Tags Posts tagged with "machine learning"

machine learning

Andy Jassy (CEO, Amazon Web Services) saat menyampaikan keynote di AWS re:Invent 2017 pada tanggal 29 November 2017 lalu di Las Vegas Amerika Serikat

Las Vegas, InfoKomputer – AWS (Amazon Web Services) bertujuan untuk membantu menyelesaikan aneka permasalahan para konsumennya melalui berbagai layanan yang dihadirkannya. Tak heran bila pada AWS re:Invent 2017 lalu, AWS menghadirkan banyak layanan baru. Aneka layanan yang diumumkan pada acara yang berlangsung dari 27 November sampai 1 Desember 2017 ini, didasarkan pada berbagai masukan yang diterima AWS dari para konsumennya. Masukan tersebut bisa berupa kesulitan maupun keinginan yang belum teratasi atau terpenuhi dengan baik oleh layanan yang sudah ada.

“Seperti yang Anda lihat hari ini, kami terus-menerus mendengarkan apa yang para konsumen inginkan, dan melakukan inovasi, melakukan iterasi untuk kepentingan mereka. Tadi ada, saya pikir 22 peluncuran di keynote tersebut. Jadi, ada banyak yang kami hantarkan pada beberapa hari terakhir dan kami belum selesai,” jelas Andy Jassy (CEO, Amazon Web Services).

Memang tidak semua layanan baru itu sudah tersedia saat diumumkan. Sebagian layanan masih berupa preview maupun baru akan hadir pada tahun 2018. Meskipun begitu, banyaknya layanan baru tersebut tentu makin meneguhkan keyakinan AWS untuk terus menumbuhkan pangsa pasarnya di IaaS public cloud dunia. AWS menyakini bahwa fungsionalitas menjadi kunci kesuksesannya meninggalkan para pesaingnya sejauh ini. Setidaknya menurut Gartner, tahun 2016 lalu pangsa pasar AWS memang mengalami peningkatan menjadi 44,2%, naik dari 39,8% pada tahun sebelumnya.

Layanan baru yang diluncurkan pada AWS re:Invent yang keenam ini pun beragam. Mulai dari yang untuk compute seperti Amazon EC2 Spot Instances, untuk database semacam Amazon Aurora Multi-Master, untuk storage/data lake seperti Amazon S3 Select, produk untuk internet of things seperti Amazon FreeRTOS, sampai layanan untuk machine learning semacam Amazon SageMaker.

Dr. Matt Wood (GM, Artificial Intelligence, Amazon Web Services) memperagakan pemanfaatan DeepLens untuk aplikasi musik. Muka yang kurang senang menandakan bahwa Dr. Matt Wood kurang menyenangi album musik yang sedang dipegang dan DeepLens yang telah diprogram bisa mengenali hal tersebut.

Amazon EC2 Spot Instances adalah layanan yang memungkinkan kapasitas Amazon EC2 yang sedang tidak terpakai untuk digunakan dengan harga yang jauh lebih terjangkau dibandingkan harga On-Demand. Namun, tatkala kapasitas compute tersebut diperlukan, kapasitas bersangkutan akan diambil dengan pemberitahuan terlebih dahulu. Amazon EC2 Spot Instances bisa digunakan untuk penggunaan yang memang sifatnya fleksibel terhadap kemampuan compute.

Amazon Aurora Multi-Master membolehkan read/write master instance pada beberapa data center di Availability Zone yang berbeda. Sebelumnya hal ini hanya bisa untuk read, tepatnya Read Replica. Dengan Amazon Aurora Multi-Master, bila ada node yang terganggu maupun Availability Zone yang terganggu, aplikasi tetap akan berfungsi alias tidak akan mengalami downtime.

