Tags Posts tagged with "Twitter"

Twitter

Ilustrasi live streaming Twitter

Twitter berencana meluncurkan program siaran langsung Twitter TV atau The Twitter Network selama 24 jam dalam 7 hari atau seminggu penuh pada aplikasi dan laman desktopnya.

Tayangan live streaming selama 800 jam itu akan dilaksanakan pada kuartal pertama tahun ini dan akan menayangkan berita-berita tentang olah raga, berita dan hiburan

“Kami tentu memiliki konten video 24/7. Tujuan kami, ketika Anda mendengar atau melihat sesuatu yang sedang terjadi, maka Anda akan mengunjungi Twitter,” kata Anthony Noto (COO dan CFO Twitter) kepada BuzzFeed News seperti dikutip CNBC.

Informasi ini muncul hanya beberapa minggu setelah Twitter kehilangan hak untuk melakukan penyiaran liga American football, NFL.

Meski Twitter harus merelakan kesepakatan tersebut ke Amazon, perusahaan yang didirikan CEO Jack Dorsey ini telah mengalami banyak pertumbuhan karena fungsi pengaliran video.

Sebenarnya, Twitter telah menyelenggarakan lebih dari 800 jam video langsung antara Januari dan Maret 2017 serta berhasil mencapai 45 juta pemirsa unik.

Harapannya, program video 24 jam selama 7 hari itu membuka kesempatan untuk menjual spot iklan lebih banyak. Iklan video berdurasi 15 sampai 30 detik itu juga tak dapat dilewati (unskipable).

Dengan penjualan iklan yang banyak, Twitter dapat memonetisasi layanan secara efektif. Noto mengatakan pendapatan Twitter yang terus meningkat karena iklan berbayar di konten video.

“Kami sedang mengerjakan banyak hal, banyak sekali, ada banyak rencana yang akan dirampungkan,” ucapnya.

Jack Dorsey (CEO Twitter) mengatakan Twitter sedang fokus menggabungkan penggunanya dengan minat dan topik yang mereka sukai.

Saat ini Twitter fokus mencocokkan orang-orang yang punya minat sama, termasuk menonton acara langsung di Twitter.

 

Ilustrasi Mastodon 1

Tidak hanya Snapchat yang dicontek Instagram dan Facebook. Kini, layanan jejaring sosial Mastodon pun sukses menjiplak Twitter dan sukses merangkul 41 ribu pengguna hanya dalam 48 jam.

Awalnya, Euegene Rochko (Pendiri Mastodon) sangat kecewa dengan Twitter lantaran timeline Twitter lebih mirip Facebook yang menampilkan posting berdasar kepopuleran.

Karena itu, Rochko pun kembali mendesain ulang Twitter dengan algoritmanya sendiri dan menamakannya Mastodon. Mastodon adalah Twitter versi open-source yang identik dengan beberapa perbedaan.

Nama Mastodon sendiri Rochko ambil dari nama band heavy metal favoritnya. Logo Mastodon pun sangat lucu yaitu gajah purba yang sedang memegang smartphone sambil tersenyum.

Rochko membuat Mastodon seperti layanan e-mail atau RSS yang memungkinkan orang-orang mengirim pesan publik ke siapa saja yang mereka ikuti di layanan. Postingan Mastodon bisa mencapai 500 karakter. Sedangkan, postingan Twitter hanya 140 karakter.

Selain itu, pengguna Mastodon bisa membuat posting tertentu menjadi private seperti dikutip The Verge.

Ilustrasi Mastodon 2

Rochko pun telah memperkenalkan Mastodon sejak enam bulan lalu. Dalam enam bulan pertama itu, Mastodon sudah memiliki 24.000 pengguna.

Namun, ketika Twitter meluncurkan update yang mengubah cara menampilkan balasan tweet. Banyak pengguna lama Twitter yang komplain dan ramai-ramai pindah ke Mastodon. Dalam 48 jam, jaringan Mastodon tumbuh 73 persen, menjadi 41.000-an pengguna.

Para pengguna Mastodon telah menciptakan konten-konten sebanyak hampir 1 juta dan membuat admin Mastodon menutup pendaftaran pengguna baru hingga kualitas layanan Mastodon menjamin penggunanya mendaftar.

Untuk mendanai proyek ini, Rochko pun membuat sebuah akun Patreon, sebuah platform bagi para kreator konten untuk menggalang dana. Dari akun tersebut, Rochko mendapatkan 1.000 dolar AS per bulan. Sementara biaya hosting bulanan situs Mastodon saat ini sekitar 100 dolar AS.

