Tags Posts tagged with "indosat ooredoo"

indosat ooredoo

 

Alexander Rusli (President Director & CEO, Indosat Ooredoo).

Direktur Utama dan CEO Indosat Ooredoo, Alexander Rusli, memutuskan untuk tidak meneruskan masa jabatannya di Indosat Ooredoo. Demikian laporan yang dirilis oleh operator telekomunikasI kedua terbesar di Indonesia ini.

Waleed Mohamed Ebrahim Al-Sayed (Komisaris Utama Indosat Ooredoo) menyebut, pihaknya telah menerima pemberitahuan dari Alexander Rusli yang memutuskan untuk tidak meneruskan masa jabatan yang sudah diembannya sejak tahun 2012. Selama itu pula, Alexander Rusli sudah memimpin proses transformasi yang menghasilkan pertumbuhan pendapatan signifikan dan laba bersih positif sebagai hasil dari pertumbuhan konsumen yang tinggi.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada Alex atas kontribusinya yang amat berharga bagi Indosat Ooredoo dan mendoakan yang terbaik bagi kesuksesannya di masa yang akan datang,” ujar Waleed.

Alexander Rusli bergabung dengan Indosat Ooredoo sejak Januari 2010 sebagai Komisaris Independen dan ditunjuk sebagai Direktur Utama dan CEO pada November 2012.

Setelah pengunduran diri Alexander Rusli ini, Indosat Ooredoo akan mengadakan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa di November 2017 untuk memutuskan penerus Alexander Rusli.

Di sisi lain, Director and Chief Sales and Distribution Officer, Joy Wahjudi, yang telah dipersiapkan sebagai penerus selama tiga tahun terakhir, akan menjalani tanggung jawab Direktur Utama dan CEO Indosat Ooredoo dalam masa transisi ini.

IM3 Ooredoo mengadakan seminar Trend Digital 2018 dengan tema “Are You Ready To Ride The Wave?” yang diikuti oleh awak media dan komunitas digital di Jakarta, Senin (18/9).

Meningkatnya jumlah masyarakat Indonesia yang mendapat akses ke internet dan teknologi digital membawa pengaruh terhadap kehidupan sehari-hari, termasuk bagi individu maupun organisasi yang memiliki bisnis.

Makin banyak organisasi yang mengandalkan digital marketing sebagai salah satu strategi untuk mendongkrak kinerja, baik yang berkaitan dengan brand mereka, dari sisi awareness, reputasi, maupun penjualan.

Perkembangan digital juga mengharuskan media untuk terus meningkatan efisiensi, produktivitas, serta memberikan pengalaman terbaik bagi para pembaca lintas platform.

Perubahan inilah yang melahirkan era disruptif, ketika inovasi teknologi membuat persaingan di dunia usaha kian ketat. Walhasil, setiap individu dan organisasi harus terus melakukan adaptasi dengan tren digital di masa mendatang.

Tren inilah yang mendorong IM3 Ooredoo mengadakan seminar Trend Digital 2018 dengan tema “Are You Ready To Ride The Wave?” yang diikuti oleh awak media dan komunitas digital di Jakarta, Senin (18/9).

Seminar itu diisi oleh pakar dunia digital seperti Andy Santoso (CEO, Bigevo & Bigevo Academy), Giuliano Octavianos (Business Lead-Telecom, Financial Service, Entertainment, Facebook & Instagram), serta Nadia Mulya (i4 Trainer, Digital Endorser, dan Penulis Buku).

Sebelumnya pekan lalu, IM3 Ooredoo juga menggelar Workshop Digital Personal Branding di Universitas Indonesia yang dihadiri oleh Reginald A. Ghazali (GM Content Proposition, Indosat Ooredoo), Romano Bhaktinegara (Head of Dept. Non-Digital Media, PR & Internal Communications, Indosat Ooredoo), Aline Adita (i4 Trainer, Digital Endorser, dan Aktris), serta Rahmah Umayya (i4 Trainer, Digital Endorser, dan Presenter).

