Tags Posts tagged with "indosat ooredoo"

indosat ooredoo

Alexander Rusli (President Director & CEO, Indosat Ooredoo).

Saat ini Indosat Ooredoo sedang menunggu proses lelang frekuensi 2.100Mhz dan 2.300Mhz untuk jaringan 3G maupun 4G.

Indosat Ooredoo optimis layanan komunikasinya akan lebih baik jika memenangkan lelang frekuensi 2.100Mhz maupun 2.300Mhz.

“Kami agresif mau ikut lelang frekuensi. Kami butuh frekuensi, mau 2.100Mhz atau 2.300Mhz, itu teknologi netral karena semua telepon bisa terima 2.100Mhz atau 2.300Mhz,” kata Alexander Rusli (Presiden Direktur dan CEO Indosat Ooredoo) dalam peluncuran inovasi Freedom 5.0 untuk IM3 Ooredoo di Jakarta, Rabu.

Alex mengatakan Indosat Ooredoo memiliki dua opsi untuk menghadirkan layanan komunikasi yang lebih baik bagi pelanggannya yaitu menambah frekuensi melalui lelang atau menambah infrastruktur menara BTS.

“Siapa pun yang melakukan penawaran harga lelang tertinggi bisa mendapatkan frekuensi. Dengan memenangkan lelang frekuensi, operator tidak perlu lagi menawarkan kenaikan tarif ke pelanggan,” ujarnya.

“Lelang ini untuk menambah kapasitas dan memastikan operator nggak perlu harganya naik. Dengan penambahan frekuensi, layanan jadi lebih lancar karena kapasitas terjamin tanpa harus menaikkan tarif,” ucap Alex.

Alex mengatakan Indosat Ooredoo lebih memilih menambah frekuensi melalui lelang karena opsi menambah BTS cukup rumit.

“Kalau tambah BTS ribet sekali, masalahnya mulai dari sewa tower, belum lagi izin dari pemerintah daerah (pemda), dan banyak hal lainnya,” tuturnya.

Sebelumnya, Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara memastikan, Permen mengenai lelang frekuensi 2.100Mhz dan 2.300Mhz akan ditanda tangani akhir Mei 2017. Ia juga memastikan, proses lelang frekuensi 2.100Mhz dan 2.300Mhz akan dilaksanakan secara bersamaan.

“Bulan ini, Insya Allah saya tanda tangan peraturan menterinya,” kata Rudiantara dalam acara penandatanganan kerjasama Go-Jek dengan Bank BNI Syariah, BTN dan Permata Bank Syariah dalam program Swadaya di Jakarta, Selasa.

Ftiru Data Saver pada Twitter Lite bisa menghemat data sampai 70%.

Twitter Indonesia dan Indosat Ooredoo meluncurkan Twitter Lite di Indonesia yang menawarkan lebih hemat data, lebih cepat dan terjangkau.

Maya Hari (Managing Director, Twitter Asia Pacific) mengatakan Twitter Lite akan meningkatkan pengalaman mobile-first pengguna Indonesia dengan lebih cepat dan hemat data untuk mengakses beragam informasi tentang apa yang sedang terjadi saat ini.

[BACA: Twitter Lite Bikin Nge-Tweet Lebih Hemat Data]

“Twitter Lite menawarkan layanan yang lebih cepat dan terjangkau terutama pengguna yang menghadapi kendala dalam hal koneksi dan biaya paket data. Kami senang sekali menghadirkan pengalaman Twitter yang lebih baik agar pengguna Indonesia semakin terhubung dengan apa yang terjadi di dunia saat ini,” katanya di Pullman Hotel Thamrin, Jakarta, Rabu (3/5).

Maya mengatakan Indonesia adalah salah satu pangsa pasar penting bagi Twitter, mengingat pengguna Twitter di Indonesia termasuk lima besar di dunia.

“Dengan memori kurang dari 1 MB di ponsel, Twitter Lite menggunakan teknologi Progressive Web App yang dapat menghemat data hingga 70 persen, pemuatan konten yang 30 persen lebih cepat, serta navigasi yang lebih kencang,” ujar Maya.

Prashant Gokarn (Chief New Business & Innovation Officer, Indosat Ooredoo) mengatakan Twitter Lite membuat pengguna Indosat Ooredoo dapat menikmati manfaat akses Internet dan mendapatkan beragam informasi menarik.

“Para pengguna Twitter Lite bisa mengakses kanal hiburan dan olahraga yang lebih mudah dan instan. Anda tinggal masuk ke laman t.co/hiburan untuk mengetahui berita terkini seputar dunia hiburan serta t.co/olahraga untuk berita terkini seputar dunia olahraga,” katanya.

Twitter Lite tersedia di alamat http://mobile.twitter.com pada peramban di ponsel atau tablet dan tersedia dalam 42 bahasa, termasuk Bahasa Indonesia. Twitter menggandeng Indosat Ooredoo untuk akses informasi dua konten tersebut serta menyediakan akses berlangganan internet.

InfoKomputer CIO Forum with Indosat Ooredoo membahas topik keamanan TI di perusahaan, Rabu, 12 April 2017. [Foto: Abdul Aziz/InfoKomputer]

Pada akhir Maret lalu, terjadi sebuah kasus serangan siber (cyber attack) yang menimpa situs agen travel online Tiket.com. Peristiwa tersebut cukup menghebohkan karena diotaki oleh SH, seorang pemuda berusia 19 tahun dan hanya lulusan SMP.

Modusnya pun sederhana, SH mengaku berhasil meretas server Tiket.com serta mengambil username dan password yang dibutuhkan untuk masuk ke portal jual beli tiket maskapai Citilink. Setelah itu, ia menjual tiket pesawat curian itu dengan potongan harga sampai 60% melalui anak buahnya.

Akibat kejadian itu, Tiket.com harus menanggung kerugian Rp4,1 miliar, sedangkan Citilink merugi Rp1,9 miliar karena ada sejumlah orang yang membeli tiket dari sindikat peretas itu dengan melakukan pembatalan dan meminta refund.

Berpindah ke Amerika Serikat, pada bulan lalu, lebih dari 1.200 hotel yang tergabung di dalam jaringan InterContinental Hotels Group (IHG) menjadi korban peretasan yang berlangsung selama tiga bulan (29 September – 29 Desember 2016).

Serangan siber itu melibatkan malware yang menyasar data-data yang disimpan pada pita magnet di kartu kredit pelanggan hotel, antara lain nama pemilik kartu, nomor kartu, masa berlaku, dan kode verifikasi internal kartu.

