Tags Posts tagged with "dell"

dell

Dell Luncurkan Komputer Desktop Dell Inspiron Gaming

Pabrikan komputer dan laptop gaming terus menggaet gamer “casual” terbaru. Pengguna di segmentasi tersebut enggan menghabiskan anggaran besar untuk membeli komputer PC kelas berat.

Karena itu, Dell meluncurkan komputer desktop Dell Inspiron Gaming untuk pertama kalinya dan menyasar pengguna gamer “casual”.

Dell Inspiron Gaming mengusung pilihan prosesor AMD generasi ketujuh atau AMD Ryzen. Konsumen pun bisa mengustomisasi spesifikasi Dell Inspiron Gaming sesuai keinginan.

Model AMD generasi ketujuh terdiri dari AMD A10 atau A12 APU dengan grafis Radeon R7. Sementara itu AMD Ryzen mendukung prosesor Ryzen 5 1400, 5 1600X, dan 7 1700X.

Jika Anda mengoperasikan prosesor Ryzen, Anda akan merasakan teknologi SenseMi yang dapat meningkatkan efisiensi daya, kinerja dan clock speed. Anda pun bisa memasang RAM DDR4 32 GB dan HD 2 TB atau SSD 256 GB dengan tambahan HDD 2 TB.

Desain Dell Inspiron Gaming itu berupa menara yang keren, mirip dengan komputer desktop pada umumnya, tetapi mengusung konsep semi-terbuka atau transparan di sebelah kirinya.

Desain komputer desktop Dell itu menawarkan ventilasi udara yang lebih baik dengan logo Dell di tengahnya serta dapat mengeluarkan sinar berwarna biru dari dalamnya.

Di bagian muka, Dell Inspiron Gaming memiliki dua port USB 2.0, dua port USB 3.1, jack audio dan card reader. Di bagian belakangnya, komputer itu memiliki dua port USB 2.0, dua port USB 3.1, serta port HDMI, seperti dikutip Ars Technica.

Dell membanderol Dell Inspiron Gaming dengan harga mulai US$599 atau sekitar Rp8 jutaan saja.

PC All-in-One untuk Multimedia VR

Pada kesempatan yang sama, Dell juga menghadirkan dua produk PC All-in-One (AiO) untuk segmen multimedia dan VR.

Dell Inspiron 27 7000 AIO.

Pertama, Dell Inspiron 27 7000 AIO, sebuah PC lengkap yang dirancang untuk konten gaming dan multimedia berbasis VR. Komputer ini mencakup layar InfinityEdge 27 inci dengan resolusi hingga 4K UHD, performance grade audio, prosesor AMD Ryzen terbaru, dan grafis AMD Polaris RX500 Series.

Dell Inspiron 27 7000 AIO tampil dengan desain ramping berwarna perak dan dilengkapi teknologi yang siap digunakan di masa depan, seperti login Windows Hello One-Look, Cortana, USB Type-C 3.1, dan opsi Dual Drive dengan storage SSD. Harganya mulai US$999,99.

Kedua, Dell Inspiron 24 5000 AIO, pilihan yang lebih terjangkau dengan harga mulai US$699,99. Komputer ini dilengkapi layar sentuh InfinityEdge IPS FHD 24 inci, prosesor AMD generasi ketujuh, dan grafis AMD Polaris RX500.

Sedangkan teknologi pendukungnya antara lain SmartByte untuk membantu mencegah buffer saat streaming konten, login Windows Hello One-Look, Cortana, USB Type-C 3.1, dan pilihan Dual Drive dengan storage SSD.

Michael Dell (Pendiri dan CEO, Dell Technologies) mengungkap resep sukses transformasi bisnis Dell pada acara Dell EMC World 2017, Las Vegas, AS. [Foto: Erry FP/InfoKomputer]

Las Vegas, InfoKomputer – Transformasi digital masih menjadi topik hangat yang dibicarakan banyak perusahaan, baik dari sisi end-user maupun sisi penyedia solusi teknologi. Tidak terkecuali oleh Dell Technologies yang telah mengusung topik ini pada konferensi Dell EMC World/Dell World dalam beberapa tahun terakhir.

Dell sendiri tidak luput dari sentuhan transformasi, terlebih pasca mengakuisisi EMC pada tahun 2015. Dahulu, Dell identik dengan produk seperti PC desktop, workstation, dan server. Sekarang, Dell harus menjual lebih dari sekadar hardware, tetapi juga solusi TI menyeluruh, mencakup virtualisasi, hybrid cloud, layanan security, sampai internet of things (IoT).

Michael Dell (Pendiri dan CEO, Dell Technologies) pun mengungkap resep sukses transformasi bisnis Dell sejak merger dengan EMC.

