Tags Posts tagged with "kaspersky"

kaspersky

INTERPOL dan Kaspersky Lab melakukan operasi pemberantasan kejahatan siber di seluruh ASEAN. Investigator kejahatan siber dari Indonesia, Malaysia, Myanmar, Filipina,

Singapura, Thailand, dan Vietnam berkumpul di IGCI untuk bertukar informasi mengenai situasi kejahatan siber spesifik di negara masing-masing.

Hasilnya, ada 9.000 botnet server command and control (C2) dan ratusan situs web yang berhasil diretas, termasuk website pemerintah teridentifikasi dari aktivitas tersebut.

Noboru Nakatani (IGCI Executive Director) mengatakan operasi gabungan ini sangat ideal karena menunjukkan kemitraan publik-swasta yang sangat efektif dan bermanfaat dalam memerangi kejahatan siber.

“Berbagi data intelijen menjadi dasar dari keberhasilan operasi ini. Kerja sama ini sangat penting untuk efektivitas jangka panjang untuk memerangi kejahatan dunia maya,” katanya dalam siaran persnya, Rabu.

Para ahli dari Kaspersky Lab bekerja sama dengan INTERPOL untuk berbagi penemuan ancaman siber terbaru dan untuk merumuskan tindakan yang perusahaan rekomendasikan bersama dengan enam perusahaan swasta lainnya, yaitu Institut Cyber Defense Institute, Booz Allen Hamilton, British Telecom, Fortinet, Palo Alto Networks, and Trend Micro.

Kaspersky Lab pun memberikan laporan eksklusif tentang kerentanan plugin WordPress yang telah mempengaruhi ribuan situs web di ASEAN.

Kerentanan keamanan itu memungkinkan para pelaku untuk memasukkan kode berbahaya ke lebih dari 5.000 laman web yang resmi di seluruh dunia dan mengalihkan pengguna ke laman iklan barang palsu.

Kerentanan juga memungkinkan jenis aktivitas berbahaya lainnya seperti mengunduh program yang berpotensi tidak diinginkan (PUP), serangan brute-forcing terhadap password, dan proxy antara lain.

Kaspersky Lab juga meperlengkapi IGCI dengan daftar lengkap 8.800 botnet C2 yang ditemukan aktif di negara-negara ASEAN, yang diambil dari Kaspersky Security Network and Botnet C&C Threat Feed.

Botnet sendiri berasal dari kata “robot” dan “network” dan merupakan sebuah jaringan zombie dari ribuan atau bahkan jutaan perangkat yang tersambung ke Internet (seperti PC, smartphone, tablet, router, mainan cerdas, atau gadget lainnya) yang diretas dan terinfeksi oleh malware khusus sehingga bisa dikendalikan oleh penjahat
siber untuk melakukan serangan siber.

Data botnet itu mencakup berbagai kelompok malware, terutama yang menargetkan organisasi keuangan, menyebarkan ransomware, meluncurkan serangan distributed-denial-of- service (DDoS), menyebarkan spam, dan memungkinkan kegiatan kriminal lainnya.

“Berbagi informasi antara sektor publik dan swasta adalah langkah penting dalam memerangi kejahatan dunia maya di wilayah ini,” kata Anton Shingarev (Vice President Public Affairs Kaspersky Lab).

Kesemrawutan digital (digital clutter) merupakan fenomena yang mengganggu perangkat digital modern karena meningkatnya resiko terhadap data-data yang tersimpan di smartphone, tablet atau komputer.

Resiko itu timbul karena buruknya manajemen digital para penggunanya dan malas mengontrol konten-konten di perangkat.

Andrei Mochola (Head of Consumer Business di Kaspersky Lab) mengatakan perangkat digital harus menyimpan data-data berharga setiap harinya dan pengguna tidak ingin data-data berharganya jatuh ke tangan yang salah.Pengguna harus mengambil tindakan seperti mengelola, membersihkan dan memperbarui aplikasi di semua perangkat milik mereka.

