Tags Posts tagged with "startup"

startup

Ilustrasi kantor SoundCloud

Perusahaan layanan streaming musik SoundCloud telah merumahkan sebanyak 173 karyawan atau sekitar 40 persen dari total karyawannya. Tak hanya itu, SoundCloud juga menutup dua kantor di London dan San Francisco sebagai upaya efisiesi perusahaan.

SoundCloud masih akan melanjutkan operasional di Berlin dan New York. Saat ini SoundCloud memiliki basis pengguna sebanyak 175 juta pengguna di 190 negara. Namun, jumlah pelanggannya mulai tergerus oleh Spotify, Apple Music, Amazon Prime, dan Pandora.

“Dengan mengurangi biaya dan melanjutkan pertumbuhan pendapatan, kami berada di jalur menuju profitabilitas dan mengendalikan masa depan SoundCloud,” kata Alexander Ljung (CEO SoundCloud) dalam emailnya kepada para staff seperti dikutip TechCrunch.

SoundCloud memang sedang menghadapi masalah pelik yaitu masalah profit, model bisnis, ketersediaan akun premium dan perusahaan sering menggunakan fasilitas mahal, termasuk kantor mewah di dunia. Belum lagi, SoundCloud tidak memiliki cukup dana untuk menutup utang-utang di periode sebelumnya.

SoundCloud sendiri telah melakukan banyak hal untuk menjaring keuntungan. Saat ini, mereka berfokus pada pelanggan yang mengakses konten premium dan memiliki tingkatan khusus untuk pencipta konten dan iklan.

Sayangnya, SoundCloud tidak mengungkapkan berapa banyak pengguna premium atau seberapa besar iklan berkontribusi untuk perusahaan. Sebenarnya, Twitter dan Spotify berencana mengakuisisi SoundCloud tetapi sayang proses itu tidak kunjung rampung.

Spotify sendiri memiliki 140 juta pengguna, 50 juta di antaranya membayar langganan, dan Apple Music memiliki 27 juta pengguna berbayar. Amazon tidak melaporkan berapa banyak orang yang menggunakan layanan “Prime Music“-nya.

Drew Houston (CEO, Dropbox]). [Kredit: Sportsfile (Web Summit)/Flickr,

Ketika Dropbox hadir, banyak orang mulai memahami apa itu teknologi cloud computing.

Meskipun Dropbox bukanlah pionir (dan bentuk layanan Dropbox sendiri hanya mencakup sebagian saja dari teknologi cloud computing), popularitas layanan ini ternyata cukup kuat untuk mempopulerkan dan membuka wawasan banyak orang tentang teknologi dan layanan cloud, selain tentunya mempopulerkan dirinya sendiri.

Suksesnya Dropbox tentulah berkat aksi tangan dingin orang-orang yang ada di baliknya. Salah satunya, siapa lagi jika bukan Drew Houston, sang CEO.

Drew Houston terlahir dengan nama lengkap Andrew W. Houston, pada tanggal 4 Maret 1983, di Acton, Massachusetts. Drew cukup beruntung memiliki keluarga yang telah mengenal teknologi. Ayah Drew adalah seorang insinyur elektronika jebolan Universitas Harvard.

Sebagai seorang ahli elektronika, tentunya ayah Drew memahami benar bahwa di masa depan komputer dan barang elektronik lainnya akan menjadi peranti yang sangat dibutuhkan umat manusia. Karena itu, sang ayah tak ragu merogoh koceknya untuk membelikan Drew seperangkat komputer.

Sudah tentu Drew girang bukan kepalang. Sebagai seorang anak laki-laki, sudah sangat lumrah juga jika kemudian Drew gemar bermain game dengan komputer yang dibelikan ayahnya tersebut.

Berkenalan dengan BASICA

Ketertarikan Drew tak berhenti hingga pada permainan game saja namun lambat laun dia juga mulai penasaran dengan program yang menyusun game tersebut.

Dan mulailah, Drew berkenalan dengan BASICA, bahasa pemrograman yang menjadi tulang punggung game yang dia mainkan. Kebetulan BASICA memang pada saat itu merupakan bahasa pemrograman yang cukup populer karena hampir semua komputer PC yang ada di pasaran dipastikan memiliki ROM BASICA di dalamnya.

Tak puas hanya sekadar mempelajari BASICA, Drew mulai “menjajah” komputer ayahnya dan belajar bahasa pemrograman C. Di komputer ayahnya tersebut, Drew mulai mengenal pengalaman baru, yaitu bermain game secara online dan mendaftar di salah satu penyedia layanan online gaming.

Barangkali karena sudah terlatih membongkar kode-kode program, Drew menemukan sebuah celah keamanan pada layanan online gaming yang diikutinya dan melaporkan hal tersebut pada perusahaan pengembang game tersebut.

Tindakan Drew ini mendapat respons positif dari perusahaan game tersebut, bahkan Drew ditawari untuk bekerja di sana. Padahal, usianya saat itu baru empat belas tahun. Tidak jelas apakah akhirnya Drew menerima tawaran tersebut atau tidak.

Bakat pemrograman Drew terasah dengan cepat dan dengan pertimbangan itu, selepas lulus SMA di Acton Boxborough Regional High School, Drew memutuskan untuk mendalami ilmu komputer di Massachusetts Institute of Technology (MIT).

