Tags Posts tagged with "kaspersky"

kaspersky

Bagi pengguna smartphone berbasis Android, ancaman Malware sangat mengkhawatirkan karena sistem operasi Android sangat rentan terhadap serangan virus.

Kaspersky menemukan malware terbaru Trojan Horse di aplikasi game Clourblock di Play Store sejak April 2017. Aplikasi game Clourblock sendiri telah diunduh sebanyak 50 ribu kali.

Virus yang bernama Trojan.AndroidOS.Dvmap.a atau Dvmap mampu bersembunyi dari sistem proteksi dan mekanisme verifikasi Google.

Dvmap akan mengakses otorisasi root dan menginfeksi smartphone Android Anda dengan kode berbahaya yang menyerang ke dalam sistem library libdmv.so dan libandroid_runtime.so.

Malware itu pun dapat menggandakan konten di sistem library dan dapat membuat berbagai aplikasi Android tidak berfungsi serta  dapat mengunduh aplikasi sendiri tanpa sepengetahuan penggunanya.

Dengan menginfeksi library, Trojan Dvmap dapat menyerang kunci layanan yang dibutuhkan aplikasi-aplikasi pada smartphone untuk bekerja normal sehingga membuat smartphone Android Anda crash.

Bahkan, Dvmap mampu menghapus akses root untuk menutupi jejaknya sehingga sangat berbahaya untuk aplikasi yang menangani informasi sensitif seperti aplikasi perbankan seperti dikutip Digital Trends.

Roman Unuchek mengatakan trojan vmap itu ini memiliki kemampuan untuk mendownload dan mengeksekusi file tetapi ia tidak pernah menerima perintah apapun selama penyelidikannya.

“Ini berarti Trojan Dvmap masih bisa berkembang luas. Pengembang Trojan ini sedang menguji metode mereka sebelum meluncurkan serangan penuh,” pungkasnya.

Perusahaan keamanan siber global Kaspersky Lab menunjuk Stephan Neumeier sebagai Managing Director Kaspersky Lab Asia Pacific yang baru dan efektif mulai tanggal 29 Mei 2017.

Dengan pengalaman lebih dari 17 tahun di industri TI, Stephan akan menempati posisi penting dan mengembangkan bisnis perusahaan di lebih dari 25 negara di kawasan APAC. Adapun, prioritas utamanya meliputi penguatan hubungan kemitraan, memperluas bisnis ritel perusahaan, dan mendorong pengembangan bisnis untuk memenuhi kebutuhan perusahaan dan konsumen yang terus meningkat akan perlindungan siber yang efektif.

Diharapkan di bawah pengawasannya, Stephan mampu memimpin tim APAC dalam menjalankan strategi perusahaan untuk terus mengembangkan dan melanjutkan pertumbuhan keamanan siber bagi komersial dan perusahaan dengan lebih berfokus ke industri vertikal kritis seperti ‘industrial cyber security’.

Alexander Moiseev, Chief Sales Officer, Kaspersky Lab mengungkapkan “Dengan pengalaman industri Stephan yang luas terutama di dunia penjualan, channel dan distribusi, kami yakin bahwa dia mampu membantu para mitra kami di kawasan APAC untuk bertumbuh secara lebih luas dan cepat, membangun hubungan yang sukses dan lebih kuat dengan klien serta mitra perusahaan.”

Sebelum bergabung dengan Kaspersky Lab, Stephan berhasil memegang beberapa posisi kepemimpinan senior untuk channel di Unify, Avaya, San Disk dan McAfee, di perusahaan tersebut dia memainkan peran kunci dalam mengubah bisnis, memperluas bisnis channel serta mendorong bisnis untuk mencapai pertumbuhan year-on-year.

Saat pengangkatannya, Stephan juga mengatakan, “Analisis cepat dan komprehensif Kaspersky Lab terhadap serangan masif ransomware WannaCry yang baru-baru ini terjadi merupakan validasi dari dedikasi perusahaan untuk memastikan dukungannya kepada mitra dan pelanggan di seluruh dunia dan ini adalah sesuatu yang membuat saya senang menjadi bagian darinya.”

Maxim Mitrokhin yang sebelumnya memangku posisi Managing Director Kaspersky Lab APAC akan kembali menempati posisi sebagai Operations Director. Perubahan ini memungkinkan Maxim untuk lebih berfokus pada manajemen operasional, mengoptimalkan proses bisnis perusahaan serta meningkatkan kinerja perusahaan di kawasan ini.

