Tags Posts tagged with "startup"

startup

Benedicto Haryono (Co-founder & CEO) KoinWorks saat menerima penghargaan dari BIFA di Raffles Hotel, Jakarta (28/8/2017).

Startup fintech lokal yang berbasis peer to peer lending, KoinWorks, berhasil meraih penghargaan “The Most Innovative Fintech of The Year” dari Bisnis Indonesia Financial Award (BIFA) 2017.

BIFA sendiri merupakan penghargaan yang diberikan bagi industri finansial di Indonesia yang berprestasi dan memiliki konsistensi untuk berada pada koridor praktik bisnis yang baik.

Dalam hal ini KoinWorks dinilai mampu memberikan pelayanan terbaik yang menjamin keamanan dana investor secara transparan. KoinWorks bahkan menjadi satu-satunya perusahaan yang menyediakan Dana Proteksi dengan cara menyimpan komisi perusahaan yang sengaja disisihkan dan akan didistribusikan untuk menutupi kerugian dana investor jika terjadi gagal bayar.

Selain Dana Proteksi, KoinWorks juga telah mengadopsi algoritma machine learning dalam membantu proses Credit Assessment. Startup fintech yang digawangi oleh Benedicto Haryono ini juga bekerja sama dengan PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO) guna melacak keuangan calon peminjam sehingga lebih mudah bagi tim penilai kelayakan kredit dalam menyeleksi peminjam berdasarkan riwayat keuangannya.

“Saya dan segenap tim KoinWorks sangat bangga dan bersyukur karena KoinWorks berhasil meraih penghargaan pertama sebagai perusahaan fintech paling inovatif tahun 2017 ini dari Bisnis Indonesia. Misi KoinWorks dari awal ialah untuk menyediakan akses finansial yang reachable dan affordable ke tengah-tengah masyarakat,” ujar Benedicto Haryono (Co-founder dan CEO, KoinWorks) saat menerima penghargaan.

Saat ini KoinWorks telah menjalin kolaborasi dengan mitra-mitra bereputasi seperti Allianz dalam rangka penyediaan asuransi jiwa; Lazada, Tokopedia, Bhinneka, Berrybenka, DOKU, dan Sirclo dalam rangka penyediaan akses terhadap modal usaha; Hacktiv8, DigitalMarketer.ID, G’loria, Thesa Kristal, Brow Nail Studio, International Design School, Savier Animation, BINUS Online Learning, Indonesia Patisserie School, dan Sekolah Makeup dalam rangka penyediaan dana pendidikan; serta RS Premier Bintaro, SmileXpress, dan Klinik Mata Nusantara dalam rangka penyediaan dana kesehatan.

“Melalui penghargaan ini kami yakin masyarakat dapat melihat fintech hadir sebagai permasalahan bagi orang yang masih belum tercakup secara finansial. Besarnya antusiasme masyarakat, kemudahan yang ditawarkan, hingga peraturan yang mengawasi, saya yakin masa depan fintech di Indonesia dipastikan cerah,” pungkas Ben.

Enrico Pitono dan Irna Rasad, dua pendiri Matata Corp. selain Gunawan Pramono. [Foto: Abdul Aziz/InfoKomputer]

Masih terbatasnya jumlah developer teknologi di Indonesia justru membuka mata Enrico Pitono, Irna Rasad, dan Gunawan Pramono dalam melihat potensi yang ada bahwa Indonesia pun tidak kalah dari negara lain.

Latar belakang inilah yang lantas mendorong Enrico, Irna, dan Gunawan mendirikan Matata, sebuah perusahaan yang bergerak di ranah teknologi. “Saya di Inggris banyak [bertemu] klien orang teknologi, mereka selalu ngomong tergerak untuk masuk market Indonesia daripada masuk Cina karena di sana lebih protektif,” tutur Enrico membuka perbicangan.

Kala itu di tahun 2012, Enrico dan dua rekannya memang masih memiliki kesibukan masing-masing. Enrico yang saat itu masih bergelut di dunia perbankan dan memiliki kerja sama bisnis dengan Irna, mulai melihat ancaman kehadiran Netflix terhadap bisnis mereka di bidang penyewaan mini theatre.  

Enrico dan Irna pun berdiskusi untuk menjajal ranah lainnya. Dari sinilah kemudian lahir Matata, perusahaan teknologi yang memulai debutnya dari game. Irna pun mengajak Gunawan yang merupakan atlet nasional sofbol namun memiliki ketertarikan terhadap dunia teknologi.

Usung Augmented Reality

Ketiganya lantas berfokus pada permasalahan yang bisa diselesaikan melalui Matata. Perusahaan yang memiliki kantor di Indonesia (produksi) dan Inggris (distributor) ini pun mengusung konsep human technology. Ada tiga segmen yang menjadi fokus Matata, yakni Game, Matata Edu, dan Tandamata.  

Dalam hal game, Enrico menyebut bahwa sampai saat ini baru game “Eggward” yang dihasilkan Matata. Meski demikian, game yang dihasilkan oleh Eggward’s Lab ini telah berhasil meraih posisi Top 5 Board Game terbaik di Asia Tenggara, Belanda, dan Macau. Prestasi ini diraih pada bulan pertama peluncurannya. Seiring berjalannya waktu, Matata pun mengembangkan aplikasi mobile dan divisi pendidikan melalui Matata Edu dan Learn to Code.