IM3 Ooredoo juga menggelar Workshop Digital Personal Branding di Universitas Indonesia, Selasa (12/9).

Dalam kegiatan ini, IM3 Ooredoo sekaligus memperkenalkan paket bundling Freedom IM3 yang terdiri dari kuota internet, hiburan, dan telepon. Paket ini ditawarkan guna membantu para pelanggan dalam memenuhi kebutuhan digital mereka.

Beberapa keunggulan paket Freedom IM3 antara lain kuota internet yang lebih banyak di semua jaringan, kuota streaming musik di Spotify, kuota menonton film di iflix, fitur Data Rollover, Apps Tanpa Kuota, Tarif Telepon Rp1/detik ke semua operator, dan bonus kuota tengah malam hingga 10 GB.

“Sejumlah keuntungan yang tidak dimiliki oleh operator lain ada dalam satu paket lengkap Freedom IM3 Ooredoo. Melalui seminar ini, kami juga ingin pemahaman akan dunia digital meningkat sehingga dapat digunakan untuk menjawab tantangan digital yang dihadapi ke depannya,” ujar Sharif Mahfoedz (Division Head Core Service & Bundle Offering, Indosat Ooredoo).

Indosat Ooredoo dan para penggiat media sosial meluncurkan gerakan #BijakBersosmed untuk mendorong dan menjaga penggunaan media sosial di Indonesia yang sehat, cerdas, aman dan bijak.

Ripy Mangkoesoebroto (Chief Human Resources Officer Indosat Ooredoo) mengatakan Indosat Ooredoo mendukung gerakan #BijakBersosmed sebagai sebuah program nyata kampanye publik penggunaan media sosial yang bijak.

“Peluncuran gerakan #BijakBersosmed merupakan awal dari upaya untuk melihat media sosial kita agar menjadi tempat untuk menyampaikan informasi yang baik dan benar, melahirkan inovasi baru, bertukar gagasan, dan menghargai perbedaan pendapat dengan cara yang santun,” katanya dalam siaran persnya.

Gerakan #BijakBersosmed sendiri lahir dari keprihatinan para pegiat sosial media yang menyadari ada sebagian kelompok memproduksi konten-konten yang dapat memecah belah persatuan, ujaran-ujaran yang tak bertanggungjawab, bahkan digunakan sebagai ladang profit bagi para produsen hoax.

Gerakan #BijakBersosmed lahir dari keprihatinan tersebut dan mendorong masyarakat untuk lebih bijak dalam menggunakan media sosial agar dapat mengamplifikasi pesan-pesan positif.

Samuel Abrijani Pangerapan (Direktur Jenderal Aplikasi Informatika, Kementerian Komunikasi dan Informasi) mengapresiasi gerakan #BijakBersosmed, menyusul sosial media merupakan bagian dari gaya hidup masyarakat Indonesia, khususnya anak-anak muda perkotaan. Dinamika politik, ekonomi, serta sosial di Indonesia yang tinggi, bahkan penuh kompetisi, membuat atmosfer media sosial Indonesia belekangan ini menjadi riuh rendah.

“Kemerdekaan yang kita nikmati hari ini bukanlah kemerdekaan yang semrawut dan seenaknya tetapi harus membuat kita lebih bersyukur dan bijak dalam menggunakan kemerdekaan, ini berlaku juga dengan kebebasan berekspresi di media sosial,” ujarnya.

Enda Nasution (Koordinator Gerakan #BijakBersosmed) mengatakan Indonesia akan menghadapi tahun politik pada 2018 dan 2019 serta berbagai golongan politik akan memenangkan perhatian publik via platform-platform media sosial.

“Kita sebagai bangsa menggunakan sosial media dengan lebih bijak, akan menjadi batu ujian kita bersama,” ucapnya.

Bentuk utama dari gerakan #BijakBersosmed selain penyebaran informasi penggunaan media sosial dengan lebih bijak, didukung oleh video-video informatif dan e-book, juga berupa penyediaan ikrar #BijakBersosmed online yang dapat dilakukan dengan mengunjungi laman www.bijakbersosmed.id.

