Tags Posts tagged with "kaspersky"

kaspersky

Kaspersky Lab meluncurkan software antivirus gratis Kaspersky Free yang menawarkan berbagai keunggulan kepada para pengguna internet di seluruh dunia.

“Antivirus gratis ini sangat ringan dan cepat daripada produk keamanan lainnya karena tidak memiliki banyak modul yang terpasang dan tidak ada iklan yang mengganggu,” kata Eugene Kaspersky (Pendiri Kaspersky Lab) seperti dikutip Reuters.

Tentunya, Kaspersky Free yang diluncurkan tepat pada ulang tahun Kaspersky Lab ke-20 ini memiliki fitur yang lebih sedikit dibanding versi komersialnya. Antivirus versi gratis itu hanya memuat fitur-fitur utama, seperti perlindungan e-mail, perlindungan web, dan update otomatis.

Fitur lain seperti firewall, private browsing, dan kontrol aplikasi hanya akan disiapkan untuk Kaspersky Internet Security yang mengharuskan pengguna untuk membeli lisensi secara terpisah.

Menantang Windows Defender

Eugene mengatakan Kaspersky Free sudah tersedia di AS, Kanada, dan beberapa negara Asia Pasifik serta akan hadir diluncurkan di kawasan-kawasan lainnya beberapa bulan ke depan.

Kaspersky Lab membutuhkan waktu 18 bulan untuk membuat Kaspersky Free yang sebelumnya sudah hadir terlebih dahulu melalui pilot project di Rusia, Ukraina, Tiongkok dan negara-negara Skandinavia.

“Tahun lalu, produk ini telah sukses diuji coba di Rusia-Ukraina-Belarus, Tiongkok, dan juga negara-negara Nordik,” ujarnya.

Pada September, Kasperky Free akan tersedia di India, Hong Kong, Timur Tengah, Afrika, Turki, dan Amerika Latin. Pada Oktober dan November, antivirus itu akan tersedia di Eropa, Jepang, Korea Selatan, Vietnam, dan Thailand.

Nampaknya, Kaspersky Free akan menjadi penantang kuat produk antivirus gratis yang populer seperti Avast dan AVG, tetapi target terbesar Kaspersky Free adalah Windows Defender.

Antivirus gratis Kaspersky Free bisa diunduh di alamat ini.

Ilustrasi ransomware.

Lebih dari 2,5 juta orang di seluruh dunia terkena serangan ransomware dalam satu tahun, terhitung pada periode April 2016 – Maret 2017. Menurut laporan Kaspersky Lab, jumlah itu meningkat 11,4 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Namun, angka tersebut belum memasukkan sedikitnya 300 ribu korban ransomware WannaCry ataupun Petya/NotPetya karena serangan itu terjadi pada bulan Mei – Juli 2017.

Sementara itu, diperkirakan lebih dari US$25 juta juta telah dibayarkan oleh korban ransomware dalam dua tahun terakhir, berdasarkan studi dari peneliti Google, Chainalysis, UC San Diego, dan NYU Tandon School of Engineering.

Jenis ransomware yang paling banyak menghasilkan keuntungan bagi pelaku serangan adalah Locky (US$7 juta), Cerber (US$6,9 juta), dan CryptXXX (US$1,9 juta).

“Angka serangan ransomware terus meroket sejak tahun 2012 karena para pelaku kriminal tertarik dengan iming-iming keuntungan besar dan kemudahan implementasi serangan,” ujar juru bicara Europol (satuan kepolisian Eropa) seperti dilansir Phys.org.

Europol sendiri sudah menggandeng sembilan partner dari para penyedia jasa keamanan siber, termasuk Kaspersky Lab, guna mengembangkan 54 alat yang mampu mendekripsi (membuka kunci enkripsi) data-data yang disandera pelaku kriminal. Mereka pun mengklaim sudah membantu 28 ribu perangkat yang menjadi korban ransomware.

Mulai tahun lalu, Europol juga bekerjasama dengan lebih dari 100 lembaga pemerintah dan organisasi swasta untuk menyebarkan inisiatif No More Ransom.

Inisiatif ini mencakup situs NoMoreRansom.org yang berisi edukasi dan informasi tentang bahaya ransomware serta memuat alat-alat pembuka kunci enkripsi yang populer digunakan pada ransomware.

