Find Us On Social Media :

Tren Bisnis Digital Saat New Normal, Ecommerce Makin Berkembang

By Adam Rizal, Kamis, 2 Juli 2020 | 13:30 WIB

Ilustrasi E-commerce

Partner, Leader of Mckinsey Digital Labs North Asia, Dilip Mistry, mengatakan bahwa pergeseran kebiasaan konsumen akan mengubah tren bisnis digital di masa pandemi dan paskapandemi.

Melalui siaran virtual bersama Gojek Xcelerate, Mistry menyebutkan terdapat enam poin utama terkait perubahan, dan implikasi untuk membangun bisnis di masa kini dan mendatang.

"Pertama adalah e-commerce dan model online akan berkembang di (model bisnis) B2C dan B2B, dan memberi dampak positif bagi mereka yang bergerak cepat dari omni-channel ke all-digital," kata Mistry.

Menurut dia, hal ini didorong dengan adanya perubahan di mana konsumen dan pelaku bisnis lebih memilih untuk berbelanja secara daring secara signifikan.

Lebih lanjut, perubahan gaya bekerja yang bisa dilakukan secara remote atau jarak jauh juga ia nilai akan membuat tim menjadi lebih fleksibel dan memperkuat kegesitan dan efisiensi pekerjaan, meskipun tak bertatap muka langsung.

Selanjutnya, Mistry mengatakan bahwa adanya kesenjangan baru dalam rantai pasokan dan lonjakan permintaan untuk layanan dan produk yang sebelumnya tidak ada pun juga akan menggeser tren bisnis digital.

"Rantai pasokan yang lebih sederhana dan lebih fleksibel akan lebih berhasil, dan seluruh industri akan beralih ke model online seperti pembelajaran, layanan kesehatan, dan bahkan layanan rumah tangga," kata dia.

Sementara, dua poin terakhir adalah bahwa rupanya adanya pandemi COVID-19 menggugah fokus pada infrastruktur yang terhubung untuk memenuhi peningkatan konsumsi yang tiba-tiba. Dan karena kerja jarak jauh sudah semakin wajar, rupanya dapat berpengaruh ke lingkungan sekitar menjadi lebih bersih.

"Dan yang terakhir, kualitas udara meningkat karena berkurangnya polusi udara dan emisi CO2 secara signifikan," kata Mistry.

"Hal ini menimbulkan alternatif baru yang sustainable untuk solusi bisnis tradisional, terutama dalam energi, yang akan mendapatkan daya tarik pelanggan yang lebih kuat," pungkasnya.

Gojek Xcelerate

Gojek dan Digitaraya akan menggelar program pelatihan startup "Gojek Xcelerate Xtra" pada bulan Juli-Agustus 2020, dan salah satu dari rangkaian programnya dapat diikuti secara gratis oleh publik.

"Akan terdapat tiga rangkaian program di Gojek Xcelerate Xtra yang akan memberikan insight baru mengenai challenge startup di early stage, termasuk business operations, marketing, people management, dan technology and product development," kata Gojek Xcelerate Chief, Yoanita Simanjuntak.

Selama Gojek Xcelerate Xtra yang akan digelar virtual dari bulan Juli - Agustus, startup pilihan dapat bertemu 1:1 secara virtual dengan pemodal ventura spesifik lewat program "Fund Matchmaking" yang akan digelar pada 9 Juli.

Selanjutnya ada Startup Clinic, yang memungkinkan para startup pilihan untuk berdiskusi dan mendapatkan pelatihan dengan praktisi terkait keempat hal tersebut pada 30 Juli.

"Melalui Startup Clinic, mereka juga dapat berdiskusi secara langsung dengan para mentor kelas dunia dari Gojek bersama Digitaraya serta partner global, seperti Google Developers, McKinsey & Company, bertekad untuk membantu mengatasi permasalahan spesifik yang sedang dialami bisnis mereka," kata Yoanita.

Gojek Xcelerate Xtra juga menghadirkan kelas pelatihan berbasis sistem webinar yaitu Xpert Insights, yang dapat diikuti oleh umum dan komunitas teknologi, di mana peserta mendapatkan pengetahuan tambahan dari ahli lintas bidang.

"Di sini mereka dapat mempelajari serta menyimak pemaparan sejumlah keahlian terkait startup dan teknologi, yang dapat diakses untuk umum pada 14 Agustus. Aplikan dapat mendaftar di gojek.com/gojekxcelerate sebelum 10 Agustus," ujarnya melanjutkan.

Sementara itu, Gojek dan Digitaraya melalui program pelatihan startup "Gojek Xcelerate" meluluskan sebanyak 35 startup lokal dan Asia Pasifik melalui siaran virtual, Rabu (1/7).

Sebanyak 35 alumni Gojek Xcelerate telah menciptakan sebanyak 1.608 lapangan pekerjaan baru, mendapatkan lebih dari 30 juta dolar AS pendanaan, dan 22 dari 35 alumni tersebut merupakan startup yang dipimpin oleh perempuan.