Find Us On Social Media :

Nilai Valuasi Apple Tembus Rp14.000 Triliun, Begini Kisah Suksesnya

By Adam Rizal, Sabtu, 4 Agustus 2018 | 11:00 WIB

Ilustrasi Apple Campus 2

Apple baru saja mencatatkan rekor fantastis. Dalam perdagangan, nilai kapitalisasi raksasa teknologi ini mencapai angka 1 triliun dollar AS (Rp 14.443 triliun).

Saham Apple melonjak lebih dari 207 dollar AS (sekitar Rp 3 juta) per lembar saham. Rekor ini bukanlah sulap yang hanya terjadi satu malam saja. Seperti kebanyakan perusahaan kelas kakap lain, perjalanan Apple pun seperti logonya, tidak sempurna.

Berdiri pada tahun 1976, Apple yang didirikan oleh trio Steve Jobs, Steve Wozniak, dan Ronald Wayne, membawa misi menjadi pionir perusahaan pembuat komputer dan merevolusi mesin industri yang besar serta rumit menjadi lebih kecil, sederhana dan murah sehingga bisa menjadi produk masal.

Bisnis tersendat Selang empat tahun, merek Apple menjadi salah satu yang terkenal di dunia. Bisnis Apple mulai tersendat tahun 1985, diawali dengan Jobs yang dikudeta sebagai CEO dalam sebuah rapat internal.

Jabatan CEO kemudian berpihak pada John Scolley. Sejak konflik manajemen tersebut, bisnis Apple semakin terpuruk, eksistensinya terhimpit di pasa komputer pribadi. Macetnya inovasi dan gagasan baru untuk produk Apple menambah kerunyaman perusahaan, ditambah dengan produk yang gagal.

Pada kuartal akhir, Apple membukukan kerugian sebesar 867 dollar AS pada saat itu, di mana total valuasi sahamnya tak lebih dari 3 miliar dollar AS. Konflik kepemimpinan pun masih berlangsung.

Tahun 1996, Gil Amelio didapuk menjadi CEO Apple menggantikan Michael Spindler. Karena masih dalam krisis, Amelio melakukan PHK besar-besaran dan memotong biaya di beberapa sektor.

Sayangnya, upayanya masih belum menuai hasil dan jabatan CEO pun dicopot hanya dalam kurun sekitar setahun. 90 hari menuju kebangkrutan Bisnis Apple masih terombang-ambing tahun 1997.

Tahun tersebut juga menjadi titik kritis Apple. Dominasi Microsoft dkk di pasar komputer personal menghantam stabilitas bisnis Apple di Sillicon Valley. Akibatnya, sepertiga angkatan kerja Apple harus diberhentikan.

Semakin kehilangan arah, Apple mulai melakukan beberapa strategi. Salah satunya membeli perusahaan teknologi rintisan Jobs bernama Next yang saat itu bernilai 400 juta dollar AS.

Akuisisi ini dilakukan saat Amelio masih menjabat sebagai CEO. Dari sinilah, Jobs mulai masuk kembali ke perusahaan yang didirikannya, meski saat itu berstatus CEO sementara.

Dalam sebuah wawancara, Jobs mengaku jika Apple hanya memiliki waktu sekitar 90 hari menuju kebangkrutan masa itu. "Saat itu sulit sekali. Lebih buruk dari yang saya pikirkan," aku Jobs.