Tags Posts tagged with "Windows"

Windows

Seperti namanya, Complete Anatomy adalah aplikasi yang berhubungan dengan anatomi manusia. Jika Anda ingin mendapatkan gambaran singkat mengenai anatomi manusia, aplikasi ini bisa membantu Anda. Apalagi Complete Anatomy bisa digunakan secara gratis.

Secara default, saat pertama kali menjalankan Complete Anatomy, aplikasi ini akan menampilkan seluruh tubuh. Namun, tersedia opsi untuk berfokus ke bagian tubuh tertentu, misalnya kepala serta leher, abdomen, punggung, maupun pelvis. Setelah memutuskan untuk berfokus ke seluruh tubuh maupun bagian tubuh tertentu, Anda kemudian bisa melakukan rotasi maupun zoom agar bisa melihat berbagai bagiannya secara lebih jelas.

Selanjutnya, Anda bisa mengeklik atau menyentuh aneka komponen yang membentuk bagian yang bersangkutan. Tujuannya tentu saja untuk mengetahui informasi mengenai komponen tersebut.

Complete Anatomy akan menampilkan nama dan penjelasan singkat dari komponen yang diklik atau disentuh itu, tentunya dalam bahasa Inggris. Aplikasi ini juga menyediakan penjelasan audio berisikan cara mengucapkan nama yang ditampilkan. Bahkan, jika Anda ingin menonjolkan komponen yang disorot dengan menyembunyikan komponen lain di sekitarnya, opsi ini pun tersedia.

Oh ya, meskipun Complete Anatomy bisa digunakan secara gratis, tersedia versi dengan fitur yang lebih lengkap. Versi lebih lengkap ini bisa diperoleh dengan membayar seharga Rp622.200.

Beberapa waktu lalu, Mathy Vanhoef (Peneliti Keamanan) mengungkapkan celah keamanan enkripsi WPA2, disebut KRACK, yang berdampak risiko pembajakan jaringan WiFi. Tentunya, salah satu cara untuk melindungi Anda dari KRACK yaitu memperbarui perangkat WiFi.

Pertama, Anda harus memperbarui akses WiFi. Jika Anda menggunakan router dari penyedia layanan internet (ISP), Anda bisa menanyakan kepada perusahaan router WiFi Anda, apakah mereka telah menyediakan patch keamanan. Jika Anda masih ragu-ragu, Anda bisa membeli perangkat WiFi yang terpisah dan baru.

Perusahaan-perusahaan teknologi pun langsung bergegas memperbaiki celah keamanan KRACK, seperti Aruba Networks, Meraki, dan Mikrotik. Tak terkecuali perusahaan pembuat sistem operasi.

Microsoft telah meluncurkan patch keamanan terbaru untuk Windows 7, Windows 8, Windows 8.1 dan Windows 10, seperti dikutip Tech Crunch.

Sedangkan, Apple sedang mengerjakan patch untuk mengatasai permasalahan tersebut. Tetapi, Anda sudah bisa mengunduh patch versi beta untuk macOS, iOS, tvOS, dan watchOS. Selain itu, Apple akan meluncurkan sistem operasi macOS 10.11.1 dan iOS 11.1 pada Minggu depan dengan perbaikan bug dan emoji terbaru.

Bagaimana dengan Android? Perangkat yang menjalankan sistem operasi Android 6.0 dan setelahnya sangat rentan terhadap celah KRACK. Google baru bisa meluncurkan patch keamanan KRACK pada 6 November.

Semua perangkat Google akan mendapatkan pembaruan patch keamanan secara otomatis, tetapi pengguna harus menunggu terlebih dahulu dan bersabar.

Celah keamanan KRACK mengharuskan Anda untuk memperbarui sistem keamanan perangkat Anda secepatnya.

Mesin pencari milik Google, Chrome, sebelumnya sudah memiliki alat untuk membantu pengguna menghindari unwanted software atau perangkat lunak yang tidak diinginkan semacam ini.

Misalnya, penggunaan Safe Browsing yang mampu mencegah banyak infeksi terjadi dengan memperingatkan jutaan pengguna. Namun terkadang, ini saja belum cukup untuk menghentikannya.