Sementara itu, Indosat Ooredoo sendiri sebagai pendukung utama gerakan #BijakBersosmed ini sendiri sebelumnya sudah memberikan perhatian terhadap berbagai upaya untuk mengedukasi dan menyosialisasikan penggunaan media sosial secara lebih bijak dan positif.

(ki-ka) Semuel Abrijani Pangerapan (Dirjen Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia), Deva Rachman (Group Head Corporate Communications Indosat Ooredoo) dan Shinta Dhanuwardoyo (CEO Bubu.com).

Indosat Ooredoo akan kembali menggelar ajang Indosat Ooredoo IDByte 2017 di Pacific Place pada 26 – 28 September 2017 untuk mendorong pertumbuhan ekosistem digital Indonesia dan mencari talenta-talenta startup terbaik di Indonesia.

Indosat Ooredoo IDByte 2017 akan menghadirkan serangkaian acara yaitu Virtual Startups Hunt, Bubu Awards v.10, Pameran, Seminar hingga Konferensi sebagai puncaknya.

Indosat Ooredoo IDByte 2017 kali ini mengangkat tema “Connected” untuk memahami kaitan teknologi digital dan masyarakat saat ini, terutama kecenderungan pola perilaku Generation C atau Gen C dalam mengonsumsi konten.

Gen C sendiri adalah istilah untuk kelompok psikografis yang dilihat dari pola konsumsi konten mereka yang cenderung menunjukkan karakteristik creation, curation, connection, dan community tanpa terbatas rentang usia.

“Kami selalu mendukung IDByte dari tahun ke tahun karena dapat mendorong tumbuhnya bisnis berbasis digital dan teknologi,” kata Semuel Abrijani Pangerapan (Dirjen Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia) di Jakarta, Rabu.

Deva Rachman (Group Head Corporate Communications Indosat Ooredoo) mengatakan Indosat Ooredoo bangga menjadi bagian dari perhelatan IDByte pada tahun ini karena sejalan dengan visi Indosat Ooredoo yang berkomitmen mewujudkan Indonesia Digital Nation dan mendukung visi Pemerintah untuk meningkatkan ekonomi digital Indonesia.

“Perkembangan digital di Indonesia banyak dimanfaatkan oleh Generasi C dan mendorong kami untuk menghadirkan layanan telekomunikasi sesuai kebutuhan pelanggan serta mengedukasi mereka agar selalu bijak menggunakan teknologi,” ujarnya.

Sebagai bagian dari Indosat Ooredoo IDByte 2017, Virtual Startup Hunt lebih dulu dilaksanakan pada 5 – 6 September serentak di lima kota yaitu Bandung, Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, dan Medan.

Virtual Startup Hunt memberikan kesempatan bagi para inkubator untuk mengirimkan talenta startup terbaik mereka agar dapat menunjukkan kreativitasnya secara virtual melalui video conference. Sistem pendaftaran dan penjurian dilakukan seluruhnya secara virtual. Final kompetisi itu akan digelar pada 25 September 2017 dan pemenangnya akan diumumkan sebagai Best Startup pada Bubu Awards v.10.

Konferensi dan malam penganugerahan, Bubu Awards v.10 menjadi puncak rangkaian acara Indosat Ooredoo IDByte 2017 pada 28 September 2017 di Ritz Carlton Ballroom, Pacific Place, Jakarta.

Bubu Awards sendiri merupakan penghargaan bergengsi yang sudah berjalan selama sepuluh kali yang diberikan kepada talenta-talenta terbaik di dunia digital. Tahun ini, penghargaan akan diberikan untuk 5 kategori yaitu: Best Startup Award, Best Website Award, Best Brand Engagement in Digital, Best Digital Tech Business, dan Best Digital Talents.

Dalam rangka menyambut kemerdekaan Republik Indonesia ke-72, IM3 Ooredoo memberikan bonus kuota Internet hingga 10GB di semua jaringan dan nelpon sepuasnya. Program itu merupakan inovasi berkelanjutan untuk memberikan produk dan layanan dengan nilai terbaik, menciptakan pengalaman internetan dan nelpon yang sebenarnya.