“Perawatan dan pemeliharaan harus menjadi prioritas dalam kehidupan digital Anda, seperti dalam dunia nyata, dalam rangka menghindarkan diri dari aksi kejahatan para hacker,” katanya dalam siaran persnya, Minggu.

Kaspersky Lab mengungkapkan hanya setengah dari pengguna smartphone merevisi konten pada komputer dan tablet secara teratur tetapi cuma dua dari tiga pengguna atau 63 persen yang melakukan hal ini pada smartphone mereka.

Hal itu disebabkan smartphone memiliki memori kurang dari komputer dan tablet. Bahkan, 35 persen pengguna telah menghapus aplikasi pada smartphone karena kurangnya penyimpanan dan hanya 13 persen dari pengguna komputer melakukan hal yang sama.

Biasanya, semua perangkat menyimpan data-data sensitif tetapi para pengguna tidak memperlakukan perangkat mereka sama pentingnya. Survei menemukan bahwa 65 persen pengguna melakukan pembaruan aplikasi smartphone dan memberikan aplikasi tersebut dengan patch keamanan dan update terbaru.

Sebaliknya, para pengguna cenderung lambat dalam memperbarui aplikasi pada tablet dan komputer, masing-masing hanya 42 persen dan 48 persen yang memperbarui aplikasi tersebut.

Hasil statistik Kaspersky Lab menunjukan bahwa pengguna lebih sering menghadapi malware pada komputer dibanding perangkat mereka lainnya.

Dalam rangka menjaga perangkat digital, pengguna harus mengambil langkah-langkah berikut ini:

1. Memperbarui aplikasi. Para pengguna sangat penting untuk memperbarui aplikasi secepat mungkin karena ada patch keamanan yang mampu mencegah atau mengurangi kerentanan dalam aplikasi.

2. Membersihkan aplikasi. Pengelolaan aplikasi smartphone secara tidak benar merupakan ancaman keamanan karena aplikasi sering mengirimkan data.

3. Pengaturan aplikasi. Hal itu memungkinkan pengguna untuk mengatur bagaimana aplikasi berinteraksi dengan perangkat.

4. Gunakan perangkat lunak khusus menginstal perangkat lunak yang dapat membantu pengguna untuk membedakan aplikasi yang berperilaku mencurigakan.

Pernahkah Anda menerima panggilan telepon dari telemarketer atau penipu yang biasanya berasal dari nomor telepon yang tidak dikenal? Atau ponsel Anda sering dibanjiri spam berupa kiriman SMS? Hal ini memang bisa jadi sangat mengganggu aktivitas Anda.

Untuk mengatasi permasalahan ini, Kaspersky Lab kini sedang mengembangkan sebuah proyek baru yang bernama Kaspersky Who Calls. Aplikasi ini menggunakan database nomor telepon dari berbagai perusahaan beserta jenis industri mereka. Nomor telepon dari spammer dan penipu juga ditambahkan ke dalam database. Layanan ini akan menunjukkan kepada pengguna siapa yang menelepon mereka bahkan jika mereka tidak memiliki nomor tersebut dalam daftar kontak mereka. Jika panggilan tersebut merupakan cold calling dari telemarketer, mereka dapat memutuskan apakah akan menjawab atau menghiraukan panggilan tersebut.

Aplikasi Who Calls saat ini masih dalam pengujian beta, tetapi Anda dapat membantu Kaspersky Lab untuk meningkatkan serta mempercepat perkembangan aplikasi ini. Ketika mendapatkan panggilan dari spammer telepon lainnya, Anda bisa mengunjungi callerid.kaspersky.com dan menambahkan nomer telepon tersebut ke dalam database.

Situs ini akan meminta untuk memilih kategori yang terdiri dari spam, Bank, layanan mobil, penipuan, dan sebagainya. Anda juga dapat memasukkan komentar tentang mengapa menambahkan nomor ini ke database, tapi itu opsional. Anda tidak perlu mendaftar atau masukkan nama, semuanya dapat dilakukan dalam beberapa klik.

