Tags Posts tagged with "kaspersky"

kaspersky

Departemen Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat (DHS) menginstruksikan departemen dan agensi federal untuk menghapus dan melarang produk-produk peranti lunak Kaspersky Lab dari sistem informasi mereka.

Kaspersky Lab merupakan perusahaan keamanan siber multinasional dan penyedia antivirus milik Rusia yang berkantor pusat di Moskow.

DHS mencurigai Rusia menggunakan software Kaspersky untuk memata-matai kegiatan pemerintah AS karena undang-undang Rusia memungkinkan badan intelijen Rusia untuk meminta atau memaksa bantuan Kaspersky dan mencegat komunikasi yang melintasi jaringan Rusia

“Kami risau adanya hubungan antara beberapa pejabat Kaspersky dan intelijen Rusia serta badan pemerintah lainnya,” kata DHS dalam sebuah pernyataan seperti dikutip Cnet.

“Pemerintah Rusia dapat bertindak sendiri atau bekerjasama dengan Kaspersky dengan memanfaatkan akses produk-produk Kaspersky. Mereka bisa mendapatkan informasi federal secara langsung yang menyangkut keamanan nasional AS,” sambung DHS.

Di bawah perintah tersebut, semua departemen dan agensi federal AS memiliki waktu 30 hari untuk mengidentifikasi produk-produk Kaspersky yang digunakan pada sistem informasi, 60 hari untuk mengembangkan rencana terperinci untuk menghapusnya dan 90 hari menghentikan penggunaannya.

DHS pun akan memberi kesempatan kepada Kaspersky untuk mengajukan tanggapan tertulis terkait masalah tersebut.

Sebelumnya, militer AS sudah lebih dulu dilarang memakai produk Kaspersky pada Juni lalu. Kaspersky pun menampik tudingan pemerintah AS dan mengatakan bahwa sejauh ini tak ada bukti yang mendukung tuduhan tersebut.

“Kaspersky Lab tidak pernah dan tidak akan membantu pemerintah manapun di dunia dalam upaya serangan cyber,” sebut Kaspersky dalam tanggapannya.

AS menuduh Rusia melakukan serangan siber dan membuat bocornya e-mail kandidat presiden dalam masa kampenye tahun lalu. Selain pemerintah AS, jaringan ritel Best Buy juga memutuskan untuk menarik semua produk Kaspersky dari toko-tokonya.

Ilustrasi anak-anak memainkan iPhone.

Kaspersky Lab mengungkapkan laporan terbaru mengenai aktivitas anak-anak di seluruh dunia dalam penggunaan komputer. Hasilnya, rata-rata anak-anak di seluruh dunia lebih jarang berkomunikasi, bermain dan mengakses konten dewasa melalui komputer pada tahun lalu.

Ironisnya, anak-anak mulai tertarik membuka situs yang memberikan informasi tentang narkoba, alkohol dan tembakau.

Anna Larkina (Web-content Analysis Expert di Kaspersky Lab) mengatakan Kaspersky Lab melihat adanya perubahan besar dalam aktivitas online anak-anak dari komputer ke perangkat mobile.

“Sekarang anak-anak hanya menggunakan komputer untuk mengunjungi situs web yang tidak memiliki aplikasi mobile. Ini mungkin menjelaskan mengapa proporsi mengunjungi situs web komunikasi di komputer mengalami penurunan, sementara proporsi situs web dengan konten ‘alkohol, tembakau, narkotika’ semakin meningkat,” katanya dalam siaran persnya, Sabtu.

Sekitar 61 persen anak-anak membuka situs komunikasi (seperti media sosial, perpesanan, atau e-mail), game komputer turun menjadi 9 persen dan situs dewasa saat ini mencapai 1,2 persen.

Kunjungan ke halaman yang berisi informasi tentang narkoba, alkohol dan tembakau meningkat 14 persen.

Solusi keamanan Kaspersky Total Security dan Kaspersky Internet Security mencakup modul Parental Control yang membantu orang dewasa melindungi anak-anak mereka dari ancaman online dan memblokir situs atau aplikasi dengan konten yang tidak pantas.

Kaspersky Lab juga menawarkan solusi Safe Kids yang memungkinkan orang tua memantau apa yang anak mereka lakukan, lihat atau telusuri secara online di semua perangkat, termasuk perangkat mobile, dan dapatkan saran bermanfaat tentang cara membantu anak berperilaku online dengan aman.