IM3 Ooredoo memberikan bonus kuota internet hingga 10GB untuk seluruh pelanggan yang telah membeli paket baru ataupun memperpanjang paket Freedom Combo dan Freedom Internet Plus. Bonus kuota Internet itu akan bertambah secara otomatis dan langsung dapat digunakan di seluruh jaringan (2G, 3G, dan 4G).

Alexander Rusli (President Director and CEO Indosat Ooredoo) mengatakan IM3 Ooredoo selalu menjadi pelopor dan agen perubahan di industri telekomunikasi dengan inovasi produk dan layanan terbaik yang membawa pengalaman pelanggan ke level berikutnya.

“Program ini menghadirkan kebebasan penuh bagi pelanggan untuk nelpon dan menikmati Internetan yang sebenarnya. Dengan IM3 Ooredoo, nelpon dan mengunakan internet adalah hal yang mudah, praktis, dan tanpa khawatir,” katanya dalam siaran persnya, Minggu.

Pelanggan bisa menikmati kebebasan internetan dengan bonus kuota ini mulai dari pukul 01.00 tengah malam hingga pukul 06.00 pagi. Promo ini akan tersedia dan berlaku mulai tanggal 17 Agustus 2017 melalui *123# atau aplikasi myIM3.

Selain itu, IM3 Ooredoo juga menghadirkan paket tambahan Obrol, paket nelpon sepuasnya bagi sesama pengguna IM3 Ooredoo. Paket tambahan Obrol ini dapat dinikmati oleh semua pengguna Kartu Perdana prabayar, dan tersedia dalam beberapa pilihan paket yang sesuai dengan kebutuhan dengan harga yang terjangkau.

Pelanggan langsung dapat menikmati nelpon sepuasnya ke sesama pengguna IM3 Ooredoo dengan membeli paket Obrol melalui tekan *123# atau aplikasi myIM3. Hebatnya, semua kebebasan nelpon itu dapat dinikmati hanya dengan tarif mulai dari Rp3.000.

Herfini Haryono (Chief of Enterprise and Wholesale, Indosat Ooredoo). [Foto: Abdul Aziz/InfoKomputer]

Melayani 85 juta pelanggan tanpa henti bukanlah hal yang mudah. Namun, itulah keseharian yang dihadapi tim Indosat Ooredoo selama ini. Selama 24/7, Indosat Ooredoo harus memastikan semua pelanggan mereka mendapatkan pengalaman komunikasi tanpa masalah.

Ada banyak hal yang mereka lakukan, termasuk melakukan transformasi ke digital sejak tahun 2002. “Bisa dibilang, industri telekomunikasi adalah industri vertikal pertama yang go-digital,” ungkap Herfini Haryono.

Berbekal pengalaman tersebut, Indosat Ooredoo pun mulai mengembangkan mimpi membantu perusahaan lainnya di Indonesia dalam melakukan transformasi digital. “Misi kami adalah menjadi preferred digital partner connecting business across Indonesia,” ungkap Herfini.

Tugas Besar

Misi itulah yang kini menjadi tanggung jawab Herfini di dalam posisinya sebagai Chief of Enterprise and Wholesale Indosat Ooredoo, yang juga sering disebut Indosat Ooredoo Business.

Ini merupakan sebuah tugas yang tak mudah. Namun, wanita lulusan TU Braunschweig, Jerman, ini yakin timnya memiliki kapabilitas untuk mewujudkan mimpi ini. “Kalau kita lihat, pengalaman Indosat Ooredoo dalam membentuk sistem sejak awal 2000-an adalah sesuatu yang istimewa dan tidak banyak perusahaan yang mampu melakukannya,” ungkap Herfini.

Solusi yang ditawarkan Indosat Ooredoo sendiri adalah produk-produk yang disebutnya sebagai communication plus. “Strategi yang kami pilih adalah solusi IT yang merupakan kepanjangan tangan dari telekomunikasi itu sendiri,” jelas wanita yang pernah sukses memindahkan 100 juta pelanggan ke sistem charging billing baru ini.