Setelah nomor tersebut berada dalam database, jika pengguna aplikasi Who Calls menerima panggilan dari nomor tersebut, ponsel mereka akan menampilkan informasi tentang siapa yang menelepon. Semakin banyak nomor yang dimiliki, maka akan semakin banyak panggilan telemarketing yang dapat terdeteksi.

Para ahli Kaspersky Lab menemukan tren yang sedang berkembang dan cukup mengkhawatirkan bahwa banyak hacker yang mengincar korporasi dengan modus ransomware.

Sedikitnya, ada delapan kelompok penjahat dunia maya yang teridentifikasi terlibat dalam pengembangan dan distribusi ransomware enkripsi.

“Serangannya menargetkan organisasi keuangan di seluruh dunia dan tuntutan penebusannya sebesar lebih dari setengah juta dolar,” kata Anton Ivanov (Security Senior Researcher, Anti-Ransom, Kaspersky Lab) dalam siaran persnya.

[BACA: 10 Tips Ampuh Tolak Ransomware]

Dari delapan kelompok yang teridentifikasi adalah PetrWrap yang menyerang organisasi keuangan di seluruh dunia dan kelompok hacker terkenal Mamba serta enam kelompok hacker lainnya yang tidak disebutkan namanya.

“Enam kelompok ini sebelumnya terlibat dalam serangan yang kebanyakan menargetkan pengguna pribadi dan menggunakan model program afiliasi. Sekarang, mereka telah memfokuskan kembali upaya mereka pada jaringan perusahaan,” ujarnya.

Ivanov mengatakan tren ransomware ini cukup mengkhawatirkan sebab para aktor ransomware mulai melancarkan aksi serangan terhadap korban terbaru yang lebih menguntungkan.

“Menyerang korporasi lebih menguntungkan daripada serangan massal terhadap pengguna pribadi,” ucapnya.

Modusnya, para hacker menginfeksi perusahaan melalui serangan malware ke server yang rentan atau email spear phishing. Kemudian, para hacker akan menginfeksi jaringan perusahaan dan mengidentifikasi sumber daya berharga perusahaan untuk dienkripsi. Kemudian, para hacker akan menuntut tebusan sebagai ganti kunci dekripsi.

[BACA: No More Ransom, Senjata Terbaru Kepolisian Memerangi Ransomware]

Para ahli keamanan Kaspersky Lab menyarankan langkah-langkah berikut ini

  1. Anda harus melakukan backup data-data Anda dengan benar dan tepat waktu.
  2. Anda bisa menggunakan solusi keamanan yang dapat mendeteksi berbasis perilaku. Teknologi itu dapat mendeteksi malware termasuk memonitor bagaimana malware beroperasi dan mendeteksi sampel ransomware terbaru.
  3. Kunjungi website “No More Ransom”, sebuah inisiatif untuk membantu korban ransomware mengambil data terenkripsi mereka tanpa harus membayar penjahat.
  4. Sebaiknya, Anda memeriksa perangkat lunak yang terinstal tidak hanya pada endpoint.
  5. Anda bisa meminta intelijen eksternal: intelijen dari vendor terkemuka untuk membantu organisasi dan memprediksi serangan di masa depan pada perusahaan.
  6. Anda bisa melatih karyawan Anda dan memberikan perhatian khusus untuk staf operasional dan teknik.
  7. Anda bisa memberikan perlindungan dari dalam dan luar perimeter.

Ilustrasi virus android

Pertumbuhan aplikasi yang pesat dan besarnya kapasitas penyimpanan di perangkat membuat kesemrawutan digital (digital clutter). Sayangnya, pemeliharaan aplikasi yang buruk menyebabkan perangkat rentan terhadap ancaman keamanan.

Andrei Mochola (Head of Consumer Business di Kaspersky Lab) mengatakan peningkatan kesemrawutan digital menunjukkan pengguna terus mengabaikan pemeliharaan terhadap aplikasi.

“Kami mendesak pengguna untuk merapikan rumah digital mereka. Sama seperti, ruangan yang rapi dan bersih sehingga memberikan penyegaran ke rumah dan kehidupan Anda, dengan cara yang sama, komputer atau smartphone yang rapi berdampak pengalaman digital yang lebih menyenangkan dan tentu saja, aman,” katanya dalam siaran persnya, Minggu.