Amazon S3 Select memampukan aplikasi untuk mengambil hanya data tertentu dari sebuah objek pada Amazon S3 bucket, misalnya untuk keperluan analisa. Karena yang diambil hanya data yang diperlukan, kinerja dari query diklaim AWS bisa meningkat. Dari contoh yang ditampilkan AWS, query dengan Amazon S3 Select hanya membutuhkan 1,8 detik, jauh lebih cepat dibandingkan query tanpa Amazon S3 Select yang membutuhkan 8 detik.

Amazon FreeRTOS adalah sistem operasi untuk perangkat yang ditenagai oleh microcontroller. Amazon FreeRTOS memungkinkan perangkat bersangkutan untuk menjadi perangkat internet of things. Dengan Amazon FreeRTOS, perangkat yang kompatibel bisa terkoneksi ke layanan cloud AWS seperti AWS IoT Core.

Amazon SageMaker adalah jawaban AWS atas kesulitan yang dihadapi pengembang dalam membuat, melatih, dan men-deploy model machine learning. Dengan Amazon SageMaker, para pengembang bisa melakukan aneka hal tersebut dengan mudah. Misalnya untuk melatih suatu model machine learning, Amazon SageMaker menawarkan One-click training.

Selain itu, sejalan dengan artificial intelligence sebagai fitur yang paling ditonjolkan AWS pada acara dengan peserta lebih dari 43 ribu ini, AWS juga mengumumkan DeepLens. AWS DeepLens adalah kamera video nirkabel yang dilengkapi dengan kemampuan deep learning. AWS DeepLens memungkinkan para pengembang untuk belajar machine learning dengan praktek secara langsung.

 

Las Vegas, InfoKomputer – AWS (Amazon Web Services) merupakan pemimpin pasar IaaS public cloud dunia. Menurut Gartner, pangsa pasar AWS di segmen ini adalah sebesar 44,2% pada tahun 2016. Saingan terdekatnya memiliki selisih yang jauh, yakni hanya 7,1%. Memang AWS merupakan perintis dalam pasar tersebut, tetapi posisinya yang dominan itu diyakini AWS juga berkat mengertinya AWS akan keinginan para konsumennya dan memberikan layanan yang sesuai. Inovasi yang dilakukan AWS memang ditujukan untuk menyelesaikan permasalahan konsumennya. Melalui AWS re:Invent 2017 yang berlangsung dari 27 November 2017 sampai 1 Desember 2017, AWS pun menegaskan terus melakukan inovasi untuk konsumennya itu.

“Bagaimana pembangun menginginkan untuk membuat aplikasi mereka. Dan di banyak hal, ini adalah benar-benar serupa dengan bagaimana pembuat musik atau musisi membuat lagu mereka,” ucap Andy Jassy (CEO, Amazon Web Services) sambil menyebutkan lima hal yang menjadi keinginan para pembangun ini.

Kelima hal tersebut adalah tersedianya perkakas yang lengkap, kebebasan untuk membuat yang diinginkan, memiliki kepercayaan terhadap yang akan dibangun dan adanya cara yang mengingatkan untuk tetap realistis, kemudahan membuat prediksi berdasarkan informasi yang diperoleh, serta bisa segera berkarya tanpa perlu menunggu. “Untuk para pembangun teknologi, AWS memiliki semua dimensi ini, secara radikal mengubah apa yang mungkin,” jelas Andy Jassy lagi.

Perkakas yang lengkap maksudnya para pembangun atau pengembang menginginkan platform cloud computing yang memiliki fungsionalitas yang paling baik. Mereka menghendaki platform cloud computing yang memiliki layanan yang paling lengkap dan paling bagus. Dengan aneka layanan yang ditawarkannya, AWS mengklaim sebagai platform cloud computing yang memiliki kelebaran dan kedalaman yang paling baik. Tidak ada platform cloud computing lain yang mendekati.

Kebebasan untuk membuat yang diinginkan berarti bahwa pengembang menghendaki platform cloud computing yang tidak mengunci penggunanya untuk harus menggunakan software tertentu, utamanya database, dengan proprietary engine. AWS mendukung berbagai open engine sehingga pengembang bebas untuk memilih.

