Find Us On Social Media :

Pisahkan Bisnis Ini, IBM Terus Perkuat Posisi Di Pasar Hybrid Cloud

By Liana Threestayanti, Rabu, 30 Desember 2020 | 16:00 WIB

Ilustrasi hybrid cloud

Di situasi ekonomi dan bisnis yang berat akibat pandemi, IBM justru mengukuhkan posisinya sebagai penyedia--bahkan membidik posisi pemimpin--layanan hybrid cloud global dengan menempuh sejumlah langkah penting ini. 

Tak cukup mengakuisisi Red Hat, perusahaan yang telah hadir di Indonesia sejak 1937 ini juga mengumumkan spin off salah satu unit bisnisnya untuk lebih gesit di pasar hybrid cloud yang menawarkan peluang bisnis senilai US$1 triliun.

Seperti kita ketahui, tahun lalu, IBM mengakuisisi Red Hat dengan nilai akuisisi yang tak sedikit yaitu sebesar US$34 miliar. Red Hat merupakan penyedia enterprise open source terbesar di dunia untuk open hybrid cloud. 

Kemudian pada Oktober lalu, IBM mengumumkan sebuah rencana yang terhitung berani, yaitu melakukan spin-off atau pemisahan unit bisnis Infrastructure Services dari Global Technology Services (GTS) group menjadi satu entitas bisnis tersendiri bernama (sementara) NewCo. Pemisahan ini rencananya akan tuntas pada akhir tahun 2021. 

Mengapa berani? Selain karena dilakukan di tengah situasi sulit seperti saat ini, seperti diketahui bisnis services adalah andalan IBM. Seperti dikutip dari eweek.com, bisnis layanan (services) telah menjadi andalan IBM sejak lama, bahkan sejak perusahaan ini berada di bawah kepemimpinan CEO Lou Gerstner di tahun 1993-2002.

Dalam blognya, CEO IBM, Arvind Krishna menuturkan bahwa kontribusi bisnis services terhadap pendapatan tahunan IBM mencapai lebih dari 60%, atau senilai sekitar US$44 miliar dari US$71,2 miliar, menurut laporan tahun fiskal 2019. 

Sebagai perusahaan independen NewCo juga akan menjadi perusahaan managed infrastructure services terbesar di dunia dengan pendapatan tahunan hampir mencapai US$19 miliar. NewCo memiliki lebih dari 4600 klien, termasuk di antaranya 75% dari perusahaan dalam Fortune 100. Bisnis NewCo menjangkau 115 negara dan didukung tim berkekuatan 90.000 orang yang terdiri dari para ahli di berbagai sektor industri.

Namun dengan spin off ini, IBM berharap tercipta dua perusahaan industri terdepan dengan fokus strategis dan fleksibilitas yang berbeda agar bisa meningkatkan nilai bisnis klien dan para shareholder. NewCo akan memiliki operating model yang lebih efisien dengan fokus pada service delivery excellence.

Bicara tentang cloud di Indonesia, anggaran untuk cloud terus meningkat. Perusahaan-perusahaan lokal berencana untuk melakukan modernisasi, bahkan bersaing di perekonomian global dengan memanfaatkan teknologi-teknologi terkini, seperti cloud, otomasi, AI, quantum computing, dan blockchain. 

Perusahaan memanfaatkan kelincahan cloud agar dapat terus bisa bersaing di era New Normal. Menurut studi dari Institute for Business Value (IBV) tahun 2020, 16% responden, yang merupakan pemimpin bisnis di Indonesia, mengatakan bahwa mereka telah mengalokasikan pengeluaran TI mereka untuk cloud. Mereka juga berencana meningkatkan porsi pengeluaran untuk hybrid cloud dari yang saat ini 51% menjadi 57% pada tahun 2023. Di Indonesia, organisasi diperkirakan akan menggunakan rata-rata 11 cloud per organisasi dari vendor yang semakin banyak pada tahun 2023.

“Kebutuhan pembelian klien untuk aplikasi dan layanan infrastruktur semakin mengerucut, sementara adopsi platform hybrid cloud kami pun mengalami percepatan,” ujar Arvind Krishna tentang latar belakang spin-off yang dilakukan IBM. 

Analis industri dan keuangan memandang spin-off NewCo sebagai sebuah inisiatif positif. “NewCo" memiliki peluang untuk menjadi organisasi yang lebih gesit dalam menjalankan strategi yang terpusat pada platform terbuka serta berfokus pada cloud dan AI,” kata Linus Lai, Vice President, IDC Asia-Pasifik. 

“Ini merupakan hal penting bagi pelanggan dalam memilih penyedia layanan untuk memenuhi kebutuhan mereka. Jika dijalankan dengan baik, strategi spin-off IBM dan NewCo akan menciptakan perusahaan cloud dan AI inovatif terdepan di dunia, serta perusahaan pengelolaan layanan infrastruktur murni terbesar di dunia dengan kemampuan hyper-optimisation dan efisiensi sesuai skala kebutuhan,” lanjutnya.

Saad Toma, IBM Asia Pacific Global Technology Services Leader mengatakan, “Kami melihat adanya percepatan dalam adopsi hybrid cloud sebagai akibat dari pandemi seiring dengan keputusan perusahan untuk melakukan modernisasi aplikasi, otomasi, dan pemanfaatan AI pada operasi bisnisnya. Klien kami menemukan bahwa memilih pendekatan open hybrid cloud memberikan nilai bisnis 2,5 kali lebih tinggi daripada hanya mengandalkan public cloud saja. Dengan demikian, kami meyakini bahwa spin-off ini akan memungkinkan IBM dan NewCo untuk lebih baik lagi dalam menyelaraskan diri dengan kebutuhan klien, dan juga untuk tumbuh lebih cepat, secara terpisah.”

Menurut Saad, percepatan adopsi cloud telah terjadi di Indonesia karena bisnis memerlukan kekuatan cloud untuk tetap bisa kompetitif di pasar. “Adopsi cloud telah menjadi fitur utama dalam pengembangan model bisnis baru yang digerakkan secara digital. Semua itu didukung oleh keamanan, keahlian yang tak tertandingi dalam industri vertikal, dan komitmen mendalam untuk inovasi open source yang diharapkan klien dari IBM,” pungkasnya.