Kaspersky Lab mengungkapkan para pengguna Internet menginstal 12 aplikasi Android setiap bulannya tetapi menghapus 10 aplikasi saja, berarti ada penambahan dua aplikasi di perangkat mereka setiap bulannya.

Pengelolaan aplikasi sangat penting untuk mencegah kesemrawutan digital, menyusul semakin banyaknya aplikasi yang diinstal pada perangkat.

Sayangnya, hanya setengah atau 55 persen pengguna yang meng-update dan memperbaiki isi perangkat mereka secara rutin dan menghapus dokumen serta aplikasi yang tidak terpakai.

Survei itu juga menemukan seperempat kasus atau 28 persen pengguna hanya memperbarui aplikasi pada perangkat mereka ketika mereka dipaksa dan 10 persen pengguna tidak melakukannya sama sekali.

Kemudian, rata-rata pengguna memiliki 66 aplikasi di perangkat Android mereka. Selain itu, hanya 32 persen pengguna menolak untuk menginstal aplikasi ponsel jika mereka tidak puas dengan isi perjanjian lisensi.

Tren penggunaan mobile banking terus meningkat dan membuat sistem keamanan lembaga keuangan lebih berisiko terkena serangan siber. Selain itu, nasabah juga memainkan peranan penting karena lembaga keuangan mengetahui kerentanan sistem keamanan mereka berdasakan laporan dari nasabah.

Menurut Kaspersky Lab dan B2B International mengenai Financial Institutions Security Risks, perbankan dan lembaga keuangan harus memprioritas investasi keamanan karena kerugian atau dampak dari serangan siber bisa menyebabkan perbankan mengeluarkan dana tiga kali lebih besar untuk keamanan TI.

Veniamin Levtsov (Wakil Presiden, Enterprise Business di Kaspersky Lab) mengatakan perbankan menghadapi tantangan ancaman siber yang terus berubah, menargetkan infrastruktur TI dan rekening nasabah.

“Industri jasa keuangan dituntut untuk memiliki beberapa komponen utama yaitu membangun perlindungan anti serangan, merangkul solusi keamanan anti-penipuan multi-channel dan pengetahuan terhadap ancaman yang terus berkembang,” katanya dalam siaran persnya, Senin.

Sebesar 64 persen perbankan mengakui akan berinvestasi untuk meningkatkan keamanan TI, menyusul tuntutan yang terus meningkat dari regulator pemerintah, pimpinan manajemen dan pelanggan mereka. Meskipun perbankan telah mengalokasikan anggaran dana, kenyataannya memberikan perlindungan infrastruktur TI yang sekarang ada tradisional ke khusus, ATM dan Point-of-Sale terminal terbukti sangat sulit.

Laporan itu juga menyoroti sebanyak 42 persen perbankan memprediksi mayoritas nasabah mereka menggunakan mobile banking dalam jangka waktu tiga tahun dan nasabah terkadang terlalu ceroboh dalam perilaku online. Mayoritas perbankan mengakui sebanyak 46 persen nasabah sering diserang aksi kejahatan phishing dan 70 persen perbankan melaporkan insiden penipuan keuangan.

Perbankan memiliki alasan kuat untuk khawatir karena peretas menggunakan serang yang umum yaitu platform malware-as-a-service. Karena itu, Kaspersky Lab melihat pengetahuan mengenai ancaman siber sangat penting karena dapat membantu perbankan untuk mengidentifikasi ancaman terbaru yang cepat dan mempersiapkan diri dari segalan ancaman.

Perbankan menunjukkan tingkat kepedulian yang rendah terhadap ancaman yang menyebabkan kerugian finansial akibat serangan kepada ATM, meskipun kenyataannya sangat rentan terhadap jenis serangan tersebut.

Hanya 19 persen perbankan yang menaruh perhatian terhadap serangan ke ATM dan mesin penarikan uang tunai, meskipun laju pertumbuhan malware terus-menerus menargetkan bagian dari infrastruktur perbankan ini.