Untuk itu, Chrome menggandeng Eset, vendor sekuriti asal Slowakia dengan meluncurkan Chrome Cleanup. Fitur Chrome Cleanup ini akan bekerja layaknya sebuah pemindai dan pembersih baru untuk Google Chrome yang dirancang untuk membantu pengguna menjelajahi web dengan aman dan tanpa gangguan. Pembersih Chrome akan tersedia untuk semua pengguna Google Chrome yang berjalan di Windows.

Eset pun membuat tiga perubahan guna membantu Chrome untuk Windows pulih dari infeksi perangkat lunak tidak diinginkan, sebagai berikut:

  1. Hijacked settings detection

Ekstensi dapat membantu membuat Chrome lebih bermanfaat, seperti dengan menyesuaikan pengelolaan tab. Tapi beberapa ekstensi bisa mengubah setting tanpa pengguna sadari. Sekarang, Chrome mampu mendeteksi setelan pengguna yang telah diubah tanpa persetujuan, dan menawarkan untuk mengembalikan setelan yang dimodifikasi. Pengguna juga dapat mengatur ulang pengaturan profil kapan saja dengan mengunjungi chrome://settings/resetProfileSettings

  1. Chrome Cleanup yang Lebih Simpel

Saat pengguna mengunduh perangkat lunak atau konten lainnya, terkadang perangkat lunak yang tidak diinginkan menjadi bagian dari proses penginstalan tanpa disadari. Itulah sebabnya di Chrome untuk Windows, fitur Chrome Cleanup memperingatkan orang-orang saat mendeteksi perangkat lunak yang tidak diinginkan dan menawarkan cara cepat untuk menghapus perangkat lunak dan mengembalikan Chrome ke setelan bawaannya. Eset baru saja mendesain ulang Chrome Cleanup, dengan antarmuka baru yang lebih sederhana dan memudahkan untuk melihat perangkat lunak apa yang akan dihapus.

  1. Mesin Cleanup yang lebih bertenaga

Google meningkatkan teknologi yang digunakan di Chrome Cleanup untuk mendeteksi dan menghapus perangkat lunak yang tidak diinginkan. Google dan Eset pun menggabungkan mesin pendeteksi Eset dengan teknologi sandbox Chrome. Dengan begitu, Chrome kini dapat mendeteksi dan menghapus lebih banyak perangkat lunak yang tidak diinginkan daripada sebelumnya. Namun, mesin sandboxed baru ini bukanlah antivirus, tujuan umumnya hanya akan menghapus perangkat lunak yang tidak sesuai dengan kebijakan perangkat lunak yang tidak diinginkan.

Saat ini fitur baru tersebut sudah mulai diluncurkan kepada pengguna Chrome untuk Windows.

Juraj Malcho (Chief Technology Officer, Eset) pun menuturkan, jika sudah selayaknya internet merupakan tempat yang aman dan lancar bagi setiap orang. “Selama tiga dekade, Eset telah mengembangkan sejumlah solusi keamanan yang memungkinkan pengguna menikmati teknologi dengan aman dan untuk mengurangi berbagai ancaman Siber,” jelas Malcho. Ia menegaskan, Chrome Cleanup merupakan solusi untuk menangani perangkat lunak yang tidak diinginkan yang dapat berakibat buruk bagi pengguna internet.

Tanpa disadari, jutaan pengguna internet setiap harinya kerap menjadi korban software berbahaya yang mampu memodifikasi hasil pencarian mereka. Pengguna internet pun tak jarang kerap mengalami pengalihan laman pencarian ke laman lainnya atau justru masuk ke halaman iklan tanpa mereka kehendaki.

Kondisi inilah yang lantas mendorong Google dan Eset untuk berkolaborasi demi mencegah pengguna terperangkap ke laman yang tidak dikehendaki.

Mesin pencari milik Google, Chrome, sebelumnya sudah memiliki alat untuk membantu pengguna menghindari unwanted software atau perangkat lunak yang tidak diinginkan semacam ini. Misalnya, penggunaan Safe Browsing yang mampu mencegah banyak infeksi terjadi dengan memperingatkan jutaan pengguna. Namun terkadang, ini saja belum cukup untuk menghentikannya.

