Tags Posts tagged with "iPhone"

iPhone

ilustrasi iPhone 8

Sampai saat ini Apple masih menutup rapat segala informasi dan harga iPhone 8 yang akan hadir sebentar lagi.

John Gruber (Pengamat Produk Apple) membuat perhitungan sederhana terkait banderol iPhone 8 dalam situs pribadinya. Ia memperkirakan harga sebuah iPhone 8 akan setara dengan sebuah MacBook senilai US $1.200 atau sekitar Rp16juta perunitnya.

“Ada banyak faktor yang mempengaruhi naiknya harga iPhone 8,” katanya seperti dikutip CNBC.

Faktor pertama, iPhone akan mengusung layar OLED sehingga harga komponen perangkat keras yang lebih mahal dari biasanya. Seperti diketahui, Apple berencana menggandeng Samsung Display dan LG Display untuk memasok layar OLED iPhone 8

Faktor kedua, Apple mengincar margin keuntungan yang besar dari iPhone 8. Biasanya, Apple memasang profit 35-40 persen dari sebuah iPhone baru. Faktor ketiga, pembuatan iPhone 8 yang sangat sulit melebihi produk-produk sebelumnya.

Faktor keempat, harga iPhone yang terus naik di setiap tahunnya, menyusul harga iPhone terbaru akan berada di atas US$1.000. Jika harga iPhone 8 di bawah harga iPhone 7, maka akan menggerus harga iPhone yang sudah meluncur terlebih dulu itu. Harga iPhone 7 dengan spesifikasi teratas saat ini (256GB) mencapai US$969.

Pastinya, Gruber yakin harga iPhone 8 tidak akan mencapai US$1.500 atau sekitar Rp20 jutaan. Karena itu, Gruber memprediksi harga iPhone 8 akan berkisar US$1.200 – US$1.300 lebih mahal sedikit dari perkiraannya.

“Mari kita lihat. Harga (iPhone 8) US$1.500 sangatlah mahal. Tapi, harga US$1.200 sangat mungkin masuk akal untuk harga awalnya. Varian iPhone 8 paling tinggi berkisar US$1.300 atau US$1.400,” tulis Gruber dalam situsnya.

Meskipun demikian, harga di atas masih sebatas prediksi. Belum termasuk, harga promosi dari operator seluler dalam program bundling.

Ilustrasi perseteruan Apple vs Qualcomm

Pabrikan semikonduktor Qualcomm Inc meminta Komisi Perdagangan Internasional Amerika Serikat (USITC) untuk melarang Apple Inc menjual beberapa iPhone dan iPad di Amerika Serikat (AS) yang memakai chipset buatan Intel Corp karena melanggar enam paten Qualcomm.

Qualcomm pun akan meminta USITC untuk melarang Apple mengimpor perangkat Apple yang melanggar paten tersebut dan menginginkan penjualan iPhone yang ada saat ini dihentikan.

“Penemuan Qualcomm ada di dalam setiap iPhone dan telah masuk ke kategori yang melebihi standar seluler. Apple terus saja memakai teknologi Qualcomm tapi menolak membayar lisensi,” kata Don Rosenberg (General Counsel Qualcomm) seperti dikutip CNBC.

Qualcomm pun mengambil langkah hukum dengan memasukan tuntutannya ke pengadilan federal California untuk menuntut ganti rugi. Qualcomm memang tidak menyebutkan nama Intel tapi Intel-lah yang memasok chip untuk beberapa iPhone, dimulai dari iPhone 7.

Qualcomm mengatakan enam paten Qualcomm itu membantu Apple untuk meningkatkan performa perangkat tanpa menghabiskan baterai.

Stacy Rasgon (Analis Bernstein) mengatakan USITC memerlukan waktu 16 bulan untuk memutuskan dakwaan itu dan kasus itu tampaknya tidak akan berpengaruh pada ulang tahun iPhone ke-10 yang jatuh pada musim gugur ini.