Ancaman dan perang siber sudah sangat mengkhawatirkan bahkan negara sebesar Amerika Serikat (AS) bisa kecolongan oleh peretas-peretas asal Rusia yang membobol surat elektronik partai Demokrat dan data-data pengguna Yahoo pada 2014.

Belum serangan yang mengatasnamakan individu dan kelompok yang mengincar perbankan dan infrastruktur pentingnya lainnya seperti rumah sakit, pembangkit listrik tenaga nuklir, airport dan dll.

Oleg Abdurashitov (Head of Public Affairs, Kaspersky Lab APAC) mengatakan Indonesia harus segera memiliki satu Badan Siber Nasional yang bertanggung jawab tentang keamanan siber negara dan menangkal ancaman-ancaman siber yang datang. Bahkan, negara-negara tetangga Indonesia seperti Singapura, Malaysia, Filipina sudah memiliki badan sibernya sendiri

“Ancaman dan kejahatan sangat serius dan nyata. Indonesia memerlukan satu Badan Siber Nasional (BSN) untuk mengatasi segala ancaman siber karena para peretas dan penjahat sedang mengincar pasar Asia yang memiliki pertumbuhan ekonomi yang pesat,” katanya di Jakarta, Kamis (23/3).

Setelah BSN terbentuk, kata Oleg pemerintah harus merumuskan strategi dengan cara mempelajari permasalahan dan kebutuhan keamanan siber di Indonesia, mengingat strategi di setiap negara berbeda.

Misal, badan siber Australia lebih memprioritaskan merektruk pakar IT lokal untuk menjadi karyawannya berarti Australia lebih fokus meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) terlebih dahulu. Sedangkan, badan siber India langsung bertugas menjaga infrastruktur yang penting.

“Setelah BSN terbentuk, langsung dicari strateginya seperti apa sehingga jelas ancaman, kebutuhan dan solusinya. Kemudian, baru meningkatkan SDM-nya,” ucapnya.

Dony Koesmandarin (Territory Channel Manager Indonesia, Kaspersky LAB SEA) mengatakan sebaiknya BSN menjadi menjadi satu wadah dan penggabungan dari berbagai divisi badan siber.

“Kalau sekarang, kepolisian punya divisi siber sendiri. Kemkoinfo juga punya divisi siber sendiri da Kemenhan pun demikian. Sebaiknya digabungkan jadi satu sehingga konsolidasinya lebih mudah,” tuturnya.

Jumlah insiden siber yang mempengaruhi fasilitas industri dan objek infrastruktur terus meningkat. Pada Mei 2016, ransomware menyerang utilitas listrik dan air di Lansing, Michigan, yang mengakibatkan kerugian sekitar US$2 juta.

Pemerintah atau kementerian/lembaga terkait bisa bekerjasama dengan pemilik infrastruktur kritis, pengelola dan operator serta para pakar dan praktisi siber untuk mengambil langkah-langkah proaktif dalam emperkuat keamanan dan ketahanan infrastruktur kritis nasional.

3 Strategi Tata Kelola

Oleg mengungkapkan ada tiga jenis strategi utama dari tata kelola keamanan siber.

  • Pertama, Otoritas sebagai penanggung jawab utama. Strategi ini menunjuk sebuah kementerian atau lembaga negara yang khusus bertanggung jawab untuk menangani permasalahan keamanan siber. Kementerian/Lembaga Pemerintah yang lainnya dapat berkonsultasi dengan otoritas tersebut atau berpartisipasi dalam kegiatan yang diselenggarakannya, tetapi mereka tidak dapat campur tangan dalam proses regulasi.
  • Kedua, otoritas koordinator yang membawahi beberapa kementerian/lembaga. Di beberapa Negara, perlindungan terhadap infrastruktur kritis nasional berada di bawah pimpinan otoritas yang mengepalai beberapa kementerian/lembaga negara atau komite. Kementerian/lembaga negara yang berkolaborasi ini biasanya memainkan peran sebagai Badan koordinasi.
  • Ketiga, Otoritas Subsider. Dalam beberapa kasus, negara memilih untuk mengikuti “doctrine of subsidiarity”. Ini berarti memberikan tanggung jawab secara penuh kepada pemilik infrastruktur kritis nasional, seperti yang diterapkan di Irlandia. Tidak ada otoritas yang ditunjuk oleh negara yang bertanggung jawab memberikan perlindungan bagi infrastruktur kritis di Irlandia.

