Tags Posts tagged with "startup"

startup

Autoruns adalah aplikasi untuk melihat berbagai item yang dijalankan secara otomatis saat Windows 10 melakukan startup. Autoruns ini menawarkan hasil yang lebih terperinci dibandingkan menggunakan System Configuration yang disertakan oleh Windows 10.

Aplikasi yang bisa diunduh di https://goo.gl/r4QSC4 ini akan mengelompokkan temuannya ke dalam berbagai kategori dalam bentuk tab. Ada dua puluh tab yang secara default dihadirkan, mulai dari Logon, Explorer, Services, Drivers, KnownDLL, sampai Office. Jika ingin melihat seluruh temuan secara sekaligus, tersedia tab Everything. Namun, bila temuannya banyak, isi dari tab Everything ini akan sangat ramai. Jika sudah begitu, lebih baik melihat per kategori.

Untuk setiap item yang ditemukan, Autoruns memberikan informasi mengenai lokasi file bersangkutan dan informasi lainnya seperti entry pada Windows Registry maupun pada Task Scheduler. Anda pun bisa langsung masuk ke Windows Registry maupun pada Task Scheduler itu. Jika ada item yang ingin diketahui informasinya lebih lanjut, tersedia pula opsi untuk mencarinya di internet.

Tidak sekadar melihat item yang dijalankan secara otomatis, melalui aplikasi gratis ini Anda juga bisa membuat item tersebut untuk tidak lagi dijalankan secara otomatis. Namun, ada baiknya Anda berhati-hati memilih item yang hendak dinonaktifkan. Jangan sampai Windows 10 yang digunakan menjadi terganggu.

Jay-Z jadi investor startup Tidal

Jay-Z (rapper, penyanyi dan pencipta lagu) menjadi investor dan membuat firma pendanaan untuk beberapa perusahaan rintisan (start-up). Suami Beyonce Knowles itu pun menggandeng Jay Brown (co-founder Roc Nation).

Jay-Z dan Jay Brown akan fokus untuk melakukan seed investments kepada startup berusia muda. Keduanya akan mendapat bantuan dari Sherpa Capital, firma yang dibentuk oleh sejumlah investor awal Uber.

Sebelumnya, Jay-Z juga menjadi investor Uber pada 2011. Selain Uber, Jay-Z juga mengucurkan dana ke JetSmarter, sebuah startup yang menawarkan layanan penerbangan mewah.

Tak hanya itu, Jay-Z bahkan memiliki layanan streaming musik bernama Tidal dan mengajak sejumlah musisi lainnya seperti Kanye West, Beyonce, Chris Martin, dan Jack White untuk masuk dalam daftar pemilik Tidal.

Istrinya, Beyonce, juga telah menjadi investor untuk sebuah startup bernama Sidestep. Bahkan, Beyonce telah menggelontorkan dana sebanyak US$ 150.000 atau sekitar Rp1,9 miliar seperti dilansir Tech Crunch.

Sidestep sendiri merupakan pembesut aplikasi dengan nama yang sama dan menjual perlengkapan dan tiket konser.

Aplikasi Practo.

Daripada mengantre yang memakan waktu berjam-jam untuk mendapatkan penanganan dokter di rumah sakit, membuat janji bertemu dengan dokter dan datang tepat waktu dinilai lebih efisien. Pasien pun bisa menggantikan waktu yang terbuang untuk mengantre dengan kegiatan lain yang lebih penting.

Idealnya, teknologi memang bisa mempermudah hidup manusia. Di segmen kesehatan misalnya, hadirnya aplikasi kesehatan diharapkan mampu meningkatkan usia manusia berkat kemudahan layanan yang ditawarkan. Salah satu aplikasi yang ada saat ini adalah Practo.

Aplikasi kesehatan yang hadir sejak 2013 silam ini diklaim mampu melayani semua jenis kebutuhan untuk layanan kesehatan, meliputi pembuatan janji, konsultasi dokter online, tes kesehatan, hingga pemesanan obat-obatan. Namun di sisi lain, Practo juga membuat software layanan kesehatan untuk klinik hingga rumah sakit.

Model yang dirintis Practo adalah disruptive healthcare hyperloop yang mentransformasi pasar layanan kesehatan dengan menggabungkan permintaan konsumen, serta menghubungkannya dengan para penyedia layanan kesehatan yang menyediakan perawatan kesehatan berkualitas.

Shashank ND (CEO dan Pendiri Practo) yakin bahwa layanan kesehatan tidak bekerja dalam satu silo. Ia menyebut, disruption sesungguhnya hanya mungkin terjadi jika solusi disediakan untuk seluruh proses layanan kesehatan konsumen.

Jangkau Lima Belas Negara

Layaknya startup lainnya, Practo juga memperoleh investasi. Pada tahun 2015, tepatnya Februari, startup yang berbasis di Bengaluru, India ini menerima investasi putaran Seri B sebesar US$30 juta. Sementara pada bulan Agustus 2015, mereka menerima pendanaan putaran ketiga sebesar US$90 juta dari Tencent, Sofina, Sequoia India, Google Capital, Altimeter Capital, Matrix Partners, Sequoia Capital Global Equities, dan Yuri Milner.