Sebagai informasi, IHG adalah pengelola dari beberapa merek hotel ternama, antara lain InterContinental, Holiday Inn, dan Crowne Plaza. Dengan musibah ini, IHG menyusul jaringan hotel lainnya, seperti Hyatt, Hilton, Starwood, dan Trump Hotels, yang pernah menjadi korban serangan siber.

Tren Keamanan Siber

Kedua peristiwa di atas menunjukkan bahwa telah terjadi perkembangan pola kejahatan siber (cybercrime) dalam beberapa tahun terakhir.

Para penjahat siber tidak lagi mengincar sasaran-sasaran konvensional, semacam institusi keuangan dan perusahaan telekomunikasi. Mereka sudah memperluas target ke sektor-sektor industri lainnya, mulai migas, retail, e-commerce, pemerintahan, layanan kesehatan, sampai lembaga pemerintahan.

Laporan IBM X-Force Cyber Security Intelligence Index 2016 menyebutkan lima sektor industri yang paling rawan terkena serangan siber adalah: kesehatan, manufaktur, jasa keuangan, pemerintahan, dan transportasi.

Sedangkan dalam Global Threat Intelligence Report 2016 yang dirilis Dimension Data, sektor retail kini menempati urutan teratas pada daftar industri yang paling sering mengalami ancaman siber, menggeser sektor keuangan.

Data lainnya diungkapkan oleh Cisco Annual Cybersecurity Report 2017 bahwa lebih dari sepertiga dari 3.000 perusahaan yang disurvei mengaku telah mengalami security breach atau pembobolan keamanan pada tahun 2016. Walhasil, mereka harus kehilangan setidaknya 20 persen dari jumlah pelanggan, kesempatan bisnis, dan pemasukan.

Sementara itu, dari sudut pandang modus serangan siber, ransomware adalah salah satu yang terpopuler di samping spear phishing, mobile malware, dan DDoS (Distributed Denial-of-Service) dengan menggunakan jasa botnet.

Menurut data FBI, kerugian yang ditimbulkan oleh ransomware di seluruh dunia sepanjang 2016 mencapai lebih dari US$1 miliar dan bisa bertambah pada tahun ini. Penggunaan perangkat mobile di kantor juga mendorong makin gencarnya penjahat mengulik celah keamanan dan bug pada iOS, Android, dan Windows, serta aplikasi populer seperti WhatsApp dan Gmail agar bisa menerobos masuk ke sistem.

Meskipun demikian, modus serangan klasik yang berbasis e-mail, contohnya scam dan Business Email Compromise (BEC), juga makin tinggi frekuensinya. Pasalnya, jenis serangan seperti itu jauh lebih murah dan mudah dilakukan dengah iming-iming hasil yang cukup besar. Sebuah serangan BEC diperkirakan bisa menghasilkan paling tidak US$140.000, cukup bermodal umpan jebakan pada e-mail yang dikirimkan kepada karyawan-karyawan yang kurang waspada.

Gildas Deograt (Senior Information Security Consultant, XecureIT) mengisahkan salah satu kasus BEC yang pernah ia tangani. “Ada sebuah perusahaan ekspor impor yang sedang bertransaksi [lewat e-mail]. Pada saat akan mengirim uang, mereka menerima e-mail bahwa rekeningnya ganti pakai rekening bank baru. Akhirnya, mereka transfer ke rekening baru itu,” paparnya.

Ternyata, akun e-mail penerima sudah diretas oleh penjahat siber. Selama komunikasi soal transaksi antara kedua perusahaan berjalan, si penjahat hanya diam dan memonitor sambil memperhatikan gaya bahasa, cara menyapa, dan sebagainya. “Begitu pas jatuh tempo pembayaran, barulah mereka beraksi [dengan mengirim e-mail penggantian nomor rekening],” kata Gildas.

Gildas Deograt (Senior Information Security Consultant, XecureIT).

Berkaitan dengan risiko pembobolan internet banking dan mobile banking, Gildas mengaku telah menelitinya sejak tahun 2007, jauh sebelum perbankan ramai-ramai pindah ke layanan digital. Sayangnya, masih banyak bank yang belum mempersiapkan diri dalam menghadapi ancaman siber.

“Secara substansi, memang betul bahwa industri banking lebih aman [dari sisi kekuatan] daripada industri lain. Tetapi, dari teknik serangan yang ada saat ini kalau diberi skor 7 – 8,5, keamanan yang ada [di bank] mungkin baru 3 – 3,5,” ujar salah seorang perumus Badan Siber Nasional ini.

Gildas juga mengingatkan bahwa risiko serangan siber itu bukan hanya berdampak pada perusahaan dan nasabah atau pelanggannya, melainkan juga pada masyarakat luas. Dalam sebuah lokakarya di PPATK (Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan), ia pernah menemukan indikasi aliran dana hasil kejahatan siber yang digunakan untuk TPPU (Tindak Pidana Pencucian Uang) dan TPPT (Tindak Pidana Pendanaan Terorisme).

“Pencurian dana Rp10 miliar mungkin tergolong kecil dibandingkan aset perusahaan, tetapi bisa berbahaya untuk negara kita,” tuturnya.

Akar Masalah Sekuriti

Sebagian besar perusahaan yang telah mengeluarkan investasi sampai miliaran rupiah di bidang keamanan TI mungkin sudah merasa aman dari ancaman siber. Padahal, kenyataannya belum tentu.

Perusahaan tidak bisa bergantung begitu saja pada solusi sekuriti yang ditawarkan oleh berbagai vendor. Alih-alih memperkuat benteng pertahanan, penggunaan lebih dari enam produk keamanan pada saat bersamaan justru membuat celah keamanan kian besar. Manajemen sekuriti pun ikut bertambah rumit.

“Akar masalah itu sebenarnya kesadaran orang. Kebiasaan umum, kalau menemukan security warning, mereka akan klik continue. Bayangkan, hanya gara-gara satu klik, seluruh arsitektur keamanan yang luar biasa bisa bubar jalan,” tukas Gildas.

Gildas juga menyoroti para penyedia sistem dan teknologi yang kurang sigap merilis patch keamanan. Begitu tersedia, giliran perusahaan yang lambat dalam menerapkan patch tersebut.

“Banyak perusahaan bilang punya patch management, tetapi 98% critical patch-nya tidak di-update dalam satu bulan. Bahkan, rata-rata orang deploy patch baru itu setiap tiga bulan,” kata Gildas. “Sedangkan saat vendor merilis patch, penjahat bisa reverse engineering dua menit jadi dan bisa langsung mengeksploitasi [celah keamanan yang ditambal patch itu],” sambungnya.

Intinya, Gildas menekankan agar CIO dan penanggungjawab keamanan TI di perusahaan jangan lengah dan merasa percaya diri tidak bisa ditembus penjahat siber. “Karena di mindset para hacker, semua bisa! Tinggal soal waktu, biaya, dan usaha yang dibutuhkan untuk membobolnya,” tandas pendiri Komunitas Keamanan Informasi (KKI) ini.