Pembuat software (perangkat lunak) keamanan asal Rusia Kaspersky Lab menggugat Microsoft terkait kasus anti monopoli kepada Komisi Eropa dan kantor kartel federal Jerman.

Sebelumnya, Kaspersky gagal menyelesaikan masalah tersebut dengan Microsoft melalui jalur kekeluargaan.

Kaspersky melihat Microsoft menggunakan nama besarnya untuk mendominasi pasar sistem operasi PC. Bahkan, Microsoft mendistribusikan perangkat lunak anti-virus Defender miliknya sendiri ke dalam sistem operasi Windows.

Hal itu akan menjadi hambatan besar bagi vendor keamanan perangkat lunak independen untuk memasarkan produknya.

Perusahaan keamanan yang berbasis di Moskow itu mengatakan tindakan Microsoft itu memberikan tingkat perlindungan keamanan yang rendah kepada pengguna, pembatasan hak pengguna untuk memilih sehingga menyebabkan kerugian finansial baik bagi pengguna dan produsen solusi keamanan.

Microsoft mengatakan bahwa perusahaan tidak melanggar undang-undang apapun dan kehadiran Defender pada Windows hanya untuk melindungi pengguna.

“Kami yakin fitur keamanan Windows 10 sesuai dengan undang-undang persaingan. Microsoft akan selalu menjaga perangkat dan data pelanggan agar tetap terlindungi,” katanya seperti dikutip Reuters.

Pada November lalu, Kaspersky pernah mengancam akan mengajukan keluhan tersebut ke Komisi Eropa. Namun, Kasepersky menunda rencananya tersebut karena Microsoft sepakat untuk berubah.

Saat ini fitur perintah suara atau voice assistant sudah dimiliki beberapa perusaahaan teknologi seperti Apple dengan Siri, Samsung dengan Bixby, Amazon dengan Echo, Google dengan Google Assistant, serta Microsoft dengan Cortana. Asisten virtual tersebut terintegrasi dengan smartphone, tablet atau komputer.

Adapun ftur yang menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan machine learning ini berkembang dengan pesat dan diperkirakan di masa depan fitur ini bisa melakukan tugas yang lebih kompleks.

Namun, dibalik semua kemudahan yang ditawarkan selalu ada celah keamanan yang kerap muncul di tempat yang tak terduga, termasuk juga di teknologi voice assistant. Bisa jadi kemungkinan pertama yang terlintas dalam pikiran Anda adalah bocornya data-data pribadi ataupun perusahaan.

Atau pernahkah Anda memerintahkan voice assistant untuk memasukkan nomor kartu kredit atau sandi ketika mengisi formulir di website? Hal ini akan dengan mudah dimanfaatkan oleh penjahat dunia maya untuk menghasilkan uang.

Celah keamanan

Teknologi asisten virtual memberikan kenyamanan dan nilai yang luar biasa bagi pengguna, tetapi perangkat ini memunculkan sebuah tantangan baru dalam hal keamanan dan privasi.

“Pada satu sisi, teknologi ini bisa saja disalahgunakan oleh orang-orang tidak bertanggung jawab untuk tujuan lain, seperti pada insiden yang baru-baru ini terjadi dengan botnet Mirai. Atau perangkat itu sendiri bisa dimanfaatkan untuk tujuan jahat lainnya, seperti mengumpulkan data-data pribadi dan sensitif, atau hanya sekedar untuk membuktikan adanya kerentanan,” ungkap Dony Koesmandarin (Territory Channel Manager Indonesia, Kaspersky Lab SEA).

Salah satu contoh nyata terjadi pada bulan Januari 2017 di San Diego, California. Saluran CW6 menyiarkan segmen berita yang menarik tentang kerentanan speaker Amazon Echo (yang dilengkapi dengan asisten virtual Alexa). Pembawa acara menjelaskan bahwa perangkat IoT ini tidak dapat membedakan orang melalui suaranya, yang berarti Alexa akan mengikuti perintah siapa saja yang ada disekitarnya.

Akibatnya, seorang anak kecil secara tidak sengaja berhasil memesan rumah boneka seharga USD 170 dan kue-kue kering melalui Alexa. Hal ini bisa terjadi dikarenakan teknologi voice assistant tidak memahami perbedaan suara orang tua ataupun anak kecil.

