Tags Posts tagged with "Microsoft"

Microsoft

Ilustrasi Bill Gates

Anda yang terbiasa menggunakan komputer atau laptop berbasis Windows, pasti mengenal tombol perintah “control-alt-delete“. Dari sisi ergonomis jari, menekan ketiga tombol itu dengan satu jari sangat sulit.

Dalam kampanye penggalangan dana Harvard, David Rubenstein (Co-Chair Harvard) bertanya kepada Bill Gates (Pendiri Microsoft) terkait tombol ctrl-alt-del ke Bill Gates.

“Mengapa ketika saya ingin mengaktifkan perangkat lunak dan komputer, saya harus melakukannya dengan tiga jari yaitu control, alt, delete?” tanya Rubenstein kepada Gates sembari menanyakan siapa yang membuat ide tersebut.

Gates lalu mengatakan bahwa login dengan menekan kombinasi tiga tombol seharusnya bisa lebih mudah seperti yang diadopsi di Mac oleh Apple. Tetapi, Gates menekankan bahwa desainer IBM-lah yang “ngotot” menggunakan Ctrl-Alt-Del.

“Ini sebuah kesalahan karena seharusnya kami melakukannya dengan satu tombol, tetapi desainer keyboard IBM tidak mau memberikan tombol tunggal kepada kami,” kata Gates seperti dikutip Siliconbeat.

Gates menjelaskan penggunaan Ctrl-Alt-Del agar orang lain atau aplikasi lain tidak bisa login ke komputer dan mencuri password. Kombinasi tombol Ctrl-Alt-Del sendiri dirancang oleh David Bradley (insinyur IBM) dan digunakan untuk me-reboot PC pada awal 1990-an.

Bahkan, Bradley awalnya ingin menggunakan tombol Ctrl+Alt+Esc. Tetapi, karena semua tombol itu berada di sisi kiri keyboard, pengguna bisa saja tak sengaja me-reboot komputer.

Hingga saat ini, tombol Ctrl-Alt-Del masih tetap dipertahankan untuk me-reboot dan mengaktifkan fungsi task manager komputer pada sistem operasi Windows 8 dan versi Windows yang lama untuk mengaktifkan komputer.

Microsoft kenalkan teknologi buatan Tay

Microsoft telah meluncukan layanan chatbot di beberapa negara, dimulai di Tiongkok pada tiga tahun lalu. Setelah itu, Microsoft meluncurkan chatbot di Jepang, AS dan India.

“Kami akan meluncurkan chatbot kami sendiri di negara dengan 100 juta penduduk,” kata Harry Shum (Wakil Presiden Microsoft AI dan Research Group) seperti dikutip Geekwire.

Kunci ide chatbot adalah komputer harus mampu berbicara dengan manusia sehingga setiap orang bisa berbicara dengan AI. Hal itu menggambarkan ambisi besar Microsoft di sektor kecerdasan buatan (AI) termasuk computer vision, pengena berbicara dan kecerdasan buatan.

Divisi Microsoft AI memiliki lebih dari 5.000 orang untuk mewujudkan mimpi Satya Nadella (CEO Microsoft) dan menciptakan teknologi AI.

Meskipun demikian, upaya Microsoft dalam membuat chatbot menemukan kesalahan seperti chatbot “Tay” di Amerika Serikat (AS).

Shum mengatakan chatbot memadukan AI dalam IQ dan EQ serta membuat mesin tidak hanya cerdas dan menghubungkan pengguna secara emosional.

Meskipun pengembangan chatbot Microsoft terus meningkat, Shum mencatat Microsoft dan sisa industri teknologi masih membutuhkan waktu untuk mengembangkan kecerdasan buatan.

“Saya ingin menekankan bahwa kami masih baru di dalam era AI. Spesifikasi komputer saat ini memiliki kemampuan yang mampu menjalankan tugas spesifik,” pungkasnya.

Steve Ballmer

Institut teknologi patungan Tiongkok-AS Global Innovation Exchange (GIX) memberikan nama Steve Ballmer (Mantan CEO Microsoft) untuk gedung baru GIX The Steve Ballmer Building di Bellevue, Wash.

Institut itu menampung 44 murid pada bulan ini dan Microsoft pun telah membantu institut teknologi tersebut.

Brad Smith (Presiden Microsoft) dan Satya Nadella (CEO Microsoft) menjelaskan di atas panggung mengapa alasan pemilihan nama Steve Ballmer yang menjabat CEO Microsoft dari 2000-2014.

