Tags Posts tagged with "charger"

charger

Pengembangan teknologi pengisian daya smartphone terus berkembang dalam setengah dekade terakhir. Sayangnya, pengembangan teknologi baterai itu tidak berkutat kepada kapasitas baterai melainkan kepada kecepatan pengisian daya.

Dibanding iPhone generasi terbaru, smartphone Android kelas premium memiliki kemampuan pengisian daya baterai yang lebih cepat. Ya, smartphone Android memang dapat mengisi daya baterai lebih cepat daripada iPhone.

Fenomena itu bukanlah mitos tetapi fakta yang sebenarnya. Kita dibandingkan perangkat iPhone dan Android yang memiliki kapasitas baterai sama, perangkat Android mampu mengisi daya baterai lebih cepat.

Rahasianya, setiap perangkat handset Android sudah memiliki teknolog Fast Charge di dalamnya. Bahkan, setiap pabrikan smartphone memiliki teknologi unggulan pengisian daya baterai yang cepat.

Misal, OnePlus Android memiliki teknologi DashCharge. Motorola Android mempunyai teknologi TurboPower seperti dikutip SlashGear.

Sebagian besar, smartphone Android pun memiliki teknologi pengisian baterai Qualcomm QuickCharge. Bahkan, Qualcomm sudah memiliki dua fitur QuickCharge 2.0 dan QuickCharge 3.0 tergantung perangkatnya.

iPhone 7 versi standar memiliki ouput 5 volt pada 1 amp dan puncak kecepatan pengisian daya baterainya hanya 5 watt. Sedangkan, Quick Charge 2.0 mempunyai output volt 5-12 volt pada 1.67 atau 2 amps dan puncak kecepatan pengisian daya baterainya capai 18 watt.

Apple pun memiliki pekerjaan rumah yang banyak untuk mengejar teknologi para pabrikan smartphone Android dalam pengisian daya baterai smartphone.

anker

Tren kebutuhan akan perangkat penyimpan daya untuk telepon pintar cenderung meningkat setiap tahun. Salah satu produsen asal Seattle, Amerika Serikat, Anker mulai meramaikan pasar industri penyimpanan daya di Indonesia tahun ini.

Dengan segmentasi yang berbeda dengan kompetitornya, Anker menyasar target pasar premium dengan layanan eksklusif melalui pembukaan outletoutlet khusus Anker dan jaringan retail yang tersedia.

Romeo Luo (Direktur Anker untuk wilayah Asia Pacific) menerangkan bahwa Anker akan membuka sedikitnya 50 outlet di Indonesia pada tahun pertama ini dengan target awal di Jakarta dan menyusul kota-kota lainnya.

“Kami yakin produk ini akan menjadi salah satu produk yang memberikan rasa aman bagi pengguna smartphone di Indonesia, khususnya merek high end. Produk Anker sudah dapat dibeli di beberapa outlet retail dan khususnya Tokyo One Store yang sudah banyak tersebar di Jakarta. Ke depannya, kami juga membuka peluang bisnis bagi masyarakat Indonesia yang ingin menjadi pemilik outlet Anker,” kata Romeo.

Keunggulan Anker

Teknologi yang digunakan dalam perangkat ini mempunyai sistem pembaca perangkat mobile dan memberikan daya yang sesuai dengan yang dibutuhkan sehingga aliran daya yang diberikan relatif lebih stabil.

Dengan demikian smartphone akan membaca Anker sebagai perangkat asli dari telepon genggam tersebut. Sistem yang diberi nama Power IQ ini sudah teruji dan sudah mendapat banyak testimoni dari penggunanya.

“Selain itu, kami juga menyediakan teknologi voltage boost yang memberikan kecepatan pengisian daya dalam perangkat mobile phone dengan cara mengenali keluaran daya sehingga dapat menghindari keluar masuknya daya yang tidak stabil. Sedangkan sistem multi protect safety menjadikan produk ini aman bagi perangkat mobile phone,” tambah Romeo.