Memiliki kepercayaan terhadap yang akan dibangun dan adanya cara yang mengingatkan untuk tetap realistis berhubungan dengan penciptaan sesuatu yang benar-benar baru. Pengembang dalam membuat sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya, perlu untuk memiliki kepercayaan yang penuh terhadap yang akan dibangun tersebut. Namun diperlukan juga cara untuk menjaga agar pengembang bersangkutan tidak “lupa diri”. Untuk yang terakhir ini bisa menggunakan bantuan analytics dan AWS mengklaim memiliki analytics yang paling bagus.

“Ketika Anda memilih platform teknologi infrastruktur yang akan Anda gunakan untuk membangun seluruh aplikasi Anda dan sesungguhnya bisnis Anda di atasnya, itu adalah keputusan yang teramat penting, ” ujar Andy Jassy (CEO, Amazon Web Services).

Kemudahan membuat prediksi berdasarkan informasi yang diperoleh bisa dicapai antara lain melalui machine learning (ML). Namun masih sedikit pengembang yang mahir membuat machine learning. AWS tak hanya mendukung berbagai framework dan antarmuka untuk machine learning ini, melainkan juga menawarkan layanan yang memudahkan pembuatan machine learning.

Adapun yang terakhir, bisa segera berkarya tanpa perlu menunggu, menunjukkan bahwa pengembang tidak ingin berlama-lama menunggu data. AWS menawarkan kemudahan untuk mendapatkan data dari aneka perangkat internet of things (IoT), begitu pula dengan kemudahan manajemen berbagai perangkat internet of things itu.

Beberapa layanan yang menjadi andalan AWS dalam memenuhi keinginan para pembangun atau pengembang tersebut diumumkan kehadirannya secara resmi pada AWS re:Invent 2017. Satu di antaranya adalah SageMaker yang merupakan salah satu inovasi yang paling ditonjolkan, sejalan dengan machine learning yang menjadi fitur AWS yang juga paling disorot pada acara yang dihadiri lebih dari 43.000 peserta ini.

Amazon SageMaker adalah layanan yang memudahkan pengembang untuk lebih mudah membuat, melatih, dan men-deploy model machine learning. Saking lebih mudahnya, DigitalGlobe yang telah menggunakan Amazon SageMaker mengklaim bisa membuat, melatih, dan men-deploy model machine learning hanya dalam waktu satu minggu. Padahal yang melakukannya bukan ahli machine learning. Sementara tanpa Amazon SageMaker, para ahli machine learning diduga akan membutuhkan waktu bulanan untuk mencapai hal yang serupa.

Pasar machine learning sendiri diperkirakan oleh Research and Markets akan bertumbuh menjadi sebesar US$8,81 miliar pada tahun 2022. Tahun 2017 ini besarnya diprediksi sejumlah US$1,41 miliar. Dengan kata lain pasar machine learning bertumbuh pesat setiap tahunnya sebesar 44,1%.

 

AlphaGo Zero

Sampai saat ini, pengembangan kecerdasan buatan (AI) dan machine learning masih membutuhkan tenaga manusia untuk terus meng-input data-data sehingga teknologi AI bisa terus belajar.

Salah satu proyek kecerdasan buatan Google DeepMind memperkenalkan AlphaGo Zero yang mampu belajar langsung dan meningkatkan kecerdasannya secara otomatis tanpa perlu panduan manusia.

Sebelumnya, Google DeepMind membuat pertandingan catur Go tingkat internasional pada awal tahun ini. AlphaGo berhasil memenangkan pertandingan tersebut dan menyingkirkan rivalnya, juara Go asal Korea Selatan.

Rahasianya, Google DeepMind telah mengajari AlphaGo lebih dari 100 ribu pertandingan catur sehingga pengetahuan permainan dan strategi catur sudah matang di luar kepala.