Eugene Kaspersky (Chairman dan CEO, Kaspersky Lab, paling kanan), Stephan Neumeier (Managing Director, Kaspersky Lab, APAC, kedua dari kanan), dan Vitaly Kamluk (Director of Global Research & Analysis Team, Kaspersky Lab, APAC, ketiga dari kanan) berfoto bersama ketiga pembicara lain seusai Palaeontology of Cybersecurity Conference yang diadakan Kaspersky Lab di Singapura awal Juli lalu.

Dibanding masa lampau, kini jumlah malware sudah bertumbuh pesat. Bila sebelumnya diperlukan sekitar 20 tahun bagi Kaspersky Lab untuk mengumpulkan 1 juta malware, belakangan dalam satu minggu saja di tahun 2016, Kaspersky Lab bisa menemukan 2,2 juta malware baru. “Dari 86 sampai 2006 terdapat satu juta malicious code yang unik maupun berbeda di koleksi kami. Dua puluh tahun untuk mengumpulkan satu juta. Sekarang satu minggu dua juta,” ujar Eugene Kaspersky (Chairman dan CEO, Kaspersky Lab).

Untuk bisa melawan aneka malware baru yang bermunculan ini tentu kita harus tahu seluk beluk setiap malware itu terlebih dahulu, barulah kemudian menerapkan proteksi yang tepat. Nah, di Palaeontology of Cybersecurity Conference yang berlangsung pada 6 Juli 2017 lalu di Singapura, Kaspersky Lab menekankan peran penting dari para peneliti maupun penganalisa dalam mengetahui dan memahami seluk beluk dari aneka malware tersebut.

Mengapa mengambil kata palaeontology atau paleontologi dalam bahasa Indonesia? Karena proses yang dilakukan para peneliti dan penganalisa yang di Kaspersky Lab masuk pada Global Research and Analysis Team (GReAT) ini, mirip dengan proses yang dilakukan palaeontologist atau ahli paleontologi. Seperti ahli paleontologi yang mencari dan mempelajari banyak fosil untuk mengetahui dan memahami karakteristik dari suatu organisme (misalnya salah satu dinosaurus), begitu pula dengan GReAT. Mereka mencari dan mempelajari berbagai jejak yang tertinggal untuk mengetahui dan memahami seluk beluk dari suatu malware, termasuk cara kerjanya, targetnya, asalnya, dan pembuatnya.

“Kami biasanya melihat beberapa serpihan dari tulang-tulang yang rusak dari monster yang membentuk suatu kerangka. Tapi bagi kami kerangka ini kadang kala menimbulkan pertanyaan. Pertanyaan yang kami tanyakan ke diri kami sendiri adalah apakah ini adalah sebuah indikator, sebuah artefak dari monster yang sudah ada di cyberspace. Jadi kami perlu untuk mengidentifikasi milik siapakah dia dan bagaimana dia digunakan,” sebut Vitaly Kamluk (Director of Global Research & Analysis Team, Kaspersky Lab, APAC).

Salah satu contoh “monster” yang berhasil ditemukan oleh Kaspersky Lab di masa lampau adalah Regin. Target yang menjadi sasaran dari Regin antara lain adalah perusahaan telekomunikasi. Tujuanya seperti untuk mendengarkan “pembicaraan” antar perangkat telekomunikasi. Dengan ditemukannya Regin ini, Kaspersky Lab kemudian meningkatkan kesadaran akan Regin dan mengedukasi berbagai pihak yang menjadi sasaran. Kaspersky Lab juga menerbitkan laporan yang terbuka untuk umum. Proteksi yang ada pun bisa ditingkatkan.

Kaspersky Lab turut meresmikan kantor barunya di Singapura setelah sebelumnya menempati kantor sementara selama sekitar dua tahun. Kantor baru yang dipimpin oleh Stephan Neumeier (Managing Director, Kaspersky Lab, APAC) ini merupakan kantor pusat Kaspersky Lab di APAC (Asia Pacific).

Tak hanya untuk urusan bisnis, kantor Kaspersky Lab tersebut juga ditujukan untuk menjadi basis dari tim R&D APAC yang dipimpin oleh Vitaly Kamluk. Dengan kata lain, kantor baru itu akan turut membantu Kaspersky Lab mengenal dan memahami aneka malware yang bermunculan di dunia, termasuk tentunya Asia Pacific yang mencakup Indonesia. “Hal ini menunjukkan bahwa Kaspersky Lab sekarang benar-benar ingin untuk mencari berbagai fakta yang lebih relevan untuk Asia Pacific,” tegas Vitaly Kamluk.

