Find Us On Social Media :

Ini Alasan Elon Musk Getol Kampanyekan Hapus Akun Facebook di Twitter

By Adam Rizal, Selasa, 11 Februari 2020 | 15:30 WIB

Elon Musk

Durov sendiri adalah CEO dari Telegram, aplikasi berkirim pesan seperti halnya Whatsapp. Karena itu, kritik kerasnya terhadap Whatsapp memang terasa tidak obyektif. Namun jika kita tilik lebih jauh, argumentasi Durov terhadap Whatsapp memang memiliki alasan yang masuk akal.

Durov menyebut kasus yang menimpa CEO Amazon, Jeff Bezos, sebagai salah satu bukti kelemahan Whatsapp. Bagi Anda yang belum tahu, Bezos mengalami kebocoran data akibat terjebak mengklik sebuah video yang dikirim via Whatsapp. Bezos tidak menyadari, video tersebut mengandung kode jahat yang menyedot data dari iPhone-nya. Akibatnya, pesan bernada intim Bezos kepada selingkuhannya terkuak ke publik.

Baca juga: Inilah kronologi pembajakan iPhone Jeff Bezos oleh Pangeran Arab Saudi

Juru bicara Facebook, pemilik Whatsapp, menyebut kasus penyadapan Bezos ini akibat kelemahan iPhone. Akan tetapi Durov berargumentasi, insiden ini adalah bukti kelemahan Whatsapp. “Lubang keamanan lewat video ini tidak cuma terjadi di platform iOS, namun juga Android dan Windows Phone,” ungkap Durov. Kalau memang sumber kelemahan di iOS, seharusnya kelemahan tersebut juga dieksploitasi di aplikasi perpesanan lain, termasuk Telegram.

Durov juga menunjuk fakta PBB dan Gedung Putih yang menginstruksikan pejabatnya untuk tidak menggunakan Whatsapp sebagai media komunikasi. 

Durov menyodorkan bukti lain berupa ditemukannya 12 lubang keamanan di Whatsapp dalam setahun terakhir; dengan tujuh di antaranya lubang keamanan berbahaya. Durov menyebut, lubang keamanan ini bisa jadi sengaja dibuat Whatsapp sebagai pintu rahasia (backdoor) aparat keamanan dari berbagai negara untuk melakukan penyadapan. “Backdoor seringkali disamarkan sebagai lubang keamanan yang tidak disengaja,” ungkap Durov. 

Durov berani mengatakan hal tersebut karena mengaku sering didatangi aparat keamanan dari berbagai negara untuk membuka backdoor di Telegram. “Kami selalu menolak untuk bekerjasama, dan konsekuensinya Telegram dilarang di negara seperti Rusia dan Iran,” ungkap Durov. Status Whatsapp, yang boleh beroperasi di dua negara tersebut, mengindikasikan Whatsapp memiliki kerjasama rahasia dengan aparat keamanan di negara-negara tersebut.

Durov juga mengkritik mekanisme enkripsi end-to-end yang dimiliki Whatsapp. Meski bertujuan melindungi percakapan pengguna, Whatsapp tidak pernah membuka algoritma di balik enkripsi tersebut. “Source code untuk enkripsi Whatsapp selalu disembunyikan, sehingga sangat sulit untuk dianalisis,” ungkap Durov. Sebagai perbandingan, source code enkripsi di Telegram bersifat open source sehingga bisa dianalisa oleh publik.

Durov mengakui, kritik kerasnya terhadap Whatsapp akan ditanggapi bias karena posisinya sebagai CEO Telegram. “Namun pernyataan saya ini semuanya berbasis fakta dan bukan pendapat pribadi. Semua fakta pun bisa diverifikasi oleh pihak ketiga,” ungkap Durov di blog-nya.

Pertanyaan besarnya, apakah pengguna tetap menggunakan Whatsapp meski terbukti berbahaya?