Tags Posts tagged with "toko online"

toko online

Peresmian Kick Off Roadshow Kampus Shopee bersama para pembicara yang hadir di acara Kick Off Roadshow Kampus Shopee. [ka-ki]: Chris Feng, CEO Shopee; RheinMahatma, Pendiri Buattokoonline.id selaku Perwakilan Pembicara; Chacha Frederica, Selebritas Indonesia dan Pengusaha Muda; dan Eri Palgunadi, VP Marketing JNE.

Shopee menggelar Roadshow Kampus Shopee ke 13 kota di seluruh Indonesia untuk mendukung dan mengedukasi para pengusaha lokal. Roadshow Kick Off telah dimulai di Bogor pada 4 Februari lalu dan program Talkshow Kampus Shopee dilaksanakan pada 18 Februari 2017 di XXI Lounge Plaza Senayan, Jakarta.

Pada tahun 2016, Kampus Shopee memberikan edukasi dan sarana untuk penjual setiap minggu secara rutin untuk menginspirasi penjual dalam mengembangkan bisnis mereka. Kampus Shopee menawarkan teknik fotografi produk, sistem perencanaan keuangan, dan teknik visual merchandising.

Chris Feng (CEO, Shopee) mengatakan Kampus Shopee merupakan bagian dari perwujudan komitmen investasi Rp100 Miliar untuk mendukung pengembangan pengusaha lokal di Indonesia.

“Kini kami akan mengembangkan program ini untuk menjangkau dan menginspirasi lebih banyak pengusaha lokal potensial di seluruh Indonesia. Program ini juga sebagai sarana berbagi bagi para penjual lokal untuk bertemu, bertukar ide, dan saling menginspirasi satu dengan yang lainnya,” katanya di Jakarta, Rabu (8/2),

Roadshow Kampus Shopee 2017 akan diselenggarakan sepanjang tahun ini akan menarik sekitar 80 – 100 peserta dalam setiap sesinya. 13 kota yang akan dikunjungi selama roadshow berlangsung, di antaranya Jakarta, Surabaya, Makassar, Bogor, Bandung, Bekasi, Medan, Semarang, Malang, Batam, Palembang, Bali dan Yogyakarta.

Kolaborasi dengan JNE

Shopee akan melaksanakan talkshow secara khusus di 3 kota besar, yaitu Jakarta, Surabaya, dan Makassar dengan mengundang pembicara ternama. Shopee juga akan mengangkat beragam topik yang menarik bagi pengusaha lokal seperti “Turn Good Ideas Into Great Business”.

Pembicara akan memberikan panduan praktis bagi peserta mengenai bagaimana mencari dan memanfaatkan ide dasar serta peluang bisnis yang ada serta membangun ide untuk menjadi bisnis yang menguntungkan melalui wadah digital.

Tak hanya itu, Shopee membangun kolaborasi strategis dengan JNE untuk menciptakan sebuah pengalaman belanja online melalui ponsel yang nyaman, yang dapat memberikan keuntungan lebih bagi pengusaha lokal dan konsumen.

M. Feriadi (President Director JNE) mengatakan JNE telah menjadi mitra bisnis yang strategis bagi Shopee sejak awal. JNE pun memberikan layanan gratis ongkos kirim dari Shopee dan akan mendukung pengusaha lokal untuk dapat meminimallam biaya bisnis, namun tetap dapat menerima pesanan dari wilayah terjauh di Indonesia.

“Kami optimistis program Kampus Shopee akan menginspirasi lebih banyak masyarakat Indonesia untuk menjadi pengusaha, dengan memanfaatkan layanan yang ditawarkan oleh Shopee dan JNE, guna mengembangkan bisnis mereka lebih jauh lagi,” ucapnya.

Ilustrasi Amazon Go

Amazon memiliki ambisi besar untuk terjun ke pasar retail offline, mengingat Amazon sudah menguasai pasar e-commerce Amerika Serikat (AS) yang notabene-nya bergerak dalam bidang online.

Karena itu, Amazon memperkenalkan supermarket Amazon Go yang mengusung konsep futuristis dan menawarkan inovasi yang berbeda. Di dalam Amazon Go, pengunjung tidak perlu mengantre dan membayar barang belanjaan dengan uang cash. Mereka cukup datang, memilih barang, dan bisa langsung keluar. Lantas, bagaimana dengan pembayarannya?

Nah, Amazon membenamkan teknologi robot, kecerdasan buatan, dan sensor di seluruh toko Amazon Go. Teknologi ini digunakan untuk mengenali profil konsumen yang datang, barang yang dibeli, dan memasukkan tagihan ke akun Amazon-nya.

Supermarket canggih itu akan menjual beberapa item seperti daging, buah, dan sayur segar, telur, sampai obat-obatan.