Pemerintah Amerika Serikat (AS) menuduh perusahaan keamanan siber Kaspersky Lab sebagai kaki tangan pemerintah Rusia dan Kaspersky Lab berpotensi rugi besar karena bisa kehilangan sejumlah kontrak proyek penting dari pemerintah AS.

Jeanne Shaheen (Senator AS) meminta kongres AS untuk memblokir Kaspersky Lab agar bisa mendapatkan kontrak proyek dari Departemen Pertahanan AS. Shaheen yakin Kaspersky melakukan kongkalingkong dengan pemerintah Rusia.

“Rusia bisa saja memerintahkan Kaspersky untuk mengulik celah yang mungkin mereka ketahui,” ujarnya.

Saat ini, tidak ada bukti Kaspersky Lab menyalahgunakan kemampuannya.

Eugene Kaspersky (Pendiri Kaspersky) mengatakan ia bersedia meyakinkan kongres AS dan membuka source code untuk membuktikan bahwa Kaspersky bukan pengendali Trojan untuk mata-mata Rusia sehingga menghapus kecurigaan tentang hubungan perusahaan asal Rusia itu dengan Kremlin.

“Saya siap memberikan kesaksian di hadapan kongres untuk membuktikannya. Jika AS memang memerlukannya, kami bisa merilis source code kami,” kata Eugene seperti dikutip Engadget.

Eugene pun siap untuk memindahkan sebagian dari risetnya ke AS untuk menepis rumor yang dia sebutkan muncul karena kecemburuan profesional lebih dari 20 tahun lalu.

“Saya akan lakukan apapun yang bisa saya lakukan untuk membuktikan bahwa kami tidak punya niat jahat,” ucapnya.

Kaspersky adalah teknisi matematika yang pernah menimba ilmu di sekolah yang disponsori oleh KGB dan pernah bekerja untuk Kementerian Pertahanan Rusia. Karena itu, sejak lama, ia dicurigai oleh para pesaingnya, terutama setelah produk anti-virusnya mulai menjadi populer di pasar AS.

Meskipun demikian, sejumlah eksekutif Kaspersky memang mendapatkan tekanan dari pemerintah Rusia untuk berada di ‘sisi gelap’ dan melancarkan serangan siber.

Namun, Eugene dan timnya menolak keras permintaan tersebut dan memastikan karyawan Kaspersky tidak akan menyalahgunakan jaringan perusahaannya .

Bagi pengguna smartphone berbasis Android, ancaman Malware sangat mengkhawatirkan karena sistem operasi Android sangat rentan terhadap serangan virus.

Kaspersky menemukan malware terbaru Trojan Horse di aplikasi game Clourblock di Play Store sejak April 2017. Aplikasi game Clourblock sendiri telah diunduh sebanyak 50 ribu kali.

Virus yang bernama Trojan.AndroidOS.Dvmap.a atau Dvmap mampu bersembunyi dari sistem proteksi dan mekanisme verifikasi Google.

Dvmap akan mengakses otorisasi root dan menginfeksi smartphone Android Anda dengan kode berbahaya yang menyerang ke dalam sistem library libdmv.so dan libandroid_runtime.so.

Malware itu pun dapat menggandakan konten di sistem library dan dapat membuat berbagai aplikasi Android tidak berfungsi serta  dapat mengunduh aplikasi sendiri tanpa sepengetahuan penggunanya.

Dengan menginfeksi library, Trojan Dvmap dapat menyerang kunci layanan yang dibutuhkan aplikasi-aplikasi pada smartphone untuk bekerja normal sehingga membuat smartphone Android Anda crash.

Bahkan, Dvmap mampu menghapus akses root untuk menutupi jejaknya sehingga sangat berbahaya untuk aplikasi yang menangani informasi sensitif seperti aplikasi perbankan seperti dikutip Digital Trends.

Roman Unuchek mengatakan trojan vmap itu ini memiliki kemampuan untuk mendownload dan mengeksekusi file tetapi ia tidak pernah menerima perintah apapun selama penyelidikannya.

“Ini berarti Trojan Dvmap masih bisa berkembang luas. Pengembang Trojan ini sedang menguji metode mereka sebelum meluncurkan serangan penuh,” pungkasnya.

Perusahaan keamanan siber global Kaspersky Lab menunjuk Stephan Neumeier sebagai Managing Director Kaspersky Lab Asia Pacific yang baru dan efektif mulai tanggal 29 Mei 2017.