Contohnya adalah solusi terkait data center, seperti managed data center, cloud, atau DRC. “Karena kami sebagai perusahaan telekomunikasi juga memiliki data center dan telah terbukti always-on,” ungkap Herfini menggambarkan pengalaman Indosat di bidang data center.

Contoh lain adalah terkait security. Herfini melihat Indosat Ooredoo memiliki kemampuan untuk mengelola security seputar connectivity, router, sampai IP Management. “Kalau dari lingkup ini saja, market-nya saya kira sangat besar karena semua perusahaan membutuhkan hal ini,” tambah Herfini.

Sektor lain yang sedang dilirik Indosat Ooredoo adalah terkait Machine-to-Machine (M2M) dan Internet of Things. Contohnya adalah vehicle tracking bagi perusahaan yang ingin memonitor keberadaan armadanya. Contoh lain adalah implementasi LBS Simcard yang bisa digunakan untuk mengelola petugas lapangan agar dapat bekerja secara efektif.

Konsolidasi dan Kerja Sama

Akan tetapi, Herfini menyadari dibutuhkan waktu untuk “berganti wajah” dari perusahaan telekomunikasi ke penyedia solusi TI. Hal ini tidak hanya berlaku di sisi eksternal, namun juga internal. Karena itu, sederet langkah telah dan akan terus dilakukan untuk mendukung transformasi di sisi internal ini.

Contohnya adalah menarik tim TI yang selama ini berada di balik infrastruktur Indosat untuk bergabung di tim bisnis ini. Sebagian tim Product Development juga dikembangkan menjadi IT expert dengan mengantongi berbagai sertifikasi di dunia TI.

Arah yang dituju Indosat Ooredoo Business ini sebenarnya mirip seperti yang selama ini dilakukan Lintasarta, salah satu anak perusahaan Indosat Ooredoo. Terkait hal ini, Herfini sudah memiliki strategi. Nantinya Indosat Ooredoo akan bertindak sebagai desainer dari solusi yang ditawarkan ke pasar, sedangkan Lintasarta berperan sebagai pelaksana di lapangan.

“Lintasarta akan diposisikan sebagai IT factory dari Indosat Ooredoo karena secara economics of scale-nya memungkinkan,” tambah Herfini.

Agar bisa menghasilkan solusi yang tepat, Indosat Ooredoo pun aktif menjalin kerja sama. Salah satunya dengan IBM melalui kerja sama senilai US$200 juta yang diresmikan pada tahun 2016 kemarin. Melalui kerja sama ini, keduanya bersepakat membangun sistem berbasis solusi IBM di atas infrastruktur Indosat Business.

Salah satu implementasi awal kerja sama ini adalah pembangunan command center dan Security Operation Center (SOC) terintegrasi yang bisa dimanfaatkan pelanggan IBM maupun Indosat Ooredoo.

Langkah lain yang dilakukan adalah aktif berkomunikasi dengan perusahaan dari berbagai industri. “Kami mencoba mendengar kebutuhan bisnis mereka, apa saja yang menjadi pain point mereka selama ini,” ujar Herfini.

Akan tetapi, Herfini pun menyadari kalau Indosat Ooredoo memiliki keterbatasan dalam menawarkan solusi. “Pertanyaan yang sering kami dapat adalah apakah Indosat Ooredoo akan masuk ke level lebih dalam seperti aplikasi? Saya kira belum, setidaknya untuk saat ini,” ujar wanita yang pernah menjadi CIO Telkomsel ini.

“Pemain di IT services mungkin banyak, namun size-nya relatif kecil dibanding Indosat Ooredoo,” ungkap Herfini Haryono.

Pembenahan Menyeluruh

Saat ini, bisnis B2B menyumbang sebesar dua puluh persen dari revenue total Indosat Ooredoo (yang menurut laporan keuangan 2016, mencatat angka Rp29,2 triliun).

