tiongkok mewajibkan warga Urumqi, ibukota provinsi Xinjiang, yang mayoritas beragama Islam untuk memasang aplikasi mata-mata Jingwang di smartphone-nya.