Bahkan, seorang sumber mengatakan Amazon akan membuat supermarket yang lebih besar lagi dan sanggup menampung hingga 4.000 item, jauh lebih besar dari Amazon Go.

Supermarket Amazon itu memiliki luas antara 929 – 3.716 m2 itu dan Amazon akan mempekerjakan pramuniaga robot di dalamnya. Hasilnya, supermarket itu hanya melayani pelanggan dengan hanya tiga orang dan maksimal 10 orang.

Amazon dan robot bukanlah hal asing lagi karena Amazon telah mempekerjakan 45 ribu robot di gudangnya. “Amazon akan memanfaatkan teknologi robot untuk meminimalkan tenaga kerja,” ujar seorang sumber seperti dilansir Digital Trends.

Saat ini, supermarket Amazon Go sudah hadir di Seattle, kota tempat markas Amazon berada, sejak akhir tahun lalu.

Tokopedia Gandeng Ninja Xpress

Para pengrajin Garut ini membuktikan jika hobi juga bisa menjadi sumber pendapatan. Setidaknya penghasilan belasan juta rupiah per bulan berhasil diraup Argi (33), Rop (28), dan Prima (31).

Adalah Tokopedia yang menjadi pintu masuk mereka untuk menjalani hobi yang dibayar. Tenjo Art, sebuah toko online yang lahir dari kolaborasi kakak beradik asal Garut, Argi sang penggila seni, didukung oleh adiknya Rop yang sangat suka berbisnis.

Mereka mengawali bisnis online jam dinding bernilai seni sejak Oktober 2016 silam. “Awalnya, kami sempat merantau ke Jakarta. Setelah ilmu dan pengalaman jatuh bangun kami rasa cukup, kami memutuskan untuk berkarya di kampung halaman,” terang Argi.

Pemasaran produk dilakukan melalui situs jual beli online, Tokopedia. “Efisien, tidak perlu keluar rumah, sampai sering dikira pengangguran,” tambah Rop sambil tertawa kecil.

Pemilik Tenjo Art

Saat ini, Tenjo Art merupakan satu-satunya sumber penghasilan Argi dan Rop. Ke depannya, mereka berencana merenovasi rumah untuk membuat workshop yang layak. “Kami juga akan merekrut beberapa karyawan agar bisa memenuhi permintaan yang terus melonjak dari hari ke hari,” ujar Rop.

Sementara itu, penggiat industri kreatif lainnya adalah Prima (31), pemilik Philo. Philo berdiri di ruang digital sejak November 2015, melayani permintaan akan dompet kulit berkualitas mewah dengan harga murah.

Pemilik Philo

Berawal dari kecintaannya akan industri kreatif, Prima saat ini menjadi satu-satunya pengrajin dompet kulit di Garut. Secara konsisten, ia meluaskan pasarnya lewat Tokopedia. Tidak hanya berhasil mengambil hati daerah sekitar, produknya kini sudah dilirik para pemilik merek ternama di Jakarta dan Bandung.

Hasil itu tentu bukan tanpa usaha. Prima mengaku, meski bisnis ini bukan bisnis yang pertama kali dijalaninya, namun bisnis inilah yang membawanya berhasil meraup belasan juta per bulan, hingga mampu mempekerjakan enam karyawan. “Titik balik dari perjuangan ini, dimulai dari Tokopedia,” pungkas Prima.

Suasana kantor baru Tokopedia di Wisma 77, Slipi, Jakarta Barat.

Suasana kantor baru Tokopedia di Wisma 77, Slipi, Jakarta Barat.

Tokopedia meneruskan komitmennya untuk membantu Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) hadir di dunia bisnis online, khususnya di Provinsi DKI Jakarta, dengan menggandeng Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Selatan.

Tri Kurniadi (Wali Kota Jakarta Selatan) mengatakan bahwa Pemkot Jakarta Selatan selalu membina dan melayani UMKM di wilayahnya karena UMKM merupakan salah satu fondasi perekonomian penting di Indonesia.

“Di Jakarta Selatan, ada sekitar 6.800 UMKM binaan dan kami mengembangkannya terus-menerus. Tidak hanya pemerintah, UMKM yang bersangkutan juga harus memiliki keinginan yang kuat untuk meningkatkan kualitas produknya agar bisa bersaing,” kata Tri dalam siaran pers, Jumat (18/11).

Tri mengatakan e-commerce seperti Tokopedia bisa ikut membantu dalam hal pemasaran online dan menawarkan berbagai kemudahan. “Dari segi modal, UMKM tidak perlu mengeluarkan biaya sewa toko fisik dan Tokopedia terhubung dengan berbagai jasa logistik,” ujarnya.

“UMKM harus lihai memanfaatkan kemajuan teknologi untuk mengembangkan usaha,” lanjutnya.