AlphaGo Zero hanya perlu dibekali pengetahuan peraturan permainan dasar Go. Kemudian, teknologi AI yang ada di dalam AlphaGo Zero akan belajar sendiri secara alami dan mandiri dari setiap pertandingan yang ia lalui.

Kemudian, Google DeepMind mengadu kehebatan AlphaGo Zero dan AlphaGo selama tiga hari nonstop. Hasilnya, AlphaGo Zero berhasil memenangi 18 kali pertandingan melawan juara dunia Go bernama Lee Se-dol.

“AlphaGo Zero awalnya bermain layaknya manusia yang baru belajar memainkan Go tetapi lambat laun dia semakin cerdas. AI bisa berperilaku seperti manusia dan belajar dari yang dia lakukan,” kata David Silver (AlphaGo Zero Lead Programmer) seperti dikutip Venture Beat.

Silver mengatakan pencapaian AlphaGo Zero sungguh luar biasa karena manusia tidak perlu mengajarkan kecerdasan buatan. “Keberhasilan ini merupakan lompatan besar dalam pengembangan kecerdasan buatan,” ujarnya.

Prosesor Intel Nervana

Intel baru-baru ini meluncurkan prosesor Nervana Neural Network Processor (NNP) yang menyasar penggunaan machine learning. Teknologi prosesor itu sangat terikat dengan Nervana Systems.

Intel sendiri baru membeli startup deep learning Nervana Systems senilai $350 juta pada akhir Agustus lalu. Intel sedang berkompetisi Nvidia yang juga fokus membuat chip kecerdasan buatan (AI) dan machine learning.

Tingginya pasar AI membuat para pabrikan chip membuat industri tetap hidup. Intel pun fokus menggenjot pasar AI dan Intel Nervana NNP memprioritaskan skalabilitas, seperti dikutip Tech Crunch.

Tentunya, setiap pemain di industri ini akan membuat chip prosesor neural network. Intel memastikan chip NNP akan dikapalkan pada akhir tahun ini.

Facebook juga membantu Intel dari sisi teknisnya.

Satya Nadella (CEO, Microsoft) dan Jeff Bezos( CEO, Amazon) berbincang di Gedung Putih.

Microsoft dan Amazon mempererat kolaborasi di antara kedua belah pihak dengan mengumumkan inisiatif pengembangan antarmuka deep learning berbasis open source dengan nama Gluon.

Sebelumnya, kedua raksasa teknologi itu telah bekerjasama di bidang asisten virtual dengan “mengawinkan” Alexa dan Cortana.

Gluon dikembangkan oleh Microsoft AI & Research Group bersama Amazon Web Services (AWS). Antarmuka ini ditujukan bagi para pengembang di bidang kecerdasan buatan (AI) yang ingin membangun prototipe dan melatih model machine learning di cloud, aplikasi mobile, dan perangkat endpoint lainnya, seperti PC dan sensor IoT.

Dikutip dari GeekWire, Gluon akan mempermudah para pengembang di dunia yang sebagian besar belum memiliki ilmu, keahlian, waktu, dan biaya yang cukup untuk mempelajari aneka teknik machine learning. Belum lagi akses yang diperlukan untuk menguji aplikasi-aplikasi berbasis AI yang biasanya dilakukan di infrastruktur cloud Azure atau AWS.

Sebagai solusinya, Gluon memungkinkan pengembang untuk menulis sistem AI dan deep learning dengan bahasa pemrograman populer Pythin, memanfaatkan template antarmuka deep learning dari Microsoft dan AWS, lalu memodifikasinya sesuai tujuan dan kebutuhan aplikasi.

“Amazon adalah perusahaan yang sangat impresif. Hasil kerja Jeff [Bezos, CEO Amazon. red] dan timnya sudah saya kagumi sejak lama dan banyak hal yang bisa kami pelajari,” ujar Satya Nadella (CEO, Microsoft).