Ketika ditanya target di masa mendatang, “Pak Alex (Alexander Rusli, CEO Indosat) mimpinya ke 40 – 50%,” ujar Herfini sambil tertawa lebar. Target ini didasari pemikiran, kompetitor di industri ini tidak banyak. “Pemain di IT services mungkin banyak, namun size-nya relatif kecil dibanding Indosat Ooredoo,” ungkap Herfini.

Meskipun begitu, Herfini mengaku masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikannya untuk bisa mewujudkan mimpi tersebut. “Tantangan kami adalah legacy Indosat sudah sangat kuat sebagai perusahaan telekomunikasi,” aku Herfini.

Diperlukan waktu untuk mengomunikasikannya ke customer terkait perubahan ini. Herfini sendiri menargetkan, dalam tiga tahun ke depan, wajah baru Indosat Ooredoo ini sudah dikenal oleh para customer. “Jadi mereka yang mencari kami, tidak lagi kami yang mendekati mereka,” tambah Herfini.

Faktor krusial yang harus dilakukan adalah pembenahan di sisi internal Indosat Ooredoo sendiri. “Kalau tadinya orang sales kita nyaman berjualan cellular services, sekarang mereka juga harus jualan router,” ungkap Herfini mencontohkan. Karena itu, pembenahan di sisi skills dan business process menjadi perhatian khusus Herfini saat ini.

Selain itu, hari-hari Herfini banyak dihabiskan untuk melakukan brainstorming dan coaching terhadap timnya. Melalui pertemuan tersebut, ia pun mencoba menularkan etos kerja yang selama ini ia yakini dan lakukan. “Saya selalu menekankan pentingnya komitmen untuk menyelesaikan pekerjaan,” ungkap Herfini.

Indosat Ooredoo Business meluncurkan layanan terbarunya NEXTfleet sebagai solusi IoT fleet management (manajemen armada) untuk keperluan pengiriman logistik.

Pertumbuhan bisnis logistik tidak akan penah mati, menyusul peningkatan daya beli masyarakat dan kebutuhan pengguna yang terus bertambah. Di era teknologi yang berkembang cepat, industri logistik akan beralih ke era cloud yang berbasis Internet of Things (IoT).

Tentunya, implementasi penggunaan solusi IoT akan menggenjot keuntungan perusahaan Logistik baik dari sisi keuntungan dan efisiensi waktu.

Karena itu, Indosat Ooredoo Business meluncurkan layanan terbarunya NEXTfleet sebagai solusi IoT fleet management (manajemen armada) untuk keperluan pengiriman logistik.

Herfini Haryono (Director and Chief Wholesale & Enterprise Officer Indosat Ooredoo) mengatakan implementasi IoT memungkinkan para pelaku usaha atau korporasi melakukan transformasi digital untuk mempercepat pertumbuhan bisnis dan meningkatkan daya saing.

“Pada dasarnya ini adalah pengembangan dari machine to machine tracking. Kalau mobil logistik dipasangi GPS dan bisa di-track itu sudah banyak. Kami mentransformasi digital lebih jauh lagi,” kata Herfini di Hotel JW Mariott, Kuningan, Jakarta, Senin (7/2017).

Layanan NEXTfleet akan memudahkan korporasi dalam mengoptimalkan proses distribusi mulai dari perencanaan, penjadwalan, penugasan, sampai pada pemantauan armada secara akurat dan real time menggunakan aplikasi mobile dan perangkat IoT lainnya.

“Selain nge-track, NEXTfleet akan saling bertukar data. Misalnya, kita akan tahu berapa pack yang sudah terkirim dan berapa yang masih tersisa di mobil. Semuanya terintegrasi dan real-time,” ujarnya.

Hendra Sumiarsa (Head of IOT & Vertical Apps Solution Indosat Ooredoo) mengatakan tantangan bisnis logistik adalah biayanya yang sangat tinggi karena faktor kemacetan, sewa gudang, konsumsi bahan bakar dan banyak faktor lainnya. Hal itu menyebabkan pengalaman pelanggan yang jelek, pengiriman barang yang lambat dan profit perusahaan yang rendah.