“Saya sudah keliling dunia, bertemu berbagai pelanggan, dan banyak perusahaan dari berbagai sektor masih bingung mencari cara untuk bertransformasi,” kata Michael dalam sesi tanya jawab bersama media di konferensi Dell EMC World 2017, Las Vegas, AS, Senin (8/5).

[BACA: Dell EMC World 2017: Kekuatan untuk Mewujudkan Transformasi Digital]

“Transformasi digital erat kaitannya dengan transformasi bisnis. Karena itu, transformasi digital bukan proyek milik CIO, melainkan proyek yang harus dipimpin CEO. Transformasi ini harus relevan [dengan bisnis perusahaan] dan membawa nilai tambah [bagi bisnis],” ujarnya.

Menurut Michael, tantangan terbesar dalam transformasi digital adalah mengubah pola pikir orang, dari staf sampai eksekutif perusahaan, yang enggan meninggalkan kebiasaan lama. Semua harus dilakukan langkah demi langkah demi meyakinkan mereka bahwa tidak ada bagian dari dunia ini yang bisa menghindar dari perubahan.

Sebagian orang mungkin merasa penggunaan teknologi akan mengancam pekerjaan mereka. Namun, Michael membantahnya. “Tech vs human, dari dulu seperti itu. Tetapi nyatanya, penemuan [teknologi] roda justru membuka lapangan kerja baru,” tukasnya.

Michael mengajak masyarakat untuk berpandangan optimistis bahwa teknologi akan membantu meningkatkan kemampuan dan kapasitas manusia. “Teknologi berubah begitu cepat, jadi kita perlu memperbarui kemampuan dan pengetahuan untuk memanfaatkannya dengan cara terbaik,” ucapnya.

Ia mencontohkan beberapa perusahaan besar yang telah merengkuh transformasi digital dengan baik bersama Dell. Salah satunya Boeing yang sekarang menempatkan sensor IoT pada mesin jet dan turbin pesawatnya. Data-data yang diperoleh lalu dikumpulkan dan dianalisis guna merancang produk baru yang lebih canggih dan berorientasi pasar.

Contoh lainnya Sony Pictures dan Jaguar Land Rover yang sudah akrab dalam memanfaatkan teknologi virtual reality (VR), masing-masing pada bisnis hiburan dan otomotif.

Prototipe mobil listrik Jaguar i-Pace dipamerkan pada acara Dell EMC World 2017. [Foto: Erry FP/InfoKomputer]

Michael mengakhiri petuahnya dengan menekankan bahwa dalam menghadapi persaingan, perusahaan dari berbagai skala, dari startup sampai korporasi, harus menggunakan teknologi untuk membuat bisnis baru ataupun meramu ulang cara menjalankan bisnis, seperti yang dilakukan Uber dan Airbnb.

“Rangkul risiko, ikuti inovasi,” Michael berpesan. “Saya mengamati terlalu banyak orang yang takut gagal dan tidak mau mengambil risiko. Akibatnya, mereka tidak mampu mencapai potensi maksimal,” tutupnya.

Ilustrasi kota Saen Suk, Thailand. [Foto: wikitravel.org]

Setiap kota memiliki masalahnya sendiri sehingga proyek smart city pun diinisiasi dari titik yang berbeda. Pemerintah Kota Saen Suk di Thailand memilih untuk memulainya dari layanan untuk manula.

Terletak di propinsi Chonburi di sebelah timur Thailand, kota Saen Suk mencakup area yang tidak terlalu luas, yaitu sekitar dua puluh kilometer persegi. Sebagai perbandingan, kota yang berada di distrik Muang Chonburi ini sedikit saja lebih luas dari kota Padang Panjang, kota dengan luas wilayah terkecil di Sumatra Barat. Namun dengan luas wilayah yang ringkas itu, Saen Suk justru dianggap ideal untuk menjadi arena uji coba konsep smart city Thailand.  

Diluncurkan tahun 2014, inisiatif Saen Suk Smart City dikemas sebagai pilot project berdurasi tiga tahun yang bertujuan menyediakan fasilitas-fasilitas cerdas untuk warga maupun wisatawan yang berkunjung ke Saen Suk.

Dalam siaran pers yang diunggah di situs Dell.com, inisiatif ini disebut sebagai proyek kota cerdas pertama di Thailand dengan live pilot berbasis multiple proof of concept (PoC). Berbagai PoC tersebut diharapkan dapat diterapkan dan ditingkatkan kualitasnya dalam inisiatif smart city untuk kota-kota lain di Negeri Gajah Putih itu.