Sudah menjadi rahasia umum bahawa hubungan Apple dan Qualcomm tidak harmonis. Qualcomm memangkas biaya total ponsel dengan imbalan chip “modem” yang membantu ponsel menggunakan jaringan data.

Apple merasa Qualcomm meminta bayaran yang berlebihan dalam hal pemakaian paten tertentu.

Ilustrasi Kacamta Pintar Apple

Analis Gene Munster mengungkapkan perangkat wearable Apple Glasses akan lebih populer dibandingkan dengan iPhone di masa depan.

Apple baru akan meluncurkan Apple Glass yang menggunakan teknologi Augmented Reality pada 2020 sekaligus mengakhiri masa puncak penjualan iPhone pada 2019.

Munster beralasan Apple Glasses akan menawarkan fungsi yang sama dengan iPhone, tanpa perlu pengguna memegang iPhone secara langsung.

Munster memprediksi keuntungan iPhone akan bertumbuh sebesar 15 persen pada fiskal 2018. Pertumbuhan itu akan memberikan kontribusi kepada keuntungan Apple sebesar 64 persen tahun 2018.

Namun, penjualan iPhone diprediksi akan mengalami penurunan dari tahun ke tahun pada tahun fiskal 2019. Penurunan penjualan iPhone itu disebabkan Apple akan meluncurkan Apple Glasses pada 2020 seperti dikutip Phone Arena.

Munster memprediksikan penjualan iPhone akan mengalami penurunan sebesar 3 hingga 4 persen dari pertahunnya antara tahun 2020 dan 2022.

Setelah peluncuran Apple Glasses, iPhone masih akan tetap diminati meskipun tidak lagi menjadi penyumbang keuntungan utama Apple.

Maret lalu, pengamat teknologi Robert Scoble mengaku mendapatkan informasi dari pegawai Carl Zeiss, bahwa Apple akan tertarik untuk menciptakan perangkat tersebut.

Pendiri Apple Steve Jobs

Siapa yang tidak tahu dengan iPhone, smartphone canggih nan premium itu telah menjadi incaran pengguna yang memiliki dana lebih dan ingin tampil beda. iPhone telah menjadi tulang punggung pendapatan Apple.

Ternyata, ide pembuatan iPhone terinspirasi dari kebencian Steve Jobs (Pendiri dan Mantan CEO Apple) terhadap seorang eksekutif di Microsoft. Hal itu terungkap dari pengakuan Scott Forstall (Pencipta iOS untuk iPhone pertama dan Kepala Bisnis Software Apple).

Forstall menceritakan Jobs tidak tahan dengan seorang eksekutif Microsoft yang terus menerus membicarakan rencananya soal tablet dan stylus.

“Jobs tidak tahan dan kesal karena ia adalah orang yang anti-stylus dan lebih menyukai penggunaan jari tangan pada layar sentuh. Jari yang sudah secara alamiah menggantikan peran stylus pada layar sentuh. Ia pun memilih membuat tablet buatannya sendiri,” katanya seperti dikutip CNET.

“Kami sebenarnya memang sudah mengerjakan proyek tablet, yang awalnya terlihat janggal. Namun semua ini berawal dari kebencian Steve kepada seseorang di Microsoft,” ujar Forstall dalam sebuah acara di Computer History Museum, Mountain View, California.

Apple memperkenalkan iPad pertama kali ke publik pada 2010, tiga tahun setelah Apple meluncurkan iPhone pertama. Namun sebenarnya Apple lebih dulu memulai pengembangan iPad daripada iPhone.

Awalnya, Jobs dan beberapa orang di tim Apple ragu dan menduga peluncuran iPhone akan merusak penjualan iPod. Namun, Jobs berubah total ketika ia pertama kali mencoba software (iOS) untuk iPad.

“Perkecil ukurannya sampai ke sesuatu yang cukup kecil untuk ukuran ponsel,” ungkap Forstall.

Karena itu, Jobs menunda pengembangan iPad dan menggarap iPhone terlebih dahulu. Keputusan itu tak salah, karena iPhone kemudian bisa membuat Apple menjadi perusahaan yang paling menguntungkan di dunia.