Di Matata Edu ini, konsep yang diusung adalah fitur Augmented Reality (AR) pada buku sekolah agar proses belajar lebih menyenangkan. Lalu ada aktivitas coding yang menargetkan anak usia 8 – 15 tahun. Alasannya, pada usia tersebut anak masih terbuka terhadap perubahan. Program ini menurut Enrico bertujuan memperkenalkan programming dan ilmu komputer bagi anak usia dini.

Sementara program ketiga yang tengah dikembangkan Matata saat ini adalah aplikasi Tandamata 1.0 yang membidik wirausaha lokal dan UKM. Tujuannya, memasarkan produknya ke pasar yang lebih luas. Salah satu keunikan aplikasi Tandamata ini adalah adanya fitur AR yang diusungnya.

“Banyak orang Indonesia tidak terlalu suka marketplace karena ribet kalau mau memilih barang, makanya kita buat Tandamata,” ujar Enrico. Pada kesempatan yang sama, Irna menyebut jika saat ini sudah ada sekitar 20-an vendor dari Jakarta dan Bali yang menjual produknya (saat ini sekitar 500 barang) melalui Tandamata.

Fitur AR ini nantinya memungkinkan konsumen melihat bagaimana jika benda yang mereka pilih terlihat di tempat yang mereka inginkan. Hanya saja teknologi AR ini baru siap diunduh pada Agustus 2017 mendatang bersamaan dengan peluncuran Tandamata 2.0.

Irna Rasad (kiri) dan Enrico Pitono (kanan) memaparkan soal Matata Corp. kepada InfoKomputer.

Seratus Persen Indonesia

Hanya saja, Enrico secara tegas memegang idealisme bahwa karya Matata harus seratus persen buatan Indonesia. Inilah yang lantas menyebabkan Matata dari sejak berdiri membutuhkan waktu dua tahun untuk melakukan preparation coding.

“Pertama policy kita 100% Indonesia, kita tidak mau memakai orang luar sehingga dua tahun kita proses belajar coding. Semuanya belajar sendiri, makanya 2014 baru mulai game Eggward dan menjadi Top 5 di beberapa negara. [Kemudian pada tahun] 2016 kita mulai expand untuk melihat fitur lain, [seperti] e-commerce dan education,” papar pria yang berdomisili di Inggris ini.

Enrico pun tak menampik harapannya untuk bisa menjual Indonesia ke dunia luar. “Kadang ada capability kita yang belum sampai ke sana tapi harus maksa untuk tidak memakai [orang] luar, dipaksakan tapi harus,” tutur Enrico. Ia menyebut, sebenarnya bisa saja pihaknya membeli pihak luar, tapi baginya proses belajar lebih penting. Ia pun menegaskan jika Matata harus seratus persen Indonesia.

Dalam prosesnya, tantangan pun kerap mereka temui. “Kita cari benang merahnya dulu, kita samakan baru prosesnya,” jelas Enrico. Namun, ia menyebut jika di Indonesia belum terbentuk orang-orang yang seperti itu. Makanya ia menyebut jika Matata bukan tidak ingin menggunakan tenaga freelancer, melainkan karena mindset freelancer terbentuk dari order. Sementara di Matata sistemnya diskusi.

Dalam prosesnya pun tidak mudah. Terkadang dalam suatu Forum Group Discussion, Enrico mengajak timnya untuk membahas masalah swipe (gerakan menggeser) pada gadget. Detail soal swipe itu jarang diperhatikan, tapi lebih dirasakan. “Apakah [swipe] ke sini atau ke sini yang lebih baik, kadang kita lamanya untuk memikirkan ini,” tutur Enrico seraya melakukan gerakan swipe pada gadget-nya.

Fitur AR pada aplikasi Tandamata buatan Matata Corp.

Pilih-pilih Investor

Idealisme bahwa Matata harus seratus persen Indonesia inilah yang lantas juga pernah membawanya pada pengalaman menolak investasi dari sebuah perusahaan asal Skandinavia. Padahal nilai investasinya sekitar US$4 juta. Meskipun kepemilikannya sebesar delapan puluh persen dipegang Matata, saat itu Matata difokuskan untuk menghasilkan uang.

“Akhirnya saya tolak karena tidak diperbolehkan mengerjakan proyek lain selain game karena saya punya visi membuat sesuatu yang bisa membangun negara juga. Investor kita open, tapi investor yang sesuai dengan visi Matata,” tukas Enrico. Ia lantas mengungkapkan jika sampai saat ini semua biaya berasal dari Matata sendiri.

Idealisme Enrico juga berdasarkan pada fakta bahwa Indonesia menghabiskan sekitar US$350 juta/tahun untuk game. “Ini artinya kita membeli teknologi,” tutur Enrico. Ia pun menyebut jika ingin membalik konsep tersebut, dengan kata lain negara lain yang harus membeli teknologi dari Indonesia.

Ini pula yang kini tengah dilakukan Enrico dengan mematenkan teknologi AR yang diciptakan Matata. Hal ini dilakukan demi memantapkan asa untuk “menjual” Indonesia ke dunia luar.