“Tantangan bisnis logistik di Indonesia adalah high cost of logistic bahkan 60 persen dari total cost ada di logistik. NEXTfleet mampu menjawab semua permasalahan perusahaan logistik itu karena mampu menekan cost dan meningkatkan efisiensi,” pungkasnya.

Untuk sasaran bisnis, Herfini mengatakan bahwa mereka menargetkan bisnis yang bergerak di bidang retail, jasa pengiriman, atau semacamnya. “Mulai dari distributor, retail, penyedia jasa pengiriman, dan semacamnya adalah target kami untuk menggunakan sistem ini,” pungkasnya.

Keunggulan NEXTfleet

Dengan menggunakan layanan IoT, NEXTfleet memiliki beberapa keunggulan jika dibandingkan layanan Machine to Machine (M2M). Salah satunya karena adanya tiga aplikasi khusus bagi pengemudi, pelanggan, dan pihak distributor.

Hendra mengatakan NEXTfleet menawarkan beberapa keunggulan yang ada saat ini yaitu keterlebitan tiga pihak dalam proses rantai pasokan yaitu fleet manager, pengemudi, dan pelanggan.

“Ini menghadirkan proses yang saling terintegrasi dan kemudahan kolaborasi di antara ketiganya dalam memantau armada dan proses pendistribusiannya,” ucapnya.

Kedua, Multi Point Destination. NEXTfleet mampu melakukan aktivitas distribusi ke beberapa lokasi tujuan dan memonitor posisi serta aktivitas distribusi secara real-time.

“Kami percaya IoT bisa menjadi enabler bahkan mengakselerasi bisnis ke depan, sesuai dengan misi kita. Sebagai leading digital telco di Indonesia, kami akan membuat posisi kami sebagai preferred digital partner yang menghubungkan bisnis digital,” tuturnya.

“Kami memproyeksikan, jika menggunakan IoT dalam sektor ini, dapat memangkas biaya hingga 20 persen jika dibandingkan dengan menggunakan sistem M2M,” jelasnya.

Pada akhir tahun lalu, OJK secara resmi merilis aturan terkait keberadaan perusahaan financial technology (fintech) di Indonesia. Melalui aturan No. 77/POJK.01/2016, OJK mengeluarkan aturan mengenai penyelenggaraan pinjam meminjam berbasis teknologi informasi atau yang bisa dikenal dengan P2P lending.

Sekadar mengingatkan, P2P lending adalah kegiatan yang mempertemukan pemilik modal dengan pihak yang membutuhkan modal.

Menggunakan platform digital, mereka yang membutuhkan modal bisa mengajukan permohonan modal dengan memenuhi syarat yang ditentukan lembaga penyedia layanan P2P lending tersebut. Penyedia layanan kemudian menentukan tingkat risiko dari pemohon yang akan menentukan tingkat bunga yang diterapkan.

Profil peminjam dan tingkat bunga yang dijanjikan ini kemudian yang menjadi dasar pertimbangan para pemilik modal. Jika dirasa cocok, pemilik modal bisa meminjamkan dana ke pemohon. Semua proses itu dilakukan secara online sehingga menjadi sangat efisien.

Dengan terbitnya aturan terkait P2P lending ini, OJK pada dasarnya memberikan restu terhadap layanan ini di Indonesia. OJK pun berkomitmen melakukan pengawasan terhadap praktek P2P lending ini yang berujung pada kepastian hukum dari sisi pemohon maupun pemilik modal.

Ancaman Serius

Di sisi lain, menguatnya pengakuan terhadap fintech menjadi alarm bagi industri perbankan. Kemunculan P2P lending berpotensi mengganggu pendapatan bunga pinjaman yang menjadi salah satu bisnis inti bank.

Tantangan kian besar mengingat startup di fintech tidak cuma P2P lending. Ada fintech yang menyasar layanan investasi reksadana, pembelian produk asuransi, remittance, sampai wealth management.

Agak berlebihan jika mengatakan fintech akan menggantikan peran bank. Bagaimanapun, bank tetap menjadi sentral dari banyak sisi kehidupan konsumen.