Ada beberapa perlindungan yang diberikan oleh merek yang laris di pasar AS, Jepang, dan Eropa ini, mulai dari pembatasan arus keluar, stabilisator arus keluar, perlindungan pada tegangan berlebih untuk arus masuk dan keluar, pengaturan suhu sehingga menjaga agar perangkat tidak panas, serta teknologi pengaturan energi dan teknologi pemulihan pada perangkat apabila mendapatkan daya yang berlebih.

“Perbandingan pengisian daya menggunakan produk Anker adalah 60% proses pengisian lebih cepat dalam waktu 35 menit dibanding produk lainnya,” jelas Romeo.

Paul Honda (Regional Head Anker Indonesia) menambahkan pihaknya memberikan jaminan 18 bulan bagi konsumen untuk mencoba produk tersebut.

“Produk kami mempunyai sertifikasi, salah satunya dari Apple dan Qualcomm khusus untuk produk Anker pada Mifi dan produk QC. Diharapkan produk ini bisa menjadi produk unggulan untuk Mobile Charging Solution bagi pengguna smartphone di indonesia”, ungkapnya saat ditemukan di outlet ANKER pertama di Indonesia yang terletak di Kalibata City Square.

Ilustrasi Charger iPhone

Ilustrasi Charger iPhone

Sudah menjadi kebiasaan orang Indonesia ketika lupa membawa charger untuk menggunakan charger palsu atau charger yang tidak kompatibel dengan smartphone-nya. Bahkan, kita kerap membeli charger yang lebih murah harganya, yang penting smartphone kita terisi.

Padahal, kebiasaan itu sangat buruk terutama untuk smartphone premium iPhone yang mewajibkan penggunanya menggunakan charger asli atau bawaan pabrik.

Perusahaan independen UL Laboratory melakukan serangkaian uji coba keamanan terhadap berbagai charger palsu yang dijual di toko online. Caranya, UL Laboratory mengalirkan listrik dengan voltase yang tinggi untuk melihat ketahanan, aliran, dan kemungkinan kegagalan isolasi arus.

Hasilnya, dari 400 charger palsu yang diuji, ada 397 charge yang gagal memenuhi prosedur pengujian keamanan dan berpotensi menyetrum penggunanya serta mengakibatkan ponsel rusak atau terbakar.

Hal itu disebabkan charger palsu itu tidak memiliki mekanisme keamanan yang benar dan tidak bisa menahan lonjakan daya listrik yang terjadi tiba-tiba.

“Tingkat kegagalannya sangat tinggi, melebihi 99 persen. Dari 400 unit yang diuji, hanya tiga yang berhasil melewati pengujian keamanan dasar dan terlindung dari kejutan listrik,” tulis laporan penelitian UL Laboratory seperti dikutip Digital Trends.

Karena itu, Apple menyerankan penggunanya untuk menggunakan charger asli karena charger palsu tidak memiliki tingkat keamanan yang baik. Namun, Apple memberikan rekomendasi kepada penggunanya untuk menggunakanaksesori buatan perusahaan lain yang sudah mendapatkan lisensi dari Apple.

Harga aksesori atau charger pihak ketiga memang mahal tetapi kinerjanya serupa dengan versi orisinal.

Pengguna pun harus memperhatikan tanda UL atau CE yang menempel pada kepala charger Apple. Tanda UL dan CE mengindikasikan kepala charger tersebut sudah lolos uji keamanan dan legal Uni Eropa.

Charging Phone 2

Charging Phone 2

Pernahkah Anda bertanya-tanya seberapa aman smartphone dan data Anda ketika menghubungkan perangkat ke alat pengisian daya yang tersedia secara bebas di bandara, kafe, dan fasilitas umum lainnya?