“Ini bukan keputusan yang sulit. Dalam 42 tahun sejarah Microsoft, tidak ada sosok yang sukses membawa Microsoft ke dunia, membangun jaringan dan menghubungkan kami dengan orang dan pelanggan di seluruh dunia,” kata Nadella seperti dikutip Geekwire.

Nadella mengatakan ia sangat bangga dapat belajar banyak hal dari Ballmer.

“Ia (Ballmer) membuatku nyaman untuk gabung dengan Microsoft. Kala itu, level saya masih rendah dan Ballmer menjabat CEO. Ia pun pernah memberiku high-five. Saya pun tertantang menggantikannya,” ujar Nadella.

“Steve telah menjadi konsultan bisnis yang luar biasa untuk kolaborasi antar Internasional. Tidak ada sosok yang sukses mencetak rekor seperti Steve,” ucapnya.

Microsoft telah meluncurkan Microsoft Pix pada tahun lalu yang fokus meningkatkan kemampuan kamera iPhone, tetapi inovasi Microsoft tidak akan berhenti disitu.

Hari ini, Microsoft memperbarui aplikasi Microsoft Pix yang sudah memiliki teknologi kecerdasan buatan (AI). Hasilnya, Microsoft Pix terbaru memiliki kemampuan pengambilan gambar dokumen, papan tulis dan kartu nama yang lebih baik.

Ketika Anda mengambil gambar, teknologi AI dapat memotong dokumen, mengatur warna dan merubah sudut dokumen seperti dikutip Geekwire.

Microsoft pun mengungkapkan banyak orang yang menggunakan aplikasi berbagi dokumen. Fitur terbaru juga terintegrasikan dengan Microsoft Lens yang merupakan fitur yang bagus untuk dokumen.

Pembaruan Microsoft Pix itu juga dapat menjawab kebutuhan program terkait foto, termasuk pemindai dokumen ke potret.

“Di masa depan, kami akan meningkatkan kemampuan Pix untuk dapat menghemat waktu Anda dan menghasilkan kinerja yang lebih baik,” ujarnya.

Varian sebelumnya, Microsoft Pix hanya dapat fokus ke orang. Kini, Microsoft dapat mengenali wajah dan gerakan ketika subjek menutupkan mata.

Perkenalan Rinna, chatbot AI buatan Microsoft dan LINE di Social Media Week Jakarta 2017.

Sebagai salah satu bukti keseriusan menggarap bidang kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), Microsoft getol mengembangkan aplikasi chatbot dan meluncurkannya di beberapa negara.

Perjalanan Microsoft dalam mengembangkan chatbot dimulai pada bulan Mei 2014 di Tiongkok dengan Xiaoice. Dengan lebih dari 40 juta pengguna, Xiaoice merupakan chatbot kecerdasan buatan pertama yang menyiarkan program televisi di Dragon TV Shanghai dengan lebih dari 800 juta penonton.

Microsoft melanjutkan kesuksesan Xiaoice dengan memanfaatkan teknologi fundamental yang sama untuk meluncurkan Rinna di Jepang pada bulan Juli 2015 serta Tay dan Zo di AS pada tahun 2016.

Sampai saat ini, Rinna telah melakukan percakapan dengan 20% dari total populasi di Jepang, sementara Zo telah bercakap-cakap dengan lebih dari 100.000 orang di AS (meski Tay dan Zo sempat berulah dan memicu kontroversi, seperti berkomentar rasis dan menghina Alquran).

Pada akhir Agustus lalu, Microsoft pun membawa chatbot Rinna ke Indonesia melalui kerja sama dengan LINE. Pengguna LINE di Indonesia dapat mengobrol dan bermain bersama Rinna dengan menambahkan akun resmi @Rinnaid serta mengikuti update aktivitasnya di Instagram @rinna.id.

“Rinna adalah bagian dari upaya penelitian dan pengembangan kecerdasan buatan untuk berkomunikasi. Setiap hari, kami melakukan serangkaian tes yang mengacu pada reaksi pengguna saat berinteraksi dengan Rinna. Kami berharap dapat membuat kecerdasan buatan menjadi lebih nyata dan dekat dengan masyarakat,” jelas Irving Hutagalung (Audience Evangelism Manager, Microsoft Indonesia).

Siapa Rinna?

Seperti chatbot umumnya, Rinna memiliki persona tersendiri yang dirancang oleh Microsoft. Rinna digambarkan sebagai sosok perempuan muda yang menarik dan bersahabat. Rinna dibuat menggunakan konten sosial yang luas dari internet, mampu belajar dari interaksi manusia, dan merespons dengan kepribadian dan sudut pandang yang unik. Rinna juga mampu melindungi dirinya dari eksploitasi.