Irwandi (Kepala Dinas Koperasi, UMKM, dan Perdagangan, DKI Jakarta) mengungkapkan UMKM memiliki tiga kendala dalam pengembangannya yaitu permodalan, akses pemasaran, dan SDM.

Melalui Tokopedia, UMKM bisa membuka dan mengelola toko onlinenya secara mudah dan gratis. Akses pasar pun menjadi lebih luas karena pembeli di Tokopedia berasal dari seluruh penjuru Indonesia. Selain itu, Tokopedia juga ternyata rutin mengadakan pelatihan kepada UMKM berkaitan dengan pemasaran online.

“Kami sangat berterima kasih kepada Tokopedia karena turut memberikan solusi untuk tiga kendala itu. Tokopedia selalu konsisten melakukan sosialisasi pemanfaatan internet dalam berbisnis kepada UMKM,” pungkasnya.

Sebelumnya, Tokopedia menggandeng Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Utara untuk mengembangkan UMKM. Nantinya, Tokopedia akan bekerja sama dengan Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Timur, Barat, dan Selatan.

Redmart Lazada

Redmart Lazada

Lazada, perusahaan e-commerce di Asia Tenggara yang didanai oleh Alibaba Group, membeli penjual bahan makanan online asal Singapura, RedMart.

Menurut sumber TechCrunch, Lazada, yang baru saja mendapatkan investasi US$1 miliar (Rp13 triliun) dari Alibaba, akan menghabiskan sekitar US$30-40 juta (Rp391,6 – 522 miliar) untuk membeli RedMart.

Dalam transaksi itu, Goldman Sachs (Asia) LLC sebagai penasihat keuangan untuk Lazada Group dan Credit Suisse (Singapore) Limited untuk RedMart.

RedMart memang sempat menemui masalah keuangan dan telah bekerja sama dengan para bank untuk mencari pembeli sejak September lalu. Keadaan itu tidak jauh berbeda dengan Lazada yang juga sempat mengalami masalah keuangan sebelum Alibaba membelinya.

Dalam pernyataan resmi, RedMart menekankan akan tetap berdiri secara mandiri meski telah dibeli oleh Lazada. “Perjanjian ini akan membantu mereka untuk memperluas kategori produk baru mereka,” katanya.

Saat ini, RedMart beroperasi di Singapura dan Lazada telah beroperasi di 6 negara di Asia Tenggara. Meskipun begitu, masih belum diketahui apakah Lazada akan membantu RedMart untuk melakukan ekspansi setelah pembelian tersebut.

“Kerja sama ini akan membantu kami untuk meningkatkan skala kemampuan kami untuk menjalankan misi kami yaitu untuk menghemat uang dan waktu konsumen. Kami bekerja sama dengan Lazada untuk memberikan layanan yang lebih baik untuk pelanggan kami,” kata Roger Egan (Co-founder dan CEO RedMart).

Sementara itu, Amazon berencana memperkenalkan layanan Prime ke Singapura pada kuartal pertama tahun depan. Jadi, Lazada dan RedMart harus mempersiapkan diri untuk menghadapi persaingan ketat.

Lazada sendiri terus mengembangkan usahanya di Asia Tenggara. Terakhir, Lazada mengaku bahwa volume pertumbuhan Lazada meningkat 150 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu.

joy_jdid

JD.ID memperkenalkan maskotnya yang terbaru yaitu JOY. Maskot dalam wujud kuda putih berkalung merah ini akan menjadi identitas baru dari perusahaan dan diharapkan mampu merepresentasikan layanan JD.ID di Indonesia sebagai toko online dengan layanan prima kepada para pelanggan dan pembelinya.

Nama JOY sendiri diambil dari slogan JD.ID yakni “Make JOY Happen” yang diharapkan nama ini diasosiasikan dengan kegembiraan dan kebahagiaan (JOY) bagi semua pemangku kepentingannya.

Maskot terbaru JD.ID dipilih berdasarkan kompetisi logo yang diselenggarakan pihak JD.ID pada 29 April 2016 – 19 Juni 2016 lalu. Dari ratusan entri dan usulan desain yang masuk dari para bakat-bakat lokal, terpilihlah sosok hewan kuda ini yang melambangkan mimpi seseorang tentang kekuatan, tenaga, keindahan, dan mampu memberikan kesempatan untuk sejenak melarikan diri dari rutinitas yang monoton.

Hal ini sesuai dengan kredo JD.ID yakni komitmen untuk selalu menyediakan pillihan barang yang premium dan otentik dengan harga bersaing, dapat diandalkan, terpercaya, dan juga cepat dalam hal pengantaran.