Tujuh manasiswa penerima BukaBeasiswa Bukalapak berfoto bersama Hadi Saloko, Engineer Manager Bukalapak (paling kiri) dan Ibrahim Arief, VP of Engineering Bukalapak (paling kanan)

Terus berinovasi, kali ini Bukalapak menghadirkan kembali program BukaBeasiswa sebagai wujud kontribusi Bukalapak untuk mendukung mahasiswa berbakat dan berpotensi, khususnya di bidang teknolog informasi.

“Program BukaBeasiswa ini ditujukan bagi seluruh mahasiswa di Indonesia dengan jurusan Teknik Informatika, Sistem Informasi, Ilmu Komputer, Teknik Elektro, dan jurusan yang mempelajari pemrograman. Berdasarkan hasil seleksi dan tim verifikasi, ditetapkan 14 mahasiswa berprestasi yang lolos ke tahap final,” ujar Ibrahim Arief (Vice President of Engineering Bukalapak).

Empat belas finalis tersebut telah menjalani seleksi tahap akhir yang dilakukan pada hari Selasa kemarin (1/8). Tahap akhir seleksi tersebut ternyata membuahkan tujuh nama penerima beasiswa, meski menurut Bukalapak pihaknya tidak membatasi jumlah atau kuota penerima beasiswa untuk tahun ini.

Adapun tujuh penerima BukaBeasiswa tersebut adalah Alson Cahyadi, Azka Hanif Imtiyaz, dan  Naufal Malik Rabbani (ITB, Bandung); Dede Kiswanto dan Satria Hafizh Rizkitama Harsono (Telkom Univesity, Bandung); Prabu Dzaky Yoga Pradana (ITS, Surabaya); dan Febrian Wilson (Universitas Multimedia Nusantara, Tangerang).

“BukaBeasiswa menjadi sarana adu bakat bagi para mahasiswa bidang Komputer. Kami tidak hanya benar-benar menguji kemampuan mereka dalam programming, tapi juga dalam hal analisis dan perancangan perangkat lunak. Kami berharap dengan adanya program ini, mahasiswa akan lebih bersemangat untuk terus berprestasi, dan menggunakan keterampilan dan pengetahuan mereka untuk memajukan Indonesia dan diri mereka sendiri, sehingga menjadi kebanggaan bagi bangsa dan negara,” Ibrahim menambahkan.

“Ini kita sebar banyak benih dulu untuk generasi-generasi muda. Mudah-mudahan di generasi anak saya nanti, kita tidak cuma mimpi bisa punya startup-startup digital kelas dunia yang jumlahnya banyak. Industrinya juga harapannya sudah sangat matang dan kompetitif karena didukung oleh ilmuwan komputer muda yang kita didik dan kita kasih beasiswa. Kita hanya butuh ilmuwan-ilmuwan komputer yang fokus di bidangnya dan mengembangkan skill yang mereka suka,” tutup Achmad Zaky (Founder dan CEO, Bukalapak).

Dimulai sejak tahun 2016 lalu, program BukaBeasiswa memberikan biaya kuliah sesuai dengan yang telah ditentukan oleh lembaga pendidikan, dan uang saku selama satu tahun kuliah.

Informasi lebih lanjut bagi para mahasiswa yang tertarik mengikuti BukaBeasiswa Bukalapak dapat dilihat di alamat: bukabeasiswa.bukalapak.com

Ilustrasi kantor SoundCloud

Perusahaan layanan streaming musik SoundCloud telah merumahkan sebanyak 173 karyawan atau sekitar 40 persen dari total karyawannya. Tak hanya itu, SoundCloud juga menutup dua kantor di London dan San Francisco sebagai upaya efisiesi perusahaan.

SoundCloud masih akan melanjutkan operasional di Berlin dan New York. Saat ini SoundCloud memiliki basis pengguna sebanyak 175 juta pengguna di 190 negara. Namun, jumlah pelanggannya mulai tergerus oleh Spotify, Apple Music, Amazon Prime, dan Pandora.

“Dengan mengurangi biaya dan melanjutkan pertumbuhan pendapatan, kami berada di jalur menuju profitabilitas dan mengendalikan masa depan SoundCloud,” kata Alexander Ljung (CEO SoundCloud) dalam emailnya kepada para staff seperti dikutip TechCrunch.

SoundCloud memang sedang menghadapi masalah pelik yaitu masalah profit, model bisnis, ketersediaan akun premium dan perusahaan sering menggunakan fasilitas mahal, termasuk kantor mewah di dunia. Belum lagi, SoundCloud tidak memiliki cukup dana untuk menutup utang-utang di periode sebelumnya.

SoundCloud sendiri telah melakukan banyak hal untuk menjaring keuntungan. Saat ini, mereka berfokus pada pelanggan yang mengakses konten premium dan memiliki tingkatan khusus untuk pencipta konten dan iklan.

Sayangnya, SoundCloud tidak mengungkapkan berapa banyak pengguna premium atau seberapa besar iklan berkontribusi untuk perusahaan. Sebenarnya, Twitter dan Spotify berencana mengakuisisi SoundCloud tetapi sayang proses itu tidak kunjung rampung.

Spotify sendiri memiliki 140 juta pengguna, 50 juta di antaranya membayar langganan, dan Apple Music memiliki 27 juta pengguna berbayar. Amazon tidak melaporkan berapa banyak orang yang menggunakan layanan “Prime Music“-nya.