Sebagai tahap pertama, Pemerintah Kota Saen Suk mengimplementasikan sistem intelligent healthcare monitoring terutama untuk para manula (manusia berusia lanjut). Mengapa? “Karena ada sekitar enam ribu manula di antara 40 ribu penduduk Saen Suk,” ujar Narongchai Khunpluem (Walikota Saen Suk), seperti dikutip dari Bangkokpost.com.

Karena anggota keluarga yang lain harus beraktivitas di  luar rumah, banyak dari manula ini terpaksa tinggal sendirian di rumah dengan pengawasan minimal. Tak sedikit pula manula yang terpaksa dititipkan keluarganya  di panti-panti jompo. Oleh karena itu, Pemkot Saen Suk ingin mencari cara yang lebih efisien untuk menjaga dan merawat para manula, bahkan meningkatkan kualitas hidup mereka.

Sistem smart healthcare tidak saja melakukan monitoring terhadap pasien manula, tetapi juga diharapkan dapat memberikan wawasan atau insight yang bermanfaat bagi Pemkot Saen Suk untuk mengoptimalkan sumber daya perawatan (nursing) dan menjalankan layanan pemeliharaan kesehatan secara lebih efisien. Sistem healthcare cerdas di Saen Suk memanfaatkan Internet of Things (IoT).

Proyek pilot Saen Suk Smart City dimulai pada bulan Januari lalu dan membidik target 140 – 150 rumah tangga yang memiliki anggota keluarga manula. Pada tahun 2016, sistem smart healthcare sudah dimanfaatkan oleh tiga puluh rumah tangga.

Proyek Pertama Bidik Manula

Para perawat umumnya secara berkala mengunjungi para manula yang sedang menjalani rawat jalan. Namun dalam keadaan darurat, petugas medis tidak dapat merespons dengan cepat dan tepat karena insiden terjadi tanpa diketahui, atau petugas tidak memahami perawatan medis seperti apa yang dibutuhkan.

Dengan sistem smart healthcare yang memanfaatkan komputasi awan, data analytics, dan konektivitas Bluetooth, petugas dapat memantau kesehatan pasien manula dari jarak jauh.

Sistem healthcare cerdas Saen Suk terdiri dari platform IoT dari Intel, perangkat pintar berupa gelang atau kalung yang dilengkapi konektivas Bluetooth, dan solusi dari Dell berupa sistem gateway, private cloud, dan converged system.

Konektivitas antara perangkat cerdas di sisi pasien dengan gateway dan data center dibangun di atas platform IoT dari Intel. Melalui platform ini, Pemkot Saen Suk dapat menyebarkan dan mengelola perangkat secara lebih mudah dan aman.

Kalung atau gelang pintar dikenakan pada pasien agar sistem dapat memantau sejumlah parameter, seperti jumlah langkah, pergerakan, jarak yang ditempuh pasien dengan berjalan, dan pola tidur. Perangkat ini juga akan mengirimkan tanda bahaya kepada para dokter atau perawat saat mendeteksi aktivitas yang tidak biasa, misalnya pasien terjatuh atau tombol panik diaktifkan. Sistem secara otomatis juga akan mengirim notifikasi berupa pesan pendek kepada anggota keluarga pasien.

Dengan sistem smart healthcare yang memanfaatkan komputasi awan, data analytics, dan konektivitas Bluetooth, petugas dapat memantau kesehatan pasien manula dari jarak jauh. [Foto: Dok. Dell]

Kemudian, data bervolume besar yang dihasilkan smart device setiap hari akan dikumpulkan dan dianalisis di sebuah sistem gateway cerdas. Untuk memenuhi kebutuhan pasien manula yang berada di rumah, Pemkot Saen Suk memasang Dell IoT Gateway. Sementara untuk panti jompo, proyek ini menggunakan gateway dengan grade khusus industri, Dell Edge Gateway 5000 Series.

Lalu sistem gateway akan mengirimkan informasi/insight ke private cloud, dan diteruskan ke kantor pusat panti jompo milik Pemkot Saen Suk. Di kantor ini, informasi terbaru tentang kondisi pasien ditampilkan secara real-time, dan disimpan dalam sistem arsip yang didukung oleh converged system Dell PowerEdge VRTX.

Sistem ini memberi akses terhadap rekam medis pasien maupun data real-time bagi petugas medis. Dengan demikian, mereka dapat mengidentifikasi keadaan darurat secara spesifik dan memahami jenis penanganan medis yang tepat dalam kondisi darurat.