Kuda berkalung merah ini juga sekaligus menjadi simbol untuk sosok yang dapat diandalkan dan juga penuh perhatian dimana hal ini merupakan nilai-nilai yang menjadi fokus JD.ID yang selalu mengutamakan layanan dan perlindungan terhadap pelanggan.

Maskot JD.ID ini adalah hasil karya Roni Ertanto, seorang ilustrator asal Madiun yang berpartisipasi dalam kontes membuat maskot JD.ID sejak pertengahan tahun ini dan berhasil menyisihkan 350 karya yang masuk. Roni Ertanto berhak mendapatkan hadiah uang tunai sebesar Rp20.000.000, perangkat Wacom Lintiq 13 HD 13,3 inci, serta voucher belanja JD.ID senilai Rp1.000.000.

Pemenang dipilih berdasarkan proses seleksi yang cukup panjang, mulai dari penjurian, evaluasi internal, dan pertimbangan kecocokan antara logo dengan kepribadian JD.ID. “Kami juga terlebih dahulu melakukan konsolidasi dengan JD.com sebagai perusahaan induk. Ini merupakan bukti keseriusan & komitmen JD.ID untuk melayani pasar Indonesia.” kata Teddy Arifianto (Corporate Communications, JD.ID).

JD.ID juga mengumumkan pemenang favorit yang dipilih berdasarkan pilihan terbanyak di Instagram JD.ID. Maskot berupa sosok tokoh karakter kartun laki-laki bertopi karya Tri Irawan adalah yang terpilih menjadi pemenang untuk maskot terfavorit.

ilustrasi-tokopay

ilustrasi-tokopay

Tren toko online sedang meningkat di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Namun, penipuan dan barang dengan kualitas kurang memuaskan masih dapat ditemukan dan dapat menurunkan kredibilitas toko-toko online Indonesia.

Berlanjut dari suksesnya aplikasi berjualan online Toko-toko.co.id, Anect Inc., memperkenalkan layanan Tokopay untuk mengatasi masalah tersebut.

Hingga saat ini, ada sebanyak lebih dari 70.000 orang yang mendaftar pada pra-registrasi servis Tokopay. Tokopay akan mengadakan tes versi beta mulai dari 28 September bagi pengguna yang telah mendaftarkan diri pada pra-registrasi Tokopay.

“Kami berusaha untuk membuat suasana belanja online yang lebih aman di Indonesia,” kata Ichiro Kimura (CEO, Anect Inc.) dalam siaran persnya, Rabu (21/9).

Ada 3 karakteristik utama dari aplikasi Tokopay yaitu

  1. Mudah dan cepat. Penjual hanya perlu mengikuti 3 langkah mudah dan transaksi dapat dimulai hanya dalam 1 menit.
  2. Metode pembayaran yang bervariasi. Pengguna dapat melayani pembayaran melalui berbagai saluran hanya dengan mendaftar di Tokopay tanpa registrasi yang rumit. Hingga saat ini, Tokopay melayani pembayaran melalui transfer dan minimarket (Alfamart, 7-eleven), kartu kredit (VISA, Master Card), dan berencana untuk menambah cara pembayaran lainnya.
  3. Keamanan. Tokopay membuat transaksi antara penjual dan pembeli lebih aman. Kedua belah pihak tidak perlu khawatir akan terjadinya masalah, kedua belah pihak juga tidak perlu memberikan informasi seperti no. rekening kepada satu sama lain.

mataharimall

Selama satu tahun berkarya di Indonesia, MatahariMall.com telah berhasil menghadirkan berbagai inovasi produk dan layanan e-commerce terbaik bagi masyarakat di Indonesia.

“Kami sangat berterima kasih atas antusiasme dan kepercayaan dari pelanggan, seller, partner, dan media terhadap sepak terjang MatahariMall di Indonesia selama satu tahun belakangan ini. Memasuki tahun kedua, kami akan tetap fokus pada komitmen kami untuk mengaryakan talenta lokal, mengembangkan bisnis seller, dan memberikan produk serta layanan terbaik pada customer, guna menjadi perusahaan yang menguntungkan dan membuat Indonesia Bangga,” ucap Hadi Wenas (CEO, MatahariMall).

Pada perayaan ulang tahun MatahariMall yang pertama di Jakarta (9/9), Wenas membeberkan pencapaian MatahariMall.com. “Dengan semangat dan kerja keras dari para faMMilia, di tahun pertama MatahariMall, kami berhasil menjangkau 483 dari 514 kota/kabupaten di Indonesia atau lebih dari 93% dari seluruh kota dan kabupaten yang ada di Indonesia,” tukasnya

Jika pada awal berdiri, transaksi didominasi dari wilayah Jabodetabek, kini justru hanya 28% transaksi yang berasal dari Jabodetabek. Hal ini terlihat dari data penjualan pada saat Lebaran kemarin, kota Magelang memiliki pertumbuhan order hingga 1.241%.