“Kami sadari perlindungan infrastruktur kritis nasional melibatkan tata kelola otoritas, tanggung jawab, dan peraturan yang berlapis. Kami berharap dengan berbagi wawasan mengenai pendekatan-pendekatan tata kelola keamanan siber, Indonesia bisa membangun kesiapsiagaan nasional guna menghadapi berbagai ancaman di dunia siber yang kini makin nyata,” tutupnya.

Mengingat bahwa sebagian besar komunikasi saat ini dilakukan secara online, atau setidaknya, melalui perangkat elektronik, tentu saja setiap orang menginginkan data-data pribadi mereka agar tetap terjaga dan terlindungi dan pada saat yang sama tetap berkomunikasi dengan aman secara online.

Oleh karena itu, kita semua harus mengetahui cara untuk melindungi data-data berharga ini. Hal ini tidak hanya berlaku untuk organisasi besar saja, tetapi bagi setiap individu yang menggunakan perangkat yang terkoneksi ke internet secara rutin.

Banyak pemberitaan yang membahas tentang privasi, kebocoran informasi, spionase, dan semacamnya. Tindak kejahatan seperti ini juga menjadi alasan kuat mengapa privasi online harus menjadi perhatian bagi orang-orang dari segala usia.

Kaspersky Lab memberikan 9 tips bagi Anda untuk lebih baik dalam melindungi data-data pribadi Anda:

1. Rutin melakukan pemeriksaan pada pengaturan keamanan akun Facebook Anda serta untuk setiap jejaring sosial lainnya yang Anda gunakan.

2. Sangat penting untuk mengamankan e-mail utama Anda, terutama yang terhubung ke layanan perbankan dan situs penting lainnya. Jika ingin login di berbagai situs ataupun layanan yang diragukan, Anda sebaiknya membuat dan menggunakan alamat e-mail kedua (atau bahkan ketiga atau keempat).

3. Berhati-hatilah ketika mengunggah scan dan foto di online, terutama kartu identitas, tiket dan dokumen penagihan. Merupakan ide buruk untuk berbagi informasi tentang keberadaan Anda dan jadwal perjalanan di online. Penjahat siber dapat menggunakan informasi ini untuk mengetahui, kapan rumah Anda kosong dan melakukan perampokan, atau mencuri data-data pribadi, seperti kredensial perbankan.

4. Jangan menggunakan jaringan WiFi terbuka. Itu mungkin saja terlihat aman, tetapi Anda tidak bisa tahu secara pasti. Untuk membuat jaringan yang serupa, penjahat siber hanya memerlukan laptop dan adaptor Wi-Fi. Mereka benar-benar melakukannya untuk mencegat login dan password dari pengguna, yang mencoba untuk terhubung ke internet melalui jaringan-jaringan palsu ini.

5. Hindari password yang tidak dapat diandalkan. Jika menggunakan kombinasi yang lemah, Anda tidak terlindungi sama sekali. Selain itu, jika tidak ingin membuang-buang waktu mengingat password, Anda bisa menggunakan aplikasi khusus, seperti KeepPass atau Kaspersky Password Manager.

6. Pikirkan juga privasi anak-anak Anda. Cyberbullying bukan lelucon dan sudah banyak anak-anak di seluruh dunia yang menjadi korban dan menderita akibat hal tersebut.

7. Iklan produk yang Anda tidak inginkan dapat menghalangi layar. Apakah Anda menyadari bahwa banyak dari iklan tersebut menambahkan fungsi pelacakan browsing web yang Anda lakukan? Selain itu, pelacakan ini juga menghilangkan privasi Anda.