CIO Bisa Dipidanakan

Berbicara isu keamanan tentu saja tidak bisa dilepaskan dari faktor regulasi. Dalam hal keamanan siber, aturan hukumnya telah diuraikan pada Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) yang diterbitkan Pemerintah Indonesia sejak tahun 2008.

Beberapa pasal yang menyangkut kejahatan siber antara lain Pasal 27, 28, 29 (tentang konten ilegal dan penghinaan/pencemaran nama baik), Pasal 30 (akses ilegal), Pasal 31 (intersepsi/penyadapan ilegal), Pasal 32 (gangguan terhadap data), Pasal 33 (gangguan terhadap sistem), dan Pasal 34 (penyalahgunaan alat dan perangkat).

Sayangnya, persepsi sebagian masyarakat Indonesia terhadap penjahat siber masih keliru. Peretas dianggap sebagai orang berbakat yang harus direkrut Pemerintah, bukannya dihukum.

“Ini berbahaya,” ucap Edmon Makarim (Pakar Hukum Teknologi Informasi dan Dosen Universitas Indonesia). “Kalau kita terlalu glorify penjahat, orang lain akan tertarik untuk jadi penjahat juga,” lanjutnya.

Edmon Makarim (Pakar Hukum Teknologi Informasi dan Dosen Universitas Indonesia).

Selain itu, Edmon mengingatkan bahwa dalam kasus kejahatan siber, kesalahan bukan hanya berada di pihak pelaku serangan, terutama kalau melibatkan pencurian data. Di mata hukum, perusahaan yang dicuri datanya pun bisa saja digugat ke pengadilan. Apa sebabnya?

Edmon menjelaskan bahwa secara konstitusi, kaidah dasar sistem elektronik adalah tidak aman. Selaku penyelenggara sistem, perusahaan berkewajiban menyediakan teknologi yang membuat sistem itu menjadi aman. Apabila kewajiban itu tidak ditunaikan dengan baik, risiko keamanan bisa muncul dan membahayakan pengguna sistem. “Dan siapa yang menciptakan risiko terhadap pihak lain, dia yang bertanggungjawab atas konsekuensi risiko itu,” tukasnya.

Pada umumnya, tanggung jawab keamanan TI pada suatu perusahaan diemban oleh CIO atau CISO (Chief Information Security Officer). Oleh karena itu, seorang CIO dapat dituntut secara pidana atau perdata, misalnya jika ia mengetahui adanya lubang keamanan pada sistem atau software di perusahaan, tetapi tidak segera melaporkan dan menanganinya.

Keamanan Informasi di Mata CIO

Keamanan informasi senantiasa mendapat perhatian dan prioritas tinggi di lingkungan korporasi. Tak jarang, sebuah perusahaan mengimplementasikan solusi paling mumpuni sebagai langkah antisipasi mengamankan informasi.

Namun, faktor manusia sebagai sambungan terlemah dalam rantai sekuriti (the weakest link in the security chain) masih kerap terjadi. Awareness atau kesadaran di tingkat manajemen maupun pengguna ternyata masih menjadi pangkal persoalan keamanan informasi. Hal tersebut mengemuka dalam acara InfoKomputer CIO Forum, ajang diskusi para pemimpin dan pakar TI yang berlangsung bulan April lalu di Hotel Pullman Thamrin, Jakarta.

Pada zaman sekarang, kehilangan notebook atau perangkat mobile lainnya mungkin tak terlalu mengkhawatirkan pengguna karena vendor sudah menyediakan fitur-fitur proteksi untuk melindungi data dan memblokir perangkat secara fisik. Namun, ternyata itu tak sepenuhnya benar. Setidaknya itu yang dialami Faisal Yahya (Head of IT, PT IBS Insurance Broking Service).

Ketika seorang karyawan IBS kehilangan notebook, awalnya semua mengira situasinya akan aman saja. Dengan fitur proteksi pada notebook tersebut, perangkat secara otomatis terblokir sehingga kecil kemungkinan sang pencuri bisa memanfaatkan notebook berikut isinya. Namun entah bagaimana caranya, si pemilik notebook menerima SMS berisi URL address untuk melepas blokir perangkat yang hilang tersebut dan memasukkan password yang diminta.

Faisal Yahya (Head of IT, PT IBS Insurance Broking Service).

Menurut Faisal, sang karyawan sebenarnya termasuk orang yang memiliki pengetahuan cukup tentang keamanan informasi. “Tapi, dia emosional dan langsung mengeklik tanpa berpikir bahwa itu phishing,” imbuhnya. Dari contoh itu, tak salah jika kemudian ada yang berpendapat bahwa sebuah infrastruktur keamanan informasi di lingkungan korporasi yang mungkin nilainya mencapai ratusan ribu dolar bisa “dimandulkan” begitu saja oleh ketidakmengertian pengguna.

Contoh lain dikemukakan oleh Danny Natalies (Head of IT, Atma Jaya). “Di kampus, ada user yang sering lupa logout pas jam istirahat. Bagaimana misalnya di situ ada tenaga outsource yang adiknya kuliah di situ. Di sisi teknologi kami bisa proteksi, tapi kalau user tidak aware bagaimana?” cetus Danny.

Rudy Kosasih (General Manager IT, PT Mayora Indah, Tbk.) juga harus terus menerus menghimbau para customer agar berpikir lebih kritis. Upaya ini ia tempuh setelah perusahaan yang bergerak di bidang food manufacturing dan distribution itu beberapa kali mengalami serangan keamanan.

Salah satunya adalah upaya mengalihkan aliran transfer pelanggan dan mitra Mayora melalui Business E-mail Compromise.  “Seringkali customer lebih easy going, nggak terlalu care dengan hal-hal seperti ini,” ungkapnya tentang pelanggan dan mitra, khususnya yang berada di luar Indonesia.

Sementara itu, langkah Kustinah Kusnadi menerapkan keamanan informasi di lingkungan internal maupun eksternal PT Mitsui Leasing Capital Indonesia mengundang komplain dari pengguna yang merasa berkurang kenyamanannya.

“Karena sekuriti yang kami terapkan di sini, baik e-mail, inernet, WiFi tidak hanya di komputer desktop atau laptop, tetapi juga perangkat pribadi,” jelas wanita yang menjabat IT Division Head itu. Padahal, implementasi tersebut tak lepas dari keharusan mematuhi aturan-aturan untuk lembaga keuangan yang dikeluarkan oleh OJK.