Terakhir, pada Januari 2017 lalu, Practo baru saja menerima pendanaan Seri D sebesar US$55 juta yang dipimpin oleh Tencent Holdings Ltd. serta ru-net, RSI Fund, dan Thrive Capital.

Hingga artikel ini ditulis, Shashank menyebut, Practo telah melayani 40 juta janji pertemuan per tahun dan menghubungkan jutaan pasien dengan lebih dari 200 ribu penyedia layanan kesehatan, 10 ribu rumah sakit, lebih dari 8.000 pusat diagnostik dan 4.000 pusat kebugaran dan kesehatan di lebih dari 50 kota dan 15 negara di seluruh dunia. Di India sendiri, Practo telah merambah 35 kota dan akan segera diperluas hingga 100 kota.

Di Indonesia, Practo resmi melenggang pada September 2015. Di tahun itu pula, aplikasi yang bisa diakses di iOS dan Android ini mengakuisisi Fitho (April 2015), Genii (Juli 2015), Insta Health (September 2015) dan Qikwell (September 2015).

Shashank menyebut, Practo menawarkan beberapa layanan. Di Indonesia sendiri, Practo Search menjadi layanan yang paling digemari. “Kami melihat adopsi yang sangat besar,” sebutnya. Salah satu strategi yang juga menjadi keunggulan Practo adalah database dokter yang lengkap. “Kami mendaftarkan semua dokter secara gratis dan kami tidak mengenakan biaya kepada pasien untuk membuat janji atau sebaliknya bagi dokter yang menerima janji bertemu dengan pasien,” tutur Shashank.

Namun, tidak semua dokter dapat diterima Practo. Pasalnya Practo juga melakukan verifikasi informasi yang ketat meliputi kualifikasi, spesialisasi, dan rincian lisensi medis. Jadi, dokter hanya bisa terdaftar dalam Practo setelah melewati jalur verifikasi ini.

Shashank ND (Pendiri dan CEO, Practo).

Lima Jalur Monetisasi

Dalam menjalankan bisnisnya, Shashank menyebut Practo memiliki lima jalur monetizing, meliputi: Practo Ray (dokter dan klinik membayar untuk manajemen digital mereka dan dikelola secara cloud, sebanyak 90 persen pangsa pasar Practo ada di sini), Qikwell by Practo (pengelolaan departemen rawat jalan bagi rumah sakit), Insta by Practo (solusi HIMS rumah sakit), Practo tab (solusi hardware yang dipasangkan dengan Practo Ray untuk manajemen klinik), dan Practo Search (hyper local yang menargetkan platform iklan bagi RS dan sejenisnya, kecuali dokter, untuk mengiklankan layanan ini kepada konsumen yang relevan).

Khusus di Indonesia, Shashank melihat respons yang fenomenal di pasar Indonesia. Ia menyebut ada kesempatan besar untuk menghadirkan layanan kesehatan yang lebih baik bagi sertaus juta jiwa. Para konsumen pun memiliki akses ke lebih dari enam ribu dokter (sebanyak 75% dari semua klinik yang ada di DKI Jakarta). Practo juga telah melebarkan layanannya ke luar Jakarta, meliputi Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi.

Bidik Segmen Enterprise

Practo berencana dalam dua belas bulan mendatang akan terus berfokus pada segmen enterprise. Shashank menyebut, mereka melihat permintaan yang sangat tinggi akan produk-produk software, hardware dan pemasaran.

“Ekspansi kami akan berlanjut, baik di India maupun secara internasional. Kami ingin meningkatkan ekspansi geografis, jejak kami akan meluas dari saat ini di 50+ kota dan 15 negara, ke lebih dari 100 kota-kota di India dan lebih banyak negara di seluruh Asia Tenggara, Amerika Latin, Timur Tengah dan Eropa Timur,” beber Shashank.

Lebih jauh, Shashank juga menyebut Practo akan mengakuisisi lebih banyak teknologi futuristik, seperti pembelajaran mesin, teknologi genom, kesehatan dan kebugaran. Ia pun membayangkan sebuah dunia di mana teknologi akan memberikan dampak pada bidang kesehatan.

Ilustrasi aplikasi kesehatan.

Namun tentu saja untuk melaksanakan misinya tersebut, Shashank menyebut Practo tak lepas dari tantangan. Selain memecahkan permasalahan pasien, Practo pun harus membantu para dokter menuju ke ranah digital. Salah satu strategi mereka adalah dengan mempromosikan Practo Ray yang digunakan oleh dokter untuk mengelola jutaan pasien setiap tahunnya.

Tantangan lainnya adalah membantu konsumen mencari tahu siapa dokter yang tepat bagi mereka. Biasanya, masyarakat mengandalkan informasi dari mulut ke mulut untuk menemukan dokter yang tepat. Dengan produk Practo Search, konsumen dapat menemukan dokter, membaca rinci informasi termasuk jumlah tahun pengalaman, kualifikasi, spesialisasi dan bahkan melihat foto klinik untuk mencari tahu klinik mana yang akan mereka kunjungi.