Dan di bulan yang sama, pada acara CES 2017 Las Vegas, hampir setiap perangkat cerdas yang ditampilkan – mulai dari mobil hingga lemari es, dilengkapi dengan voice assistant. Tren ini pasti akan menciptakan sebuah risiko keamanan yang baru baik dalam hal privasi, keamanan, dan bahkan keselamatan dari pengguna itu sendiri. Oleh karenanya, setiap pengembang perlu menjadikan keamanan pengguna sebagai prioritas utama.

Tip Kaspersky

Sementara bagi para pengguna, Kaspersky Lab memiliki beberapa tip mudah yang dapat membantu melindungi kehidupan Anda dari teknologi voice assistant ini:

  1. Matikan mikrofon di Amazon Echo dan Google speaker. Terdapat sebuah tombol untuk mematikan. Ini bukan cara yang efisien untuk memastikan privasi. Anda harus selalu ingat kapan saatnya untuk menyalakan atau mematikan voice assistant, tetapi setidaknya hal tersebut menjadi langkah pengamanan awal.
  2. Gunakan pengaturan akun voice assistant untuk melarang pembelian atau melindunginya dengan sandi.
  3. Gunakan perlindungan anti-virus bagi PC, tablet, dan smartphone untuk mengurangi risiko kebocoran data serta mencegah aksi dari penjahat siber.
  4. Ubah wake word, terutama di Amazon Echo, jika seseorang di rumah Anda memiliki nama yang sama dengan “Alexa”. Karena kalau tidak, bisa saja setiap pembicaraan di dekat perangkat berpotensi berubah menjadi hal yang cukup mengganggu.

“IoT menjadi suatu tren teknologi terbesar sejak smartphone, dan bisa dipastikan akan berkembang dengan pesat. Sayangnya, penjahat dunia maya melihat teknologi ini sebagai celah baru bagi mereka untuk menghasilkan uang baik dari ataupun melalui pemilik perangkat,” kata Dony.

“Maka akan lebih baik jika para pengembang teknologi ini bersama-sama dengan pakar keamanan dan perusahaan keamanan siber bekerja sama memperbaiki sisi keamanannya,” tutupnya.

Ilustrasi Ransomware WannaCry

Serangan siber ransomware WannaCry yang masif berhasil menyerang banyak organisasi di seluruh dunia. Para ahli Kaspersky Lab telah menganalisis data dan memastikan bahwa sub sistem perlindungan perusahaan berhasil mendeteksi setidaknya 45.000 upaya infeksi di 74 negara yang mana kebanyakan terjadi di Rusia.

Ransomware WannaCry menginfeksi korban dengan memanfaatkan kerentanan Microsoft Windows sekaligus membuktikan banyak organisasi yang belum memasang patch.

Begitu berada di dalam sistem, hacker memasang rootkit yang memungkinkan mereka mengunduh perangkat lunak untuk mengenkripsi data.

Saat ini para ahli Kaspersky Lab sedang memahami apakah memungkinkan untuk mendekripsi data yang terkunci karena serangan tersebut – tujuannya tentu saja untuk membantu para korban dengan mengembangkan alat dekripsi sesegera mungkin.

Karena itu, Kaspersky Lab memberikan beberapa tips untuk menangkis serangan siber ransomware WannaCry yaitu instal patch resmi dari Microsoft untuk menutup kerentanan tersebut dan pastikan solusi keamanan aktif pada semua nodes di jaringan dalam siaran persnya, Rabu.

Jika menggunakan solusi Lab Kaspersky, pastikan solusi tersebut termasuk fitur System Watcher yaitu komponen pendeteksi perilaku proaktif dan fitur telah aktif. Jalankan proses Critical Area Scan di solusi Kaspersky Lab untuk mendeteksi kemungkinan infeksi sesegera mungkin.

Reboot sistem setelah mendeteksi MEM: Trojan.Win64.EquationDrug.gen dan gunakan layanan Customer-Specific Threat Intelligence Reporting

Ilustrasi Speaker Amazon Echo Dot

Saat ini beberapa perusaahaan teknologi sudah memiliki fitur perintah suara atau voice assistant sebuat saja Apple dengan Siri, Samsung dengan Bixby, Amazon dengan Echo, Google dengan Google Assistant, serta Microsoft dengan Cortana.

Asisten virtual memadukan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan machine learning sehingga terintegrasi dengan smartphone, tablet atau komputer dan meningkatkan kemudahan pelanggan.

Sayangnya, teknologi voice assistant menyisakan celah keamanan dan memungkinkan hacker membocorkan data-data pribadi ataupun perusahaan.