Kurangnya Perhatian Manajemen

Menurut Eka Suharto (IT Division Head, Adaro Energy), keamanan informasi sebenarnya sudah menjadi masalah global yang diketahui jajaran manajemen korporasi. “Tapi terkadang mereka tidak aware atau tidak menghubungkannya dengan policy perusahaan,” ujar Eka.

Walhasil, ketika jajaran manajemen disodori misalnya biaya pelatihan atau biaya pembelian solusi terkait keamanan informasi, mereka serta merta menganggap keamanan sebagai cost. “Kita harus pintar-pintar menyajikan benefit dan revenue yang bisa dijaga. Oke, kita akan keluarkan sebesar X tapi keuntungannya bisa 30X. Nah, itu baru bisa dapat tanda tangan,” ujar pemenang InfoKomputer CIO Awards 2015 itu setengah berkelakar.

Alotnya memperoleh lampu hijau dari jajaran manajemen untuk menerapkan keamanan informasi juga dirasakan Indosat Ooredoo. “Problem terberat adalah mendapat approval dari CFO,” ungkap Budiharto (Group Head Business Product, Indosat Ooredoo). Umumnya, investasi di bidang sekuriti baru disetujui sesudah ada kejadian. “Setelah investasi pun, CFO akan nanya, bakal terjadi lagi nggak [serangannya]?” imbuh Budiharto.

Keinginan menggebu-gebu untuk memanfaatkan peluang di arena e-commerce, menurut Yunan Fatoni (Head of IT, Lee Cooper), membuat platform belanja online milik perusahaan retail fashion itu sempat dijalankan dengan sistem keamanan preventif yang minimal. “Waktu itu karena keinginan yang kuat, kami jalan dulu saja, lihat nanti [risikonya],” cerita Yunan.

Setelah bisnis e-commerce-nya berjalan selama dua tahun dan mencapai dua persen dari total growth Lee Cooper, Yunan mengakui mulai ada yang coba-coba menerobos sistem keamanan. “So far yang kami temui masih hacker yang baik, hanya di-deface, diganti halamannya,” ujarnya lagi.

Menghadapi aneka ancaman keamanan terkini, Faisal Yahya juga menerapkan beragam cara. Phishing URL menjadi perhatian utama Faisal, terutama ketika pengguna mengakses dari luar jaringan dan firewall kantor. “Solusinya adalah kami ubah URL tersebut, ketika masuk ke dalam mail server kami lakukan perubahan, kami tambahkan parameter tertentu sehingga setiap diklik harus melalui URL yang lokasinya ada di lingkungan kantor,” paparnya.

Untuk menghadapi ancaman ransomware yang sedang marak saat ini, Faisal menerapkan teknik reversing encryption dan decryption terhadap file asli yang disimpan di server. “Kami gunakan public key dan private key encryption. Public key-nya kami simpan, jadi kami tinggal reverse dengan file-file orisinal yang sudah disimpan,” ujar Faisal.

Pengalaman menarik lainnya diutarakan Lucky Ida Royani (Corporate IT Division Head, PT Bakrieland Development, Tbk.) terkait serangan DDoS. Uniknya, serangan itu ditengarai sebagai dampak dari perseteruan antara Bakrie Group dan salah satu investornya, Rothschild.

“Entah kebetulan atau tidak, pada waktu itu, kami secara masif mengalami serangan siber dari berbagai negara. Sepertinya mereka menanam aplikasi pada server-server di Asia dan Eropa yang terus-menerus 24 jam menyerang server kami selama satu bulan,” Ida mengisahkan.

Untungnya, upaya DDoS itu tidak sampai mengakibatkan downtime yang cukup lama. Namun, performa sistem di perusahaan, khususnya e-mail dan internet, terdampak penurunan performa yang cukup parah.

“Akhirnya, kami memutuskan untuk whitelist [server-server] yang memang membutuhkan koneksi kepada kami selama periode tertentu sampai situasinya kondusif, sambil kami tingkatkan policy dan pengamanan, seperti firewall dan antivirus, serta edukasi pengguna,” tukas Ida.

Meningkatkan Kesadaran

Dari berbagai pengalaman tersebut, para pemimpin TI yang berkumpul dalam acara CIO Forum yang digelar InfoKomputer bersama Indosat Ooredoo itu mengemukakan beberapa cara untuk meningkatkan kesadaran pengguna maupun manajemen.

Berada di tengah perusahaan yang berupa kelompok usaha dengan berbagai bidang usaha, Eka Suharto harus meningkatkan kesadaran tidak hanya di lingkungan holding, tetapi sampai ke level subsidiary dan jajaran manajemennya.

“Selain itu, dari sisi SDM, kami juga harus menyiapkan kompetensinya karena kalau dulu sekuriti hanya tentang firewall, sekarang sudah berkembang,” jelas Eka. Kesiapan kompetensi ini sebagai bagian dari melengkapi proses atau tahap-tahap untuk menangani keamanan informasi, termasuk melengkapinya dengan tools agar pekerjaan-pekerjaan manual dapat dikurangi.

Eka Suharto (IT Division Head, Adaro Energy).

Sementara itu, untuk memperoleh dukungan manajemen, Budiharto memilih untuk memfokuskan pada upaya perlindungan aset terpenting perusahaan. “Kami lihat itu adalah data atau informasi. Ya sudah, kami buatkan journey data tersebut, mulai dari creator sampai ke user. Lalu kami mapping solusinya serta kami lihat probablitas [gangguan kemanan itu] sering terjadi di mana. Dari situ kami buat fase-fase implementasi untuk reduce risk di A, di B, di C dan seterusnya,” ujarnya panjang lebar.

Menangani keamanan informasi di lingkungan kampus dan rumah sakit Atma Jaya, Danny Natalies harus menerapkan strategi yang berbeda dari rekan sejawatnya di lingkungan koporasi. Misalnya ketika ia terbentur pada user-user yang secara akademis atau profesi memiliki klasifikasi tinggi. “Solusinya, kami harus mingle, datangi para user ini satu per satu, dan menjelaskan kepada mereka. Lalu kami jadikan mereka champion [dalam implementasi sistem ini],” ungkap Danny.

Danny juga harus secara komprehensif merangkul semua pihak yang terlibat untuk memastikan agar aspek prosedur, proses bisnis, dan kepatuhan (compliance) sesuai dengan standar sekuriti yang diterapkan.

PT Prudential Life Assurance Tbk. juga sangat berhati-hati dengan keamanan informasi karena perusahaan asuransi ini mengelola dana milik nasabah. “Ada tiga aspek yang menjadi perhatian kami yakni dari sisi teknologi, policy dan prosedur, dan user behavior,” jelas CIO-nya, Iskak Hendrawan.