Di kampus ini, Drew bukanlah model mahasiswa yang melulu membaca buku. Dia cukup aktif berkegiatan, bahkan tergabung dan aktif di organisasi Phi Delta Theta. Di organisasi inilah, Drew bertemu dengan Arash Ferdowsi, yang kelak bersama Drew akan menjadi pendiri Dropbox dan menjabat CTO.

Menulis Kode Saat Menunggu Bus

Dengan bakat yang dimilikinya, tak sulit bagi Drew untuk mendapatkan pekerjaan. Setelah lulus dari Jurusan Ilmu Komputer MIT, Drew terlibat pada beberapa perusahaan rintisan (startup), di antaranya Bit9, Accolade, dan Hubspot.

Puncaknya adalah ketika Drew tak lagi mencari pekerjaan, melainkan justru membuka lapangan pekerjaan bagi banyak orang, melalui startup yang didirikannya, yaitu Dropbox.

Kisah pendirian Dropbox tersebut bermula ketika Drew menunggu bus di sebuah halte, pada awal tahun 2007. Sebagaimana “orang TI” lainnya, Drew selalu membawa notebook. Menanti datangnya bus merupakan hal membosankan dan Drew mengisinya dengan bekerja menggunakan notebook-nya.

Saat menyalakan notebook-nya, barulah Drew menyadari bahwa data-data yang dibutuhkannya untuk bekerja tersimpan pada sebuah USB flash disk dan USB flash disk tersebut tertinggal di rumah.

“Karena demikian kecewanya karena tak bisa melanjutkan pekerjaan, saya sampai-sampai terbayang USB flash disk yang terletak di atas meja kerja saya di rumah, seolah USB flash disk tersebut ada di depan saya”, kenang Drew.

Lima belas menit pun berlalu dan Drew hanya bisa termangu. Kemudian naluri programmer-nya mulai “berbicara” dan mulailah Drew menulis kode program. Drew tak menyadari bahwa beberapa baris program yang ditulisnya selama menunggu bus di halte itulah yang akhirnya menjadi cikal bakal Dropbox.

Bisa ditebak, kode program yang ditulis Drew tersebut merupakan luapan rasa frustrasinya akibat USB flash disk yang seharusnya dibawa namun tertinggal. Drew mulai membayangkan, alangkah senangnya apabila data penting yang dibutuhkan untuk bekerja selalu ada bersamanya, meskipun dia harus berganti-ganti perangkat kerja. Konsep penyimpanan di awan (cloud) makin nyata tercetak di benaknya dan embrio Dropbox mulai terbentuk.

Tak banyak membuang waktu, hanya dalam hitungan bulan, Drew telah berkolaborasi dengan Arash Ferdowsi untuk membangun Dropbox. Saat itu Drew telah lulus dari MIT sedangkan Arash Ferdowsi sebenarnya telah mencapai semester terakhir kuliahnya. Namun demi proyek Dropbox, dia rela meninggalkan kuliahnya.

Mereka bekerja keras selama tiga bulan di sebuah kantor kecil di Cambridge. Jam kerja mereka dimulai siang hari hingga subuh hari berikutnya.

Ketika ditanya tentang situasi awal pendirian Dropbox, Drew menjawab, “Kami mengawali perusahaan kami dengan cara yang sama seperti orang lain mengawali perusahaan teknologi mereka. Kami bekerja di ruang sempit, berbaju santai, bahkan hanya bercelana pendek, dan kami terus menulis kode-kode program untuk membangun aplikasi yang akan menjadi produk kami.”

Pada bulan September 2007, Drew memindahkan kantor mereka ke San Fransisco. Kerja keras mereka mulai membuahkan hasil tatkala para investor mendengar tentang Dropbox dan mulai mendanai Dropbox. Para investor tersebut adalah Sequoia Capital, Accel Partners, Y Combinator, dan beberapa nama pribadi. Jumlah dana yang terkumpul secara total adalah 7,2 juta dollar AS. Drew mengakui bahwa titik ini merupakan sebuah batu loncatan penting dalam pengembangan Dropbox berikutnya.

Salah Satu Startup Terbaik

Namun titik tolak kesuksesan Dropbox yang sebenarnya diraih saat video tutorial penggunaan Dropbox yang diunggah di Digg menjadi viral. Di sinilah Dropbox mulai dikenal oleh banyak orang dan mulai banyak yang tertarik untuk menggunakannya. Saat itu Dropbox masih berstatus beta dan berkat video viral di Digg tersebut, jumlah orang yang hendak mencoba Dropbox melonjak dari hanya 5.000 orang menjadi 75.000 orang.

Salah satu kegemilangan Drew dalam melambungkan Dropbox adalah konsep referral yang ditawarkannya. Pengguna Dropbox yang mereferensikan orang lain untuk juga menggunakan Dropbox akan mendapatkan tambahan ruang simpan dalam jumlah tertentu. Ini menjadi sarana promosi yang relatif murah namun efektif.

Berkat prestasi yang diraihnya tersebut, Drew mendapatkan banyak penghargaan. Business Week menganugerahkan gelar kepada Drew sebagai salah satu orang paling berbakat di dunia teknologi informasi. Inc.com menyebut Drew sebagai salah satu pengusaha terbaik di bawah usia tiga puluh tahun (saat itu). Dropbox sendiri disebut sebagai salah satu startup terbaik di area San Fransisco.