Sejauh ini, semua pengeluaran untuk Mastodon berhasil ditutup oleh Patreon.

Ilustrasi Twitter dan Gedung Putih

Twitter melayangkan gugatan hukum kepada Pemerintah Amerika Serikat (AS) lantaran Department of Homeland Security AS memaksa Twitter untuk mengungkap identitas penggunanya.

Maret lalu, Department of Homeland Security AS meminta Twitter mengungkap identitas sebuah pemilik akun yang kerap mengkritik anti terhadap pemerintahan Donald Trump.

Bahkan, Department of Homeland Security meminta Twitter menyerahkan rekaman-rekaman yang bisa mengungkap identitas operator akun @ALT_uscis, termasuk IP Log, alamat e-mail, dan nomor telepon.

“Pengungkapan identitas akun anonim itu bisa mengancam privasi dan kebebasan berpendapat, khususnya untuk suara-suara yang menentang pemerintah,” tulis Twitter dalam dokumen gugatan yang diajukan pekan ini ke Northern California District Court.

Twitter berargumen bahwa pemerintah AS tidak berhak Department of Homeland Security AS meminta identitas pemilik akun @ALT_uscis seperti dikutip PC World.

“Hak kebebasan berpendapat Twitter dan pengguna Twitter dilindungi oleh First Amendment dari US Constitution, dan itu termasuk hak untuk menyebarkan pendapat politik yang anonim,” tulis Twitter dalam gugatannya.

Diduga, akun @ALT_uscis dikendalikan oleh anggota badan imigrasi AS yang tidak suka dengan pemerintahan yang sekarang.

Fitur Data Saver pada Twitter Lite bisa menghemat data sampai 70%.

Twitter terus berusaha mempermudah akses dan memberikan pengalaman yang nyaman bagi para pengguna di seluruh dunia, terutama di negara-negara berkembang dengan koneksi internet yang belum stabil.

Pada hari ini (6/4), Twitter meluncurkan layanan Twitter Lite yang memungkinkan para pengguna untuk membuka Twitter dari peramban di smartphone dengan cara yang lebih hemat. Layanan ini membuat pengguna tidak perlu lagi mengunduh aplikasi Twitter di Android atau iOS, tetapi cukup membuka http://mobile.twitter.com dari peramban.

Sebelumnya, alamat Twitter versi mobile itu hanya menawarkan fitur-fitur sederhana berbasis HTML. Dengan pembaruan Twitter Lite ini, situs Twitter Mobile didesain ulang dengan platform Progressive Web Apps (PWA) dari Google. Platform yang diperkenalkan pada acara Google I/O tahun lalu ini dapat menghadirkan pengalaman pengguna layaknya aplikasi native, tetapi dalam format yang lebih hemat data dan ruang penyimpanan karena ukuran file-nya kurang dari 1 MB.

Twitter Lite menyajikan fitur-fitur kunci yang lebih lengkap. Di samping melihat timeline serta mengirim tweet dan direct message, tersedia pula fitur lainnya seperti trends, profiles, media uploads, dan push notifications. Ada juga fitur Data Saver yang bisa menghemat data hingga 70% dengan tidak membuka foto secara otomatis dan Offline Access untuk melihat timeline saat kehilangan koneksi internet.

“Adopsi smartphone tumbuh hingga 3,8 miliar pada akhir tahun 2016, tetapi 45% koneksi mobile masih berada di jaringan 2G,” kata Patrick Traughber (Product Manager, Twitter) mengungkap alasan peluncuran Twitter Lite.

“Twitter Lite bisa diakses dalam waktu kurang dari 5 detik di jaringan 3G. Kecepatan ini penting karena sebagian besar pengguna internet masih memakai jaringan 2G atau 3G,” imbuh Nicolas Gallagher (Engineer, Twitter).

Twitter Lite telah dirilis secara global dan mendukung penggunaan dalam 42 bahasa, tetapi berfokus pada negara-negara berkembang di wilayah Asia Pasifik, Afrika, dan Amerika Selatan.

Ilustrasi perubahan kebijakan batas 140 karakter di Twitter.

Twitter kembali memperbarui kebijakan pembatasan karakter dalam sebuah tweet. Kali ini, Twitter mengeluarkan @username (nama akun) dari perhitungan jumlah maksimal 140 karakter pada satu tweet apabila tweet itu ditujukan untuk membalas (reply) akun lain.