Drew Houston (CEO, Dropbox]). [Kredit: Sportsfile (Web Summit)/Flickr,

Ketika Dropbox hadir, banyak orang mulai memahami apa itu teknologi cloud computing.

Meskipun Dropbox bukanlah pionir (dan bentuk layanan Dropbox sendiri hanya mencakup sebagian saja dari teknologi cloud computing), popularitas layanan ini ternyata cukup kuat untuk mempopulerkan dan membuka wawasan banyak orang tentang teknologi dan layanan cloud, selain tentunya mempopulerkan dirinya sendiri.

Suksesnya Dropbox tentulah berkat aksi tangan dingin orang-orang yang ada di baliknya. Salah satunya, siapa lagi jika bukan Drew Houston, sang CEO.

Drew Houston terlahir dengan nama lengkap Andrew W. Houston, pada tanggal 4 Maret 1983, di Acton, Massachusetts. Drew cukup beruntung memiliki keluarga yang telah mengenal teknologi. Ayah Drew adalah seorang insinyur elektronika jebolan Universitas Harvard.

Sebagai seorang ahli elektronika, tentunya ayah Drew memahami benar bahwa di masa depan komputer dan barang elektronik lainnya akan menjadi peranti yang sangat dibutuhkan umat manusia. Karena itu, sang ayah tak ragu merogoh koceknya untuk membelikan Drew seperangkat komputer.

Sudah tentu Drew girang bukan kepalang. Sebagai seorang anak laki-laki, sudah sangat lumrah juga jika kemudian Drew gemar bermain game dengan komputer yang dibelikan ayahnya tersebut.

Berkenalan dengan BASICA

Ketertarikan Drew tak berhenti hingga pada permainan game saja namun lambat laun dia juga mulai penasaran dengan program yang menyusun game tersebut.

Dan mulailah, Drew berkenalan dengan BASICA, bahasa pemrograman yang menjadi tulang punggung game yang dia mainkan. Kebetulan BASICA memang pada saat itu merupakan bahasa pemrograman yang cukup populer karena hampir semua komputer PC yang ada di pasaran dipastikan memiliki ROM BASICA di dalamnya.

Tak puas hanya sekadar mempelajari BASICA, Drew mulai “menjajah” komputer ayahnya dan belajar bahasa pemrograman C. Di komputer ayahnya tersebut, Drew mulai mengenal pengalaman baru, yaitu bermain game secara online dan mendaftar di salah satu penyedia layanan online gaming.

Barangkali karena sudah terlatih membongkar kode-kode program, Drew menemukan sebuah celah keamanan pada layanan online gaming yang diikutinya dan melaporkan hal tersebut pada perusahaan pengembang game tersebut.

Tindakan Drew ini mendapat respons positif dari perusahaan game tersebut, bahkan Drew ditawari untuk bekerja di sana. Padahal, usianya saat itu baru empat belas tahun. Tidak jelas apakah akhirnya Drew menerima tawaran tersebut atau tidak.

Bakat pemrograman Drew terasah dengan cepat dan dengan pertimbangan itu, selepas lulus SMA di Acton Boxborough Regional High School, Drew memutuskan untuk mendalami ilmu komputer di Massachusetts Institute of Technology (MIT).

Di kampus ini, Drew bukanlah model mahasiswa yang melulu membaca buku. Dia cukup aktif berkegiatan, bahkan tergabung dan aktif di organisasi Phi Delta Theta. Di organisasi inilah, Drew bertemu dengan Arash Ferdowsi, yang kelak bersama Drew akan menjadi pendiri Dropbox dan menjabat CTO.

Menulis Kode Saat Menunggu Bus

Dengan bakat yang dimilikinya, tak sulit bagi Drew untuk mendapatkan pekerjaan. Setelah lulus dari Jurusan Ilmu Komputer MIT, Drew terlibat pada beberapa perusahaan rintisan (startup), di antaranya Bit9, Accolade, dan Hubspot.

Puncaknya adalah ketika Drew tak lagi mencari pekerjaan, melainkan justru membuka lapangan pekerjaan bagi banyak orang, melalui startup yang didirikannya, yaitu Dropbox.

Kisah pendirian Dropbox tersebut bermula ketika Drew menunggu bus di sebuah halte, pada awal tahun 2007. Sebagaimana “orang TI” lainnya, Drew selalu membawa notebook. Menanti datangnya bus merupakan hal membosankan dan Drew mengisinya dengan bekerja menggunakan notebook-nya.

Saat menyalakan notebook-nya, barulah Drew menyadari bahwa data-data yang dibutuhkannya untuk bekerja tersimpan pada sebuah USB flash disk dan USB flash disk tersebut tertinggal di rumah.

“Karena demikian kecewanya karena tak bisa melanjutkan pekerjaan, saya sampai-sampai terbayang USB flash disk yang terletak di atas meja kerja saya di rumah, seolah USB flash disk tersebut ada di depan saya”, kenang Drew.

Lima belas menit pun berlalu dan Drew hanya bisa termangu. Kemudian naluri programmer-nya mulai “berbicara” dan mulailah Drew menulis kode program. Drew tak menyadari bahwa beberapa baris program yang ditulisnya selama menunggu bus di halte itulah yang akhirnya menjadi cikal bakal Dropbox.