Dari sisi kebijakan dan prosedur, sudah ada tata cara penggunaan teknologi sehingga pengguna tidak boleh sembarangan menggunakan aset perusahaan. “Dan ketika ada situasi di mana tidak sesuai dengan standar dan prosedur, akan ter-register dan sifatnya auditable,” ujarnya.

Dari sisi teknologi, menurut Iskak, rata-rata FSI memilih bersikap “paranoid”. Misalnya, Prudential memasang tiga tier firewall. Aneka macam sistem pengamanan juga diterapkan untuk menjaga keamanan di sisi endpoint. Sedangkan dari aspek user behavior, Iskak dan timnya bekerja sama dengan tim risk management untuk mengkomunikasikan awareness dalam penggunaan teknologi dan infrastrukturnya.

Sebagai kata pamungkas, Eko Indrajit (Chairman, Asosiasi Perguruan Tinggi Informatika dan Komputer/APTIKOM) menyimpulkan enam elemen penting di dunia keamanan siber dalam Cyber Six, yaitu Cyberspace, Cyber Threat, Cyber Attack, Cybersecurity, Cybercrime, dan Cyber Law. Keenamnya adalah siklus yang saling berhubungan satu sama lain.

“Memandang security saat ini harus komprehensif, jangan hanya melihat sepotong-sepotong. Cari solusi yang terintegrasi dan terbuka untuk bekerjasama dengan partner,” pungkasnya.

Pengalaman Indosat Ooredoo Mengelola Keamanan Informasi

Di dunia industri, ada dua institusi yang dikenal tangguh dalam menjaga keamanan TI, yaitu keuangan dan telekomunikasi. Wajar saja, mengingat kedua sektor itu berurusan langsung dengan data-data pribadi nasabah atau pelanggan.

Mereka wajib berusaha ekstra demi melindungi data dari pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab. Jika sampai terjadi peretasan atau kebocoran data secara masif, konsekuensinya fatal. Reputasi bisa tercoreng dan para pelanggan kabur. Belum lagi tuntutan hukum yang menanti.

Sebagai perusahaan telekomunikasi yang sudah berdiri lebih dari setengah abad, Indosat Ooredoo tentu saja sudah sangat ahli dalam mengelola keamanan informasi. Namun, seiring perkembangan bisnis ke arah layanan digital, seperti aplikasi mobile, e-money, dan data center, Indosat Ooredoo pun menghadapi tantangan baru.

“Awalnya, sangat sulit menangani information security karena ada dua sisi, data dan orang yang menggunakan data itu,” kata Budiharto (Group Head Business Product, Indosat Ooredoo) yang berpengalaman membidani sistem TI Indosat Ooredoo. “Jadi, kami start dari aset yang paling berharga bagi perusahaan, yaitu data nasabah dan konfigurasi sistem,” lanjutnya.

Ia memaparkan bahwa perjalanan data secara garis besar terdiri dari tiga fase: data at rest (saat berada di server), data in motion (saat berada di jaringan), dan data in use (saat data dibuka oleh pengguna). Semua sisi itu harus dilindungi dan dikontrol.

“Kami bikin journey-nya dan memperkirakan apa saja yang bakal terjadi. Contohnya, saat data ada di server, kemungkinan diakses dari mana saja. Dari situ, kami buat fase-fase implementasi untuk reduce risk di A, di B, di C dan seterusnya,” ujar Budi.

Herfini Haryono (Director and Chief Wholesale and Enterprise Officer, Indosat Ooredoo).

Tantangan ini dilalui Indosat Ooredoo dengan sukses sehingga saat ini, mereka percaya diri untuk beralih peran. Bukan lagi sekadar pengguna, melainkan juga sebagai penyedia solusi Information Security kepada perusahaan-perusahaan lain. Inilah langkah selanjutnya dari transformasi model bisnis Indosat Ooredoo, dari telekomunikasi ke ICT partner.

“Sekarang kita bicara soal digital journey, setelah kami sosialisasi tentang data center, security is the next step. Paling tidak, kita mulai alert atau assess security [perusahaan], apakah sudah cukup aman,” ucap Herfini Haryono (Director and Chief Wholesale and Enterprise Officer, Indosat Ooredoo).

Alexander Rusli (President Director & CEO, Indosat Ooredoo) menambahkan bahwa transformasi digital dalam era bisnis modern adalah suatu hal yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Mau tidak mau, perusahaan harus berkolaborasi dengan new business yang sebetulnya mungkin belum punya keahlian sekuriti yang mumpuni.

Alexander Rusli (President Director & CEO, Indosat Ooredoo).

“Kami pernah bekerjasama dengan Facebook dalam program Internet.org untuk menyediakan akses internet gratis. Kombinasi closed loop dengan open loop, akibatnya sistem hampir crash. Kami sampai harus upgrade sistem dua kali. Tapi, konsumen cuma tahu internet gratis dan harus cepat,” Alex bercerita.

Alex mengungkapkan bahwa di awal peluncuran program Internet.org, sistemnya belum benar-benar aman dan terus muncul lubang keamanan baru. Namun, program harus tetap berjalan sambil terus menambal lubang-lubang itu.

“Itulah mengapa tugas CIO hari ini sangat sulit. Ada demand dari atasan untuk integrasi dengan sales channel, partner… nggak ada kata tunggu. They will tell you, ‘make it happen or I will fire you’,” tandas Alex.

Ilustrasi denah kabel bawah laut Google antara Singapura dan Australia yang melewati Jakarta.

Google menanamkan investasi pada pembangunan kabel bawah laut terbaru yang bernama Indigo untuk menghubungkan Singapura ke Perth dan Sydney di Australia dengan cabang di Jakarta, Indonesia.

Jaringan kabel Indigo itu memiliki panjang hampir 5.600 mil (9.000 kilometer) dan akan dibangun oleh konsorsium yang mencakup AARNet, Indosat Ooredoo, Singtel, SubPartners, dan Telsta, seperti dikutip TechCrunch.

Indigo mengusung dua pasang serat berkapasitas 18 terabit per detik dan dapat diperluas di masa depan. Google melihat kapasitas sebesar itu dapat melakukan 8 juta panggilan video Google Hangout secara bersamaan.

Meskipun demikian, kapasitas 18 terabit per detik tidak mampu menangani semua panggilan pada waktu tertentu dan tidak terlalu cepat dengan standar saat ini. Sebagai perbandingan, kabel bawah laut antara Hong Kong dan Los Angeles hasil investasi Google dan Facebook saja mencapai 120 terabit per detik.

Sayangnya, Google tidak mengungkapkan nilai investasinya. Namun, diketahui bahwa kabel APX-West antara Singapura dan Perth, yang akhirnya berkembang menjadi konsorsium Indigo, membutuhkan biaya lebih dari US$75 juta atau sekitar Rp 1 triliun untuk pembangunannya.