Menurut Erwin Meyer (General Manager, Asia-Pacific South, OEM Solutions, Dell), ada dua tantangan yang dapat diakomodasi sistem healthcare ini: yakni keterbatasan sumber daya manusia dan kemampuan memenuhi kebutuhan pasien dengan lebih cepat dan efisien, terutama ketika terjadi keadaan darurat.

Selain dengan vendor teknologi Dell dan Intel, Pemerintah Kota Saen Suk juga menggandeng IoT City Innovation Center yang juga membawa beberapa mitra, yaitu Thai Embedded Systems Association (TESA), Burapha University, BAESLab and CAT Telecom.

Sistem Cerdas untuk Halau Plankton dan Banjir

Dari smart healthcare, Pemerintah Kota Saen Suk akan segera beranjak ke proyek-proyek lainnya karena Saen Suk Smart City harus dituntaskan di tahun 2018.

Beberapa proyek yang telah direncanakan, misalnya konsep smart safety yang diterapkan melalui sistem face detection sebagai bagian dari sistem IP Surveillence di pantai Bangsaen. Ada pula tourist information system yang dapat menyajikan peta dan informasi tempat-tempat hiburan lokal, sebagai bagian dari kampanye smart tourism.

“Nantinya, kami juga akan memantau banjir dengan teknologi canggih. Setiap tahun, kami dihadapkan pada masalah banjir. Kami berharap teknologi dapat memampukan kami menangani masalah ini dengan cara yang lebih efektif,” ujar Walikota Khunpluem kepada Bangkokpost.com.

Ilustrasi laut Bangsaen di kota Saen Suk, Thailand.

Isu lain yang ingin ditangani Pemkot Saen Suk dengan teknologi adalah lingkungan dan ekosistem Laut Bangsaen.

Salah satu inisiatif yang telah diagendakan adalah monitoring terhadap munculnya plankton di pantai, sekaligus memberi informasi peringatan kepada para turis yang akan berwisata ke pantai. Plankon rupanya telah menjadi masalah tahunan bagi Pemerintah Kota Saen Suk. Dan Walikota Narongchai Khunpluem berharap teknologi dapat membantu menanganinya.

Narongchai Khunpluem juga berharap arsitektur solusi dari proyek-proyek pilot Saen Suk dapat menjadi blueprint ideal bagi kota-kota lain di Thailand maupun di seluruh dunia, yang ingin lebih cerdas dalam meningkatkan kualitas hidup, kenyamanan dan keamanan warganya.

Martin Wibisono, Consumer Country Director, Dell Indonesia, Catherine Lian, Managing Director, Indonesia, Dell EMC dan William Hartoyo, Product Marketing Manager, Dell Indonesia (ki-ka) memperkenalkan Dell Inspiron 15 Gaming Terbaru

Dell Indonesia memperkenalkan laptop Dell Inspiron 15 Gaming yang menyasar para penggemar game di Indonesia. Laptop itu mengusung komponen dan desain agresif, sistem operasi Windows 10, prosesor Intel quad core dan discrete graphics tangguh, serta baterai berdaya tahan lama.

“Popularitas game PC saat ini berada di rekor tertinggi dengan angka penjualan hardware global diprediksi tembus US$ 35 miliar pada akhir 2018,” kata Catherine Lian (Managing Director, Indonesia, Dell EMC) dalam siaran persnya.

Laptop Inspiron 15 Gaming terbaru memiliki sistem ventilasi khusus di sisi depan dan belakang. Kemudian, ada sistem pertukaran panas (heat exchanger) berkapasitas besar yang menghubungkan pipa berukuran besar ke dua kipas pendingin dengan baling-baling yang bekerja efisien. Laptop itu dikombinasikan dengan CPU mobile quad-core dengan memori super cepat GDDR5 4 GB.

“Desain ini memberikan pengalaman bermain game maksimal dengan tingkat frame-per-second. Laptop itu juga mengusung baterai terintegrasi 74 WHr 6 cell yang mampu menjalankan game favorit atau menjalankan aplikasi produktif tanpa hambatan hingga sekitar 8 jam 39 menit,” ujarnya.

Laptop Inspiron 15 Gaming baru ini menghadirkan pengalaman front-of-screen terbaik dengan layar Truelife Ultra HD (resolusi 4K) atau Full-HD anti-glare untuk menikmati pengalaman bermain game di layar sentuh (opsional) dengan detil yang sangat jernih dan luar biasa.

Dell pun memasang speaker dengan subwoofer onboard dan Waves MaxxAudio Pro yang menghadirkan pengalaman audio kaya dan maksimal. Sedangkan, pilihan keyboard backlit memungkinkan para pengguna untuk bermain game di malam hari.