Untuk itu, Chrome menggandeng Eset, vendor sekuriti asal Slowakia dengan meluncurkan Chrome Cleanup. Fitur Chrome Cleanup ini akan bekerja bagai sebuah pemindai dan pembersih baru untuk Google Chrome yang dirancang untuk membantu pengguna menjelajahi web dengan aman dan tanpa gangguan. Pembersih Chrome akan tersedia untuk semua pengguna Google Chrome yang berjalan di Windows.

Cara kerja Chrome Cleanup ini adalah dengan mengingatkan pengguna Google Chrome akan ancaman potensial saat mendeteksi perangkat lunak yang tidak diinginkan. Selanjutnya Google Chrome akan memberi pengguna pilihan untuk menghapus perangkat lunak. Jika proses pembersihan telah selesai, maka Chrome Cleanup akan memberitahukan pengguna.

Technical Consultant PT Prosperita – Eset Indonesia, Yudhi Kukuh menyebut, kerjasama ini bukanlah yang pertama kali dilakukan Eset. Pasalnya sejak awal berdiri, Eset memang ingin memberikan keamanan dan kenyamanan pada seluruh pengguna internet di dunia.

“Semoga ke depan kerjasama semacam ini terus terjalin dengan semua pihak yang terkait demi menciptakan lingkungan siber yang aman bagi kita semua,” pungkas Yudhi Kukuh.

Microsoft tidak akan mengupgrade smartphone windows phone terbarunya tahun ini

Microsoft tampaknya sudah menunjukkan tanda-tanda menyerah dalam perlawanan melawan iOS dan Android di pasar sistem operasi smartphone.

Indikasi terkuat dilontarkan oleh Joe Belfiore (Corporate VP of Windows 10, Microsoft) saat membalas beberapa pesan terkait Windows 10 Mobile lewat akun Twitter-nya.

Joe mencoba meredam kekhawatiran para pengguna Windows Phone atas keberlangsungan sistem operasi Windows 10 Mobile.

Ia memastikan bahwa Microsoft akan terus mendukung platform tersebut, tetapi terbatas pada perbaikan bug dan pembaruan keamanan. “Mengembangkan software dan hardware baru [untuk Windows 10 Mobile] bukan lagi fokus kami,” imbuhnya.

Apa alasan alasan penghentian pengembangan platform mobile itu? Joe menyebut bahwa jumlah pengguna Windows Phone terlalu sedikit. Walhasil, sangat sulit mendorong pengembang aplikasi ataupun vendor smartphone untuk membuat produk-produk untuk platform tersebut.

“Kami telah berupaya sangat keras untuk memberi insentif bagi para pengembang aplikasi. Membayar mereka, menuliskan kode untuk mereka. Namun, jumlah pengguna [Windows Phone] terlampau kecil bagi sebagian besar perusahaan untuk berinveastasi,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Joe menjelaskan strategi Microsoft pada pasar mobile ke depannya adalah dengan menyediakan aplikasi mereka di platform lainnya. Contohnya, baru-baru ini Microsoft merilis versi beta dari peramban Edge di Android dan iOS. Microsoft juga memiliki aplikasi andalan seperti Office dan SwiftKey pada kedua sistem operasi populer itu.

Akhir riwayat Windows Phone sebenarnya sudah bisa dilihat sejak satu tahun terakhir. Nyaris tidak ada lagi Windows Phone baru yang dilempar ke pasaran. Bahkan, pekan lalu HP Inc. telah menyetop produksi dan penjualan varian Windows Phone terakhir, HP Elite X3.

Pangsa pasar Windows Phone pun amat kecil dengan angka 0,1 persen pada kuartal pertama 2017, hanya unggul dari BlackBerry dan Symbian OS.

Tentu saja, kenyataan paling ironis adalah pendiri Microsoft, Bill Gates, pun mengaku sudah mengganti Windows Phone miliknya dengan smartphone Android.