Ternyata, hacker atau para peretas bisa membobol data ponsel pintar Anda ketika sedang melakukan pengisian daya baterai dengan menggunakan koneksi USB standar yang terhubung ke komputer. Hal itu terungkapkan melalui laporan terbaru para ahli Kaspersky Lab ketika melakukan eksperimen proof-of-concept.

Para ahli Kaspersky pun menguji sejumlah smartphone yang menjalankan berbagai sistem operasi baik versi Android maupun iOS untuk memahami data apa saja yang perangkat transfer ke luar saat terhubung ke PC atau Mac ketika dalam pengisian baterai.

Hasilnya, smartphone akan mengungkapkan seluruh litani data ke komputer pada saat proses ‘handshake‘ (proses perkenalan antara perangkat dengan PC/Mac ketika saling terhubung), termasuk: nama perangkat, produsen perangkat, jenis perangkat, nomor seri, informasi firmware, informasi sistem operasi, sistem file/daftar file, elektronik chip ID.

“Kebanyakan smartphone mentransfer sejumlah informasi yang hampir sama, seperti nama perangkat, produsen, nomor ser, dan lain-lain,” kata Alexey Komarov (Peneliti di Kaspersky Lab).

“Seseorang tidak perlu terampil untuk bisa melakukan serangan tersebut, semua informasi yang Anda butuhkan dapat dengan mudah ditemukan di internet,” ujarnya seperti dalam siaran pers, Jumat (27/5).

Dalam rangka untuk melindungi diri sendiri dari risiko kemungkinan serangan melalui alat pengisian baterai yang tidak diketahui serta komputer yang tidak dipercaya, Kaspersky Lab menyarankan hal-hal berikut

1. Gunakan stasiun pengisian USB dan komputer terpercaya untuk mengisi daya perangkat Anda.

2. Lindungi smartphone Anda dengan kata sandi, atau dengan metode lain seperti pengenalan sidik jari dan jangan membukanya saat pengisian.

3. Gunakan teknologi enkripsi dan kontainer aman (area terlindung pada perangkat mobile yang digunakan untuk mengisolasi informasi sensitif) untuk melindungi data.

4. Lindungi perangkat mobile dan PC/Mac Anda dari malware dengan bantuan solusi keamanan yang telah terbukti keandalannya.

Bioo Lite

Saat ini banyak ilmuwan yang mengembangkan sumber energi alternatif di seluruh dunia untuk mengurangi ketergantungan terhadap minyak dunia yang semakin menipis.

Melalui platform crowdfounding Indiegogo, Arkyne Technologies–sebuah perusahaan asal Spanyol–menciptakan alat charger Bioo Lite yang unik dan ramah lingkungan. Bioo Lite merupakan pot tanaman yang juga bisa berfungsi sebagai alat charger ponsel pintar.

Bioo Lite pun tidak membutuhkan colokan listrik untuk bisa mengisi baterai smartphone. Sebagai gantinya, charger berbentuk pot itu hanya membutuhkan tanaman.

Cara kerjanya, pot tanaman itu mampu mengisi daya baterai ponsel dengan mengambil energi yang dikeluarkan tanaman dari proses fotosintesis. Pemilik ponsel pun selanjutnya bisa mengisi baterai smartphone ataupun tablet melalui kabel USB yang tersedia pada charger berbentuk pot tanaman tersebut.

Listrik yang dihasilkan tergantung dari tanaman yang tanam yang digunakan. Rata–rata daya yang dihasilkan adalah 3,5 volt. Karena Bioo Lite memanfaatkan energi hasil fotosintesis, produknya hanya akan bekerja selama tanaman yang ditanam masih hidup.

Perwakilan Arkyne Technologies juga mengklaim kinerja pot itu juga tidak akan merugikan tanaman dengan cara apa pun. “Cara ini tidak memaksa tanaman untuk menghasilkan apa pun karena pada dasarnya proses fotosintesis selalu terjadi. Ini tidak merusak tanaman dengan cara apa pun, baik teknologi maupun proses yang diterapkan,” katanya seperti dilansir Ubergizmo.