Meski meraih sukses di usia yang masih sangat muda, tampan pula, tak membuat Drew tinggi hati. Dia selalu bersikap rendah hati dan bahkan selalu menyebut nama Arash Ferdowsi sebagai orang yang sangat berjasa baginya.

Saat ini Drew baru berusia 33 tahun dan kekayaannya ditaksir sekitar satu miliar dolar AS. Ada yang berminat menjadikannya menantu? Jika ya, sayang sekali sepertinya peluang itu kecil karena Drew telah menjalin relasi serius dengan CeCe Cheng, seorang staf humas Qwiki.

Contoh desain kartu ucapan Lebaran Bahasa Indonesia di Canva.

Bertepatan dengan momen menjelang Hari Raya Lebaran, situs penyedia desain grafis online Canva mengumumkan kehadirannya di pasar Indonesia.

Saat ini, Canva menawarkan jutaan desain poster, brosur, infografis, media sosial, dan kartu ucapan, baik yang gratis maupun berbayar, yang tersedia dalam versi lokal berbahasa Indonesia. Bahkan, Canva sudah menyiapkan ratusan desain template kartu ucapan Lebaran khusus bagi para pengguna di Indonesia.

Dalam waktu dekat, Canva juga akan meluncurkan inisiatif dan template baru untuk Hari Kemerdekaan Republik Indonesia dan Idul Adha.

“Lebaran merupakan momentum yang sangat penting di Indonesia. Inilah alasan kami meluncurkan Canva di Indonesia dengan ratusan template yang bisa disesuaikan dengan tema perayaan Lebaran untuk melayani bisnis kecil hingga menengah, pemasar digital, dan keluarga,” kata Andrianes Pinantoan (Head of Growth, Canva International) dalam keterangan pers.

Canva sendiri sudah menerjemahkan platformnya ke dalam Bahasa Indonesia sejak sembilan bulan yang lalu. Hasilnya, lebih dari 100.000 pengguna di Indonesia telah terdaftar di Canva dengan lebih dari 3.500.000 desain yang telah dibuat. Menariknya, separuh dari seluruh desain yang ada dibuat di Jakarta. Karena itu, Canva memandang Indonesia sebagai salah satu pasar dengan potensi yang luar biasa.

“Kami akan berinvestasi dalam hal pemasaran lokal, pengembangan bisnis, kemitraan, dan menyesuaikan produk kami di Indonesia dengan tujuan memperkenalkan Canva pada pemasar media sosial, blogger, dan UKM, serta memberdayakan mereka untuk membuat desain cantik milik mereka sendiri,” lanjut Andrianes.

Peluncuran di Indonesia merupakan bagian dari promosi internasional besar-besaran Canva dengan lebih dari 25 bahasa dalam 12 bulan terakhir. Pengguna dapat mengakses Canva melalui desktop, iPad, dan iPhone, dengan aplikasi Android yang akan dirilis pada akhir tahun 2017.

Canva didirikan oleh Melanie Perkins, Cliff Obrecht, dan Cameron Adams di Australia pada tahun 2012. Sekarang startup ini bernilai US$345 juta dengan portofolio investor mencakup Felicis Ventures, Blackbird Ventures, Matrix Partners, serta dua aktor Hollywood, Owen Wilson dan Woody Harrelson.

Autoruns adalah aplikasi untuk melihat berbagai item yang dijalankan secara otomatis saat Windows 10 melakukan startup. Autoruns ini menawarkan hasil yang lebih terperinci dibandingkan menggunakan System Configuration yang disertakan oleh Windows 10.

Aplikasi yang bisa diunduh di https://goo.gl/r4QSC4 ini akan mengelompokkan temuannya ke dalam berbagai kategori dalam bentuk tab. Ada dua puluh tab yang secara default dihadirkan, mulai dari Logon, Explorer, Services, Drivers, KnownDLL, sampai Office. Jika ingin melihat seluruh temuan secara sekaligus, tersedia tab Everything. Namun, bila temuannya banyak, isi dari tab Everything ini akan sangat ramai. Jika sudah begitu, lebih baik melihat per kategori.

Untuk setiap item yang ditemukan, Autoruns memberikan informasi mengenai lokasi file bersangkutan dan informasi lainnya seperti entry pada Windows Registry maupun pada Task Scheduler. Anda pun bisa langsung masuk ke Windows Registry maupun pada Task Scheduler itu. Jika ada item yang ingin diketahui informasinya lebih lanjut, tersedia pula opsi untuk mencarinya di internet.

Tidak sekadar melihat item yang dijalankan secara otomatis, melalui aplikasi gratis ini Anda juga bisa membuat item tersebut untuk tidak lagi dijalankan secara otomatis. Namun, ada baiknya Anda berhati-hati memilih item yang hendak dinonaktifkan. Jangan sampai Windows 10 yang digunakan menjadi terganggu.

Jay-Z jadi investor startup Tidal

Jay-Z (rapper, penyanyi dan pencipta lagu) menjadi investor dan membuat firma pendanaan untuk beberapa perusahaan rintisan (start-up). Suami Beyonce Knowles itu pun menggandeng Jay Brown (co-founder Roc Nation).

Jay-Z dan Jay Brown akan fokus untuk melakukan seed investments kepada startup berusia muda. Keduanya akan mendapat bantuan dari Sherpa Capital, firma yang dibentuk oleh sejumlah investor awal Uber.