Rinna dibuat menggunakan model generik end-to-end berdasarkan teknologi Deep Learning dan dilatih oleh teknologi big data dari mesin pencari Bing yang bekerja pada platform Azure. Oleh karena itu, sistem pada Rinna dapat belajar dari kumpulan big data dan memberikan tanggapan berdasarkan hasil pembelajaran, juga menirukan otak manusia dengan menggunakan Natural Language Processing.

Contoh percakapan dengan Rinna.

Berbeda dengan Cortana

Berbeda dengan Cortana yang lebih berfungsi sebagai asisten pribadi, Rinna dapat berkomunikasi dengan EQ (emotional quotient) dan juga IQ (intelligence quotient) kepada pengguna sehingga Rinna dapat belajar dan beradaptasi dengan kebiasaan pengguna, serta mengembangkan preferensi percakapan.

Selain bercakap-cakap, beberapa hal yang dapat dilakukan pengguna LINE bersama Rinna antara lain:

  • Best Friend Charm: Rinna bisa menggambar sketsa untuk menunjukan persahabatan antara dirinya dan pengguna.
  • Face Panel: Terkadang Rinna bisa mengganti wajah seseorang dengan gambar lucu.
  • Face Swap: Cobalah untuk mengirimkan foto di dalam grup kepada Rinna dan tunggu ia melakukan sesuatu pada foto tersebut.
  • Bermain “ABC 5 Dasar”: Sebagai gadis remaja yang lahir di Indonesia, Rinna tahu cara memainkan permainan tradisional Indonesia dengan menebak kata dengan topik tertentu.
  • Bermain Silang Kata: Pengguna bisa bermain dan menebak kata dengan petunjuk yang diberikan oleh Rinna.
  • Bermain Othello: Permainan strategi untuk dua pemain, pengguna bisa memilih tingkatan level yang ingin dicoba.

 “Sejalan dengan visi LINE, kami ingin membawa pengguna LINE lebih dekat dengan informasi dan konten menarik yang dapat diberikan oleh Rinna melalui percakapan yang interaktif. Kami percaya bahwa teknologi kecerdasan buatan akan memberikan efisiensi bagi pengguna kami,” jelas Revie Sylviana (Business Development Director, LINE Indonesia).

Microsoft Asia Pasifik telah merilis temuan regional dari Laporan Security Intelligence (SIR), Vol 22. Sebagai hasilnya, temuan tersebut menyebutkan bahwa negara berkembang seperti Banglades, Kamboja, Indonesia, Myanmar dan Vietnam termasuk diantara lima besar negara di Asia Pasifik yang paling terekspos oleh program berbahaya.

Pada kuartal 2 tahun 2016, sebanyak 45,2 persen komputer di Indonesia terserang malware. Angka ini lebih tinggi dengan angka rata-rata global pada kuartal yang sama sebesar 20,8 persen.

Adapun kategori perangkat lunak berbahaya yang paling sering ditemui di Indonesia pada kuartal 2 tahun 2016 adalah Trojans dengan 41,5 persen angka serangan pada seluruh komputer, naik 37,8 persen dibandingkan angka pada kuartal sebelumnya. Sementara itu Worms menempati posisi kedua, dengan 24,5 persen serangan pada seluruh komputer, turun 26,3 persen dibandingkan kuartal sebelumnya.

Laporan semi-tahunan Microsoft Security Intelligence (SIR) memaparkan data dan sudut pandang mendalam terhadap lanskap ancaman global, secara spesifik kepada kerentanan perangkat lunak, eksploitasi, malware dan serangan berbasis web.

Dalam versi terbaru ini, laporan tersebut melacak endpoint serta ancaman data pada komputasi awan dan profil lebih dari 100 pasar individu. Laporan ini juga membagikan studi kasus terbaik dan solusi yang dapat membantu organisasi untuk dapat melindungi, mendeteksi dan merespons ancaman dengan lebih baik.

“Seiring kemajuan komputasi awan cerdas dalam era transformasi digital ini, kami dimotori oleh teknologi untuk mengejar kesempatan tanpa henti dengan dampak yang lebih besar,” jelas Antony Cook (Associate General Counsel, Microsoft Asia Pasifik, Jepang & Australia).

“Bagaimanapun, kita tidak akan selamanya tetap aman dan dapat mencapai kapasitas secara penuh pada dunia yang selalu terhubung ini, tanpa memahami ancaman keamanan siber dan menambah pemahaman mengenai perkembangan cybercrime,” tegas Antony Cook.