8. Toko online menggunakan data-data untuk menyesuaikan iklan mereka agar sesuai dengan preferensi Anda. Mereka melacak aktivitas online agar hal ini bisa sukses (tentu saja, semua proses ini otomatis). Tapi jika tidak ingin data-data Anda ada di tangan toko-toko online ini, Anda dapat menggunakan fitur Private Browsing pada browser atau software security yang Anda pakai.

9. Ketika memasang perangkat lunak yang gratis, Anda akan ditawari untuk menginstal berbagai tambahan seperti plugin, toolbar dan ekstensi. Jika klik “Next” tanpa membaca teks dalam jendela instalasi, Anda secara otomatis menginstal seluruh paket, baik itu aplikasi yang diperlukan dan yang tidak perlu. Aplikasi yang tidak diperlukan ini, misalnya, dapat mengubah halaman home atau pengaturan pencarian.

Di era digital seperti saat ini, peran media sosial kadangkala tak hanya sebagai wadah berbagi informasi, namun juga sebagai tempat mencari pengakuan (likes). Tujuannya tak lain demi kepuasan diri.

Jika jalan untuk mencari likes terjadi secara natural, tak masalah. Namun sebaliknya, bagaimana jika proses mendapatkan pengakuan publik tersebut dibumbui dengan manipuasi kehidupan mereka yang sebenarnya?

Sebuah penelitian terbaru Kaspersky Lab mengulas mengenai hal ini. Penelitian yang dilakukan antivirus asal Rusia ini menunjukkan bahwa satu dari sepuluh orang akan melakukan manipulasi demi mendapatkan lebih banyak likes dari hasil posting-an mereka.

Ironisnya, kaum pria justru yang diklaim paling mengharapkan jumlah likes lebih banyak dibandingkan wanita. Satu dari sepuluh (13%) pria akan mengunggah foto telanjang diri mereka dibandingkan dengan wanita yang hanya 5% dan 13% pria mengunggah foto dari teman-teman mereka yang berpakaian terlalu terbuka.

Fakta lainnya adalah demi menarik perhatian dan mengumpulkan likes lebih banyak, satu dari sepuluh orang (12%) akan berpura-berpura berada di suatu tempat atau melakukan sesuatu yang mungkn tidak sepenuhnya benar, bagi kaum pria sendiri angka ini meningkat hingga 14%.

Penelitian ini juga mengungkapkan bahwa pria lebih sensitif terkait banyaknya likes yang mereka dapatkan di media sosial. Yang mengejutkan adalah dalam usaha mereka untuk mengumpulkan likes, pria lebih mungkin untuk mengungkapkan sesuatu yang memalukan atau rahasia tentang rekan kerja, teman, atau pemimpin dibandingkan perempuan.

Sebanyak 14% pria mengatakan akan mengungkapkan sesuatu yang rahasia tentang rekan kerja dibandingkan dengan 7% wanita. Sebanyak 13% pria bersedia mengunggah sesuatu yang rahasia tentang pemimpin mereka, dan 12% pria berani untuk mengungkapkan sesuatu yang memalukan tentang teman dibandingkan dengan 6% perempuan.

Pria juga merasa kecewa jika mereka tidak mendapatkan jumlah likes seperti yang mereka harapkan. Sebanyak 24% pria merasa khawatir apabila hanya beberapa orang yang menyukai hasil posting-annya, teman-teman pria tersebut akan berpikir bahwa mereka bukanlah sosok yang populer bila dibandingkan dengan 17% wanita.

Sebanyak 29% pria juga mengakui bahwa mereka merasa kesal jika seseorang yang mereka anggap penting tidak menyukai hasil posting-an mereka.

Fakta di atas setidaknya menunjukkan bahwa banyak pengguna yang merasa lebih baik mendapatkan sebanyak mungkin perhatian di media sosial dibandingkan berbagi gambaran kehidupan mereka yang sesungguhnya.

kredot: www.princetoninternetmarketing.com

Berdasarkan hasil penelitian terbaru dari Kaspersky Lab, saat ini jejaring sosial membuat banyak pengguna merasa negatif.