Sebelumnya, Jay-Z juga menjadi investor Uber pada 2011. Selain Uber, Jay-Z juga mengucurkan dana ke JetSmarter, sebuah startup yang menawarkan layanan penerbangan mewah.

Tak hanya itu, Jay-Z bahkan memiliki layanan streaming musik bernama Tidal dan mengajak sejumlah musisi lainnya seperti Kanye West, Beyonce, Chris Martin, dan Jack White untuk masuk dalam daftar pemilik Tidal.

Istrinya, Beyonce, juga telah menjadi investor untuk sebuah startup bernama Sidestep. Bahkan, Beyonce telah menggelontorkan dana sebanyak US$ 150.000 atau sekitar Rp1,9 miliar seperti dilansir Tech Crunch.

Sidestep sendiri merupakan pembesut aplikasi dengan nama yang sama dan menjual perlengkapan dan tiket konser.

Aplikasi Practo.

Daripada mengantre yang memakan waktu berjam-jam untuk mendapatkan penanganan dokter di rumah sakit, membuat janji bertemu dengan dokter dan datang tepat waktu dinilai lebih efisien. Pasien pun bisa menggantikan waktu yang terbuang untuk mengantre dengan kegiatan lain yang lebih penting.

Idealnya, teknologi memang bisa mempermudah hidup manusia. Di segmen kesehatan misalnya, hadirnya aplikasi kesehatan diharapkan mampu meningkatkan usia manusia berkat kemudahan layanan yang ditawarkan. Salah satu aplikasi yang ada saat ini adalah Practo.

Aplikasi kesehatan yang hadir sejak 2013 silam ini diklaim mampu melayani semua jenis kebutuhan untuk layanan kesehatan, meliputi pembuatan janji, konsultasi dokter online, tes kesehatan, hingga pemesanan obat-obatan. Namun di sisi lain, Practo juga membuat software layanan kesehatan untuk klinik hingga rumah sakit.

Model yang dirintis Practo adalah disruptive healthcare hyperloop yang mentransformasi pasar layanan kesehatan dengan menggabungkan permintaan konsumen, serta menghubungkannya dengan para penyedia layanan kesehatan yang menyediakan perawatan kesehatan berkualitas.

Shashank ND (CEO dan Pendiri Practo) yakin bahwa layanan kesehatan tidak bekerja dalam satu silo. Ia menyebut, disruption sesungguhnya hanya mungkin terjadi jika solusi disediakan untuk seluruh proses layanan kesehatan konsumen.

Jangkau Lima Belas Negara

Layaknya startup lainnya, Practo juga memperoleh investasi. Pada tahun 2015, tepatnya Februari, startup yang berbasis di Bengaluru, India ini menerima investasi putaran Seri B sebesar US$30 juta. Sementara pada bulan Agustus 2015, mereka menerima pendanaan putaran ketiga sebesar US$90 juta dari Tencent, Sofina, Sequoia India, Google Capital, Altimeter Capital, Matrix Partners, Sequoia Capital Global Equities, dan Yuri Milner.

Terakhir, pada Januari 2017 lalu, Practo baru saja menerima pendanaan Seri D sebesar US$55 juta yang dipimpin oleh Tencent Holdings Ltd. serta ru-net, RSI Fund, dan Thrive Capital.

Hingga artikel ini ditulis, Shashank menyebut, Practo telah melayani 40 juta janji pertemuan per tahun dan menghubungkan jutaan pasien dengan lebih dari 200 ribu penyedia layanan kesehatan, 10 ribu rumah sakit, lebih dari 8.000 pusat diagnostik dan 4.000 pusat kebugaran dan kesehatan di lebih dari 50 kota dan 15 negara di seluruh dunia. Di India sendiri, Practo telah merambah 35 kota dan akan segera diperluas hingga 100 kota.

Di Indonesia, Practo resmi melenggang pada September 2015. Di tahun itu pula, aplikasi yang bisa diakses di iOS dan Android ini mengakuisisi Fitho (April 2015), Genii (Juli 2015), Insta Health (September 2015) dan Qikwell (September 2015).

Shashank menyebut, Practo menawarkan beberapa layanan. Di Indonesia sendiri, Practo Search menjadi layanan yang paling digemari. “Kami melihat adopsi yang sangat besar,” sebutnya. Salah satu strategi yang juga menjadi keunggulan Practo adalah database dokter yang lengkap. “Kami mendaftarkan semua dokter secara gratis dan kami tidak mengenakan biaya kepada pasien untuk membuat janji atau sebaliknya bagi dokter yang menerima janji bertemu dengan pasien,” tutur Shashank.

Namun, tidak semua dokter dapat diterima Practo. Pasalnya Practo juga melakukan verifikasi informasi yang ketat meliputi kualifikasi, spesialisasi, dan rincian lisensi medis. Jadi, dokter hanya bisa terdaftar dalam Practo setelah melewati jalur verifikasi ini.

Shashank ND (Pendiri dan CEO, Practo).

Lima Jalur Monetisasi

Dalam menjalankan bisnisnya, Shashank menyebut Practo memiliki lima jalur monetizing, meliputi: Practo Ray (dokter dan klinik membayar untuk manajemen digital mereka dan dikelola secara cloud, sebanyak 90 persen pangsa pasar Practo ada di sini), Qikwell by Practo (pengelolaan departemen rawat jalan bagi rumah sakit), Insta by Practo (solusi HIMS rumah sakit), Practo tab (solusi hardware yang dipasangkan dengan Practo Ray untuk manajemen klinik), dan Practo Search (hyper local yang menargetkan platform iklan bagi RS dan sejenisnya, kecuali dokter, untuk mengiklankan layanan ini kepada konsumen yang relevan).