Laptop Dell Inspiron 15 Gaming didukung dengan layanan Dell Premium Support. Layanan Dell Premium Support meliputi akses layanan pelanggan 24 jam sehari dan 7 hari seminggu melalui telepon atau online, layanan perbaikan di tempat (onsite) setelah dilakukan diagnosis jarak jauh (remote) dalam 1 – 2 hari kerja, pusat informasi satu pintu untuk dukungan ahli hardware dan software, serta penyelesaian permasalahan secara proaktif yang otomatis dideteksi oleh teknologi SupportAssist.

Laptop gaming Dell Inspiron 15 telah tersedia di Indonesia dengan harga mulai Rp12.599.000.

Tian Beng Ng (Senior Vice President & General Manager Channels, Asia Pacific Japan Dell EMC)

Akuisisi Dell terhadap EMC sudah berjalan dua tahun. Proses unifikasi dua raksasa teknologi yang menyita cukup banyak perhatian pengamat dan pelaku bisnis teknolgi tersebut kini sudah mendekati tahap akhir. Di tahap final ini, Dell EMC mengumumkan peluncuran program terbaru untuk para channel partner.

“Program ini diluncurkan secara global pada bulan Februari lalu. Dan program terbaru ini kami rancang untuk memenuhi tiga prinsip: Simple, Predictable, dan Profitable,” jelas Tian Beng Ng (Senior Vice President & General Manager Channels, Asia Pacific Japan, Dell EMC) dalam sebuah wawancara eksklusif dengan majalah InfoKomputer.

[BACA: Kekuatan Baru Kombinasi Dell dan EMC]

Prinsip Simple diterapkan Dell EMC dengan menyediakan satu program tunggal untuk semua partner dan berlaku untuk semua produk. Untuk lebih memudahkan para mitranya, Dell EMC juga menyiapkan sebuah portal khusus yang dapat diakses oleh semua partner.

“Apakah Anda menjual desktop, notebook, server, storage, atau produk-produk lainya, Anda bisa sign-on di portal tersebut dan Anda dapat mengakses semua informasi dari portal tersebut,” jelas Tian Beng.

Penggabungan dua kekuatan raksasa teknologi tentu menghasilkan tidak saja organisasi yang besar, tetapi juga portofolio produk yang luas. Untuk memudahkan mitra bisnisnya, Dell EMC juga menyederhanakan kategori produknya dari semula 26 menjadi sembilan kategori.

Kemudahan juga diberikan melalui proses perpindahan status yang sangat gampang. “Kami menyebutnya status match. Selama mereka dapat memenuhi persyaratan tier sampai dengan tahun lalu, kami akan secara otomatis mencocokkannya dengan tier yang baru. Kami pun sudah melayangkan pemberitahuan jauh-jauh hari sebelumnya,” papar Tian Beng.

Misalnya, jika tahun lalu partner berada di tier Premier dan dapat memenuhi kriteria untuk tier tersebut, secara otomatis partner akan ditempatkan di tier Titanium dalam program terbaru ini. Premier adalah salah satu tier dalam program channel partner Dell sebelum digabung dengan EMC.

Prinsip kedua adalah Predictable. Tian Beng Ng mengklaim bahwa program baru ini akan lebih memudahkan bagi partner untuk memprediksi hasil yang akan mereka peroleh. “Lebih terprediksi karena jangka waktunya lebih panjang. Kami mengadopsi program EMC sebelumnya yang memberikan waktu enam bulan bagi partner untuk mencapai target,” jelasnya.

Untuk membantu partner memperkirakan hasil yang akan mereka raih, Dell EMC menyiapkan rebate calculator di portal partner. Dengan bantuan kalkulator tersebut, para mitra Dell EMC dapat menghitung dengan lebih baik berapa banyak kira-kira produk yang dapat mereka jual.

Dell EMC juga menggadang-gadang program baru ini akan lebih menguntungkan partner alias sesuai dengan prinsip ketiga, yaitu Profitable.

“Misalnya, sekarang partner dapat memperoleh rebate 1,5 sampai 8 kali lebih besar dari sebelumnya karena kami meningkatkan juga persentase rebate-nya,” ungkap Tian Beng. Ia juga menjelaskan bahwa Dell EMC telah menambah investasi global untuk rebate dan Market Development Fund sebesar US$150 juta.

Padukan Keunggulan Program Dell dan EMC

Membuat program untuk partner yang berasal dari dua entitas berbeda tentu bukan hal mudah. Dell EMC membutuhkan waktu sekitar enam bulan untuk menghadirkan program terbaik bagi para mitranya.