“Faktanya, di antara Microsoft dan Amazon, kami memiliki banyak karyawan yang saling berbagi talenta, sesuatu yang selalu dimiliki [perusahaan-perusahaan di] Silicon Valley,” sambung Nadella.

Ilustrasi Teachable Machine

Google meluncurkan situs interaktif terbarunya Google Teachable Machine yang memungkinkan Anda mempelajari konsep machine learning dengan mudah.

“Kami ingin setiap orang mengetahui bagaimana machine learning itu bekerja dengan mudah. Jadi, kami buat Teachable Machine, sebuah uji coba yang sederhana. Anda cukup menggunakan kamera perangkat Anda dan tidak kode khusus,” kata Google seperti dikutip Digital Journal.

Setelah membukanya, Anda akan menemukan sebuah halaman interaktif mengenai teori dasar machine learning.

Setelah itu, Google akan mendemonstrasikan urusan teknik seperti bagaimana machine learning bekerja dan mengapa proses pelatihan sangat penting. Google berharap kehadiran situs Google Teachable Machine dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terkait machine learning.

Situs itu dapat diakses oleh siapa saja karena tidak ada kode khusus atau permintaan teknis. Anda tinggal mengikuti instruksi di layar dan membutuhkan sebuah kamera di laptop atau komputer.

Kemudian, situs itu akan mengambil sebanyak 30 foto Anda setiap Anda menjalankan Google Teachable Machine tersebut. Hal itu untuk mengajarkan sistem berbasis AI untuk mengenali dan meniru gerakan atau aktivitas Anda.

Ilustrasi Teachable Machine

Google menekankan, saat ini mesin belum dapat memahami perintah yang sulit, jadi mesinnya itu baru bisa mencontek gestur tubuh Anda.

Dari sisi teknis, Teachable Machine dirancang dengan peramban berdasarkan kerangka deep learning. Hal itu memungkinkan pengembang situs menjalankan jaringan neural dan memfasilitasi perangkat berbasis AI.

Semua gambar yang Anda gunakan pada Teachable Machine tersimpan pada perangkat Anda dan tidak masuk pada server Google.

Memori DDR5 hadir pada 2020

 

Perusahaan teknologi Rambus telah berhasil menciptakan prototipe memori DDR5 DIMM sekaligus menggantikan standar memori DDR4.

Luc Seraphin (Senior Vice President sekaligus General Manager Rambus) mengatakan analisis big data dan machine learning sangat membutuhkan penggunaan memori DDR5 karena saat ini industri mengarah sana.

“Ini merupakan chip memori pertama yang mampu mencapai standar DDR5,” katanya seperti dikutip PC GAMER.

Meskipun demikian, Joint Electronic Devices Engineering Council (JEDEC) belum meluncurkan standar regulasi industri untuk memori DDR5 karena standar regulasi itu masih dalam pengerjaan dan hanya daftar spesifikasinya yang sudah diterbitkan.

Memori DDR5 akan menawarkan kemampuan data rates dua kali lipat lebih tinggi dari DDR4 yaitu dari 3,2G bps ke 6,4G bps dan kapasitas bandwidth memori terbaru juga menjadi lebih besar 25,6G bps ke 51,2G bps.

Selain itu, JEDEC juga menetapkan standar frekuensi memori DDR5 adalah 4800MHz, lebih tinggi dari memori DDR4 terkencang saat ini yang berada di angka 4600MHz. Beberapa pengamat memprediksi memori baru tersebut akan mulai tersedia di pasar pada 2019

Steve Wood (VP Asia Pacific, Aruba) saat membuka Aruba APAC Atmosphere 2017 di Macau yang berlangsung dari tanggal 19 sampai 22 September 2017.