Kini dengan jumlah karyawan yang mencapai dua ribu lebih, Shashank berharap Practo dapat segera memperluas penawarannya untuk mencakup lebih banyak segmen kesehatan lainnya seperti kesehatan, kebugaran, farmasi, pencegahan dan pengobatan medis. Diharapkan Practo dapat menjadi satu-satunya aplikasi go-to untuk kebutuhan kesehatan.

Ikin Wirawan (kiri) bersama Dhony Rahajoe (kanan) meresmikan grand opening GeeksFarm dan WGS Hub di The Breeze, BSD City (8/2/2017)

Sinar Mas Land, salah satu pengembang properti terkemuka di Indonesia meresmikan grand opening GeeksFarm dan WGS Hub di The Breeze, BSD City.

Kehadiran WGS Hub dan GeeksFarm ini merupakan kolaborasi antara PT Walden Global Services (WGS) yang bergerak di bidang perangkat lunak (software) dan PT Digital Creative Indonesia, perusahaan game center yang fokus pada komunitas.

Berangkat dari permasalahan yang biasa dihadapi para pebisnis dalam bidang teknologi, seperti sulitnya mencari apps developer maupun software house berkualitas, serta kesulitan mendapatkan partner startup digital, menjadi landasan bagi WGS Hub yang hadir sebagai sebuah konsep lokasi retail fisik pertama di Indonesia.

Kawasan The Breeze di BSD City pun dipilih sebagai tempat yang menggunakan tagline ‘Software, Services, Startups’ ini untuk menyediakan berbagai solusi di bidang teknologi dan startup bagi para masyarakat dan juga pebisnis.

Dhony Rahajoe (Managing Director President Office, Sinar Mas Land) mengungkapkan jika Sinar Mas Land menyambut kehadiran WGS Hub dan GeeksFarm di BSD City, karena saat ini kawasan BSD City sedang bertransformasi menjadi integrated smart digital city.

Dhony menyebut, salah satu proyek Sinar Mas Land adalah Digital Hub, yakni sebuah kawasan yang khusus dikembangkan bagi para pengembang industri teknologi digital, mulai dari perusahaan start-up, technology leaders, hingga komunitas-komunitas digital.

Digital Hub juga diperuntukkan untuk researcher, ilmuwan STEM (Science, Technology, Engineer and Math) serta inovator di bidang Smart System dan Technology. Meski sempat menyinggung integrated smart digital city ini bisa menjadi Sillicon Valley di BSD City, namun Dhony menegaskan jika hal itu masih berupa asa.

Tentunya keberadaan WGS Hub dan GeeksFarm yang pertama dan mengambil tempat di area Mall The Breeze BSD City merupakan bagian dari ekosistem Digital Hub, dan diharapkan seluruh bagian ekosistem tersebut bisa saling bekerja sama ke depannya.

Adapun layanan yang ditawarkan WGS Hub dan GeeksFarm di antaranya:

  1. Program akselerasi untuk perusahaan yang mau meluncurkan startup
  2. Pelatihan programming untuk anak berusia 8-15 tahun setiap hari Sabtu
  3. Bekerja sama dengan sejumlah pelaku startup, meluncurkan startup school berdurasi 2 bulan
  4. Recruitment programmer untuk in-house karyawan perusahaan
  5. Jasa programming yang sudah dipaket secara sederhana
  6. Website, e-commerce, apps, software berbasis cloud
  7. Sebagai bagian dari CSR, GeeksFarm juga melatih gratis anak 18 tahun ke atas yang tidak mampu melanjutkan kuliah untuk menjadi programmer, dan menempatkan mereka bekerja di perusahaan klien.

Sementara itu Ikin Wirawan (Chairman & Founder, PT WGS) berencana mereplikasi WGS Hub di banyak lokasi, baik di Indonesia dan di luar negeri. “..sehingga tidak hanya kita bisa mempercepat perkembangan teknologi informasi di kalangan bisnis di seluruh Indonesia, kita juga menciptakan lapangan kerja dan bisa ekspor kemampuan TI Indonesia ke luar negeri,” tutur Ikin.

Untuk ke depannya, WGS Hub direncanakan hadir juga di berbagai kota besar di Indonesia, seperti Surabaya, Semarang, dan Medan.

“Selama lima hingga 10 tahun ke depan ini akan terjadi inovasi dan pertumbuhan yang akan mendorong ide-ide bisnis yang didorong oleh cloud,” kata Reggie Bradford (Senior Vice President of Product Development, Oracle).

Oracle memperluas program Startup Cloud Accelerator ke beberapa kota, seperti Bristol, Delhi-NCR, Mumbai, Paris, Sao Paulo, Singapura, dan Tel Aviv, guna membangun ekosistem yang mendukung startup di seluruh dunia. Sebelumnya, program ini baru tersedia di Bangalore, India, sejak peluncurannya pada April 2016.