Sayangnya, charger unik ini masih sebatas prototipe dan belum bisa diproduksi massal. Tapi, dalam laman Indiegogo, proyek Bioo Lite sudah mendapat sokongan dana lebih dari 58 ribu euro atau tiga kali lipat melampaui target dana yang dibutuhkan, yakni 15 ribu euro.

Jika berjalan lancar, pot tanaman Bioo Lite dijadwalkan akan dikirim kepada para pemesan pada bulan Desember 2016.

LG Corp mengembangkan teknologi pengisian baterai nirkabel untuk ponsel yang secepat pengisian dengan kabel.

LG Corp mengembangkan teknologi pengisian baterai nirkabel untuk ponsel yang secepat pengisian dengan kabel.

Salah satu kelemahan pengisian baterai nirkabel atau wireless charging adalah waktu pengisian yang lama. LG Innotek, salah satu divisi LG Corp, mengembangkan teknologi pengisian ulang baterai nirkabel (wireless charging) untuk ponsel dengan kecepatan setara dengan pengisian ulang dengan kabel.

LG mengklaim teknologi pengisian nirkabel terbaru miliknya dapat mengisi baterai ponsel tiga kali lebih cepat daripada kebanyakan pengisi nirkabel di pasar saat ini yang menggunakan modul transmisi 5 watt.

Modul transmisi itu juga kompatibel dengan standar Wireless Power Consortium and AirFuel Alliance. Samsung Galaxy S7 dan S7 Edge juga mendukung pengisian nirkabel hingga 15 watt. Namun teknologi charger nirkabel cepat milik Samsung hanya memiliki output sekitar 6-7 watt.

Apple juga sedang mengembangkan teknologi pengisian nirkabel yang berbeda dan tidak membuat ponsel harus ditempatkan pada pad pengisian nirkabel. Teknologi itu memungkinkan perangkat untuk mengisi baterai nirkabel mengisi melalui udara.

Dengan inovasi-inovasi pengisian nirkabel baru, nantinya pengguna bisa menyingkirkan kabel, seperti dilansir situs CIO.com.

wipower

Qualcomm  Technologies, Inc., anak perusahaan yang sepenuhnya dimiliki oleh Qualcomm Incorporated (NASDAQ: QCOM), mengumumkan bahwa perusahaan telah berhasil merancang solusi yang memungkinkan pengisian daya nirkabel bagi perangkat dengan eksterior logam.

Solusi yang menggunakan teknologi Qualcomm® WiPower™ ini telah memenuhi standar Rezence™ dan merupakan solusi pertama yang telah diumumkan untuk mendukung pengisian daya nirkabel bagi perangkat yang terbungkus dengan bahan logam, mendemonstrasikan komitmen Qualcomm Technologies’ dalam berinovasi berkesinambungan di pengisian daya nirkabel.

Kemampuan untuk mengisi daya ponsel pintar dan perangkat lain tanpa menggunakan kabel memberikan kemudahan yang tak tertandingi bagi konsumen, namun baru kini tantangan pengisian daya nirkabel ini dapat kompatibel dengan perangkat bereksterior logam.

“Membangun solusi pengisi daya nirkabel bagi perangkat dengan eksterior logam merupakan langkah yang signifikan untuk mendorong seluruh industry kedepan,” kata Steve Pazol, General Manager of Wireless Charging, Qualcomm Incorporated.

“Saat ini, kebanyakan manufaktur perangkat bergerak memilih menggunakan logam dalam berbagai desain perangkat mereka untuk memberikan  dukungan struktur yang lebih baik dan tentunya bagi unsur estetika. Kemajuan penelitian QTI berhasil menghilangkan kendala-kendala utama yang dihadapi oleh teknologi pengisi daya nirkabel dan membuka peluang adopsi berkelanjutan dari fitur ini bagi konsumen elektronik dan penggunaan casing yang lebih luas.”