Perubahan kebijakan ini dimaksudkan agar para pengguna Twitter dapat berekspresi dan bercakap-cakap dengan pengguna lainnya secara lebih mudah dan leluasa. Sebelumnya, Twitter telah mengeluarkan alamat tautan (link), foto, dan video dari perhitungan batas 140 karakter.

Dengan pembaruan ini, percakapan di Twitter akan terlihat lebih sederhana karena @username dari tweet yang dibalas akan ditampilkan di bagian atas tweet, tidak lagi di dalam tweet tersebut, agar pengguna memiliki murni 140 karakter.

Dalam kondisi membalas tweet yang menyertakan beberapa @username sekaligus, pengguna dapat menekan tombol reply untuk melihat dan mengontrol siapa saja yang dapat tergabung dalam percakapan.

Sedangkan saat membaca sebuah percakapan di Twitter, pengguna akan dapat melihat balasan dari pengguna lain dengan lebih jelas, daripada melihat @username di awal sebuah tweet. Harapannya, pengguna Twitter lebih mudah untuk mengikuti sebuah percakapan sehingga mereka dapat lebih fokus terhadap topik yang sedang dibicarakan.

Sasank Reddy (Product Manager, Twitter) menyatakan, “Pembaruan yang kami lakukan adalah berdasarkan masukan dari pengguna serta riset dan eksperimen yang kami lakukan. Dalam beberapa tes yang kami lakukan untuk pembaruan ini; kami melihat bahwa pengguna menjadi lebih mudah bergabung dalam berbagai percakapan yang ada di Twitter.”

Pembaruan ini akan segera diimplementasikan untuk semua pengguna di Twitter versi web sekaligus aplikasi iOS dan Android. Pengguna harus lebih dulu memperbarui aplikasi Twitter mereka untuk dapat merasakan pembaruan ini.

Ilustrasi Twitter Blokir Konten

Twitter terus meningkatkan sistem keamanan jejaring sosialnya dan melindungi penggunanya dari konten berisi ujaran kebencian, kekerasan, penipuan politik, dan terorisme.

Caranya, Twitter menggunakan software khusus untuk mencari konten-konten berbahaya daripada menunggu laporan dari pengguna atau pemerintah.

Dalam laporan tahunan Transparency Report, Twitter mengaku sudah memblokir 377.000 akun selama paruh kedua tahun 2016, atau sekitar 63 ribu akun per bulan. Akun-akun tersebut dianggap mengandung dan mempromosikan kekerasan atau teror. Jumlah pemblokiran ini naik dari rata-rata tahun sebelumnya yaitu 24 ribu akun per bulan.

Twitter mengungkapkan bahwa 74 persen dari akun yang diblokir adalah hasil analisis software dan hanya kurang dari dua persen yang merupakan hasil dari permintaan pemerintah. Angka ini meningkat dari tahun sebelumnya, ketika hanya kurang dari sepertiga akun yang diblokir berasal dari rekomendasi software.

Tekanan Pemerintah

Pemerintah Amerika Serikat dan negara-negara Eropa juga diketahui kerap menekan perusahaan jejaring sosial media seperti Twitter, Facebook, dan Google untuk menangkis situs-situs online berbau radikal dan mengandung kekerasan.

Twitter pun mengungkapkan peningkatan jumlah permintaan dari pemerintah untuk memblokir berita-berita media dan LSM. Twitter menyebut bahwa Turki adalah negara yang paling sering meminta pemblokiran terhadap berita-berita yang menyerang pemerintah, seperti dikutip Venture Beat.

Tahun lalu, Twitter menerima 88 permintaan dari pengadilan dan instansi resmi pemerintah untuk memblokir konten-konten media dan 77 permintaan itu berasal dari Turki. Turki telah mendakwa ribuan orang, termasuk wartawan, terlibat dalam percobaan kudeta gagal pada Juli tahun lalu.

Twitter pun tidak mematuhi semua permintaan pemerintah tersebut, kecuali Turki dan Jerman. Di Turki, Twitter memblokir 15 kicauan dan 14 akun menuruti permintaan pengadilan.

Twitter Verified Account

Twitter diketahui sedang menggodok rencana untuk memperkenalkan layanan berbayar. Tenang, layanan ini bukan untuk platform Twitter itu sendiri, melainkan untuk aplikasi TweetDeck yang mereka akuisisi enam tahun lalu.