Tidak sedikit aplikasi yang ditujukan sebagai alternatif dari Microsoft Word. Ada yang berbayar, namun ada juga yang gratis. Pada Apps of The Month kali ini, InfoKomputer menampilkan salah satu aplikasi alternatif Microsoft Word yang bisa digunakan secara gratis, yakni Compact Word.

Compact Word hadir dengan tampilan yang ringkas. Tidak banyak tombol-tombol yang menghiasi toolbar yang berada di bagian sebelah atas. Compact Word ini cocok untuk yang memang menyenangi tampilan ringkas saat mengetik maupun yang mencari aplikasi alternatif Microsoft Word yang ringkas.

Di sebelah atas toolbar yang dimiliki, Compact Word akan menampilkan iklan. Iklan yang hadir umumnya berupa tulisan yang merupakan tawaran untuk mencoba aneka aplikasi lain.

Meskipun tampil ringkas, Compact Word bisa membuka berbagai file populer yang didukung oleh Microsoft Word, temasuk DOCX. Begitu pula sebaliknya. Namun seperti aplikasi sejenis, kadang kala diperlukan penyesuian format agar isi dari file bersangkutan tampil seperti yang seharusnya.

Aplikasi ini juga mendukung opsi untuk menambahkan tabel maupun memasukkan gambar. Begitu pula dengan dukungan untuk menyorot kata atau kalimat tertentu dengan warna.

Jika Anda kadang kala membutuhkan invoice untuk diberikan pada pihak lain, Free Invoice Generator adalah aplikasi di Windows 10 yang bisa memudahkan Anda memenuhi kebutuhan tersebut. Apalagi, seperti namanya yang mengandung kata free alias gratis, Free Invoice Generator bisa digunakan secara gratis.

Menggunakan Free Invoice Generator bisa dibilang intuitif. Anda tinggal mengisi field yang telah disediakan dengan kata maupun kalimat yang diinginkan. Untuk tanggal, baik itu tanggal pembuatan invoice maupun tanggal jatuh tempo, Anda bisa memilihnya dari penanggalan yang disediakan.

Adapun untuk item yang hendak ditagih, Free Invoice Generator mendukung berbagai item berbeda untuk dimasukkan pada invoice yang sama. Begitu pula dengan jumlah setiap item yang bisa diatur sesuai keperluan. Menariknya lagi, Free Invoice Generator mendukung mata uang Indonesia alias rupiah. Opsi untuk memasukkan besaran pajak pun tak ketinggalan disediakan.

Setelah mendapatkan invoice yang diinginkan, Anda kemudian bisa menyimpannya ke file PDF. File PDF ini selanjutnya tentu bisa dicetak maupun di-e-mail sesuai dengan kebutuhan.

Ilustrasi Bill Gates

Anda yang terbiasa menggunakan komputer atau laptop berbasis Windows, pasti mengenal tombol perintah “control-alt-delete“. Dari sisi ergonomis jari, menekan ketiga tombol itu dengan satu jari sangat sulit.

Dalam kampanye penggalangan dana Harvard, David Rubenstein (Co-Chair Harvard) bertanya kepada Bill Gates (Pendiri Microsoft) terkait tombol ctrl-alt-del ke Bill Gates.

“Mengapa ketika saya ingin mengaktifkan perangkat lunak dan komputer, saya harus melakukannya dengan tiga jari yaitu control, alt, delete?” tanya Rubenstein kepada Gates sembari menanyakan siapa yang membuat ide tersebut.

Gates lalu mengatakan bahwa login dengan menekan kombinasi tiga tombol seharusnya bisa lebih mudah seperti yang diadopsi di Mac oleh Apple. Tetapi, Gates menekankan bahwa desainer IBM-lah yang “ngotot” menggunakan Ctrl-Alt-Del.

“Ini sebuah kesalahan karena seharusnya kami melakukannya dengan satu tombol, tetapi desainer keyboard IBM tidak mau memberikan tombol tunggal kepada kami,” kata Gates seperti dikutip Siliconbeat.