Google telah membuat total tujuh investasi kabel bawah laut sejauh ini dan lima di antaranya berada di Asia.

Pelanggan Google yang berada di Australia seperti Sydney, Perth, dan benua akan Asia memiliki jatah bandwidth yang lebih besar dan dapat merasakan koneksi yang lebih cepat serta latency (keterlambatan komunikasi) yang lebih rendah.

Secara keseluruhan, konektivitas Australia ke seluruh dunia akan meningkat selama beberapa tahun ke depan, dengan berbagai proyek kabel bawah laut baru dijadwalkan selesai pada 2018.

Para pemenang kompetisi Indosat Ooredoo Stock Trading Contest (ISTC) 2016.

Saham adalah instrumen dan investasi bisnis yang sangat menggiurkan. Jika Anda jeli, Anda bisa untung. Sebaliknya, jika Anda ceroboh, Anda bisa buntung.

Juara satu Indosat Ooredoo Stock Trading Contest (ISTC) 2016 kategori pelajar Firdaus Sahrul Anggara mengatakan prospek investasi saham di Indonesia sangat besar karena orang yang berinvestasi di pasar modal masih sangat sedikit.

[BACA: Inilah Daftar Pemenang ISTC 2016]

“Jangan takut main saham karena investor lokal yang main masih sedikit. Jadi, peluangnya besar,” katanya dalam ajang penyerahan penghargaan ISTC 2016 di Jakarta, Senin (3/4). BEI mengungkapkan hanya 529 ribu orang Indonesia yang ikut berpartisipasi di pasar modal dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang sekitar 250 juta.

Firdaus pun memberikan sejumlah tips bagi Anda dan para investor pemula yang ingin bermain saham.

Pertama, Anda harus melihat jejak rekam keuangan perusahaan dan potensi bisnisnya di masa depan sehingga Anda tidak sembarangan dan kecewa berinvestasi.

“Anda harus melihat prospek perusahaan itu sendiri. Fundamental bisnisnya dan laporan keuangannya seperti apa. Kalau potensi bagus di masa depan, Anda bisa menanamkan saham di sana,” ujarnya.

Kedua, perhatikan technical moving-nya. Bagaimana pergerakan dan pola saham perusahaan tersebut sehingga Anda bisa mengetahui kapan menanamkan saham dan kapan harus menariknya.

Bagaimana dengan potensi saham industri telekomunikasi di Indonesia seperti Indosat Ooredoo. Firdaus melihat prospek investasi saham di industri telekomunikasi sangat bagus, menyusul 10 tahun lagi dunia digital memegang kendali pasar karena banyak orang dan industri yang menggunakannya.

“Laba bersih Indosat Ooredoo naik tahun lalu dan itu berarti prospeknya bagus. Jadi prospek saham telekomunikasi tidak usah diragukan. Saham Indosat prospeknya sangat bagus,” pungkasnya.

Menumbuhkan Minat Masyarakat

Alexander Rusli (President Director & CEO, Indosat Ooredoo) mengatakan Indosat Ooredoo memahami minat masyarakat Indonesia untuk berpartisipasi di bursa saham terbilang masih cukup minim. BEI mengungkapkan hanya 529 ribu orang Indonesia yang ikut berpartisipasi di pasar modal.

Alexander Rusli (President Director & CEO, Indosat Ooredoo).

“Jumlah peserta ISTC 2016 sebanyak 10 ribu masih kecil, jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia. Meskipun, kami senang jumlah peserta ISTC tahun ini sebanyak 10 ribu peserta, meningkat dari tahun sebelumnya sebanyak 8 ribu peserta. Artinya, ada peningkatan generasi muda yang ingin terjun ke pasar modal,” katanya di Jakarta, Rabu (3/4).

Alexander mengatakan Indosat Ooredoo ingin menumbuhkan minat masyarakat Indonesia terutama generasi muda agar dapat berpartisipaso di dalam pasar bursa saham Indonesia dengan memaksimalkan manfaat dari dunia digital.

“Indosat Ooredoo ingin menanamkan kepada generasi muda bahwa pasar modal itu menjadi salah satu roda penggerak ekonomi Indonesia. Dengan menjadi investor yang aktif di pasar modal, mereka secara tidak langsung membantu perekonomian negara,” ujarnya.

“Program ISTC merupakan salah satu program yang bisa mwujudkan Indonesia sebagai salah satu negara ekonomi terbesar di Asia,” pungkasnya.

Para pemenang kompetisi Indosat Ooredoo Stock Trading Contest (ISTC) 2016.

Indosat Ooredoo memberikan penghargaan kepada enam pemenang Indosat Ooredoo Stock Trading Contest (ISTC) 2016 di Kantor Pusat Indosat Ooredoo, Jakarta, Senin (3/4). Program itu merupakan komitmen Indosat Ooredoo untuk meningkatkan jumlah investor andal di pasar modal Indonesia.

Sepanjang periode penyelenggaraan, ISTC 2016 sukses menjaring 10 ribu peserta dari seluruh Indonesia dan melakukan roadshow ke berbagai kota di Indonesia. Hasilnya, ada enam finalis yang berasal dari daerah-daerah seperti Jakarta, Malang, Yogyakarta, dan Padang.

Untuk kategori Pelajar, juara pertama ISTC 2016 jatuh pada Firdaus Sahrul Anggara dari Universitas Brawijaya, juara kedua adalah Gitra Moraza dari Universitas Andalas, dan juara ketiga adalah Daniel Parulian dari Universitas Brawijaya.

Sedangkan untuk kategori Non-Pelajar, juara pertama ISTC 2016 yaitu Dwi Winarno dari Depok, juara kedua Chandra Ismartinno dari Sleman – Yogyakarta, dan juara ketiga Mario Taqwa dari Jakarta.

Dewan juri ISTC 2016 menilai para pemenang berdasarkan kriteria yaitu kesuksesan menentukan strategi investasi yang tepat, mendapatkan peringkat (portofolio) terbaik, membuat rencana ke depan sebagai investor, dan memasukkan pengembangan pasar modal Indonesia.

Para peserta ISTC menggunakan aplikasi digital (mobile apps) untuk bertransaksi secara virtual dengan data real time dari BEI. Hadiahnya, para pemenang mendapatkan uang tunai dan penyertaan modal.

ISTC menghadirkan aplikasi mobile yang membuat ajang kompetisi ini semakin seru dan diminati oleh generasi muda seluruh Indonesia. Aplikasi ini dibuat oleh PT Trimegah Sekuritas, Tbk.