(www.kaspersky.com)

Menurut laporan Kaspersky Lab yang berjudul My Precious Data: Stranger Danger, pengguna yang berbagi datanya dengan orang lain cenderung mengalami kesulitan dalam kehidupan digitalnya. Contoh, hampir separuh pengguna yang berbagi datanya secara online mengalami kehilangan data di smartphone mereka (47%).

Kemungkinan kehilangan data ini menurut laporan tersebut relatif lebih kecil terjadi pada pengguna yang tidak berbagi datanya dengan orang lain. Ini terbukti dari hanya tiga belas persen pengguna yang kehilangan data dari smartphone-nya.

Risiko berbagi bahkan lebih tinggi bagi pengguna yang berbagi informasi dengan orang tidak dikenal. Terbukti, sebanyak 59% pengguna smartphone yang telah berbagi data dengan orang tidak dikenal mengaku telah kehilangan data-datanya.

Pengguna yang berbagi data berharga mereka secara digital juga melaporkan berbagai masalah pada perangkatnya. Di smartphone, masalah yang paling umum terjadi adalah iklan yang mengganggu (51%, dibandingkan dengan 25% pengguna yang tidak berbagi), masalah daya baterai (41%, dibandingkan dengan 17% orang yang tidak berbagi), aplikasi yang beroperasi pada perangkat mereka tanpa persetujuan (19%, dibandingkan dengan 6% pengguna yang tidak berbagi) dan infeksi malware (14%, dibandingkan dengan 4% orang yang tidak berbagi).

Menurut Kaspersky, temuan ini menggambarkan hubungan yang kuat antara permasalahan berbagi dengan perangkat. Pengguna yang berbagi data cenderung mengalami kehidupan digital yang bermasalah daripada yang tidak berbagi.

Selain itu, penelitian ini menunjukkan korelasi yang sama terhadap pengguna yang menempatkan perangkat fisiknya ke orang lain. Hal ini misalnya terjadi saat pengguna memperbolehkan smartphone-nya digunakan oleh orang lain dalam jangka waktu tertentu, meletakkan perangkatnya tidak terkunci di tempat umum, memberikan nomor PIN dan sebagainya.

Pengguna ini juga cenderung mengalami kehilangan data. Misalnya, lebih dari separuh (65%) yang berbagi smartphone-nya dengan orang lain mengalami kehilangan data di smartphone tersebut, dibandingkan dengan 34% pengguna yang tidak melakukannya.

“Penelitian kami menunjukkan bahwa ketika pengguna berbagi data secara digital, mereka cenderung menghadapi permasalahan pada perangkat dan kehilangan data, membuat kehidupan digital mereka menjadi lebih sulit,” komentar Andrei Mochol (Head of Consumer Business di Kaspersky Lab).

Masalah ini diperparah saat pengguna berbagi perangkat digital mereka dengan orang lain, atau dengan orang tidak dikenal. Kaspersky tahu bahwa pengguna tidak mungkin berhenti membagikan data berharga yang mereka sukai dengan orang lain secara online  Ini adalah salah satu keistimewaan dunia online. Tapi itu sebabnya sangat penting bagi setiap orang untuk lebih waspada terhadap potensi bahaya yang mereka tempatkan terhadap data dan perangkat mereka.

Kaspersky mendesak pengguna untuk memilih perlindungan yang sesuai dengan kebutuhan mereka, apa pun lingkungannya. Pendekatan ini untuk mengidentifikasi ancaman yang kompleks dan ditargetkan dan menawarkan pengguna saran yang membantu untuk mengurangi potensi kerusakan pada data dan perangkat mereka. Walhasil, pengguna dapat menikmati semua hal yang dunia online tawarkan.

Kaspersky Lab menyatakan bahwa My Precious Data: Stranger Danger didasarkan pada survei online yang dilakukan oleh firma riset Toluna dan Kaspersky Lab pada bulan Januari 2017. Survei tersebut menilai sikap 16.250 pengguna internet berusia di atas 16 tahun, dari 17 negara di seluruh dunia.

Kaspersky Lab memperkenalkan aplikasi gratis Kaspersky Secure Connection for Android untuk melindungi data pengguna yang dikirimkan melalui koneksi Internet.

Aplikasi itu dapat memberikan kenyamanan dan perlindungan ekstra kepada pengguna dan memberlakukan enkripsi lalu lintas secara otomatis tergantung pada tingkat keamanan jaringan Wi-Fi ketika perangkat itu terhubung.