Sebagai informasi, TweetDeck merupakan aplikasi manajemen media sosial dan analisis data yang dibeli Twitter pada tahun 2011. Pengguna TweetDeck biasanya adalah orang-orang profesional yang perlu mengelola beberapa akun media sosial sekaligus, misalnya media massa, brand, dan agen periklanan, serta memantau aktivitas digitalnya.

Selama ini, TweetDeck dapat digunakan secara gratis (dengan selipan iklan), berbeda dengan aplikasi sejenis, misalnya Hootsuite, yang menyediakan versi gratis dan premium (berbayar). Namun, melihat peningkatan frekuensi aktivitas digital, Twitter membuka peluang untuk membuat layanan premium dengan sistem berlangganan bulanan.

Rencana ini diketahui berawal dari pernyataan Brielle Villablanca (Juru Bicara Twitter) yang mengungkapkan bahwa pihaknya sedang melakukan survei untuk mengetahui ketertarikan pengguna terhadap versi TweetDeck dengan peningkatan fitur.

“Kami rutin melakukan riset pengguna untuk memperoleh masukan tentang pengalaman pengguna dan mencari cara agar TweetDeck lebih bernilai bagi para profesional,” tukasnya.

Villablanca memang tidak menjelaskan secara eksplisit bahwa Twitter berniat memperkenalkan layanan berbayar. Tetapi, Andrew Tavani, seorang jurnalis New York Times membocorkan screenshot yang menggambarkan tampilan TweetDeck versi premium.

Andrew Tavani, seorang jurnalis New York Times membocorkan screenshot yang menggambarkan tampilan TweetDeck versi premium.

“Versi tersebut bisa mencakup perkakas (tool) yang lebih bertenaga untuk membantu tenaga pemasaran, jurnalis, profesional, dan anggota lainnya dari komunitas TweetDeck untuk lebih cepat mengetahui apa saja yang terjadi di dunia,” tulis keterangan di dalam screenshot itu, sembari menyebutkan bahwa versi itu bisa dinikmati tanpa gangguan iklan.

Jika rencana TweetDeck berbayar ini jadi dilaksanakan, layanan ini mungkin saja menjadi sumber pemasukan baru bagi Twitter yang selama ini hanya mengandalkan bisnis iklannya. Itu pun masih belum mencukupi untuk memberi keuntungan bagi media sosial yang dipimpin Jack Dorsey itu.

Hingga saat ini, Twitter belum membenarkan ataupun menyanggah kabar tersebut. Belum ada informasi lebih lanjut pula mengenai perkiraan harga yang akan dipatok Twitter pada layanan TweetDeck premiumnya.

Ilustrasi peretasan Twitter

Ribuan akun Twitter, termasuk akun milik figur publik, media massa, dan lembaga kemanusiaan, dibobol oleh pihak yang diduga sebagai aktivis Turki yang mendukung Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Rabu (15/3).

Beberapa akun ternama yang menjadi korban antara lain akun resmi milik bintang pop Justin Bieber, mantan petenis Boris Becker, klub sepak bola Borussia Dortmund, World Meteorological Organization, Blockchain, Amnesti Internasional, UNICEF, dan Kementerian Kesehatan Inggris.

Peretas memasang gambar background bendera Turki pada akun-akun Twitter itu, kemudian mencuitkan tweet berisi simbol swastika (simbol yang digunakan Adolf Hitler dan Nazi di Jerman), disertai dua hashtag tentang Nazi Jerman dan Nazi Belanda serta tautan video propaganda pro-Erdogan.

Peretasan ini dilakukan lewat celah keamanan pada Twitter Counter, layanan analitik pihak ketiga yang digunakan oleh akun-akun tersebut.

Omer Ginor (CEO, Twitter Counter) menyatakan, “Kami menyadari situasi ini dan telah memulai investigasi terhadap masalah ini.”

Ginor melanjutkan, “Kami telah melakukan tindakan untuk meredam penyalahgunaan akun-akun pengguna kami, dengan memblokir kemampuan mengirim tweet lewat sistem kami dan mengganti key aplikasi Twitter kami.”

Terkait Politik

Aksi peretasan ini ditengarai terkait ketegangan politik yang memanas antara Pemerintah Turki dan Pemerintah Belanda dan Jerman.

Pekan lalu, Pemerintah Belanda menuduh Erdogan sebagai “Pengikut Nazi dan Fasis” serta melarang menteri asal Turki untuk berkunjung ke konsulat Turki di Rotterdam. Erdogan pun balas mengancam bahwa Belanda harus “membayar” aksi tersebut.