Khusus di Indonesia, Shashank melihat respons yang fenomenal di pasar Indonesia. Ia menyebut ada kesempatan besar untuk menghadirkan layanan kesehatan yang lebih baik bagi sertaus juta jiwa. Para konsumen pun memiliki akses ke lebih dari enam ribu dokter (sebanyak 75% dari semua klinik yang ada di DKI Jakarta). Practo juga telah melebarkan layanannya ke luar Jakarta, meliputi Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi.

Bidik Segmen Enterprise

Practo berencana dalam dua belas bulan mendatang akan terus berfokus pada segmen enterprise. Shashank menyebut, mereka melihat permintaan yang sangat tinggi akan produk-produk software, hardware dan pemasaran.

“Ekspansi kami akan berlanjut, baik di India maupun secara internasional. Kami ingin meningkatkan ekspansi geografis, jejak kami akan meluas dari saat ini di 50+ kota dan 15 negara, ke lebih dari 100 kota-kota di India dan lebih banyak negara di seluruh Asia Tenggara, Amerika Latin, Timur Tengah dan Eropa Timur,” beber Shashank.

Lebih jauh, Shashank juga menyebut Practo akan mengakuisisi lebih banyak teknologi futuristik, seperti pembelajaran mesin, teknologi genom, kesehatan dan kebugaran. Ia pun membayangkan sebuah dunia di mana teknologi akan memberikan dampak pada bidang kesehatan.

Ilustrasi aplikasi kesehatan.

Namun tentu saja untuk melaksanakan misinya tersebut, Shashank menyebut Practo tak lepas dari tantangan. Selain memecahkan permasalahan pasien, Practo pun harus membantu para dokter menuju ke ranah digital. Salah satu strategi mereka adalah dengan mempromosikan Practo Ray yang digunakan oleh dokter untuk mengelola jutaan pasien setiap tahunnya.

Tantangan lainnya adalah membantu konsumen mencari tahu siapa dokter yang tepat bagi mereka. Biasanya, masyarakat mengandalkan informasi dari mulut ke mulut untuk menemukan dokter yang tepat. Dengan produk Practo Search, konsumen dapat menemukan dokter, membaca rinci informasi termasuk jumlah tahun pengalaman, kualifikasi, spesialisasi dan bahkan melihat foto klinik untuk mencari tahu klinik mana yang akan mereka kunjungi.

Kini dengan jumlah karyawan yang mencapai dua ribu lebih, Shashank berharap Practo dapat segera memperluas penawarannya untuk mencakup lebih banyak segmen kesehatan lainnya seperti kesehatan, kebugaran, farmasi, pencegahan dan pengobatan medis. Diharapkan Practo dapat menjadi satu-satunya aplikasi go-to untuk kebutuhan kesehatan.

Ikin Wirawan (kiri) bersama Dhony Rahajoe (kanan) meresmikan grand opening GeeksFarm dan WGS Hub di The Breeze, BSD City (8/2/2017)

Sinar Mas Land, salah satu pengembang properti terkemuka di Indonesia meresmikan grand opening GeeksFarm dan WGS Hub di The Breeze, BSD City.

Kehadiran WGS Hub dan GeeksFarm ini merupakan kolaborasi antara PT Walden Global Services (WGS) yang bergerak di bidang perangkat lunak (software) dan PT Digital Creative Indonesia, perusahaan game center yang fokus pada komunitas.

Berangkat dari permasalahan yang biasa dihadapi para pebisnis dalam bidang teknologi, seperti sulitnya mencari apps developer maupun software house berkualitas, serta kesulitan mendapatkan partner startup digital, menjadi landasan bagi WGS Hub yang hadir sebagai sebuah konsep lokasi retail fisik pertama di Indonesia.

Kawasan The Breeze di BSD City pun dipilih sebagai tempat yang menggunakan tagline ‘Software, Services, Startups’ ini untuk menyediakan berbagai solusi di bidang teknologi dan startup bagi para masyarakat dan juga pebisnis.

Dhony Rahajoe (Managing Director President Office, Sinar Mas Land) mengungkapkan jika Sinar Mas Land menyambut kehadiran WGS Hub dan GeeksFarm di BSD City, karena saat ini kawasan BSD City sedang bertransformasi menjadi integrated smart digital city.

Dhony menyebut, salah satu proyek Sinar Mas Land adalah Digital Hub, yakni sebuah kawasan yang khusus dikembangkan bagi para pengembang industri teknologi digital, mulai dari perusahaan start-up, technology leaders, hingga komunitas-komunitas digital.

Digital Hub juga diperuntukkan untuk researcher, ilmuwan STEM (Science, Technology, Engineer and Math) serta inovator di bidang Smart System dan Technology. Meski sempat menyinggung integrated smart digital city ini bisa menjadi Sillicon Valley di BSD City, namun Dhony menegaskan jika hal itu masih berupa asa.

Tentunya keberadaan WGS Hub dan GeeksFarm yang pertama dan mengambil tempat di area Mall The Breeze BSD City merupakan bagian dari ekosistem Digital Hub, dan diharapkan seluruh bagian ekosistem tersebut bisa saling bekerja sama ke depannya.