WiPower, seperti teknologi lain yang telah memenuhi standar Rezence, beroperasi di frekuensi yang lebih toleran terhadap objek-objek berbahan besi yang datang dari dalam bidang pengisi daya. Hal ini berarti jika terdapat satu jenis objek besi seperti kunci atau koin dalam daerah pengisian, ia tidak akan mengganggu proses tersebut.

Saat ini, WiPower telah meningkatkan kemampuan dimana proses pengisian daya tidak terganggu bahkan jika perangkat itu sendiri terbuat dari besi. Kemajuan ini mempertahankan kemampuan yang saat ini dimiliki WiPower untuk mengisi perangkat yang membutuhkan hingga 22 watt saat ini, dengan kecepatan sama atau lebih cepat bila dibandingkan dengan teknologi pengisian nirkabel lainnya.

Berdasar pada teknologi Near Field Magnetic Resonance, WiPower memberikan kemudahan dan keleluasaan yang lebih besar di bidang pengisian daya nirkabel, memperluas perangkat elektronik dan perangkat bergerak yang kompatibel untuk diisi dayanya tanpa perlu kontak fisik atau keadaan sejejar secara langsung.

Sebagai tambahan, teknologi ini juga memungkinkan pengisisan daya berkelanjutan bagi beberapa perangkat dengan kebutuhan daya yang berbeda-beda secara bersamaan saat menggunakan Bluetooth Smart untuk meminimalisasi kebutuhan perangkat keras.

Kabel Power Sharing ini bisa membuat Samsung Galaxy menjadi berfungsi seperti powerbank.

Kabel Power Sharing ini bisa membuat Samsung Galaxy menjadi berfungsi seperti powerbank.

Samsung baru saja mengeluarkan produk teranyar. Bukan smartphone, melainkan aksesoris ponsel berupa kabel “ajaib” yang bisa mengubah Samsung Galaxy menjadi berfungsi seperti powerbank.

Ya, kabel bernama Power Sharing ini dapat menyalurkan daya elektrik dari baterai yang terkandung di model Samsung Galaxy terpilih ke perangkat lain melalui porta microUSB. Agar kedua ujungnya tidak tertukar, terdapat petunjuk di tiap ujung kabel untuk menandakan perangkat yang mentransfer dan yang ditransfer dayanya.

Power Sharing App

Power Sharing App

Anda dapat menentukan seberapa besar daya yang ingin ditransfer ke perangkat lain dengan menggunakan Power Sharing App yang tersedia di Google Play Store.

Kabel ini dijual dengan harga US$19,99 (sekitar Rp220 ribu). Model Samsung Galaxy yang kompatibel dengan kabel ini yaitu Galaxy S5, Galaxy Tab S 10.5, Galaxy Tab S 8.4, Galaxy Alpha, Galaxy Avant, dan Galaxy Note 4.

Sementara itu, perangkat lain yang tersambung bisa apa saja, tidak terbatas untuk perangkat bermerek Samsung, bahkan mencakup smartwatch dan peranti wearable sekalipun.

Kabel ini tampaknya berguna jika Anda sedang lupa membawa charger atau powerbank. Namun, mengingat kapasitas baterai terbesar yang dimiliki perangkat Samsung adalah sekitar 7.900mAh, mungkin lebih baik jika Anda berinvestasi untuk membeli powerbank saja.

Toh, dengan harga setara atau menambah sedikit, Anda sudah bisa mendapatkan powerbank dengan kapasitas kurang lebih 10.000mAh yang dapat memberi tenaga untuk dua sampai tiga perangkat sekaligus.

Bukankah sekarang sudah zamannya go green? Contohnya, mengisi baterai ponsel pun tidak perlu lagi menggunakan listrik yang tarifnya terus naik, tapi bisa memanfaatkan sinar matahari yang tersedia gratis.