Pada 16 April nanti, Erdogan akan menggelar referendum untuk menambah masa kekuasaannya sebagai presiden, mengingat masa bakti presiden Turki itu sudah habis.

Ilustrasi Robot Jurnalis

Percakapan di media sosial tidak hanya diramaikan oleh manusia, tetapi juga oleh bot–program yang mampu bekerja secara otomatis menirukan perilaku pengguna biasa. Bahkan, jumlah bot diperkirakan terus meningkat.

Hasil studi terbaru dari University of Southern California dan Indiana University menyebutkan bahwa sebanyak 4,8 juta akun di Twitter adalah akun bot. Artinya, sekitar 9 – 15 persen dari total pengguna aktif Twitter sebanyak 319 juta akun dikendalikan oleh robot, bukan manusia.

Angka ini meningkat hampir dua kali lipat dari estimasi yang disebut Twitter Inc. pada laporan keuangan tahun 2014. Ketika itu, Twitter memperkirakan jumlah akun bot di platformnya bisa mencapai 8,5 persen.

Studi ini dapat mengidentifikasi akun bot dengan sistem berbasis machine learning yang mengolah dan mengekstrak ribuan data percakapan di Twitter, antara lain metadata pengguna dan teman-temannya, konten dan sentimen tweet, pola jaringan dan persebaran tweet, serta rekam jejak aktivitas.

“Metadata pengguna dan konten tweet adalah sumber data yang paling penting untuk mendeteksi bot sederhana,” ujar tim peneliti dalam laporannya.

Tim peneliti yang terdiri dari Onur Varol, Emilio Ferrara, Clayton A. Davis, Filippo Menczer, dan Alessandro Flammini pun menyebutkan bahwa angka 15 persen adalah perkiraan konservatif. Angka sebenarnya bisa jadi lebih tinggi daripada itu, mengingat cukup banyak akun bot yang canggih dan benar-benar menyerupai perilaku manusia.

Dikutip dari CNET, hasil studi ini memperkuat penelitian yang pernah dilakukan University of Southern California pada akhir 2016 yang menemukan bahwa 19 persen tweet terkait pemilihan Presiden AS dikirim oleh akun bot.

Sedangkan sebuah laporan dari Imperva pada Februari 2017 menyebutkan, lebih dari separuh lalu lintas internet di dunia dikuasai oleh bot.

Aktivitas bot ditengarai mencapai 51,8% dari keseluruhan aktivitas di internet, sedangkan manusia hanya menyumbang 48,2%-nya. Angka ini didapat berdasarkan hasil riset Imperva pada 16,7 miliar kunjungan di 100 ribu domain yang dipilih acak pada periode 9 Agustus – 6 November 2016.

Twitter kembali meluncurkan update terbaru yang akan meningkatkan kenyamanan dan keamanan pengguna. Beberapa update terbaru Twitter yaitu memperbarui cara pelaporan konten kasar, mencegah pembuatan akun-akun yang berisikan konten melecehkan dan merendahkan serta mengimplementasikan hasil pencarian yang lebih aman.

Ed Ho (VP of Engineering, Twitter) mengatakan Twitter mulai mengimplementasikan beberapa pembaruan untuk meminimalisir konten kasar dan merendahkan, menyediakan lebih banyak metode untuk mengontrol pengalaman Anda.

“Kami telah melihat dampak positif dari beberapa pembaruan yang kami lakukan baru-baru ini dan sangat menghargai masukan yang kami terima dari para pengguna,” katanya dalam siaran persnya, Sabtu.

Twitter akan menggunakan algoritma untuk mengetahui pengguna yang melanggar peraturan dan Twitter akan mengambil tindakan tegas untuk pengguna tersebut.

Twitter juga memperkenalkan pilihan filter terbaru untuk mengontrol akun-akun tertentu seperti akun-akun yang tidak memiliki foto profil, alamat e-mail ataupun nomor ponsel yang tidak terverifikasi.

“Banyak orang meminta opsi filter yang lebih banyak untuk notifikasi mereka. Kami akan mengupayakan agar dapat dirasakan oleh semua pengguna,” ujarnya.

“Kami menghargai kesabaran dan dukungan Anda, terutama saat kami mengimplementasikan berbagai pembaruan ini secara global dan dalam setiap bahasa yang tersedia di platform ini dalam beberapa waktu ke depan,” ucapnya.