Huawei dan Microsoft umumkan kerja sama layanan cloud untuk enterprise di Huawei Connect 2017.

Huawei dan Microsoft mengumumkan perjanjian kerja sama dalam menghadirkan layanan dan aplikasi cloud yang lebih luas bagi pelanggan enterprise di seluruh dunia.

Kolaborasi dua raksasa teknologi itu mencakup kerja sama perluasan pasar serta kegiatan pemasaran bersama, terutama dalam menggarap pasar Tiongkok dan AS, seperti diumumkan dalam acara Huawei Connect 2017 di Shanghai.

Huawei mencontohkan layanan yang akan ditawarkan di masa depan antara lain layanan public hosting di Huawei Cloud, aneka solusi SaaS enterprise dari Microsoft, serta konsultasi transformasi digital.

Dilansir ZDNet, kesepakatan ini melanjutkan aliansi yang telah terjalin di antara keduanya sejak Huawei menawarkan aplikasi Windows Server dan Microsoft RDS for SQL Server pada layanan Huawei Cloud.

“Huawei dan Microsoft akan membangun ekosistem yang terbuka dan menguntungkan kedua belah pihak,” kata Zheng Yelai (President, Cloud Business Unit & IT Product Line, Huawei). “Kolaborasi ini akan mendorong inovasi yang membantu pelanggan di era transformasi digital,” imbuh Alain Crozier (CEO, Microsoft China).

Sejak Cloud Business Unit terbentuk pada Maret 2017, unit usaha tersebut telah meningkatkan basis pengguna cloud Huawei sebesar 238 persen serta merilis 40 layanan cloud terbaru, termasuk data warehouse, layanan DDoS yang canggih, dan layanan CDN.

Hingga kini, Huawei telah merilis 85 layanan cloud secara keseluruhan dan lebih dari 4.500 lebih fitur sudah ditambahkan dalam Huawei Cloud.

Di masa depan, kerja sama ini bisa saja meluas hingga pasar kecerdasan buatan (AI). Diketahui bahwa Microsoft akan mengoptimalkan layanan cloud Azure-nya untuk keperluan AI, sedangkan Huawei pada awal pekan ini mengungkap prosesor Kirin 970 dengan kemampuan AI terintegrasi.

 

Penjualan perangkat virtual reality (VR) merosot tajam tetapi Microsoft dan pabrikan teknologi lainnya percaya platform VR akan menjadi pusat tren di masa depan.

Microsoft pun menawarkan perangkat VR yang jauh lebih murah daripada kompetitornya termasuk aplikasi VR pilihan untuk meningkatkan pengalam dan adopsi perangkat VR di pasar.

Pada musim liburan tahun ini, para pelanggan Microsoft bisa membeli headset Mixed Reality (MR) yang kompatibel dengan Windows 10. Harganya pun cukup murah hanya $399 atau sekitar Rp4 jutaan.

Sebagai perbandingan, headset VR Oculus Rift saja dibanderol $499 atau sekitar Rp5 jutaan di pasar dan HTC Vive senilai $599 atau sekitar Rp6 jutaan seperti dikutip Quartz.

Microsoft pun bekerja sama dengan perusahaan game Valve yang memungkin headset MR mendukung semua aplikasi VR dan platform game popular gaming yaitu Steam. Saat ini hanya headset VR HTC Vive yang mendukung Steam.

Tak hanya itu, Microsoft akan meluncurkan komputer PC murah yang akan bersanding dengan headset MR. Kompetitornya, Oculus dan HTC Vive, harus disambungkan dengan perangkat PC kelas premium untuk mendapatkan kualitas yang mumpuni.

Perangkat headset VR sendiri membutuhkan bantuan grafis komputer PC untuk mendapatkan hasil yang bagus. Harga komputer PC kelas premium dengan kualitas grafis canggih pun sangat mahal senilai $799 – $3.000 atau sekitar Rp8 jutaan – Rp31 Jutaan

Headset MR sangat kompatibel dengan kartu grafis terbaru yang dapat meminimalisir standar frame. Meskipun perangkat VR saat ini menyasar para game, Microsoft menginginkan perangkat VR-nya lebih umum di pasar dan masyarakat.

Windows 10

Semua orang tahu Windows 10 memiliki performa yang lebih baik dari pendahulunya Windows 8 dan 8.1. Namun, cara Microsoft yang memaksa para penggunanya untuk melakukan upgrade ke Windows 10 membuat banyak pelanggannya yang kesal.