Wenas menuturkan, performa MatahariMall yang gemilang ini salah satunya merupakan hasil dari Online-to-Offline (O2O) yang memungkinkan customer untuk membeli barang secara online di MatahariMall, dan mengambilnya di titik-titik O2O di seluruh Indonesia.

“Saat ini kami memiliki 649 titik O2O di Indonesia, yang tersebar di tempat-tempat strategis seperti kantor pos, stasiun kereta, gedung perkantoran, sekolah, apartemen, perumahan, hingga pusat perbelanjaan. Bahkan, kami juga menyediakan eKiosk yang juga menjadi sarana edukasi bagi pengunjung yang tidak pernah mencoba berbelanja di MatahariMall,” tambah Wenas.

Selain itu, sesuai dengan komitmen MatahariMall untuk membuat #IndonesiaBangga, MatahariMall hadirkan program Jual Online Aja (JOA), sebuah program pelatihan bagi UMKM untuk memperluas jangkauan pemasaran produknya ke seluruh Indonesia.

Hingga saat ini, JOA telah menjangkau 13 kota dari 20 kota yang direncanakan dan merangkul ribuan pemilik UMKM. Wenas menambahkan di bulan ulang tahun ini, MatahariMall memberikan promo spesial untuk pelanggan setianya.

jarvis store 1

Salah satu startup di Indonesia yang menyediakan layanan pembuat website e-commerce adalah Jarvis Store.

Jika pernah menonton film Iron Man, Anda pasti tidak asing lagi dengan nama Jarvis. Ya, Jarvis merupakan komputer yang menjadi asisten Tony Stark. Tugasnya membantu setiap eksperimen yang dilakukan oleh Tony. Kerennya, Jarvis diperintah menggunakan suara.

Di dunia e-commerce Indonesia, Anda bisa menemukan nama Jarvis. Namun Jarvis yang ini bertugas membantu membuat website toko online, sesuai keinginan pengguna.

Saat ini ada banyak pilihan layanan pembuat website bagi yang baru memulai usaha toko online. Memiliki kendali penuh atas toko online sekaligus mengaksesnya secara leluasa untuk menjalankan bisnis tentu saja menjadi idaman pemilik toko online. Nah, salah satu startup di Indonesia yang menyediakan layanan pembuat website e-commerce adalah Jarvis Store.

Gaya hidup online perlahan namun pasti makin mengakar dalam kehidupan sehari-hari. Akibatnya, bisnis pun harus mengikuti gaya hidup masyarakat dengan beralih ke platform online. Data dari SparkLabs bahkan menyebutkan, pertumbuhan penjualan e-commerce di Indonesia merupakan yang terbesar di dunia dalam empat tahun terakhir.

Tak pelak, agar layak terjun ke arena kompetisi, pelaku bisnis harus mampu memaksimalkan potensi bisnisnya. Membangun sebuah website pun dinilai menjadi pilihan tepat.

Meski menjadi langkah awal dalam menjangkau dunia online, membuat website yang baik membutuhkan strategi. Apalagi website menjadi identitas online dari sebuah toko online (e-commerce). Tak jarang, bagi pelaku usaha kecil menengah (UKM), membangun sebuah website kadang menjadi momok terbesarnya.

Adalah tiga orang pemuda asal Bali, yaitu Frianto Moerdowo, Kadek Agus Yusida, dan Putu Gusindra Divanatha yang menjadi inisiator Jarvis Store yang diluncurkan pertama kali pada 3 Agustus 2013 di Bali. Ketiganya mendirikan Jarvis Store ketika mengerjakan proyek pembuatan website saat masih berada di bangku kuliah.

Platform tersebut, dituturkan Frianto, ketika itu tahun 2011-2012 belum terlalu populer sehingga menyebabkan biaya pembuatan toko online lumayan tinggi dan lama. Dari pemasalahan itulah kemudian timbul ide untuk membuat platform toko online Jarvis Store yang menawarkan biaya terjangkau namun dengan proses yang cepat.

Targetkan UKM

Setelah peluncurannya di bulan Agustus 2013, Jarvis Store sempat vakum beberapa bulan sebelum akhirnya kembali diluncurkan pada 10 Desember 2013. Saat itu Jarvis Store langsung mendapatkan tiga klien. Diakui Frianto, mendapatkan sekaligus beberapa klien di saat awal berdiri cukup menyalakan semangat mereka. Ia menyebut, kliennya kebanyakan dari UKM dan individual seller.

jarvis store 2

Pada awalnya, Jarvis Store menyasar klien UKM dan individual seller.