Kisah yang diungkapkan pencipta iOS pada iPhone pertama itu sesuai dengan pengakuan Jobs dalam buku biografi berjudul “Steve Jobs” yang ditulis Walter Isaacson.

Dalam buku tersebut tertulis, dalam jamuan malam malam yang menurutnya sampai ke-10, petinggi Microsoft terus menceritakan tentang stylus. Jobs sampai muak dengan ide tersebut sampai pulang ke rumah dengan rasa gusar.

Dengan demikian, iPhone dan iPad tak akan lahir tanpa ada rasa benci Jobs kepada eksekutif Microsoft.

Ilustrasi aplikasi belanja di iPhone.

Apple akan mengembangkan iPhone agar bisa merekam data medis penggunanya, termasuk data kunjungan dokter, hasil laboratorium, dan resep obat sehingga membuat pengguna iPhone bisa lebih mudah berbagi data rekam medis dengan dokter baru.

Apple akan membuat paket aplikasi kesehatan yang berfungsi menjadi alat diagnostik lengkap. Alat diagnostik itu bisa menafsirkan data kebugaran dan kesehatan untuk menawarkan saran medis.

Apple memiliki tim khusus di dalam unit kesehatannya yang bertugas berkomunikasi dengan pengembang aplikasi, rumah sakit, dan kelompok industri lainnya untuk membicarakan tentang penyimpanan data kesehatan pada perangkat iPhone.

Saat ini Apple sedang melobi sejumlah pengembang, Rumah Sakit (RS), dan stakeholder terkait lainnya di bidang kesehatan, seperti dikutip CNBC.

Apple beralasan solusi itu akan mengatasi rintangan teknis yang sering menghambat aktivitas berbagi informasi pasien di antara profesional kesehatan karena rumah sakit dan dokter mengalami kesulitan untuk mentransfer informasi pasien dan portal medis online.

Jika berjalan, solusi Apple itu akan menyimpan data medis pengguna dan memungkinkan rumah sakit atau instansi kesehatan lain mengatasi masalah tersebut tanpa kehilangan informasi yang tidak akurat dari pasien tersebut.

Apple juga telah berbicara dengan beberapa kelompok industri TI kesehatan, termasuk “The Argonaut Project” yang mempromosikan penerapan standar terbuka untuk informasi kesehatan dan “The Carin Alliance,” sebuah kelompok yang bertujuan untuk memberi pasien lebih banyak kendali atas data medis mereka.

Pada tahun 2014, Apple sedang mengumumkan HealthKit yang mengajak para pengembang aplikasi untuk mengumpulkan dan membagikan informasi medis tentang para penggunanya.

Salah satu tersangka pencurian data pengguna Apple sedang diinterogasi polisi Tiongkok.

Apple sangat menjunjung tinggi nilai privasi penggunanya termasuk informasi dan data pengguna layanannya. Namun justru, rekanan perangkat Apple sendiri yang berada di Tiongkok menjual data pelanggan mereka untuk meraup miliaran dolar.

Data pengguna menjadi salah satu komoditi terpanas di pasaran saat ini, karena teknologi terus menembus kehidupan di seluruh dunia, dan mengetahui bagaimana orang berperilaku menjadi sumber berharga di berbagai spektrum bisnis.

Kepolisian Zhejiang, Tiongkok berhasil menangkap 22 tersangka yang mencuri dan menjual data pengguna dari database Apple ke pasar gelap. Ironisnya, para pelaku adalah distributor Apple dari pihak ketiga yang memiliki akses ke data pengguna iPhone, seperti nomor telepon dan ID Apple.

Data-data pengguna itu dijual antara 10-80 Yuan atau sekitar Rp 19 – 156 ribu perdata dan total angka penjualan data curiannya mencapai 50 juta Yuan atau sekitar US$ 7,36 juta atau setara Rp98 miliar seperti dikutip Phone Arena.