Adapun layanan yang ditawarkan WGS Hub dan GeeksFarm di antaranya:

  1. Program akselerasi untuk perusahaan yang mau meluncurkan startup
  2. Pelatihan programming untuk anak berusia 8-15 tahun setiap hari Sabtu
  3. Bekerja sama dengan sejumlah pelaku startup, meluncurkan startup school berdurasi 2 bulan
  4. Recruitment programmer untuk in-house karyawan perusahaan
  5. Jasa programming yang sudah dipaket secara sederhana
  6. Website, e-commerce, apps, software berbasis cloud
  7. Sebagai bagian dari CSR, GeeksFarm juga melatih gratis anak 18 tahun ke atas yang tidak mampu melanjutkan kuliah untuk menjadi programmer, dan menempatkan mereka bekerja di perusahaan klien.

Sementara itu Ikin Wirawan (Chairman & Founder, PT WGS) berencana mereplikasi WGS Hub di banyak lokasi, baik di Indonesia dan di luar negeri. “..sehingga tidak hanya kita bisa mempercepat perkembangan teknologi informasi di kalangan bisnis di seluruh Indonesia, kita juga menciptakan lapangan kerja dan bisa ekspor kemampuan TI Indonesia ke luar negeri,” tutur Ikin.

Untuk ke depannya, WGS Hub direncanakan hadir juga di berbagai kota besar di Indonesia, seperti Surabaya, Semarang, dan Medan.

“Selama lima hingga 10 tahun ke depan ini akan terjadi inovasi dan pertumbuhan yang akan mendorong ide-ide bisnis yang didorong oleh cloud,” kata Reggie Bradford (Senior Vice President of Product Development, Oracle).

Oracle memperluas program Startup Cloud Accelerator ke beberapa kota, seperti Bristol, Delhi-NCR, Mumbai, Paris, Sao Paulo, Singapura, dan Tel Aviv, guna membangun ekosistem yang mendukung startup di seluruh dunia. Sebelumnya, program ini baru tersedia di Bangalore, India, sejak peluncurannya pada April 2016.

Program ini ditujukan Oracle untuk mendukung inovasi berbasis cloud oleh para perusahaan startup di berbagai negara.

“Cloud memungkinkan terciptanya inovasi yang luar biasa di seluruh aspek bisnis dan berbagai industri. Kami ingin mendukung revolusi teknologi yang ditenagai oleh cloud ini,” kata Thomas Kurian (President of Product Development, Oracle).

Reggie Bradford (Senior Vice President of Product Development, Oracle) yang juga berwirausaha, akan memimpin perluasan program ini bersama Sanket Atal (Group Vice President of Development, Oracle) yang meluncurkan program pertama di India.

“Selama lima hingga 10 tahun ke depan ini akan terjadi inovasi dan pertumbuhan yang akan mendorong ide-ide bisnis yang didorong oleh cloud,” kata Bradford. “Oracle mengerti bahwa startup adalah jantung dari inovasi, dan melalui program ini, kami bertujuan untuk memberikan akses kepada startup menuju sumber daya dan dukungan saat mereka membutuhkannya.”

Mentoring Enam Bulan

Dijalankan oleh anggota tim riset dan pengembangan Oracle, program Startup Cloud Accelerator menyediakan mentoring selama enam bulan oleh para ahli teknis dan bisnis, teknologi canggih, co-working space, akses ke pelanggan, mitra, dan investor Oracle, serta kredit Oracle Cloud tanpa biaya. Program ini juga menyediakan jaringan startup global yang terus berkembang.

Dengan platform cloud yang modern, dioptimalkan untuk kinerja tinggi, I/O yang tinggi, dan ketersediaan yang tinggi, serta layanan cloud yang mendalam, Oracle mendemokratisasi teknologi kelas enterprise untuk mendukung startup. Stack cloud dari Oracle menyediakan pengembang startup dengan membangun block agar mereka dapat segera menggunakannya saat sedang memperluas bisnis mereka.

Dengan rekam jejak yang mengglobal, Oracle memberikan lebih dari 50 layanan cloud terintegrasi untuk mendukung perusahaan, baik kecil, menengah, atau pun besar.

“Oracle Startup Cloud Accelerator menjadi batu loncatan yang terbaik untuk kami,” kata Aardra Kannan Ambili (Co-founder dan CTO, Riot Solutions), startup di bidang pelayanan kesehatan yang juga menjadi peserta di program pertama. “Berkat Oracle, kami menjadi startup yang tumbuh dengan cepat dengan investasi jangka panjang.”

Oracle Startup Cloud Accelerator terbuka untuk startup teknologi pemula atau yang berbasis teknologi. Pendaftaran dibuka di tahun 2017 di masing-masing tujuh negara hub tersebut. Startup yang tertarik bisa mendaftar untuk menerima lebih banyak informasi di www.oracle.com/startup.

Ilustrasi Accenture ConsumerTech Awards Press Briefing – 19 JAN-1

Accenture kembali membuka pendaftaran nomine Accenture Consumer Tech Awards untuk startup yang mampu meningkatkan cara berinteraksi dengan generasi millennial.

Penghargaan itu bertujuan untuk memberikan apresiasi bagi usaha-usaha rintisan yang telah memberikan pengalaman pelanggan dan personalisasi terbaik, mampu meningkatkan penjualan, meningkatkan ketersediaan produk dan pengiriman dengan cara yang inovatif, serta menyerap lebih banyak pekerja digital.