Bisa ditebak, kode program yang ditulis Drew tersebut merupakan luapan rasa frustrasinya akibat USB flash disk yang seharusnya dibawa namun tertinggal. Drew mulai membayangkan, alangkah senangnya apabila data penting yang dibutuhkan untuk bekerja selalu ada bersamanya, meskipun dia harus berganti-ganti perangkat kerja. Konsep penyimpanan di awan (cloud) makin nyata tercetak di benaknya dan embrio Dropbox mulai terbentuk.

Tak banyak membuang waktu, hanya dalam hitungan bulan, Drew telah berkolaborasi dengan Arash Ferdowsi untuk membangun Dropbox. Saat itu Drew telah lulus dari MIT sedangkan Arash Ferdowsi sebenarnya telah mencapai semester terakhir kuliahnya. Namun demi proyek Dropbox, dia rela meninggalkan kuliahnya.

Mereka bekerja keras selama tiga bulan di sebuah kantor kecil di Cambridge. Jam kerja mereka dimulai siang hari hingga subuh hari berikutnya.

Ketika ditanya tentang situasi awal pendirian Dropbox, Drew menjawab, “Kami mengawali perusahaan kami dengan cara yang sama seperti orang lain mengawali perusahaan teknologi mereka. Kami bekerja di ruang sempit, berbaju santai, bahkan hanya bercelana pendek, dan kami terus menulis kode-kode program untuk membangun aplikasi yang akan menjadi produk kami.”

Pada bulan September 2007, Drew memindahkan kantor mereka ke San Fransisco. Kerja keras mereka mulai membuahkan hasil tatkala para investor mendengar tentang Dropbox dan mulai mendanai Dropbox. Para investor tersebut adalah Sequoia Capital, Accel Partners, Y Combinator, dan beberapa nama pribadi. Jumlah dana yang terkumpul secara total adalah 7,2 juta dollar AS. Drew mengakui bahwa titik ini merupakan sebuah batu loncatan penting dalam pengembangan Dropbox berikutnya.

Salah Satu Startup Terbaik

Namun titik tolak kesuksesan Dropbox yang sebenarnya diraih saat video tutorial penggunaan Dropbox yang diunggah di Digg menjadi viral. Di sinilah Dropbox mulai dikenal oleh banyak orang dan mulai banyak yang tertarik untuk menggunakannya. Saat itu Dropbox masih berstatus beta dan berkat video viral di Digg tersebut, jumlah orang yang hendak mencoba Dropbox melonjak dari hanya 5.000 orang menjadi 75.000 orang.

Salah satu kegemilangan Drew dalam melambungkan Dropbox adalah konsep referral yang ditawarkannya. Pengguna Dropbox yang mereferensikan orang lain untuk juga menggunakan Dropbox akan mendapatkan tambahan ruang simpan dalam jumlah tertentu. Ini menjadi sarana promosi yang relatif murah namun efektif.

Berkat prestasi yang diraihnya tersebut, Drew mendapatkan banyak penghargaan. Business Week menganugerahkan gelar kepada Drew sebagai salah satu orang paling berbakat di dunia teknologi informasi. Inc.com menyebut Drew sebagai salah satu pengusaha terbaik di bawah usia tiga puluh tahun (saat itu). Dropbox sendiri disebut sebagai salah satu startup terbaik di area San Fransisco.

Meski meraih sukses di usia yang masih sangat muda, tampan pula, tak membuat Drew tinggi hati. Dia selalu bersikap rendah hati dan bahkan selalu menyebut nama Arash Ferdowsi sebagai orang yang sangat berjasa baginya.

Saat ini Drew baru berusia 33 tahun dan kekayaannya ditaksir sekitar satu miliar dolar AS. Ada yang berminat menjadikannya menantu? Jika ya, sayang sekali sepertinya peluang itu kecil karena Drew telah menjalin relasi serius dengan CeCe Cheng, seorang staf humas Qwiki.

Contoh desain kartu ucapan Lebaran Bahasa Indonesia di Canva.

Bertepatan dengan momen menjelang Hari Raya Lebaran, situs penyedia desain grafis online Canva mengumumkan kehadirannya di pasar Indonesia.

Saat ini, Canva menawarkan jutaan desain poster, brosur, infografis, media sosial, dan kartu ucapan, baik yang gratis maupun berbayar, yang tersedia dalam versi lokal berbahasa Indonesia. Bahkan, Canva sudah menyiapkan ratusan desain template kartu ucapan Lebaran khusus bagi para pengguna di Indonesia.

Dalam waktu dekat, Canva juga akan meluncurkan inisiatif dan template baru untuk Hari Kemerdekaan Republik Indonesia dan Idul Adha.

“Lebaran merupakan momentum yang sangat penting di Indonesia. Inilah alasan kami meluncurkan Canva di Indonesia dengan ratusan template yang bisa disesuaikan dengan tema perayaan Lebaran untuk melayani bisnis kecil hingga menengah, pemasar digital, dan keluarga,” kata Andrianes Pinantoan (Head of Growth, Canva International) dalam keterangan pers.

Canva sendiri sudah menerjemahkan platformnya ke dalam Bahasa Indonesia sejak sembilan bulan yang lalu. Hasilnya, lebih dari 100.000 pengguna di Indonesia telah terdaftar di Canva dengan lebih dari 3.500.000 desain yang telah dibuat. Menariknya, separuh dari seluruh desain yang ada dibuat di Jakarta. Karena itu, Canva memandang Indonesia sebagai salah satu pasar dengan potensi yang luar biasa.