“Pengguna sering sekali mempercayai jaringan Wi-Fi hanya karena jaringan itu memiliki password. Padahal, penjahat siber dapat memanfaatkan kepercayaan tersebut,” kata Sylvia Ng (General Manager SEA, Kaspersky Lab) dalam siaran persnya, Minggu.

Fitur enkripsi lalu lintas atau VPN (Virtual Private Network) dapat mencegah intersepsi dan penggunaan informasi berbahaya yang dikirimkan melalui koneksi
Internet.

Sylvia mengatakan aplikasi Kaspersky Secure Connection for Android dapat mengamankan password akun, korespondensi personal atau foto sensitif yang dikirim secara online, halaman yang dikunjungi dan pembelian.

“Sebagai contoh, Anda sering melihat beberapa jaringan Wi-Fi di hotel. Dan biasanya jaringan ini ditaruh di tempat-tempat populer yang terdapat banyak pengunjung sehingga mengakibatkan lalu lintas tinggi dalam sebuah jaringan untuk dapat melayani dengan andal,” ujar Sylvia.

“Tetapi tidak ada yang bisa menghentikan penjahat siber untuk membuat jaringan Hotel Wi-Fi 3 sebagai tambahan dari Hotel Wi-Fi 1 dan Hotel Wi-Fi 2 sudah disiapkan oleh pihak hotel,” ucapnya.

Menurut penelitian Kaspersky Lab ditemukan bahwa satu dari empat jaringan Wi-Fi (28 persen) di seluruh dunia tidak aman. Aplikasi itu dapat mengenkripsi semua lalu lintas yang dikirim dan diterima secara terus menerus atau hanya dalam situasi ketika tingkat keamanan sangat penting, misalnya saat pengguna terhubung ke jaringan Wi-Fi yang tidak aman.

“Kaspersky Secure Connection for Android bertujuan untuk melindungi privasi dan informasi pribadi milik pengguna dari ancaman ini,” pungkasnya.

Aplikasi tersebut juga menawarkan untuk mengaktifkan perlindungan saat membuka situs web dan aplikasi yang berisi informasi keuangan (bank, toko online, sistem pembayaran) dan situs jejaring sosial.

Kaspersky Secure Connection memungkinkan 200 MB lalu lintas terenkripsi secara gratis per hari, untuk setiap perangkat dan dengan jumlah perangkat yang tidak terbatas.  Saat mendaftar di portal My Kaspersky, pengguna menerima 300 MB secara gratis per hari.

Kaspersky Secure Connection tersedia untuk diunduh dan diaktifkan di semua wilayah di mana perusahaan berada, kecuali di Belarus, Oman, Pakistan, Qatar, Iran, UEA, Arab Saudi, China dan Hong Kong karena adanya peraturan pembatasan.

Perseteruan pemerintah Amerika Serikat (AS) dan perusahaan keamanan ternama Kaspersky Lab kembali memanas lantaran AS menuduh Kaspersky merupakan mata-mata pemerintah Rusia.

Kali ini Biro Investigasi AS (FBI) memperingatkan perusahaan-perusahaan AS untuk tidak menggunakan produk Kaspersky Lab karena sangat berbahaya bagi keamanan perusahaan.

FBI menuding produk-produk Kaspersky tidak mampu melindungi infrastruktur utama AS. Bahkan, FBI mengungkapkan data-data intelijen bahwasannya Kaspersky Lab memiliki hubungan dengan badan intelijen Rusia.

FBI pun fokus berdiskusi dengan perusahaan-perusahaan di sektor energi dan perusahaan teknologi ternama setelah insiden serangan siber yang mengacaukan pembangkit listrik Ukraina.

Sayangnya, pertemuan itu tidak berjalan mulus lantaran perusahaan-perusahaan AS di sektor energi enggan menuruti kemauan FBI seperti dikutip Engadget.

Tak hanya FBI, tekanan terhadap Kaspersky juga berlanjut di tingkat Kongres AS. Panel Kongres AS memerintah berbagai badan pemerintah AS untuk memberikan dokumen dan komunikasi mereka terkait Kaspersky.

Bahkan, ada rancangan proposal yang melarang Departemen Pertahanan untuk bekerja sama dan menggunakan segala produk Kaspersky Juni lalu.

Kaspersky Lab pun membantah mentah-mentah tuduhan pemerintah AS bahwa mereka adalah mata-mata Rusia. Bahkan, Eugene Kaspersky (CEO Kaspersky) rela membuka source code produknya untuk memulihkan nama baik perusahaannya.