Teo Correian (Senior Managing Director di Accenture) mengatakan millenials akan merepresentasikan seperempat dari populasi global, dengan kemampuan berbelanja yang lebih tinggi dari generasi lainnya. Kelompok millennial juga memiliki banyak informasi dan menuntut dibandingkan kelompok lainnya.

Inovasi adalah kunci untuk meningkatkan berinteraksi antara millennial dengan merek di industri ini, termasuk produk konsumen, jasa perjalanan, otomotif, dan sektor retail.

“Mengulang kesuksesan dari program penghargaan Accenture sebelumnya, saya menantikan kesempatan untuk menemukan wirausaha yang inovatif dan membantu mereka menciptakan dampak pada sektor industri terkait,” katanya dalam siaran persnya.

Cara mendaftarkan diri dalam ajang ini, para peserta harus melakukan registrasi melalui laman https://www.f6s.com/accentureconsumertechawardsnyc/apply dengan batas waktu sampai 10 Februari 2017.

Peserta yang lolos babak eliminasi akan melakukan presentasi di hadapan panelis juri, yang terdiri dari pimpinan senior dari perusahaan global, para pemimpin opini, dan pemilik modal, pada 28 Februari 2017 di New York, Amerika Serikat. Pemenang akan diumumkan dalam konferensi tingkat tinggi Millennial 20/20 pada tanggal 2 Maret 2017, di New York.

Selain itu, pemenang akan mendapatkan akses untuk bertemu tim pakar industri di Accenture untuk mendapatkan saran dan konsultasi tentang cara untuk meningkatkan performa bisnis mereka dan mendapatkan akses ke klien yang potensial.

Empat kategori dalam Accenture ConsumerTech Awards adalah:

Millennial Shopper

Solusi yang memberikan pemahaman lebih baik tentang perilaku dan permintaan konsumen, desain produk yang lebih baik, distribusi, manajemen stok dan logistik, atau kenaikan pengunjung, penjualan, penawaran produk – baik secara online dan offline.

Millennial Consumer

Solusi yang menargetkan dan menarik konsumen kepada merek, mempertahankan pelanggan, dan meningkatkan pengeluaran konsumen, melakukan personalisasi pengalaman terhadap merek, atau solusi yang memberikan pilihan dan fleksibilitas untuk menyesuaikan dengan gaya hidup konsumen.

Millennial Traveler

Solusi yang dapat meningkatkan pengalaman perjalanan wisata, mengurangi biaya operasional, atau meningkatkan pilihan dan layanan pelanggan.

Millennial Driver

Solusi yang membantu pengendara untuk mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan, meningkatkan pengalaman retail dan purnajual untuk kendaraan bermotor dan ekosistemnya; atau meningkatkan produktivitas saat berkendara dan konektivitas data.

Indrasto Budisantoso (Founder & CEO, Jojonomic). [Foto: Abdul Aziz/InfoKomputer]

Indrasto Budisantoso (Founder & CEO, Jojonomic). [Foto: Abdul Aziz/InfoKomputer]

Ketika masih bekerja di Boston Consulting, Indrasto Budisantoso kerap melakukan perjalanan dinas. Pria yang akrab dipanggil Asto ini mengaku menikmati pekerjaan tersebut. Namun ada satu hal yang membuat ia malas. “Saya harus meluangkan waktu untuk menempel semua dokumen pengeluaran saya,” ungkap Asto.

Ketika berpindah sebagai CEO dan Country Head di Groupon Indonesia, Asto kembali mengalami masalah terkait reimbursement. Namun sebagai atasan, masalahnya adalah ia harus repot menyetujui dokumen reimbursement dari anak buahnya yang jumlahnya tidak sedikit.  “Saya bisa menghabiskan waktu setengah sampai satu jam setiap minggu hanya untuk mengurus reimbursement itu,” ujar Asto.

Dari pengalaman tersebut, Asto pun tersadar kalau pengurusan reimbursment berbasis manual itu merepotkan. Ia pun mencari solusi reimbursment yang lebih efisien. Ia menemukan solusi seperti itu di negara maju seperti AS dan Jepang, namun tidak untuk Indonesia atau bahkan Asia Tenggara.

Karena itulah sesaat setelah keluar dari Groupon, Asto memutuskan untuk membuat aplikasi reimbursment sendiri. Setelah menggodok rencana tersebut selama enam bulan, Jojonomic pun hadir di akhir 2015 lalu.

Penghematan Waktu

Secara sederhana, Jojonomic Pro adalah solusi reimbursement digital yang mengandalkan foto sebagai bukti transaksi.

Setiap melakukan transaksi yang membutuhkan penggantian, karyawan cukup membuka aplikasi Jojonomic Pro dari smartphone (Android maupun iOS), memotret bukti transaksi, lalu memasukkan nilai transaksi. Proses pemotretan itu juga menangkap informasi lokasi melalui GPS smartphone, sehingga setiap transaksi memiliki data tambahan berupa lokasi.

Di akhir bulan, karyawan tinggal mengirimkan semua data tersebut ke atasannya. Sang atasan nanti bisa melihat seluruh data transaksi melalui aplikasi Jojonomic maupun browser PC. Setiap transaksi akan menampilkan informasi lengkap, mulai dari foto struk, nilai transaksi, keperluan, sampai lokasi. Dengan semua data tersebut, atasan pun dengan mudah memastikan transaksi yang akan diganti tersebut telah memenuhi aturan.