Program ini ditujukan Oracle untuk mendukung inovasi berbasis cloud oleh para perusahaan startup di berbagai negara.

“Cloud memungkinkan terciptanya inovasi yang luar biasa di seluruh aspek bisnis dan berbagai industri. Kami ingin mendukung revolusi teknologi yang ditenagai oleh cloud ini,” kata Thomas Kurian (President of Product Development, Oracle).

Reggie Bradford (Senior Vice President of Product Development, Oracle) yang juga berwirausaha, akan memimpin perluasan program ini bersama Sanket Atal (Group Vice President of Development, Oracle) yang meluncurkan program pertama di India.

“Selama lima hingga 10 tahun ke depan ini akan terjadi inovasi dan pertumbuhan yang akan mendorong ide-ide bisnis yang didorong oleh cloud,” kata Bradford. “Oracle mengerti bahwa startup adalah jantung dari inovasi, dan melalui program ini, kami bertujuan untuk memberikan akses kepada startup menuju sumber daya dan dukungan saat mereka membutuhkannya.”

Mentoring Enam Bulan

Dijalankan oleh anggota tim riset dan pengembangan Oracle, program Startup Cloud Accelerator menyediakan mentoring selama enam bulan oleh para ahli teknis dan bisnis, teknologi canggih, co-working space, akses ke pelanggan, mitra, dan investor Oracle, serta kredit Oracle Cloud tanpa biaya. Program ini juga menyediakan jaringan startup global yang terus berkembang.

Dengan platform cloud yang modern, dioptimalkan untuk kinerja tinggi, I/O yang tinggi, dan ketersediaan yang tinggi, serta layanan cloud yang mendalam, Oracle mendemokratisasi teknologi kelas enterprise untuk mendukung startup. Stack cloud dari Oracle menyediakan pengembang startup dengan membangun block agar mereka dapat segera menggunakannya saat sedang memperluas bisnis mereka.

Dengan rekam jejak yang mengglobal, Oracle memberikan lebih dari 50 layanan cloud terintegrasi untuk mendukung perusahaan, baik kecil, menengah, atau pun besar.

“Oracle Startup Cloud Accelerator menjadi batu loncatan yang terbaik untuk kami,” kata Aardra Kannan Ambili (Co-founder dan CTO, Riot Solutions), startup di bidang pelayanan kesehatan yang juga menjadi peserta di program pertama. “Berkat Oracle, kami menjadi startup yang tumbuh dengan cepat dengan investasi jangka panjang.”

Oracle Startup Cloud Accelerator terbuka untuk startup teknologi pemula atau yang berbasis teknologi. Pendaftaran dibuka di tahun 2017 di masing-masing tujuh negara hub tersebut. Startup yang tertarik bisa mendaftar untuk menerima lebih banyak informasi di www.oracle.com/startup.

Ilustrasi Accenture ConsumerTech Awards Press Briefing – 19 JAN-1

Accenture kembali membuka pendaftaran nomine Accenture Consumer Tech Awards untuk startup yang mampu meningkatkan cara berinteraksi dengan generasi millennial.

Penghargaan itu bertujuan untuk memberikan apresiasi bagi usaha-usaha rintisan yang telah memberikan pengalaman pelanggan dan personalisasi terbaik, mampu meningkatkan penjualan, meningkatkan ketersediaan produk dan pengiriman dengan cara yang inovatif, serta menyerap lebih banyak pekerja digital.

Teo Correian (Senior Managing Director di Accenture) mengatakan millenials akan merepresentasikan seperempat dari populasi global, dengan kemampuan berbelanja yang lebih tinggi dari generasi lainnya. Kelompok millennial juga memiliki banyak informasi dan menuntut dibandingkan kelompok lainnya.

Inovasi adalah kunci untuk meningkatkan berinteraksi antara millennial dengan merek di industri ini, termasuk produk konsumen, jasa perjalanan, otomotif, dan sektor retail.

“Mengulang kesuksesan dari program penghargaan Accenture sebelumnya, saya menantikan kesempatan untuk menemukan wirausaha yang inovatif dan membantu mereka menciptakan dampak pada sektor industri terkait,” katanya dalam siaran persnya.

Cara mendaftarkan diri dalam ajang ini, para peserta harus melakukan registrasi melalui laman https://www.f6s.com/accentureconsumertechawardsnyc/apply dengan batas waktu sampai 10 Februari 2017.

Peserta yang lolos babak eliminasi akan melakukan presentasi di hadapan panelis juri, yang terdiri dari pimpinan senior dari perusahaan global, para pemimpin opini, dan pemilik modal, pada 28 Februari 2017 di New York, Amerika Serikat. Pemenang akan diumumkan dalam konferensi tingkat tinggi Millennial 20/20 pada tanggal 2 Maret 2017, di New York.

Selain itu, pemenang akan mendapatkan akses untuk bertemu tim pakar industri di Accenture untuk mendapatkan saran dan konsultasi tentang cara untuk meningkatkan performa bisnis mereka dan mendapatkan akses ke klien yang potensial.

