Find Us On Social Media :

Facebook Ungkap Hampir Separuh Populasi Indonesia Belanja Online

By Adam Rizal, Jumat, 21 Februari 2020 | 11:30 WIB

Orang Indonesia Habiskan Rp1,2 juta untuk Belanja Online saat Ramadhan

Sebuah studi yang dilakukan Facebook menunjukkan bahwa konsumen digital di Indonesia tumbuh dari 64 juta atau 34 persen dari total populasi pada tahun 2017, menjadi 102 juta atau 53 persen dari total populasi pada 2018.

Indonesia menyumbang pertumbuhan belanja online di Asia Tenggara yang diperkirakan masih akan melambung hingga 2025 mendatang.

"Dengan kenaikan angka konsumen digital ini, pertumbuhan belanja online di Indonesia juga diprediksi tumbuh 3,7 kali dari US$ 13,1 miliar pada 2017, menjadi US$ 48,3 di 2025," kata Edy Wijaya dari Bain & Company, mitra Facebook dalam studi itu, Rabu 19 Februari 2020.

Konsumen digital di Asia Tenggara sendiri telah tumbuh dari 90 juta pada 2015 menjadi 250 juta pada 2018 (2,8 kali lipat). Mereka masih terus bertambah dan diyakini jumlahnya menjadi 310 juta pada 2025. Kepala Pemasaran untuk Facebook Indonesia Hilda Kitti menerangkan, studi lanjutan dari Emerging Middle Class itu dilakukan pada 2018. Mereka mensurvei 12.965 responden di Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand dan Vietnam, serta mewawancarai lebih dari 30 CEO dan pemodal di wilayah tersebut.

Hasilnya menunjukkan bagaimana dunia digital memiliki peran penting dalam pertumbuhan bisnis dan ecommerce di Asia Tenggara termasuk Indonesia. "Kelas menengah di Asia Tenggara akan mendominasi 70-80 persen dari pertumbuhan konsumen digital pada 2025," kata Hilda.

Di Indonesia, dia menambahkan, sebanyak 66 persen responden mengatakan terbuka untuk memilih merek lain atau akan membeli berbagai merek saat belanja online.

"Artinya, seluruh skala bisnis, memiliki peluang besar untuk bersaing dalam cakupan yang lebih besar di Asia Tenggara," kata dia lagi.

Suka Bandingkan Produk

Konsumen yang melakukan belanja online di Indonesia, diketahui seringkali membandingkan produk yang akan dibeli di beberapa platform e-commerce sebelum memutuskan pembelian.

Fakta tersebut diketahui dari hasil studi yang dilakukan Facebook bersama firma Bain & Company. Studi tersebut melibatkan sebanyak 12.965 responden dan 30 CEO yang berasal dari beberapa negara Asia Tenggara, mencakup Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam.

Menurut Head of Marketing Facebook Indonesia, Hilda Kitti, ada sebanyak 82 persen konsumen di Indonesia yang membandingkan satu produk dengan produk lainnya di beberapa platform e-commerce sebelum mereka memutuskan untuk membeli.

"Konsumen Indonesia rata-rata membuka 3,8 website sampe mereka akhirnya membeli sesuatu," kata Hilda di sebuah acara yang digelar di bilangan Menteng, Jakarta Pusat.

Pada saat yang sama, sebanyak 64 persen konsumen Indonesia yang disurvei juga mengaku bahwa mereka sebenarnya tidak tahu persis apa yang mereka ingin beli saat hendak berbelanja online.

Ia juga mengatakan bahwa sebagian besar konsumen di Indonesia tidak terpaku dengan satu merek saja ketika hendak membeli sebuah produk secara online. Selain itu, konsumen yang berbelanja online di Indonesia juga seringkali mencari informasi tentang produk di media sosial.

Menurut Facebook, sebanyak 57 persen konsumen yang berbelanja online, mencari tahu terlebih dahulu produk yang akan mereka beli di media sosial. Peluang untuk pelaku bisnis Dengan hasil riset ini, Hilda menyimpulkan bahwa para pelaku bisnis sebenarnya masih memiliki pontensi yang sangat besar untuk memperkenalkan produknya secara online, terlebih melalui jejaring sosial.

Sebab, konsumen digital masa kini disebut Facebook sebagai "Discovery Generation", di mana mereka dianggap gemar membeli produk secara online dengan rasa ingin tahu yang tinggi serta terbuka dengan merek-merek baru.

"Ini adalah masa-masa emas untuk para brand agar bisa dicari di media sosial karena kita memasuki Discovery Generation. Jadi siapa yang bisa memanfaatkan peluang ini adalah pelaku bisnis yang paham generasi tersebut," pungkas Hilda.

Sayangnya, Hilda tidak mengumbar secara detail berapa jumlah responden yang berasal dari Indonesia.