Macau, InfoKomputer – Keamanan adalah faktor penting di dunia kita yang terkoneksi saat ini, dunia dengan era mobile, cloud, dan IoT (Internet of Things) yang terhubung satu sama lainnya. Aruba sebagai perusahaan penyedia solusi jaringan yang memperhatikan keamanan, resmi meluncurkan Aruba 360 Secure Fabric secara global pada Aruba APAC Atmosphere 2017 yang berlangsung dari tanggal 19 sampai 22 September 2017. Aruba 360 Secure Fabric pun menjadi “bintang” pada acara yang bertemakan The Innovation Edge ini.

Pentingnya keamanan ini sangat terlihat tatkala ada tindak kejahatan siber yang tak berhasil dihalau oleh proteksi yang ada. Contoh yang masih hangat adalah ransomware WannaCry yang menyebar secara cepat dari komputer yang terinfeksi ke komputer lain di perusahaan melalui jaringan perusahaan bersangkutan. Tak sedikit perusahaan yang menjadi korban.

Meski “wabah” ransomware WannaCry ini lebih karena perusahaan terlambat menambal celah yang ada, penyebarannya yang bisa melalui jaringan perusahaan menunjukkan bahwa jaringan tidak boleh dianggap sekadar hanya sebagai sarana untuk mengantarkan paket data. Jaringan ini juga harus dipastikan keamanannya.

Sayangnya, pendekatan keamanan yang biasa digunakan oleh perusahaan selama ini adalah lebih kepada pengamanan terhadap serangan dari luar yang dilakukan secara langsung. Padahal suatu serangan bisa saja berasal dari dalam jaringan perusahaan itu sendiri. Contohnya kredensial dari seorang karyawan berhasil dicuri oleh penjahat siber memanfaatkan phishing. Selanjutnya akun karyawan bersangkutan bisa digunakan oleh penjahat siber untuk melancarkan aksinya, misalnya mencuri data perusahaan atau melancarkan serangan lain terhadap perusahaan. Nah, untuk itulah Aruba menghadirkan IntroSpect.

“IntroSpect adalah sebuah perkakas baru, perkakas yang memanfaatkan machine learning serta artificial intelligence dan memproses data berukuran besar, data contextual, analytics, yang berasal dari Secure Core, dan membuah profil risiko dari setiap entitas yang ada di dalam jaringan Anda,” ujar Keerti Melkote (SVP dan GM dari Aruba, pendiri dari Aruba Networks). “Dan idenya adalah membuat profil semua benda dan semua orang yang terkoneksi di dalam jaringan Anda, dengan memahami bagaimana mereka menggunakan jaringan tersebut,” jelas Keerti Melkote lagi.

Keerti Melkote (SVP dan GM dari Aruba, pendiri dari Aruba Networks) membandingkan IntroSpect dengan pemberi rating kartu kredit berhubung sama-sama memberikan skor akan tingkat risiko.

Aruba IntroSpect merupakan UEBA (User and Entity Behavioral Analytics) yang memanfaatkan machine learning. Aruba IntroSpect bisa mengetahui apabila ada pengguna maupun perangkat yang perilakunya mengalami perubahan, dan memberikan penilaian terhadap tingkat risiko dari perubahan tersebut. Mengambil contoh di atas, Aruba IntroSpect bisa segera memperingatkan TI bahwa akun karyawan bersangkutan perlu diperiksa karena belakangan sering mengirimkan data di luar jam kantor ke alamat tertentu di luar jaringan perusahaan, padahal karyawan tersebut sebelumnya tidak pernah melakukan hal seperti itu.

IntroSpect merupakan salah satu komponen dari Aruba 360 Secure Fabric. Aruba 360 Secure Fabric merupakan security framework yang menyediakan deteksi serangan memanfaatkan analytics serta tindak lanjutnya secaranya menyeluruh alias 360 derajat. Aruba 360 Secure Fabric menawarkan perlindungan inside out melengkapi perlindungan outside in yang telah digunakan oleh perusahaan selama ini. Dengan kata lain, tambahan Aruba 360 Secure Fabric pada perusahaan yang telah menggunakan perlindungan terhadap serangan dari luar, akan memberikan perlindungan yang lebih menyeluruh.