Kaspersky Lab menemukan Trojan mobile banking Faketoken yang mengincar dan mencuri data rahasia pengguna layanan taksi online atau ride-sharing populer.

Viktor Chebyshev (Pakar Keamanan Kaspersky Lab) melihat pasar aplikasi mobile terutama layanan taksi dan aplikasi ride-sharing terus berkembang dan menyimpan data rahasia penggunanya mengenai keuangan dan kartu perbankan.

“Aplikasi layanan ride-sharing telah terinstal di jutaan perangkat Android di seluruh dunia dan menjadi sasaran empuk bagi penjahat siber,” katanya dalam siaran persnya, Minggu.

Malware Faketoken terbaru dapat melacak aplikasi ride-sharing pengguna dan menyamarkannya dengan celah phishing untuk mencuri rincian kartu perbankan milik korban.

“Trojan memiliki antarmuka yang identik, dengan skema warna dan logo yang sama, sehingga menciptakan penyamaran instan dan tak terlihat adanya perbedaaan sama sekali,” ujarnya.

Selain itu, Trojan dapat mencuri semua pesan SMS yang masuk dengan mengarahkan mereka ke server command and control (C&C) yang memungkinkan penjahat siber mendapatkan akses ke kata sandi verifikasi. Faketoken bisa memantau panggilan pengguna, merekamnya, dan mengirimkan data ke server C&C.

Para ahli juga mendeteksi serangan Faketoken pada aplikasi mobile populer lainnya, seperti aplikasi pemesanan tiket dan hotel, aplikasi untuk pembayaran denda tilang, Android Pay dan Google Play Market.

Kaspersky Lab

Kaspersky Lab dan B2B International melaporkan sebanyak 46 persen insiden keamanan TI akibat oleh rendahnya literasi karyawan perusahaan terhadap keamanan siber setiap tahunnya.

Di posisi kedua, malware paling banyak menyebabkan insiden keamanan IT, menyusul malware akan terus berkembang dan semakin canggih, tetapi fakta membuktikan bahwa selalu saja faktor manusia yang menimbulkan bahaya lebih besar lagi.

Hacker yang berpengalaman akan selalu menggunakan malware buatan sendiri dan teknik tingkat tinggi untuk merencanakan serangan. Biasanya, para hacker akan memanfaatkan titik masuk termudah yaitu kelemahan manusia.

David Jacoby (Security Researcher di Kaspersky Lab) mengatakan para penjahat siber seringkali menggunakan karyawan sebagai pintu masuk untuk masuk ke dalam infrastruktur perusahaan melaui email phishing, kata sandi yang lemah, panggilan palsu dari layanan teknis.

“Kecerobohan karyawan adalah salah satu celah terbesar dalam pertahanan keamanan siber saat menghadapi serangan yang ditargetkan. Bahkan, USB biasa yang sengaja dijatuhkan di parkir kantor atau dekat meja sekretaris bisa membahayakan keseluruhan jaringan,” katanya dalam siaran persnya, Minggu.

Ironisnya, karyawan kerap menyembunyikan insiden keamanannya sehingga dapat meningkatkan total kerusakan. Bahkan, satu peristiwa yang tidak dilaporkan dapat mengindikasikan peretasan yang jauh lebih besar. Divisi keamanan IT harus dapat dengan cepat mengidentifikasi ancaman yang akan mereka hadapi untuk memilih taktik mitigasi yang tepat.

“Karyawan lebih suka menempatkan organisasi pada posisi berisiko daripada melaporkan permasalahan karena mereka takut dihukum, atau malu karena harus bertanggung jawab atas sesuatu yang tidak beres,” ujarnya.

Slava Borilin (Security Education Program Manager Kaspersky Lab) mengatakan perusahaan kerap memberlakukan kebijakan yang ketat dan terlalu menekan karyawan. Namun, kebijakan itu mendorong ketakutan dan membiarkan karyawan hanya memiliki satu pilihan melakukan apapun yang diperlukan supaya terhindar dari hukuman.

“Jika budaya keamanan siber Anda positif, berbasis pendekatan pendidikan dan bukan peraturan yang terlalu membatasi, dari atas ke bawah, hasilnya akan jelas,” ucapnya.

Kaspersky Lab meluncurkan software antivirus gratis Kaspersky Free yang menawarkan berbagai keunggulan kepada para pengguna internet di seluruh dunia.