Setelah mengerjakan beberapa proyek toko online, Frianto pun menilai terdapat kesamaan. Ia menyebutkan kebutuhan toko online lebih banyak miripnya. Namun agar mampu berkompetisi dengan layanan sejenis lainnya, Jarvis Store tidak hanya memberikan platform, namun juga edukasi, tutorial, hingga support yang prima.

Jarvis Store menawarkan sistem berlangganan, meski di sisi lain juga memberikan layanan add-on lain seperti desain template dan plugin toko online. Jika menilik website Jarvis Store, terdapat empat paket layanan yang ditawarkan berikut dengan harga yang dipatok, mulai dari Rp39 ribu per tahun, Rp99 ribu per tahun, Rp199 ribu per tahun, hingga Rp499 ribu per tahun.

Frianto menyebut kebanyakan klien mereka memilih paket mini yang mematok biaya berlangganan Rp39 ribu per bulan (Rp399 ribu per tahun). “Biasanya dari sana mereka pelan-pelan upgrade,” ujar Frianto.

Hingga saat ini, perusahaan rintisan (startup) yang memiliki empat belas orang karyawan ini telah membuat lebih dari dua puluh ribu toko online. Uniknya, konsumen Jarvis Store bisa berhenti berlangganan kapan saja mereka mau. Kebanyakan toko online buatan Jarvis Store menyebar di Pulau Jawa, terutama Jawa Barat.

Manfaatkan Potensi Mobile

Bagi sebuah startup, kendala sudah pasti ada. Namun untuk bisa maju dibutuhkan jiwa yang besar untuk menerima segala kritik dan saran. Untuk Jarvis Store, Frianto menuturkan, kendala biasanya ditemukan di sisi support.

“Orang Indonesia suka bertanya-tanya dulu, suka chat, dan itu lumayan menghabiskan resource kita, but it’s a happy problem, kita banyak dapat saran dan masukan dari obrolan-obrolan yang aktif ini,” terang alumnus HELP University, Malaysia ini.

Namun berkat masukan tersebut, sekitar dua tahun lalu Jarvis Store melebarkan segmen pasar ke pengguna perangkat mobile melalui peluncuran aplikasi Jarvis Store di Google Play. Ini makin mengukuhkan Jarvis Store sebagai pembuat website e-commerce pertama di Indonesia yang memiliki aplikasi mobile. Diharapkan dengan adanya aplikasi mobile, pemilik toko online akan dimudahkan mengakses “tokonya” dari mana saja via genggaman tangan mereka.

Tidak hanya itu, Jarvis Store juga menawarkan dua sistem toko online teranyar, yakti sistem Pre Order dan sistem order Inquiry.

Sistem Pre Order diyakini cocok untuk penjual dengan modal minim karena memungkinkan mereka berjualan tanpa memiliki barang sebelumnya (ready stock). Keuntungan dari sistem ini adalah klien dapat mengetahui pasti jumlah barang yang harus disediakan dalam periode yang ditentukan, sehingga tidak akan menghamburkan uang untuk stok yang tidak terjual. Klien juga dapat mengatur batasan pre order berdasarkan jumlah order ataupun berdasarkan batas waktu yang telah ditentukan.

jarvis store 3

Frianto Moerdowo (Co-Founder, Jarvis Store).

Sementara sistem Inquiry memungkinkan klien Jarvis Store menampilkan informasi produk tetapi tidak menunjukan harga produk pada web-nya. Ini memungkinkan terjadinya tawar-menawar di antara penjual dan pembeli. Keuntungan dari sistem ini adalah klien dapat memberikan keputusan yang saling menguntungkan pihak pembeli dan penjual.

Beberapa waktu lalu, Jarvis Store mengikuti Mega ScaleUp Clinic dr Endeavor dan berkesempatan mendapatkan berbagai saran dari mentor-mentor kompeten di bidangnya. “Dari sana kita dapat banyak saran dan masukan, juga networking,” papar Frianto.

Lebih dari itu, peserta Indigo Incubator Academy (2013-2014) kategori Innovative Business ini mendambakan bisa bekerja sama dengan desainer dan developer untuk memperkaya platform Jarvis Store, pun menargetkan 100 ribu toko online dalam “genggaman” mereka hingga akhir 2016 ini.

Foto Dok. AWS

Karthik Subramanian, Chief Technology Officer, Zalora. Foto: Dok. AWS

Banyak pendapat yang mengatakan, cloud dan startup adalah pasangan serasi. Cloud memampukan perusahaan-perusahaan rintisan, terutama yang berbasis teknologi (tech startup), untuk memulai bisnis dengan “berlari”. Dengan biaya awal yang relatif rendah dan infrastruktur yang fleksibel, perusahaan startup tersebut mampu bersaing dengan sesama bisnis rintisan, bahkan dengan perusahaan dengan teknologi informasi yang sudah lebih mapan.