Prosesnya diawali dengan melakukan survei mendalam terhadap partner Dell dan EMC di seluruh dunia. “Kami melakukan survei mendalam untuk mencari tahu apa yang mereka sukai maupun yang tidak mereka sukai dari program sebelumnya, baik itu program dari Dell maupun EMC,” jelas Tian Beng.

Dari survei tersebut diperoleh feedback bahwa ada beberapa keunggulan dari setiap program. “Misalnya, program Dell sebelumnya disebut sangat fleksibel dan cukup menguntungkan bagi partner. Sementara partner kami juga menyukai program EMC yang menurut mereka lebih predictable. Partner kami juga menyukai program training dari EMC. Ini tentu feedback berharga dari para mitra kami,” ungkap Tian Beng.

Selain mencermati keunggulan program-program terdahulu, Dell EMC juga memperhitungkan lanskap kompetisi yang ada saat ini untuk “meracik” program channel partner terbaik.

Joe Tucci (kiri) dan Michael Dell (kanan) berjabat tangan dalam sebuah acara. Kerja sama antara EMC dan Dell sudah jauh dilakukan sebelum akuisisi terjadi.

Ekspansi ke Luar Jakarta

Channel partner adalah mata rantai penting dalam aktivitas pemasaran Dell EMC. Secara global, 50 persen dari bisnis Dell EMC dilakukan melalui channel partner. Adapun di kawasan Asia Pasifik dan Jepang, persentasenya malah lebih besar, yakni mencapai 70 persen. “Di Indonesia malah 100 persen!” tandas Tian Beng.

Dengan peluncuran program terbaru ini, Dell EMC optimis jumlah mitra bisnisnya akan bertambah. “Saat ini ada 600 partner kami di kawasan Asia Pasifik dan Jepang, dan kami ingin menambahnya hingga 1.200 di tahun depan,” ujar Tiang Beng.

Di luar 600 mitra yang termasuk kelompok Metal Tier Partner, Dell EMC juga bekerja sama dengan para reseller yang jumlahnya mencapai 30 ribu di Asia Pasifik dan Jepang.

Di Indonesia, Dell EMC akan memfokuskan program channel partner untuk memperluas pasar ke luar Jakarta. “Karena saat ini, 90 persen dari bisnis kami masih sangat terfokus ke Jakarta dan sekitarnya. Dalam beberapa bulan ke depan. kami akan melakukan ekspansi ke tier 2 cities, terutama Surabaya, Jogja, dan Makassar,” ungkap Catherine Lian (Managing Director, Dell EMC Indonesia).

Untuk itu, menurut Catherine, Dell EMC menargetkan penambahan jumlah mitra bisnisnya menjadi 200. “Kami juga mempunyai program lokal untuk memberi insentif kepada partner kami berupa pelatihan dan agar mereka dapat memanfaatkan rebate untuk reinvestasi dalam bentuk sumber daya, keahlian, atau untuk kebutuhan ekspansi ke luar Jakarta,” papar Catherine.

Dell memperkenalkan Wyse 5060, komputer thin client baru berkinerja tinggi dan sangat efisien serta sepenuhnya dapat digunakan di lingkungan kerja virtual Citrix, Microsoft, dan VMware.

Solusi ini dirancang untuk para profesional di sektor ilmu pengetahuan yang menginginkan desktop virtual berkinerja tinggi dan dukungan untuk berbagai solusi komunikasi tunggal seperti Skype for Business.

Komputer thin client Wyse 5060 ini mampu menghadirkan fleksibilitas, efisiensi dan keamanan yang dibutuhkan sebuah organisasi untuk lingkungan cloud mereka dengan pengalaman pengguna yang luar biasa, sesuai kebutuhan para profesional tersebut.

“Komputer thin client quad core Wyse 5060 menghadirkan kinerja dan kemampuan yang dibutuhkan para profesional di sektor ilmu pengetahuan dalam lingkungan desktop tervirtualisasi dengan biaya kepemilikan rendah dan kemudahan pengelolaan yang dibutuhkan divisi TI,” ujar Steve Lalla (SVP, Commercial Client Software & Solutions, Dell).

Komputer thin client Wyse 5060 dilengkapi prosesor quad core AMD 2.4GHz yang mendukung flash hingga 8GB RAM dan 64GB, menawarkan kinerja hingga 30 persen lebih baik dibandingkan generasi sebelumnya. Beberapa fitur tambahan lainnya termasuk mendukung beragam sistem operasi, inovasi keamanan, konektivitas yang lebih beragam, serta kemudahan pengelolaan.

Komputer thin client Wyse 5060 ini dapat digunakan dengan semua perangkat lunak virtualisasi utama, termasuk Citrix XenDesktop, Microsoft RDS dan VMware Horizon. Protokol remote VMware Blast Extreme juga dapat digunakan di versi WES dan ThinLinux.