Dengan pengalaman lebih dari 17 tahun di industri TI, Stephan akan menempati posisi penting dan mengembangkan bisnis perusahaan di lebih dari 25 negara di kawasan APAC. Adapun, prioritas utamanya meliputi penguatan hubungan kemitraan, memperluas bisnis ritel perusahaan, dan mendorong pengembangan bisnis untuk memenuhi kebutuhan perusahaan dan konsumen yang terus meningkat akan perlindungan siber yang efektif.

Diharapkan di bawah pengawasannya, Stephan mampu memimpin tim APAC dalam menjalankan strategi perusahaan untuk terus mengembangkan dan melanjutkan pertumbuhan keamanan siber bagi komersial dan perusahaan dengan lebih berfokus ke industri vertikal kritis seperti ‘industrial cyber security’.

Alexander Moiseev, Chief Sales Officer, Kaspersky Lab mengungkapkan “Dengan pengalaman industri Stephan yang luas terutama di dunia penjualan, channel dan distribusi, kami yakin bahwa dia mampu membantu para mitra kami di kawasan APAC untuk bertumbuh secara lebih luas dan cepat, membangun hubungan yang sukses dan lebih kuat dengan klien serta mitra perusahaan.”

Sebelum bergabung dengan Kaspersky Lab, Stephan berhasil memegang beberapa posisi kepemimpinan senior untuk channel di Unify, Avaya, San Disk dan McAfee, di perusahaan tersebut dia memainkan peran kunci dalam mengubah bisnis, memperluas bisnis channel serta mendorong bisnis untuk mencapai pertumbuhan year-on-year.

Saat pengangkatannya, Stephan juga mengatakan, “Analisis cepat dan komprehensif Kaspersky Lab terhadap serangan masif ransomware WannaCry yang baru-baru ini terjadi merupakan validasi dari dedikasi perusahaan untuk memastikan dukungannya kepada mitra dan pelanggan di seluruh dunia dan ini adalah sesuatu yang membuat saya senang menjadi bagian darinya.”

Maxim Mitrokhin yang sebelumnya memangku posisi Managing Director Kaspersky Lab APAC akan kembali menempati posisi sebagai Operations Director. Perubahan ini memungkinkan Maxim untuk lebih berfokus pada manajemen operasional, mengoptimalkan proses bisnis perusahaan serta meningkatkan kinerja perusahaan di kawasan ini.

Pembuat software (perangkat lunak) keamanan asal Rusia Kaspersky Lab menggugat Microsoft terkait kasus anti monopoli kepada Komisi Eropa dan kantor kartel federal Jerman.

Sebelumnya, Kaspersky gagal menyelesaikan masalah tersebut dengan Microsoft melalui jalur kekeluargaan.

Kaspersky melihat Microsoft menggunakan nama besarnya untuk mendominasi pasar sistem operasi PC. Bahkan, Microsoft mendistribusikan perangkat lunak anti-virus Defender miliknya sendiri ke dalam sistem operasi Windows.

Hal itu akan menjadi hambatan besar bagi vendor keamanan perangkat lunak independen untuk memasarkan produknya.

Perusahaan keamanan yang berbasis di Moskow itu mengatakan tindakan Microsoft itu memberikan tingkat perlindungan keamanan yang rendah kepada pengguna, pembatasan hak pengguna untuk memilih sehingga menyebabkan kerugian finansial baik bagi pengguna dan produsen solusi keamanan.

Microsoft mengatakan bahwa perusahaan tidak melanggar undang-undang apapun dan kehadiran Defender pada Windows hanya untuk melindungi pengguna.

“Kami yakin fitur keamanan Windows 10 sesuai dengan undang-undang persaingan. Microsoft akan selalu menjaga perangkat dan data pelanggan agar tetap terlindungi,” katanya seperti dikutip Reuters.

Pada November lalu, Kaspersky pernah mengancam akan mengajukan keluhan tersebut ke Komisi Eropa. Namun, Kasepersky menunda rencananya tersebut karena Microsoft sepakat untuk berubah.

Saat ini fitur perintah suara atau voice assistant sudah dimiliki beberapa perusaahaan teknologi seperti Apple dengan Siri, Samsung dengan Bixby, Amazon dengan Echo, Google dengan Google Assistant, serta Microsoft dengan Cortana. Asisten virtual tersebut terintegrasi dengan smartphone, tablet atau komputer.