Roda Penggerak Ekonomi

Alexander Rusli (President Director & CEO, Indosat Ooredoo) mengatakan Indosat Ooredoo memahami minat masyarakat Indonesia untuk berpartisipasi di bursa saham terbilang masih cukup minim. BEI mengungkapkan hanya 529 ribu orang Indonesia yang ikut berpartisipasi di pasar modal.

“Jumlah peserta ISTC 2016 sebanyak 10 ribu masih kecil jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia. Meskipun begitu, kami senang jumlah peserta ISTC tahun ini sebanyak 10 ribu peserta, meningkat dari tahun sebelumnya sebanyak 8 ribu peserta. Artinya, ada peningkatan generasi muda yang ingin terjun ke pasar modal,” katanya.

Alexander mengatakan Indosat Ooredoo ingin menumbuhkan minat masyarakat Indonesia terutama generasi muda agar dapat berpartisipasi di dalam pasar bursa saham Indonesia dengan memaksimalkan manfaat dari dunia digital.

“Indosat Ooredoo ingin menanamkan kepada generasi muda bahwa pasar modal itu menjadi salah satu roda penggerak ekonomi Indonesia. Dengan menjadi investor yang aktif di pasar modal, mereka secara tidak langsung membantu perekonomian negara,” ujarnya.

“Program ISTC merupakan salah satu program yang bisa mewujudkan Indonesia sebagai salah satu negara ekonomi terbesar di Asia,” pungkasnya.

Roadshow ISTC 2016 di Universitas Andalas, Padang.

Menurut data Otoritas Jasa Keuangan RI (OJK), tingkat literasi masyarakat terhadap pasar modal masih 3,7 persen pada 2015. Tahun ini, tingkat literasi masyarakat terhadap pasar modal meningkat menjadi 4,4 persen.

Nicky Hogan (Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia) mengatakan ajang ISTC bisa meningkatkan literasi pasar modal di masyarakat karena kompetisi ISTC bisa meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pasar modal.

“ISTC bisa membuat masyarakat lebih melek keuangan dan membawa masyarakat ke satu tahapan yaitu literasi,” ucapnya.

Sharif Mahfoedz (Division Head Core Service & Bundle Offering), Alexander Rusli (President Director & CEO Indosat Ooredoo) dan J. Jason Monteiro (Group Head Proposition & Acquisition) (ki-ka) meluncurkan terobosan terbaru IM3 Ooredoo Data Rollover

IM3 Ooredoo mengumumkan sebuah program Data Rollover yang diklaim merupakan terobosan dalam industri telekomunikasi di Indonesia.

Data Rollover memungkinkan pelanggan yang tidak menggunakan kuota data utama sampai habis sehingga bisa menggunakan sisa kuota yang ada di bulan berikutnya. Pelanggan dapat mengakumulasi sisa kuota ini selama satu tahun.

Data Rollover merupakan sebuah fitur tambahan yang dihadirkan bagi pelanggan Freedom Combo dan seluruh paket Internet Bulanan IM3 Ooredoo.

“Pelanggan dapat secara otomatis menyimpan sisa kuota utama yang tidak terpakai di setiap bulan secara gratis,” kata Alexander Rusli (President Director & Chief Executive Officer Indosat Ooredoo) di Jakarta, Kamis (2/1).

Data Rollover menghilangkan pengalaman internet yang tidak menyenangkan dalam industri telekomunikasi terkait dengan pengambilan kembali sisa kuota internet yang tidak terpakai, meskipun kuota tersebut telah dibayar oleh pelanggan.

Lebih dari itu, Data Rollover dapat dinikmati oleh semua orang, baik pelanggan setia maupun pelanggan baru IM3 Ooredoo tanpa dikenakan biaya tambahan. Pelanggan hanya perlu memastikan pulsa yang ada cukup sewaktu perpanjangan paket. Selain itu, mereka juga bisa melakukan pembelian ulang paket internet bulanan dengan harga yang sama atau lebih besar.

Memberi Keadilan bagi Pelanggan

Data Rollover memastikan pelanggan untuk dapat menyimpan kuota yang tidak mereka pergunakan sehingga tidak ada uang atau kuota internet yang terbuang sia-sia.

“Seringkali pelanggan membayar penuh paket internet dan di akhir periode sisa kuota internet yang tidak terpakai hilang begitu saja di bulan berikutnya. Banyak pelanggan yang masih memiliki sisa kuota internet tidak terpakai itu, tidak dapat menggunakannya secara penuh,” ujar Alexander.

IM3 Ooredoo melihat ada juga pelanggan yang menggunakan seluruh kuota internetnya, tetapi pelanggan takut untuk melangkah ke paket yang lebih besar atau membeli kuota lebih besar karena khawatir akan kuota yang nantinya tidak terpakai habis.

Dengan menggunakan Data Rollover, pelanggan yang memiliki kuota dalam jumlah besar dan pelanggan yang tidak menyisakan kuota sama sekali tidak perlu khawatir lagi tentang perhitungan penggunaan kuota internet secara tepat.

“Tidak seperti operator lainnya, kami menciptakan terobosan dan memberikan keadilan bagi para pelanggan. Pada intinya, merupakan sebuah kesalahan besar untuk mengambil kembali apa yang telah dibeli oleh pelanggan,” pungkasnya.

indosat-inspera

Indosat Ooredoo berhasil meraih dua gelar dalam ajang penghargaan bergengsi kelas dunia dalam bidang bisnis dan pemberdayaan perempuan, yaitu Stevie Awards for Women in Business 2016.

Kedua gelar itu diraih Indosat Ooredoo untuk dua kategori, Community Involvement Program of the Year dan Community Relations. Untuk setiap kategori, operator telekomunikasi asal Indonesia itu mendapatkan trofi Silver Stevie Award.

Pada kategori Community Involvement Program of the Year, Indosat Ooredoo diberi penghargaan atas program Inspera, yaitu inisiatif yang berfokus pada pemberdayaan wirausaha perempuan di area pedesaan dengan menawarkan pelatihan pemanfaatan teknologi mobile, kelas keahlian profesi, dan bincang-bincang dengan tokoh pengusaha perempuan.

Inspera berkomitmen untuk meningkatkan penetrasi perempuan yang terhubung ke mobile internet di Indonesia dari 40% ke 43% atau mencapai lebih dari 7 juta perempuan.

Sementara itu, pada kategori Community Relations, Indosat Ooredoo memperoleh penghargaan untuk program pemberdayaan TKW (Tenaga Kerja Wanita). Program hasil kerja sama dengan Kementerian Tenaga Kerja RI ini berfokus pada peningkatan keahlian tenaga kerja perempuan supaya mereka dapat memperoleh pekerjaan yang lebih layak atau membuka usaha sendiri sehingga tidak perlu bekerja di negara asing.