Empat kategori dalam Accenture ConsumerTech Awards adalah:

Millennial Shopper

Solusi yang memberikan pemahaman lebih baik tentang perilaku dan permintaan konsumen, desain produk yang lebih baik, distribusi, manajemen stok dan logistik, atau kenaikan pengunjung, penjualan, penawaran produk – baik secara online dan offline.

Millennial Consumer

Solusi yang menargetkan dan menarik konsumen kepada merek, mempertahankan pelanggan, dan meningkatkan pengeluaran konsumen, melakukan personalisasi pengalaman terhadap merek, atau solusi yang memberikan pilihan dan fleksibilitas untuk menyesuaikan dengan gaya hidup konsumen.

Millennial Traveler

Solusi yang dapat meningkatkan pengalaman perjalanan wisata, mengurangi biaya operasional, atau meningkatkan pilihan dan layanan pelanggan.

Millennial Driver

Solusi yang membantu pengendara untuk mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan, meningkatkan pengalaman retail dan purnajual untuk kendaraan bermotor dan ekosistemnya; atau meningkatkan produktivitas saat berkendara dan konektivitas data.

Indrasto Budisantoso (Founder & CEO, Jojonomic). [Foto: Abdul Aziz/InfoKomputer]

Indrasto Budisantoso (Founder & CEO, Jojonomic). [Foto: Abdul Aziz/InfoKomputer]

Ketika masih bekerja di Boston Consulting, Indrasto Budisantoso kerap melakukan perjalanan dinas. Pria yang akrab dipanggil Asto ini mengaku menikmati pekerjaan tersebut. Namun ada satu hal yang membuat ia malas. “Saya harus meluangkan waktu untuk menempel semua dokumen pengeluaran saya,” ungkap Asto.

Ketika berpindah sebagai CEO dan Country Head di Groupon Indonesia, Asto kembali mengalami masalah terkait reimbursement. Namun sebagai atasan, masalahnya adalah ia harus repot menyetujui dokumen reimbursement dari anak buahnya yang jumlahnya tidak sedikit.  “Saya bisa menghabiskan waktu setengah sampai satu jam setiap minggu hanya untuk mengurus reimbursement itu,” ujar Asto.

Dari pengalaman tersebut, Asto pun tersadar kalau pengurusan reimbursment berbasis manual itu merepotkan. Ia pun mencari solusi reimbursment yang lebih efisien. Ia menemukan solusi seperti itu di negara maju seperti AS dan Jepang, namun tidak untuk Indonesia atau bahkan Asia Tenggara.

Karena itulah sesaat setelah keluar dari Groupon, Asto memutuskan untuk membuat aplikasi reimbursment sendiri. Setelah menggodok rencana tersebut selama enam bulan, Jojonomic pun hadir di akhir 2015 lalu.

Penghematan Waktu

Secara sederhana, Jojonomic Pro adalah solusi reimbursement digital yang mengandalkan foto sebagai bukti transaksi.

Setiap melakukan transaksi yang membutuhkan penggantian, karyawan cukup membuka aplikasi Jojonomic Pro dari smartphone (Android maupun iOS), memotret bukti transaksi, lalu memasukkan nilai transaksi. Proses pemotretan itu juga menangkap informasi lokasi melalui GPS smartphone, sehingga setiap transaksi memiliki data tambahan berupa lokasi.

Di akhir bulan, karyawan tinggal mengirimkan semua data tersebut ke atasannya. Sang atasan nanti bisa melihat seluruh data transaksi melalui aplikasi Jojonomic maupun browser PC. Setiap transaksi akan menampilkan informasi lengkap, mulai dari foto struk, nilai transaksi, keperluan, sampai lokasi. Dengan semua data tersebut, atasan pun dengan mudah memastikan transaksi yang akan diganti tersebut telah memenuhi aturan.

Jika dibandingkan layanan reimburse yang sudah ada, Jojonomic diklaim lebih cocok dengan sistem kerja di Indonesia. Contohnya keberadaan fitur Cash Advance untuk kegiatan yang membutuhkan keberadaan uang di muka. “Karena Indonesia belum banyak perusahaan yang menggunakan corporate credit card,” ungkap Asto menjelaskan mengapa fitur ini dimiliki Jojonomic.

Dengan Cash Advance, karyawan bisa meminta uang muka (atau bon sementara) ke perusahaan untuk sebuah kegiatan. Setiap transaksi nantinya tinggal dimasukkan ke kategori Cash Advance. Di akhir kegiatan, perusahaan maupun karyawan dengan mudah mengetahui saldo yang tersisa.

Meskipun menawarkan kelebihan dibandingkan solusi sejenis, Asto melihat tantangan terbesar Jojonomic bukan di situ. Tantangan terbesar Jojonomic lebih kepada belum banyaknya perusahaan yang menyadari keberadaan solusi seperti ini. “Sekarang kita tidak masalah melakukan reimburse manual, karena semua orang mengira normalnya seperti itu,” tambah Asto. Baru ketika diperkenalkan soal Jojonomic, orang menyadari bahwa proses reimbursment manual itu memiliki banyak kekurangan.