Meski begitu, bank memang harus bertransformasi. Model perbankan tradisional yang selama ini dilakukan relatif akan semakin berkurang relevansinya di dunia yang bergerak cepat seiring kemajuan teknologi digital.

Lalu, apa yang bisa bank lakukan? Berikut adalah beberapa inspirasi yang bisa dilakukan…

Baca artikel selengkapnya mengenai cara antisipasi fintech bagi perbankan di situs Indosat Ooredoo Business Insight.

Ilustrasi ransomware Petya

Lagi-lagi, ancaman security kelas tinggi mengintai perusahaan. Adalah Petya, sejenis ransomware yang berhasil melumpuhkan operasional dari pemerintahan dan berbagai perusahaan besar.

Sebut saja perusahaan periklanan WPP, perusahaan farmasi Merck, perusahaan logistik Maersk, sampai bank sentral Ukraina. Bahkan sistem pengawasan radiasi kawasan reaktor nuklir Chernobyl harus dinonaktifkan akibat serangan Petya ini.

Menyebar Lewat Intranet

Mirip seperti WannaCry, Petya ini memanfaatkan lubang keamanan EternalBlue di sistem operasi Windows. Namun berbeda dengan WannaCry, Petya tidak dirancang untuk menyebar melalui internet.

Penyebaran Petya hanya dilakukan pada jaringan internal (intranet). Ketika salah satu komputer di jaringan terinfeksi, Petya akan memanfaatkan networking tools di Windows seperti Windows Management Instrumentation (WMI) dan PsExec untuk menginfeksi komputer lain dalam jaringan yang sama.

Karena menggunakan WMI dan PsExec ini, Petya bisa menginfeksi komputer Windows yang berada di dalam jaringan, bahkan yang sudah melakukan update maupun Windows 10. Seluruh hard disk akan dikunci dan hanya bisa dibuka jika korban membayar uang sejumlah US$300 dalam bentuk bitcoin.

Banyak Keanehan

Akan tetapi, banyak keanehan dari serangan Petya ini. Contohnya adalah penyebarannya yang sebatas di jaringan intranet; tidak seperti WannaCry yang bisa menyebar melalui internet. Hal ini membuat penyebaran Petya relatif lebih kecil dibanding WannaCry atau ransomware yang lain.

Keanehan lain adalah …

Baca artikel selengkapnya mengenai serba-serbi Petya di situs Indosat Ooredoo Business Insight.

Gaya bekerja mobile makin banyak diterapkan oleh karyawan-karyawan dinamis di Indonesia, terutama yang berada di wilayah perkotaan.

Maklum, dengan konsep teknologi ini, pekerjaan akan makin dimudahkan. Sebuah proyek dapat dikerjakan secara bersama-sama dengan sebuah tim kerja, meskipun setiap anggotanya tidak berada di tempat yang sama.

Sayangnya, banyak kesulitan yang dihadapi para karyawan di Indonesia untuk bekerja mobile. Masih cukup sering kita temukan perusahaan yang tidak memfasilitasi karyawan dengan perkakas komunikasi dan internet yang memadai. Mulai dari perangkat mobile, koneksi internet mobile, sampai tempat penyimpanan cloud berukuran besar.

Akibatnya, para karyawan lebih suka membawa smartphone pribadi untuk digunakan bekerja. Urusan telepon dan internet pun harus dimodali sendiri dengan paket data berbatas waktu dan kuota. Otomatis, pekerjaan bisa saja terhambat. Misalnya ketika paket data habis, karyawan tidak bisa mengirim dokumen atau e-mail pada saat itu juga.

Oleh karena itu, sudah sewajarnya perusahaan menyediakan fasilitas yang lebih layak untuk mendukung gaya bekerja mobile. Salah satu solusinya adalah …. [Artikel lengkap bisa dibaca di sini]

TERBARU

Presiden Direktur CTI Group Harry SurjantoSaat ini pemerintah Indonesia sedang giat membangun infrastruktur seperti jalan-jalan tol di Indonesia termasuk juga tol laut. Namun,...