Selain IntroSpect, Aruba 360 Secure Fabric juga mencakup komponen lain seperti Aruba ClearPass dan Aruba Secure Core. Aruba ClearPass sendiri adalah solusi NAC (Network Access Control) dan manajemen kebijakan (policy), sedangkan Aruba Secure Core adalah kemampuan pengamanan esensial yang tersedia pada switch, wireless controller, dan access point Aruba.

Tentunya tidak hanya perlindungan yang lebih menyeluruh yang diangkat pada Aruba APAC Atmosphere 2017. Berbagai inovasi yang dimungkinkan terhadap kehidupan manusia dengan pemanfaatan teknologi juga menjadi pembahasan. Misalnya bagaimana virtual reality bisa dimanfaatkan untuk membantu orang yang mengalami kecelakaan untuk melatih otaknya belajar kembali berdiri. Atau bagaimana versi virtual reality dari seseorang bisa menjadi pengganti foto album kenangan bagi anak cucunya. Limitnya adalah imajinasi dan keamanan yang lebih baik tentunya membantu akselerasi inovasi ini.

 

Kunjungan Perwakilan Menkominfo ke kantor BIGO LIVE

Saat ini masyarakat bebas menikmati informasi dan ekspresi berkat terobosan teknologi dan jaringan sosial online. Layanan video live streaming pun semakin populer lantaran memungkinkan pengguna bebas mengekspresikan diri kepada dunia dan berinteraksi dengan orang lain secara langsung.

Sayangnya, banyak pengguna yang menyalahkan gunakan kebebasan Internet dengan mengunggah konten-konten ilegal, negatif dan hoax.

BIGO LIVE, pemimpin global dalam aplikasi siaran video dengan lebih dari 150 juta pengguna terdaftar secara global telah membentuk tim pemantau handal yang terdiri dari 300 orang staf di seluruh dunia dan 28 staf lokal di Indonesia sejak 2016.

Jianqiang HU (Co-Founder BIGO LIVE) mengatakan tim pemantau BIGO LIVE memiliki misi untuk memelihara lingkungan live streaming BIGO LIVE yang sehat dan mengidentifikasi serta menyaring kegiatan-kegiatan ilegal atau konten-konten yang tidak pantas.

“Kami mendorong para pengguna dan masyarakat umum untuk membuat lingkungan online yang sehat. Sudah saatnya, kita memerangi pelanggaran-pelanggaran konten di ranah online,” kata Jianqiang HU dalam siaran persnya, Minggu.

Di Indonesia, BIGO LIVE memiliki sekitar 10 juta pengguna lokal yang terdaftar.

BIGO LIVE menggunakan teknologi Image Recognition System yang dapat mengidentifikasi pelanggaran berat, laporan kegiatan, peringatan dini dan seterusnya. Sistem itu merupakan teknologi BIGO LIVE untuk memastikan kemampuan pemantauan yang terbaik di industri ini.

BIGO LIVE juga melibatkan fitur machine learning yang dapat menyaring gambar secara otomatis. Bahkan, sistem machine learning itu mampu memotong klip live streaming menjadi beberapa potongan screenshot dan menyaringnya.

“Jika ada screenshots yang dianggap sebagai pelanggaran “tingkat berat”, maka tim akan memprosesnya lebih lanjut untuk memastikan setiap pelanggaran ditindaklanjuti secara efisien dan akurat,” ujarnya.

“Sejak Juli 2016, kami telah melaporkan 2.057 konten tidak pantas kepada platform media sosial lainnya dan sampai saat ini ada 83 persen konten yang berhasil dihapuskan,” ucapnya.

Semuel Abrijani Pangerapan (Direktur Jenderal Aplikasi Informatika, Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia) mengatakan pemerintah telah melihat upaya BIGO LIVE yang luar biasa untuk industri live-broadcasting.