Memiliki lebih dari 430 paten inovasi komputasi cloud-client dan desain, pengelolaan dan keamanan thin client, Dell adalah pakar virtualisasi client dan pelopor pemberdayaan pelanggan dalam perjalanan mereka menuju transformasi digital dalam lingkungan virtual, baik di cloud pribadi, publik, ataupun hibrida.

Dell memelopori penekanan biaya dan kompleksitas virtualisasi desktop, sembari menghadirkan kinerja yang lebih baik dan membuatnya semakin mudah untuk merancang, menginstal dan menjalankan VDI dibandingkan sebelumnya.

Komputer thin client tingkat enterprise dengan mudah dapat diperbanyak hingga mencapai puluhan ribu perangkat, dan menawarkan total biaya kepemilikan yang rendah dengan mengurangi waktu yang dihabiskan divisi TI melakukan kegiatan pengaturan dan pemeliharaan reguler.

 

 

Dell EMC memperkenalkan ProDeploy Client Suite, sebuah solusi yang memungkinkan pelanggan melakukan implementasi PC dengan lebih cepat, mudah, dan terkendali. Dengan tiga tingkatan layanan, pelatihan dan sertifikasi, pelanggan bebas untuk memilih layanan yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

Riset IDC menunjukkan bahwa organisasi yang bekerja sama dengan penyedia layanan implementasi desktop dapat menghemat biaya, mengimplementasi sistem dengan lebih cepat dan menghadirkan pengalaman penggunaan sistem yang lebih baik2 secara signifikan.

Dengan ProDeploy Client Suite, pelanggan dapat mempercayakan seluruh aspek implementasi kepada para ahli dari Dell EMC dan mitranya, mulai dari perencanaan, konfigurasi dan instalasi hingga migrasi data dan transfer pengetahuan.

Seorang manajer akan menjadi kontak tunggal untuk mengelola aktivitas implementasi dan menerima akses ke TechDirect, situs layanan mandiri untuk mendapatkan informasi terbaru tentang konfigurasi dan status implementasi kapan pun dibutuhkan. Memenuhi semua kebutuhan, dari proses sederhana hingga yang rumit, ProDeploy Client Suite ini hadir dengan tiga pilihan yang dapat dipilih sesuai dengan skenario implementasi umum diterapkan.

ProDeploy Client Suite juga memberdayakan mitra channel Dell EMC dengan sebuah framework yang dirancang untuk meningkatkan kemampuan mereka, meningkatkan pendapatan dari layanan dan menyajikan pengalaman implementasi terbaik kepada para pelanggan mereka. Para mitra memiliki fleksibilitas untuk menjadi reseller atau ikut terlibat dalam menyediakan layanan implementasi.

Dengan akses pelatihan dan sertifikasi melalui TechDirect, para mitra yang lulus uji Deployment Services Competency akan menerima akses ke seluruh metodologi dan perangkat Dell EMC, sekaligus berhak untuk terlibat dalam menyediakan layanan ProDeploy Plus dan ProDeploy.

ProDeploy Client Suite tersedia untuk sistem Dell Latitude, OptiPlex dan Precision di 70 negara. Untuk informasi lebih lanjut terkait ketersediaan layanan, Anda bisa mengunjungi situs resmi ProDeploy.

Ilustrasi penurunan penjualan komputer PC

Mimpi buruk masih terus menghantui penjualan PC di dunia ini. Bahkan, penurunan penjualan komputer PC sudah berlangsung dari lima tahun lalu. Dua lembaga riset ternama IDC dan Gartner yang mengungkapkan penurunan penjualan PC secara global.

Dari hasil penelitian, IDC memperkirakan pasar PC turun sebesar 1,6 persen pada kuartal keempat tahun 2016. Sementara Gartner memprediksi penurunan pasar PC sebesar 3,7 persen pada kuartal keempat tahun 2016 .

Menurut Gartner, penjualan PC sebanyak 269,7 juta pada tahun lalu dan 72,6 juta unit pada kuartal akhir 2016. Pencapaian itu turun 6,2 persen dari tahun 2015. Berbeda dengan Gartner, IDC melihat penjualan PC terus turun 1,6 persen dari tahun ke tahun dan pengapalan PC juga terus merosot 5,7 persen.

Sebagai perbandingan, total penjualan PC mencapai angka 365 juta unit pada 2011.

Mikako Kitagawa (Gartner Principal Analyst) mengatakan adanya perubahan di perilaku pembelian PC di kalangan konsumen. “Pasar PC yang besar kini menjadi statis dan perbaikan di sektor teknologi belum cukup untuk mendorong pertumbuhan pasar PC secara nyata,” katanya seperti dikutip Ubergizmo.