Namun Zalora adalah antitesis dari bisnis startup pada umumnya. Alih-alih menggunakan cloud computing, pebisnis e-commerce produk fashion dan footwear ini justru mengawali bisnis dengan dukungan sistem dan infrastruktur teknologi dari sebuah data center fisik.

Most startup will say proudly they’re born in the cloud and we proudly say we moved to the cloud!” cetus Karthik Subramanian, Chief Technology Officer, Zalora Group kepada InfoKomputer dalam sebuah wawancara eksklusif di Singapura, beberapa waktu lalu.

Bisnis Musiman, Utilisasi Server Tidak Optimal

Di awal bisnisnya tahun 2011, Zalora Group  (Zalora) menaruh (hosting) content management systems, aplikasi, website, dan payment gateway; juga server, storage, jaringan dan infrastruktur teknologi lainnya di sebuah data center yang berlokasi di Hong Kong. Strategi itu berjalan sampai akhir Maret lalu, saat Zalora memindahkan seluruh sistem dan aplikasi miliknya ke cloud.

Apa yang mendorong Zalora beralih ke komputasi awan? Pertumbuhan bisnis adalah salah satu alasannya. “Kami tumbuh sekitar 100 persen setiap tahunnya,” ujar Karthik. Saat pertama kali beroperasi di Indonesia, Karthik mengingat ada sepuluh order yang diterima Zalora. Namun di bulan Desember tahun lalu, jumlah tersebut sudah meningkat hingga 50 ribu pesanan per hari.

Dengan pertumbuhan bisnis yang sangat pesat itu, Karthik dan timnya mau tak mau harus terus meningkatkan kapasitas sumber daya komputasinya di data center. “Kami harus terus menambah server setiap tahunnya,” jelas Karthik Subramanian.

Namun sayangnya penambahan server itu tidak diikuti oleh utilisasi yang optimal. “Tingkat utilisasi server-server kami rata-rata hanya sepuluh persen per tahun,” tandas sarjana Computer Engineering lulusan National University of Singapore ini.

Salah satu penyebabnya adalah bisnis fashion seperti yang djalankan Zalora umumnya bersifat musiman. Ada saat di mana pesanan membludak, misalnya ketika Lebaran, Tahun Baru China, Natal, atau saat ada promosi penjualan khusus, seperti 12.12. Namun di lain waktu, penjualan berjalan tanpa lonjakan traffic yang signifikan.

“Kami harus menambah server hanya untuk memastikan Zalora tidak kehabisan kapasitas sumber daya komputasi untuk dua atau tiga hari saja dalam setahun karena traffic yang melonjak tinggi dan dapat berimbas pada sistem,” imbuhnya. Walhasil, di luar “jam sibuk”, server-server tersebut kebanyakan menganggur. Ini tentu sebuah kesia-siaan kapasitas, menurut Karthik.

Di samping itu, menambah server juga bukan masalah mudah. Dibutuhkan waktu setidaknya satu bulan sebelum server baru dapat dioperasikan oleh pengeloa data center di Hong Kong. Ditambah lagi, terkadang Karthik dan timnya kesulitan “menebak” kapasitas yang dibutuhkan ketika tim marketing Zalora akan menggelar promosi penjualan tertentu.

Mengapa Zalora tidak memanfaatkan cloud computing sejak awal? Beroperasi di delapan negara yang berbeda, meski berada di satu kawasan, tentu bukan hal mudah bagi Zalora, terutama untuk mencapai operational excellence sesuai kebutuhan pelanggan. Setiap negara memiliki karakteristik yang berbeda.

“Ketika kami meluncurkan situs web Zalora  di indonesia, average page load speed-nya sekitar empat belas detik. Kalau kami (menggunakan cloud, dan) kami host situs web-nya di Amerika tentu waktu loading halaman web-nya akan lebih lama lagi,” jelas Karthik.

Empat tahun lalu, Amazon Web Services (AWS) belum memiliki Availability Zones di Singapura, negara di mana Zalora mensentralisasi seluruh operasional teknologinya. Mau tak mau, hosting di data center menjadi pilihan. “Bisnis kami tentu tidak bisa menunggu sampai penyedia cloud sekelas AWS membuka fasilitasnya di Singapura,” Karthik menambahkan.

Paralel dan Bertahap

Zalora mengawali perjalanannya ke komputasi awan secara bertahap dan paralel dengan infrastruktur di data center. Di tahap awal, platform cloud dimanfaatkan Karthik Subramanian dan timnya untuk melakukan testing dan development. “Para QA engineer kami men-deploy kode pemrograman baru dan mengujinya di platform cloud AWS sebelum mereka memasangnya di live infrastructure di data center,” tutur Karthik.