Kelemahan itu sebenarnya menyentuh pain point semua pihak, sehingga Jojonomic menyodorkan value proporsition berbeda ke tiap stakeholder. “Ketika berbicara dengan CEO atau CFO, kita utamakan soal transparansi,” ungkap Asto. Perusahaan bisa melakukan efisiensi waktu dan pengeluaran ketika setiap proses reimbursment sudah berformat digital. Sementara saat berbicara dengan karyawan, Jojonomic lebih menekankan soal kemudahan dan kenyamanan karena tidak harus menyimpan bon yang rentan hilang.

Sebagai layanan SaaS, Jojonomic Pro menggunakan sistem pay-as-you-go dengan biaya sesuai jumlah pengguna dan kelengkapan fitur. “Kisarannya sekitar US$4 – 6 per bulan per pengguna” ungkap Asto.

Aneka fitur Jojonomic.

Aneka fitur Jojonomic.

Melebarkan Sayap

Sebagai layanan yang menyasar B2B, Asto menyadari Jojonomic harus mudah diintegrasikan dengan sistem yang sudah ada saat ini. Karena itu, Jojonomic sudah dirancang untuk bisa diintegrasikan dengan beberapa sistem akutansi dan HR, yaitu SAP, Xero, Zahir,  Jurnal, dan Talenta. Jojonomic juga bisa diintegrasikan dengan Mandiri e-Cash, sehingga setiap transaksi yang telah disetujui untuk diganti akan langsung masuk ke Mandiri e-Cash karyawan.

Meski semua data tersimpan di cloud, Asto menjamin keamanan data pengguna tetap aman tersimpan. “Karena semua data dienkripsi dengan standar yang sama dengan e-banking,” tambah Asto.

Asto sendiri mengklaim Jojonomic Pro kini sudah digunakan sekitar empat puluh perusahaan dengan jumlah pengguna total mencapai sepuluh ribuan orang. “Kebanyakan dari e-commerce,” ungkap Asto, sambil menyebut latar belakangnya di industri e-commerce sebagai alasan di balik itu.

Beberapa pengguna Jojonomic adalah Matahari Mall, Gojek, Tokopedia, Lee Cooper, dan Veritrans. “Salah satu BUMN terbesar di Indonesia juga telah menggunakan Jojonomic,” ungkap Asto tanpa menyebut nama BUMN tersebut.

Saat berbicara tentang rencananya di masa depan, dengan lugas Asto menjawab: membawa Jojonomic bersaing di tingkat dunia. “Kita ingin kuat dulu di Indonesia, kemudian menjajakan produk ini ke Asia Tenggara,” ungkap Asto. Langkah itu telah dimulai dengan membuka kantor perwakilan di Singapura. “Jojonomic ini adalah sepenuhnya karya anak bangsa, dan kita ingin karya anak bangsa ini juga bisa go-global,” tambah Asto.

Tantangan di luar sana memang tidak ringan, namun Asto yakin kualitas produknya tidak kalah dengan produk global.

Di awal tahun 2015, Jojonomic terpilih ke dalam program Google Launchpad Accelerator, sebuah program pelatihan khusus yang diadakan Google untuk developer dari negara berkembang seperti Indonesia, India, Meksiko, dan Brazil. Setelah mengikuti pelatihan insentif selama dua minggu di Silicon Valley, Asto mengaku timnya mendapat banyak masukan positif seputar Jojonomic.

Bahkan ketika orang diminta memilih antara Jojonomic dan aplikasi reimbursement yang mereka gunakan selama ini, mayoritas memilih Jojonomic. “Mereka menyebut user experience Jojonomic lebih enak dibandingkan aplikasi lain,” tambah Asto.

Dengan bekal itu, Asto pun yakin Jojonomic tidak saja bisa diterima pengguna di Indonesia namun juga di dunia.

Jobplanet mengungkapkan kelompok startup, perusahaan yang menempati posisi teratas adalah PT Tokopedia (0,29 persen).

Jobplanet mengungkapkan kelompok startup, perusahaan yang menempati posisi teratas adalah PT Tokopedia (0,29 persen).

Jobplanet mengungkapkan daftar perusahaan terbaik di Indonesia pada 2016 dan daftar perusahaan yang paling favorit di Indonesia pada 2016. Jobplanet melakukan riset dengan melibatkan 470.000 orang karyawan perusahaan yang merupakan pengguna Jobplanet yang tersebar seluruh Indonesia.

Jobplanet menilai perusahaan-perusahaan yang memiliki tingkat kepuasan karyawan tertinggi, baik secara keseluruhan ataupun berdasarkan penilaian terhadap aspek-aspek pekerjaan tertentu.

Jobplanet mengelompokkan perusahaan-perusahaan terbaik tersebut ke dalam beberapa kategori berdasarkan jenis perusahaan (korporasi dan startup), industri (Telekomunikasi, Keuangan dan Perbankan, Pariwisata, Otomotif, serta Minyak dan Gas), dan berdasarkan penilaian karyawan terhadap berbagai aspek dalam pekerjaan (jenjang karier, work-life balance, budaya perusahaan, manajemen, serta gaji dan tunjangan).