Lenovo masih menjadi pemimpin pasar PC saat ini dengan penurunan pengiriman sebesar 3 persen.

HP di posisi kedua dan Dell di posisi ketiga. HP dan Dell menorehkan catatan positif dengan pertumbuhan angka pengapalan masing-masing sebesar 1,3 persen dan 4,3 persen.

Penjualan Asus turun sebesar 0,8 persen. Penurunan terbesar dialami Apple, yakni menyusut 9,8 persen dibanding tahun sebelumnya.

Meski sejumlah segmen seperti bisnis, enthusiast, dan game mengalami kenaikan penjualan, Gartner memprediksi pasar PC akan kembali menurun pada 2017.

Ilustrasi Surface Phone versi Blass

Ilustrasi Surface Phone versi Blass

Saat ini Microsoft sedang mengerjakan Surface Phone yang akan berbasis Windows 10, bukan Windows 10 Mobile seperti yang ada di perangkat Lumia. Sebelumnya, beredar spekulasi Microsoft akan meluncurkan Surface Phone bersamaan dengan peluncuran Surface Book i7 dan Surface Studio.

Seorang wartawan teknologi kawakan Evan Blass membagi sebuah gambar smartphone berbasis Windows 10 di akun Twitter-nya. Evan Blass memang kerap membagikan bocoran smartphone terbaru dan terbukti tepat informasinya.

Belum jelas, apakah itu smartphone Microsoft Surface Phone atau Windows Phone Dell. Blass pun telah mengonfirmasi kepada Tom Warren dari The Verge bahwa smartphone itu bukanlah sekadar konsep.

Belum ada informasi terbaru yang bisa dibagikan, tetapi banyak pihak memprediksi Surface Phone akan menggunakan prosesor Intel.

Sedangkan situs Tech Times mencoba mengonfirmasi bahwa gambar yang dibagikan oleh Evan Blass itu bukanlah Surface Phone, melainkan rancangan smartphone Dell yang sempat dikembangkan beberapa waktu lalu. Tapi, proyek itu batal dilanjutkan.

161001000002

Austin, InfoKomputer – Dell Technologies memiliki lini produk yang terbilang sangat lengkap. Mulai dari solusi untuk konsumen umum hingga kelas enterprise. Mulai dari notebook hingga server berskala besar.

Namun, masih ada satu produk yang saat ini belum masuk dalam portofolio Dell Technologies, yaitu smartphone.

Walaupun sebelumnya pernah mencoba merilis smartphone pada beberapa tahun lalu, Dell Technologies tak ingin mencoba peruntungannya kembali di pasar yang begitu padat dengan berbagai produsen tersebut.

Dalam sebuah sesi tanya jawab di sela-sela gelaran Dell EMC World 2016, Michael Dell (CEO, Dell Technologies) mengatakan tidak berminat untuk kembali ke pasar smartphone.

“Tidak!” jawabnya singkat saat ditanya mengenai kemungkinan Dell untuk kembali merilis smartphone.

Sebelumnya, Dell memang tercatat pernah merilis beberapa varian smartphone dan tablet. Salah satunya adalah Dell Streak yang sempat hadir di Indonesia beberapa tahun yang lalu.

Dell mengatakan, pihaknya bisa saja kembali merilis smartphone baru ke pasaran. Namun, ia menyatakan tak ingin melakukannya karena dinilai membuang-buang uang saja. “Dunia tidak perlu lagi produsen smartphone baru,” katanya.

Dell menjelaskan, daripada menjual hardware, Dell Technologies lebih suka menghadirkan solusi yang bisa membantu pengguna mengelola smartphone-nya.

Maksudnya, setiap smartphone yang digunakan, baik digunakan secara mandiri atau dikelola oleh perusahaan, akan menghasilkan data yang akan disimpan ke dalam sebuah server. Nah, Dell akan berfokus untuk menghadirkan perangkat-perangkat untuk data center yang akan menyimpan data-data yang dihasilkan oleh smartphone tersebut.

Selain itu, Dell Technologies juga saat ini memiliki AirWatch, sebuah aplikasi mobile device management (MDM) yang menjadi bagian dari VMware yang kini juga berada di bawah Dell Technologies.

Dengan semakin banyaknya penggunaan smartphone, Dell percaya bahwa aplikasi MDM seperti AirWatch akan mampu mengambil tempat untuk membantu mengelola banyaknya smartphone tersebut.

TERBARU

Kedua tablet grafis itu menawarkan kinerja yang andal dan harga yang terjangkau untuk digunakan di berbagai bidang