Dony Koesmandarin (Territory Channel Manager Indonesia, Kaspersky Lab SEA) mengatakan teknologi asisten virtual memang memberikan kenyamanan dan nilai yang luar biasa bagi pengguna, tetapi teknologi ini memunculkan sebuah tantangan baru dalam hal keamanan dan privasi.

“Teknologi ini bisa saja disalahgunakan oleh orang-orang tidak bertanggung jawab seperti insiden yang terjadi dengan botnet Mirai,” katanya dalam siaran persnya, Rabu.

Sementara bagi para pengguna, Kaspersky Lab memberikan beberapa tips untuk melindungi kehidupan Anda dari teknologi voice assistant ini:

1. Matikan mikrofon di Amazon Echo dan Google speaker. Ada terdapat sebuah tombol untuk mematikan.

“Anda harus selalu ingat kapan saatnya untuk menyalakan atau mematikan voice assistant tetapi setidaknya hal tersebut menjadi langkah pengamanan awal,” ujarnya.

2. Gunakan pengaturan akun voice assistant untuk melarang pembelian atau melindunginya dengan sandi.

3. Gunakan perlindungan anti-virus bagi PC, tablet, dan smartphone untuk mengurangi risiko kebocoran data serta mencegah aksi dari penjahat siber.

4.Ubah wake word, terutama di Amazon Echo.

“IoT menjadi suatu tren teknologi terbesar sejak smartphone, dan bisa dipastikan akan berkembang dengan pesat. Sayangnya, penjahat dunia maya melihat teknologi ini sebagai celah baru bagi mereka untuk menghasilkan uang baik dari ataupun melalui pemilik perangkat,” ucapnya.

“Maka akan lebih baik jika para pengembang teknologi ini bersama-sama dengan pakar keamanan dan perusahaan keamanan siber bekerja sama memperbaiki sisi keamanannya,” tutup Dony.

INTERPOL dan Kaspersky Lab melakukan operasi pemberantasan kejahatan siber di seluruh ASEAN. Investigator kejahatan siber dari Indonesia, Malaysia, Myanmar, Filipina,

Singapura, Thailand, dan Vietnam berkumpul di IGCI untuk bertukar informasi mengenai situasi kejahatan siber spesifik di negara masing-masing.

Hasilnya, ada 9.000 botnet server command and control (C2) dan ratusan situs web yang berhasil diretas, termasuk website pemerintah teridentifikasi dari aktivitas tersebut.

Noboru Nakatani (IGCI Executive Director) mengatakan operasi gabungan ini sangat ideal karena menunjukkan kemitraan publik-swasta yang sangat efektif dan bermanfaat dalam memerangi kejahatan siber.

“Berbagi data intelijen menjadi dasar dari keberhasilan operasi ini. Kerja sama ini sangat penting untuk efektivitas jangka panjang untuk memerangi kejahatan dunia maya,” katanya dalam siaran persnya, Rabu.

Para ahli dari Kaspersky Lab bekerja sama dengan INTERPOL untuk berbagi penemuan ancaman siber terbaru dan untuk merumuskan tindakan yang perusahaan rekomendasikan bersama dengan enam perusahaan swasta lainnya, yaitu Institut Cyber Defense Institute, Booz Allen Hamilton, British Telecom, Fortinet, Palo Alto Networks, and Trend Micro.

Kaspersky Lab pun memberikan laporan eksklusif tentang kerentanan plugin WordPress yang telah mempengaruhi ribuan situs web di ASEAN.

Kerentanan keamanan itu memungkinkan para pelaku untuk memasukkan kode berbahaya ke lebih dari 5.000 laman web yang resmi di seluruh dunia dan mengalihkan pengguna ke laman iklan barang palsu.

Kerentanan juga memungkinkan jenis aktivitas berbahaya lainnya seperti mengunduh program yang berpotensi tidak diinginkan (PUP), serangan brute-forcing terhadap password, dan proxy antara lain.

Kaspersky Lab juga meperlengkapi IGCI dengan daftar lengkap 8.800 botnet C2 yang ditemukan aktif di negara-negara ASEAN, yang diambil dari Kaspersky Security Network and Botnet C&C Threat Feed.

Botnet sendiri berasal dari kata “robot” dan “network” dan merupakan sebuah jaringan zombie dari ribuan atau bahkan jutaan perangkat yang tersambung ke Internet (seperti PC, smartphone, tablet, router, mainan cerdas, atau gadget lainnya) yang diretas dan terinfeksi oleh malware khusus sehingga bisa dikendalikan oleh penjahat
siber untuk melakukan serangan siber.