Dalam sebuah survei terhadap 16.750 orang di seluruh dunia, Kaspersky Lab mendalami rasa frustrasi pengguna terhadap jejaring sosial. Kebanyakan pengguna lebih sering mengalami emosi negatif setelah menghabiskan waktu di jejaring sosial karena berbagai alasan dan ini mengalahkan efek positif dari jejaring sosial.

Pada dasarnya pengguna mengunjungi media sosial untuk alasan yang positif dan merasa bahagia. Kebanyakan orang (65%) menggunakan jejaring sosial untuk tetap berhubungan dengan teman dan kolega serta melihat post yang menghibur dan lucu (60%).

Pengguna juga mencurahkan banyak waktu untuk membuat profil digital mereka dan mengisinya dengan segala macam momen positif, mengunggah hal-hal yang membuat mereka tersenyum (61%), dan mengatakan teman-teman di jaringan mereka tentang saat-saat menyenangkan yang mereka alami selama liburan (43%).

Sementara itu, tidak mengherankan bahwa 72% responden merasa terganggu oleh iklan yang dianggap sangat menjengkelkan dan mengganggu komunikasi online mereka, menjadi alasan rasa frustrasi mereka menjadi lebih parah.

Meskipun adanya keinginan untuk merasa bahagia dari interaksi mereka di jejaring sosial, ketika orang melihat unggahan bahagia dari teman-teman mereka seperti liburan, hobi, dan pesta, tetapi seringnya mereka pergi dengan perasaan pahit bahwa orang lain lebih menikmati hidup daripada mereka.

Misalnya, 59% responden merasa tidak bahagia ketika mereka melihat unggahan teman-teman di pesta yang mereka tidak diundang, dan 45% mengungkapkan bahwa foto-foto liburan menyenangkan teman-teman mereka memiliki pengaruh negatif bagi diri mereka.

Selanjutnya, 37% juga mengakui bahwa melihat unggahan bahagia masa lalu milik mereka sendiri dapat meninggalkan mereka dengan perasaan bahwa masa lalu mereka sendiri lebih baik daripada kehidupan mereka saat ini.

Meninggalkan jejaring sosial

Penelitian sebelumnya juga menunjukkan rasa frustrasi pengguna terhadap jejaring sosial hal ini ditunjukkan oleh 78% responden yang mengakui bahwa mereka telah mempertimbangkan untuk meninggalkan semua bentuk jejaring sosial. Satu-satunya hal yang membuat pengguna tetap bertahan di jejaring sosial adalah rasa takut kehilangan kenangan digital mereka, seperti foto, dan kontak dengan teman-teman mereka.

Permasalahan yang cukup sulit untuk dipecahkan adalah bagaimana caranya untuk tetap bisa berhubungan dengan teman-teman, oleh karena itu Kaspersky Lab saat ini sedang mengembangkan sebuah solusi yang diharapkan dapat membantu pengguna untuk menyimpan kenangan digital mereka.

Untuk membantu pengguna agar lebih bebas dalam memutuskan apakah mereka ingin tetap berada di jejaring sosial atau meninggalkannya tanpa kehilangan kenangan digital mereka, maka Kaspersky Lab sedang mengembangkan sebuah aplikasi baru yaitu FFForget.

Aplikasi ini memungkinkan pengguna untuk mencadangkan semua kenangan mereka dari jejaring sosial yang mereka gunakan dan menjaga kenangan digital tersebut dalam sebuah wadah memori terenkripsi yang aman. Ini akan memberikan pengguna kebebasan untuk meninggalkan jejaring sosial apapun dan kapanpun mereka inginkan, tanpa kehilangan apa yang menjadi milik mereka, yaitu kehidupan digital mereka.

FFForget direncanakan untuk dirilis pada 2017. Pengguna yang berminat dapat mendaftar di ffforget.kaspersky.com untuk mendapatkan update dan wawasan, memberikan umpan balik dan mendapatkan akses awal.