Sayangnya, tak jelas berapa banyak pengguna iPhone yang terdampak pencurian data pribadi tersebut. Apple pun belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait kasus kriminal tersebut.

Polisi Tiongkok itu menyelidiki kasus tersebut sejak Januari dan mulai menjaring tersangka pada 3 Mei. Polisi itu menangkap para tersangka di Provinsi Guangdong, Jiangsu dan Fujian serta menyita komputer, ponsel dan kartu kredit selama penggrebekan.

Akibat perbuatannya, para tersangka akan dikenakan pasal penjualan informasi ilegal.

Sekadar informasi, penjualan data di Tiongkok sudah bukan hal yang baru karena Tiongkok memiliki pasar gelap untuk mendapatkan informasi yang diperoleh secara ilegal, baik yang diperoleh dari database perusahaan atau pemerintah.

Peretas dan spesialis pencurian data menargetkan pengguna iPhone, sebagai upaya pemeresan atau mendapatkan akses data sensitif di Cloud.

Ilustrasi Trump dengan Ponsel Android

Akhirnya, Donald Trump (Presiden Amerika Serikat) boleh menggunakan iPhone sebagai smartphone sehari-harinya dengan catatan Trump hanya boleh menggunakan satu aplikasi yaitu Twitter.

Berbeda dengan presiden AS sebelumnya, Barack Obama hanya boleh menggunakan BlackBerry dan iPad atas izin National Security Agency (NSA) dengan sistem keamanan di dalamnya.

Twitter adalah aplikasi favorit Trump untuk eksis di dunia maya untuk berbagi ide dan kebijakan pemerintahannya kepada warga AS. Rumornya, staf Gedung Putih sudah mencoba untuk membuat jadwal bagi Trump agar mengurangi kebiasaannya bermain Twitter, tapi sepertinya sulit untuk menghentikan hobi Trump tersebut.

Tentunya, Apple telah membuat iPhone khusus untuk Trump dengan peningkatan sistem keamanan untuk mencegah ancaman, yang dapat mengekspos data-data pentingnya seperti dikutip Ars Technica.

Terlepas dari ‘perseteruannya’ dengan Apple soal pembagunan pabrik iPhone di AS, Trump pernah menggunakan smartphone tersebut beberapa kali.

Selain itu, sejumlah kicauannya di Twitter juga di-post dari ponsel Apple tersebut. Sebelumnya, Trump juga menggunakan smartphone Samsung Galaxy S3 dan berhenti menggunakannya karena alasan keamanan.

Trump terpilih menjadi presiden AS ke-45 setelah mengalahkan Hillary Clinton dalam Pemilihan Umum yang diselenggarakan pada akhir tahun 2016. Trump kini memegang akun resmi presiden AS dengan nama @POTUS.

Ilustrasi pegawai Foxconn

Sengketa antara Apple dan Qualcomm bisa berbuntut panjang dan bahkan mengancam penjualan iPhone di Amerika Serikat.

Penyebabnya, Qualcomm sedang bersiap mengajukan permohonan pemblokiran impor iPhone di AS kepada Komisi Perdagangan Internasional dengan alasan pelanggaran hak paten. Jika permohonan itu dikabulkan, Apple tidak dibolehkan memboyong iPhone yang sudah dirakit oleh pabrik Foxconn di Taiwan ke daratan AS. Dengan demikian, Apple terancam tidak bisa menjual iPhone baru kepada konsumen di AS.

Seperti dilaporkan VentureBeat, langkah Qualcomm ini merupakan dampak dari sengketa antara Apple dan Qualcomm yang berlangsung sejak Januari 2017.

Saat itu, Apple pertama kali menggugat Qualcomm sebesar US$1 miliar karena menganggap Qualcomm telah meminta biaya royalti yang terlalu mahal terkait hak paten atas teknologi-teknologi yang mereka ciptakan dan dipakai oleh Apple di dalam produk-produknya.