Kemudian, Jobplanet melakukan analisis terhadap sejumlah pageview atau kunjungan ke laman-laman perusahaan yang ada di Jobplanet.com. Banyaknya jumlah kunjungan ke laman suatu perusahaan menunjukkan tingkat ketertarikan pengguna Jobplanet, yang juga merupakan para pencari kerja, terhadap perusahaan tersebut.

Hasilnya, posisi teratas dalam Daftar Perusahaan yang Paling Diminati di Indonesia Tahun 2016 adalah PT Pertamina yang menarik kunjungan sebanyak 0,56 persen dari total kunjungan di situs Jobplanet.com. Sedangkan dalam kelompok startup, perusahaan yang menempati posisi teratas adalah PT Tokopedia sebanyak 0,29 persen.

PT Pertamina menempati posisi teratas dalam daftar korporasi yang paling menarik perhatian pencari kerja di tahun 2016. Hal itu menunjukkan, bahwa meski industri minyak dan gas sedang mengalami masa sulit di sepanjang tahun ini, ketertarikan pencari kerja untuk bekerja di industri ini tetap tinggi. Selain PT Pertamina, PT Chevron Pacific Indonesia juga masuk dalam daftar tersebut.

Seluruh startup yang paling menarik perhatian pencari kerja bergerak di bidang e-commerce dan banyak startup yang menunjukkan perkembangan di Indonesia adalah startup e-commerce.

“Sebagai one-stop portal bagi pencari kerja, Jobplanet ingin menyediakan informasi yang menyeluruh bagi karyawan dan pencari kerja untuk membantu mereka meraih karier yang lebih baik,” kata Kemas Antonius (Chief Product Officer Jobplanet di Indonesia) dalam siaran persnya.

“Jobplanet berjanji akan terus secara konsisten, melalui riset-riset yang berkaitan dengan dunia kerja, memberikan insight kepada perusahaan serta para karyawan di Indonesia,” ujarnya.

lintasarta-appcelerate

Tiga bisnis rintisan (startup) terbaik telah terpilih sebagai pemenang di ajang Lintasarta Appcelerete yang diselenggarakan oleh PT. Aplikanusa Lintasarta (Lintasarta) bekerja sama dengan Lembaga Pengembangan Inovasi dan Kewirausahaan Institut Teknologi Bandung (LPIK ITB).

Ketiga pemenang tersebut adalah CHARM (Customer Handling, Analytic and Relationship Management) yang membantu perusahaan untuk dapat mendengarkan dan memahami pelanggan melalui analisis percakapan pelanggan di media sosial, BIOPS merupakan aplikasi precision farming yang menawarkan monitoring dan controlling untuk para petani green house, serta WINAFI aplikasi sembako mart yang menawarkan kemudahan berbelanja kebutuhan sehari-hari yang mengintergrasikan antara toko kelontong lokal dengan konsumen di sekelilingnya.

Arya Damar, Presiden Director Lintasarta mengatakan, “Lintasarta dan LPIK ITB menelurkan 3 startup dari 3 kategori yang berbeda. Mereka semua bagus, semua terbaik. Karena saya yakin bahwa anak-anak Indonesia dapat bertarung di dunia untuk application”.

Selain mengumumkan tiga pemenang,  Lintasarta juga akan menawarkan kerja sama kepada 10 startup inkubasi sebagai mitra sehingga aplikasi yang mereka buat dapat dipergunakan oleh kalangan industri.

Menurut para dewan juri, dari 10 startup yang telah memasuki masa inkubasi selama 3 bulan (Juli, Agustus, September 2016), para pemenang merupakan startup yang mendapat penilaian terbaik dengan merupakan problem solving dan usefulness, serta memiliki nilai commercial dan value business. Para dewan juri terdiri dari jajaran direksi, General Manager Lintasarta dan LPIK ITB.

Selama masa inkubasi para startup tersebut telah mendapat mentoring, pengembangan dan peningkatan komersial melalui berbagai program yang yang diberikan.

Suhono Harso Supangkat, Kepala LPiK ITB mengatakan, “Saya apresiasi ke Lintasarta yang telah menyelenggarakan ajang Appcelerate ini. Appcelerate adalah suatu kegiatan untuk membangun ekosistem pembangunan startup di Indonesia. Tujuannya mulia, semaksimal mungkin startup yg terbentuk dipunyai oleh warga Indonesia, dengan kualitas dan jangkauannya internasional. ITB akan terus bermitra  membangun startup Indonesia.”

Lintasarta Appcelerate, yang merupakan realisasi Program Corporate Social Responsibility Lintasarta bekerja sama dengan ITB Bandung, adalah ajang membuat rencana bisnis dalam bentuk inovasi produk atau aplikasi digital, seperti mobile application, yang memiliki nilai bisnis dan dapat diterapkan untuk mendukung berbagai sektor industri seperti banking, financial, oil & gas, plantation, manufacture, e-health, logistic, transportation, maritim dan tourism. Ajang ini telah dimulai sejak April 2016 lalu.