“Antivirus gratis ini sangat ringan dan cepat daripada produk keamanan lainnya karena tidak memiliki banyak modul yang terpasang dan tidak ada iklan yang mengganggu,” kata Eugene Kaspersky (Pendiri Kaspersky Lab) seperti dikutip Reuters.

Tentunya, Kaspersky Free yang diluncurkan tepat pada ulang tahun Kaspersky Lab ke-20 ini memiliki fitur yang lebih sedikit dibanding versi komersialnya. Antivirus versi gratis itu hanya memuat fitur-fitur utama, seperti perlindungan e-mail, perlindungan web, dan update otomatis.

Fitur lain seperti firewall, private browsing, dan kontrol aplikasi hanya akan disiapkan untuk Kaspersky Internet Security yang mengharuskan pengguna untuk membeli lisensi secara terpisah.

Menantang Windows Defender

Eugene mengatakan Kaspersky Free sudah tersedia di AS, Kanada, dan beberapa negara Asia Pasifik serta akan hadir diluncurkan di kawasan-kawasan lainnya beberapa bulan ke depan.

Kaspersky Lab membutuhkan waktu 18 bulan untuk membuat Kaspersky Free yang sebelumnya sudah hadir terlebih dahulu melalui pilot project di Rusia, Ukraina, Tiongkok dan negara-negara Skandinavia.

“Tahun lalu, produk ini telah sukses diuji coba di Rusia-Ukraina-Belarus, Tiongkok, dan juga negara-negara Nordik,” ujarnya.

Pada September, Kasperky Free akan tersedia di India, Hong Kong, Timur Tengah, Afrika, Turki, dan Amerika Latin. Pada Oktober dan November, antivirus itu akan tersedia di Eropa, Jepang, Korea Selatan, Vietnam, dan Thailand.

Nampaknya, Kaspersky Free akan menjadi penantang kuat produk antivirus gratis yang populer seperti Avast dan AVG, tetapi target terbesar Kaspersky Free adalah Windows Defender.

Antivirus gratis Kaspersky Free bisa diunduh di alamat ini.

Ilustrasi ransomware.

Lebih dari 2,5 juta orang di seluruh dunia terkena serangan ransomware dalam satu tahun, terhitung pada periode April 2016 – Maret 2017. Menurut laporan Kaspersky Lab, jumlah itu meningkat 11,4 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Namun, angka tersebut belum memasukkan sedikitnya 300 ribu korban ransomware WannaCry ataupun Petya/NotPetya karena serangan itu terjadi pada bulan Mei – Juli 2017.

Sementara itu, diperkirakan lebih dari US$25 juta juta telah dibayarkan oleh korban ransomware dalam dua tahun terakhir, berdasarkan studi dari peneliti Google, Chainalysis, UC San Diego, dan NYU Tandon School of Engineering.

Jenis ransomware yang paling banyak menghasilkan keuntungan bagi pelaku serangan adalah Locky (US$7 juta), Cerber (US$6,9 juta), dan CryptXXX (US$1,9 juta).

“Angka serangan ransomware terus meroket sejak tahun 2012 karena para pelaku kriminal tertarik dengan iming-iming keuntungan besar dan kemudahan implementasi serangan,” ujar juru bicara Europol (satuan kepolisian Eropa) seperti dilansir Phys.org.

Europol sendiri sudah menggandeng sembilan partner dari para penyedia jasa keamanan siber, termasuk Kaspersky Lab, guna mengembangkan 54 alat yang mampu mendekripsi (membuka kunci enkripsi) data-data yang disandera pelaku kriminal. Mereka pun mengklaim sudah membantu 28 ribu perangkat yang menjadi korban ransomware.

Mulai tahun lalu, Europol juga bekerjasama dengan lebih dari 100 lembaga pemerintah dan organisasi swasta untuk menyebarkan inisiatif No More Ransom.

Inisiatif ini mencakup situs NoMoreRansom.org yang berisi edukasi dan informasi tentang bahaya ransomware serta memuat alat-alat pembuka kunci enkripsi yang populer digunakan pada ransomware.

Eugene Kaspersky (Chairman dan CEO, Kaspersky Lab, paling kanan), Stephan Neumeier (Managing Director, Kaspersky Lab, APAC, kedua dari kanan), dan Vitaly Kamluk (Director of Global Research & Analysis Team, Kaspersky Lab, APAC, ketiga dari kanan) berfoto bersama ketiga pembicara lain seusai Palaeontology of Cybersecurity Conference yang diadakan Kaspersky Lab di Singapura awal Juli lalu.