Dengan aplikasi Solar Charger, layar ponsel Anda akan diubah menjadi garis-garis yang merupakan ciri khas panel surya. Ditampilkan indikator pengisian daya baterai Anda. Bila sinar sang surya terlalu lemah, bakal muncul pesan bahwa pengisian tidak optimal.

Namun, jangan keburu gembira dulu. Aplikasi ini–dan aplikasi lain sejenisnya–hanyalah aplikasi tipuan untuk mengakali teman-teman Anda. Hingga hari ini, belum ada layar ponsel yang dapat digunakan untuk menyerap sinar matahari dan mengubahnya menjadi tenaga baterai ponsel. Jadi, sebaiknya aktifkan aplikasi ini ketika sedang berada di tengah teman-teman Anda untuk mengundang kehebohan, terutama di bawah teriknya matahari.

Satu hal yang perlu Anda perhatikan, jangan sampai Anda terlalu lama menjemur ponsel Android kesayangan Anda, atau ponsel Anda bisa rusak.

altApple kembali mendapatkan paten untuk teknologi pengisian listrik tanpa kabel (wireless charging) pada Kamis, 29 November 2012.

Teknologi wireless charging yang dipatenkan tersebut menerapkan penyedia listrik berbasis near-field magnetic resonance (NFMR) untuk peranti-peranti yang berada dalam jangkauannya. Jangkauan resonansi medan magnet dari penyedia listrik tersebut akan membentuk sebuah area virtual seluas kurang lebih 1 meter.

Peranti-peranti seperti keyboard, mouse, iDevice, yang sudah terpasang sirkuit resonator NFMR di dalamnya akan dapat mendapatkan jatah aliran listrik jika berada dalam jangkauan host penyedia listrik NFMR.

Pada gambar yang tercantum dalam dokumen paten, diilustrasikan iMac (nomor 204) sebagai host penyedia listrik NFMR dapat menjadi sumber listrik secara konstan bagi peranti iDevice (nomor 208), keyboard, dan mouse (nomor 204 dan 206).

Penerapan NFMR untuk wireless charging yang dipatenkan oleh Apple berbeda dengan teknologi wireless charging yang sudah ada di pasaran saat ini. Sebagian besar wireless charging yang ada saat ini menerapkan pendekatan induksi medan elektromagnetik untuk mengalirkan energi antar dua objek. Teknologi ini dapat kita temui pada produk Nokia Lumia 920.

Pengisian listrik dengan metode induksi ini mewajibkan adanya sebuah “stasiun” pengisi listrik (dalam bentuk dock) yang di dalamnya terdapat sebuah kumparan induksi. Untuk mengisi listrik pada sebuah peranti, yang di dalamnya juga sudah terpasang kumparan induksi, maka peranti tersebut harus diletakkan pada papan stasiun pengisi listrik tersebut.

Inilah salah satu kelemahannya, ketika pengisian dilakukan, maka ponsel tersebut harus berada di atas bantalan tersebut. Kelemahan lainnya adalah pengisian listrik relatif butuh waktu lebih lama. Di sinilah letak keunggulan teknologi yang dipatenkan oleh Apple. Sambil diisi listrik, kita masih tetap dapat membawanya, walaupun harus dalam jangkauan host NFMR.

Saat ini terdapat dua standar wireless charging yang menerapkan metode induksi medan elektromagnetik, yaitu Qi, dan WiCC. Qi didukung oleh HTC, Nokia, Samsung, dan Sony, sedangkan WiCC didukung oleh Google, AT&T, dan Duracell.

Tahun 2013 diprediksi akan semakin banyak produk ponsel, tablet, ataupun notebook yang menyertakan teknologi wireless charging di dalamnya. Starbucks sendiri akan mengujicobakan Duracell Powermat di 17 tokonya di US dalam penggunaan meja yang sudah terpasang wireless charging tahun 2013.