Suasana kantor startup Jora di Australia.

Suasana kantor startup Jora di Australia.

Bekerja di perusahaan startup sepertinya mulai menjadi tren di kalangan generasi millennial. Dengan iming-iming kultur kerja yang lebih fleksibel, tidak kaku, dan imbalan menarik, cukup banyak mahasiswa yang baru lulus atau masih kuliah sekalipun tertarik untuk bergabung dengan perusahaan yang baru berusia kurang dari lima tahun.

Hal yang juga menarik dari perusahaan startup adalah kesempatan yang terbuka lebar untuk merekrut talenta berbakat asal daerah atau negara mana pun. Tidak jarang kita temui karyawan sebuah startup lokal yang berasal dari Malaysia, Singapura, India, dan sebagainya. Sebaliknya, banyak perusahaan startup asing pun membuka pintunya bagi sumber daya manusia asal Indonesia.

Salah satunya Jora, perusahaan startup yang bermarkas di Australia. Startup ini menyediakan informasi lowongan kerja di 17 negara yang dapat diakses gratis dan tersedia di App Store maupun Google Play. Mereka sudah meluncurkan situs dalam Bahasa Indonesia pada bulan Januari 2016.

Untuk mengepalai operasional di Indonesia ini, Jora merekrut Rizka Maydita Tsalasi sebagai Country Manager Indonesia di Jora.

Dalam surel yang diterima InfoKomputer, Rizka mengisahkan pengalaman kerjanya di perusahaan startup di Australia itu, sekaligus menjelaskan budaya kerja di startup yang ada di Negeri Kanguru itu.

Jam Kerja Fleksibel

Menurut Rizka, karyawan di Jora bebas bekerja di mana saja, selama ada koneksi internet dan bisa ikut rapat dengan menggunakan Skype. “Jadi kalau kita sudah memiliki keluarga, keuntungan kerja di startup adalah bisa bekerja dari rumah sehingga lebih mudah mengatur waktu dengan keluarga,” ujarnya.

Secara resmi, lamanya jam kerja memang terbilang standar, delapan jam sehari. Namun, karyawan tidak perlu berada di kantor selama delapan jam. Karyawan bisa datang lebih awal, misalnya pukul 7 pagi dan pulang pukul 3 sore. Dengan demikian, mereka bisa menghidari kemacetan yang padat di pagi hari dan jam pulang kerja.

“Karyawan memiliki otonomi besar, tetapi harus bisa menyelesaikan pekerjaan sesuai waktu yang ditentukan,” Rizka mengingatkan.

Suasana kantor startup Jora di Australia.

Suasana kantor startup Jora di Australia.

Keuntungan dari semakin banyaknya startup di Australia adalah bermunculannya lowongan kerja yang mencari kandidat dengan kemampuan bahasa tertentu, seperti Mandarin, Spanyol, Portugis, Perancis, Indonesia, dan semacamnya.

Artinya, semakin banyak peluang untuk mendapatkan pekerjaan di Australia bagi kaum pendatang atau imigran dengan memanfaatkan kemampuan bahasa.

Yang menarik, perusahaan berbasis teknologi biasanya menyediakan sponsor bagi karyawan yang tidak memiliki izin kerja di Australia. Sejumlah developer Ruby di Jora misalnya, berasal dari Tiongkok dan Korea Selatan. Mereka disponsori Jora untuk bekerja di Australia.

Memanjakan Karyawan

Suasana multikultur terlihat kental di Jora yang saat ini memiliki 18 karyawan yang berasal dari negara berbeda. Karena itu, sejumlah acara bertema budaya kerap digelar, seperti potluck (berbagi makanan) dari negara masing-masing.

Perusahaan juga memberi perhatian khusus kepada mereka yang menggunakan transportasi sepeda ke kantor. Di kantor Jora, tersedia fasilitas parkir khusus sepeda dan juga shower untuk menyegarkan diri setelah bersepeda. Hal ini guna mendukung anjuran pemerintah Australia untuk menjaga kebugaran serta mengurangi polusi.

Suasana kantor startup Jora di Australia.

Suasana kantor startup Jora di Australia.

Untuk memanjakan karyawan, makanan pokok seperti roti, sereal, teh, dan kopi gratis selalu tersedia kapan saja. Sementara itu, buah segar tersedia dua kali dalam seminggu.

Jora juga membebaskan karyawan untuk mengambil cuti sakit tanpa batas. Ini adalah budaya yang mulai banyak diterapkan perusahaan teknologi di negara maju seperti Amerika dan Australia.

“Fasilitas seperti otonomi dan fleksibilitas kerja sangat penting bagi perusahaan yang ingin terus berinovasi. Tentu hal ini hanya bisa dilakukan jika ada rasa saling percaya bahwa karyawan akan melakukan hal yang benar dan selalu dapat menyelesaikan pekerjaannya,” tutup alumnus UGM Yogyakarta itu.