Dibanding masa lampau, kini jumlah malware sudah bertumbuh pesat. Bila sebelumnya diperlukan sekitar 20 tahun bagi Kaspersky Lab untuk mengumpulkan 1 juta malware, belakangan dalam satu minggu saja di tahun 2016, Kaspersky Lab bisa menemukan 2,2 juta malware baru. “Dari 86 sampai 2006 terdapat satu juta malicious code yang unik maupun berbeda di koleksi kami. Dua puluh tahun untuk mengumpulkan satu juta. Sekarang satu minggu dua juta,” ujar Eugene Kaspersky (Chairman dan CEO, Kaspersky Lab).

Untuk bisa melawan aneka malware baru yang bermunculan ini tentu kita harus tahu seluk beluk setiap malware itu terlebih dahulu, barulah kemudian menerapkan proteksi yang tepat. Nah, di Palaeontology of Cybersecurity Conference yang berlangsung pada 6 Juli 2017 lalu di Singapura, Kaspersky Lab menekankan peran penting dari para peneliti maupun penganalisa dalam mengetahui dan memahami seluk beluk dari aneka malware tersebut.

Mengapa mengambil kata palaeontology atau paleontologi dalam bahasa Indonesia? Karena proses yang dilakukan para peneliti dan penganalisa yang di Kaspersky Lab masuk pada Global Research and Analysis Team (GReAT) ini, mirip dengan proses yang dilakukan palaeontologist atau ahli paleontologi. Seperti ahli paleontologi yang mencari dan mempelajari banyak fosil untuk mengetahui dan memahami karakteristik dari suatu organisme (misalnya salah satu dinosaurus), begitu pula dengan GReAT. Mereka mencari dan mempelajari berbagai jejak yang tertinggal untuk mengetahui dan memahami seluk beluk dari suatu malware, termasuk cara kerjanya, targetnya, asalnya, dan pembuatnya.

“Kami biasanya melihat beberapa serpihan dari tulang-tulang yang rusak dari monster yang membentuk suatu kerangka. Tapi bagi kami kerangka ini kadang kala menimbulkan pertanyaan. Pertanyaan yang kami tanyakan ke diri kami sendiri adalah apakah ini adalah sebuah indikator, sebuah artefak dari monster yang sudah ada di cyberspace. Jadi kami perlu untuk mengidentifikasi milik siapakah dia dan bagaimana dia digunakan,” sebut Vitaly Kamluk (Director of Global Research & Analysis Team, Kaspersky Lab, APAC).

Salah satu contoh “monster” yang berhasil ditemukan oleh Kaspersky Lab di masa lampau adalah Regin. Target yang menjadi sasaran dari Regin antara lain adalah perusahaan telekomunikasi. Tujuanya seperti untuk mendengarkan “pembicaraan” antar perangkat telekomunikasi. Dengan ditemukannya Regin ini, Kaspersky Lab kemudian meningkatkan kesadaran akan Regin dan mengedukasi berbagai pihak yang menjadi sasaran. Kaspersky Lab juga menerbitkan laporan yang terbuka untuk umum. Proteksi yang ada pun bisa ditingkatkan.

Kaspersky Lab turut meresmikan kantor barunya di Singapura setelah sebelumnya menempati kantor sementara selama sekitar dua tahun. Kantor baru yang dipimpin oleh Stephan Neumeier (Managing Director, Kaspersky Lab, APAC) ini merupakan kantor pusat Kaspersky Lab di APAC (Asia Pacific).

Tak hanya untuk urusan bisnis, kantor Kaspersky Lab tersebut juga ditujukan untuk menjadi basis dari tim R&D APAC yang dipimpin oleh Vitaly Kamluk. Dengan kata lain, kantor baru itu akan turut membantu Kaspersky Lab mengenal dan memahami aneka malware yang bermunculan di dunia, termasuk tentunya Asia Pacific yang mencakup Indonesia. “Hal ini menunjukkan bahwa Kaspersky Lab sekarang benar-benar ingin untuk mencari berbagai fakta yang lebih relevan untuk Asia Pacific,” tegas Vitaly Kamluk.

TERBARU

Apple memulai penjualan perdana iPhone 8 mulai hari ini. Namun, berbeda dibandingkan dengan pendahulunya, iPhone 8 tergolong sepi pembeli. Di Australia, hanya ada kurang dari 30 orang yang mengantre di depan toko resmi Apple pagi ini.