Jika dibandingkan layanan reimburse yang sudah ada, Jojonomic diklaim lebih cocok dengan sistem kerja di Indonesia. Contohnya keberadaan fitur Cash Advance untuk kegiatan yang membutuhkan keberadaan uang di muka. “Karena Indonesia belum banyak perusahaan yang menggunakan corporate credit card,” ungkap Asto menjelaskan mengapa fitur ini dimiliki Jojonomic.

Dengan Cash Advance, karyawan bisa meminta uang muka (atau bon sementara) ke perusahaan untuk sebuah kegiatan. Setiap transaksi nantinya tinggal dimasukkan ke kategori Cash Advance. Di akhir kegiatan, perusahaan maupun karyawan dengan mudah mengetahui saldo yang tersisa.

Meskipun menawarkan kelebihan dibandingkan solusi sejenis, Asto melihat tantangan terbesar Jojonomic bukan di situ. Tantangan terbesar Jojonomic lebih kepada belum banyaknya perusahaan yang menyadari keberadaan solusi seperti ini. “Sekarang kita tidak masalah melakukan reimburse manual, karena semua orang mengira normalnya seperti itu,” tambah Asto. Baru ketika diperkenalkan soal Jojonomic, orang menyadari bahwa proses reimbursment manual itu memiliki banyak kekurangan.

Kelemahan itu sebenarnya menyentuh pain point semua pihak, sehingga Jojonomic menyodorkan value proporsition berbeda ke tiap stakeholder. “Ketika berbicara dengan CEO atau CFO, kita utamakan soal transparansi,” ungkap Asto. Perusahaan bisa melakukan efisiensi waktu dan pengeluaran ketika setiap proses reimbursment sudah berformat digital. Sementara saat berbicara dengan karyawan, Jojonomic lebih menekankan soal kemudahan dan kenyamanan karena tidak harus menyimpan bon yang rentan hilang.

Sebagai layanan SaaS, Jojonomic Pro menggunakan sistem pay-as-you-go dengan biaya sesuai jumlah pengguna dan kelengkapan fitur. “Kisarannya sekitar US$4 – 6 per bulan per pengguna” ungkap Asto.

Aneka fitur Jojonomic.

Aneka fitur Jojonomic.

Melebarkan Sayap

Sebagai layanan yang menyasar B2B, Asto menyadari Jojonomic harus mudah diintegrasikan dengan sistem yang sudah ada saat ini. Karena itu, Jojonomic sudah dirancang untuk bisa diintegrasikan dengan beberapa sistem akutansi dan HR, yaitu SAP, Xero, Zahir,  Jurnal, dan Talenta. Jojonomic juga bisa diintegrasikan dengan Mandiri e-Cash, sehingga setiap transaksi yang telah disetujui untuk diganti akan langsung masuk ke Mandiri e-Cash karyawan.

Meski semua data tersimpan di cloud, Asto menjamin keamanan data pengguna tetap aman tersimpan. “Karena semua data dienkripsi dengan standar yang sama dengan e-banking,” tambah Asto.

Asto sendiri mengklaim Jojonomic Pro kini sudah digunakan sekitar empat puluh perusahaan dengan jumlah pengguna total mencapai sepuluh ribuan orang. “Kebanyakan dari e-commerce,” ungkap Asto, sambil menyebut latar belakangnya di industri e-commerce sebagai alasan di balik itu.

Beberapa pengguna Jojonomic adalah Matahari Mall, Gojek, Tokopedia, Lee Cooper, dan Veritrans. “Salah satu BUMN terbesar di Indonesia juga telah menggunakan Jojonomic,” ungkap Asto tanpa menyebut nama BUMN tersebut.

Saat berbicara tentang rencananya di masa depan, dengan lugas Asto menjawab: membawa Jojonomic bersaing di tingkat dunia. “Kita ingin kuat dulu di Indonesia, kemudian menjajakan produk ini ke Asia Tenggara,” ungkap Asto. Langkah itu telah dimulai dengan membuka kantor perwakilan di Singapura. “Jojonomic ini adalah sepenuhnya karya anak bangsa, dan kita ingin karya anak bangsa ini juga bisa go-global,” tambah Asto.

Tantangan di luar sana memang tidak ringan, namun Asto yakin kualitas produknya tidak kalah dengan produk global.

Di awal tahun 2015, Jojonomic terpilih ke dalam program Google Launchpad Accelerator, sebuah program pelatihan khusus yang diadakan Google untuk developer dari negara berkembang seperti Indonesia, India, Meksiko, dan Brazil. Setelah mengikuti pelatihan insentif selama dua minggu di Silicon Valley, Asto mengaku timnya mendapat banyak masukan positif seputar Jojonomic.

Bahkan ketika orang diminta memilih antara Jojonomic dan aplikasi reimbursement yang mereka gunakan selama ini, mayoritas memilih Jojonomic. “Mereka menyebut user experience Jojonomic lebih enak dibandingkan aplikasi lain,” tambah Asto.

Dengan bekal itu, Asto pun yakin Jojonomic tidak saja bisa diterima pengguna di Indonesia namun juga di dunia.

TERBARU

Pemerintah Tiongkok mewajibkan warga Urumqi, ibukota provinsi Xinjiang, yang mayoritas beragama Islam untuk memasang aplikasi mata-mata Jingwang di smartphone-nya.