Adapun ftur yang menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan machine learning ini berkembang dengan pesat dan diperkirakan di masa depan fitur ini bisa melakukan tugas yang lebih kompleks.

Namun, dibalik semua kemudahan yang ditawarkan selalu ada celah keamanan yang kerap muncul di tempat yang tak terduga, termasuk juga di teknologi voice assistant. Bisa jadi kemungkinan pertama yang terlintas dalam pikiran Anda adalah bocornya data-data pribadi ataupun perusahaan.

Atau pernahkah Anda memerintahkan voice assistant untuk memasukkan nomor kartu kredit atau sandi ketika mengisi formulir di website? Hal ini akan dengan mudah dimanfaatkan oleh penjahat dunia maya untuk menghasilkan uang.

Celah keamanan

Teknologi asisten virtual memberikan kenyamanan dan nilai yang luar biasa bagi pengguna, tetapi perangkat ini memunculkan sebuah tantangan baru dalam hal keamanan dan privasi.

“Pada satu sisi, teknologi ini bisa saja disalahgunakan oleh orang-orang tidak bertanggung jawab untuk tujuan lain, seperti pada insiden yang baru-baru ini terjadi dengan botnet Mirai. Atau perangkat itu sendiri bisa dimanfaatkan untuk tujuan jahat lainnya, seperti mengumpulkan data-data pribadi dan sensitif, atau hanya sekedar untuk membuktikan adanya kerentanan,” ungkap Dony Koesmandarin (Territory Channel Manager Indonesia, Kaspersky Lab SEA).

Salah satu contoh nyata terjadi pada bulan Januari 2017 di San Diego, California. Saluran CW6 menyiarkan segmen berita yang menarik tentang kerentanan speaker Amazon Echo (yang dilengkapi dengan asisten virtual Alexa). Pembawa acara menjelaskan bahwa perangkat IoT ini tidak dapat membedakan orang melalui suaranya, yang berarti Alexa akan mengikuti perintah siapa saja yang ada disekitarnya.

Akibatnya, seorang anak kecil secara tidak sengaja berhasil memesan rumah boneka seharga USD 170 dan kue-kue kering melalui Alexa. Hal ini bisa terjadi dikarenakan teknologi voice assistant tidak memahami perbedaan suara orang tua ataupun anak kecil.

Dan di bulan yang sama, pada acara CES 2017 Las Vegas, hampir setiap perangkat cerdas yang ditampilkan – mulai dari mobil hingga lemari es, dilengkapi dengan voice assistant. Tren ini pasti akan menciptakan sebuah risiko keamanan yang baru baik dalam hal privasi, keamanan, dan bahkan keselamatan dari pengguna itu sendiri. Oleh karenanya, setiap pengembang perlu menjadikan keamanan pengguna sebagai prioritas utama.

Tip Kaspersky

Sementara bagi para pengguna, Kaspersky Lab memiliki beberapa tip mudah yang dapat membantu melindungi kehidupan Anda dari teknologi voice assistant ini:

  1. Matikan mikrofon di Amazon Echo dan Google speaker. Terdapat sebuah tombol untuk mematikan. Ini bukan cara yang efisien untuk memastikan privasi. Anda harus selalu ingat kapan saatnya untuk menyalakan atau mematikan voice assistant, tetapi setidaknya hal tersebut menjadi langkah pengamanan awal.
  2. Gunakan pengaturan akun voice assistant untuk melarang pembelian atau melindunginya dengan sandi.
  3. Gunakan perlindungan anti-virus bagi PC, tablet, dan smartphone untuk mengurangi risiko kebocoran data serta mencegah aksi dari penjahat siber.
  4. Ubah wake word, terutama di Amazon Echo, jika seseorang di rumah Anda memiliki nama yang sama dengan “Alexa”. Karena kalau tidak, bisa saja setiap pembicaraan di dekat perangkat berpotensi berubah menjadi hal yang cukup mengganggu.

“IoT menjadi suatu tren teknologi terbesar sejak smartphone, dan bisa dipastikan akan berkembang dengan pesat. Sayangnya, penjahat dunia maya melihat teknologi ini sebagai celah baru bagi mereka untuk menghasilkan uang baik dari ataupun melalui pemilik perangkat,” kata Dony.

“Maka akan lebih baik jika para pengembang teknologi ini bersama-sama dengan pakar keamanan dan perusahaan keamanan siber bekerja sama memperbaiki sisi keamanannya,” tutupnya.