Gates menjelaskan penggunaan Ctrl-Alt-Del agar orang lain atau aplikasi lain tidak bisa login ke komputer dan mencuri password. Kombinasi tombol Ctrl-Alt-Del sendiri dirancang oleh David Bradley (insinyur IBM) dan digunakan untuk me-reboot PC pada awal 1990-an.

Bahkan, Bradley awalnya ingin menggunakan tombol Ctrl+Alt+Esc. Tetapi, karena semua tombol itu berada di sisi kiri keyboard, pengguna bisa saja tak sengaja me-reboot komputer.

Hingga saat ini, tombol Ctrl-Alt-Del masih tetap dipertahankan untuk me-reboot dan mengaktifkan fungsi task manager komputer pada sistem operasi Windows 8 dan versi Windows yang lama untuk mengaktifkan komputer.

Anda sedang memiliki kebutuhan yang berhubungan dengan partisi, misalnya untuk melakukan format terhadap partisi dengan System File tertentu? Jika ya, MiniTool Partition Wizard Free bisa menjadi aplikasi yang membantu. Ia tidak hanya mendukung sistem file FAT32 dan NTFS, melainkan mendukung pula ext2, ext3, dan ext4.

Untuk mulai mencoba MiniTool Partition Wizard Free, Anda bisa mengunduhnya di www.partitionwizard.com/free-partition-manager.html. Seperti embel-embel Free pada namanya, aplikasi ini bisa digunakan secara gratis.

Ada banyak fasilitas yang diberikan oleh MiniTool Partition Wizard Free, tidak hanya dukungan untuk melakukan proses format dengan file system yang telah disebut di atas. Aplikasi ini juga mendukung berbagai fungsi yang berhubungan dengan partisi lainnya, mulai dari Delete Partition, Move/Resize Partition, Merge Partition, Split Partition, Copy Partition, sampai Wipe Partition. Ada juga fasilitas yang bisa memudahkan migrasi sistem operasi yang digunakan ke HDD maupun SSD baru. Anda pun bisa melihat informasi mengenai suatu partisi seperti jumlah sector per cluster-nya.

Saat pertama kali menjalankan MiniTool Partition Wizard Free, akan muncul penawaran mengenai sejumlah aplikasi lain. Namun, Anda bisa memilih agar tawaran ini tidak muncul lagi ketika aplikasi itu dijalankan untuk kedua kali dan seterusnya.

Pembuat software (perangkat lunak) keamanan asal Rusia Kaspersky Lab menggugat Microsoft terkait kasus anti monopoli kepada Komisi Eropa dan kantor kartel federal Jerman.

Sebelumnya, Kaspersky gagal menyelesaikan masalah tersebut dengan Microsoft melalui jalur kekeluargaan.

Kaspersky melihat Microsoft menggunakan nama besarnya untuk mendominasi pasar sistem operasi PC. Bahkan, Microsoft mendistribusikan perangkat lunak anti-virus Defender miliknya sendiri ke dalam sistem operasi Windows.

Hal itu akan menjadi hambatan besar bagi vendor keamanan perangkat lunak independen untuk memasarkan produknya.

Perusahaan keamanan yang berbasis di Moskow itu mengatakan tindakan Microsoft itu memberikan tingkat perlindungan keamanan yang rendah kepada pengguna, pembatasan hak pengguna untuk memilih sehingga menyebabkan kerugian finansial baik bagi pengguna dan produsen solusi keamanan.

Microsoft mengatakan bahwa perusahaan tidak melanggar undang-undang apapun dan kehadiran Defender pada Windows hanya untuk melindungi pengguna.

“Kami yakin fitur keamanan Windows 10 sesuai dengan undang-undang persaingan. Microsoft akan selalu menjaga perangkat dan data pelanggan agar tetap terlindungi,” katanya seperti dikutip Reuters.

Pada November lalu, Kaspersky pernah mengancam akan mengajukan keluhan tersebut ke Komisi Eropa. Namun, Kasepersky menunda rencananya tersebut karena Microsoft sepakat untuk berubah.

TERBARU

ASRock Beebox-S 7200U adalah sebuah barebobe PC mini yang ditujukan untuk banyak penggunaan termasuk sebagai HTPC (home theater PC).