Gugatan tersebut dibalas Qualcomm pada April 2017 dengan menuntut Apple atas dasar pelanggaran kontrak dan keterlambatan membayar biaya royalti. Qualcomm geram karena Apple membeli chip dari Intel yang diklaim melanggar kontrak eksklusif antara Apple dan Qualcomm. Selain itu, Apple masih menahan pembayaran biaya royalti sebesar US$500 juta kepada Qualcomm.

“Mereka [Apple] ingin membayar lebih sedikit dari harga normal yang Qualcomm sudah tentukan di pasar untuk teknologi kami, sedangkan mereka sudah menghasilkan keuntungan miliaran dollar AS dari penggunaan teknologi itu,” tukas Steven Mallenkopf (CEO, Qualcomm).

Kini, Qualcomm berniat mengambil langkah berikutnya yang lebih berpotensi mengancam bisnis Apple secara langsung.

Apple Membela Diri

Selama bertahun-tahun, Qualcomm memang menangguk banyak pemasukan dari biaya royalti atas bermacam teknologi jaringan nirkabel yang mereka kembangkan. Bisa dipastikan, hampir setiap perangkat komunikasi, termasuk smartphone dari berbagai merek, mengandung teknologi temuan Qualcomm.

Namun, Apple merasa Qualcomm menyalahgunakan dominasinya di pasar dengan meminta biaya royalti yang berlebihan.

Misalnya, Qualcomm sebetulnya hanya memiliki kesepakatan royalti secara langsung dengan Foxconn (pabrik pembuat iPhone), bukan dengan Apple. Tetapi, Qualcomm tetap meminta bayaran royalti kepada Apple dan menagih biaya royalti berdasarkan jumlah unit yang terjual.

Tim Cook (CEO Apple) memaparkan keunggulan iphone 7 di Bill Graham Civic Auditorium, San Francisco, AS.

Apple pun membela diri melalui pernyataan sang CEO, Tim Cook, saat ditanya tentang alasan Apple menunda pembayaran biaya royalti kepada Qualcomm.

“Anda tidak bisa membayar sesuatu saat sengketa mengenai hal tersebut masih berlangsung dan Anda tidak tahu jumlah pasti yang harus dibayarkan. Saya tidak yakin pihak lain bisa memblokir [penjualan] iPhone dengan alasan itu,” ujar Cook.

Akan tetapi, Kevin Cassidy (Analis dari Stifel Nicolaus) punya pandangan berbeda. “Mereka [Qualcomm] harus berbuat sesuatu. Kalau tidak, risikonya perusahaan atau negara lain juga tidak akan mau membayar [biaya royalti], mengikuti langkah Apple,” tukasnya kepada Bloomberg.

Qualcomm sendiri sebelumnya sudah kalah di pengadilan arbitrase dalam sengketa dengan BlackBerry atas kasus serupa pada April lalu. Qualcomm harus membayar 814,9 juta dollar AS (sekitar Rp10,8 triliun) kepada BlackBerry setelah BlackBerry menggugat Qualcomm lantaran membayar royalti terlalu banyak selama periode 2010 – 2015.

Ilustrasi Uber pada iPhone

Uber kembali dirundung permasalahan pelik terkait privasi. Kali ini, Uber mencari masalah dengan Apple.

Pada 2015, Uber menemukan sebuah cara rahasia untuk mengidentifikasi dan melakukan tag (melacak lokasi) kepada pengguna iPhone yang memakai aplikasinya. Parahnya, identifikasi akan tetap berfungsi walaupun pengguna iPhone telah menghapusnya.

Padahal, praktik identifikasi atau fingerprinting merupakan hal terlarang. Namun, Uber tetap nekat mempraktekan fingerprinting. Bahkan, Uber sengaja memasang geofence di markas Apple di Cupertino agar tidak ketahuan melakukan praktik terlarang.

Geofence merupakan pagar virtual yang disematkan melalui GPS untuk mematikan aplikasi saat masuk ke wilayah tertentu dan menyalakannya lagi ketika pengguna aplikasi sudah berada di luar wilayah itu.

Selain memasang geofence, Uber juga berani mengubah kode dalam aplikasi mereka agar tindakan fingerprinting itu tidak ketahuan pegawai Apple.