“Kami akan berinvestasi dalam hal pemasaran lokal, pengembangan bisnis, kemitraan, dan menyesuaikan produk kami di Indonesia dengan tujuan memperkenalkan Canva pada pemasar media sosial, blogger, dan UKM, serta memberdayakan mereka untuk membuat desain cantik milik mereka sendiri,” lanjut Andrianes.

Peluncuran di Indonesia merupakan bagian dari promosi internasional besar-besaran Canva dengan lebih dari 25 bahasa dalam 12 bulan terakhir. Pengguna dapat mengakses Canva melalui desktop, iPad, dan iPhone, dengan aplikasi Android yang akan dirilis pada akhir tahun 2017.

Canva didirikan oleh Melanie Perkins, Cliff Obrecht, dan Cameron Adams di Australia pada tahun 2012. Sekarang startup ini bernilai US$345 juta dengan portofolio investor mencakup Felicis Ventures, Blackbird Ventures, Matrix Partners, serta dua aktor Hollywood, Owen Wilson dan Woody Harrelson.

Autoruns adalah aplikasi untuk melihat berbagai item yang dijalankan secara otomatis saat Windows 10 melakukan startup. Autoruns ini menawarkan hasil yang lebih terperinci dibandingkan menggunakan System Configuration yang disertakan oleh Windows 10.

Aplikasi yang bisa diunduh di https://goo.gl/r4QSC4 ini akan mengelompokkan temuannya ke dalam berbagai kategori dalam bentuk tab. Ada dua puluh tab yang secara default dihadirkan, mulai dari Logon, Explorer, Services, Drivers, KnownDLL, sampai Office. Jika ingin melihat seluruh temuan secara sekaligus, tersedia tab Everything. Namun, bila temuannya banyak, isi dari tab Everything ini akan sangat ramai. Jika sudah begitu, lebih baik melihat per kategori.

Untuk setiap item yang ditemukan, Autoruns memberikan informasi mengenai lokasi file bersangkutan dan informasi lainnya seperti entry pada Windows Registry maupun pada Task Scheduler. Anda pun bisa langsung masuk ke Windows Registry maupun pada Task Scheduler itu. Jika ada item yang ingin diketahui informasinya lebih lanjut, tersedia pula opsi untuk mencarinya di internet.

Tidak sekadar melihat item yang dijalankan secara otomatis, melalui aplikasi gratis ini Anda juga bisa membuat item tersebut untuk tidak lagi dijalankan secara otomatis. Namun, ada baiknya Anda berhati-hati memilih item yang hendak dinonaktifkan. Jangan sampai Windows 10 yang digunakan menjadi terganggu.

Jay-Z jadi investor startup Tidal

Jay-Z (rapper, penyanyi dan pencipta lagu) menjadi investor dan membuat firma pendanaan untuk beberapa perusahaan rintisan (start-up). Suami Beyonce Knowles itu pun menggandeng Jay Brown (co-founder Roc Nation).

Jay-Z dan Jay Brown akan fokus untuk melakukan seed investments kepada startup berusia muda. Keduanya akan mendapat bantuan dari Sherpa Capital, firma yang dibentuk oleh sejumlah investor awal Uber.

Sebelumnya, Jay-Z juga menjadi investor Uber pada 2011. Selain Uber, Jay-Z juga mengucurkan dana ke JetSmarter, sebuah startup yang menawarkan layanan penerbangan mewah.

Tak hanya itu, Jay-Z bahkan memiliki layanan streaming musik bernama Tidal dan mengajak sejumlah musisi lainnya seperti Kanye West, Beyonce, Chris Martin, dan Jack White untuk masuk dalam daftar pemilik Tidal.

Istrinya, Beyonce, juga telah menjadi investor untuk sebuah startup bernama Sidestep. Bahkan, Beyonce telah menggelontorkan dana sebanyak US$ 150.000 atau sekitar Rp1,9 miliar seperti dilansir Tech Crunch.

Sidestep sendiri merupakan pembesut aplikasi dengan nama yang sama dan menjual perlengkapan dan tiket konser.

Aplikasi Practo.

Daripada mengantre yang memakan waktu berjam-jam untuk mendapatkan penanganan dokter di rumah sakit, membuat janji bertemu dengan dokter dan datang tepat waktu dinilai lebih efisien. Pasien pun bisa menggantikan waktu yang terbuang untuk mengantre dengan kegiatan lain yang lebih penting.

Idealnya, teknologi memang bisa mempermudah hidup manusia. Di segmen kesehatan misalnya, hadirnya aplikasi kesehatan diharapkan mampu meningkatkan usia manusia berkat kemudahan layanan yang ditawarkan. Salah satu aplikasi yang ada saat ini adalah Practo.

Aplikasi kesehatan yang hadir sejak 2013 silam ini diklaim mampu melayani semua jenis kebutuhan untuk layanan kesehatan, meliputi pembuatan janji, konsultasi dokter online, tes kesehatan, hingga pemesanan obat-obatan. Namun di sisi lain, Practo juga membuat software layanan kesehatan untuk klinik hingga rumah sakit.