“Kami bersyukur atas dukungan komunitas internasional terhadap program pemberdayaan perempuan Indosat Ooredoo. Penghargaan ini menunjukkan kerja keras tim kami untuk mengubah dan meningkatkan kualitas hidup perempuan di Indonesia, termasuk wirausaha perempuan di pedesaan dan buruh migran perempuan,” ucap Alexander Rusli (Presiden dan CEO, Indosat Ooredoo).

“Kesetaraan gender menjadi inti dari program tanggung jawab sosial Ooredoo Group di seluruh pasar kami. Kami akan terus bekerja keras untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi digital bagi kaum perempuan yang ingin menggapai potensi terbesar mereka,” imbuh Sheikh Saud bin Nasser Al Thani (Group CEO, Ooredoo).

Ilustrasi aplikasi mobile. [Kredit: marketingland.com]

Ilustrasi aplikasi mobile. [Kredit: marketingland.com]

Indosat Ooredoo dan Modalku mengumumkan kerja sama dalam rangka memberikan pengguna Indosat akses yang lebih luas terhadap produk keuangan berbasis teknologi digital.

Langkah ini didukung dengan data statistik terbaru dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) yang menunjukkan bahwa pengguna internet di Indonesia mencapai 132,7 juta penduduk.

Alexander Christian (Director of Digital Marketing, Modalku) menuturkan, data tersebut menunjukkan bahwa hampir 73% dari traffic internet Indonesia sekarang dilakukan lewat mobile device dan tablet, sedangkan laptop dan desktop hanya mendapatkan bagian sekitar 28%. Otomatis, layanan keuangan pun harus mengikuti perkembangan teknologi karena tren yang ada menunjukkan bahwa masyarakat ingin melakukan segalanya secara digital, termasuk transaksi keuangan.

Reynold Wijaya (CEO, Modalku) memercayai jika kerja sama dengan Indosat akan memaksimalkan kegiatan peer-to-peer lending Modalku di Indonesia. “Rencana kami ke depannya adalah memperbanyak pengguna produk teknologi finansial,” ujarnya.

Reynold pun menyebutkan jika potensi pemanfaatan teknologi finansial di pasar Indonesia sangat besar. Produk peer-to-peer lending Modalku dapat mengisi kebutuhan para pencari alternatif investasi yang merasa bahwa instrumen yang ada kurang cocok bagi mereka. Dengan membuka akses layanan keuangan bagi lebih banyak penduduk Indonesia, Modalku dan Indosat berharap dapat mendorong inklusi keuangan di negara ini.

Sementara itu, Randy Pangalila (Group Head Mobile Financial Services, Indosat Ooredoo) menyebut jika Indosat telah meningkatkan user experience pelanggan Dompetku dan memperluas early adopter pengguna eMoney di Indonesia dengan terus berinovasi melalui kerja sama dengan perusahaan terkemuka di industrinya, seperti Modalku yang merupakan perusahaan terkemuka peer-to-peer lending di Indonesia. Sekarang pelanggan Dompetku bisa melakukan layanan keuangan dengan nyaman, cepat, dan, aman hanya melalui ponsel mereka.

Modalku merupakan salah satu platform peer-to-peer lending (pinjam meminjam langsung) terbesar di Asia Tenggara dan telah beroperasi di Singapura, Indonesia, dan Malaysia. Berkat Modalku, UKM Indonesia dapat menerima pendanaan secara langsung dari pemberi pinjaman, baik individu maupun lembaga keuangan.

Sejak diluncurkan Januari 2016, Modalku telah memfasilitasi pinjaman jangka pendek sekitar Rp30 miliar bagi hampir 100 UKM Indonesia, sekaligus menawarkan tingkat pengembalian di atas bunga deposito ataupun obligasi bagi para pemberi pinjaman. Sampai dengan saat ini, Modalku mampu mempertahankan rekor pembayaran cicilan seratus persen dan tingkat kredit macet nol persen.

Ke depannya, kedua pihak akan menawarkan produk layanan finansial kepada pelanggan untuk memudahkan transaksi keuangan. Secara makro, kerja sama ini diharapkan dapat memajukan teknologi finansial di Indonesia dan membentuk dunia keuangan yang lebih inklusif.

ericsson_ooredoo_1-800x532

Ooredoo Group dan Ericsson menjalin kerja sama selama lima tahun ke depan untuk menerapkan sistem manajemen pendapatan Ericsson Revenue Manager (ERM) di seluruh kawasan operasional Ooredoo di Timur Tengah, Afrika Utara, dan Asia Tenggara.

ERM merupakan solusi penagihan inovatif yang memungkinkan Ooredoo untuk menawarkan produk-produk yang sesuai dengan kebutuhan pelanggan secara lebih cepat. Ooredoo juga dapat menyusun tarif, paket, dan layanan yang berbeda-beda pada setiap pasar.

Solusi ERM siap diaplikasikan di layanan cloud sehingga membuat inovasi lebih cepat dan efisien, membuka kesempatan yang lebih luas bagi integrasi layanan digital di antara para partner lintas industri. Dengan platform tunggal, ERM juga lebih mudah dioperasikan dalam mengelola seluruh layanan dan pelanggan dari satu pintu saja.

“Ooredoo menargetkan kepemimpinan berbasis data dan menekankan pada pelayanan pelanggan sesuai kebutuhan mereka. Kemitraan dengan Ericsson ini memungkinkan setiap operasi Ooredoo dihantarkan dengan cepat, disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan, dan mempercepat pertumbuhan Internet of Things,” ujar Waleed Al Sayed (Deputy CEO, Ooredoo Group) dalam rilis pers.

Solusi ERM akan digunakan secara bertahap di seluruh cabang Ooredoo, dimulai dari Indonesia melalui Indosat Ooredoo–cabang terbesar mereka–pada bulan Desember 2016.

Langkah ini merupakan bagian dari program Digital Business Transformation di tubuh organisasi Ooredoo secara global.

Diharapkan setelah ini, Ooredoo akan merasakan penghematan biaya yang signifikan dari sistem dan perjanjian lokal saat ini menjadi model lisensi solusi yang mencakup keseluruhan grup bisnis.

“Kami siap berkolaborasi dengan Ooredoo Group dalam perjalanan transformasi digital mereka. Kerja sama ini mengakui inovasi yang dimiliki Ericsson Revenue Manager untuk menghantarkan pengalaman pelanggan yang berbeda-beda,” pungkas Rafiah Ibrahim (Head of Ericsson Region Middle East and East Africa).

TERBARU

Bekerja sama dengan Media Indra Buana, layar panel LED luar ruang ini dipasang di gedung Plaza Sentral, Jakarta, lokasi strategis yang setiap harinya dilewati 650.000 kendaraan.