Terbongkar Juga

Apple pun tidak bodoh dan langsung mencium kelakuan busuk Uber tersebut. Tim Cook (CEO Apple) langsung menegur keras Travis Kalanick (CEO Uber) untuk menghentikan praktik ilegal tersebut.

Bahkan, Apple akan menghapus aplikasi Uber dari App Store, jika tetap melakukan aksi tersebut.

“Jadi saya dengar, Anda telah melanggar sejumlah peraturan perusahaan kami,” kata Cook kepada Kalanick sebuah pertemuan seperti dikutip The Verge.

Sumber mengatakan bahwa Kalanick sangat terkejut mendengar kemarahan Cook. Akhirnya, Kalanick langsung memenuhi permintaan Cook karena Uber bisa kehilangan akses jutaan pengguna iPhone dan menghancurkan bisnis mereka.

Uber pun membantah aplikasi untuk melacak lokasi individu para pengguna aplikasinya. Uber berkilah fitur yang melanggar privasi itu berfungsi sebagai pendeteksi penipuan.

“Kami tentu saja tidak melacak pengguna atau lokasi mereka, jika mereka menghapus aplikasinya,” ujar Uber.

“Ini adalah tipikal cara untuk mencegah penipuan loading aplikasi Uber yang berasal dari ponsel curian, kartu kredit curian, dan melakukan perjalanan Uber dengan tarif mahal,” ucap Uber.

Bukan yang Pertama

Uber baru-baru ini diketahui menggunakan tool rahasia bernama Greyball untuk menggagalkan upaya pemerintah masing-masing negara untuk mengetahui Uber melanggar aturan setempat.

Pada 2014, salah satu eksekutif Uber diduga menggunakan fitur internal bernama “God View” untuk melacak lokasi seorang reporter tanpa sepeetahuiannya. Penggunaan tool itu memungkinkan staf Uber melihat aktivitas login si pengguna.

Sialnya, aktivitas Uber itu terbongkar dan Uber harus mempekerjakan ahli keamanan dan privasi pihak ketiga untuk meninjau kebijakan dan memberikan rekomendasi.

Henao dan ratusan jumlah ponsel yang dicurinya dalam konser musik Coachella

Puluhan ribu orang memadati pesta musik festival Coachella Valley Music and Arts Festival di California pada 14 April 2017. Tidak jauh dengan Indonesia, banyak pecopet dan maling yang berkeliaran dalam acara konser musik.

Tapi, tak bedanya dengan acara musik di Indonesia, acara sekaliber Coachella pun ada saja maling ponsel yang memanfaatkan kerumunan penonton.

Dalam konser musik Coachella, polisi setempat berhasil meringkus Reinaldo De Jesus Henao yang mencuri lebih dari 100 ponsel selama acara tersebut.

Salah seorang peserta konser musik menyadari smartphonenya lenyap dan melacak smartphone yang hilang dengan fitur “Find My Phone“. Ia pun berhasil melacak keberadaan ponselnya yang dibawa Henao. Korban pun mengikuti si pencuri dan menangkapnya sehingga pihak keamanan konser dan polisi datang.

Kemudian polisi menemukan sebanyak lebih dari 100 ponsel curian di ranselnya. Beberapa smartphone sudah diambil oleh pemiliknya dan sisanya ditempatkan di pos barang hilang dari festival tersebut seperti dikutip CNET.

Find My iPhone merupakan fitur pelacak perangkat berbasis lokasi GPS yang ditanamkan pada perangkat berbasis iOS tersebut.

Kejadian itu membuktikan smartphone yang hilang masih bisa terlacak keberadaannya dan korban bergerak cepat melacaknya sebelum si pencuri mematikan smartphone-nya.

TERBARU

Proyek kacamata pintar Google Glass sempat dimatikan oleh Alphabet, induk perusahaan Google, pada tahun 2015. Tetapi sekarang, Google Glass lahir kembali dengan fokus bisnis yang baru di industri enterprise.