Model yang dirintis Practo adalah disruptive healthcare hyperloop yang mentransformasi pasar layanan kesehatan dengan menggabungkan permintaan konsumen, serta menghubungkannya dengan para penyedia layanan kesehatan yang menyediakan perawatan kesehatan berkualitas.

Shashank ND (CEO dan Pendiri Practo) yakin bahwa layanan kesehatan tidak bekerja dalam satu silo. Ia menyebut, disruption sesungguhnya hanya mungkin terjadi jika solusi disediakan untuk seluruh proses layanan kesehatan konsumen.

Jangkau Lima Belas Negara

Layaknya startup lainnya, Practo juga memperoleh investasi. Pada tahun 2015, tepatnya Februari, startup yang berbasis di Bengaluru, India ini menerima investasi putaran Seri B sebesar US$30 juta. Sementara pada bulan Agustus 2015, mereka menerima pendanaan putaran ketiga sebesar US$90 juta dari Tencent, Sofina, Sequoia India, Google Capital, Altimeter Capital, Matrix Partners, Sequoia Capital Global Equities, dan Yuri Milner.

Terakhir, pada Januari 2017 lalu, Practo baru saja menerima pendanaan Seri D sebesar US$55 juta yang dipimpin oleh Tencent Holdings Ltd. serta ru-net, RSI Fund, dan Thrive Capital.

Hingga artikel ini ditulis, Shashank menyebut, Practo telah melayani 40 juta janji pertemuan per tahun dan menghubungkan jutaan pasien dengan lebih dari 200 ribu penyedia layanan kesehatan, 10 ribu rumah sakit, lebih dari 8.000 pusat diagnostik dan 4.000 pusat kebugaran dan kesehatan di lebih dari 50 kota dan 15 negara di seluruh dunia. Di India sendiri, Practo telah merambah 35 kota dan akan segera diperluas hingga 100 kota.

Di Indonesia, Practo resmi melenggang pada September 2015. Di tahun itu pula, aplikasi yang bisa diakses di iOS dan Android ini mengakuisisi Fitho (April 2015), Genii (Juli 2015), Insta Health (September 2015) dan Qikwell (September 2015).

Shashank menyebut, Practo menawarkan beberapa layanan. Di Indonesia sendiri, Practo Search menjadi layanan yang paling digemari. “Kami melihat adopsi yang sangat besar,” sebutnya. Salah satu strategi yang juga menjadi keunggulan Practo adalah database dokter yang lengkap. “Kami mendaftarkan semua dokter secara gratis dan kami tidak mengenakan biaya kepada pasien untuk membuat janji atau sebaliknya bagi dokter yang menerima janji bertemu dengan pasien,” tutur Shashank.

Namun, tidak semua dokter dapat diterima Practo. Pasalnya Practo juga melakukan verifikasi informasi yang ketat meliputi kualifikasi, spesialisasi, dan rincian lisensi medis. Jadi, dokter hanya bisa terdaftar dalam Practo setelah melewati jalur verifikasi ini.

Shashank ND (Pendiri dan CEO, Practo).

Lima Jalur Monetisasi

Dalam menjalankan bisnisnya, Shashank menyebut Practo memiliki lima jalur monetizing, meliputi: Practo Ray (dokter dan klinik membayar untuk manajemen digital mereka dan dikelola secara cloud, sebanyak 90 persen pangsa pasar Practo ada di sini), Qikwell by Practo (pengelolaan departemen rawat jalan bagi rumah sakit), Insta by Practo (solusi HIMS rumah sakit), Practo tab (solusi hardware yang dipasangkan dengan Practo Ray untuk manajemen klinik), dan Practo Search (hyper local yang menargetkan platform iklan bagi RS dan sejenisnya, kecuali dokter, untuk mengiklankan layanan ini kepada konsumen yang relevan).

Khusus di Indonesia, Shashank melihat respons yang fenomenal di pasar Indonesia. Ia menyebut ada kesempatan besar untuk menghadirkan layanan kesehatan yang lebih baik bagi sertaus juta jiwa. Para konsumen pun memiliki akses ke lebih dari enam ribu dokter (sebanyak 75% dari semua klinik yang ada di DKI Jakarta). Practo juga telah melebarkan layanannya ke luar Jakarta, meliputi Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi.

Bidik Segmen Enterprise

Practo berencana dalam dua belas bulan mendatang akan terus berfokus pada segmen enterprise. Shashank menyebut, mereka melihat permintaan yang sangat tinggi akan produk-produk software, hardware dan pemasaran.

“Ekspansi kami akan berlanjut, baik di India maupun secara internasional. Kami ingin meningkatkan ekspansi geografis, jejak kami akan meluas dari saat ini di 50+ kota dan 15 negara, ke lebih dari 100 kota-kota di India dan lebih banyak negara di seluruh Asia Tenggara, Amerika Latin, Timur Tengah dan Eropa Timur,” beber Shashank.

Lebih jauh, Shashank juga menyebut Practo akan mengakuisisi lebih banyak teknologi futuristik, seperti pembelajaran mesin, teknologi genom, kesehatan dan kebugaran. Ia pun membayangkan sebuah dunia di mana teknologi akan memberikan dampak pada bidang kesehatan.

Ilustrasi aplikasi kesehatan.