Ilustrasi Ransomware WannaCry

Serangan siber ransomware WannaCry yang masif berhasil menyerang banyak organisasi di seluruh dunia. Para ahli Kaspersky Lab telah menganalisis data dan memastikan bahwa sub sistem perlindungan perusahaan berhasil mendeteksi setidaknya 45.000 upaya infeksi di 74 negara yang mana kebanyakan terjadi di Rusia.

Ransomware WannaCry menginfeksi korban dengan memanfaatkan kerentanan Microsoft Windows sekaligus membuktikan banyak organisasi yang belum memasang patch.

Begitu berada di dalam sistem, hacker memasang rootkit yang memungkinkan mereka mengunduh perangkat lunak untuk mengenkripsi data.

Saat ini para ahli Kaspersky Lab sedang memahami apakah memungkinkan untuk mendekripsi data yang terkunci karena serangan tersebut – tujuannya tentu saja untuk membantu para korban dengan mengembangkan alat dekripsi sesegera mungkin.

Karena itu, Kaspersky Lab memberikan beberapa tips untuk menangkis serangan siber ransomware WannaCry yaitu instal patch resmi dari Microsoft untuk menutup kerentanan tersebut dan pastikan solusi keamanan aktif pada semua nodes di jaringan dalam siaran persnya, Rabu.

Jika menggunakan solusi Lab Kaspersky, pastikan solusi tersebut termasuk fitur System Watcher yaitu komponen pendeteksi perilaku proaktif dan fitur telah aktif. Jalankan proses Critical Area Scan di solusi Kaspersky Lab untuk mendeteksi kemungkinan infeksi sesegera mungkin.

Reboot sistem setelah mendeteksi MEM: Trojan.Win64.EquationDrug.gen dan gunakan layanan Customer-Specific Threat Intelligence Reporting

Ilustrasi Speaker Amazon Echo Dot

Saat ini beberapa perusaahaan teknologi sudah memiliki fitur perintah suara atau voice assistant sebuat saja Apple dengan Siri, Samsung dengan Bixby, Amazon dengan Echo, Google dengan Google Assistant, serta Microsoft dengan Cortana.

Asisten virtual memadukan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan machine learning sehingga terintegrasi dengan smartphone, tablet atau komputer dan meningkatkan kemudahan pelanggan.

Sayangnya, teknologi voice assistant menyisakan celah keamanan dan memungkinkan hacker membocorkan data-data pribadi ataupun perusahaan.

Dony Koesmandarin (Territory Channel Manager Indonesia, Kaspersky Lab SEA) mengatakan teknologi asisten virtual memang memberikan kenyamanan dan nilai yang luar biasa bagi pengguna, tetapi teknologi ini memunculkan sebuah tantangan baru dalam hal keamanan dan privasi.

“Teknologi ini bisa saja disalahgunakan oleh orang-orang tidak bertanggung jawab seperti insiden yang terjadi dengan botnet Mirai,” katanya dalam siaran persnya, Rabu.

Sementara bagi para pengguna, Kaspersky Lab memberikan beberapa tips untuk melindungi kehidupan Anda dari teknologi voice assistant ini:

1. Matikan mikrofon di Amazon Echo dan Google speaker. Ada terdapat sebuah tombol untuk mematikan.

“Anda harus selalu ingat kapan saatnya untuk menyalakan atau mematikan voice assistant tetapi setidaknya hal tersebut menjadi langkah pengamanan awal,” ujarnya.

2. Gunakan pengaturan akun voice assistant untuk melarang pembelian atau melindunginya dengan sandi.

3. Gunakan perlindungan anti-virus bagi PC, tablet, dan smartphone untuk mengurangi risiko kebocoran data serta mencegah aksi dari penjahat siber.

4.Ubah wake word, terutama di Amazon Echo.

“IoT menjadi suatu tren teknologi terbesar sejak smartphone, dan bisa dipastikan akan berkembang dengan pesat. Sayangnya, penjahat dunia maya melihat teknologi ini sebagai celah baru bagi mereka untuk menghasilkan uang baik dari ataupun melalui pemilik perangkat,” ucapnya.

“Maka akan lebih baik jika para pengembang teknologi ini bersama-sama dengan pakar keamanan dan perusahaan keamanan siber bekerja sama memperbaiki sisi keamanannya,” tutup Dony.

TERBARU

Melalui Ajang RSA Conference 2017 Asia Pacific & Japan, Super Micro Computer ikut ambil bagian sekaligus memperkenalkan beberapa produk terbarunya.