Beberapa sistem dan tool internal, yang tidak terkait customer traffic, juga mulai dipindahkan oleh Zalora ke platform AWS. Salah satu sistem yang cukup besar skalanya adalah sistem data warehouse yang dialihkan ke AWS Redshift. “Data warehouse adalah salah satu production system Zalora tetapi masih termasuk sistem internal karena melibatkan live customer traffic,” Karthik menjelaskan.

Sekitar bulan Agustus dan September, tim TI Zalora yang semakin percaya diri dengan cloud merencanakan uji platform cloud secara besar-besaran. “Saat itu, kami akan menggelar 12.12 Online Fever di bulan November. Sepertinya data center kami tidak akan mampu menangani traffic di masa promosi tersebut karena lalu lintas jaringan biasanya akan meningkat lima kali lipat di banding tahun lalu,” Karthik bercerita.

Karthik lantas menyiapkan load balancer-nya untuk mengalirkan 75 persen traffic setiap hari ketika program 12.12 sedang berjalan ke cloud. Tetapi database tetap berjalan di data center fisik. Untuk mengurangi beban di jaringan dan sistem, Karthik juga mengatur agar promosi yang digelar di delapan negara itu tidak dimulai serentak di waktu yang sama.

If it works today it will work forever. If it doesnt work today, i got fired,” Karthik Subramanian sambil tertawa kecil menggambarkan keyakinannya saat itu. Untunglah proses uji coba besar-besaran ini berakhir menyenangkan karena kampanye 12.12 Online Fever berjalan tanpa gangguan dan tim TI Zalora pun semakin percaya diri untuk berpindah total ke awan.

Proses tersebut dimulai akhir Februari lalu. “Kami memulainya dengan memindahkan situs web Zalora Singapura ke cloud. Setelah itu kami memindahkan dua website setiap minggunya dan selesaikan proses ini tangal 31 Maret,” papar Karthik. Satu-satunya downtime yang terjadi—selama sekitar 45 menit—adalah saat database dipindahkan ke cloud.

Cloud Hapus Kompleksitas, Buka Peluang Inovasi

Karthik Subramanian mengaku timnya tidak menghadapi kendala berarti di proses migrasi. Namun menurutnya, ada beberapa tantangan dari sisi internal. “Menggunakan data center fisik, kami terbiasa memiliki kapasitas lebih, sehingga para developer kami tidak akan berpikir tentang menulis kode yang lebih efisien,” jelasnya. Ia membutuhkan waktu sekitar satu tahun untuk mengubah “budaya” coding ke arah pengembangan aplikasi yang lebih efisien.

Menulis-ulang beberapa bagian inti dari technology stack Zalora juga harus diakukan agar proses dan sistem berjalan lebih efisien di atas platform cloud. “Apabila kami mengunakan teknologi yang lama, sistem kami tidak dapat melakukan scaling,” tandas Karthik. Lima engineer DevOps Zalora dapat menuntaskan proses ini dalam waktu satu tahun.

Menggunakan beberapa layanan AWS, seperti Amazon EC2, S3, RDS, Redshift, Route 53, SES, CloudFront, CloudWatch, dan CloudFormation, Zalora ini tak lagi harus menghadapi aneka kompleksitas teknologi yang dulu kerap harus mereka tangani.

“Kompleksitas teknologi sebenarnya bukan core bagi kami. What am i good at? Kami jago membangun aplikasi dan menghantarkan customer experience. Saya dan tim ingin lebih fokus pada membuat sesuatu yang menarik, misalnya dengan teknologi virtual reality,” ujar Karthik.

Keuntungan lain tentu saja Zalora tidak perlu lagi membeli dan mengurusi server fisik. Penambahan kapasitas hingga 150 persen di waktu sibuk dapat dilakukan dalam waktu lima belas menit saja. Ketika kapasitas berlebih, Karthik dan timnya pun dapat “membuangnya” dengan mudah. Dan yang penting lagi, utilisasi server meningkat sampai dengan 40 persen.

Menurut Karthik, dengan cloud, Zalora juga dapat menyajikan produk baru kepada pelanggannya—30 juta unique user per bulan—tiga kali lebih cepat dari sebelummnya.

Hal lain yang disukai Karthik Subramanian adalah ia dapat lebih leluasa bereksperimen dan berinovasi di platform cloud. “Kami sedang bangun model machine learning untuk lebih memahami perilaku pelanggan Zalora dari berbagai aspek. Itu membutuhkan banyak kemampuan analytics, dan kami membangunnya di AWS,” ujar Karthik mengakhiri penjelasannya.

TERBARU

Dalam membangun smart city, pemerintah daerah tidak bisa bekerja sendiri. Penting bagi para walikota dan bupati untuk memilih partner kerja sama yang tepat dari pihak swasta, khususnya para penyedia solusi TIK.