Data botnet itu mencakup berbagai kelompok malware, terutama yang menargetkan organisasi keuangan, menyebarkan ransomware, meluncurkan serangan distributed-denial-of- service (DDoS), menyebarkan spam, dan memungkinkan kegiatan kriminal lainnya.

“Berbagi informasi antara sektor publik dan swasta adalah langkah penting dalam memerangi kejahatan dunia maya di wilayah ini,” kata Anton Shingarev (Vice President Public Affairs Kaspersky Lab).

Kesemrawutan digital (digital clutter) merupakan fenomena yang mengganggu perangkat digital modern karena meningkatnya resiko terhadap data-data yang tersimpan di smartphone, tablet atau komputer.

Resiko itu timbul karena buruknya manajemen digital para penggunanya dan malas mengontrol konten-konten di perangkat.

Andrei Mochola (Head of Consumer Business di Kaspersky Lab) mengatakan perangkat digital harus menyimpan data-data berharga setiap harinya dan pengguna tidak ingin data-data berharganya jatuh ke tangan yang salah.Pengguna harus mengambil tindakan seperti mengelola, membersihkan dan memperbarui aplikasi di semua perangkat milik mereka.

“Perawatan dan pemeliharaan harus menjadi prioritas dalam kehidupan digital Anda, seperti dalam dunia nyata, dalam rangka menghindarkan diri dari aksi kejahatan para hacker,” katanya dalam siaran persnya, Minggu.

Kaspersky Lab mengungkapkan hanya setengah dari pengguna smartphone merevisi konten pada komputer dan tablet secara teratur tetapi cuma dua dari tiga pengguna atau 63 persen yang melakukan hal ini pada smartphone mereka.

Hal itu disebabkan smartphone memiliki memori kurang dari komputer dan tablet. Bahkan, 35 persen pengguna telah menghapus aplikasi pada smartphone karena kurangnya penyimpanan dan hanya 13 persen dari pengguna komputer melakukan hal yang sama.

Biasanya, semua perangkat menyimpan data-data sensitif tetapi para pengguna tidak memperlakukan perangkat mereka sama pentingnya. Survei menemukan bahwa 65 persen pengguna melakukan pembaruan aplikasi smartphone dan memberikan aplikasi tersebut dengan patch keamanan dan update terbaru.

Sebaliknya, para pengguna cenderung lambat dalam memperbarui aplikasi pada tablet dan komputer, masing-masing hanya 42 persen dan 48 persen yang memperbarui aplikasi tersebut.

Hasil statistik Kaspersky Lab menunjukan bahwa pengguna lebih sering menghadapi malware pada komputer dibanding perangkat mereka lainnya.

Dalam rangka menjaga perangkat digital, pengguna harus mengambil langkah-langkah berikut ini:

1. Memperbarui aplikasi. Para pengguna sangat penting untuk memperbarui aplikasi secepat mungkin karena ada patch keamanan yang mampu mencegah atau mengurangi kerentanan dalam aplikasi.

2. Membersihkan aplikasi. Pengelolaan aplikasi smartphone secara tidak benar merupakan ancaman keamanan karena aplikasi sering mengirimkan data.

3. Pengaturan aplikasi. Hal itu memungkinkan pengguna untuk mengatur bagaimana aplikasi berinteraksi dengan perangkat.

4. Gunakan perangkat lunak khusus menginstal perangkat lunak yang dapat membantu pengguna untuk membedakan aplikasi yang berperilaku mencurigakan.

Pernahkah Anda menerima panggilan telepon dari telemarketer atau penipu yang biasanya berasal dari nomor telepon yang tidak dikenal? Atau ponsel Anda sering dibanjiri spam berupa kiriman SMS? Hal ini memang bisa jadi sangat mengganggu aktivitas Anda.

Untuk mengatasi permasalahan ini, Kaspersky Lab kini sedang mengembangkan sebuah proyek baru yang bernama Kaspersky Who Calls. Aplikasi ini menggunakan database nomor telepon dari berbagai perusahaan beserta jenis industri mereka. Nomor telepon dari spammer dan penipu juga ditambahkan ke dalam database. Layanan ini akan menunjukkan kepada pengguna siapa yang menelepon mereka bahkan jika mereka tidak memiliki nomor tersebut dalam daftar kontak mereka. Jika panggilan tersebut merupakan cold calling dari telemarketer, mereka dapat memutuskan apakah akan menjawab atau menghiraukan panggilan tersebut.