“Kami berharap live broadcasting di Indonesia dapat diatur dengan lebih baik dan dapat memberikan manfaat lebih bagi masyarakat,” pungkasnya.

VMware memperkenalkan solusi keamanan baru, AppDefense, di panggung VMworld 2017 Las Vegas. [Foto: Erry FP/InfoKomputer]

Las Vegas, InfoKomputer – Tidak bisa dimungkiri lagi, keamanan siber telah menjadi topik paling hangat yang dibicarakan para CIO sepanjang tahun ini. Sederet kejadian gangguan keamanan yang terjadi, mulai malware, ransomware, sampai pembobolan data, berdampak buruk bagi bisnis dan reputasi perusahaan.

Fenomena peningkatan jumlah serangan siber ini dipandang VMware sebagai cerminan bahwa paradigma keamanan yang digunakan sekarang sudah tidak ampuh lagi.

“Kebanyakan cara mengamankan infrastruktur TI saat ini memakai pendekatan mengejar hal-hal buruk (chasing bad). Padahal, dibandingkan seluruh aktivitas di jaringan, hal buruk ini jumlahnya sangat kecil. Bagai mencari jarum di tumpukan jerami,” papar Pat Gelsinger (CEO, VMware) di panggung VMworld 2017, Senin (28/8).

“Kenapa kita tidak memakai pendekatan baru, yaitu meyakinkan hal-hal baik (ensuring good)? Kami ingin mengubah model keamanan siber dengan memperkenalkan VMware AppDefense,” sambung Pat.

AppDefense adalah solusi VMware untuk melindungi aplikasi-aplikasi yang berjalan di dalam virtual machine dan memastikan keamanan data yang tersimpan di dalamnya.

Solusi ini menggabungkan beberapa metode, yaitu machine learning yang memungkinkan AppDefense mempelajari cara kerja dan perilaku normal suatu aplikasi, real-time detection behavior yang mampu mengenali perilaku menyimpang dari normal, serta automate response untuk melakukan tindak lanjut otomatis jika terjadi serangan.

“Kalau ada keanehan perilaku, VM atau aplikasi itu diisolasi, lalu direspons secara otomatis berdasarkan langkah yang sudah ditentukan sebelumnya, misalnya karantina, snapshot, suspend, block/alarm, dan sebagainya,” kata Tom Corn (SVP of Security Product Group, VMware).

Gambaran VMware AppDefense. (Foto: Chad Sakac/Twitter)

Tom juga mengungkapkan bahwa ide lahirnya AppDefense diawali dari kesuksesan solusi keamanan micro-segmentation yang diterapkan pada layanan virtualisasi jaringan VMware NSX. Konsep itu kemudian dibawa ke layanan utama VMware, yakni virtualisasi infrastruktur vSphere.

“AppDefense juga akan mengubah kerja sama tim sekuriti. Biasanya mereka bekerja dengan tim infrastruktur, sekarang dengan tim aplikasi. Tim sekuriti yang mengetahui potensi ancaman dan responsnya, tim aplikasi yang paham cara kerja aplikasi. Analoginya seperti dokter dan pasien,” lanjut Tom.

Berbekal AppDefense, VMware meyakini pendekatan anyar ini akan sanggup mempersempit risiko serangan, mempercepat deteksi dan menambah akurasi serangan siber, serta mendukung metode kerja agile dan DevOps.

“Dunia keamanan siber di masa depan akan sangat berbeda. Kami tidak mengatakan cyber war akan selesai. Tetapi, kami yakin kami bisa memberi fondasi untuk membangun sistem keamanan yang lebih aman dengan pendekatan baru yang sesuai dengan masa depan,” Pat menekankan.

VMware AppDefense telah tersedia untuk pelanggan vSphere 6.5 di Amerika Serikat dengan biaya berlangganan US$500 per CPU per tahun. Solusi ini juga dapat ditemukan pada beberapa partner VMware, seperti IBM Security, Carbon Black, SecureWorks, dan Puppet.