Karena itu, Microsoft berjanji tidak akan memaksa penggunanya untuk mengunduh pembaharuan (update software) dalam jangka waktu tertentu.

Sebelumnya, banyak para pengguna Microsoft yang mengeluhkan bahwa perangkat mereka yang berbasis Windows 10 selalu dipaksa untuk melakukan pembaharuan.

Microsoft harus memenuhi permintaan pelanggannya tersebut lantaran Microsoft Jerman kalah terhadap grup perlindungan konsumen di Jerman. Grup itu menganggap perusahaan piranti lunak asal Amerika tersebut telah melanggar hak para konsumen.

Selain itu, Microsoft juga memaksa para pelanggannya untuk hijrah ke Windows 10. Pengguna Windows sadar dan kesal bahwa komputer mereka mulai mengunduh file Windows 10 tanpa meminta izin mereka. Tak hanya itu, muncul notifikasi yang membuat banyak pengguna memulai proses upgrade ke Windows 10 tanpa sadar.

Padahal, para pelanggannya tidak menginginkan update ke sistem operasi Windows 10 yang baru seperti dikutip BGR.

Microsoft telah meminta maaf atas kinerja Microsoft cabang Jerman. Microsoft menyebutkan telah “banyak belajar” dari drama yang muncul akibat strategi agresif terutama cabang mereka di Jerman.

Grup perlindungan konsumen Jerman melihat permintaan maaf Microsoft merupakan kesusksesan bagi hak konsumen. Apa lagi, grup itu menghadapi perusahaan teknologi raksasa sekaliber Microsoft.

Bill Gates, orang terkaya dunia yang terkenal akan kedermawanannya

Kedermawanan Bill Gates memang sudah dikenal orang. Namun kejadian baru-baru ini, ketika ia menyumbangkan kekayaannya sebesar US$4,6 miliar atau sekitar Rp61 triliun, kembali membuktikan orang terkaya di dunia ini adalah orang yang tidak “sayang” dengan uangnya.

Memang, uang tersebut hanya sekitar 5% dari total harta Bill Gates yang mencapai US$90 miliar. Namun angka sumbangan tersebut adalah yang terbesar sepanjang sejarah, “mengalahkan” sumbangan miliarder Warren Buffett bulan lalu (US$3,2 miliar).

Jika dirunut ke belakang, Bill Gates tercatat telah menyumbangkan US$35 miliar (sekitar Rp460 triliun) sejak tahun 1994.

Sumbangan kali ini berasal dari penjualan 64 juta saham Microsoft yang Bill Gates miliki selama ini. Dengan penjualan ini, kini saham Gates di Microsoft hanya sekitar 1,3%, jauh menurun dari 24% yang ia miliki di tahun 1996.

Dana sebesar itu ia sumbangkan ke Bill & Melinda Gates Foundation yang memiliki visi menurunkan angka kemiskinan serta meningkatkan kesehatan masyarakat dunia.

Mengajak Sesama Miliarder

Selain menyumbangkan uang miliknya, Bill Gates juga merangkul miliarder lain untuk ikut menyumbangkan sebagian kekayaannya untuk publik.

Pada tahun 2010, bersama Warren Buffett, Gates membuat Giving Pledge, sebuah inisiatif yang mendorong para miliarder untuk menyumbangkan setidaknya separuh kekayaannya untuk publik. Beberapa miliarder yang ikut inisiatif ini adalah George Lucas, Michael Bloomberg, serta Mark Zuckerberg.

“Inisiatif ini adalah cara membangun tradisi filantropi yang akan membantu dunia menjadi tempat yang lebih baik” ungkap Gates saat menggambarkan Giving Pledge.

Sebagian besar orang mungkin berpikir, mengapa Bill Gates tidak memilih mewariskan semua kekayaannya kepada keluarganya.

Dalam wawancara dengan stasiun televisi Inggris, ITV, Gates berpendapat, memberikan harta berlimpah kepada anak-anaknya justru menjerumuskan. “Karena itu hanya akan mengalihkan mereka dari jalan hidup yang seharusnya mereka jalani,” ungkap Gates.

“Lebih baik uang itu diberikan kepada orang-orang miskin. Anak-anak saya menyadari hal itu, bahkan mereka bangga akan apa yang kami lakukan,” jelas Gates.

TERBARU

Apple memulai penjualan perdana iPhone 8 mulai hari ini. Namun, berbeda dibandingkan dengan pendahulunya, iPhone 8 tergolong sepi pembeli. Di Australia, hanya ada kurang dari 30 orang yang mengantre di depan toko resmi Apple pagi ini.