Aplikasi Who Calls saat ini masih dalam pengujian beta, tetapi Anda dapat membantu Kaspersky Lab untuk meningkatkan serta mempercepat perkembangan aplikasi ini. Ketika mendapatkan panggilan dari spammer telepon lainnya, Anda bisa mengunjungi callerid.kaspersky.com dan menambahkan nomer telepon tersebut ke dalam database.

Situs ini akan meminta untuk memilih kategori yang terdiri dari spam, Bank, layanan mobil, penipuan, dan sebagainya. Anda juga dapat memasukkan komentar tentang mengapa menambahkan nomor ini ke database, tapi itu opsional. Anda tidak perlu mendaftar atau masukkan nama, semuanya dapat dilakukan dalam beberapa klik.

Setelah nomor tersebut berada dalam database, jika pengguna aplikasi Who Calls menerima panggilan dari nomor tersebut, ponsel mereka akan menampilkan informasi tentang siapa yang menelepon. Semakin banyak nomor yang dimiliki, maka akan semakin banyak panggilan telemarketing yang dapat terdeteksi.

Para ahli Kaspersky Lab menemukan tren yang sedang berkembang dan cukup mengkhawatirkan bahwa banyak hacker yang mengincar korporasi dengan modus ransomware.

Sedikitnya, ada delapan kelompok penjahat dunia maya yang teridentifikasi terlibat dalam pengembangan dan distribusi ransomware enkripsi.

“Serangannya menargetkan organisasi keuangan di seluruh dunia dan tuntutan penebusannya sebesar lebih dari setengah juta dolar,” kata Anton Ivanov (Security Senior Researcher, Anti-Ransom, Kaspersky Lab) dalam siaran persnya.

[BACA: 10 Tips Ampuh Tolak Ransomware]

Dari delapan kelompok yang teridentifikasi adalah PetrWrap yang menyerang organisasi keuangan di seluruh dunia dan kelompok hacker terkenal Mamba serta enam kelompok hacker lainnya yang tidak disebutkan namanya.

“Enam kelompok ini sebelumnya terlibat dalam serangan yang kebanyakan menargetkan pengguna pribadi dan menggunakan model program afiliasi. Sekarang, mereka telah memfokuskan kembali upaya mereka pada jaringan perusahaan,” ujarnya.

Ivanov mengatakan tren ransomware ini cukup mengkhawatirkan sebab para aktor ransomware mulai melancarkan aksi serangan terhadap korban terbaru yang lebih menguntungkan.

“Menyerang korporasi lebih menguntungkan daripada serangan massal terhadap pengguna pribadi,” ucapnya.

Modusnya, para hacker menginfeksi perusahaan melalui serangan malware ke server yang rentan atau email spear phishing. Kemudian, para hacker akan menginfeksi jaringan perusahaan dan mengidentifikasi sumber daya berharga perusahaan untuk dienkripsi. Kemudian, para hacker akan menuntut tebusan sebagai ganti kunci dekripsi.

[BACA: No More Ransom, Senjata Terbaru Kepolisian Memerangi Ransomware]

Para ahli keamanan Kaspersky Lab menyarankan langkah-langkah berikut ini

  1. Anda harus melakukan backup data-data Anda dengan benar dan tepat waktu.
  2. Anda bisa menggunakan solusi keamanan yang dapat mendeteksi berbasis perilaku. Teknologi itu dapat mendeteksi malware termasuk memonitor bagaimana malware beroperasi dan mendeteksi sampel ransomware terbaru.
  3. Kunjungi website “No More Ransom”, sebuah inisiatif untuk membantu korban ransomware mengambil data terenkripsi mereka tanpa harus membayar penjahat.
  4. Sebaiknya, Anda memeriksa perangkat lunak yang terinstal tidak hanya pada endpoint.
  5. Anda bisa meminta intelijen eksternal: intelijen dari vendor terkemuka untuk membantu organisasi dan memprediksi serangan di masa depan pada perusahaan.
  6. Anda bisa melatih karyawan Anda dan memberikan perhatian khusus untuk staf operasional dan teknik.
  7. Anda bisa memberikan perlindungan dari dalam dan luar perimeter.

TERBARU

Mengusung jargon Selfie Expert, Oppo F1s memiliki resolusi kamera depan yang lebih besar dibanding kamera utama.