Namun tentu saja untuk melaksanakan misinya tersebut, Shashank menyebut Practo tak lepas dari tantangan. Selain memecahkan permasalahan pasien, Practo pun harus membantu para dokter menuju ke ranah digital. Salah satu strategi mereka adalah dengan mempromosikan Practo Ray yang digunakan oleh dokter untuk mengelola jutaan pasien setiap tahunnya.

Tantangan lainnya adalah membantu konsumen mencari tahu siapa dokter yang tepat bagi mereka. Biasanya, masyarakat mengandalkan informasi dari mulut ke mulut untuk menemukan dokter yang tepat. Dengan produk Practo Search, konsumen dapat menemukan dokter, membaca rinci informasi termasuk jumlah tahun pengalaman, kualifikasi, spesialisasi dan bahkan melihat foto klinik untuk mencari tahu klinik mana yang akan mereka kunjungi.

Kini dengan jumlah karyawan yang mencapai dua ribu lebih, Shashank berharap Practo dapat segera memperluas penawarannya untuk mencakup lebih banyak segmen kesehatan lainnya seperti kesehatan, kebugaran, farmasi, pencegahan dan pengobatan medis. Diharapkan Practo dapat menjadi satu-satunya aplikasi go-to untuk kebutuhan kesehatan.

Ikin Wirawan (kiri) bersama Dhony Rahajoe (kanan) meresmikan grand opening GeeksFarm dan WGS Hub di The Breeze, BSD City (8/2/2017)

Sinar Mas Land, salah satu pengembang properti terkemuka di Indonesia meresmikan grand opening GeeksFarm dan WGS Hub di The Breeze, BSD City.

Kehadiran WGS Hub dan GeeksFarm ini merupakan kolaborasi antara PT Walden Global Services (WGS) yang bergerak di bidang perangkat lunak (software) dan PT Digital Creative Indonesia, perusahaan game center yang fokus pada komunitas.

Berangkat dari permasalahan yang biasa dihadapi para pebisnis dalam bidang teknologi, seperti sulitnya mencari apps developer maupun software house berkualitas, serta kesulitan mendapatkan partner startup digital, menjadi landasan bagi WGS Hub yang hadir sebagai sebuah konsep lokasi retail fisik pertama di Indonesia.

Kawasan The Breeze di BSD City pun dipilih sebagai tempat yang menggunakan tagline ‘Software, Services, Startups’ ini untuk menyediakan berbagai solusi di bidang teknologi dan startup bagi para masyarakat dan juga pebisnis.

Dhony Rahajoe (Managing Director President Office, Sinar Mas Land) mengungkapkan jika Sinar Mas Land menyambut kehadiran WGS Hub dan GeeksFarm di BSD City, karena saat ini kawasan BSD City sedang bertransformasi menjadi integrated smart digital city.

Dhony menyebut, salah satu proyek Sinar Mas Land adalah Digital Hub, yakni sebuah kawasan yang khusus dikembangkan bagi para pengembang industri teknologi digital, mulai dari perusahaan start-up, technology leaders, hingga komunitas-komunitas digital.

Digital Hub juga diperuntukkan untuk researcher, ilmuwan STEM (Science, Technology, Engineer and Math) serta inovator di bidang Smart System dan Technology. Meski sempat menyinggung integrated smart digital city ini bisa menjadi Sillicon Valley di BSD City, namun Dhony menegaskan jika hal itu masih berupa asa.

Tentunya keberadaan WGS Hub dan GeeksFarm yang pertama dan mengambil tempat di area Mall The Breeze BSD City merupakan bagian dari ekosistem Digital Hub, dan diharapkan seluruh bagian ekosistem tersebut bisa saling bekerja sama ke depannya.

Adapun layanan yang ditawarkan WGS Hub dan GeeksFarm di antaranya:

  1. Program akselerasi untuk perusahaan yang mau meluncurkan startup
  2. Pelatihan programming untuk anak berusia 8-15 tahun setiap hari Sabtu
  3. Bekerja sama dengan sejumlah pelaku startup, meluncurkan startup school berdurasi 2 bulan
  4. Recruitment programmer untuk in-house karyawan perusahaan
  5. Jasa programming yang sudah dipaket secara sederhana
  6. Website, e-commerce, apps, software berbasis cloud
  7. Sebagai bagian dari CSR, GeeksFarm juga melatih gratis anak 18 tahun ke atas yang tidak mampu melanjutkan kuliah untuk menjadi programmer, dan menempatkan mereka bekerja di perusahaan klien.

Sementara itu Ikin Wirawan (Chairman & Founder, PT WGS) berencana mereplikasi WGS Hub di banyak lokasi, baik di Indonesia dan di luar negeri. “..sehingga tidak hanya kita bisa mempercepat perkembangan teknologi informasi di kalangan bisnis di seluruh Indonesia, kita juga menciptakan lapangan kerja dan bisa ekspor kemampuan TI Indonesia ke luar negeri,” tutur Ikin.

Untuk ke depannya, WGS Hub direncanakan hadir juga di berbagai kota besar di Indonesia, seperti Surabaya, Semarang, dan Medan.

TERBARU

Apple memulai penjualan perdana iPhone 8 mulai hari ini. Namun, berbeda dibandingkan dengan pendahulunya, iPhone 8 tergolong sepi pembeli. Di Australia, hanya ada kurang dari 30 orang yang mengantre di depan toko resmi Apple pagi ini.